Kerumunan penonton langsung bergerak mundur menjauhi lubang hitam tersebut. Awalnya yang keluar adalah beberapa goblin dan monster kecil yang bisa dilumpuhkan dengan cepat oleh para penyihir barisan depan. Tapi kemudian mulai keluar beberapa monster besar seperti lamia dan ogre yang langsung menyerang ke penonton, membuat mereka tidak siap untuk bertahan.

"ARRGGGHH! CEPAT LARI!" Dengan cepat, para penonton tercerai berai. Semuanya lari menjauh secepat mungkin dari lubang hitam yang terus mengeluarkan monster itu.

Robin dan Takius terbawa arus penonton yang kabur itu, membuat Robin harus diam diam memanfaatkan kekuatan Hana Hana no Mi lagi. Dia memunculkan beberapa tangan tambahan untuk membuat barikade agar mereka berdua tidak terseret arus orang orang yang panik itu.

"Takius, pokoknya kita harus bisa keluar dari kerumunan ini. Ayo kita menepi dulu, jangan sampai terseret oleh mereka" Robin cepat merangkul gadis penyihir di sebelahnya, menggiringnya keluar dari arus orang orang.

"Baik, Nee-san" Takius hanya bisa menurut, benar benar masalah baginya terjebak di tengah kepanikan seramai ini.

Akhirnya mereka bisa terbebas dari arus kerumunan. Berada di pojok tanpa terhimpit siapapun membuat kemampuan indera Takius kembali tajam. Dia bisa merasakan seekor centaurus berlari kencang mendekat, siap menabrak mereka.

"Sial! Nee-san, ada centaurus berlari ke sini!" cepat dia mengangkat tongkatnya, bersiap untuk menyerang begitu makhluk itu memasuki jangkauan serangannya.

"Frost Dri…"

"BRAAGHH!" Centaurus itu menabrak keras dinding pembatas dari kumpulan tangan buatan Robin. Makhluk bertubuh setengah manusia setengah kuda itu ambruk di lantai batu, merasa pusing dan kebingungan.

"Nee-san! Aku tidak bisa melihat apa yang kau lakukan, tapi aku tahu kau membuat dinding pembatas fisik. Seharusnya kau bukan penyihir, kan?"

"Devil Fruit Hana Hana no Mi yang kumakan dulu membuatku bisa menumbuhkan anggota tubuhku di mana saja. Barusan aku membuat dinding pembatas dari kumpulan tanganku. Tapi kurasa aku dan para pemakan Devil Fruit lainnya memang bukan penyihir" jelas Robin sesingkat mungkin.

Dulu Zephyr pernah bercerita tentang buah ajaib yang dipercaya merupakan hasil karya iblis laut. Siapapun yang memakan buah itu akan mendapatkan kekuatan hebat secara acak. Namun, konsekuensinya adalah pemakan buah itu akan dibenci oleh air dan mereka tak bisa berenang selamanya.

Buah itu hanya ada di area Grand Line, jauh sekali dari wilayah tempat tinggal Takius di Midgard sehingga dia tak pernah bertemu dengan siapapun pemakan Devil Fruit sebelum ini. Sekarang di depannya ada seorang wanita pemakan Devil Fruit sekaligus orang terakhir yang bisa membaca huruf kuno Poneglyph.

Dalam hati, dia membatin kagum "Arkeolog satu ini benar benar bukan orang biasa".

"Baik Nee-san, karena kau tipe penyerang non sihir maka kau punya keunggulan waktu istirahat yang lebih pendek dariku. Para penyihir perlu jeda 3-5 detik per serangan untuk mengumpulkan kekuatan sebelum bisa mengeluarkan serangan berikutnya. Aku akan menyerang duluan, setelah itu kau bisa menyerang sambil menungguku mengumpulkan kekuatan dulu" Takius memutar otak dengan cepat, menyusun rencana yang cocok dengan gaya bertarung mereka.

Robin tidak pernah bertarung bersama penyihir sehingga tidak terlalu paham dengan gaya bertarung mereka. Dia memutuskan untuk mengikuti saja instruksi barusan demi efektivitas serangan "Baiklah. Sekarang bersiap, centaurus itu sudah mulai bangun"

Monster setengah kuda itu mulai beranjak bangun. Rasa pusingnya sudah berkurang, membuatnya siap untuk kembali menyerang dua perempuan di depannya.

"Cold Bolt!" Hujan batu es berukuran besar turun menimpa centaurus itu, membuat kondisinya yang sudah menurun karena tabrakan barusan menjadi semakin lemah.

"Seis Fleur Clutch" Muncul enam buah tangan di tubuh centaurus itu membuatnya kaget kebingungan. Keenam tangan itu langsung bergerak melipat tubuh centaurus melengkung ke belakang, menimbulkan suara derak derak patah tulang yang menakutkan terdengar bersamaan dengan tidak bergeraknya lagi makhluk itu.

