Naruto by Masashi Kishimoto
Warning: Typo, Lemon, PwP, Smut, NC and etc.
Pairing: Naruto x Yugito.
••
•
Yellow's Desire : Two Tails from Cloud
Naruto sedang berjalan santai di hutan di dekat kota yang ia singgahi untuk istirahat dalam perjalanan pulang dari misi. Rencananya, Jinchuriki Kyuubi itu akan segera pulang karena tak ingin berlama-lama berada di luar desa, namun karena perjalanannya masih cukup jauh, ia memutuskan untuk menginap di kota terdekat.
Ia berjalan sendirian di tengah gelapnya malam, ketenangannya terusik ketika ia mendengar sebuah ledakan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, membuat dirinya penasaran dan mendekati asal suara itu.
Naruto terbelalak ketika menemukan siluet seorang wanita dalam keadaan pingsan, dengan tangannya yang sudah tertancap besi panjang, seakan besi itu ditujukan untuk menahan tubuh wanita itu yang kini tergantung di dinding sebuah batu besar. Manik biru itu juga menemukan dua orang lainnya yang berupa pria dengan jubah hitam bermotif awan merah, yang tak lain adalah Akatsuki.
"Sial, mau apa mereka dengan wanita itu?" Gumam Naruto kesal, melihat seorang wanita yang tak berdaya telah dihabisi oleh Akatsuki.
"Itu adalah Jinchuriki Matatabi, Naruto! Aku bisa merasakan chakranya! Kau harus menyelamatkan wanita itu." Ucap sebuah suara berat di dalam pikirannya, yang tak lain dan tak bukan adalah Kurama si ekor sembilan.
Mungkin ini membingungkan bagi sebagian orang, mengingat Naruto dan Kurama yang sebelumnya tidak pernah akur, tiba-tiba memiliki ikatan erat bagaikan teman. Ini terjadi beberapa minggu lalu, ketika Naruto terpojok saat melawan Madara, Kurama menawarkannya bantuan karena tak ingin tubuh inangnya mati dengan mudah, terlebih ia juga tak mau berurusan dengan Uchiha tua yang licik itu.
Hal itu membuat Naruto memutuskan untuk membuka segel kandang Kurama, dengan menyatukan chakra mereka, sehingga tubuh dan pikiran mereka menyatu.
Sejak saat itu, Naruto dan Kurama menjadi teman. Mereka berkomunikasi dengan mudah melalui alam bawah sadar mereka, dan Kurama juga tak ragu meminjamkan kekuatannya pada Naruto apabila inangnya itu terdesak.
"Buatlah kagebunshin, jadikan itu pengalihan untuk menyelamatkan wanita itu dari sana. Dan ingat jangan gegabah, Naruto. Itu saudaraku yang perlu kita selamatkan." Ujar Kurama pada Naruto, Naruto menyanggupinya dengan anggukan.
Tenang saja, dia akan selamat di tanganku, Kurama. Balas Naruto dalam pikirannya. Ia pun membuat seribu bayangan dan mulai menyerang kedua pria Akatsuki yang sedang lengah itu dengan klon miliknya, sedangkan tubuh aslinya bergerak mendekati wanita itu.
Naruto bergerak cepat melepaskan besi panjang yang menancap di kedua telapak tangan wanita itu, ia segera berlari dari tempat itu dengan Jinchuriki wanita itu di punggungnya, ia tak ingin bertempur secara langsung dengan kedua musuhnya, karena jelas itu akan memancing sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi pada mereka berdua.
Naruto berlari secepat mungkin, berusaha kabur ke kota menyelamatkan dirinya dan wanita yang berada di gendongannya. Ia segera membawa wanita itu ke kamar hotel tempat dirinya menginap.
Darah segar terus mengalir dari telapak tangan wanita itu, Naruto berusaha sebaik mungkin untuk menghentikan pendarahan itu dengan mengobatinya serta membalut luka itu dengan perban.
Beruntung bagi wanita itu, yang merupakan seorang Jinchuriki, kemampuan penyembuhan untuk dirinya sendiri bekerja dengan baik, membuat luka tusuk itu menghilang dan sembuh seketika.
Setelah beberapa lama tak sadarkan diri, wanita itu pun terbangun sembari memegang kepalanya yang terasa berat. Ia melihat sekeliling dan menemukan seorang pemuda pirang yang tertidur dalam posisi duduk di samping kasurnya.
Wanita itu juga menatap kedua tangannya yang sudah diperban rapi, lalu iris matanya menangkap pelundung dahi Konoha yang dikenakan oleh Naruto.
"Ninja Konoha? Siapa dia? Apa dia yang membawaku kesini?" Gumam wanita itu dengan suara pelan, tiba-tiba monster yang berada di dalam wanita itu bersuara.
