Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't own the characters. This fanwork write for having fun with my ship, and not for gained any profit.

.

#Octoberabble Day 4: Doomed Way

.

R 17+ mentioned crimes and dark themes

.


Pernahkah kamu diliputi kemarahan dahsyat hingga timbul keinginan untuk merusak dan mencabik-cabik segalanya? Pernahkan sesuatu memicu nafsu membunuh dalam dirimu, berpikir satu-satunya cara melenyapkan sumber kemarahan itu adalah mencabut nyawa?

Itulah kondisi lain sisi gelap manusia. Pikiran-pikiran jahat yang menjerumuskan diri. Percayalah bahwa setiap orang pasti pernah—paling tidak sekali—di pikirannya muncul keinginan untuk membunuh.

Untuk itulah kami—aku dan dia bergerak.

Kami melaksanakan 'misi panggilan' melenyapkan nyawa manusia. Aku dan dia. Bersama. Kami adalah pasangan pemburu nyawa, dan kami menerima bayaran darinya.

Kamu bebas menyebutnya dengan apapun; pembunuh bayaran, penjahat berdarah dingin. Semua tak masalah.

Namun, jangan dulu kamu melempar tudingan menghakimi seperti itu. Simpan saja tatapan mencela yang kamu arahkan pada kami. Misalnya, arahkanlah kemarahanmu pada para pejabat di kotamu. Pernahkah kamu pikirkan? Penderitaan yang kalian alami … siapakah penyebabnya jika bukan para tikus berdasi itu? Jadi, simpan saja kebencianmu untuk mereka. Barangkali suatu saat, kalian butuh jasa kami.

Jika kalian bertanya mengapa? Apa alasan kami memilih jalan terkutuk ini. Kembalikan saja pertanyaan itu untuk dirimu.

Tapi mungkin kamu tidak akan pernah bisa mengerti, sebab kamu tidak mengalaminya sendiri. Tak usahlah kamu kotori tangan bersihmu itu. Datanglah pada kami. Akan kami sodorkan padamu seribu satu cara membunuh tanpa jejak. Mana di antara metode membunuh itu, yang paling kamu sukai?

Seorang saudari, mengiris nadi tangan saudarinya setelah mencampur pil tidur dalam minumannya.

Seorang gadis, membunuh rekan dengan menjebaknya di tali gantungan.

Seorang lain secara langsung menusukkan pisau pada korbannya.*

Benar. Semua itu contoh kejadian. Beberapa tertangkap polisi, sebab mereka terlalu bodoh untuk menciptakan kamuflase yang tidak terlacak. Berbeda cerita jika melalui tangan kami, segenap bukti kontak pembunuhan akan dilenyapkan.

Apa katamu? Perbuatan kami ini menjijikkan?

Tunggu sebentar. Sebaiknya kamu lihat dulu sebelum menghakimi bukan?

Benar. Sensasi ini, seperti yang berkali-kali kualami sebelumnya. Membuatku bergetar. Sebab si Tua berdasi di hadapanku—kamu akan tahu namanya di headline berita, yang tiba-tiba muncul di homepage media sosialmu yang berharga—sedang menuju titik napas penghabisan.

Padahal aku menyukai suasana ini, restoran dalam hotel bintang lima—tiba-tiba aku jadi memikirkan dia. Aku lebih senang seandainya saat ini ada bersamanya. Namun, apa boleh buat. Kami dituntut melaksanakan tugas yang berbeda.

Ada lampu chandelier bersepuh emas, yang harganya mungkin setara dengan bayaran klienku saat ini. Juga aku menyukai kelopak-kelopak mawar harum yang ditabur di meja. Namun, si Tua ini membuatku muak; dia seperti kotoran. Mendengarnya meracau dengan suara seperti kerbau. Aku menyadari tatapan mesumnya jatuh berkali-kali di perpotongan leher dan dadaku. Oh, mungkin aku memang sengaja. Mungkin juga tidak. Tapi bajingan ini setipe dengan yang lain, dan dia pantas mati.

Orang ini mengatakan sesuatu yang terdengar seperti gombalan najis—aku ingin muntah—kupersilakan dia minum dari gelas yang kusodorkan—segelas penuh jus jeruk bali. Restoran penuh pengunjung, tapi aku yakin pembunuhan kali ini akan berjalan mulus. Tempat terbaik melaksanakan kejahatan adalah di tengah keramaian.

Sudah waktunya menyantap sajian, dan orang ini berkata dia perlu minum obat penurun kolesterol.

Waktunya sangat tepat. Ada jeda tiga menit setelah obatnya diminum, Si Tua ini tiba-tiba kepalanya lunglai saat menyuapkan potongan daging pertama ke mulutnya.

