DISCLAIMER: Spy x Family © Tatsuya Endo. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Catatan Author: Dalam fic ini, jarak umur antara Yor dan Yuri hanya enam tahun. Di chapter ini, Loid dan Yor berumur 26 tahun, sedangkan Anya baru berumur 5 tahun dan Yuri berumur 20 tahun. Saat Loid dan Yor bertunangan, Yuri sedang sibuk mempersiapkan kelulusannya dari universitas dan tinggal di asrama kampus (Yuri masuk kuliah saat berumur 15 tahun). Setelah lulus dari universitas, Yuri melamar pekerjaan di kementrian luar negeri dan langsung diterima.
Chapter's Summary: Tak lama setelah reuni di Eden College, Loid dan Yor memutuskan untuk bertunangan. Selama hampir setahun mereka menjalin hubungan, sekaligus mempersiapkan diri mereka untuk menikah. Tak sulit bagi Yor untuk mendekati Anya, bahkan gadis kecil itu meminta sesuatu yang spesial dari sang calon ibu barunya sebagai hadiah ulang tahunnya yang kelima. Apakah hal yang dimintanya itu?
After We Moved
.
Chapter 3 – Her Birthday and Their Wedding
Waktu pun berlalu. Tahun pun kembali berganti.
Tak lama setelah reuni di Eden College, lebih tepatnya, sebulan setelah reuni tersebut, Loid dan Yor memutuskan untuk bertunangan. Loid pun menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu sebelum mereka menikah, karena tidak seperti dirinya yang sudah tidak memiliki saudara kandung yang masih hidup, Yor masih memiliki seorang adik laki-laki bernama Yuri. Dengan kata lain, untuk menikah dengan Yor, Loid harus memberitahu Yuri tentang pertunangan dan rencana pernikahan mereka. Masalahnya, tepat setelah ia lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan, Yuri disibukkan dengan pekerjaan barunya di kementerian luar negeri. Bahkan, ia tak jarang ditugaskan untuk memantau keadaan di kedutaan besar Jerman di luar negeri, terutama di Hungaria dan Slovenia.
"Oh? Hungaria?" ujar Loid, sedikit terkejut mendengar penjelasan Yor mengenai pekerjaan Yuri. "Kebetulan sekali. Kau tahu sendiri kalau makam keluargaku berada disana."
"Kalau dipikir-pikir, bisa saja kita menemuinya disana sekarang, karena memang dia sedang ditugaskan disana, tapi waktu aku meneleponnya sebulan yang lalu dan memberitahunya kalau kau akan segera menemuinya untuk membicarakan rencana pernikahan kita, dia bilang kita harus menunggunya sampai pekerjaannya di Hungaria selesai minggu depan, baru setelah itu, dia akan mampir ke rumahku," jelas Yor.
"Tapi entah kenapa, aku merasa kalau disana, dia akan sedikit menyelidiki tentang keluargaku," aku Loid. "Aku masih ingat betul saat pertama kali aku bertemu dengannya di sekolah, saat dia baru masuk SD, sementara kita baru naik ke jenjang SMP. Dia protektif sekali terhadapmu, Yor."
"Kuharap sih, dia tidak melakukan sesuatu yang berlebihan seperti itu," sahut Yor yang kemudian menghela napas. "Jujur saja, sebelum kalian tinggal disini, dia sering menyarankan padaku untuk mengikuti kencan buta, tapi begitu ada yang serius denganku, dia sendiri malah sengaja membuat tantangan yang sulit dan membuat orang itu gagal."
"Kurasa aku bisa memahami perasaannya. Dia hanya tidak mau kau menjauhinya saat sudah menikah nanti, Yor," komentar Loid. "Bagaimanapun, orangtua kalian meninggal saat Yuri masih berumur tujuh tahun, dan sejak saat itu, dia hanya memilikimu sebagai keluarganya. Wajar kalau dia jadi terlalu terikat denganmu, Yor."
"Aku mengerti." Yor mengangguk. "Mudah-mudahan saja, sikapnya akan melunak terhadapmu begitu kalian bertemu nanti."
"Papa, ulang tahun Anya bagaimana?" tanya Anya saat ia berjalan keluar dari kamarnya, menghampiri Loid dan Yor yang sedang mengobrol di ruang tamu apartemen keluarga Forger. "Kan sebentar lagi Anya ulang tahun yang kelima."
