Kidung Sukacita © Roux Marlet

BoBoiBoy © Monsta

-tidak ada keuntungan material apa pun yang diperoleh dari karya ini-

Alternate Universe, Historical, Family, Romance

Untuk #LOVEctober2024 hari kedua puluh lima: "A Song for You"

Untuk #Octoberabble hari kedua puluh lima: "Memory"

Bagian ke-25 dari Keping Kisah Asmaradana

.

Catatan Penulis: Mengandung bahasa Jawa (dengan terjemahan bahasa Indonesia)

.

.

.

.

.

TUNG. TUNG. TANG. TUNG …

PAK. PAK. DUNG. DHANG. DUNG. DUNG.

Tatkala saron demung itu mulai ditabuh, Taufan segera melebur sebagai pemandu irama dengan kendangnya. Sang putra mahkota penguasa Mangkunegara itu duduk bersila bersama para pemain gamelan, kedua tangannya di kiri-kanan sebuah instrumen pukul dari kulit. Dia membuat bunyi PAK dengan memukul menggunakan telapak dan semua jari-jari tangan kiri, DUNG dengan memukul bagian yang besar dengan telapak tangan kanan, dan DHANG dengan memukul bagian kiri dan kanan secara bersamaan.

Itu adalah persiapan acara peringatan 40 hari meninggalnya Gusti Raden Mas Gempa Bumiasri, paman Taufan. Yaya memandangi latihan itu dari kejauhan sembari tersenyum simpul. Dia sendiri tahu bahwa pemilik nama dan gelar lengkap Gusti Raden Mas Taufan Ramadhan Angkasadjaja itu memang mahir menabuh kendang, selama mengenalnya tiga tahun di Delanggu. Gamelan itu dimainkan tanpa penyanyi, hanya musik saja, dan Yaya mengenali lagu yang dimainkan.

"Yo prakanca dolanan ing njaba …." (Mari, kawan-kawan, bermain di luar)

Benak Yaya tiba-tiba melayang ke masa lalu, dengan suara berat seseorang yang dekat dengannya tengah menyanyikan lirik tembang dolanan karya Sunan Giri itu. Untuk sejenak, selagi lagu itu terus mengalun tanpa lirik, Yaya tenggelam dalam lamunan di masa yang berbeda. Sampai kemudian sesuatu di masa kini membuyarkannya.

Taufan tengah berhenti memainkan kendang dan mengusap wajahnya yang basah dengan lengan bajunya. Mulanya Yaya mengira Taufan kegerahan dan berkeringat di atas panggung gamelan, namun hal itu terjadi sampai beberapa kali berikutnya. Para pengrawit ikut berhenti karena kendang merupakan pengatur irama mereka, selain gong yang berbunyi di akhir baris lagu. Mereka semua akhirnya beristirahat sejenak.

"Taufan?"

Yaya mengantarkan nampan berisi cangkir air minum dan kudapan manis untuk suaminya.

"Oh, Yaya." Taufan meraih cangkir itu selagi Yaya duduk bersimpuh di sampingnya. "Terima kasih, ya."

"Sama-sama. Kenapa tadi?" Yaya bertanya sambil menempelkan tangannya ke dahi Taufan. "Apa kau sakit?"

"Apa?" Taufan agak bingung. "Eh, oh, tadi aku … menangis sedikit."

Yaya kaget mendengarnya. "Lagu tadi, Padhang Bulan, bukan lagu sedih, 'kan?"

"Memang bukan." Mata Taufan mendadak berlapis bening lagi, dia menunduk sambil meletakkan cangkir kosong ke nampan. "Tapi itu lagu yang diajarkan Paman Gempa waktu aku kecil."

Yaya tidak langsung bicara lagi. "Paman Gempa pasti orang yang sangat baik, ya?" ujarnya lembut seraya mengusap-usap bahu suaminya.

"Sangat," sahut Taufan, mendadak bersuara parau. "Aduh, memalukan sekali kalau aku menangis gara-gara terkenang Paman. Padahal aku sendiri yang memilih mempersembahkan lagu ini untuknya."

