Sejak kejadian itu, aku terus menghindari Jack, berusaha untuk tidak berpapasan maupun mengobrol banyak dengannya. Selama rapat Osis maupun koordinasi mengenai pekerjaan Osis aku berusaha bicara seperlunya. Dengan Mary juga aku berusaha bersikap biasa saja seakan aku tidak melihat kejadian kemarin.
Jika memang Jack dan Mary berpacaran, tidak seharusnya aku menyukai Jack. Mary merupakan teman yang baik, tidak seharusnya menyukai pacar sahabatmu kan.
Tapi.. aku belum begitu yakin. Aku belum mendengar sendiri dari Jack dan Mary. Mengapa mereka merahasaikan hubungan mereka?
Blonde!
Harvest Moon by Natsume
Warning: Typo, OOC, AU (Alternate Universe), dll.
.
.
Enjoy~
"Claire, bisa temani aku belanja keperluan untuk pentas kita festival musim panas nanti? Ada beberapa properti yang belum lengkap," ucap Marlin kemudian meneguk minuman air putih dingin yang sudah disediakan untuk para anggota teater yang latihan. Walaupun sudah agak sore, matahari masih memancarkan panasnya di musim panas ini.
Claire yang disebelahnya sedang menegak minuman dingin, kemudian menoleh ke arah senior nya itu, "Kapan senpai?" tanya Claire.
"Besok setelah pulang sekolah, mumpung besok libur latihan," balas Marlin kemudian menutup minumannya dan mulai membereskan barang-barangnya. Claire terdiam sebentar mengingat apakah tugasnya di Osis masih ada, "kemarin Muffy minta tolong aku menghubungi vendor makanan dan minuman sih, tapi bisa kukerjakan siangnya di ruang Osis," batin Claire.
"Bisa sih senpai," balas Claire.
"Oke! Jam 3 sore kutunggu di depan sekolah ya," ucap Marlin semangat, "Oh ya, aku akan bawa mobil, karena kemungkinan kita akan bawa banyak barang," sambung Marlin lagi sambil merangkul tas ranselnya.
"Siap senpai! Wow, senpai bisa naik mobil," ucap Claire kagum sambil memasukkan barang-barangnya ke tasnya. "Yah, orang tua ku sering minta antar-jemput jadi mulai diajari sejak tahun lalu," ucap Marlin kemudian terkekeh. Claire mendengarnya mengangguk, kemudian merangkul tasnya.
"Apakah anggota lain ikut?" tanya Claire mulai berjalan berbarengan dengan Marlin menuju keluar ruangan ekskul teater. "Tidak, mereka ada yang menyiapkan kostum dan mulai membuat properti," jelas Marlin.
"Apa tidak apa? Nanti aku jadi beban lagi pas lagi belanja," ujar Claire sambil mengusap tengkuknya. Marlin mendengarnya tertawa kemudian mengangkat tangannya dengan gaya sambil menunjukkan bisepnya, "tenang aja, senpai mu ini kuat bawa banyak barang," ujarnya dan dibalas dengan tawa Claire. "Lagipula aku ga mungkin menyuruhmu angkat-angkat barang, aku hanya butuh teman kesana dan meminta pendapat soal kualitas barang dan harganya," sambung Marlin lagi.
"Siap senpai, aman kalo soal itu," ujar Claire mantap sambil mengacungkan jempolnya. Marlin membalasnya dengan mengacung jempol dan senyum khasnya.
Marlin kemudian menatap Claire yang sedang memakai bando yang baru diberikan Gray kemarin, "Bando mu bagus, cocok dengan rambut pirangmu," ucap Marlin sambil menatap Bando dan muka Claire bergantian.
Claire mendengarnya tersipu malu sambil menunduk, "Te-terima kasih, senpai."
Melihat Claire yang tersipu malu tanpa disadari membuat Marlin menggerakan tangannya untuk menepuk pelan kepala Claire, ditengah Marlin akan mengangkat tangannya tanpa mereka sadari, ada seseorang menghampiri mereka.
"Hey," sapa Gray tiba-tiba sambil mengangkat tangannya dengan gestur menyapa.
"Hey?" ucap Claire agak kaget dan langsung menoleh ke arah suara. Marlin yang mendengar ada yang menyapa, langsung menarik kembali tangannya dan menoleh ke arah pemilik suara.
"Marlin, boleh pinjam Claire nya sebentar?" ucap Gray datar sambil menatap Marlin.
