Bzttt-!
"Fenomena yang dialami Noone ... kadangkala menghilang dari kasurnya setiap kali ia tertidur beberapa malam terakhir ini. Bahkan hipotesaku mengenai dunia lain ataupun dimensi maupun planet lain– dimana Noone kemungkinan besar menghilang kesana setiap kali dia tertidur beberapa malam ini–ternilai lebih kuat dibandingkan teori 'berbagi mimpi' sebagaimana yang dikemukakan oleh Profesorku dahulu. Berangkat dari semua fakta itu, kemungkinan besar apa yang dialami oleh Noone bukanlah sebuah kelainan psikologi semata."
Dia menggumam sembari meminum teh sorenya. Sebuah alat semacam helm dengan berbagai kabel yang menempel di sekitarnya bertengger di atas mejanya, yang mana ia mulai sering menggunakannya untuk pasien anak favoritnya akhir-akhir ini untuk meneliti 'mimpi-mimpi buruk' yang bisa dibilang terlalu mendetail untuk ukuran 'sekadar mimpi'. Dia menghela nafas lagi sembari mengepalkan tangannya di atas meja kerjanya.
"Huff- baiklah, tenangkan dirimu. Kau tidak bisa mencari Kak Cici kalau kau panik seperti ini. Tidak, tidak lagi. Pria lilin yang kadangkala muncul di mimpi Noone ... Kurasa aku harus mencari informasi lebih lanjut tentangnya, karena bagaimana pun juga, dia tidak muncul di mimpi terbaru Noone mengenai Rusty, teman-teman performernya, dan sirkus di atas kapal terbang itu, walaupun kurasa Noone mulai tidak nyaman denganku."
Mata lelahnya mendelik ke meja kerjanya di mana helm dengan banyak kabel yang menempel di permukaannya bertengger sembari bergumam, "Alat penemuanku–helm Aparatus ini–mungkin tetap bisa dipakaikan pada anak itu sekali atau dua kali lagi. Memang, pengalaman paling muktahir Noone saat kepalanya dipakaikan alat ini langsung membuatnya mengalami histeria berat, terutama saat ia menceritakan apa yang terjadi pada Rusty di akhir mimpi terbarunya beberapa hari kemarin. Sayangnya, Noone menjadi semakin sulit untuk diajak kompromi akibat histerianya sejak saat itu. Huff–kondisi mental dan kecurigaannya juga semakin sulit untuk dikendalikan."
Dia mengingat apa yang dikatakan Noone tadi malam sebelum dia tidur.
"Tempat rekreasi ... Tidak semua mampu menjernihkan pikiranmu. Kadangkala tempat rekreasi, entah pantai, atau apapun itu ... Memiliki potensi untuk menerormu lebih jauh."
Pria itu mendesah panjang sembari memeriksa catatan-catatannya lagi dan mendengarkan rekaman suara Noone dari malam sebelumnya.
"Apa yang dikemukakan oleh Noone malam itu memiliki sebuah inti yang cukup menarik. Tempat rekreasi, yang seharusnya membuat diri kita bahagia, menjadi tempat yang mampu menerormu. Mungkinkah seperti yang dicontohkan Noone di sesi sebelumnya? Perihal Rusty dan sirkus di atas kapal terbang itu?"
"Dannnn tadi malam Noone menghilang dari kasurnya kembali, sempurna. Kuharap dia memberitahuku lebih banyak hal baru ketika dia kembali kesini, atau bangun dari tidurnya, entahlah– mungkin saja ia akan membuat kepalaku lebih pusing dari sebelumnya, Huh. Apakah ini nyata? Ataukah hanyalah halusinasiku semata akibat aku kelelahan karena kurang tidur? Kuharap Pria lilin–atau mungkin Pria tukang Feri seperti yang disebutkan oleh Kak Cici pada waktu itu– akan muncul di mimpi Noone lagi."
Dia menatap lukisan 'Zahir' nya lagi. Kali ini dia melihat sesuatu yang lain disana, sebuah pantai.
"Kebetulan sekali. Kali ini lukisanku memperlihatkan sebuah pantai. Tunggu, pantai? Tapi bukankah lukisan ini sebenarnya adalah– huff, hentikan, Otto. Apa mungkin aku perlu waktu luang ke pantai untuk Rekreasi? Wisata jiwa? Apa mungkin rekreasi di pantai akan membuatku semakin merasa nyaman, atau bahkan sebaliknya, merasa diteror? Huh, berhenti bergurau, Otto. Bisa jadi kau memang sedang memerlukan angin laut segar, terutama untuk menjernihkan pikiranmu akhir-akhir ini. Berenang atau bermain bola Voli disana juga tidak terlalu buruk. Bagaimanapun juga semua ini telah membuat otakku sangat lelah, dan aku sudah jarang tidur sejak meneliti kasus Noone. Tapi Kak Cici ... Kak Cici membutuhkanku."
"Huff, fokus. Ini untuk kebaikan Noone, dan juga untukku. Aku tidak akan menyerah. Tidak untuk kali ini."
Bbbzztt-!
000
Lorong rumah sakit jiwa itu menyala redup. Seorang pria paruh baya yang memakai jas putih berjalan tegap di sepanjang lorong itu. Dia menggenggam papan catatannya di salah satu tangannya. Wajahnya menunjukkan ketidakpastian, kehampaan, dan mungkin juga kelelahan.
