Everything I Need
.
Desclimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
Chapter 6 : Karin's secret
.
.
Hari ini sepertinya bakal jadi hari yang lebih buruk dari biasanya.
Kiba yakin begitu ketika mendapati teman-teman kuliahnya justru menggodanya soal insiden tempo hari, ketika Ino dilabrak oleh seorang perempuan karena mengira cewek itu selingkuhan suaminya. Dan Kiba yang muncul mendadak jadi penyelamat karena ternyata si cewek pirang adalah pacarnya. Tampak klise, kebetulan yang luar biasa tepat waktu.
"Apa dia memang pacarmu Man?" Chouji, si cowok tambun yang jago kimia tertawa, jemarinya mengetuk meja kantin, pelan namun iramanya sungguh mengganggu.
"Aku yakin bukan, Kiba kan nggak punya pacar. Ayolah, dia pernah bilang lajang ketika tak bisa membawa siapapun ke pesta Hidan tiga bulan lalu." Neji berkomentar santai sembari menikmati takoyakinya, lagipula itu benar, bodoh saja Kiba tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan untuk cewek asing yang agak bar-bar itu.
Jujur saja, Kiba malas berbicara panjang kali lebar untuk menjelaskan posisinya dengan Ino. Bukan berarti bisa disebut dekat yang dekat sekali, tapi menganggap Ino asing tidak bisa dianggap benar.
"Lalu kemarin kau kemana saja? Menyewa hotel dengan cewek pirang itu?" Hidan menyembunyikan senyum mesumnya, dan menyeruput ramennya. "Tapi ku akui Kib, tubuhnya luar biasa seksi."
Kiba meliriknya jengah, mendadak saja katsudon pesanannya tak nikmat lagi untuk dimakan. Selera makannya hilang entah kemana. "Itu sama sekali nggak benar, tapi cewek itu temanku."
"Teman apa? Teman berbayar?" Chouji lagi-lagi membuat masalah, dan dua temannya yang lain justru ikut tertawa. Tawa menyebalkan yang ingin Kiba sumpal dengan sepatunya.
Tak ada satu pun dari mereka yang tahu jika ia pergi ke Nagoya kemarin, dan Kiba juga tak ingin memberi tahu. Mereka cuma teman kuliah, dekat sekaligus jauh, bisa dipercaya dalam beberapa hal, dan lebih banyak lagi tak bisa dipercaya. "Teman nongkrong, dan aku mau menemuinya usai ini."
"Ouch," Senyum mesum Hidan mendadak saja menular ke Neji. "Kalau aku jadi kau, aku nggak akan melewatkan kesempatan untuk mengajak cewek secantik dia naik ke ranjangku."
"Dalam mimpimu." Obrolan soal cewek mana pun tak pernah membuatnya semurka ini. Ia tak ingin peduli dengan mereka ketika mulai mengambil tas dan berdiri, tak lagi tahu apa yang teman-teman nya pikirkan saat Kiba telah berjalan menjauh.
.
.
Kiba tak menemukan Naruto sore itu ketika pergi ke apartemennya, dan segala harapan untuk segera dimaafkan mendadak surut dari pikiran. Futsal center pun hanya dihadiri anak-anak lain yang hampir tak pernah ia lihat. Tiga temannya seolah berusaha sebisa mungkin menghindarinya, atau entahlah jika memang bisa disebut begitu.
Ia bertemu Karin di halte, dan sempat melihat cewek itu turun dari mobil sedan lexus silver. Ada lelaki dalam mobil itu yang diciumnya sebelum turun, dan Kiba yakin pacar Karin ganti lagi. Oke, itu bukan urusannya. Entah siapa lagi yang dipacari Karin tidak ada dalam daftar pertanyaannya, jadi ia berusaha mengabaikannya dan menganggap hal itu biasa. Sudah terlihat dari luarnya, Karin playgirl kelas kakap.
"Hei, Inuzuka."
"Hai." Kiba membalas sapaannya ketika sedan itu melaju pergi, dan Karin mendekatinya.
