Hari keempat.
Naruto menatap, terus melihat ke depan di mana ada objek manusia.. Pada akhirnya bocah delapan tahun itu menghela nafas lelah meskipun ekspresinya tetap datar. "..Ji-san, kenapa kita disini?"
Jiraiya buru-buru memberi isyarat dengan jarinya untuk menutup mulut, ia berbisik agar tidak terdengar oleh para wanita dan pria yang ada di ruangan itu. "Ini adalah bagian penting untuk membangkitkan emosimu.."
Mereka berdua ada di ruangan sudut yang minim akan cahaya, Naruto melirik para wanita dan pria yang tidak jauh darinya, mata birunya seperti kaca, memantulkan semua aktivitas gerakan yang dilakukan oleh orang-orang di ruangan ini.
Dia mencatat dalam hatinya, ada dua orang yang bisa bela diri, lima belas orang warga biasa, tujuh orang yang tidak bisa bertarung tapi mereka memiliki pistol. Setiap detik, pikirannya terus bergerak mencari celah, tatapannya begitu fokus sampai tangan besar menutupi matanya. Membuat Naruto bingung untuk sesaat.
"..Naruto, kita disini bukan untuk membuatmu melakukan sesuatu yang membebankan tubuhmu." Jiraiya menghela nafas sedih, ia tau satu hal, jika cucunya begitu fokus akan sesuatu, berarti itu bukan sesuatu yang baik bagi tubuh anak ini.
"..Jangan terus seperti ini, kau bukan robot, Naruto."
.
.
.
.
.
Warning story: OOC, Edgy AF, AU, Monoton, Smart!Naruto.
Disclaimer: Naruto milik karakter Masashi Khisimoto.
And
BNHA milik Kohei Horikoshi.
...
Meskipun Naruto ingin pergi dengan Katsuki Bakugou, yang lain jelas terganggu olehnya. Ketika ia menyadari bahwa orang ini akan memukulinya, Naruto berbalik dengan tegas, meninggalkan Katsuki Bakugou sendirian, yang sekarang tidak bisa melampiaskan amarahnya lagi.
"Kuning sialan!" Katsuki Bakugou menatap tajam ke arah di mana Naruto menghilang, berharap meledakkan seluruh jalan.
Menendang batu di jalan ke samping, Katsuki Bakugou pergi sambil mendengus kesal, Shota Aizawa bersandar di dinding dan menatap punggung Katsuki Bakugou dengan mata sedikit menyipit.
Hubungan mereka tidak sebaik yang ia kira, bahkan bisa dikatakan cukup buruk..
Kalau begitu, mengapa Uzumaki pergi bersamanya?
Shota Aizawa sedikit mengernyit, mungkinkah bocah itu menghindari seseorang?
Memikirkan kemungkinan ini, Shota Aizawa menoleh ke kanan, mengikuti arah Naruto pergi, Shota Aizawa merenung, saat ketika bocah itu diinterogasi. Ada yang aneh, apa yang bocah itu katakan mirip dengan saksi lain, tetapi sangat berbeda dari mereka. Dibandingkan dengan orang lain, pernyataannya diucapkan tanpa emosi subjektif, sama persis seperti penjelasan yang sangat terstruktur tentang apa yang telah terjadi..
Bahkan tidak memiliki kalimat seperti, "Anak malang.." atau, "Mengapa ada orang yang membunuh gadis yang begitu lembut?" Uzumaki langsung ke intinya.
Dan semakin ia memikirkannya, penekanan pada pernyataan Uzumaki tampaknya sangat berbeda dari yang lain.
Misalnya, -Ekspresi dan baunya?
Naruto berjalan menyusuri gang sambil membawa tasnya. Mata biru mudanya tetap tenang, hujan telah berhenti dan ada genangan air dangkal di mana-mana di tanah. Naruto dengan tenang menghindari genangan air ini dan berjalan pulang selangkah demi selangkah, seolah-olah pembunuhan di sore hari itu tidak mempengaruhinya sama sekali.
Sebenarnya memang tidak, ia bahkan merasa hampa.
Tidak peduli apakah ia dimintai bantuan atau seseorang yang ia kenal terbunuh, ia bahkan tidak memiliki detak jantung yang lebih cepat dari yang seharusnya dimiliki orang biasa, mungkin ini yang disebut.. Ketidakpedulian.