"Oh, silahkan, kami sudah selesai latihan juga," balas Marlin datar kemudian menoleh ke arah Claire dan dibalas dengan anggukan Claire. "kalau begitu, aku pulang dulu Claire," ucap Marlin sambil menatap Claire seakan mengacuhkan Gray yang berdiri di samping mereka.
"Oke senpai, hati-hati di jalan," ucap Claire kemudian melambaikan tangannya ke Marlin yang mulai berjalan.
"Oh ya, jangan lupa besok ya," ucap Marlin menoleh kembali ke Claire yang sudah dibelakangnya kemudian mengedipkan matanya.
Claire melihatnya tertawa kecil dan mengacungkan jempol, disambut dengan senyum Marlin dan kembali berjalan meninggalkan mereka.
"Ada apa Gray—? He? Kenapa raut wajahmu seram banget," ucap Claire terkejut ketika ia menoleh ke Gray dan melihat Gray dengan muka masam nya sedang menatap Marlin yang berjalan menjauh.
"Nothing," balas Gray singkat kemudian wajahnya mulai melembut ketika berganti menatap Claire. Gray tersenyum tipis mendapati Claire memakai bando yang ia berikan. "Kamu gak suka sama Marlin senpai ya?" tebak Claire sambil menyipitkan matanya kepada Gray.
"There's something off about him," balas Gray sambil memutar matanya. Claire mendengarnya tertawa lepas, "kamu belom ketemu macem-macem anak teater lain," balas Claire sambil memukul pelan pundak Gray.
"Bukan, bukan karena anak teater nya," balas Gray cepat kemudian menurunkan topinya. Claire menatap Gray bingung, "terus?"
"Abaikan," balas Gray cepat lagi. Claire mendengarnya cemberut kemudian mulai berjalan menjauhi Gray.
Gray melihat Claire menjauh mulai mengikuti langkahnya, "Aku mau bahas cash flow acara festival musim panas," ucap Gray ketika sudah menyamakan langkah Claire. Claire mendengarnya berhenti melangkah dan menatap Gray, "Sambil beli minum dingin yang manis yuk di kantin," ucap Claire sambil menunjuk ke arah Kantin. Gray tersenyum tipis dan mengangguk.
.
.
"Untuk sekarang, pengeluaran cukup banyak dan uang yang ada tinggal sedikit, menurutku kita belum bisa menambah vendor games festival lagi," jelas Claire sambil menunjukkan buku keuangan acara festival musim panas. Gray yang mendengarkan penjelasan Claire sambil menyeruput cola dingin kemudian mengangguk. Suasana kantin sudah mulai sepi, hanya satu stand minum yang buka dan hanya terlihat beberapa murid kelas X duduk di beberapa meja kantin. Murid tingkat lain ada yang sudah pulang atau sedang mengikuti ekskul.
"Aku akan coba bicara dengan Pak Thomas soal pengeluaran dan kebutuhan acara ini, bisa minta laporan keuangannya?" jelas Gray sambil menunjuk buku yang dipegang Claire.
Claire mengangguk, "Boleh, tapi aku mau merapihkan dulu dan akan kubuat salinannya untuk diberikan ke Pak Thomas," jelas Claire membolak balik halaman buku yang dimaksud. "Mungkin bisa kuberikan besok siang di Ruang Osis, kau ke ruang osis? Aku mau ke ruang osis besok siang saat istirahat," ucap Claire lagi kemudian menyeruput es jeruk yang dipesannya.
"Oke, kita ketemu di ruang Osis besok siang," ucap Gray kemudian mengangguk. "Kau mau ngapain memangnya di ruang osis?" tanya Gray.
"Muffy minta tolong aku untuk menghubungi beberapa vendor makanan dan minuman, aku akan pakai telepon yang di ruang Osis," jelas Claire kemudian mengaduk-aduk es jeruknya.
"Okay," ucap Gray. Kemudian keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing. Gray menunduk sedikit kemudian mengintip Claire dari balik topinya, ia melihat Claire sedang melamun sambil menopang dagu nya dengan tangan kanannya dan tangan kiri nya memegang gelas es jeruknya. Gray kembali tersenyum tipis melihat rambut pirang Claire dihiasi dengan bando yang ia berikan.
Gray berdehem memecah kesunyian, "Jadi, besok kau ada janji dengan Marlin?" ucap Gray tiba-tiba.
Claire langsung tersadar dari lamunannya kemudian menatap Gray, "Ehm, iya, besok sepulang sekolah kami mau belanja keperluan untuk pentas teater di festival musim panas ini," jelas Claire.
