Disclaimer : Bukan Punya Saya!

Warning : AU! Smut! Overpowered! Revenge! Berantakan! Tidak Jelas!

Ootsutsuki Kaguya, Usagi no Megami, pengguna chakra pertama. Dia merupakan ras manusia alien yang datang ke bumi untuk mengumpulkan buah Shinju. Tiap Ootsutsuki datang dengan berpasangan. Kaguya yang merupakan dari kalangan bawah Ootsutsuki, ketika diminta untuk mencari buah Shinju, dengan semangat menerima.

Sebagai kalangan bawah, ia merasa tidak puas dengan keadaannya. Kalangan bawah klannya mendapatkan diskriminasi dan perlakuan tidak adil. Meski begitu, semua anggota klan yang berdarah Ootsutsuki memiliki tubuh dan jiwa yang memiliki potensi penuh. Mereka bisa menggunakan sebuah energi tubuh yang disebut chakra.

Kriet… Jeshh…

Fuin yang menutup pintu itu terbuka, terlihat keadaan di ruangan itu masih sama, tanpa ada perubahan sama sekali. Hal ini menandakan bahwa, memang pulau ini benar - benar ditinggalkan dan dilupakan.

"Hah, kurasa hampir 6 bulan kita meninggalkan tempat ini."

"6 bulan di Bumi, sama dengan 6 tahun di dalam sana, Naruto." Kaguya berkata pada Naruto. Penampilan Kaguya berubah, memang dia masih dalam bentuk chibi, tapi terlihat matanya sudah berevolusi ke Byakugan. Mata putih tanpa pupil.

Perubahan juga terlihat pada Naruto. Rambut merahnya lebih panjang dari sebelumnya, tinggi badannya juga bertambah. Orang akan dengan mudah mengetahui bahwa Naruto adalah seorang Uzumaki.

"Setidaknya kau sudah tak menyusahkan seperti dulu.." Kaguya berkata dengan nada mengejek.

"Ya ya ya," Naruto menatap bosan ke Kaguya, "Terlebih, terimakasih pada Ashina-jiji karena telah melatihku menjadi seorang shinobi kuat seperti sekarang." Naruto tersenyum senang, dengan kekuatannya ini, ia akan membawa perubahan pada dunia Shinobi.

"Kau akan dipukul dengan kayu, jika mendengar panggilanmu itu." Kaguya tertawa ringan. Selama 6 tahun di ruangan itu, ia belajar banyak tentang Naruto. Dia merupakan keturunan murni Klan Uzumaki, dan sebuah ramalan yang dikatakan Ashina mengatakan, perubahan besar akan terjadi pada tirani yang memerintah sekarang. Pusatnya berada pada diri Naruto.

'Mungkin karena dia juga yang menemukan kepingan kekuatanku.' Pikir Kaguya. Selama hampir lebih dari 100 tahun, dirinya dipecah menjadi beberapa bagian yang membuat kekuatannya juga terbagi. Musuh yang menyegelnya waktu itu juga hampir mati, tapi karena sedikit kelengahannya, ia berhasil dikalahkan.

Saat ini dirinya berada dalam fase lemah, karena hanya kepingan jiwa yang berhasil bangkit dari segelnya. Meski kekuatannya kembali perlahan, ia harus mengumpulkan kepingan lain dari dirinya. Ia akan menggunakan Naruto untuk memenuhi tujuannya ini.

"Jadi kita akan kemana, Naruto?" Kaguya bertanya pada Naruto yang tengah memejamkan matanya, menikmati kesunyian di pulau ini.

"Hah, damai sekali rasanya." Gumam Naruto, "Rasa yang akan sangat jarang dirasakan." Tambahnya. Selama ini, ia hanya bisa mencium bau batuan mineral.

"Jadi…?"

"Kita akan pergi ke Yuki no Kuni." Ucap Naruto. Kaguya hanya mengangguk menanggapi perkataan Naruto.

Poft

Kaguya kembali ke Naruto. Sementara itu, Naruto menutup kembali ruangan tempat dirinya berlatih. Ia tak mau ruangan ini digunakan sembarangan oleh orang yang bukan Uzumaki. Setelah selesai menutup, ia menggambar fuin di depan gedung, lalu menyegel bangunan itu.