Lagi pula, itu bukan urusannya dan itu sangat merepotkan. Naruto tidak membutuhkan pengalaman ini untuk berteman dan tidak masuk akal untuk menggunakannya sebagai bahan untuk menyombongkan diri..
Mari kita coba untuk menghindari hal-hal seperti itu di masa depan..
Melangkah keluar gang dan tanpa sengaja menginjak genangan air, Naruto mendengar derai, seperti batu jatuh ke danau, suara tumpul dan bisa dikenali, Naruto menghentikan langkahnya, ia memegang tasnya dan menoleh, melihat ke gang samping.
Setelah mendengar serangkaian langkah kaki, seorang gadis berjalan keluar dari gang, memegangi sisi roknya, terlihat malu.
Rambut pirang gadis itu diikat menjadi dua sanggul, mengenakan seragam sekolah lengan panjang berwarna terang dan rok hitam pendek, seperti bagaimana penampilan seorang siswi SMA.
"Um, halo, aku tersesat, gang-gang di sini sangat rumit, bisakah kau menunjukkan jalan keluar?"
Naruto menatapnya selama beberapa detik dan kemudian mengangguk pelan setelah beberapa saat, "Pergilah ke gang ini, ke persimpangan dan berjalan sedikit lebih jauh untuk melihat jalan."
"Hah?" Gadis itu memberi isyarat rute dengan tangannya dan akhirnya menatapnya dengan tatapan kosong, "Maaf, bisakah kau mengatakannya lagi?"
Naruto menatapnya, masih tanpa ekspresi seperti biasa. "Hei, ini tidak terlihat seperti tempat seseorang akan tersesat. Gang-gang di sekitar sini pendek dan tidak terlalu rumit.."
"Ini karena aku tidak pandai arah.." Gadis itu tersipu, merasa malu. "Maaf, apa aku mengganggumu! Aku bisa pergi—"
"Tidak.." Naruto berjalan melewatinya, sengaja menyela kalimat gadis itu. "Sejujurnya, aku kebetulan menganggur tanpa melakukan apa-apa..."
Sambil mengatakan itu, Naruto berjalan di depan dengan tenang, ia tampaknya tidak peduli jika gadis di belakangnya akan mengikuti atau tidak, melangkah di genangan air di tanah.
Naruto perlahan menoleh dan melirik pepohonan di sebelahnya, lalu melihat ke depan lagi seolah-olah ia hanya melihat sekelilingnya secara kebetulan.
"Ah, tolong tunggu aku!"
Gadis itu buru-buru mengikuti, karena langkahnya yang tergesa-gesa dia memercikkan air dari genangan air..
Menunggu sampai sosok mereka menghilang, Shota Aizawa melompat turun dari pohon, dengan daun di kepalanya yang sekarang basah, mengibaskan air dan daun di kepalanya, Shota Aizawa bersin. Benar saja, bocah ini lebih merepotkan dari yang ia kira, ia harus mengikuti mereka.
Tetapi semakin ia mengikuti mereka, semakin merasa ada yang tidak beres karena ini sama sekali bukan jalan keluar dari gang.
Kemana Uzumaki akan membawa gadis ini?
Seperti Shota Aizawa, gadis itu juga memperhatikan bahwa ini bukan jalan keluar, gadis itu berhenti dan berbicara dengan takut-takut.
"Ini bukan jalan keluar, kan? Kemana kau akan membawaku?" Gadis itu gemetar ketakutan, dengan sedikit kepanikan dalam suaranya.
"Jadi kau akhirnya menyadarinya?" Naruto membalas dengan suaranya yang acuh tak acuh seperti biasa, "Yah, toh tidak ada orang lain yang akan muncul di sini."
Naruto berbalik, di belakangnya ada jalan buntu, sore setelah hujan terlihat sangat suram dan dingin, pada saat ini, sepertinya bocah lelaki yang terlihat biasa dan membawa tasnya ini berubah dalam sekejap..
Gadis itu melangkah mundur, "Mungkinkah kau adalah pembunuh yang membunuh siswa sekolah menengah?!"
Hm, tidak mungkin..
