Robin memiliki tinggi di atas rata rata, namun kerumunan itu sangat padat dengan orang orang yang terus bersorak riuh sehingga dia tidak bisa melihat apa apa. Karena penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan sedikit kekuatan Hana Hana no Mi lagi.
"Takius, aku akan membuka jalan. Ikuti aku maju ke bagian depan" tangan kanan Robin dengan cepat merangkul pundak gadis mage itu dan menggiringnya memasuki kerumunan. Diam diam dia menumbuhkan beberapa tangan tambahannya untuk mendorong sedikit kerumunan itu agar tersibak sedikit demi sedikit memberi jalan bagi mereka.
Berada di tengah kerumunan yang bersorak sorai membuat Takius sedikit kebingungan. Selain membaca, terjebak di tengah banyak orang begini adalah salah satu kelemahannya karena dia akan kesulitan menentukan arah.
Himpitan orang orang di sekeliling Takius membuat tubuhnya terpaksa semakin menempel kepada Robin. Aroma bunga segar dari tubuh wanita arkeolog itu semakin kuat terhirup oleh indera penciuman, membuat dirinya semakin kesulitan berkonsentrasi ke sekitar. Jadi dia memutuskan untuk pasrah saja kemanapun tangan Robin menggiringnya.
Sementara itu, Robin masih berusaha membuka jalan dengan kekuatan Hana Hana no Mi. Mereka sudah hampir sampai ke bagian depan kerumunan.
"Sudah gila! Berkelahi lagi di sini, pasti Pak Tua Hyuga akan marah besar!"
"Harusnya mereka diblacklist kali ini!"
Terdengar ada beberapa gerutuan memaki siapapun yang sedang berkelahi itu. Kedengarannya ini bukan pertama kalinya kedua oknum tersebut berkelahi di menara sihir.
Akhirnya Robin dan Takius bisa mencapai bagian agak depan kerumunan dan menonton langsung sumber keributan itu.
Tampak dua lelaki sedang bergelut di lantai batu sambil diiringi sorak sorai para penonton. Wajah keduanya sudah tidak keruan, nampak bekas lebam dan darah belepotan di wajah dan kepalan tangan mereka.
Yang seorang adalah lelaki botak depan dengan sisa rambut putih di bagian belakang dan samping kepalanya. Telinganya runcing tajam dengan mata sipit dan hidung panjang, sekilas dia mirip kelelawar dengan jubah hitamnya.
Lawannya adalah seorang lelaki yang juga berwajah agak mirip kelelawar. Bedanya adalah dia berambut abu abu gondrong sebahu dengan kumis dan jenggot berwarna sama yang tidak terlalu panjang, nampak seperti jenggot kambing.
"PUKUL!"
"IYA, HAJAR SEPERTI ITU!"
Kerumunan penonton berteriak teriak penuh semangat. Bagi penyihir, jarang sekali ada perkelahian adu fisik seperti ini karena biasanya mereka lebih memilih adu kekuatan sihir. Jadi tentu saja insiden ini adalah tontonan menarik yang jarang terjadi.
"Masih saja bertengkar selama 10 tahun, benar benar tidak sadar umur!" gerutu seorang nyonya tua gemuk di samping kiri Robin.
"Ah, maaf. Mereka sudah bertengkar selama 10 tahun?" perkataan wanita tua itu otomatis menarik perhatian Robin dan Takius.
"Oh, halo Nona Robin. Kau tidak salah dengar, dua bersaudara Sirius dan Regulus Armando sudah bertengkar selama 10 tahun. Kudengar diawali dari penelitian yang mereka lakukan bersama lalu tiba tiba Regulus menyebut bahwa penelitian itu adalah miliknya karena Sirius hampir tidak pernah ikut berpartisipasi. Alhasil, Sirius meradang dan akhirnya mereka bertengkar selama 10 tahun. Beberapa tahun lalu, Hyuga memanggil mereka berdua untuk melakukan mediasi yang tentu saja gagal total karena mereka malah baku hantam di depan Hyuga. Aku heran kenapa Hyuga masih mau mengundang mereka datang" jelas nyonya gemuk itu dengan bersemangat tanpa diminta.
"Wah, suram sekali bertengkar selama 10 tahun" gumam Takius sambil menoleh kembali ke arena pertarungan. Dia terganggu oleh banyaknya sorak sorai penonton sehingga kurang bisa merasakan dengan jelas bagaimana jalannya pertarungan dua bersaudara itu.
Kerumunan penonton semakin liar, terdengar mulai ada yang membuka ajang taruhan.
"Hei, aku yakin Regulus yang akan menang. Mau taruhan tidak?"
"Aku pegang Sirius. Mau bertaruh berapa?"