"Serius, aku nggak nyangka kita bertemu disini. Dan ku pikir kau beneran kabur, maksudku tiba-tiba hilang entah kemana." Bibir bergincu merahnya, tampak terlalu mencolok di sore temaram seperti ini. Harus Kiba akui jika pesona senyum Karin memang luar biasa. Tapi tetap saja sih, Karin bukanlah tipe cewek yang ingin ia pacari.
"Aku nggak kabur kemana-mana," tatapannya beralih pada mobil yang melaju di jalanan depan, daun kering maple yang tertiup angin, dan boneka teddy bear yang dibawa seorang bocah perempuan kecil yang sedang berjalan bersama ibunya. "Nenekku meninggal, dan aku nggak sempat memberi tahu siapapun jika aku pulang ke Nagoya, maaf, ponselku mati. Aku nggak sempat menchargenya."
"Oh, aku turut berduka," Karin berucap lirih.
"Kau tahu dimana aku bisa menemui Naruto?" Gaara dan Sasuke ada di opsi kedua jika hari ini ia tak mampu menemukan Naruto, jadi untuk sekarang yang terpenting adalah menemui si pemuda pirang itu dulu.
Cewek berambut merah itu mengedikkan bahu, tampak berpikir sebentar sebelum berujar, "kalau sekarang aku jelas nggak tahu dia dimana. Tapi kami bakal kumpul di bar nanti malam sekitar pukul 9. Aku yakin kau nggak tahu soal ini." Karena Kiba kan sudah didepak dari grup.
"Bar biasanya?"
"Yeah," Karin mengangguk. "Datang saja kesana, lebih baik menjelaskan sesuatu dari pada nggak sama sekali kan?"
Ya, itu benar.
.
.
Bar sudah mulai ramai di awal pukul 9, dan Kiba sampai disana sepuluh menit sebelumnya. Ia sempat melihat Ino yang berjalan bersama Sakura, mengobrolkan sesuatu yang tak ia dengar suaranya namun bisa dilihat dari ekspresi keduanya jika percakapan itu cukup serius. Dalam situasi seperti ini, tak menyapa Ino adalah pilihan paling bagus yang bisa ia lakukan. Entah bagaimana reaksi cewek itu nanti saat melihatnya, yang jelas mereka belum sempat bertukar pesan atau sekedar berpapasan sejak pulang dari Nagoya.
Kiba meneguk rose winnya, dan kembali menatap pintu ketika ia melihat sekelebat rambut pirang masuk bersama dua wajah familiar. Ia agak ragu, tapi sepertinya tak memiliki cukup waktu sebelum Naruto sampai pada kelompoknya. Kiba tak ingin saja menjelaskan alasannya di hadapan banyak orang, dan menjadi pusat perhatian untuk hal sepele, ah tidak bisa disebut sepele juga sih. Kakinya sudah mulai berdiri, berjalan sedikit lebih cepat ketika mendadak Gaara menyadarinya lebih dulu. Tak ada reaksi yang lebih bagus kecuali tatapan dingin seolah mereka tak pernah berteman sebelumnya.
"Naruto," Kiba tidak yakin suaranya terdengar seperti apa, dan musik bar yang berdentum lebih keras nyaris mengaburkan suaranya. Dan sepertinya si pemuda Uzumaki tak mendengar panggilannya. "Naru--" Kalimat nya belum selesai ketika Naruto mendadak berbalik dan menghantamnya dalam satu pukulan telak. Keras, penuh tenaga, dan penuh amarah. Membuat Kiba terjengkang ke belakang dan terbentur tembok sebelah pintu. Astaga, sialan, Naruto pasti menyadarinya sejak panggilan pertama, atau bisa jadi sejak Gaara melihatnya lebih dulu.
Jantungnya berdebar-debar menghantami rusuknya, rasa perih di sudut bibir terasa nyata, dan kepalanya terasa lebih sakit lagi. Oh bagus sekali, ia jadi pusat perhatian seisi bar.
Kejadian berikutnya bukan sesuatu yang seperti dalam ekspektasinya, sebab entah muncul darimana Yamanaka Ino mendadak mendaratkan tamparan keras di pipi Naruto.
Sekarang mereka sudah mirip dua cowok yang tengah berebut satu cewek. Kiba tak bisa memproses semua hal secara bersamaan, dan bentakan Ino dalam tempo tinggi membuatnya merasa kagum dan setengah tak habis pikir. Ia kan bisa menjelaskan sendiri tanpa bantuan cewek itu.