"Kamu tenang saja, Anya, papa masih ingat tentang ulang tahunmu, kok," jawab Loid. "Nanti kita rayakan ulang tahunmu bersama-sama, ya?"
"Asyik!" seru Anya yang kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Yor dan bertanya, "Mama Yola bisa dateng ke pesta ulang tahun Anya, kan?"
"Tentu saja bisa, Anya," balas Yor sambil tersenyum. "Kalau ada hal yang kauinginkan, beritahu saja, ya? Nanti akan tan-, ah maksudnya, akan mama belikan untukmu."
"Baik, mama Yola. Anya bakalan kasih tahu mama Yola apa yang Anya mau di hari ulang tahun Anya," ujar gadis kecil itu sambil memberi hormat. "Anya mau ulang tahun Anya tahun ini jadi yang terbaik karena ada mama Yola."
Seketika, Yor tersipu mendengar perkataan calon putri sambungnya.
"Jangan khawatir, tuan putri, kami pasti akan menyiapkan yang terbaik untukmu," sahut Loid dengan nada yang meyakinkan. "Kamu boleh minta apapun dari kami, tapi jangan hal yang aneh-aneh, ya?"
"Siap, pa!" Kali ini, gadis kecil itu memberi hormat kepada sang ayah sambung, sebelum menambahkan, "Anya nggak bakalan minta yang aneh-aneh kok."
"Oke, papa percaya kamu." Loid menghela napas, kemudian bertanya, "Ngomong-ngomong, kamu yakin nggak mau masuk TK lagi, Anya?"
Seketika senyum gadis kecil itu menghilang begitu mendengar pertanyaan itu, yang kemudian langsung dijawabnya dengan yakin, "Anya nggak mau. Anak-anak di TK bilang kalau Anya aneh, jadi mereka nggak mau temenan sama Anya."
"Pasti karena kemampuan spesialmu, ya?" tebak Yor sambil tersenyum sedih. "Kamu kasih tahu mereka?"
"Anya nggak kasih tahu mereka, tapi entah kenapa, mereka bisa tahu," lirihnya, "Menurut mama Yola, Anya aneh nggak?"
"Eh? Nggak kok. Justru kemampuan spesialmu itu harusnya bisa jadi keunggulanmu, jadi kamu nggak perlu malu memilikinya."
"Tapi mereka bilang Anya aneh…"
"Kamu nggak aneh, sayang. Justru kamu hebat," puji Yor yang kemudian memeluk Anya dan menambahkan, "Lagipula, kamu nggak pernah menggunakan kemampuan spesialmu itu untuk menjahili mereka, kan?"
Anya menggeleng, "Anya kan udah janji sama papa soal itu."
"Nah, kalau kamu sudah usaha menepati janji dan jadi teman yang baik, tapi merekanya yang tetap tidak mau berteman denganmu, ya masalahnya ada di mereka, bukan di kamu, sayang." Yor mengecup kening Anya. "Harusnya sih, kamu nggak berhenti masuk TK, supaya kamu bisa siap-siap buat ujian masuk Eden College tahun depan, tapi kalau kamu sudah yakin begitu, kami cuma bisa mendukung keputusanmu."
"Soal persiapan ujian masuk, Anya lebih suka diajarin papa," balas Anya. "Habisnya, waktu sesi persiapan ujian masuk di TK, gurunya ngajar cepet banget. Anya malah jadi tambah bingung."
"Baiklah, kamu sudah ganti baju, kan? Mungkin sebaiknya kita berangkat ke bioskop sekarang juga, kalau tidak, nanti kita terlambat nonton film 'Spy Wars'nya," ujar Loid mengingatkan Anya tentang apa yang membuat mereka berkumpul disana hari ini. "Yang papa tahu sih, kamu nggak bakalan mau terlambat nonton filmnya sedetikpun."
"Oh iya, Spy Wars!" seru Anya yang kemudian berlari keluar. "Pokoknya kita nggak boleh telat!"
Loid dan Yor saling berpandangan dan tersenyum, sebelum menyusul Anya keluar.
.
Beberapa hari kemudian, di pagi yang cerah…
Loid membuka oven di dapurnya, mengeluarkan sesuatu yang baru saja dipanggangnya dengan menggunakan alat itu.
"Sempurna," katanya kepada dirinya sendiri. "Tinggal tunggu sebentar sampai dingin, setelah itu dihias."