"Kau cukup dekat ya, dengan Marlin," ucap Gray pelan sambil menarik topinya sedikit. Claire mendengar ucapan Gray agak sedikit kaget kemudian memiringkan kepala nya dan tertawa, "Dia hanya senior yang ku hormati," balas Claire sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Tapi, dia senior yang baik sih, banyak membantu juga supportive," ucap Claire lagi kemudian tersenyum tipis. Gray terdiam mendengar jawaban Claire. "Ga kayak senior yang satu ini," canda Claire kemudian menjulurkan lidah ke Gray.
Gray mendengus kemudian menyeringai, "Kalau aku jadi baik, nanti kau suka lagi padaku," ucap Gray sambil mengangkat bahunya.
Claire mendengar ucapan Gray mukanya langsung memerah dan melototi Gray, "Pede sekali!" ucap Claire hampir seperti teriakan. Gray hanya terkekeh menanggapi Claire yang salah tingkah.
Jantung Claire berdetak cukup cepat membuat diri nya sendiri bisa mendengar detak jantungnya, reflek Claire menunduk dan menekan bagian dada nya berharap suaranya sampai tidak terdengar oleh Gray, "Kenapa aku salah tingkah coba?" batin Claire.
"Claire!" seru seseorang dari belakang Claire.
Claire yang sedang larut pada pikirannya terkejut dan langsung menoleh ke arah suara dan juga diikuti oleh Gray. Mereka mendapati Ann sedang berdiri sambil membawa soda dingin kemasan di kedua tangannya, Claire langsung melambaikan tangannya ke Ann. Ann menanggapinya dengan senyum sumringah nya kemudian berubah menyeringai ketika mendapati Claire tidak sendirian, ia langsung menghampiri meja Claire.
"Oh, halo Kak Gray," ucap Ann sopan ketika sudah berdiri di samping meja mereka. Gray membalas nya dengan mengangguk.
"Ann, belum pulang?" ucap Claire menatap Ann dengan senyum lebarnya.
"Belum nih, baru selesai ekskul tata boga," jelas Ann. "Sekalian mau ketemu Cliff ya?" goda Claire sambil melihat dua minuman yang dibawa Ann. Mendengar hal tersebut, Ann langsung memerah mukanya, kemudian mendekati wajahnya ke telinga Claire, "Kamu juga ya! Sekarang makin dekat dengan Kak Gray aja, setelah kejadian teater waktu itu," bisik Ann sepelan mungkin.
Mendengar itu, muka Claire tidak kalah merah juga, memerah karena itu kejadian yang cukup memalukan buatnya karena saat itu ia melakukan kesalahan, "ihhhhh Annn, kami cuma teman saja," bisik Claire sebal sambil mencubit pipi Ann.
Ann merintih kesakitan tapi tak bisa membalas Claire karena kedua tangannya penuh, jadi ia hanya cemberut dan menjulur lidahnya ke Claire. Kemudian mereka berdua tertawa bersama. Gray hanya menatap kedua sekawan itu dengan bingung.
"Ya sudah, aku duluan ya," ucap Ann dibalas dengan anggukan Claire. "Duluan Kak Gray," pamit Ann kepada Gray kemudian dibalas dengan anggukan Gray.
Setelah Ann meninggalkan mereka, Claire menghela nafasnya kemudian tertawa kecil, "Dasar Ann," ujar Claire.
"Cliff dan Ann sudah jadian ya?" tanya Gray. Claire mengangguk antusias, "Iya, sudah hampir dua bulan."
"Pantas setiap latihan basket beberapa minggu ini aku melihat Ann di tempat latihan basket," ujar Gray sambil mengingat. Claire mendegarnya tertawa kecil membayangkan Ann lagi jadi bucin.
"Ngomong-ngomong kau tidak latihan basket hari ini?" tanya Claire menatap Gray.
"Hari ini banyak yang harus kukerjakan terkait festival dan ingin istirahat saja, lagipula aku sudah tingkat akhir, yang paling membutuhkan latihan kan anak kelas X dan XI," jelas Gray kemudian meminum kembali Cola nya. Claire mendengarnya mangut-mangut kemudian mengangguk.
Menyadari makin sore, Claire langsung melihat jam tangannya, "Wah, sudah jam 5 Sore, aku duluan ya," ucapnya kemudian menyeruput habis es jeruk nya dengan cepat.