"Nee-san! Itu.. Hebat sekali… Tulang tulang centaurus itu…"

Meskipun tidak bisa melihat langsung, Takius bisa menebak apa yang terjadi dari suara derak derak patah tulang barusan. Dia sudah terbiasa dengan ayunan pedang atau senjata tajam lainnya, tak pernah menyangka ada serangan fisik seajaib itu.

Awalnya dia memperkirakan perlu beberapa serangan bergantian untuk bisa mengalahkan centaurus itu. Tapi ternyata Robin dengan mudah menghabisinya dalam satu serangan saja. Sekarang Takius bingung sendiri di antara kagum dan takut dengan pertunjukan patah tulang barusan.

"Tidak masalah. Aku sudah sering melakukan hal seperti ini" jawab Robin santai.

"Kalau begitu.. AWAS! NEE-SAN, MERUNDUK!"

Seekor harpy menukik tajam nyaris menyambar Robin kalau saja dia tidak cepat merunduk. Monster berwujud wanita dengan sayap dan cakar elang itu terbang tinggi dan berputar di udara, siap untuk menukik menyerang lagi.

"Lightning Bolt!"

Takius mengirimkan serangan petir dengan tepat sasaran, membuat makhluk itu menjerit kesakitan dan terjatuh ke lantai batu dengan tubuh gosong.

Sesaat Robin merasa tidak nyaman karena teringat dengan Enel dan kekuatan petirnya saat melihat tubuh harpy itu terpanggang.

"Hebat sekali, Takius! Tepat sasaran!" Pujian dilontarkan Robin untuk mengalihkan pikirannya sendiri.

Dia berusaha mengalihkan pikirannya lagi dengan melihat ke segala arah, memantau bagaimana kondisi aula.

Suasana aula benar benar chaos gila. Di mana mana terdengar jerit kesakitan dan raungan monster. Seperti kata Takius tadi, penyihir perlu jeda beberapa detik sebelum mengeluarkan serangan berikutnya sehingga mereka rentan dengan serangan langsung jarak dekat.

Kemunculan para monster dari portal secara mendadak membuat para penyihir panik dan tidak sempat menjaga jarak. Banyak yang diserang monster dan kesulitan melawan serangan jarak dekat.

Robin menyaksikan sendiri, seorang lelaki berbadan gemuk bulat terbang sejauh 5 meter dihantam oleh gada minotaur yang mengamuk membabi buta. Tubuhnya terbang menabrak seorang penyihir wanita kurus berkacamata yang sedang dikelilingi sekelompok goblin, membuat keduanya langsung ambruk tidak bergerak sementara para makhluk hijau itu bubar karena kaget.

Para sejarawan non penyihir ikut bertarung dengan senapan, pedang, dan berbagai senjata fisik mereka. Suara letusan senapan, sabetan pedang, terdengar bersahut sahutan bersama dengan berbagai serangan sihir. Tetap saja sulit, serangan para monster terlalu mendadak untuk bisa diatasi dengan mudah. Bau mesiu dan amis darah tercium tajam.

"Terima kasih, Nee-san. Tapi suasana sedang sangat kacau, apa yang sebaiknya kita lakukan?"

"Aku tidak ada ide…"

"METEOR STORM!"

Sebuah suara menggelegar membelah aula disusul dengan hujan batu api yang secara ajaib hanya menyasar ke para monster saja. Tidak ada satupun manusia yang terkena serangan api itu.

Dengan cepat, para monster jatuh terbakar dan tidak bergerak lagi. Orang orang terdiam kaget, masih dalam kondisi adrenalin tinggi oleh kericuhan barusan.

"APA APAAN INI SEMUA?" Hyuga Maximus berderap marah menuju bagian tengah aula yang berantakan itu. Wajahnya yang seharian ceria itu sekarang nampak sangat murka, seolah bisa menghembuskan api dari mulutnya.

Dia sedang bersantai di ruang kerja saat salah satu petugas lari terbirit birit datang melaporkan bahwa dua bersaudara Armando berkelahi lagi, membuatnya langsung melompat dari kursi dan segera lari turun ke aula. Begitu tiba di aula, Hyuga semakin murka melihat monster berkeliaran di mana mana.

Setelah para monster dilumpuhkan, nampak kondisi fisik aula juga mengenaskan. Beberapa bagian dinding dan lantai tampak berlubang entah karena apa. Banyak bangkai monster hangus terkapar di lantai, bersama dengan beberapa tubuh manusia yang entah pingsan atau mati.

"BAWA SINI DUA PEMBUAT ONAR ITU!"

Beberapa orang maju dan menghempaskan Sirius dan Regulus Armando ke hadapan Hyuga. Kakak beradik itu tersungkur di lantai batu dengan kondisi mengenaskan. Wajah dan tubuh mereka masih penuh luka luka oleh perkelahian fisik sebelumnya. Ditambah dengan serangan monster barusan sukses membuat penampilan mereka lebih menyedihkan lagi.