"Selesai, saatnya berpindah tempat." Setelahnya, ia merapal segel, "Jikukan Jutsu : Iko". Naruto terhisap ke dalam kegelapan bayangannya sendiri.

Yuki no Kuni

Nama yang pas untuk wilayah yang saat ini Naruto datangi. Daerah yang tak pernah berhenti musim saljunya. Yuki no Kuni, terletak di bagian utara dari peta wilayah dunia shinobi. Daerah terdekat darinya adalah Kaminari no Kuni. Meskipun begitu, banyak pelaut yang enggan datang ke wilayah ini karena sekeliling pulau selalu diterpa badai, dengan keadaan laut yang ganas. Memiliki cuaca yang mirip dengan Uzushio, tempat Naruto berlatih.

Karena wilayahnya yang sulit dijangkau, membuat Yuki no Kuni dijadikan sebagai pusat komando dari pasukan pemberontak Kerajaan. Oleh sebab itulah, Naruto datang ke sini.

"Baiklah, tugasmu sudah selesai." Naruto berkata pada Chi Bunshin yang 5 bulan lalu ia kirim untuk membangun koneksi di tempat ini.

Chi Bunshin milik Naruto menganggukkan kepalanya, ia membuat segel lalu tubuhnya hancur menjadi gumpalan darah. Naruto yang melihat Chi Bunshin miliknya hancur, menggelengkan kepalanya. Informasi selama ia ada di sini masuk ke dalam kepala Naruto.

"Cih, dasar Chi Bunshin sialan…"

"Dia merefleksikan keinginanmu, Naruto." Kaguya berkata, "dan akhirnya mewujudkannya."

"Diamlah, Kaguya." Chi Bunshinnya memang ia perintahkan membuat koneksi, tapi tidak dengan meniduri pimpinan pemberontak, "Sialan."

"Setelah kudeta ini, kau bisa mendapatkan wanita lain, kau tahu." Kaguya yang mengetahui isi pikiran Naruto, kembali berucap.

"A… a… aaa…" Naruto menepuk jidatnya, "Sebelum itu, ada Tirani yang harus kita lengserkan."

Naruto berjalan pergi dari tempatnya datang tadi. Tempat tujuannya sekarang adalah, Pimpinan Pemberontak, Koyuki Kazahana.

Koyuki Kazahana, putri tunggal pewaris Yuki no Kuni. Ia seorang wanita tangguh yang telah memimpin gerakan pemberontak setelah ayahnya kalah dalam penyerangan Tsuchi no Kuni. Ketika kejadian itu terjadi, masih ingat dibenaknya, sang ayah memimpin 1000 pasukan untuk membebaskan Tsuchi no Kuni.

Mereka berhasil masuk dan hampir menguasai Tsuchi no Kuni, hingga akhirnya Pasukan Utama Kerajaan datang sendiri menumpas. Ayahnya dan pasukan dipukul mundur hingga akhirnya ia tewas dalam pengepungan.

Koyuki yang saat itu masih begitu belia dan muda, hanya bisa menangisi kepergian ayahnya. Selama hampir beberapa bulan, ia termenung hingga suatu hari, ketika dia berkunjung ke ruangan mendiang ayahnya, menemukan sebuah surat.

Ia diberikan mandat oleh ayahnya untuk memimpin kembali Akatsuki. Nama pasukan pemberontakan yang dipimpin oleh ayahnya. Di surat itu juga dikatakan, bahwa ayahnya mendapat sebuah penglihatan tentang seorang pria yang akan membawa perubahan pada dunia shinobi. Akatsuki menjadi alat untuknya berjuang mendapatkan kebebasan dan menggulingkan tirani saat ini.

Sejak itu, ia mendedikasikan diri, menggantikan ayahnya sebagai pimpinan Akatsuki. Organisasi Akatsuki ini, menjembatani gerakan pemberontakan di dunia Shinobi. Organisasi yang mencakup gerakan kecil atau perlawanan terhadap kekejaman Kerajaan selama hampir 200 tahun.