Bahkan ketika sudah berdiri pun, Ino seolah menghalanginya untuk bicara. Hingga akhirnya menarik tangannya untuk keluar dari sana. Yang benar-benar membuat Kiba heran pada diri sendiri adalah, ia menurut tanpa protes. Jujur saja, lebih enggan menjelaskan di hadapan banyak orang yang cuma bisa menonton, berbisik seperti orang tolol, dan selebihnya hanya berteriak 'ouch'. Ouch, sialan.
.
.
"Naruto itu memang berengsek," Ino mendesah pelan ketika ia dan Kiba tengah berjalan di trotoar, tak pasti ingin menuju kemana. "Aku paling benci padanya ketimbang siapapun di lingkaran pertemanan kami, karena dia selalu mengambil keputusan tanpa ingin tahu alasan orang lain. Dan selalu begitu."
Kiba tak tahu harus menjawab apa, kata-kata bersemburat dalam benaknya tapi tak satupun membentuk satu kalimat utuh yang bisa ia ucapkan. Lagipula mendengarkan rentetan kalimat Ino jauh lebih menyenangkan ketimbang harus bicara sendiri.
"Harusnya kau balas saja memukul pipinya, biar impas."
"Kau kan sudah mewakili ku," Ia bisa melihat Ino menengadah sekilas untuk meliriknya sebelum kembali menatap jalanan depan. "Ayolah, lagipula aku yang salah. Wajar menurutku jika Naruto salah paham. Dia sudah menunggu malam itu dari jauh-jauh hari, latihan susah payah kami juga untuk hari itu, lalu aku merusak momen dan nggak datang."
Ino tahu, salah satu direktur agensi ternama hadir di Peach cafe malam itu. Dan menonton permainan The Sky, segala alat musik yang harusnya dimainkan empat orang mendadak tak terlalu begus ketika dimainkan tiga orang. Itu menggagalkan semuanya, yeah kalau dilihat dari sudut pandang Naruto, Sasuke dan Gaara, itu buruk. Tapi mereka juga tidak bisa menyalahkan Kiba secara sepihak begini. "Tapi tetap saja kan?"
Kiba tersenyum, dan akhirnya jadi kekehan pelan.
"Kenapa tertawa begitu?" Ada binar tertarik dalam kubangan biru jernihnya, dan segala hal tentang Ino jadi familiar dalam ingatan Kiba.
"Lucu saja, kenapa kau tiba-tiba protektif padaku, seolah aku nggak bisa membela diri saja," Udara mendadak terasa agak sesak ketika Ino tak kunjung menjawab, padahal biasanya kalimatnya selalu sukses membuat lawan bicaranya kelabakan. "Padahal aku kan sedang berpikir, bagaimana caranya memperbaiki situasi dengan baik-baik saja."
"Protektif? Aku nggak protektif, tapi Naruto kan sudah keterlaluan. Dan kau lambat dalam mengambil keputusan." Mereka saling bertatapan selama beberapa detik, dan jantung Ino rasanya akan meledak dalam satu tarikan napas lagi. Demi Tuhan, ia tak tahan dengan mata coklat Kiba yang entah kenapa akhir-akhir ini memenuhi pikirannya.
Dan kau selalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, Kiba membatin tapi tak ingin mengungkapkannya.
"Kau keberatan dengan itu?"
Bagaimana ya? Ia mempertimbangkan kata yang tepat untuk diucapkan sementara kerut bibir Ino membuatnya agak bersalah. "Tentu saja nggak, itu aksi hebat, kalau bisa disebut heroik." Oh lupakan saja opini orang-orang yang bakal mengira ia cowok yang tidak bisa membela diri, lagipula ia kan tidak kenal mereka.
"Aku cerita ke ibuku soal pergi ke Nagoya bersamamu."
"Apa?" Yang benar saja, apa Ino juga tipikal orang yang suka cerita apapun ke orang tuanya?
