Otto mengerutkan keningnya. Baginya, jawaban Noone terdengar terlalu mengada-ada. Dia menatap gadis itu dengan pandangan memicing.

"Aman Askandar? Apa kau yakin kalau itu nama asli anak laki-laki berdasi ketupat pandan itu?" Otto mengerutkan keningnya lagi. "Kau bercanda, Noone. Tidak mungkin kau percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan 'angin' padamu. Itu ... itu tidak masuk akal."

Noone meringis. "Aku ... aku tidak mengada-ada, Tuan Konselor," tukasnya sembari menggenggam kedua lututnya erat-erat. "Aman Askandar... aku yakin itu namanya. Anda bahkan tetap menyuruhku menceritakan mimpi-mimpiku sebelumnya ... tentang para pekerja di balik dinding itu ... para makhluk hina di rumah mandi yang memainkan tubuh Jester ... ketika Mall itu memberiku kesenangan sesaat ... ketika aku melihat apa yang terjadi pada Rusty di sirkus itu ... semua mimpi itu ... a- aku yakin aku tidak salah dengar tentang nama Aman, Tuan Konselor ... tolonglah ... Anda ... Anda harus percaya padaku."

Otto memandangnya dengan tatapan malas. "Noone, aku tahu kau merasa yakin tentang nama anak berdasi pandan itu. Tapi ayolah. Kau tidak harus percaya dengan semua hal yang dikatakan orang padamu, apalagi dari bisikan angin! Kita sebut saja anak laki-laki yang kau temui di pantai itu dengan alias 'anak berdasi ketupat', oke?"

Noone menelan ludah. Dia merasa tertekan dengan sikap Otto yang terlalu memaksakan kehendaknya padanya. Tapi gadis itu tahu bahwa tidak ada gunanya berdebar dengan pria itu. Dia akhirnya mengangguk, menyetujui kesepakatan Otto terhadap dirinya.

"Baik, Tuan Konselor." Dia menghela nafas panjang. "Apa ... Apa boleh saya lanjutkan?"

Otto mengangguk. "Silahkan, Noone."

"Ba- Baiklah ..." Noone menelan ludah lagi sebelum melanjutkan cerita pengalamannya dalam mimpi terbarunya tentang anak berdasi ketupat. "Aku melihatnya–anak berdasi ketupat itu–berjalan tertatih-tatih di pantai yang terbengkalai, seakan dia baru saja terluka. Aku ingin menolongnya, tapi aku merasa tubuhku ditahan layaknya patung."

"Maksudmu ... Kau tiba-tiba merasa lumpuh?"

"Bisa ... Bisa dibilang seperti itu, Tuan Konselor. Walaupun aku merasa diriku masih bisa berdiri."

"Oke. Lanjutkan, Noone."

Noone meringis. "Aku merasa tidak berdaya, Tuan Konselor. Anak berdasi ketupat itu ... dia ... dia dalam bahaya. Aku melihat tubuhnya yang kecil seperti terluka parah, seakan dia baru saja diserang monster. Dan aku ... aku tetap tidak bisa menggerakkan tubuhku bahkan untuk menolongnya sekalipun, seakan-akan tubuhku dihimpit sesuatu yang tidak terlihat."

Otto menghela nafas panjang. "Dihimpit? Oke." Dia kembali menulis di catatannya. "Lalu?"

Noone menutup matanya dengan kedua tangannya. "Aku ... aku lalu melihatnya ... anak berdasi ketupat itu ... dia akhirnya jatuh ke pasir pantai, seakan dia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit dari tubuhnya. Dia mengerang, Tuan Konselor. Aku tidak tahan melihatnya menderita seperti itu. Aku ingin menolongnya, tapi Anda tahu sendiri ... aku nyaris tidak bisa menggerakkan tubuhku ... seakan-akan aku dipaksa untuk melihat anak berdasi ketupat itu menderita dalam kesakitannya."