"Jadi, apakah masih belum ada kabar dari Tsuchi no Kuni?" Tanya Koyuki pada bawahannya.

"Saat ini masih tak ada kabar apapun, Koyuki-sama." Mabui memberikan secarik kertas pada Koyuki.

"Hah, semoga mereka baik - baik saja." Koyuki menghela nafas. Beberapa waktu ini, banyak anggota Akatsuki yang ditangkap, sehingga membuat mereka kehilangan banyak anggota, "Kita tak bisa tinggal diam dengan keadaan seperti ini."

"Ehm, maaf Koyuki-sama jika lancang." Mabui berkata sedikit ragu.

"Ada apa Mabui?" Koyuki membalikkan badannya dan menatap ke arah Mabui.

"Apa Anda yakin dengan pria berambut merah itu?" Mabui sempat bertemu dengan pria yang ia maksud beberapa kali. Koyuki mengatakan bahwa, ia kenal dengannya ketika sedang melakukan inspeksi ke pelabuhan, dan mendapati orang ini ingin bergabung Akatsuki.

Mereka berdua akhirnya berbincang dan lebih sering bertemu. Mabui dapat melihat sebuah ketertarikan dari pemimpinnya ini pada pria berambut merah itu. Ia coba mengingat-ingat siapa nama yang disebutkan Koyuki. Na.. Na..

"Naruto Uzumaki telah tiba…" Suara pria yang dimaksud oleh Mabui tiba tiba datang ke ruangan mereka. Rambut merahnya terlihat mencolok, dari pakaian yang ia kenakan.

"Bisakah kau ketuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk ke ruangan Koyuki-sama, Uzumaki-san?" Kata Mabui, dengan nada sedikit marah.

"Oh, hei - hei, apa kau marah denganku? Mabui?" Naruto datang mendekati Mabui. Mabui yang didatangi Naruto dan dielus rambutnya oleh Naruto, menunjukkan muka jengkel. Ia diperlakukan seperti anak kecil di depan pria ini.

"Bisakah kau lepaskan kepala Mabui, Naruto?" Koyuki mencoba menyelamatkan Naruto dari kemarahan Mabui.

"Oke oke," Naruto tersenyum puas, melihat kejengkelan Mabui. Naruto yang sebelumnya memiliki sifat serius, terbawa oleh bawaan chi-bunshin nya. Selain itu, selama pelatihan, dia memiliki seorang Ashina Uzumaki yang ternyata merupakan orang tua mesum yang dianugerahi kekuatan luar biasa.

"Hah, kau memang semaunya, Naruto." Koyuki menepuk jidatnya melihat tingkah Naruto.

Mabui masih melihat dengan marah di belakang kepala Naruto, yang saat ini menghadap ke Koyuki.

"Jadi bagaimana? Apakah ada perkembangan terbaru dari Tsuchi no Kuni?" Naruto masuk ke dalam mode serius.

"Sampai saat ini, pembawa berita belum memberikan apapun padaku." Muka senang Koyuki karena kedatangan Naruto, kembali sedih mengingat keadaan yang dia hadapi.

"Hem… kurasa memang sudah saatnya aku ikut turun tangan."

"Tapi, kau tak bisa bertarung, Naruto." Koyuki berjalan ke depan lalu berdiri di hadapan Naruto, "Aku bahkan belum melihatmu bertarung." Ia menatap khawatir pada Naruto.

"Tenang saja, Koyuki-ch…sama" Naruto membenahi perkataannya, mengingat mereka sedang tidak berdua saat ini. Ia melirikkan matanya ke arah Mabui, yang masih menatap marah padanya.

"Ku rasa memang harus kubuktikan dulu, ne." Kata Naruto. Chi-bunshin yang Naruto tugaskan memang tidak menunjukkan keahliannya sebagai shinobi. Terlebih, ketika chi-bunshin itu ia ciptakan, dirinya masih dalam pelatihan dan belum sampai ke potensi penuhnya.

Naruto berjalan ke jendela ruangan Koyuki yang terbuka, "Kau bisa melihat ini, dan percaya padaku, Koyuki-sama."