"Itu Jinchuriki Kurama, si ekor sembilan. Dia orang yang baik, jangan khawatir. Kau malah beruntung karena dia menyelamatkanmu, anak kucing." Ucap Matatabi di alam bawah sadar wanita itu, wanita itu mengangguk paham.
Tak lama, Naruto pun terbangun karena merasakan pergerakan di kasur yang berada di hadapannya. Mata biru langitnya menangkap sosok wanita berambut pirang yang dirawat olehnya tengah dalam posisi duduk dan menatapnya.
Wanita itu tersenyum kecil, "Terima kasih telah membantuku disana, namaku Nii Yugito, Jounin dari Kumogakure. Aku dengar kau juga seorang Jinchuriki, senang mendengar kau yang menolongku disana."
Naruto mengangguk cepat, "Sama-sama, dan namaku Uzumaki Naruto, dari Konohagakure. Senang bertemu denganmu, bibi Yugito."
"Kau memanggilku apa? Bibi? Apa aku terlihat setua itu dimatamu, huh?!" Ucap Yugito kesal, seraya menatap Naruto tajam.
Naruto menyesali ucapannya, ia menundukkan kepalanya berkali-kali. "Ma-maksudku, Yugito-neechan." Yugito mendengus sebal, "Aku saja belum menikah, lebih baik aku tak mendengarmu memanggilku bibi lagi, terdengar sangat tua untukku."
Naruto hanya tersenyum tak enak, kemudian ia dikejutkan dengan suara Kurama di pikirannya.
"Hei bocah, hubungkan aku dengan Matatabi. Lakukan kontak dengannya." Perintah Kurama di alam bawah sadarnya, Naruto menrengut.
Kau tahu dia sedang marah padaku, Kurama. Keluh Naruto, Kurama berdecih. "Aku tak menerima penolakan, bocah. Cepat lakukan!"
Naruto menatap takut Yugito yang masih kesal padanya, dia menyodorkan kepalan tangannya dengan enggan. Yugito beralih menatap Naruto dengan bingung.
"Apa maumu?" Tanya Yugito ketus.
Naruto memalingkan wajahnya, "Kurama menyuruhku melakukannya, ia ingin bertemu dengan Matatabi."
Yugito menggeram sebal, ia mengangkat tangannya dengan malas. Seketika chakra keduanya terhubung dan mereka berempat berkumpul di bawah alam sadar mereka.
"Lihatlah siapa yang menyelamatkanku, sudah lama tak bertemu, rubah garang." Sapa Matatabi begitu menangkap sosok Kurama, Kurama mendengus sebal. "Tak kusangka kau kalah dari Akatsuki, kau benar-benar payah."
Yugito mendelik ke arah Kurama. Tak heran, pasti Naruto mewarisi sikap sembrononya darimu. Kalian benar-benar sama.
Kini Naruto melayangkan tatapan tak terima, wajahnya terlihat cemberut. Aku berbeda dengannya!
"Hentikan perdebatan kalian, dan segera pergilah dari sini, aku bosan melihatmu, bocah!" Usir Kurama, Naruto dan Yugito hanya saling pandang, sebelum kemudian kembali ke dunia asli mereka.
Keduanya hanya terdiam dengan suasana yang canggung diantara mereka, membuat Naruto akhirnya membuka pembicaraan diantara mereka.
"Apa kau masih marah karena tadi? Maafkan aku, Yugito-san. Aku tak bermaksud buruk padamu." Naruto berkata sembari menundukkan kepalanya, Yugito terkekeh melihat perlakuan Naruto.
"Cih, tiba-tiba menjadi sangat sopan denganku. Kau benar-benar aneh, Naruto." Ujar Yugito seraya tertawa kecil, Naruto cemberut. "Aku merasa bersalah karena memanggilmu bibi tadi, kukira kau tak menyukainya?"
Yugito mengangguk, "Aku memang tak suka dipanggil begitu, namun aku tak semarah itu padamu, mengingat kau yang sudah menyelamatkan nyawaku disana, dan kita baru saja bertemu, kurasa aku akan membiarkannya kali ini."
"Baiklah kalau begitu, lebih baik kau beristirahat, Yugito-san. Aku yakin tubuhmu sangat lelah setelah pertarungan tadi." Ujar Naruto seraya berbalik membelakangi Yugito.
Yugito mengernyitkan dahinya, "Kau tidur dimana, Naruto?" Naruto menunjuk sofa yang berada di dekat jendela, "Aku akan tidur disana, karena kau yang lebih memerlukan kasur saat ini."
