Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Konoha Horror Story © Elevtron
Rating : T
Genre : Horror, Mystery
Warning : Unsur Horror, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.
Summary : Konoha dan semua orang didalamnya terjebak dalam kisah misteri, horror, creepypasta, dan kejadian menyeramkan. Konoha Horror Story adalah kisah menyeramkan dari seluruh dunia yang diceritakan ulang menggunakan karakter dari Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 3 : I am a Good Parent
.
Aku punya dua anak.
Mereka manis sekali. Yang pertama anak lelaki berumur 4 tahun dengan jiwa petualang, namun sangat sopan seperti ibunya. Yang kedua bayi perempuan berumur 6 bulan yang senang mengoceh seperti ayahnya. Mereka berdua adalah objek kasih sayang yang melimpah dariku dan suamiku. Kami ingin mengajari anak-anak kami agar mereka tumbuh menjadi apa pun yang mereka inginkan. Kami ingin mendidik mereka agar cerdas dan selalu penuh rasa ingin tahu.
Ada orang yang menolak menjelaskan apa-apa kalau anak-anak mereka bertanya ini itu. Mereka memerintahkan anak-anak mereka, mengharapkan mereka untuk menuruti setiap kata tanpa banyak tanya.
"Karena mama/papa bilang begitu!".
Begitulah alasan yang biasa diberikan. Orang tua yang lain hanya menolak untuk menjelaskan lebih rinci tentang hal-hal yang ditanyakan anak-anak.
"Dari dahulu memang begitu, stop tanya-tanya!".
Aku yakin orang tua seperti itu hanya tidak mau berpikir. Mereka membuat anak-anak tumbuh menjadi generasi cuek dan tidak pedulian akan keadaan sekeliling mereka, tetapi tidak dengan kami. Anak-anak seharusnya memahami dunia di sekitar mereka. Kami ingin mereka bertanya, meneliti, berpikir keras, dan mengambil kesimpulan. Kebanyakan orang dewasa akan meremehkan kemampuan pemahaman anak-anak, tetapi kami lebih baik dari itu.
Kami punya dua anak, dan kami akan membuat mereka hebat.
Anak sulung kami mulai rajin bertanya-tanya, misalnya : "Papa, mama, mengapa onigiri buatan mama dibuang?"
Kami tidak bilang "Karena onigirinya sudah basi." Apa yang akan dia pelajari?
Kami tahu dia menyayangi dan memercayai kami dan mungkin akan menerima saja jawaban itu, tetapi kami tidak ingin dia begitu seumur hidup. Dia dan adik perempuannya harus tumbuh menjadi orang-orang yang cerdas, terutama setelah orang tua mereka nanti mulai menua dan mulai kehilangan kemampuan untuk fokus, apalagi orang lanjut usia sangat keras kepala. Jadi, kami membuat "Kotak Observasi", kami taruh sepotong lasagna di dalam kotak Tupperware tembus pandang, dan tidak kami taruh di kulkas. Setelah beberapa hari, lasagna nya basi, dan kami membiarkannya melihatnya.
"Idih! onigirinya basi! Jadi itu sebabnya dibuang!" tepat sekali. Dia benar-benar pintar. Kami sukses sebagai orang tua.
Kami punya dua anak, dan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang sempurna.
Para orang tua pasti tahu kalau anak-anak selalu penuh rasa penasaran. 24 jam seolah tidak cukup untuk membuat eksperimen kecil-kecilan atau menjawab semua pertanyaan anak laki-laki kami. Kami mengajarinya cara berpikir kritis. Kalau dia bertanya "mengapa", kami akan tanya balik padanya "Menurutmu mengapa bisa begitu?". Dia akan berpikir keras untuk menemukan beberapa kesimpulan, walaupun biasanya dia memang tetap harus dibimbing. Pada suatu malam, saat kami hendak menidurkan bayi perempuan kami, dia memanggil kami dari tempat tidurnya.
"Papa! Mama! Ada suara di lemariku! Apa itu?"
Suamiku terkekeh saat kami mendatangi kamarnya. "Nah, nak, menurutmu itu apa?"
"Itu monster! Atau hantu. Dia mau mau membawaku!"
"di mana kau pernah melihat mereka, nak? Apakah kau menonton mereka di berita TV?"
"Yah... tidak. Anak-anak lain yang cerita. tetapi aku tak pernah lihat." dia mulai berpikir. "Mungkin itu binatang?"
Itu memang lebih memungkinkan daripada hantu, jadi cara berpikirnya sudah benar. Aku menyeletuk, "Sayang, kita ada di tempat yang aman sekarang, kan?" Detektif kecilku mengangguk. "Jadi ayo kita lihat ada apa di lemarimu."
Dia turun dari tempat tidur dengan gugup dan berjingkat-jingkat menuju lemarinya. lemari itu pintunya berupa pintu geser, dan di dalamnya, kami menyimpan pakaiannya serta sebuah meja kecil dengan peralatan prakarya di atasnya. Ketika dibuka, kami melihat cangkir plastik berisi krayon yang rupanya ditaruh terlalu pinggir, lalu terjatuh. Batang-batang krayon warna-warni berhamburan di dasar lemari. Kami bangga. Anak lelaki kami menhambil kesimpulan sendiri dengan berani. Dia akan menjadi contoh yang baik untuk adiknya.