"Iya, ku antar kau pulang," ujar Gray yang ikut segera menghabiskan cola nya dengan cepat.
Claire mendengarnya terkekeh, "Seneng bgt sih anter aku pulang," goda Claire sambil memasuki barang-barangnya yang masih di atas meja.
Gray langsung menurunkan topinya sedikit, "Ya bukannya tidak baik perempuan pulang sendiri kalau sudah makin gelap? Ibu mengajarkan ku begitu, aku juga sering menjemput Ran kalau sudah terlalu malam," jelas Gray.
Claire tersenyum tipis, "Terima kasih Gray, tetapi hari ini aku ada janjian dengan mama ku di stasiun kereta, kami mau makan malam bersama," ucap Claire senang dan mulai merangkul tas nya.
"Wah, Have fun Claire, tumben mama mu tidak pulang malam," ucap Gray ikut senang mendengar cerita Claire.
"Maka dari itu, aku excited banget hari ini," ucap Claire kemudian tersenyum lebar. Melihat itu, Gray juga ikut tersenyum.
"Kalau begitu, aku anter sampai stasiun kereta saja," usul Gray kemudian mulai berdiri diikuti Claire.
"Tidak perlu Gray, kau pulang saja dan istirahat hari ini, deket juga stasiun nya," ucap Claire sambil menepuk-nepuk pundak Gray.
Gray menatap Claire agak lama dan dibalas dengan tatapan Claire yang berbinar meyakinkan Gray bahwa tidak apa-apa.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya," ucap Gray pada akhirnya dan dibalas dengan acungan jempol dan senyum lebar Claire.
"Amannn! Aku duluan yaa, hati-hati juga kau pulangnya," ucap Claire mulai melangkah menjauh dan melambaikan tangannya kepada Gray.
Gray mengangguk dan tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya kepada Claire.
"Oh ya Claire," seru Gray tiba-tiba membuat Claire berhenti melangkah yang belum terlalu jauh dari Gray dan menoleh ke arah Gray yang berada dibelakangnya.
"Bando nya sangat cocok dengan mu," ucap Gray kemudian tersenyum tipis.
Ucapan Gray membuat muka Claire memerah dan menyentuh bando yang ia kenakan, "terima kasih Gray," ucap Claire kemudian tersenyum lebar.
.
.
.
.
.
Esok hari nya..
Siang hari ini, cukup panas di Kota Mineral, hembusan angin di siang hari membuat hawa semakin panas. Tetapi tidak menghalangi warga kota di Kota Mineral untuk beraktivitas, terutama Mineral High School yang ramai dengan para muridnya yang sedang istirahat. Udara panas dan angin pada musim panas ini sudah membuat para murid mulai terbiasa.
Claire sedang mengibas-ngibas mukanya dengan kertas bekas di tangan kanannya dan tangan kiri nya sedang menelusuri kumpulan nomer telepon yang akan dia telepon selanjutnya. Cuaca yag cukup panas membuat Claire mengikat rambut pirangnya yang panjang agar membuat ia lebih nyaman di cuaca yang cukup panas. Walaupun ruang Osis dilengkapi dengan kipas angin, tidak cukup membuat ruangan Osis di tengah musim panas ini menjadi sejuk.
"Hmmm, aku akan coba telepon vendor ini," gumam Claire kemudian mulai mengangkat gagang telepon di hadapannya dan mulai memencet nomer telepon yang ia tunjuk.
Claire sedang sendirian di ruangan Osis, ia sedang mengerjakan yang dimintai tolong Muffy untuk menghubungi vendor makan dan minuman yang bisa buka stand di festival musim panas di Mineral High School.
Setelah beberapa menit, Claire menutup telepon yang barusan ia hubungi kemudian memberikan tanda check di nama vendor tersebut. Bersamaan dengan itu, Claire mengangkat minuman kaleng dingin rasa strawberry-nya dan langsung meneguknya.
Krieet
Suara pintu ruang Osis terbuka pelan, Claire langsung menoleh ke arah pintu dan menemukan Gray dengan muka kelelahannya memasuki ruangan perlahan.
"Hey," sapa Gray menduduki bangku yang berada di hadapan Claire kemudian menyenderkan punggungnya ke bangku sambil membuka topi nya.
"Oh what a mess," komentar Claire mendapati Gray yang cukup berkeringat, terlihat rambut Gray terlihat lepek setelah topinya terbuka dan satu kancing kemeja sekolah nya dibuka satu.