Tangan kanan Naruto ia rentangkan keluar jendela. Kemudian, sebuah bulatan chakra berwarna putih terbentuk di depan tangan Naruto. Lama-kelamaan makin membesar, diiringi dengan bunyi nyaring dari bulatan chakra itu.

Koyuki menatap tak percaya pada Naruto. Selama ini, Naruto tak pernah menunjukkan bahwa ia punya skill seorang shinobi. Ketika awal bertemu, dia terkesan dengan tekad Naruto untuk melawan.

"Apa itu, Naruto?" Koyuki berjalan mendekati Naruto.

Mabui sedari tadi diam mengamati. Awalnya ia terkejut, namun, ia juga sudah menaruh curiga bahwa pria ini mempunyai skill seorang shinobi. Ia menggali informasi tentang Naruto. Melihat dari nama Uzumaki, ia pasti berasal dari klan yang dimusnahkan oleh Kerajaan di pulau itu. Ia mencoba mencari silsilah Naruto, namun tak ada catatan atau dokumen yang bisa menunjukkan informasi tersebut.

Dia juga masih curiga, ada niatan apa sebenarnya dirinya menyembunyikan kemampuannya pada Koyuki dan orang orang Akatsuki selama ini. Jika dirinya bisa mengancam pemimpinnya, ia tak akan segan - segan berbuat…

"Tak perlu curiga denganku, Mabui." Suara Naruto menyadarkan Mabui dari pikirannya. Ia terkejut, karena isi pikirannya bisa diketahui oleh Naruto.

"Ah, itu hal mudah…" Naruto terkekeh melihat ekspresi Mabui.

Koyuki menatap bingung Naruto yang sedari tadi berbicara pada Mabui yang diam saja.

"Lihatlah, Koyuki-sama…" Bunyi nyaring terdengar dari bulatan chakra Naruto, yang sekarang berbentuk mirip shuriken.

Byush…

Slash…

DUAR….

Ledakan besar terdengar di kejauhan setelah jutsu yang Naruto buat, ia lepaskan.

"Kunamakan jutsu ini, Fuuton : Rasenshuriken"

Koyuki melihat bulatan chakra tadi melesat jauh ke atas pegunungan Yuki no Kuni, membelah lautan badai salju yang saat ini menyelimuti wilayahnya. Cahaya menyinari wilayah itu, sebelum akhirnya suara ledakan besar terdengar oleh mereka.

Hempasan angin kuat dapat dirasakan oleh Koyuki meski di dalam ruangan. Terlihat juga badai salju di luar seperti terbelah, dan mengubah arah angin badai tersebut.

"Jutsu yang luar biasa, Naruto. Kau bisa meledakkan sebuah desa kecil dengan itu." Koyuki terkesima dengan kemampuan yang baru saja Naruto perlihatkan, membuat dirinya tersenyum ke arah Naruto.

Syut

Syut

"Ada apa, Koyuki-sama?" Seorang anggota Akatsuki datang membawa pedangnya, setelah mendengar sebuah ledakan. Ia ingin memastikan pemimpinnya dalam keadaan baik - baik saja. Kemudian datang, anggota lain membelakanginya.

Koyuki yang mengetahui kedatangan mereka hanya mengangkat satu tangannya, "tak ada yang perlu dikhawatirkan." Koyuki menampakkan senyum senang. Ia mendapatkan seorang anggota baru yang mungkin punya kemampuan luar biasa.

"Zabuza, bisakah kau bersiap bersama Haku." Kata Koyuki pada Zabuza, yang tadi membawa pedang besar di punggungnya, "Kalian akan menemani, Naruto untuk pergi ke Tsuchi no Kuni."

Zabuza menganggukkan kepalanya. Ia hanya bisa menuruti kemauan pemimpinnya, terlebih sudah cukup lama ia tak mendapatkan misi dan hanya berjaga di Yuki no Kuni.

"Dan Mabui, persiapkan jubah untuk Naruto." Kata Koyuki pada Mabui yang sedari tadi diam.

"Baik Koyuki-sama."

"Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu bersama Naruto." Koyuki kembali berjalan mendekati Naruto yang tersenyum sumringah, "kalian bisa pergi."