"Apa kau tak masalah tidur di sofa?" Tanya Yugito tak enak, Naruto hanya terkekeh pelan. "Tadinya aku mau pesan dua kamar, tapi uangku tidak cukup kalau harus membayar dua kamar untuk tiga hari. Jadi kuputuskan untuk tidur di sofa saja untuk tiga hari ini."
Yugito terlihat bingung, "Kenapa harus memesan kamar hingga tiga hari? Apa kau tidak mau kembali ke Konoha?"
"Bukan begitu, hanya saja kau terluka lumayan parah karena pertarungan itu. Walau lukanya sudah sembuh, aku berani bertaruh bahwa tubuhmu akan terasa kaku hingga tiga hari ke depan. Mengingat kau kutemukan dalam keadaan babak belur, ada baiknya kau banyak beristirahat sekarang." Balas Naruto panjang, Yugito terlihat terkejut.
"Jadi maksudmu, kau ingin mengurusku?" Tanya Yugito polos, namun entah kenapa membuat Naruto tersipu. "Mau bagaimana lagi? Memangnya kau bisa kembali sendiri ke Kumogakure? Kumogakure sama jauhnya dengan Konoha sekarang." Ucap Naruto sembari memalingkan wajahnya, Yugito mengangkat bahunya tak peduli.
"Baiklah, terima kasih karena mau merawatku, Naruto. Dan tolong hentikan panggilan sopanmu yang aneh, membuatku merinding, lebih baik panggil aku Yugito saja." Pinta Yugito yang mendapat anggukan dari Naruto.
"Yugito-chan, begitu?" Naruto bertanya dengan wajah polosnya seraya menatap wajah Yugito yang perlahan memerah karena panggilan itu.
"Hentikan omong kosongmu, lebih baik kau ceritakan saja tentang dirimu, Naruto. Kita mungkin akan lebih sering bertemu setelah ini." Balas Yugito sebal, namun tak dapat menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Naruto menatap Yugito dengan senyuman, "Kau benar, sebuah keberuntungan bagiku untuk bertemu denganmu. Mengetahui ada orang lain yang bernasib sama denganku dan Gaara, membuatku senang sekali karena bisa merangkulmu bersamaku." Naruto berkata seraya menatap Yugito lekat, membuat wanita itu tersipu untuk yang kedua kalinya.
"Bersamamu?" Yugito menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. Walau begitu, hatinya menghangat mendengarkan ucapan Naruto yang menenangkan.
"Iya, bersamaku. Sebagai sesama Jinchuriki, aku ingin melindungimu. Kau sama berharganya seperti Gaara." Yugito merasakan pipinya memanas usai mendengar Naruto bicara.
Yugito sudah lama tak merasakan perasaan ini, perasaan cinta tulus yang ia miliki sudah lama hilang karena kebencian warga desa padanya. Ia bisa merasakan suara pedih Naruto, ia juga dapat merasakan bahwa pemuda pirang itu mengalami kepedihan yabg sama dengannya.
Diperlakukan dengan hangat, dan adanya perasaan terlindungi di dalam lubuk hatinya, membuat Yugito luluh dari sikap dingin yang selama ini melekat di dalam dirinya. Perasaan wanita itu berganti menjadi rapuh seiring iris matanya terus menatap manik biru langit milik Naruto.
Tanpa mereka sadari, tubuh keduanya telah bergerak menghapus jarak diantara satu sama lain hingga keduanya berhimpitan. Yugito bisa merasakan tubuh kekar dan nafas berat Naruto yang mengalun di tubuh dan telinganya.
Naruto menggerakkan kepalanya, menarik Yugito ke dalam ciuman yang hangat tanpa nafsu, menciptakan perasaan yang tak dapat dijelaskan oleh keduanya.
Selang beberapa saat, Yugito mendorong Naruto untuk melepas ciumannya. Kemudian wanita itu menatap Naruto dengan perasaan campur aduk.
"A-apa yang kau lakukan?" Yugito berbicara seraya memegang bibirnya yang baru saja dicium oleh pemuda pirang di hadapannya dengan tangan gemetar.
Naruto menunduk malu, segera menyadari tindakannya. "M-maafkan aku, a-aku tak berpikir jernih, aku sudah berlaku tak sopan terhadapmu."
Yugito menggeleng, matanya beralih menatap Naruto lekat. "Hentikan, jangan meminta maaf. Aku mau kau melakukannya lagi untukku, aku ingin memastikan sesuatu."
Naruto terdiam, badannya tak bergerak sedikitpun. Walau wanita pirang itu sudah menyuruhnya, ia tak beranjak sama sekali dari posisinya karena masih terkejut dengan perkataan Yugito.