"Jack mengajak ku latihan basket," ujar Gray dengan nada suara kesal sambil mengibas-ngibaskan topinya di depan muka. Claire sekilas bergidik ketika mendengar nama Jack.
"Di lapangan saat lagi panas begini?" tanya Claire kaget. "Tidak, di lapangan indoor, tapi tetap saja," keluh Gray lagi.
Claire hanya tertawa kecil mendengarnya, kemudian ia teringat membeli minum lebih, "Ini, aku beli dua," ucap Claire kemudian menyondorkan minuman kaleng dingin rasa apel.
"Sweet! Thanks, Claire," ucap Gray senang kemudian menerima minuman dari Claire. Claire membalas nya dengan acungan jempol.
Saat Gray sedang menegak minumannya, ia melirik Claire menggunakan kembali bando yang ia berikan dengan gaya rambut yang diikat. Melihat itu Gray menjadi tersenyum simpul.
Claire kemudian mengeluarkan laporan keuangan yang sudah disalinnya, "Ini, sudah bisa diserahkan ke Pak Thomas," ujar Claire meletakkan dokumen yang dimaksud di hadapan Gray.
"Terima kasih Claire," ujar Gray setelah meletakkan minumannya. "Kapan kau akan ketemu Pak Thomas?" tanya Claire sambil melihat list nomer telepon di hadapannya kembali.
"Sore ini, selesai kelas," balas Gray sambil membaca laporan keuangan yang diserahkan Claire. Claire hanya mengangguk sebagai balasan.
"Sudah selesai menghubungi vendor nya?" tanya Gray kemudian menatap Claire yang masih sibuk dengan list yang ia pegang.
"Belum semua, tapi yang ku telepon sudah memenuhi kuota stand yang akan dibuka di festival nanti," jelas Claire kemudian menutup buku list dihadapannya.
"Wah, okay, thank you," ucap Gray kemudian tersenyum. Claire menopang dagunya kemudian menatap Gray, "Sering senyum gitu dong, kan keliatan lebih cakep, marah mulu cepet keriput loh," canda Claire kemudian tertawa geli.
Gray yang mendengar hal tersebut dan ditatap seperti itu oleh Claire, langsung merasakan mukanya panas, ia tahu pasti mukanya memerah dan langsung membuang mukanya cepat berhubung topinya sekarang sedang tidak ada di kepalanya.
"Hehe salah tingkah ya," goda Claire lagi kemudian menyeringai.
Gray berdehem, "shut up," ucap Gray pelan kemudian menegak minumnya lagi sampai habis. Claire melihat tingkah Gray hanya terkekeh. "Benar kata Mary, Gray tidak seburuk itu," batin Claire yang masih menatap Gray yang sedang menunduk menutupi mukanya.
Claire kemudian kembali menyeruput minumannya, "Gray kan tau aku suka Jack tapi aku tidak tahu dia suka siapa, masa orang yang paling banyak fans nya ini tidak ada yang tersangkut satu?" batin Claire lagi tiba-tiba terpikir hal tersebut.
"Hey, kau tidak punya orang yang kau suka?" tanya Claire gamblang sambil menatap Gray serius.
Mendengar ucapan Claire membuat Gray benar-benar sudah tidak bisa menyembunyikan muka merah nya dan melototi Claire terkejut dengan ucapannya, "kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?" ucap Gray agak tercekat merasa tidak diberi ruang bernapas dengan tingkah Claire daritadi.
Claire terkekeh melihat ekspresi Gray yang belum pernah Claire lihat sebelumnya, "Kau cakep, fans mu di sekolah ini paling banyak," ucap Claire sambil menunjuk jari-jari nya sendiri menunjukkan jumlah alasan yang disebutkan satu per satu. Ucapan Claire benar-benar berhasil membuat Gray seperti kepiting rebus, Gray langsung mengambil topinya dan mengenakannya agak turun untuk menutupi mukanya, "Bagaimana bisa kau sesantai itu mengatakan hal seperti itu?" ucap Gray agak tercekat merasa tenggorokannya kering.
"Aku hanya bicara jujur," ucap Claire santai sambil mengangkat pundaknya. Gray menghela nafas panjang, "Aku tidak punya fans banyak, kau tau darimana," balas Gray sebal menanggapi ucapan Claire tadi.
"Murid-murid perempuan pada bilang gitu, apalagi kalau kau lagi main basket, kan pada teriakin nama mu," jelas Claire sambil mengingat-ingat apa yang ia lihat sendiri. Mendengar itu, Gray mengusap tengkuknya, "itu bukannya mereka lagi menyoraki saja? Olahraga kan memang ramai itu" ucap Gray polos dan bingung. Claire menghela nafas panjang mendengar kepolosan Gray, ntah pura pura polos atau memang bodoh Ketua Osis nya ini.