Ketiganya kemudian pergi, memenuhi perintah pemimpinnya. Sementara itu Naruto dan Koyuki.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku, Koyuki-chan?"

"Hei, Mabui, apa ledakan tadi?" Zabuza berjalan beriringan dengan Mabui. Sementara itu, Haku pergi terlebih dahulu mempersiapkan keperluannya.

"Itu berasal dari pria berambut merah tadi." Kata Mabui singkat.

"Apa kau bercanda?" Zabuza tak percaya apa yang baru saja ia dengar, "Naruto tak pernah memperlihatkan kemampuan shinobi setinggi itu untuk bisa menciptakan ledakan dahsyat tadi."

"Jangan terkejut, aku juga tak percaya pada awalnya." Mabui menghentikan langkahnya, "Kau tahu, dia merupakan seorang Uzumaki."

Zabuza yang mendengar perkataan Mabui, menghentikan langkahnya, "Apa kau yakin?" Zabuza menatap Mabui yang menatapnya juga dengan tegas.

"Aku sudah menggali informasi tentangnya. Bisa dipastikan dia adalah seorang Uzumaki." Kata Mabui, "kau bisa melihat dengan rambut merahnya itu."

Zabuza menganggukkan kepalanya. Memang tak banyak orang yang memiliki rambut merah seperti itu. Semua orang berkepala merah yang ia pernah ditemuinya selalu berasal dari klan yang sudah musnah itu.

"Jika apa yang kau katakan benar, mungkinkah?" Zabuza melihat ke arah Mabui yang menganggukkan kepalanya.

"Mereka mungkin memiliki hubungan."

Zabuza bergidik ngeri. Tapi apakah itu mungkin. Jikalau demikian mereka punya hubungan, mungkin hanya sebatas sesama klan.

"Kita tak tahu pasti." Mabui melanjutkan langkahnya, "Kau akan bersamanya dalam misi ini, selalu awasi dia. Selagi aku mencari informasi lain."

"Baiklah."

Mereka berdua kembali berjalan dengan tenang. Hanya terdengar angin dan badai salju yang membahana di luar bangunan. Bangunan yang saat ini mereka gunakan merupakan markas utama dari Akatsuki. Tempat mereka merancang strategi, sekaligus kediaman para anggota utama.

Mabui memperhatikan pedang Kubikiribocho yang digendong Zabuza. Sepengetahuannya, pedang tersebut merupakan salah satu dari 7 pedang milik Mizu no Kuni. Entah dimana keberadaan 6 pedang lain. Zabuza tak pernah bercerita tentangnya.

"Hei, apakah aman meninggalkan Koyuki-sama bersama dengan Naruto?" Zabuza bertanya pada Mabui, setelah mengetahui informasi sebelumnya, ia jadi sedikit kepikiran dengan pemimpinnya yang begitu dekat dengan Naruto.

"Kurasa tak apa untuk saat ini. Kau tahukan bagaimana Koyuki-sama akan begitu marah jika mempertanyakan keputusannya?"

"Ya ya ya, kau ada benarnya."

Mereka berdua melihat ke arah kediaman Koyuki berada. Terlihat siluet Naruto dan Koyuki sedang berpelukan.

"Bukan apa - apa Naruto…" Tangan Koyuki mulai bermain dengan dada bidang milik Naruto, menikmati setiap lekukan otot yang terbentuk dari latihan kerasnya, "Kau tahu, kau punya badan yang begitu bagus… berbeda dengan dirimu satu minggu lalu.."

"Ahahaha," Naruto hanya dapat tertawa menanggapi.

"Tapi, aku tak peduli, bagaimana kau bisa mendapatkannya," Koyuki menjeda ucapannya, ia mulai membuka pakaian yang Naruto kenakan, "yang pasti, kau masih perkasa seperti biasanya, ne?"

Naruto merinding merasakan tangan lembut Koyuki yang mengelus setiap otot dan tubuhnya. Koyuki yang melihat aksinya sangat dinikmati oleh Naruto, melanjutkan kegiatannya. Setelah membuat Naruto telanjang dada, ia mendorong Naruto ke kasur, membuat mereka jatuh terbaring. Naruto membiarkan Koyuki untuk memimpin permainan mereka untuk saat ini.

