DISCLAIMER: Spy x Family © Tatsuya Endo. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Dalam AU ini, Millie berpacaran dengan Daybreak, yang dalam fic ini namanya menjadi Dion.

Chapter's Summary: Setahun setelah Loid Forger pindah ke Berlin, Jerman bersama putrinya, Anya, sang psikiater muda diundang dalam acara reuni Eden College, bersama semua alumni seangkatannya disana. Saat ia ke butik untuk memesan gaun untuk putrinya, tanpa sengaja ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya.


After We Moved

.

Chapter 2 – Reunion with My First Love


Setahun kemudian, di pagi yang cerah…

Keluarga Forger sedang menikmati sarapan di ruang makan saat tiba-tiba seseorang memencet bel di depan pintu unit apartemen mereka.

'Siapa ya?' pikir Loid yang kemudian menghampiri pintu depan setelah berkata kepada putrinya, "Papa buka pintu dulu ya."

Loid pun membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata Franky.

"Halo semuanya! Kalian pasti lagi sarapan ya?" sapa pria itu yang tanpa basa basi langsung menyodorkan sebuah amplop kearah Loid, "Nih, mantan ketua OSIS nyuruh aku untuk kasih kamu ini."

"Maksudmu, Sylvia?" tanya Loid. Ia pun mengambil amplop tersebut dari tangan Franky dan membukanya, membaca apa yang tertulis dalam sebuah kartu lebar yang tersimpan dalam amplop tersebut, "Undangan reuni Eden College? Sabtu ini?"

"Yah, katanya reuni tahun ini diadakan lebih awal dari biasanya," jelas Franky. "Padahal kan biasanya di akhir tahun. Mengejutkan sekali."

"Om kribo, reuni itu apa?" tanya Anya sambil memiringkan kepalanya, "Maksudnya, papa diundang ke pesta ya?"

"Iya. Reuni itu pesta kumpul-kumpul teman seangkatan di sekolah," jawab Franky.

"Berarti teman spesial papa juga diundang?" Gadis kecil itu kembali bertanya, tapi kali ini dengan mata yang berbinar-binar, "Anya juga boleh ikut kesana kan?"

"Harusnya sih bisa, karena di undangan itu tertulis 'boleh membawa satu orang anggota keluarga atau orang terdekat', jadi om rasa, kamu boleh ikut." Franky mengangguk. "Sekalian kamu bisa lihat-lihat sekolah tempat kamu akan belajar dua tahun lagi."

"Asyik!" seru Anya. "Akhirnya Anya bisa lihat sekolah papa!"

"Oke, kamu boleh ikut, tapi jangan lupa jaga sikap, ya," ujar Loid. "Semua orang di sekolah papa menjunjung tinggi nilai kesopanan, jadi kamu nggak boleh nakal disana, ya?"

"Baik, pa!" sahut Anya sambil memberi hormat sebelum melanjutkan sarapannya.

"Sebentar, tadi Anya ungkit-ungkit tentang 'teman spesial papa'?" Franky menyadari sesuatu, lalu membisikkan pertanyaannya kepada Loid, "Jadi dugaanku tahun lalu itu benar, kalau Reina sempat cerita tentang Yor ke Anya?"

"Begitulah, Anya sendiri yang bilang padaku tahun lalu, pas kamu sudah pulang dari sini," sahut Loid sambil mengangkat bahu. "Dia juga sudah tahu tentang kak Lio."

"Eh? Maksudnya dia udah tahu kalau papa kandungnya udah nggak ada dan kamu sebenarnya cuma pamannya-"

"Dia putriku, dan aku tetap akan jadi papanya sampai kapanpun," potong Loid dengan tegas. "Kak Lio memang ayah kandungnya, tapi aku juga sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri."

"Baiklah, aku sudah tahu kalau kau sangat menyayangi putri kecilmu itu." Franky menghela napas, "Kalian sudah tinggal disini selama setahun ini, dan aku bisa lihat betapa kamu sangat ingin memanjakan putrimu terus sejak kalian tiba disini setahun yang lalu."

"Apa boleh buat. Hanya dia yang kumiliki sekarang," simpul Loid sebelum mengalihkan perhatiannya kembali kepada kartu undangan di tangannya, lalu membaca salah satu kalimat yang tertulis disana, "Wajib mengenakan busana formal."