"Astaga Gray," ucap Claire menepuk dahinya. Gray hanya diam kemudian mengangkat bahunya.
"Heh, jangan mengalihkan pembicaraan, bukan itu yang kita bahas tadi!" seru Claire sambil menunjuk Gray. Gray merasa tertangkap bahas langsung membuang muka nya.
Krieeett
Terdengar suara pintu ruang Osis terbuka, Gray dan Claire langsung menoleh ke arah pintu.
"Oh dang it," umpat Claire kemudian langsung menunduk ketika melihat orang yang diambang pintu tersebut.
"Oh! Kau disini ternyata," seru Jack dari ambang pintu kemudian menghampiri Gray. Gray yang merasa namanya disebut menghela nafas panjang, ntah karena lega ia tidak perlu menjawab pertanyaan Claire, atau kesal karena Jack ternyata masih mencarinya daritadi.
"Ada apa?" tanya Gray malas ketika Jack sudah berdiri di sampingnya. "Kita belum selesai latihan, kau sudah pergi, katanya ke toilet aja," ucap Jack dengan nada sedih sambil merangkul Gray kemudian mengacak-acak topinya. "Eh ternyata mau ketemu Claire toh," ucap Jack lagi dengan nada menggoda kemudian menyengir ke Claire yang sedang membereskan barang-barang nya di atas meja.
"Hehehe dia butuh laporan keuangan untuk diserahkan ke Pak Thomas," ucap Claire cepat tanpa menoleh ke arah Jack.
"Hoo urusan Osis ya Gray," goda Jack lagi kemudian menoleh ke Gray yang sudah dengan muka malasnya. "Kau bilang sudah selesai tadi," bela Gray.
"Aku duluan ya Jack dan Gray, ada yang kuurus lagi," pamit Claire dengan tawa canggungnya kemudian berdiri dari tempat duduknya, menunduk pamit, dan melenggang keluar ruangan.
Gray hanya menatap Claire yang berjalan cepat keluar ruangan, dan Jack melambaikan tangannya ke Claire, "Dadah Claire," seru Jack sebelum Claire menutup pintu ruang Osis.
"Perasaan ku saja, atau Claire agak berubah," ucap Jack melepaskan rangkulannya ke Gray dan menatap Gray sambil berkecak pinggang.
Gray hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
.
.
.
Sore harinya di lapangan depan sekolah terlihat ramai karena para murid Mineral High School baru selesai dengan kelasnya, ada yang sedang mengobrol dengan teman-temannya, ada yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang, dan ada yang sedang bermain bola. Sore ini sudah tidak sepanas siang tadi, angin yang berhembus terasa cukup sejuk ditengah musim panas ini.
Gray keluar dari kelasnya bersama Jack sambil mengobrol santai, Gray sudah memegang laporan keuangan yang akan ditunjukkan ke Pak Thomas setelah ini.
"Aku mau ke ruang Pak Thomas habis ini, kau mau ikut?" ucap Gray menoleh ke Jack.
"Boleh, kau mau mengajukan anggaran lagi kan?" balas Jack sambil membenarkan topinya yang miring. Gray mengangguk sebagai jawaban.
"Oke, lets go," ucap Jack semangat sambil mulai melangkah lebih cepat. Gray tidak mempedulikan Jack yang sudah melangkah lebih cepat darinya dan tetap dengan berjalan santai.
Saat itu, mereka sedang melewati lorong sekolah yang menghadap gerbang sekolah. Di ujung mata Gray, ia mendapati seseorang dengan surai pirangnya yang sedang berjalan membelakanginya menuju gerbang sekolah. Hal itu membuat Gray menoleh langsung ke orang tersebut. Ia mendapati Claire sedang berjalan bersama Marlin yang sedang asyik mengobrol. Gray seketika berhenti dari langkahnya dan menatap mereka dengan sendu.
"Oi, ayo!" seru Jack tiba-tiba membuat Gray pecah dari lamunannya dan mulai melangkah kembali mendekati Jack yang sudah melambai-lambaikan tangannya, "Iya, iya," jawab Gray datar.
.
.
.
"Persimpangan yang di depan belok kiri, senpai," ucap Claire sambil menunjuk persimpangan yang dimaksud. Marlin mengangguk kemudian mulai mendorong tuas lampu sein mobilnya ke arah kiri.