"Tanganmu bisa kau gunakan, kau tahu?" Koyuki berkata di sela-sela permainannya. Naruto menuruti perkataan Koyuki. Tangan kekarnya bergerak ke arah bawah, meraba setiap lekuk tubuh indah Koyuki, hingga tiba di gundukan bawah milih Koyuki. Ia meremas benda itu hingga membuat Koyuki melenguh nikmat.

Kasur yang mereka gunakan sedikit berdecit. Suhu di sekitar mereka terasa hangat, meskipun di luar sedang terjadi badai salju. Mereka hanyut dalam sentuhan permainan pasangannya.

"Kurasa malam ini, aku tak akan bisa istirahat kembali." Gumam Naruto, yang dibalas tawa kecil dari Koyuki.

"Kau harus berhati - hati, Naruto." Koyuki memainkan 2 jarinya di atas dada Naruto.

"Tenang saja, Koyuki-chan. Mereka tak tahu apa yang akan dihadapi." Naruto memeluk Koyuki erat dan mencium atas kepalanya, sementara kepala Koyuki bersandar di bahu Naruto.

Mereka bermain cukup lama. Suasana dingin di luar membuat mereka bergairah dan mencari kehangatan satu sama lain.

Naruto harus berterimakasih pada chi-bunshinnya karena berhasil mendapatkan Koyuki Kazahana, wanita cantik dan seksi pemimpin Akatsuki.

'Dasar bodoh…'

'ah, suaramu baru kembali terdengar Kaguya. Darimana saja kau?" Tanya Naruto pada Kaguya.

'Aku mencoba beristirahat, sebelum akhirnya kalian bermain liar di luar sialan." Kaguya berkata dengan kesal.

'ahahaha… apa kau menikmatinya?' Naruto tertawa mendengar perkataan Kaguya.

'Cihh…'

"Naruto, apa kau memikirkan sesuatu?" Koyuki yang melihat Naruto sedari tadi diam, tidak menanggapi panggilannya mencoba mengelus kepala Naruto.

"Ah, Maaf Koyuki-chan… tak ada yang kupikirkan."

Koyuki menatap Naruto, lalu membiarkan kejadian tadi berlalu, "kurasa kau harus bersiap - siap sekarang. Ku yakin Zabuza dan Haku telah menunggumu."

Koyuki bangkit dari tidurnya, lalu menyibak selimut yang mereka gunakan. Terlihat ia tak malu memamerkan tubuh seksinya pada Naruto.

"Kau sangat seksi, Koyuki-chan…" Naruto yang melihat tubuh Koyuki kembali bersemangat. Juniornya kembali berdiri.

Melihat hal itu, Koyuki hanya tersenyum dan mengelus batang yang mulai mengeras lagi, "kau memang tak pernah, Naruto."

"Melihatmu dengan tubuh seksi, dan puting yang mengacung itu, sungguh sangat nikmat kau tahu." Naruto bangkit dari tidurnya, lalu memainkan payudara besar Koyuki.

Koyuki menikmati permainan tangan Naruto pada payudaranya. Sebelum ia tersadar dan mengalihkan tangan Naruto, "ingat kau harus pergi…"

Naruto yang melihat wajah lelah Koyuki, tersenyum, "baiklah… ku rasa kau memang harus berlatih kembali, Koyuki-chan… untuk menandingiku. Hhahah" Naruto tertawa, lalu masuk ke dalam kamar mandi.

"Dasar mesum"

"Hah, suasana yang menyejukkan.." Naruto menghampiri Zabuza dan Haku yang sudah menunggunya.

"Darimana saja kau?" Zabuza kesal karena dirinya menunggu Naruto hampir 1 jam dari waktu perjanjian.

Sementara Haku menatap aneh pada Naruto. Bagaimana bisa dia berkata hari yang menyejukkan ketika di luar sedang ada badai salju.

"Ah… hanya menghangatkan diri." Ucap Naruto santai. Ia tak mau menceritakan aktivitasnya bersama Koyuki, yah percuma saja karena mereka pasti sudah tahu.