"Putrimu punya gaun pesta nggak?" tanya Franky, "Kalau nggak ya, mau nggak mau kalian harus beli gaun sebelum akhir pekan ini."

'Oh, kalau tidak salah butik langganan keluarga kami masih buka di dekat sini. Aku bisa menghemat sedikit kalau beli gaun untuk Anya disana,' pikir Loid yang kemudian menoleh kearah putrinya dan berkata, "Setelah ini kita siap-siap ke butik, ya. Papa mau beliin kamu gaun."

"Anya bisa punya gaun cantik seperti Putri Honey di Spy Wars?"

"Iya, nanti kita lihat model yang cocok kamu pakai untuk ikut ke reuni, ya," jawab Loid. "Sekarang kita makan omurice dulu."

"Siap!"

.

"Eh, ternyata kamu sudah tinggal disini lagi dari tahun kemarin? Bibi pikir kamu sudah betah di Hungaria."

"Tidak, bi. Aku lebih suka kerja disini," jawab Loid sopan. "Lagipula, ada hal penting yang harus kami lakukan disini."

"Begitu ya?" Wanita paruh baya itu pun bertanya lagi, "Bagaimana keadaan keluargamu? Sejak kalian pindah ke Hungaria, bibi tidak pernah dapat kabar sama sekali tentang kalian."

"Sayangnya, ayah, ibu dan kak Lio sudah pergi… Mereka tewas dalam kecelakaan beberapa saat sebelum… pernikahanku, dan mereka dimakamkan di Hungaria," jelas Loid. "Istriku dan ayahnya meninggal tahun lalu. Ada yang menaruh bom di dekat vila kami saat kami berlibur disana."

"Ya ampun. Bibi turut berduka, ya," ujar sang wanita paruh baya pemilik butik itu, Felicia Fleur. "Bibi benar-benar tidak tahu. Maaf ya, kalau itu membuatmu sedih."

Loid tertawa kecil sebelum membalas, "Tidak apa-apa, bi. Aku baik-baik saja."

"Baiklah, bibi tidak akan membicarakannya lagi." Wanita itu pun mengalihkan perhatiannya pada Anya sebelum berkata, "Jadi, kau ingin memesan gaun untuk putrimu yang cantik ini?"

"Ya. Ada reuni di Eden College Sabtu ini, dan akan lebih baik kalau aku membawa putriku kesana," sahut Loid. "Bibi punya rekomendasi model gaun yang cocok?"

Mereka lalu membicarakan tentang model gaun yang akan dipakai Anya akhir pekan ini. Sesekali, sang gadis kecil berambut merah muda itu memberikan masukan polosnya mengenai gaun yang ingin dikenakannya. Felicia pun mulai merancang model gaun tersebut, kemudian mengajak Anya memasuki ruang pengukuran untuk mengukur badan anak itu.

Tak lama setelahnya, seseorang memasuki butik tersebut. Loid pun menyadari bahwa ia mengenali aroma parfum yang dipakai orang itu, yang ternyata adalah…

Yor Briar.

Cinta pertama Loid.

Pasangan dansa terakhirnya di Eden College.

Wanita yang sebenarnya ingin ditemuinya jika pernikahan Lionel dan Reina berjalan dengan lancar.

Sosok yang membuatnya tidak bisa tidur seranjang dengan Reina.

Sang 'teman spesial'…

Sebelum Loid bisa berkata apa-apa, Yor menunjuk kearahnya sambil berkata dengan nada yang kurang yakin, "Kamu, ngg, ini Loid atau Lionel ya?"

"Yor, ini aku, Loid," jawab pria berambut pirang itu. Ia tersenyum sebelum menambahkan, "Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini."

"Aku juga. Aku benar-benar terkejut melihatmu disini." Yor membalas senyuman Loid.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu kesini?" tanya Loid, "Pasti mau pesan gaun untuk reuni Sabtu nanti, kan?"

"Bukan pesan. Aku… hanya ingin memperbaiki gaun ini," jawab Yor sambil mengeluarkan sebuah gaun yang familiar dari dalam sebuah tas kertas yang dibawanya. "Entah kenapa, aku ingin memakainya lagi di reuni kita nanti."