"Aku nggak punya alasan lain lagi, mereka panik karena ponselku nggak bisa dihubungi selama seharian, dan Sakura juga nggak tahu aku dimana. Jadi aku jujur pada mereka, ku ceritakan apa adanya." Ino mengamati reaksi Kiba yang tak terlalu bersemangat, apa ini cukup mengganggunya? Bahkan hal sesederhana untuk jujur ke orang tua saja membuatnya setengah tak nyaman begitu.
"Dan mereka marah?" Ia menyurukkan tangan ke saku jaket, sembari menanti respon lawan bicaranya.
"Nggak, tentu saja nggak." Satu hal yang mungkin terdengar sama antara ia dan Kiba adalah sama-sama anak tunggal. Hanya perhatian orang tua yang berbeda. "Dan kau tahu, mereka mengundangmu makan malam bersama kapan-kapan. Menurutmu bagaimana?"
"Aku?" Kernyit kening menampakkan kebingungannya, apa ini undangan balasan karena ia telah mengajak Ino pergi ke rumahnya? Dan sekarang cewek itu menawarinya makan malam di rumah keluarga Yamanaka? Dengan orang tua yang sepertinya super protektif? Oh demi Tuhan, Kiba belum pernah melakukan hal itu sebelumnya, bahkan dengan para mantannya sekali pun.
"Orang tuaku selalu menginginkan anak laki-laki, tetapi ibuku tak lagi bisa hamil setelah aku lahir. Menjadi anak tunggal memang bukan hal yang buruk, dan mereka juga luar biasa sayang padaku. Tapi tetap saja, aku nggak sabar mengenalkanmu pada mereka." Rangkaian kalimat antusiasnya benar-benar membuat Kiba tak berkutik. "Nggak dalam waktu dekat kok. Mereka pasti senang sekali kalau kau bersedia bergabung."
.
.
Kadang-kadang Ino tak paham jalan pikiran Kiba, dia tampak biasa saja ketika ia pertama kali melihatnya. Tidak terlihat seperti cowok pendiam, dan kelihatan mudah bergaul. Tapi kenyataannya, ketika ia sedikit mengenal Kiba sebagai teman, cowok itu jauh dari ekspektasi nya. Kiba menyimpan banyak rahasia yang tak ingin dibagi dengan orang lain, banyak misteriusnya, meskipun selebihnya baik dan suka menolong.
Rasa penasaran nya membuncah ketika ia menatap langit-langit kamar, tentang bagaimana cowok itu menghabiskan sebagian besar hidupnya di Nagoya tanpa sosok ibu dan ayah yang tidak terlalu peduli. Lalu dalam sekejap segalanya hancur ketika sang nenek meninggal.
'Ting'
Notifikasi pesan muncul, dan Ino nyaris berpikir itu dari Sakura. Pasti si Haruno itu ingin menanyakan banyak hal soal aksi konyolnya ketika menampar pipi Naruto dan mengajak Kiba pergi dari bar. Lagipula ia juga tak memberikan penjelasan apapun sejak kemarin. Naruto memang tidak mengeluarkannya dari grup, tapi melihat namanya tidak muncul sama sekali dalam obrolan grup mendadak memberikan suasana aneh dalam pertemanan mereka. Ah, masa bodoh. Sekali-kali Naruto perlu diberi pelajaran kan?
Tangannya meraih ponsel di nakas dekat tempat tidur, dan tercengang ketika melihat nama si pengirim pesan. Itu pesan dari instagram, bukan dari aplikasi pesan yang ia pakai biasanya. Sebab nomor orang itu sudah tak lagi ia simpan sejak hubungan mereka renggang.
'Hai, apa kabar?'
Lucu sekali pertanyaan itu, bagaimana mungkin cowok itu berani mengirim pesan setelah segala pesan yang Ino kirim diabaikan begitu saja. Sejujurnya, ini agak terlambat. Atau mungkin terlambat total.
Dan ketimbang membalas, Ino membiarkan pesan itu terbaca tanpa ingin memberikan balasan.
.
.
Ketika Naruto muncul di depan pintu apartemennya pukul 8 malam di hari berikutnya, Kiba merasa agak aneh, padahal seharusnya ini hal paling biasa yang pernah terjadi sebelumnya.
"Hei Bro, punya waktu luang?" Dan ini bukan suara Naruto, melainkan suara Sasuke. Kiba memajukan tubuh untuk bisa mengamati lorong, dan mendapati Gaara juga ada disana, tengah bersandar di salah satu tembok.