Kami punya dia anak, dan mereka brilian.
Pada kesempatan lain, anak kami bertanya, "mengapa kadang-kadang ada bintil-bintil kecil di lenganku?" Kami membiarkannya membuat deduksi berdasarkam situasinya. "Aku biasanya sih cuma duduk saja, tetapi aku kedinginan. mengapa bintil-bintil muncul?". Kami lalu mengajaknya meneliti hal itu. Dia belum bisa melakukan pencarian rumit di Google, jadi kami membantunya mengetikkan pertanyaanya. Kami lalu menemukan bahwa ketika temperatur menurun, tubuh merinding untuk menciptakan insulasi yang membuat kita merasa hangat. Setelah mendapat jawabannya, dia tidur dengan senang.
Sungguh anak pintar.
Kami punya dua anak, dan mereka sedang dalam proses menjadi orang-orang hebat.
Kali lain, kadang-kadang bertanya saja bukan pilihan terbaik. Pada suatu hari, suamiku dan aku membawa anak-anak kami ke taman. Aku sedang menggendong si bungsu ketika anak lelakiku mendadak berlari menghampiri kami dari tempatnya bermain.
"Ada seorang wanita memperhatikanku terus, tetapi aku tidak tahu mengapa."
Kami memeriksa keadaan taman di sekitar kami, tetapi kami tidak melihat ada wanita yang memperhatikannya. Mungkin itu cuma orang tua lain yang agak cemas ketika anak mereka berada di dekat anak-anak lain, dan itu sebabnya mengapa dia memperhatikan anak kami. Cuacanya cerah, tetapi anak kami jelas-jelas ketakutan. Kami bertanya apakah dia mau menyelidikinya, tetapi dia tidak mau. Kami dengan bangga memberitahunya bahwa kami senang dia bisa mengenali situasi bahaya dan langsung datang pada kami.
Kami lalu meninggalkan taman sambil menjelaskan pandangan bahwa terkadang kita tidak bisa menyelidiki sesuatu secara mendalam ketika situasinya tidak aman. Dia tidak senang dengan jawaban itu, jadi kami memberi nasihat mengenai para ilmuwan. Mereka kadang tak bisa menemukan informasi yang mereka perlukan, sehingga penelitian tidak bisa dilanjutkan. Kadang, kita memang harus rela tidak mendapat jawaban pasti.
Yah, kami punya dua anak, dan mereka akan jadi orang dewasa yang revolusioner.
Pada suatu malam, anak perempuan kami terserang demam. Dia berkeringat terus saat aku menggendongnya. Anak lelaki kami bertanya mengapa adiknya tidak enak badan. Aku bilang padanya kami tidak yakin, tetapi dokter bilang ini akan berlalu. Anak lelaki kami benar-benar sedih. Jadi, aku menaruh anak perempuan kami di ranjang bayinya, dengan kipas angin menyala dan aku membiarkan anak lelaki kami duduk di dekatnya sambil mengelus-elus rambutnya. "Aku mau tahu mengapa kepalamu sakit, adik kecil, supaya bisa kuobati."
Aku mencoba untuk santai dengan menonton TV, sendirian, karena suamiku sedang ke luar desa melaksanakan tugas sebagai Hokage. Aku tertidur. Ketika terbangun, aku langsung ke kamar bayi untuk melihat sedang apa anak lelakiku. Ketika hendak masuk, aku melihat kotak perkakas suamiku terbuka dan isinya berceceram di lantai.
Di dalam kamar bayi, anak lelakiku sedang meneliti mengapa adiknya demam dan 'kepalanya sakit'. Dia ada di ranjang bersama adiknya.
Dia memegang obeng.
Keadaannya berantakan sekali.
Gara-gara dia, kami tinggal punya satu anak.
"Mama, aku cuma mau lihat mengapa kepala adik kecil sakit. tetapi tidak ada apa-apa di dalamnya."
Tidak apa-apa. Aku orang tua yang baik, jadi aku mengatasi sendiri situasinya.
Dan sekarang, aku tidak punya anak.
.
TBC
.
.
.
Author's Note : Halo Elevtron kembali, kali ini update secepat kilat hehhee..., jujur dulunya pingin buat cerita yang tokohnya variatif tapi ternyata cukup sulit memikirkan apa yang pas biar gak OOC banget dari karakter aslinya di manga Masashi Kishimoto. Anyway mungkin di chapter depan akan mulai eksperimen pakai karakter yang bukan dari Golden Trio nya Naruto Tim 7.
Anyway segitu aja, kalian bisa folllow social media Elevtron yang lain
Youtube : /Elevtron
Tiktok : /Elevtron
Wattpad : Elevtron
Buat kalian yang mau support atau request ke Elevtron juga bisa donate di link berikut : (saweria . co / Elevtron)
Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini lebih baik di kemudian hari
Hope You Enjoy It
Well see u in the next chapter
x
x
x