Loid mengenalinya. Gaun itu adalah gaun yang sama yang dipakai wanita itu saat mereka berdansa untuk yang terakhir kalinya di pesta kelulusan beberapa tahun yang lalu.

"Kau masih menyimpannya," komentar Loid.

"Tentu saja. Gaun ini kan peninggalan mendiang ibuku," sahut Yor. "Sebentar ya. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, tapi biarkan aku menyerahkan ini dulu ke ibu penjahit."

"Oh, baiklah. Santai saja."

Seorang pegawai butik lalu menghampiri Yor dan melayaninya, menerima gaun tersebut untuk kemudian diperbaiki sehingga bisa dipakai oleh pemiliknya akhir pekan ini.

Setelah urusannya selesai, Yor melanjutkan pembicaraannya dengan Loid. Keduanya saling bertanya tentang apa yang terjadi pada mereka selama ini.

"Jadi, sampai sekarang, kau belum pernah menikah?" simpul Loid.

"Ya, begitulah," jawab Yor sambil tersipu, "Bagaimana denganmu, Loid? Apa kau…"

"Papa! Pengukurannya sudah selesai!" seru Anya, memotong perkataan Yor. Gadis kecil itu pun menyadari bahwa sang ayah sambung sedang mengobrol dengan orang lain yang baru dilihatnya sekarang. Ia pun bertanya, "Tante ini siapa, pa?"

"Teman papa, Anya," jawab Loid singkat. "Tante Yor."

"Ternyata kamu… sudah menikah, ya?" simpul Yor sambil menundukkan kepala. Kesedihan seketika terpancar dari raut wajahnya saat ia menambahkan, "Bahkan kau… sudah punya anak."

'Tentu saja, Yor. Loid kan pemuda yang tampan. Wajar saja kalau dia menemukan pasangan yang lebih cocok untuknya di Hungaria dan menikahi orang itu. Mereka saling mencintai dan memiliki seorang putri…' pikir Yor.

'Dia teman spesial papa!' batin Anya begitu ia membaca pikiran Yor. Tanpa berpikir panjang ia pun menyapa wanita berambut hitam dihadapannya sambil tersenyum, "Mama Yola!"

"Eh?"

"A-Anya, kenapa manggilnya begitu?" tanya Loid gugup. Wajahnya memerah ketika ia menoleh kearah Yor dan berkata, "Ya, begini Yor. Aku bisa menjelaskan tentang ini. Jadi…"

"Haaah, Anya kasihan sama papa yang kesepian gara-gara mama Reina nyusul papa Lio…" tiba-tiba Anya meratap dengan sedikit didramatisir. "Tapi mama Reina bilang, Anya harus cari mama Yola…"

"Anya?!"

"Eh, mama Reina? Papa Lio?" tanya Yor tidak mengerti. "Apa maksudnya, Loid?"

"Ah, itu…" Loid berpikir sebentar sebelum akhirnya menjelaskan, "Anya sebenarnya adalah… putri kandung kak Lio. Di hari pernikahan mereka, orangtuaku dan kak Lio tewas dalam kecelakaan mobil, jadi… aku memutuskan untuk menikahi Reina supaya Anya masih bisa punya ayah, tapi… Reina meninggal tahun lalu. Sekarang, tinggal aku dan Anya yang tersisa di keluarga kami."

"Tapi, kenapa aku dipanggil 'mama Yola'?" wanita itu kembali bertanya, "Apa maksudnya, kau…"

"Papa masih cinta sama mama Yola!" potong Anya, "Mama Reina bilang, Anya harus cari mama Yola!"

"Yor, lebih baik sekarang, kita bicarakan hal ini di apartemen kami. Kamu nggak keberatan, kan?" ajak Loid yang masih tersipu.

"Baiklah, kalau hal itu tidak merepotkan buat kalian," sahut Yor. Mereka pun meninggalkan butik itu bersama-sama.

.

.

"Sekarang, kamu sudah mengerti, kan?" tanya Loid setelah menjelaskan kepada Yor apa yang selama ini terjadi di Hungaria, sampai akhirnya Loid dan Anya tinggal di Berlin selama setahun ini.