Yugito pun memajukan tubuhnya, menarik Naruto ke dalam ciumannya begitu saja, karena tak kunjung mendapat respon dari pemuda bermata biru di hadapannya.
Ciuman yang berawal lembut, menjadi panas dan basah seiring tubuh mereka yang terus menempel. Kini posisi tubuh Yugito sudah berada di atas pangkuan Naruto seraya dengan mereka yang masih saling melumat bibir.
Tak terasa, tangan mungil Yugito telah mengalung di leher Naruto sembari mengelus lembut surai pirang milik pemuda itu. Namun secara tiba-tiba, Yugito menarik ciumannya, menyisakan Naruto yang menatapnya sayu.
"Kurasa kau tak perlu tidur di sofa malam ini, Naruto. Aku tahu jawabannya." Ujar Yugito dengan nada sensual, matanya menatap Naruto dengan penuh nafsu.
Naruto menatap Yugito dengan perasaan kalut, "A-apa maksudmu? Kau tahu ini tak pantas, jika kau dan aku–"
Yugito menatap Naruto tajam dan segera menyelanya, "Apa aku tak cukup menarik untukmu?!" Naruto menggeleng cepat, "Tidak, bukan begitu!"
Naruto sudah terpikirkan sedari tadi bahwa wanita di hadapannya ini sangat menarik, tubuh yang langsing namun sedikit berisi di bagian tertentu, serta wajah dewasanya yang cantik, membuat Naruto tak dapat mengalihkan pandangannya dari tubuh Yugito.
Siapapun yang tidak tertarik dengan tubuh Yugito adalah pria yang kolot dan bodoh. Pikir Naruto.
"Lalu? Apa maksudmu berkata begitu?" Tanya Yugito penuh selidik, Naruto hanya tersenyum kikuk.
Naruto menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kau itu–sangat menarik, aku belum pernah melihat wanita dewasa yang lebih menarik dibanding dirimu dan nenek Tsunade."
"W-wanita dewasa? K-kau konyol sekali, Naruto." Yugito tersipu mendengar penuturan Naruto, namun dirinya kembali dilanda keraguan sesaat ia menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya antara dirinya dan Naruto.
"Aku berani bertaruh kau tak ingin melakukannya denganku, Naruto. Aku tahu aku jauh lebih tua darimu, aku takkan memaksamu, maafkan aku." Ujar Yugito seraya menundukkan kepalanya, tubuhnya hendak bergerak menjauhi Naruto.
Namun sebelum tubuh wanita itu sempat bergerak, tangan Naruto sudah melingkari pinggulnya, seakan mencegah Yugito untuk menjauh darinya.
"Kau salah, Yugito-chan. Aku sangat ingin melakukannya denganmu, lihat apa yang terjadi padaku." Seusai mengatakannya, Naruto menekan tubuh Yugito agar semakin tenggelam di pangkuannya, sedangkan Yugito tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya ketika merasakan sebuah gundukan mengenai alat vitalnya.
Yugito mencoba bergerak untuk menjauhi Naruto, namun tubuhnya yang terasa kaku dan sakit membuatnya sulit untuk bergerak bebas hingga memancing perhatian Naruto.
Naruto menahan tubuh Yugito yang berada di pangkuannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia arahkan pada pipi halus Yugito.
"Kumohon jangan pergi, apa kau takut padaku?" Tanya Naruto dengan mata sayu, seraya tangannya yang mengelus pipi Yugito.
Yugito menatap Naruto dengan perasaan kalut dan bingung, "Aku tidak takut padamu, hanya saja–ini terasa sangat salah. Aku tak ingin kita berdua menyesali ini nantinya, ada baiknya kita berhenti sebelum itu terjadi."
Naruto menatap dengan pandangan tak terima, ia segera melumat bibir ranum di hadapannya dengan rakus seraya tangan kanannya yang bergerak meremas payudara Yugito yang masih terbungkus pakaian.
"Naruto–mmph!" Mata Yugito terbelalak, merasakan gerakan Naruto yang secara tiba-tiba menciumnya. Ia ingin segera melepaskan dirinya, namun ciuman itu terlalu memikatnya, rasa bibir manis pemuda itu sangat memabukkan.
Tanpa sadar, Yugito pun membalas ciuman Naruto dan segera mengalungkan kedua tangannya di belakang kepala pemuda itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Maafkan aku, tapi ini terasa menyenangkan. Yugito bergumam di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Naruto pun melepaskan ciumannya. Ia menatap lekat Yugito yang berada di pangkuannya.
"Kau yakin ingin melakukan ini?" Tanya Yugito gugup, Naruto mengangguk pelan. "Bagaimana denganmu? Apa kau keberatan denganku?"