Sandiwara dimulai. Aku pura-pura terkejut dan memanggil namanya. Teriakanku cukup membuat heboh seisi restoran. Para pelayan berdatangan. Lalu ada polisi yang dibawa untuk sesi investigasi. Hasilnya persis seperti yang kalian bayangkan. Disimpulkan kematian Si Tua itu karena serangan jantung. Tidak ada yang curiga pada gelas jus jeruk itu karena memang tidak ada racun apapun di minumannya. Para polisi pun sebodoh itu untuk mengetahui jenis-jenis pantangan makanan, terutama untuk Si Tua penderita kolesterol.**

Keberuntungan memihakku. Aku berhasil lolos dari TKP tanpa dicurigai—sebab memang harus begitu. Aku sudah memperhitungkan segenap kemungkinan untuk misi ini, seperti misi-misi sebelumnya. Aku juga selalu menyiapkan seribu satu alibi, jika seandainya ada detektif cerdas yang dapat mengendus metodeku, namun itu tidak pernah terjadi.

Aku tak sabar untuk segera bergabung kembali dengan dia. Seharusnya tempat pertemuan kami tak jauh dari sini.

.


.

"Rin."

Aku senang mendengar suaranya. Akhirnya, kami bisa bergabung bersama lagi.

"Hei, Kakashi."

Ini dia padamu. Partnerku. Dia memasuki kamar dan bergabung denganku untuk cuci tangan di wastafel. Tuxedo yang dia kenakan masih licin dan rapi, tapi aku bisa mencium aroma darah dari tubuhnya. Selagi aku membereskan target di restoran, dia berlari dengan tugasnya mengejar target di hotel tetangga.

"Pemeriksaan polisi tadi cukup lama sampai membuatku waswas," kataku. "TKP-mu sudah beres kan?"

Dia menoleh padaku. Menelisik dengan matanya yang dingin—yang kulihat akhir-akhir ini cahayanya semakin redup. Dia tahu pertanyaanku tak perlu dijawab. Sebab aku percaya padanya.

"Lain kali pakai baju yang tertutup. Jangan beri makan bajingan seperti mereka."

Aku mengulas senyum. Merasakan gelitikan kupu-kupu di perut. Tangan kuletakkan menutupi belahan dada di atas dress berpotongan rendah.

"Apakah membayangkan mata jelalatan Si Tua itu membuatmu marah, Kakashi?"

"Tidak. Si bangsat itu sudah mati." Nada suaranya dingin. "Aku hanya tidak suka."

"Jangan khawatir, Kashi. Ini milikmu sepenuhnya kok."

Dia tidak menjawab apa-apa dan aku menyusulnya ke tempat tidur tiga puluh menit kemudian. Dia menyodorkan punggung, jadi kuputuskan untuk mendekat dan memeluknya dari belakang. Dia tidak menolak.

Untuk hitungan menit yang lama. Kami diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku membayangkan cahaya yang semakin hari lenyap dari sepasang matanya, kini hilang sepenuhnya. Sepasang cahaya yang dulu membuatku jatuh cinta. Aku tahu dia tidak menyesalinya, meski di sana ada titik-titik gelap lain dalam dirinya yang tak sanggup kujangkau. Aku pernah melihat metode membunuhnya yang brutal dan berlumuran darah. Tatapan nyalang dan ganas saat menghabisi target, dan ada kemarahan yang dia luapkan di setiap tikaman dan pukulan. Entah bagaimana, itu tampak seksi dan panas. Pemandangan itu membuatku terkesima dan aku tak bisa berpaling.

Kami cenderung memilih metode berbeda dalam membunuh; aku lebih menyukai pembunuhan yang senyap dan bersih. Dia senang dengan cara yang brutal dan kasar. Namun, metode hanyalah metode. Selama kami masih bisa bersama, dan dia berdiri di sisiku di jalan yang sama. Itu semua cukup buatku.

Aku memejamkan mata ketika merasakan kasur di bawahku bergeser. Dia mengubah posisi berbaringnya menghadapku. Tatapanku langsung bertemu dengan sepasang mata obsidian. Dan bibirnya menyentuh bibirku. Mulanya ciuman lembut, kemudian beralih menjadi panas dan menuntut. Dia naik ke atasku dan aku membiarkan tangannya bergerak menjamah setiap bagian tubuh yang sanggup dia jangkau.

"Rin …" bisiknya. "Tetaplah di sisiku."

Ada masa ketika lelaki dalam dekapanku menampakkan sisi rapuhnya yang paling rentan. Seperti saat ini. Dan yang sanggup kulakukan adalah menariknya mendekat, mengobati luka-lukanya dan mengisi kegelapan dalam hatinya dengan milikku. Aku mengumpulkan serpihan jiwa kami dan menambalnya menjadi utuh kembali.

"Kakashi …" Aku melingkarkan lengan di lehernya, menarik wajahnya mendekat. "Gunakan aku semaumu. Aku bisa terus membantumu, menyalakan lilin di jalan kegelapan kita. Dan kita akan bersama selamanya."

o0o


NOTE:S

**Inspirasi metode membunuh Rin di sini dari Moriarty The Patriot :D Pencampuran zat Furanokumarin dalam Jeruk Bali dengan obat kolesterol, tapi mungkin ada yang aneh di cerita ini karena saya bukan orang pintar

*Penyebutan kasus pembunuhan, mengambil referensi dari beberapa kasus Detective Conan (kalau tahu dari cerita/episode berapa).