Tiga tahun yang lalu.

.

.

"Ah, ya, ada satu hal yang aku lupa katakan. Kohai-kun, aku pikir semua orang itu unik, setiap orang memiliki sisi uniknya sendiri dan aku pikir hal yang sama juga berlaku untukmu.."

Embusan angin bertiup, menggulung daun yang sedikit menguning, membawa kesejukan musim gugur. Mata biru muda Naruto masih tanpa emosi, seolah-olah tidak mendengar apa-apa.

Pemuda pirang itu melihat tiket kereta di tangannya, lalu pandangannya kembali ke punggung lebar orang yang semakin menjauh darinya. "Kurasa kau salah, dibandingkan dengan semua orang, aku hanya orang biasa." Naruto berjalan ke arah yang berlawanan, menuju stasiun kereta.

"Dan orang biasa tidak butuh sisi unik, senpai."

.

.

.

.

.


..OoOoOo..

.

.

.

.

Pada saat yang tepat, UA memutuskan untuk mengadakan Festival. Ini merupakan acara besar di SMA UA. Pahlawan yang tak terhitung jumlahnya akan datang untuk menontonnya, juga merupakan kegiatan bagi para siswa untuk menunjukkan potensi mereka. Banyak agensi luar biasa akan datang untuk mencari pendatang baru yang potensial.

Tidak hanya departemen pahlawan yang ingin berpartisipasi, tapi bahkan para siswa departemen bantuan juga bekerja keras untuk melengkapi kekurangan mereka sendiri Sebaliknya, departemen umum masih sama seperti sebelumnya, mereka berbicara secara lisan tentang bekerja keras, tetapi pada kenyataannya, tidak ada gerakan sama sekali..

"Bahkan jika kita bekerja keras, kita tidak akan menang pada akhirnya.."

"..Kau benar, kita hanya siswa departemen umum."

Ketika mereka mengatakan ini, moral mereka sangat rendah. Hitoshi Shinso duduk di sudut ruangan dan menatap orang-orang itu, dengan rasa jijik di matanya, tapi pada akhirnya dia memilih untuk tetap diam. Ini adalah pilihan mereka dan tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Naruto yang duduk di sebelahnya, masih memilih menjadi orang transparan seperti biasanya. Pemuda pirang itu selalu bermain di ponselnya begitu kelas berakhir, tidak ada yang tau apa yang selalu dia lihat. Namun dari pengamatan Hitoshi Shinso, Uzumaki bahkan tidak mengganti halaman yang dia baca saat ini.

"..Uzumaki." Hitoshi Shinso mau tak mau memanggilnya.

Naruto menoleh dan meliriknya, "Apa?"

"Apa yang kau rencanakan? Tentang festival olahraga.." Hitoshi Shinso berdehem, membuat nadanya lebih serius. "Saat waktunya tiba kita akan menjadi lawan, aku sendiri tidak akan berbelas kasih, jadi tolong lawan aku dengan sekuat tenaga. Aku ingin dipromosikan ke departemen pahlawan, ini tidak akan pernah berubah.."

"Oh." Naruto berbalik untuk melihat ponselnya dan berkata dengan nada acuh tak acuh, "Lakukan yang terbaik.."

Hitoshi Shinso berdiri dan berjalan di depannya, "Anggap ini lebih serius.."

"Tapi aku hanya orang biasa, dan aku tidak punya alasan untuk dipromosikan ke departemen pahlawan." Naruto memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, "Kurasa teman sekelas kita benar, aku pikir kerja keras tidak ada artinya bagi seseorang yang tidak memiliki quirk sepertiku. Harapanku adalah untuk tetap di departemen umum sampai lulus, dan kemudian mencari pekerjaan yang mudah.."

Hitoshi Shinso menatapnya dengan tenang, merasa rumit di dalam hatinya. Betapa tidak bisa dipahami, itulah yang dipikirkan Hitoshi Shinso.

Mengapa Uzumaki tidak ingin naik ke tingkat yang lebih ideal, kenapa lebih memilih mundur ke tingkat yang jauh di bawah mereka? Hanya untuk kehidupan yang tidak mencolok?

"..Hanya itu?" Hitoshi Shinso jarang ragu-ragu, "Apakah kau tidak memiliki tujuan lain? Atau impian yang lebih istimewa?"

"Tidak, kehidupan yang aku miliki saat ini adalah apa yang aku inginkan." Naruto memandangnya, mata birunya untuk sesaat mempunyai kilatan cahaya aneh, lalu ia dengan tenang berkata, "Senang memiliki tujuan besar sepertimu, tapi aku hanya ingin menjalani hidupku seperti ini, dengan lulus sekolah tanpa ada masalah."