Sejak dini hari Loid sudah bangun dari tidurnya, mempersiapkan segala sesuatunya untuk merayakan ulang tahun Anya hari ini.
'Mungkin hari ini, kami hanya akan merayakannya dengan sederhana, karena tidak akan ada anak-anak lain yang datang,' batin Loid. 'Aku jadi sedih karena apa yang seharusnya bisa jadi kelebihannya malah membuatnya dijauhi anak-anak sebayanya. Kuharap saat Anya bersekolah di Eden College nanti, dia masih bisa punya teman disana. Malah, akan lebih bagus kalau dia punya sahabat disana.'
Setelah memastikan bahwa cake buatannya telah dingin, Loid pun menghias kue itu dengan hati-hati, kemudian menaruhnya dalam lemari pendingin agar hiasan tersebut tidak berantakan, karena rencananya ia baru akan mengadakan tiup lilin untuk Anya siang nanti.
"Baik, karena kuenya sudah selesai dan sudah waktunya sarapan, sebaiknya aku membangunkan Anya sekarang," gumam Loid yang kemudian berjalan memasuki kamar putrinya, lalu mengecup kening putrinya itu sambil berbisik, "Selamat ulang tahun, Starlight-nya papa."
"Met pagi, papa," balas Anya sambil perlahan membuka matanya. Ia pun menguap sebentar sebelum bertanya, "Karena papa sudah bilang selamat ulang tahun, apa itu artinya, kita sarapan pake kue ulang tahun Anya?"
"Nggak dong, sayang. Kue itu kan untuk nanti siang. Kita kan berencana merayakan ulang tahunmu bersama…"
"Mama Yola?" Anya pun teringat akan janji mereka beberapa hari yang lalu, kemudian bergumam, "Benar juga. Kalau kuenya dimakan sekarang, mama Yola bisa marah."
"Lagipula, tidak sehat kalau kita makan kue ulang tahun sebagai sarapan," tambah Loid. "Jangan khawatir, Anya. Papa akan menyiapkan sesuatu yang spesial untuk sarapan kita hari ini. Kamu pasti suka."
"Apa jangan-jangan papa mau bikinin Anya pancake selai kacang?" tanyanya riang.
"Tentu saja, sayang," balas Loid. "Baiklah, sekarang papa mau ke dapur. Kalau sudah selesai merapikan tempat tidur, cuci muka dan sikat gigi, nanti kamu langsung ke ruang makan, ya?"
"Siap, pa!"
Tak lama kemudian, Loid bergegas ke dapur untuk menyiapkan pancake, sementara Anya merapikan tempat tidurnya sendiri sebelum beranjak dari kamarnya, memasuki kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi, kemudian berjalan masuk ke ruang makan dengan semangat.
"Ini pancake spesialnya, tuan putri," ujar Loid sambil menaruh dua porsi pancake selai kacang di atas meja makan. "Selamat menikmati."
"Terima kasih, papa," sahut Anya sambil tersenyum manis. Mereka pun menikmati sarapan mereka pagi itu.
"Nanti mama Yola beneran bakal dateng rayain ulang tahun Anya, kan?" tanya Anya.
"Tentu saja. Kan kita sudah berjanji," jawab Loid dengan yakin sebelum balik bertanya, "Meski begitu, papa agak sedih karena… kamu nggak bisa ngundang teman kesini."
"Papa, jangan begitu. Papa kan tahu kalau anak-anak di TK nggak mau temenan sama Anya. Yang mereka tahu… Anya anak aneh," lirih Anya, "Kalaupun kita bisa undang mereka, Anya nggak yakin kalau mereka mau dateng kesini."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Tentu aja, pa. Ini kan ulang tahun Anya, jadi udah seharusnya Anya merasa senang." Anya kembali tersenyum. "Anya cuma perlu papa dan mama Yola… dan mungkin selain itu, kita cuma perlu undang Om Kribo kesini."
"Baiklah, tapi mudah-mudahan saja dia nggak bawa mobil bututnya kesini, jadi dia nggak akan datang terlambat," balas Loid yang kemudian menghela napas. "Dia nggak tahu apa, kalau mobil yang seperti itu sudah ketinggalan zaman?"
"Papa, jangan kasar begitu," tegur Anya sopan. "Om Kribo kan sahabat papa."