Shota Aizawa bersembunyi di sudut dan mendengarkan percakapan mereka. Ia percaya bahwa Naruto Uzumaki bukanlah pembunuhnya. Meskipun bocah ini berperilaku mencurigakan, Uzumaki tidak punya waktu untuk melakukan kejahatan. Dalam rentang waktu Reina Hino meninggalkan kafe dan tubuhnya ditemukan, Uzumaki masih ada di sana, di luar kafe bersama orang lain saat itu.
"..Pembunuh? Apakah kau berbicara tentangku?" Naruto memiringkan kepalanya, tanpa emosi di mata birunya, "Pembunuh sebenarnya adalah kau, bukan?"
Diam, seluruh dunia jatuh ke dalam keheningan yang tak terlukiskan, bukan hanya gadis itu, bahkan Shota Aizawa, yang bersembunyi di dekatnya.
Satu-satunya hal yang bisa didengar adalah gemerisik angin yang bertiup di atas pepohonan dan tetesan air jatuh dari pohon.
Naruto menatap gadis di depannya dengan tenang. Sejak awal ketika ia melihatnya, ia tau bahwa orang yang meminta bantuan itu sama sekali bukan Reina Hino.
Quirknya adalah senyumannya, secara tidak sadar akan digunakan sendiri ketika dia sedang panik, jadi mengapa Reina Hino yang meminta bantuannya saat itu terlihat ketakutan? Reina Hino adalah korban dari quirknya sendiri yang tidak bisa membuat ekspresi lain, kecuali senyum..
"Meskipun agak tidak menyenangkan untuk dikatakan, mari kita mulai dengan ini.. " Naruto mulai menjelaskan, merasa semakin hampa entah kenapa. "Nona, ketika kau menyerangnya, mungkinkah kau tidak tau quirk Hino-san sama sekali? Aku mengerti itu, kau ingin pergi sebelum pahlawan tiba tanpa meninggalkan jejak apa pun sesegera mungkin sehingga kau dapat membingungkan mereka dengan petunjuk palsu, tapi sayangnya trik murahan itu tidak berguna untukku.."
Suara Naruto seperti potongan piano yang rusak, di mana jari-jari pianis berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti irama. Namun, musik yang dimainkan orang tersebut tidak memiliki emosi sama sekali.
"Karena kau sama sekali tidak bertingkah seperti Hino-san.."
Shota Aizawa tanpa sadar memperlambat napasnya, semua jenis pikiran terus muncul di kepalanya.
Ekspresi dan baunya.. Jadi itu maksudnya.
Penjelasan Uzumaki menyatakan bahwa Reina Hino, yang meminta bantuannya, memiliki ekspresi ketakutan, tetapi jika itu benar-benar Reina Hino, seharusnya hanya ada senyum di wajahnya dan kemudian ada juga baunya. Reina Hino, yang baru saja meninggalkan kafe dan buru-buru pergi, setidaknya harus ada sedikit aroma kopi, tapi Uzumaki mengatakan bahwa dia hanya bisa mencium bau darah yang samar..
Dengan kematian Reina Hino sebagai fakta yang pasti, jika orang itu bukan Reina Hino, maka satu-satunya kemungkinan lain adalah bahwa dia sendiri adalah pembunuhnya.
Jadi ternyata bocah ini tau segalanya dari awal, mengapa dia tidak memberi tau polisi?!
"Oh?" Naruto menatapnya dengan datar, "Kau adalah orang yang aku lihat di kafe sebelumnya, kan? Karena kau merasa tidak nyaman, kau kembali untuk memeriksa, kau benar-benar tidak percaya diri sama sekali—"
"—Atau, mungkinkah kau menemukan korban baru?" Suara Naruto hanya mengungkapkan ketidakpedulian, "Aku?"
Gadis itu berhenti berbicara, dia hanya berdiri di sana, tangannya mencengkeram sisi roknya, dengan poni menutupi matanya, membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
Tepat ketika Shota Aizawa berpikir bahwa Uzumaki pasti salah menebak, ia mendengar tawa..
Suara yang ia dengar sekarang sama sekali tidak seperti gadis itu sebelumnya, dengan nada yang dingin dan kegilaan di dalamnya.
Himiko Toga mengangkat kepalanya, matanya penuh kejutan. "..Luar biasa."
.
.
TBC..
Revisi dung. UwU