"SIRIUS DAN REGULUS ARMANDO! Sudah kutulis dalam surat undangan kalian untuk tidak membuat masalah selama acara! Kalian malah hampir menghancurkan menara sihir ini!"

Tidak ada yang berani bersuara, hanya gelegar suara Hyuga yang memenuhi ruangan aula besar itu.

"Mulai hari ini kalian dilarang memasuki menara sihir! Juga jangan pernah berani memperlihatkan wajah kalian ke hadapanku!" Hyuga menghentakkan tongkatnya dengan keras ke lantai.

Bayangan gelap muncul di lantai sekitar Sirius dan Regulus Armando. Perlahan bayangan itu mulai menjadi lembek seperti lumpur hitam dan menghisap turun kedua kakak beradik itu.

"Tidak! Maafkan aku, Tuan Hyuga! Ini salah si bodoh itu!"

"Beraninya kau menyalahkanku? Tuan Hyuga, dia yang membuka portal monster barusan!"

Mereka masih terus bertengkar dengan tubuh semakin tenggelam dalam lumpur hitam disaksikan oleh seisi aula. Pertengkaran itu baru berhenti setelah mereka berdua sepenuhnya ditelan oleh lumpur hitam yang kemudian menghilang perlahan.

"Baiklah, saudara saudaraku sekalian. Aku mohon maaf sekali atas kekacauan hari ini. Tidak kusangka mereka masih bertengkar setelah 10 tahun berlalu, bahkan sampai menimbulkan bencana begini. Bagi yang terluka, tetap tinggal di aula saja biar para petugas membantu melakukan heal. Maaf, kelihatannya kalian harus makan malam di kamar masing masing karena aula ini sudah tidak keruan. Aku harap tidak ada yang sampai tewas dalam kekacauan tadi" Hyuga bicara lagi dengan nada normalnya tadi pagi, berbanding terbalik dengan kemarahannya tadi.

"Sekali lagi, aku mohon maaf atas insiden hari ini. Aku pamit dulu karena harus segera membereskan sisa kekacauan ini" Pak tua itu mundur dari tempatnya, segera berjalan pergi dengan beberapa petugas berjubah hitam lari menghampirinya untuk melapor.

Jika tadi pagi terdengar bisik bisik julid mengomentari bagaimana Hyuga membuka acara dengan sensasi, maka sekarang terdengar bisik bisik bernada kagum atas apa yang dilakukannya barusan.

"Dia membuat serangan dengan area jangkauan seluas ini?"

"Hebat sekali! Dia bahkan bisa memilih untuk hanya menyerang para monster saja!"

Skill Meteor Storm akan menjatuhkan beberapa batu meteor api dengan ukuran besar ke target dan area sekitarnya. Karena meteor itu akan jatuh secara acak mengenai musuh atau teman, maka penggunaannya harus hati hati dan bisa berbahaya jika dilakukan sembarangan. Sementara serangan tadi terpecah menjadi batu batu api kecil yang dengan tepat hanya menyasar para monster. Jangkauan serangan luas dan akurasi tepat sasaran yang barusan dilakukan Hyuga tidak mungkin bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hanya wizard dengan jam terbang sangat tinggi yang sanggup melakukannya.

"Guru Zephyr sekalipun belum tentu bisa melakukan serangan seperti itu. Hebat! Level ketua asosiasi memang beda" puji Takius dalam hati, mengakui kehebatan kakek klimis itu.

"Takius, ada darah monster menempel di wajahmu" tangan Robin terangkat untuk membersihkan cipratan darah di wajah kiri Takius sebelum akhirnya menyadari bahwa itu bukan darah monster.

"Eh, sebentar.. Ini darahmu sendiri. Kau terluka sedikit di wajah kirimu. Biar kuantar kau ke petugas untuk heal"

Takius terkesiap kaget saat menyadari tangan hangat wanita arkeolog itu menempel di wajahnya. Terpana oleh kejadian Hyuga mengamuk barusan membuatnya lupa sesaat dengan kehadiran Robin yang dari tadi ada di sebelahnya.

"Aaa.. Tidak apa apa, Nee-san. Ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri. Biar saja para petugas fokus membantu heal mereka yang terluka parah" jawabnya gugup.

"Hmm… Apa kau ada luka lain selain yang di wajah ini?" Robin berusaha memastikan lagi.

"Tidak, aku yakin tidak ada. Hanya ini saja.." "Kalau begitu, kau ikut ke kamarku saja. Chopper, dokter kapalku, kemarin memaksaku membawa beberapa perlengkapan medis. Setidaknya tutupi saja dulu dengan plester"

"Eh, tidak apa apa, Nee-san. Tidak usah repot repot…"

"Ayolah, aku memaksa. Chopper juga akan senang kalau perlengkapan medisnya terpakai"

Takius tidak bisa lagi melawan saat tangan Robin menyambar salah satu lengannya, menggiring mage muda itu pergi dari aula yang berantakan.