"Iya, papa tahu. Papa kan hanya bercanda," aku Loid sebelum menambahkan, "Harus papa akui, kalau Om Franky itu selalu ada untuk papa waktu kami sekolah di Eden College dulu. Kami bersahabat baik."
Mereka pun terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya Anya memulai pembicaraan baru dengan bertanya, "Papa, nanti waktu Anya sekolah di Eden College tahun depan, apa Anya bisa punya sahabat disana? Apa nanti… ada yang bisa terima Anya apa adanya dan nggak akan anggap Anya aneh?"
"Papa rasa… itu mungkin saja, sayang," jawab sang ayah dengan sungguh-sungguh. "Meski begitu, sebaiknya tidak perlu ada yang tahu dulu tentang kemampuanmu, jadi jangan kasih tahu siapapun disana tentang hal itu. Kamu setuju, ya?"
"Anya setuju." Ia mengangguk sebelum menambahkan, "Anya cuma mau kasih tahu kalau keadaannya mengharuskan Anya untuk kasih tahu, atau… kalau Anya udah yakin kalau orang yang Anya kasih tahu itu orang yang bisa dipercaya."
"Papa tahu kamu anak yang pintar, Anya. Kamu juga nggak akan salah menilai yang mana yang bisa dipercaya dan yang tidak," simpul Loid. "Nah, lebih baik sekarang kita habiskan pancake selai kacangnya sebelum dingin."
Akhirnya mereka pun menghabiskan sarapan mereka, sambil sesekali mengobrol tentang hal lain yang jauh lebih menyenangkan.
.
.
"Ini dia kuenya, tuan putri!" Loid memperlihatkan kue ulang tahun yang pagi ini dibuatnya khusus untuk putrinya, Anya. "Hiasannya 'Spy Wars', seperti yang kamu mau. Lihat, ada Bondman dan Putri Honey diatasnya."
"Kuenya keren banget, pa. Anya suka kuenya!" seru Anya sambil memandangi kue itu dengan takjub. "Papa memang yang terbaik!"
"Tentu saja, Anya. Papa akan lakukan apapun supaya kamu bahagia," jawab Loid dengan yakin sambil membelai rambut Anya dengan lembut. "Terima kasih sudah menjadi anak papa selama lima tahun ini, Anya."
Anya pun menganggukkan kepala sebelum membalas dengan sumringah, "Papa juga, terima kasih sudah jadi papanya Anya selama lima tahun ini."
"Baiklah, kalau begitu sama-sama, sayang."
Tak lama setelahnya, terdengar suara bel pintu.
"Itu pasti mama Yola," tebak Anya dengan mata yang berbinar. "Anya boleh bukain pintunya, kan?"
"Boleh, tapi hati-hati ya. Kamu harus pastiin dulu kalau yang datang bukan orang yang nggak dikenal, baru setelah itu kamu buka pintunya, ya?"
"Siap!" setelah memberi tanda hormat kepada sang ayah, Anya lalu menghampiri pintu dan mengintip ke lubang yang berada di tengah pintu, mencari tahu siapa yang telah membunyikan bel beberapa saat yang lalu, dan ia melihatnya.
'Mama Yola!' Anya pun langsung membuka pintu dan menyapa tamunya, menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat, "Mama Yola!"
"Selamat Ulang Tahun, Anya!" sahut Yor sambil membalas pelukan gadis kecil itu, sebelum akhirnya Yor melepas pelukannya dan menyodorkan sebuah kotak kado lebar dan agak tipis kearah Anya sambil berkata, "Ta- Eh, maksudnya, Mama memang belum tahu apa yang kamu mau, tapi mama rasa, kamu akan menyukai apa yang mama ingin berikan padamu di dalam kotak ini."
"Terima kasih, mama Yola!" seru Anya, "Ayo ke meja makan. Anya mau tiup lilin."
Mereka pun bergegas menuju ke ruang makan, menghampiri Loid yang sejak tadi tersenyum melihat interaksi antara keduanya dari sana.
"Oh, kelihatannya, kado yang kaubawa besar juga, Yor," komentar Loid saat ia menyadari lebarnya kotak kado yang diberikan Yor kepada Anya. "Apa tidak merepotkan?"
"Ah, sebenarnya… ini tidak merepotkan sama sekali, kok," jawab Yor dengan nada yang meyakinkan. "Saat aku pergi belanja, aku tiba-tiba melihat sesuatu yang kurasa pasti akan disukai Anya, jadi aku membelinya sebagai kado ulang tahun."