Yor menganggukkan kepalanya, lalu membalas, "Jadi, selama ini kau memendam perasaanmu… padaku?"

"Ya. Aku memberitahu Reina tentangmu, dan katanya, aku tidak boleh mengorbankan perasaanku lagi. Dia menyuruhku untuk menemuimu. Dia bahkan hampir memintaku untuk menceraikannya, tapi…"

"Aku mengerti, Loid, dan kalau boleh jujur, aku juga… tidak bisa berhenti memikirkanmu selama ini," aku Yor. "Sejak pertama kali kita bertemu, aku benar-benar mengagumimu."

"Jadi, mulai sekarang mama Yola mau jadi mamanya Anya kan?" celetuk Anya.

"Eh? Ta-Tapi, apa tidak terkesan terlalu terburu-buru?" tanya Yor gugup, "Maksudnya, kalau begitu kan artinya, kita langsung menikah dalam waktu dekat, dan… orang-orang akan curiga kalau kita tiba-tiba menikah begitu saja. Maksudku, kita bahkan belum pernah berpacaran. Teman-teman seangkatan kita hanya tahu kalau kita bersahabat baik."

"Bagaimana kalau kita… bertunangan dulu saja?" saran Loid. "Bagaimanapun, kita baru saja bertemu lagi hari ini, dan seperti perkataanmu tadi, akan terasa janggal kalau kita langsung menikah tanpa ada proses pendekatan dulu, sekalipun kita sudah bersahabat sejak bersekolah di Eden College."

"Baiklah, aku setuju," sahut Yor. "Jadi, kita akan ke reuni bersama-sama Sabtu ini?"

"Ya. Kami akan menjemputmu," ujar Loid. "Alamatmu masih belum berubah, kan? Sabtu ini, kau hanya tinggal menunggu kami di rumahmu, setelah itu kita berangkat sama-sama."

"Baik, aku akan menunggu kalian di rumahku nanti."

.

.

.

"Maaf, kami agak terlambat," sapa Loid saat ia, bersama Anya, Yor dan Franky, dalam perjalanan menuju ke reuni, "Habisnya, ada yang tiba-tiba mau ikut bareng kita."

"Yang penting kita bisa pergi ke reuni naik VW Kombi milikku, daripada kalian cuma pergi bertiga naik subway," balas Franky sambil mengemudikan mobilnya. "Kita mungkin agak telat jemput Yor, tapi kita masih punya waktu banyak sampai reuni dimulai. Kita nggak perlu takut telat."

"Justru yang kuingat mobilmu ini sering mogok di jalan," sahut Loid yang kemudian menghela napas. "Mudah-mudahan sih, kita nggak terlambat. Aku nggak mau ribut sama Sylvia."

"Tenang aja. Dia nggak akan datang," ujar Franky dengan nada meyakinkan, "Justru dia nyuruh aku kasih undanganmu supaya kamu bisa gantiin dia kasih kata sambutan, karena kamu mantan wakil ketua OSIS."

"Sudah kuduga." Pria berambut pirang itu pun kembali menghela napas. "Pasti ini gara-gara aku nggak jadi datang di pesta reuni empat tahun yang lalu, kan?"

"Habisnya, kamu sudah janji padanya untuk datang, tapi malah tidak jadi," keluh Franky. "Padahal kan, kalau kau jadi datang, semua obrolan itu nggak bakalan sia-sia."

"Obrolan? Obrolan apa?" tanya Yor ingin tahu.

"Jadi begini, reuni empat tahun yang lalu kan masih diadakan di akhir tahun, tapi sejak awal tahun, kami sudah mulai membicarakannya lewat telepon," jelas Loid. "Rencananya, kalau aku jadi datang kesana, Sylvia akan membantuku supaya aku bisa mengakui perasaanku padamu di reuni itu, Yor, tapi ternyata… keluargaku mengalami kecelakaan itu."

"Begitu ya?" timpal Yor sebelum menambahkan, "Kalau boleh jujur sih, aku juga tidak datang ke reuni empat tahun yang lalu."