Yugito dengan cepat menggeleng, akan sangat bodoh baginya untuk menolak pemuda pirang di hadapannya ini. Wajahnya yang tampan dan tubuh proporsional bak dewa, membuatnya sulit mengatakan tidak pada Naruto.
"Baiklah, mari kita mulai."
Naruto segera melucuti pakaian Yugito dan dirinya sendiri, hingga membuatnya keduanya kini tak mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka. Badan Yugito bergetar merasakan tubuh kekar Naruto yang menghimpitnya, ia bisa merasakan kejantanan pemuda itu mengeras dibawahnya.
Naruto segera melancarkan ciuman panas di bibir Yugito, lalu ia dengan mudah menggendong tubuh mungil wanita itu untuk dibawa ke atas kasur. Naruto meletakkan tubuh Yugito dengan lembut diatas kasur sembari dirinya bergerak di atas tubuh wanita itu.
Yugito tak dapat menyembunyi rona hebat di wajahnya, ia segera memalingkan wajahnya ke samping untuk mencegah Naruto melihatnya. Namun sial bagi dirinya, karena Naruto sudah terlebih dahulu mengetahuinya.
Naruto menangkup pipi halus Yugito perlahan dan mengarahkan kepala wanita itu untuk menatapnya. "Kenapa kau segugup itu? Bukankah kau yang mengundangku untuk tidur bersamamu? Kau sendiri yang bilang kalau aku tak perlu tidur di sofa malam ini."
Rasa malu semakin mendera Yugito, ia bahkan tak percaya dirinya telah mengatakan hal semesum itu pada pemuda yang baru saja dikenalnya. Walau dalam hatinya ia sudah meyakini bahwa Naruto adalah pemuda yang baik, tetap saja hal ini salah.
Bahkan dia jauh lebih muda dariku, dia pasti belum menginjak 20 tahun. Apa yang aku pikirkan sebelumnya?
Yugito masih bergulat di dalam pikirannya sampai tak menyadari bahwa Naruto sudah bermain dengan payudaranya, putingnya refleks menegak ketika lidah basah Naruto menyentuhnya.
Seiring kulit keduanya saling bersentuhan, Yugito merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya, menandakan kebahagiaan telah datang kepadanya.
Kepala Naruto bergerak mendekati vagina Yugito yang tertutupi oleh kedua kakinya, pemuda pirang itu menatap lekat Yugito sembari tangannya menggeser kaki wanita itu secara perlahan untuk memudahkan dirinya melihat apa yang ada di dalamnya.
"N-Naruto.. Hentikan, aku malu." Gumam Yugito pelan, namun masih dapat didengar oleh Naruto. Naruto menggelengkan kepalanya, "Tubuhmu sempurna, Yugito-chan. Aku yakin kau merawatnya dengan baik."
Yugito memalingkan wajahnya yang memanas, seraya berpikir akan omongan manis Naruto yang terdengar seperti pria dewasa.
Apa-apaan itu?! Kukira dia perjaka. Namun dilihat dari cara bicaranya, dia seperti pria dewasa yang menawan!
Yugito tenggelam dalam pikirannya, sementara Naruto sudah mulai menjilati bibir vagina Yugito, membuat wanita itu berjengit merasakan lidah Naruto di kewanitaannya.
"Ahh, N-Naruto.. Apa yang k-kau lakukan? H-hentikan, itu kotor.." Yugito berucap dengan terbata-bata seiring dirinya yang berusaha menahan desahan yang bisa keluar dari mulutnya kapan saja.
Naruto menghentikan gerakannya, ia bergerak ke atas, mempertemukan mata mereka seraya menatap lekat wanita pirang di bawahnya. "Tidak, Yugito-chan. Ini lezat , aku menyukai segalanya tentang dirimu."
Yugito tak dapat membalas perkataan Naruto, saat ini otaknya terlalu lambat untuk mencerna situasi yang terjadi antara dirinya dan Naruto.
Sekali lagi, ucapan manis yang keluar dari mulut Naruto benar-benar mendobrak pertahanan dirinya. Yugito sudah pasrah, ia akan membiarkan Naruto memimpinnya dalam situasi ini, pemuda pirang itu benar-benar membuatnya tunduk pada nafsunya.
"Cium aku, Naruto. Beritahu aku seperti apa rasa diriku." Ucap Yugito dengan nada memikat, membuat Naruto tersenyum mesum diatasnya.
"Akan kuberitahu, Yugito-chan." Seusai mengatakannya, Naruto langsung melumat bibir ranum Yugito yang sudah membengkak akibat ciuman panas mereka sebelumnya.