"Anya jadi penasaran, mau lihat kado dari mama Yola," ujar Anya sambil menatap lekat-lekat kearah kotak yang digenggamnya. Jemari tangannya seakan dalam mode siaga saat ia bertanya, "Papa, Anya boleh buka kado ini sekarang?"
"Jangan dulu, sayang. Tidak sebelum kamu buat permohonan dan tiup lilin yang ada di kue ulang tahunmu," balas Loid dengan tegas sambil melipat kedua tangannya. "Bahkan seharusnya, kadonya kamu taruh di meja ruang tamu dulu, baru kita buka setelah tiup lilin."
"Papa terlalu kolot," gumam Anya sambil melirik tajam kearah sang ayah. "Kalau begitu kotak ini mau Anya pegang terus sampai nanti, sampai papa ngebolehin Anya buka kotak ini."
"Terserah kamulah." Loid menghela napas, pasrah. "Toh, dari awal kamu memang sudah mengincar kotak itu, kan?"
Yor terkikik melihat kedekatan mereka sebelum berkata, "Ya sudah, kita mulai saja tiup lilinnya sekarang."
"Jangan mulai sebelum aku keluar dari sini!" seru Franky dari dalam kamar mandi. "Sebentar lagi aku keluar. Kalian tunggu saja."
"Tidak usah. Akan terlalu lama kalau kami semua menunggumu!" sahut Loid. "Ayo kita mulai."
"Sudah kubilang jangan dulu!" Akhirnya Franky keluar dari kamar mandi dan dengan cepat menghampiri tiga orang yang menunggunya di ruang makan. Ia menggerutu, "Kenapa sih kalian nggak sabaran banget?"
Anya menyodorkan kotak kado pemberian Yor sebelum menjawab, "Anya mau cepat-cepat tiup lilin supaya bisa buka kado dari mama Yola ini, makanya Om Kribo jangan lama-lama di kamar mandi. Nanti bisa kesambet, lho."
"Baiklah, lagipula aku juga sudah selesai dengan 'urusanku'," gerutu Franky. "Kita mulai sekarang."
Mereka lalu menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun', kemudian Anya memejamkan matanya, membuat permohonan sebelum akhirnya meniup kelima lilin yang menghiasi kue ulang tahunnya.
"Berarti sekarang waktunya buka kado!" seru Anya. "Pertama-tama kado dari mama Yola!"
Dengan cepat Anya merobek kertas kado yang melapisi kotak itu, membuka kotaknya dan mengeluarkan isinya. Iapun bertanya, "Ini apa?"
"Katanya sih, namanya light-up tracing board," jawab Yor, menjelaskan tentang kado pemberiannya itu, "Habisnya, mama dengar dari papa kalau kamu hobi menggambar, jadi mama belikan ini untukmu, supaya kamu bisa lebih semangat menggambar."
"Light-up tracing board…" gumam Anya sambil memandangi perlengkapan menggambar barunya dengan takjub. Manik zamrudnya berbinar layaknya bintang. "Ada pensil warnanya juga. Terima kasih banyak, mama Yola!"
"Sama-sama, sayang," balas Yor yang kemudian mengecup kening Anya. "Mama tahu kamu pasti suka kadonya."
"Suka banget!" gadis kecil itu memeluk kado pertama yang dibukanya itu dengan erat, "Anya bakalan sering gambar pake ini!"
"Nah, sekarang kamu buka kado pemberian om dong," ujar Franky sambil melihat Loid yang sedang mengambilkan kado-kado untuk Anya yang sebelumnya ditaruh di ruang tamu. "Tuh lihat, kardusnya mungkin yang paling kecil, tapi om rasa kamu bakalan suka sama isinya."
"Memangnya isinya apa?" tanya Anya. "Om Kribo nggak bakalan kasih Anya boneka robot lagi, kan? Nggak kayak tahun lalu? Padahal kan Anya udah bilang kalau Anya kurang suka boneka robot, tapi malah dibeliin juga sama Om Kribo."
"Kamu tenang aja. Itu bukan boneka robot kok," sahut Franky dengan nada meyakinkan. "Buka aja sendiri kalau kamu masih belum yakin."
"Oke," kata Anya singkat. Ia membuka kado dari Franky, "Ini… boneka kacang?"