Hitoshi Shinso berpikir sejenak, "..Aku menghargai keputusanmu, tapi bukan berarti pendapatku tentangmu berubah, kau masih berbeda dari orang-orang ini."

Tentu saja kita berbeda..

Naruto dengan santai mengeluarkan buku pelajaran untuk kelas berikutnya, tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, seperti patung batu yang diukir oleh pembuat patung. Ekspresi dan emosinya membeku.

Kebanyakan orang yang tinggal di departemen umum menyerah terlebih dahulu karena mereka tau batasan apa yang tidak bisa dilampaui, jadi mereka memilih untuk menyerah pada diri mereka sendiri, atau mungkin berjuang untuk masa depan yang berbeda.

Tapi ia berbeda, ia hanya memilih jalan ini untuk kebebasan dan untuk dirinya sendiri.

Bel kelas berbunyi, dan guru berjalan masuk dari pintu kelas. Hiruk pikuk sesaat sebelum menghilang seketika, hanya terdengar suara guru.

Departemen umum selalu yang pertama dibubarkan karena departemen umum hanya memiliki pengajaran umum, yang melibatkan lebih sedikit pelajaran tentang quirk atau pahlawan, cenderung belajar lebih banyak tentang logistik dan aspek lain yang perlu dipelajari. Naruto mengemasi tas sekolahnya, pergi ke pintu masuk departemen pahlawan, dan menunggu Izuku Midoriya.

"Hei, Uzumaki.."

Naruto mengangkat kepalanya, ia menoleh dan melihat ke samping. Seorang pria yang dibalut perban berdiri di ujung koridor. Jika bukan karena rambut berantakan dan mata lesu yang sama, ia hampir tidak bisa mengenalinya..

"Tuan Aizawa?" Naruto menatapnya, melihat luka-luka yang dibalut perban."..Kuharap dia tidak menceritakan alasan mengapa mempunyai luka-luka ini."

"..Ikuti aku." Shota Aizawa berbalik dan berjalan keluar. Luka-lukanya masih belum pulih sepenuhnya, dan dia sedikit tertatih-tatih saat berjalan.

Naruto berpikir sejenak, lalu mengikutinya dengan tangan di saku, sikapnya masih acuh tak acuh. Sebenarnya ia tidak ingin berbicara dengan orang ini. Akan lebih baik jika ia bisa menyingkirkan kegigihannya yang tak dapat dijelaskan dalam membimbingnya.

Tidak pergi terlalu jauh, Shota Aizawa berbelok dan bersandar ke dinding untuk menunggunya, dengan perban tergantung di bahunya, terlihat sangat lemah dibandingkan biasanya.

"Apa yang akan kau lakukan? Tentang festival olahraga ini.." Shota Aizawa memulai topik yang sama dengan Hitoshi Shinso, "Apakah kau akan terus menyembunyikan dirimu di antara orang-orang biasa seperti ini?"

"Maaf, meskipun aku tidak ingin mengatakan ini, aku sebenarnya orang biasa." Suara Naruto masih datar, tidak ada yang bisa mengetahui emosi dibalik nada suaranya. "Aku sangat senang dipuji oleh Tuan Aizawa, tapi tolong jangan katakan apa pun yang akan menyusahkanku nantinya. Jika aku menderita intimidasi oleh teman sekelas karena ini, itu tidak akan baik.."

Pembuluh darah muncul di dahi Shota Aizawa, menderita intimidasi? Heh..

Menenangkan diri, Shota Aizawa melanjutkan topiknya, "..Di festival olahraga, nantinya akan datang banyak pahlawan, termasuk beberapa pahlawan peringkat atas. Jadi, jangan meremehkan kekuatan mereka.."

Tapi ia tidak pernah mengatakan ingin tampil di festival olahraga..

Naruto menatap Shota Aizawa dengan tenang, mata birunya masih terlihat dingin, pemuda itu memilih untuk diam, tidak setuju ataupun membantah.

"Kau tau, ini tidak adil bagi orang lain." Shota Aizawa melanjutkan perkataannya, "Apakah itu Bakugou atau yang lainnya, mereka semua adalah anak-anak dengan harga diri yang kuat. Sikap malasmu adalah penghinaan terhadap kerja keras mereka, pertarungan yang adil adalah sesuatu yang harus kau berikan kepada mereka.."

Tapi apa hubungannya dengan dirinya?

Naruto menatap Shota Aizawa, dengan ketidakpedulian di matanya.

Apa hubungan harga diri orang lain atau sikap adil dan menang dengan dirinya? Manfaat apa yang bisa ia dapatkan?

Jika tidak ada, maka itu tidak perlu.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC.


Hum, direvisi. UwU