Lidah mereka saling bersilat, merasakan cairan milik Yugito yang masih tertinggal di dalam mulut Naruto, kemudian Yugito pun melepaskan ciumannya.
"Kau benar, Naruto. Ini benar-benar sangat lezat." Yugito berkata seraya tersenyum kecil, Naruto membalas senyuman itu dengan sebuah pelukan di pinggang ramping Yugito.
"Sekarang biar aku yang merasakan milikmu, Naruto." Ucapan Yugito yang tiba-tiba membuat Naruto terkejut sekaligus malu, ia menggeleng pelan.
"A-apa kau yakin mau melakukannya? K-kau mungkin takkan menyukainya, atau bahkan menertawaiku, Yugito-chan." Gumam Naruto pelan, Yugito menaikkan alisnya kebingungan. "Apa maksudmu, Naruto? Aku tak mungkin menertawaimu, aku yakin tak ada hal buruk tentangmu. Aku janji tidak akan bereaksi aneh, biarkan aku melakukannya untukmu, Naruto."
Akhirnya Naruto pun memperlihatkan kejantanan yang ia sembunyikan di balik kedua kakinya dengan ragu, dan sesaat kemudian Yugito benar-benar dibuat tak berkedip dengan pemandangan di hadapannya.
Penis besar, dan berurat dengan panjang sekitar 8 inci yang tengah menegang di hadapan wajah Yugito, membuat wanita itu tersipu.
Melihat reaksi Yugito yang menganggunya, Naruto sontak menutupi kejantanannya kembali menggunakan bantal. "Kau janji tidak akan memberikan reaksi aneh padaku, Yugito-chan. Kau melanggar janjimu!"
Melihat sikap Naruto yang kekanakan, membuat Yugito yakin bahwa pemuda di hadapannya ini benar-benar masih perjaka. Tersadar dari lamunannya, Yugito kemudian tersenyum manis kepada Naruto. "Ara, maafkan aku, ya. Aku tak bermaksud bersikap aneh padamu, kau benar-benar lucu, Naruto."
Kini perhatian Yugito tertuju kepada kejantanan Naruto yang tertutupi bantal, ia segera merebut bantal itu dari Naruto. Naruto tersentak, ia berusaha menutupi penisnya yang menegak dengan kedua tangannya, namun Yugito menahan tangan Naruto.
"Hentikan, Naruto. Kenapa kau begitu malu? Kukira kau adalah pria jantan yang akan memimpinku malam ini." Tanya Yugito dengan nada menggoda, membuat Naruto tersipu dengan rona merah di pipinya.
"A-aku tak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya, aku belum selesai mempelajari seri novel Icha Icha Paradise milik petapa genit. Dan juga orang-orang yang pernah kutemui di pemandian berkata bahwa ukuran penisku aneh, itu akan membuat wanita menjauhiku." Jelas Naruto gugup, Yugito hanya bisa ternganga mendengar penjelasan Naruto. Pemuda pirang di hadapannya ini benar-benar polos, tidak seperti dugaannya, bahkan jauh dari perkiraannya yang mesum.
Dia berani melakukan sejauh ini hanya dengan mengandalkan pengatahuannya dari Icha Icha Paradise? Dia benar-benar tak bisa ditebak.
"Sial, kau benar-benar perjaka. Apa yang sudah kulakukan?" Yugito kini menyesali perbuatannya, ia pikir Naruto hanyalah pemuda iseng yang berniat mengerjainya. Namun nyatanya, dia masih seperti anak-anak, kepolosannya bahkan benar-benar murni.
"Maafkan aku, lebih baik kita tidak melanjutkan ini. Aku benar-benar minta maaf, Naruto." Yugito berkata seraya menunduk, ia ingin menghilang sekarang juga dari hadapan Naruto. Rasa malu benar-benar menguasai pikirannya.
Apa yang sudah kulakukan? Aku benar-benar terlihat seperti tante girang yang mencoba menggoda lelaki muda demi memuaskan nafsuku. Yugito bermonolog di dalam hatinya.
Setelah meminta maaf pada Naruto, Yugito pun berbalik, hendak bangkit untuk memakai pakaiannya dan ingin beranjak pergi dari sini karena dirinya takkan kuat untuk menahan diri jika melihat Naruto lebih lama lagi.
Karena Yugito bisa merasakan nafsunya membara di dalam dirinya, ia sendiri tak pandai menahannya begitu lama dan ia tak ingin melampiaskannya pada Naruto. Ia harus segera pergi dari sini, atau sesuatu akan terjadi pada Naruto.
Namun, tak disangka tangan Naruto malah bergerak memeluk perut rata Yugito dari belakang. Yugito merasakan tubuhnya mulai bergetar, ia hampir mencapai batasnya.