Franky mengangguk sebelum menambahkan, "Iya. Habisnya kan, om tahunya kamu suka makan kacang, jadi om beli bonekanya aja."
"Tapi ini kan nggak bisa dimakan," kata Anya dengan nada dan ekspresi yang datar. "Terus kenapa muka bonekanya kayak mau ngeledek?"
"Kan kadang-kadang kamu juga suka senyum kayak gini." Franky mengangkat bahu. "Enak kan, bisa kompakan senyumnya sama boneka?"
"Malah jadi berasa aneh deh." Anya menghela napas sebelum akhirnya menaruh boneka pemberian Franky diatas meja makan dan mengambil kado pemberian sang ayah dan berkomentar, "Wah, kado papa yang paling besar. Anya jadi makin penasaran sama isinya."
"Kan kado papa yang paling spesial buat kamu," timpal Loid. "Papa tahu kalau kado papa akan terus jadi yang terbaik buat kamu tiap tahunnya."
"Anya makin penasaran." Sang gadis kecil berambut merah muda itupun membuka kado tersebut, yang ternyata berisi sebuah gitar akustik.
"Waktu itu kan kamu bilang mau diajarin papa main gitar, tapi karena gitar papa terlalu besar buat kamu, jadinya papa pesankan yang ukurannya lebih pas sama kamu," jelas Loid yang kemudian bertanya, "Kamu suka kan, Anya?"
"Iya! Anya juga suka banget kado dari papa!" seru Anya girang. "Papa mau ajarin Anya main gitar, kan?"
"Tentu saja, sayang." Loid memeluk putrinya sebelum melanjutkan perkataannya, "Papa akan ajarkan kamu main gitar dengan senang hati."
"Asyik!"
"Nah, sekarang, apa kamu punya hal lain yang kamu mau, Anya?" tanya Yor, "Waktu itu kan kamu bilang, kamu mau kasih tahu mama apa yang kamu mau hari ini."
"Hmm, oh iya. Anya tahu harus minta apa." Gadis kecil itu sempat berpikir sejenak sebelum mengutarakan permintaannya, "Mulai hari ini, Anya mau mama tinggal disini."
"Lho? Eh?" Yor seketika tersipu mendengar permintaan Anya, "Tapi kan, mama belum nikah sama papa."
"Justru itu. Kalau mama tinggal disini, adiknya mama nggak akan bisa menghindar lagi buat ngomongin rencana pernikahan papa mama."
"Kamu panggilnya Om Yuri dong, Anya," ralat Loid. "Pasti kamu nyimak obrolan kami waktu nungguin kamu ganti baju sebelum nonton film 'Spy Wars' di bioskop tempo hari, kan?"
Anya mengangguk, "Anya cuma mau papa dan mama menikah secepatnya, jadi Anya bisa bener-bener panggil mama Yola… mama. Sebaliknya, kalau Anya mau ngomongin mama kandung Anya, Anya sebutnya mama Reina."
"Jadi itu alasannya," simpul Yor. "Baiklah, kalau begitu mama mau tinggal disini."
"Benarkah?" kedua manik zamrud Anya berbinar mendengar keputusan Yor. Gadis kecil itupun akhirnya berseru, "Hore! Anya akhirnya bisa bantu papa mama!"
.
.
.
Tiga bulan kemudian…
Tak lama setelah Yor pindah ke apartemen keluarga Forger, Yuri pun akhirnya datang berkunjung kesana untuk membicarakan rencana pernikahan Loid dan Yor, sesuai dengan apa yang direncanakan Anya. Melalui perundingan yang sengit, akhirnya mereka memutuskan bahwa pernikahan itu akan dilaksanakan tiga bulan setelah ulang tahun Anya, jadi selama tiga bulan itu, Yor menempati kamar tamu di apartemen tersebut. Yor baru menempati kamar utama bersama Loid sepulangnya mereka dari resepsi pernikahan yang berlangsung di sebuah hotel dekat apartemen.
Malam itu, sebelum tidur, Anya sempat merenungkan semua yang telah terjadi sejak pertama kali ia dan Loid pindah kesana.
'Misi Anya selesai, mama Reina,' pikir Anya sambil tersenyum. 'Akhirnya papa bisa menikah dengan orang yang dicintainya selama ini.'
Gadis kecil itupun akhirnya menghela napas lega sebelum tertidur pulas, masih dengan senyumnya yang memancarkan ketenangan.
'Anya berhasil.'