"Cepat tulis taruhannya sebelum Tuan Hyuga datang membubarkan"
Terdengar bisik bisik transaksi taruhan di mana mana. Kelihatannya konferensi tahun ini sungguh menarik bagi para peserta, mulai dari membahas Poneglyph sampai taruhan duel Armando bersaudara.
Robin menoleh ke arah Takius di sebelah kanannya. Gadis mage itu sebenarnya cukup tinggi, namun Robin sadar bahwa dirinya sendiri yang jauh lebih tinggi. Dari posisinya, dia bisa melihat puncak kepala Takius hanya setara dengan dagunya.
"Hei, Takius. Mau taruhan tidak?" Robin bicara sambil agak menunduk, berusaha agar suaranya bisa terdengar di tengah keriuhan penonton.
Takius sedari tadi sudah memperkirakan bahwa Robin jauh lebih tinggi darinya, secara refleks dia menoleh ke arah Robin sambil agak mendongak.
"Ya? Nee-san mau taruhan apa?"
Robin terdiam. Kata kata yang sudah hampir keluar dari mulutnya seperti tertelan kembali saat menyadari bahwa jarak wajah mereka agak terlalu dekat.
Dari jarak hanya sekitar dua jengkal saja, Robin bisa melihat gadis mage di sampingnya itu memang cantik. Kain hitam yang menutup matanya justru menambah daya tariknya, menimbulkan rasa penasaran dalam diri Robin "Apa warna mata di balik kain itu?"
Samar tercium aroma pohon, daun, dan tanah basah, aroma segar yang membuat arkeolog itu teringat pada hutan.
"Seperti hutan Upper Yard Skypiea" batin Robin dalam hati, teringat kepada negeri di atas awan yang disinggahinya beberapa waktu lalu.
"Nee-san?" suara hingar bingar di sekeliling dan kondisi yang masih terhimpit banyak orang membuat indera gadis penyihir itu menumpul. Dia kesulitan memperkirakan jarak dengan benar sehingga tidak menyadari alasan mengapa Robin tidak menjawab barusan.
"Eh.. Kau mau ikut taruhan tidak? Di belakang kita ada bandar yang sedang mengumpulkan uang" Robin cepat menegakkan kembali kepalanya dan menggunakan seorang lelaki gemuk bertopi tinggi di belakang yang sibuk mengumpulkan uang taruhan sebagai alasan.
"Hmm.. Aku kurang tertarik untuk hal seperti ini. Kau saja, Nee-san"
Robin merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribu Berry yang langsung disodorkannya ke lelaki bandar itu.
"Hei, Paman! Kau terima mata uang Berry, tidak? Aku pasang seratus ribu Berry untuk si jenggot kambing"
"Aku terima semua mata uang, Nona Robin! Si jenggot kambing itu Regulus, aku akan catat di kertasku" dengan cepat lelaki itu menyambar dua lembar uang tersebut dengan jari jari yang gemuk seperti sosis.
"Nee-san, kau suka berjudi?"
"Tidak juga. Orang yang paling mahir berjudi di kelompokku adalah Nami, si navigator. Terkadang aku akan ikut dengannya ke kasino, tapi hanya untuk bermain santai saja. Nanti aku traktir kau makan enak kalau aku menang" Robin tertawa kecil.
"Menurutmu si jenggot kambing Regulus yang akan menang?"
"Yah kurasa begitu. Aku lihat dari tadi dia mendaratkan pukulan di muka lawan lebih banyak daripada sebaliknya. Kalau terus begini, mungkin dia akan menang dalam beberapa menit lagi"
Robin benar, si botak Sirius mulai nampak kepayahan menerima pukulan dari saudaranya si jenggot kambing Regulus. Kelihatannya perbedaan umur yang agak jauh di antara mereka menjadi salah satu penyebab dia tertinggal.
Regulus mencengkram kerah baju Sirius, memaksanya untuk berdiri sebelum mendaratkan satu pukulan lagi ke wajah. Sirius terhuyung dan terjerembab jatuh ke lantai batu, membuat kerumunan bersorak semakin keras.
Orang orang yang bertaruh untuk Regulus bersorak sorak senang sambil mengacungkan tinju, sementara pendukung Sirius berteriak kecewa. Takius bisa merasakan lantai batu di bawah kakinya bergetar oleh antusiasme penonton.
Sirius masih berusaha bangkit tapi kesulitan sementara Regulus santai melambai ke ke para penonton dengan sumringah, merasa sudah menang.
Dengan geram, Sirius merogoh ke dalam jubah hitamnya mengeluarkan satu gulung perkamen. Dia membuka gulungan perkamen itu sambil meletakkannya di lantai dan membacakan mantera. Dari perkamen, muncul lubang hitam yang meluas di lantai dengan beberapa monster melompat keluar dari sana.
"KURANG AJAR, DIA MEMBUKA PORTAL!"
"MENJAUH! MENJAUH!"
"PANGGIL TUAN HYUGA!"