"Ada apa? Kumohon jangan pergi, aku tak tahu apapun tentang ini, ajari aku yang benar apabila aku melakukan kesalahan." Entah kenapa Naruto memohon pada Yugito seperti itu, memang kedengaran tak pantas, dan tampaknya itu menjadi awal mula masalah mereka dimulai.
"H-hentikan, jangan peluk aku, Naruto. A-aku takkan bisa menahannya jika kau terus begini." Yugito berusaha berpikir jernih dikala tubuhnya sudah dipenuhi nafsu untuk segera bersetubuh dengan Naruto.
Naruto terus mengeratkan pelukannya, bahkan ia juga membalikkan tubuh Yugito agar wajah mereka saling berhadapan.
"Maka jangan ditahan, rasakan diriku juga, Yugito-chan." Ujar Naruto dengan mata dipenuhi nafsu. Yugito menggeram pelan, kini hancur sudah tembok pertahanan yang sudah ia bangun sejak aktivitas ini dimulai.
Yugito segera menindih Naruto untuk berbaring di kasur, tangannya bergerak menuju selangkangan Naruto, dan menemukan penis tegak milik pemuda pirang itu sudah dipenuhi precum seakan menunggu dibelai oleh tangannya.
"Apa segitu inginnya dirimu padaku, Naruto?" Naruto mengangguk pelan merespon pertanyaan Yugito, "Kumohon lakukan sekarang, Yugito-chan."
Yugito mengangguk patuh, ia segera mengulum kejantanan Naruto yang mengeras di hadapannya. Ia dapat merasakan penis Naruto berkedut seakan ingin keluar kapan saja.
Ketika Naruto hampir mencapai puncak, Yugito menghentikannya, dan mendapat desahan kecewa dari Naruto. Yugito hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Kau tahu, kau tak boleh keluar sebelum menu utama."
Naruto mengernyit, lalu kemudian matanya berbinar. "Kalau begitu lakukan, masukkan penisku ke dalam dirimu sekarang."
Yugito tersipu mendengar perkataan vulgar Naruto, namun ia masih dapat mengendalikan dirinya. "Aku tahu kau masih perjaka, dan kita tak bisa melakukan itu. Kau seharusnya memberikannya pada orang kau cintai, dan itu bukan aku."
"Orang yang kucintai? Itu membuatku teringat Sakura-chan, namun dia tak pernah mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Dia hanya berbicara tentang Sasuke terus menerus di hadapanku, nenek Tsunade pun juga berpikir bahwa cepat atau lambat aku harus berpaling darinya." Kenang Naruto mengingat cerita tentang dirinya yang berkali-kali ditolak Sakura, Yugito hanya mendengarkan dalam diam.
"Aku tak tahu apa masalahnya, aku sudah beberapa kali mengorbankan nyawaku untuknya. Tapi dia tak pernah melihatku, mungkin aku yang terlalu bodoh disini." Ujar Naruto disertai tawa kecil. Sekali lagi, Yugito dapat merasakan kepedihan di suara Naruto, dan entah kenapa itu membuat hatinya juga terasa sakit.
"Naruto.." Yugito bergumam seraya tubuhnya bergerak ke atas tubuh Naruto, ia memeluk dan menaruh kepalanya di dada bidang pemuda itu.
Naruto membalas pelukan Yugito, dengan tangannya yang melingkar di punggung halus Yugito. "Aku tak masalah jika itu denganmu, Yugito-chan. Bukankah sudah kubilang? Kau sama berharganya dengan semua orang yang kusayangi."
Yugito tak dapat menahan kebahagiaannya, ia segera mencium Naruto dan membawanya ke dalam ciuman yang basah dan panas. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, ia bisa bilang bahwa ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Naruto, karena mustahil baginya untuk menolak pesona yang dikeluarkan oleh pemuda pirang dengan tubuh bak dewa itu.
"Maafkan aku, Naruto. Kurasa aku sudah jatuh padamu." Seusai mengatakannya, tangan Yugito langsung mengarahkan penis Naruto ke dalam vaginanya dengan cekatan dan memasukkannya dengan sekali hentak, hingga membuat keduanya berteriak kenikmatan.
"Argh, sialan! Naruto, kau masuk begitu dalam–aakh!" Umpat Yugito seraya menggerakkan pinggulnya naik turun, ia tersenyum kecil ketika mendengar suara cabul dari tubuh mereka yang bertabrakan.
Sedangkan Naruto masih mencerna rasa nikmat yang menderanya, penisnya benar-benar terjepit di dalam vagina Yugito, memberikan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tak lama, gerakan pinggul Yugito pun terhenti karena tangan Naruto yang menahan pinggulnya. Keduanya belum mencapai klimaks, itu benar-benar membuat Yugito bingung.