Saat ini Claire sedang di mobil Marlin menuju rumah nya, Marlin menawarkan untuk mengantarnya setelah berbelanja di pusat kota untuk kebutuhan pentas teater ekskul mereka di festival musim panas nanti.
"Rumahmu agak jauh ya dari sekolah," komentar Marlin sambil tetap fokus menyetir.
Claire mengusap tengkuknya, "Lumayan sih, maaf senpai jadi harus anter aku sampai rumah," ucap Claire merasa bersalah.
"Tidak, tidak, aku jadi membayangkan kau harus menempuh jarak yang cukup jauh setiap hari nya untuk sekolah," jelas Marlin agak panik sambil menatap Claire sekilas kemudian kembali menatap jalan di depannya. Claire menanggapi dengan tertawa kecil, "Kalau setiap hari rasanya tidak terlalu jauh juga sih," ucap Claire.
Marlin tersenyum simpul, "Kau memang hebat, dengan segala kesibukan mu," puji Marlin sambil membelokkan stir mobil nya ke arah kiri. Pujian Marlin membuat muka Claire memerah, "terima kasih senpai," jawab Claire kemudian tersenyum. Marlin hanya tersenyum membalas ucapan Claire.
"Rumahku yang pagar oranye itu, senpai," ucap Claire sambil menunjuk rumah yang dimaksud. "Oke," balas Marlin mulai menepikan mobilnya ke arah rumah yang dimaksud.
"Makasih banyak senpai sudah mengantar ku pulang," ucap Claire dengan senyum lebarnya menatap Marlin yang sedang menarik rem tangan mobilnya.
"Tidak masalah, Claire, terima kasih juga sudah menemani ku hari ini," ucap Marlin membalas senyuman Claire sambil menunjuk barang-barang yang berada di kursi belakang dengan jempolnya.
"Dengan senang hati," ucap Claire mantap sambil mengacungkan jempolnya. "Baiklah aku duluan senpai, hati-hati selama perjalanan kembali," ucap Claire dengan senyum manisnya. "Teirma kasih Claire," ucap Marlin dengan mukanya yang agak memerah sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari manisnya.
Claire mengangguk kemudian memutar badannya ke arah pintu mobil, bersiap membuka pintu, "Uhm, Claire," ucap Marlin tiba-tiba, mendengarnya Claire kembali memutar badannya menghadap Marlin.
"Ya, senpai?" tanya Claire dan menatap senpai nya itu. Marlin terdiam sebentar, Claire tetap menatapnya dengan bingung.
"Apakah ada orang yang sedang kau sukai?" tanya Marlin kemudian sambil menatap Claire serius.
Pertanyaan Marlin berhasil membuat muka Claire memerah, "Ah, orang yang disukai?" ucap Claire mengulang pertanyaan Marlin dengan kikuk. Marlin mengangguk pelan dengan tetap menatap Claire.
Claire terdiam sebentar, "Jack sepertinya sudah tidak bisa menjadi orang yang kusukai," batinnya sambil menunduk, kemudian kembali menatap senpai nya yang masih menunggu jawaban.
"Tidak ada sih, senpai," jawab Claire akhirnya, Marlin mendengarnya tersenyum lebar.
"Ah, I see, okay Claire terima kasih sudah mau menjawab,"balas Marlin senang. Claire memiringkan kepalanya, "Kenapa memangnya, senpai?" tanya Claire penasaran. "Tidak ada, penasaran saja," balas Marlin tetap dengan senyumnya. Claire hanya mangut-mangut menanggapinya.
"Baiklah, sampai ketemu besok di latihan, senpai," ucap Claire mulai membuka pintu mobil.
"Tentu Claire, sampai ketemu lagi," ucap Marlin bersamaan dengan Claire menuruni mobil Marlin. Claire menangguk kemudian melambaikan tangannya sebelum menutup pintu mobil Marlin. Terlihat dari jendela mobil Marlin sedang melambaikan tangannya juga kemudian mulai menjalankan mobilnya.
Claire masih memandangi mobil Marlin yang berjalan meninggalkan rumahnya dan sampai akhirnya hilang di persimpangan jalan. "Sepertinya aku kena karma, karena habis nanya hal itu ke Gray dan sekarang aku yang ditanyai," batin Claire tertawa geli sambil berjalan ke arah pintu depan rumahnya.