"Yeah, apa kalian ingin masuk?" Tanyanya agak ragu.
"Yang benar saja Man, kau mau membiarkan kami berdiri disini sampai nanti?" Gaara setengah tertawa, berharap sedikit mencairkan suasana yang canggung ini.
Kiba membuka pintu sedikit lebih lebar, dan menepi dari ambang pintu. Mempersilahkan ketiganya masuk. "Apartemen ku masih sedikit kacau, aku belum sempat membereskannya."
"Tak masalah." Naruto yang biasanya paling frontal soal semua hal, agak menjaga ucapannya. Dan rasa bersalah menyebar dalam ekspresi matanya ketika melihat lebam ungu di sudut bibir Kiba yang masih terlihat jelas. "Sorry, aku nggak bermaksud--"
"Yeah, aku juga minta maaf telah mengacaukan impian kalian." Tatapannya menyapu satu persatu temannya, dan menyadari dengan pasti jika amarah mereka sudah menguap tuntas, sepertinya.
"Aku tahu kau pasti kalut waktu dengar kabar nenekmu meninggal, aku pernah di posisi yang sama," Gaara menepuk bahu Kiba, dan berharap yang lain mengucapkan sesuatu yang berarti ketimbang diam menghayati suasana. "Kita cuma sama-sama salah paham saja kan?"
"Aku agak menyalahkanmu soal nggak memberi tahu kami lebih dulu, tapi memberi tahu cewek Yamanaka itu." Ada senyum becanda yang terlukis di bibirnya, "Tapi, nggak apa-apa, kita bisa berjuang lain kali."
Naruto mengangguk, dan berusaha rileks dengan situasi yang agak mengganggunya ini. "Jadi bagaimana perasaanmu? Apa sudah merasa lebih baik?"
Melihat teman-temannya yang mulai mencari posisi duduk di ruang tamu membuat Kiba tersenyum, oke, kelihatannya hubungan mereka sudah mulai membaik. "Mana mungkin, aku baru saja kehilangan anggota keluarga paling berarti dalam hidupku."
"Yeah, setidaknya kau punya kami, dan... Ino." Tawa mereka mengalun, terasa familiar dan akrab di telinga.
"Apa-apaan itu?" Kiba mendesah, mulai lagi guyonan mereka.
"Bilang saja kalian jadian, Ino cerita pada Sakura kalau kau mengajaknya pergi ke Nagoya, dan Sakura cerita padaku. Apa sudah semaju itu hubungan kalian?" Sasuke seolah mendominasi pembicaraan sekarang, menggantikan posisi Naruto.
"Sasuke sialan, kau membully kami semua karena nasib percintaanmu lebih baik dari kami." Gaara mencebikkan bibir, memutar bola mata mendapati orang yang ia marahi justru tergelak mendengar umpatannya.
Naruto tertawa juga, itu benar, Sasuke selalu mengolok temannya perihal kisah cinta yang tidak beruntung, tapi ia tidak ambil pusing. Mengabaikan omong kosong dan guyonan Sasuke adalah cara terbaik untuk tidak peduli. Sasuke kan selalu begitu. "Santai saja Bro, dia juga sering menertawakan kisah cintaku, lagipula hubunganku dengan Hinata tak sebaik yang semua orang kira."
Sasuke bertatapan sejenak dengan Gaara yang sedikit ingin tertawa, sebelum berucap, "Dan kau Naruto, kapan nih nembak Hinata? Kau kan biasanya nggak punya malu."
Naruto bergerak untuk meninju lengan atas Sasuke, setengah jengkel dan gemas disaat bersamaan. "Bisa nggak sih kita nggak bahas apapun soal itu?" Dia melirik Kiba yang masih berdiri dengan ekspresi yang sudah melunak dari ketegangan. "Nggak ada yang salah kalau kau suka Ino, dia sepertinya juga suka padamu. Memang kalian benar-benar sudah jadian ya?"