"Itu ... kejam ..." gumam Otto dengan nada suara yang berubah menjadi simpatik. "Selanjutnya apa yang terjadi pada anak itu, Noone? Tolong beritahu padaku. Aku butuh informasi itu."

Noone mulai menangis tersedu-sedu. "Apa ... Apa aku harus melanjutkan sesi ini, Tuan Konselor?" Ujarnya di antara tangisannya. "Aku ... aku ingin istirahat, Tuan. Aku ... Aku lelah. Anak berdasi ketupat itu ... aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu tentang apa yang terjadi padanya selanjutnya. Itu ... itu terlalu traumatis bagiku. Bisakah ... Bisakah aku kembali ke kamarku sekarang? Tolonglah, Tuan ... Aku tidak tahan lagi ..."

Otto menghela nafas panjang. "Baiklah, Noone. Kau boleh istirahat sekarang." Ujarnya lalu menyodorkan sebungkus permen pada Noone. "Nikmati permen ini, Noone. Kau akan merasa lebih baik. Tapi berjanjilah padaku kau akan melanjutkan penjelasan mimpimu padaku setelah keadaanmu jadi lebih baik, oke?"

Noone mengangguk dengan gugup seraya menghapus air matanya dan menerima permen dari Otto. "Te- Terima kasih, Tuan Konselor. Akan ... Akan kuusahakan."

Otto lalu mengantar Noone ke kamarnya di rumah sakit jiwa itu. Setelah menaikkan dirinya ke tempat tidur, Noone tiba-tiba menggumam ke arahnya. "Tuan Konselor ... aku ... aku nyaris lupa," ucapnya dengan terbata-bata. "Anak berdasi ketupat itu ... dia ... dia bertemu dengan sesosok figur berangin setelah ... setelah dia ... Entahlah ... Aku– aku tidak mau membicarakannya terlebih dahulu. Ku- Kurasa figur itulah yang mengendalikan angin yang membisikkan nama anak itu padaku. Anda ... Anda percaya padaku kan, Otto?"

Otto menghela nafas panjang. "Kita lihat saja nanti, Noone," ucapnya lalu menutup pintu kamar anak gadis itu dari luar. Dia menghela nafas panjang dan menenangkan diri sejenak sembari berjalan menjauh dari kamar Noone.

"Angin ... Tidak mungkin. Semakin hari apa yang Noone ceritakan padaku semakin tidak cocok dengan logikaku. Bisa jadi angin yang disebutkannya itu hanyalah figmen dari mimpi buruknya. Tapi ... benarkah itu?"

Pria itu pun menguap lagi. Kali ini dia benar-benar ingin istirahat. Tapi sejak dirinya menangani kasus Noone, dia mulai merasa kesulitan untuk tidur, membuatnya menggeretukkan giginya sebelum menenangkan dirinya kembali.

"Huff, baiklah, Otto. Kau harus tenang. Tenangkan dirimu. Huff– maafkan aku, Noone. Mau tidak mau aku harus memakaikan alatku padamu sekali lagi untuk sesi esok hari. Anak berdasi ketupat itu, atau dengan berat hati kusebut 'Aman', mungkin ada hubungannya dengan hilangnya Kak Sisi, tapi entah kenapa firasatku mengenai hal itu kurang meyakinkan. Apa mungkin dia juga pernah bertemu dengan pria tukang Feri atau pria lilin itu? Tapi satu hal pasti: Aman dan semua anak-anak di mimpi Noone itu bukan hanya figmen dari mimpi, tapi manusia dengan jiwa dan raga, dan jangan-jangan pria lilin itu pun juga begitu."

Otto kembali ke ruang kerjanya sembari membaca catatan-catatannya kembali. Dia lalu melihat lukisan Zahir-nya lagi sebelum dia menyadari bahwa mimpi Noone tentang Aman adalah kali pertama Noone mengambil lebih dari satu sesi, membuat pria konsuler itu tersenyum getir.

"Kurasa aku akan menemukan hal yang lebih menarik lagi untuk sesi esok."

Bersambung.