Zabuza semakin jengkel mendengar jawaban Naruto, "Jika bukan karena Koyuki-sama, aku sudah memenggal kepalamu dengan Kubikiribocho."

"Ahahhhaha, humor yang bagus, Zabuza." Naruto tertawa, "baiklah, sekarang kita berangkat."

Zabuza menggenggam erat pedangnya, lalu berjalan mengikuti Naruto, diikuti Haku yang mengekor di belakang. Zabuza dan Haku kali ini akan mengikuti arahan Naruto karena ia ditunjuk Koyuki sebagai pemimpin tim.

Entah apa yang mereka pikiran hingga mau menembus badai salju.

"Semoga mereka bisa kembali dengan selamat." Mabui yang melihat kepergian mereka bertiga dari balik jendela ruangan Koyuki hanya bisa mendoakan.

"Tak apa, setelah melihat bagaimana ia dengan mudah membentuk chakra sepadat itu, ku rasa akan baik - baik saja." Koyuki menjawab perkataan Mabui.

"Terlebih, catatan ayah mengatakan bahwa sudah semakin dekat, keruntuhan Kerajaan."

"Ku harap juga begitu, Koyuki - sama." Mabui berjalan mendekati Koyuki yang sedang membaca catatan mendiang ayahnya.

Mabui merupakan seorang pelarian dari Kaminari no Kuni. Dia berhasil kabur dari wilayahnya itu dengan menumpang kapal logistik. Naasnya, kapal tersebut dihantam badai lautan sehingga membuatnya karam. Ia berhasil selamat karena sebuah tong. Selama beberapa hari ia terombang - ambing di laut, hingga akhirnya ia terdampar di Yuki no Kuni dan bertemu dengan Koyuki muda.

Sejak itu, mereka cukup dekat dan Mabui selalu berada di sisi Koyuki. Namun, pikirannya tertuju pada teman dan keluarganya di Kaminari no Kuni. Bagaimana mereka masih dalam cengkeraman tirani Kerajaan.

"Dia sudah datang…" Gumam Koyuki, menyadarkan Mabui dari pikirannya.

"Dia akan membawa perubahan dan menggulingkan kekuasaannya." Koyuki kembali berkata seraya membaca catatan.

"Apa kalian masih meragukan juga tentang penglihatanku di masa depan?" Orang ketiga yang sedari tadi diam, akhirnya ikut berbicara.

Koyuki dan Mabui melihat ke arah orang tersebut. Rambut kuningnya tergerai indah, dan mengenakan pakaian cukup terbuka di tengah suasana dingin Yuki no Kuni.

"Cuaca disini sangat tidak bersahabat denganku" Shion bergumam pada dirinya sendiri sembari mengusap - usap telapak tangannya untuk mencari kehangatan. Koyuki dan Mabui menatap aneh ke arahnya, membuat Shion bertanya.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu? menjadi seorang Gadis Kuil sepertiku, selalu memakai pakaian yang merepotkan." Shion memainkan rambutnya, "Terlebih tidak tiap hari aku mengenakan pakaian seperti ini." Lanjutnya.

Mabui hanya menepuk jidatnya, sementara Koyuki hanya menggerutu. Dia sebenarnya tahu maksud Shion dalam mengenakan pakaiannya seperti ini.

"Cih"

"Hum hum hum" Shion hanya bergumam tanpa dosa, melihat ekspresi Koyuki, yang sepertinya tahu niatnya.

Koyuki kembali menghela nafas, ia juga tak punya hak untuk melarang Naruto berhubungan dengan siapapun.

Mabui yang merasakan aura kurang enak segera memecah keheningan dari keduanya. "Semoga, catatan penglihatan mending ayah Anda dan ramalan nona Shion benar adanya, Koyuki - sama." Dia sudah muak hidup seperti ini. Hidup dalam bayang bayang tirani dan selalu ada pertumpahan darah. Perlakuan mereka sangat keterlaluan jika kembali diingat olehnya.

"Aku harus membalas kematian… Kaa-sama…"

"Mereka akan menanggung akibatnya… Uchiha…"

Yups, musuh utama di cerita ini adalah Uchiha...

Terimakasih atas Kunjungannya.