"Kenapa kau menghentikan–ahh! Naruto!" Yugito benar-benar terkejut ketika menyadari posisi dirinya kini berada di bawah Naruto, dengan sekejap mata, pemuda pirang itu membalik posisi mereka.
"Aku ingin melakukannya, biarkan aku mengendalikanmu, Yugito-chan." Ucapan Naruto yang menantang terdengar menggoda di telinga Yugito, wanita pirang itu pun mengangguk patuh.
"Lakukan apa yang kau mau, Naruto. Bawa aku dibawah kendalimu." Balas Yugito seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto dan kembali menarik Naruto ke dalam ciuman.
Keduanya saling melumat seiring dengan Naruto yang mulai menggerakkan pinggulnya, menghentak keras kewanitaan Yugito hingga bagian bawah wanita itu terasa penuh.
Tidak hanya dengan ciuman, tangan Naruto juga bergerak meransang payudara Yugito dengan remasan dan kuluman. Yugito merasa bahwa dirinya hampir mencapai puncak karena banyaknya stimulasi yang dilakukan Naruto pada tubuhnya.
"Ahh, Naruto! Sialan, aku akan keluar!" Yugito mengumpat untuk yang kesekian kalinya, Naruto pun semakin mempercepat hentakan pinggulnya. "Aku juga, Yugito-chan! Ayo keluar bersama!"
Yugito segera mengalungi kedua kakinya di pinggul Naruto, mencegah pemuda itu melepaskan penisnya dari dalam dirinya. Tak lama, keduanya pun mencapai orgasme. Rahim Yugito terasa sangat penuh akan cairan mereka berdua, ia merasakan hangat di perutnya.
Ketika Naruto hendak bangkit dari posisinya yang menindih Yugito, Yugito menghentikannya. Ia segera membalik posisi mereka sehingga wanita itulah yang berada di atas tubuh Naruto.
Kemudian Yugito membaringkan tubuhnya diatas tubuh Naruto tanpa melepas penyatuan mereka, lalu kepalanya pun bersandar di sela leher pemuda pirang itu.
"Yugito-chan?" Sebelum Naruto sempat bertanya, Yugito memberi isyarat bagi Naruto untuk diam. "Biarkan seperti ini, aku masih ingin merasakan dirimu di dalamku."
Berada di dekat Naruto seperti ini, tanpa busana dan kemaluan yang menyatu, entah kenapa membuat Yugito bahagia dan merasa tenang.
Tiba-tiba Yugito merasakan sekujur tubuhnya berdenyut kesakitan, dan terasa kaku. Ini pasti efek samping dari luka pertempuran yang didapatnya. Naruto yang merasakan tubuh Yugito membatu di atasnya hanya tersenyum kecil.
"Sudah waktunya, ya? Setelah ini mungkin kau takkan bisa bergerak selama seminggu, nona. Ini menandakan aku masih memiliki banyak waktu untuk 'merawatmu', bukan begitu?" Tanya Naruto dengan nada menggoda, sedangkan Yugito hanya merengut kesal, namun disisi lain ia merasa senang karena akan memiliki waktu lebih banyak bersama Naruto.
••
•
End!
•
••
Halo, ini seri ketiga dari Yellow's Desire. Aku udah lihat beberapa review dari kalian untukku, sebelumnya terima kasih dan aku akan mencoba menjawab satu-satu.
Untuk yang bertanya apa aku punya Wattpad, jawabannya adalah iya dan sebenarnya udah jarang kupakai jadi bisa dibilang udah gak aktif lagi. Kenapa aku enggak post ceritaku di Wattpad aja? Sudah pernah, tapi aku memang kurang suka sama Wattpad.
Untuk yang menyarankan ceritaku untuk lebih panjang dengan plot yang jelas, sorry to say tapi aku itu orangnya engga selalu konsisten.. Takutnya ceritanya malah gantung karena ideku stuck. Jadi aku tetap ingin menulis oneshot / twoshot without plot yang panjang, atau bisa dibilang PwP supaya kalian juga engga dapet ending yang gantung :)
Untuk yang menyarankan agar ceritaku berlatar belakang di dunia normal, sabar yaa. Aku masih punya plan untuk buat beberapa seri lagi dari Yellow's Desire ini, dan semuanya masih berlatar dunia shinobi. Kemungkinan setelah projek ini selesai, aku bisa mulai nulis even aku sulit membayangkan mereka yang out of character.
Anyway, feel free untuk menulis review apapun agar menjadi perbaikan buat author. Terima kasih buat yang sudah mengunjungi laman ceritaku!