"Tapi tiba-tiba sekali Marlin senpai menanyakan hal seperti itu, tidak mungkin dia suka padaku…, sepertinya," batin Claire lagi sambil membuka pintu rumahnya dengan kunci rumah yang dibawanya. "Aku menanyakan hal begitu ke Gray bukan berarti aku suka Gray juga, jadi kayaknya bukan karena Marlin senpai suka denganku sih," batin Claire larut dengan pikirannya, ia sambil membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Ia melihat sepatu kerja ibunya yang biasanya dipakai sudah ada di rak sepatu. "Aku pulang," seru Claire.
"Selamat datang kembali," sahut Mama Claire dengan lembut. Claire dengan antusias menghampiri asal suara tersebut. Ia mendapati mama nya sedang menyeruput teh sambil membaca buku di ruang tamu.
"Tumben mama sudah pulang?" tanya Claire senang sambil duduk di sebelah ibunya dan menyenderkan kepalanya ke pundak ibunya yang masih sambil membaca.
"Kan sudah jam 8 malam, nak," ucap mama Claire sambil mengusap kepala anaknya sambil tetap membaca bukunya. "Jam 8?" ucap Claire terkejut kemudian menoleh ke arah jam yang berada di ruang tamu. Jam menunjukkan pukul 08.15 PM.
"Astaga udah malem juga ya," ucap Claire menepuk jidatnya. Mama Claire hanya tertawa kecil, "Bagaimana tadi belanja keperluan teaternya?" tanya Mama Claire sambil menarik pembatas buku yang dibacanya dan menutup bukunya kemudian menoleh sedikit ke Claire yang sedang bersender dipundaknya.
"Seru ma, kalo jalan-jalan kan seru," ucap Claire antusias. Mama Claire tertawa kecil mendengar jawaban anaknya, "Gimana tadi senpai mu?" tanya Mama Claire sambil menyeringai. Claire mengangkat kepalanya dari pundak mamanya dan menatap mama nya bingung, "Marlin senpai? Gimana apanya ma? Baik-baik aja kok, dia tidak membebankan ku macem-macem, dia juga banyak menayaiku pendapat," jelas Claire.
"Ohh, lebih baik dari Gray?" tanya mama Claire memutar badannya ke arah Claire sambil menopang kepalanya dengan satu tangan dengan posisi kepalanya menyamping.
"Ma? Kenapa jadi Gray?" seru Claire kaget dengan mukanya yang full merah mendengar pertanyaan mamanya.
"Loh, kan kamu sering banget cerita soal Gray, kamu sampe udah ketemu mama dan adiknya loh, mama aja belom ketemu Gray," goda mama Claire sambil menyeringai.
"Maaaaaaaa," erang Claire sambil menutup mukanya. Mama Claire hanya tertawa melihat anaknya yang sedang salah tingkah.
"Aku mau mandi dan istirahat," ucap Claire dengan nada ngambeknya kemudian berdiri dari duduknya. "Baiklah anakku," ucap mama Claire dengan nada bercanda, Claire hanya memutar bola matanya kemudian mulai berjalan ke tangga.
"Mama tidak istirahat?" tanya Claire sebelum menaiki tangga. "Belum, nunggu papa pulang, katanya udah di jalan," ucap mama Claire yang sudah berkutat kembali dengan buku nya. "Okay, selamat istirahat ma," ucap Claire mulai menaiki tangga. "Selamat istirahat juga," balas mama Claire.
Claire memasuki kamarnya, meletakkan tas sekolahnya di samping meja belajarnya, setelahnya ia melangkah ke cermin yang ada di kamar nya. Claire menatap dirinya di cermin dan mulai melepaskan ikatan rambutnya, setelah rambut pirangnya terurai ia mulai menarik bando yang Gray berikan untuknya. Sebelum Claire meletakkannya, ia memandangi bando tersebut.
"Did I really talks so much about Gray?"
.
.
.
.
a/n:
Hai! Maaf lagi, karena update lama :')
Sebenarnya chapter 9 dan chapter 10 nanti merupakan satu chapter, tapi kulihat-lihat ternyata terlalu panjang, jadi ku bagi dua aja, jadi chapter selanjutnya ga akan lama update nya setelah ini hehe
Semoga suka dengan chapter ini!
Terima kasih banyak yang sudah membaca dan meninggalkan review
Archangela13 : Terima kasih terima kasihhh, senang sekali masih ada yang menikmati Graire (Gray – Claire) :') Semoga suka ya di chapter ini :3
Have a good day, mind to RnR?