Kiba tidak bisa mendeskripsikan perasaannya pada Ino, hanya sekedar nyaman apa bisa disebut suka? Mungkin benar jika perkembangan hubungan mereka jauh lebih baik dari awal-awal bertemu, namun itu belum bisa menjelaskan banyak hal. Dan soal Ino tertarik padanya, apa itu mungkin? Sepertinya terlalu dangkal jika disebut begitu. "Kami nggak jadian," ia mencari kalimat yang tepat saat ketiga pasang mata itu menanti jawabannya. "Aku kebetulan bersama Ino waktu itu, dan dia memaksa ikut."
Tak ada tawa yang mengalun, jawaban Kiba yang agak pelan itu mendadak membuat mereka diam.
"Kalau memang Ino naksir Kiba, berarti dia sudah move on dari Sai. Hebat." Gaara bertepuk tangan, dan Sasuke cuma nyengir. Respon yang tak Kiba harapkan bakal ia dapatkan.
.
.
Entah kenapa Karin begitu memaksakan diri datang ke perpustakaan. Tapi ketimbang mengerjakan tugas, cewek itu sejak tadi cuma mencoreti halaman kosong dibuku nya, tidak tahu apa yang mungkin dia pikirkan. Ekspresinya lesu, binar matanya sayu, dan segala keceriaan yang biasanya tampak dalam guratan raut wajahnya luntur entah kemana.
"Kau nggak apa-apa? Suasana hatimu nggak seperti biasanya." Sakura yang tengah membuka buku Aljabar Linear Elementer menyempatkan diri untuk bertanya. Sejujurnya tidak terlalu penasaran, sebabnya pasti soal cowok. Yang entah cowok mana lagi sekarang.
"Atau kau lapar? Aku bawa roti. Tapi makan diam-diam saja, nanti kalau ketahuan Ms. Mei, kau bisa diusir dari sini." Ino menawarkan, dan sudah hendak mengambil makanan dari dalam tasnya.
Karin menggeleng, "aku nggak lapar."
"Tapi kau tampak nggak baik-baik saja, apa yang salah?" Hinata meremas lengan atas Karin, memberikan keyakinan bahwa tidak apa-apa untuk cerita soal masalahnya.
Tatapan Ino sekilas mengarah ke penjaga perpus, dia menutup buku Biologi dan molekuler miliknya dan bertanya dengan serius, "Ini tentang cowokmu atau hal lain?"
"Aku hamil--"
"Kau apa?"
"Serius?"
"Kau bercanda?"
Suara Sakura, Hinata dan Ino timpang tindih dan mebuat Karin agak jengkel.
"Aku belum selesai bicara oke."
Ketiganya saling pandang, dan diam dalam waktu bersamaan. Udara Perpustakaan yang dingin dan nyaman mendadak jadi agak sesak serta sedikit mendebarkan.
"Dia nggak mau tanggung jawab, jadi aku menggugurkannya." Kalimat itu meluncur mulus bagai peluru senapan, namun Karin yakin ketiga temannya tak menganggap itu sesuatu yang benar untuk dilakukan.
Ada sengatan perih di ceruk mata Ino. Meskipun itu memang urusan Karin, dan ia tak berhak ikut campur untuk apapun, tetap saja mendengarnya sungguh menyakitkan. Ia teringat sang ibu yang mendambakan buah hati berikutnya, dan berkali-kali keguguran hingga akhirnya menyerah. Karin justru membuat segalanya hancur tanpa mau mempertanggungjawabkan. "Ini payah Karin," Ia mengusap air matanya. Sementara Sakura menghela napas panjang, sudah kehilangan minat belajarnya hari itu.
"Kau seharusnya nggak melakukan itu kan." Hinata mengalihkan tatapan pada tumpukan tebal rumus Kimia di hadapannya, merasa sudah ingin berdiri dan pergi.
"Aku tahu."
Ino berpikir lain, Karin jelas telah mengambil langkah salah. "Siapa ayahnya? Apa kami mengenalnya?"
Ketika Karin mengangguk, debar jantung Ino seolah menggila dan segalanya terasa lebih kacau ketika kalimat pendeknya terlontar, "Dia berada di lingkaran pertemanan kita."
.
tbc
Terima kasih untuk supportnya kchi77327, Ai moriuchi, dan Am.Inzaghi dan kesediannya membaca fic ini. Mohon koreksinya jika ada yang salah.
.
~Lin
06 Oktober 2024