"Seharusnya sih bukan hal yang mengherankan," sahut Franky, "dan wajar saja kalau kau jadi tidak tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga Forger di Hungaria. Kau tidak tahu karena kau tidak datang ke reuni, padahal kami semua yang datang kesana terus-terusan membicarakan tentang hal itu, lho."

"Maksudnya tentang kecelakaan itu dan… pernikahan Loid?" tanya Yor.

"Khusus tentang pernikahan, Loid menyuruhku dan Sylvia untuk tidak memberitahu teman seangkatan kita yang lain," jelas Franky. "Katanya, bilang saja pada yang lainnya kalau kontak kami dengannya terputus tak lama setelah kecelakaan itu terjadi, makanya teman seangkatan kita yang lain hanya mengetahui kecelakaan itu, tapi mereka tidak tahu kalau Loid bisa selamat dari kecelakaan itu, apalagi tentang pernikahannya."

"Aku bahkan tidak ikut menaiki mobil itu saat kecelakaan itu terjadi," kenang Loid. "Aku sengaja menyuruh Franky dan Sylvia untuk tidak memberitahukan tentang pernikahanku pada teman-teman seangkatan kita yang lain, karena aku takut kalau nanti malah ada yang berprasangka buruk terhadapku. Aku takut kalau ada yang beranggapan bahwa aku mencelakai keluargaku sendiri."

"Kurasa alasanmu bukan cuma itu saja," tambah Franky sambil tersenyum usil, "Kau juga tidak mau kalau Yor tahu kau sudah menikah, karena kau yakin kalau kalian sudah saling mencintai, walaupun belum pernah pacaran."

"Eh? Jadi… apa itu benar, Loid? Kau ingin menjaga perasaanku?"

"Ya, bayangkan saja kalau hal itu diketahui oleh, misalnya, Sharon, Dominic dan Dion, lalu mereka memberitahu pacar Dominic, Camilla, juga pacar Dion, Millie, yang kita tahu sendiri kalau keduanya, walaupun mereka junior kita, sering mencibirmu hanya karena beasiswa yang diterimamu dari Yayasan Garden," jelas Loid. "Mereka pasti akan menggunakan hal itu untuk menyerangmu habis-habisan, dan… aku tidak mau kalau kau harus dicela gara-gara aku."

"Papa, tempat reuninya masih jauh ya?" sela Anya. "Kok kayaknya mobilnya pelan banget jalannya. Anya jadi ngantuk nih."

"Tuh, kamu tanya aja sama Om Franky. Katanya sih kita masih punya waktu banyak…" sindir Loid.

"Hei, jangan menyindirku begitu. Aku sedang menyetir dengan hati-hati," protes Franky. "Lagipula ada yang bilang, biar lambat asal selamat. Yang penting nanti kita bisa sampai ke sana dengan selamat, tanpa ada insiden apapun yang terjadi."

"Terserah kamulah, mau beralasan apa," sahut Loid sambil mengangkat bahu. "Dari awal perasaanku sudah nggak enak waktu lihat kamu jemput kita pakai mobil ini."

"Jangan begitu. Kau tahu sendiri kalau mobil ini peninggalan keluargaku yang paling berharga. Layaknya sebuah cendera mata…"

"Berhenti pamer mobil bututmu ini dan fokus menyetir, dan kalau bisa tambah kecepatannya," potong Loid. "Kalau begini terus kapan kita sampai ke Eden College?"

"Kamu beruntung karena aku ini sohib yang loyal, bro, kalau tidak sudah sejak tadi aku menurunkan kalian di jalan gara-gara mobilku ini kamu cela terus."

"Eh? Om Kribo berniat turunin Anya sama papa dan Mama Yola di jalan?!" ratap Anya. "Om Kribo kok jahat banget sih?"

"Ya, habisnya papamu terus-terusan mencela mobil om. Gimana om nggak marah, coba?" Franky berusaha supaya Anya tidak menangis. "Meski begitu kan, kamu bisa lihat. Om nggak nurunin kalian di jalan, karena om loyal sama persahabatan om dengan papa kamu."

"Terserah. Nyetir yang bener sana," balas Loid yang akhirnya kembali menghela napas. "Aku hanya ingin semuanya cepat selesai."

"Oke bro. Sebentar lagi kita sampai, kok."