Nama pria itu adalah Otto. Dia bekerja sebagai seorang konselor di sebuah instansi jiwa dan khusus menangani pasien anak-anak. Otto menghela nafas panjang. Ini menjadi sesi terapi kesekian kalinya yang akan dia lakukan terhadap Noone, seorang anak gadis berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Noone mengalami kelainan jiwa dimana setiap kali dia tertidur, dia akan mengalami mimpi buruk, dimana mimpi buruk itu lebih buruk dari mimpi yang dia alami sebelumnya. Dan anehnya, mimpi-mimpi buruknya seringkali berkaitan satu sama lain, seakan-akan Noone menjadi Alice di negeri dongeng ataupun terlempar ke dimensi lain setiap kali dia tertidur namun dengan kesan yang lebih suram dan menyeramkan.
Otto tahu kalau dia tidak sekadar hendak menyembuhkan Noone. Dia juga ingin mengetahui lebih dalam tentang dirinya sendiri. Otto mengalami sebuah trauma saat dia masih kecil yang berhubungan dengan menghilangnya seseorang yang dia amat sayangi, dan Otto merasa orang yang disayanginya memiliki hubungan dengan mimpi-mimpi buruk yang dialami Noone, karena orang yang disayanginya itu pun mengalami hal yang sama dengan Noone sebelum dia menghilang beberapa tahun yang lalu: Gangguan mimpi buruk terus-menerus. Otto juga merasa dirinya terlalu memaksa Noone untuk menceritakan mimpi-mimpi buruknya kepadanya, seakan-akan Otto lebih mengutamakan trauma masa lalunya ketimbang perasaan gadis kecil itu, tapi setelah mengalami beberapa sesi bersama Noone, pria itu mau tidak mau merasa kesulitan untuk menyembunyikan niat sampingannya secara utuh terhadap penelitiannya akan anak gadis itu.
"Baiklah, Noone. Ini adalah sesi ke-bzzzztt..." Otto mulai menyalakan kotak rekaman di sebelahnya. Noone duduk tak jauh di hadapannya. Wajah gadis itu suram dan hancur akibat mimpi-mimpi buruk yang dia alami. "Ayo kita mulai."
Noone mencengkeram lututnya. Pandangannya kosong. Dia tahu Otto ingin menggunakan mimpi-mimpi buruk yang dia alami untuk mengetahui lebih lanjut tentang trauma masa kecilnya dimana orang yang dia sayangi juga mengalami hal yang sama dengannya. Noone merasa simpati kepada pria itu, namun dia juga marah terhadapnya karena dia merasa penderitaannya hanya digunakan sebagai alat oleh Otto untuk mengetahui lebih lanjut tentang trauma masa kecilnya, tapi anehnya, Noone merasa dia perlu patuh untuk saat ini, walaupun apa yang dilakukan Otto terhadapnya semakin lama semakin diluar profesionalitas-nya dengan mulai menghubungkan sejarah pribadinya kepada anak gadis itu.
"Baiklah. Ceritakan apa yang kau lihat di dalam mimpimu semalam, Noone." Otto mulai menyiapkan catatannya. Noone menghela nafas panjang. Tangannya mengepal kuat-kuat di lututnya.
"Aku bermimpi... di sebuah pantai yang terbengkalai," gumamnya. "Kurasa ini mimpi yang lain daripada sebelumnya. Yang ini lebih terlihat... Cerah."
Otto mengangguk. "Cerah. Baiklah." Dia mencatat di papan tulisnya. "Lalu?"
"Aku lalu melihat ... Dia," lanjut Noone. "Seorang anak laki-laki berambut cokelat tua, mungkin berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Dia gemuk dan gempal. Dia lebih pendek dariku."
Otto menghela nafas panjang. "Bisakah kau ceritakan lebih lanjut bagaimana rupa anak laki-laki itu?" Tanyanya sembari menggenggam bolpoinnya erat-erat. "Apakah dia terlihat ... Dekil?"
Noone menggeleng. "Tidak juga. Dia terlihat lebih segar ketimbang anak-anak yang kutemui di mimpi-mimpiku sebelumnya," gumamnya. "Dia memakai kemeja putih dan celana biru tua yang digulung sampai di bawah lututnya. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah ... Dia mengenakan dasi kecil bercorak hijau pandan ... Mungkin seperti ketupat."
Otto mengangguk-angguk. "Dasi ketupat?Menarik juga." Dia menulis kembali di catatannya. "Apakah dia berbicara padamu?"
Noone menatap ke arahnya, pandangannya kosong. "Tidak, dia tidak berbicara apa-apa padaku. Dia seperti tidak melihatku, seolah-olah aku ini transparan. Tapi entah kenapa aku tahu namanya, seolah angin di sekitarku membisikkan namanya padaku."
"Oke?" Otto terus menulis di catatannya. "Siapa nama anak itu?"
Noone menelan ludah. "Nama anak itu ..." Dia berusaha menenangkan dirinya. Dia tahu Otto perlu segala hal yang dia perlukan untuk menyembuhkannya dan juga untuk mengetahui trauma masa lalunya. Dengan suara bergetar, dia melanjutkan kalimatnya.
"Nama anak itu ... Aman Askandar."
Bersambung.