"Begitu, ya?" Yaya berpikir-pikir sejenak. "Lagunya sendiri tembang dolanan, tentunya orang yang menyanyikan mesti bersukacita."

"Iya, apa sebaiknya ganti lagu saja?"

"Bukan begitu maksudku," balas Yaya yang meraih kue pukis dari nampan karena Taufan belum juga makan, lalu menyuapi sang suami. "Justru bagus kau memilih lagu yang penuh kenangan tentang Paman Gempa."

Taufan mengunyah dulu sebelum menanggapi, "Tapi memainkannya ternyata membuatku sedih."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita buat sesuatu yang agak berbeda?"

"Seperti apa?"

"Kita tambahkan satu lagu lain sebelum lagu Padhang Bulan."

"Tapi aku sudah bilang Simbah kalau akan mempersembahkan satu buah lagu saja."

"Gabungan komposisi dua lagu bisa menjadi sebuah lagu baru. Istilahnya potpourri atau fantasia."

Taufan terbelalak, lalu bersiul. "Yaya tahu banyak, ya."

Yaya tersenyum. "Ayahku yang mengajari."

"Waaah! Rupanya Alm. Laksamana Tarung juga punya jiwa seni!" Taufan berseri-seri. "Maka dari itu, di rumahmu ada seperangkat gamelan, ya?"

Senyum Yaya agak berubah. "Iya. Melihatmu main kendang mengingatkanku pada Ayah."

Taufan menyadari nuansa sendu yang mendadak hadir. Ditatapnya Yaya tepat di mata; di sana ada dukacita yang sama. Mereka sama-sama kehilangan anggota keluarga yang dicintai.

Namun, bukan berarti mereka hanya bisa terus tenggelam dalam lautan dukacita.

"Aku akan bernyanyi, kalau boleh."

Ucapan Yaya barusan membuat Taufan terkejut. "Tentu saja boleh! Ayo, Yaya!" Digandengnya tangan sang istri dan buru-buru diajaknya memanjat panggung gamelan.

"Pelan-pelan, Taufan!" pekik Yaya sambil memegangi perut. Apa suaminya lupa dia sedang hamil muda?

Seringai di wajah Taufan membuatnya tampak seperti anak kecil yang usil. "Maaf, maaf, Bunda Yaya …."

Para pemain gamelan yang semuanya lelaki itu menyimak dengan antusias ketika ide Yaya disampaikan oleh Taufan.

"Mari, kita latihan!" sorak Taufan penuh semangat. Para pemain gamelan ikut bersyukur bahwa sang ahli waris tak lagi murung hati.

.

.

.

"Kalau Ayah mati nanti, carilah suami yang seperti Ayah. Carilah lelaki yang bisa membuatmu bahagia …."

Pesan dari Tarung saat sang ayah mulai sakit-sakitan itu dipegang teguh oleh Yaya. Yang dimaksud bukan 'seperti ayahnya' dalam hal pangkat ketentaraan, melainkan ….

"Kenali caranya menikmati seni dan kau akan tahu."

Yaya dalam kebaya merah muda menatap para hadirin, di mana KGPAA Hang Kasa Djaja, pemimpin tertinggi Istana Mangkunegara dan ayah dari Paman Gempa, duduk di tengah.

'Ayah, kuharap lagu ini bisa kaudengarkan juga.' Yaya berujar di dalam hati.

Taufan menoleh ke arah Yaya dari balik kendang, tersenyum sekilas lalu mengangguk. Sang suami tampak gagah dalam beskap berwarna biru langit dan blangkon yang semotif dengan bawahan kain jarik yang mereka pakai.

Saron demung mengawali duluan sebanyak empat nada, lalu Taufan menyusul dengan kendangnya. Alat musik balungan lainnya turut mengikuti, menciptakan introduksi indah sebelum suara Yaya mengalun,

.

Lir ilir, lir ilir (Bangunlah, bangunlah)

Tandure wis sumilir (Tanaman sudah bersemi)

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar (Telah menghijau seperti pengantin baru)

Cah angon-cah angon (Anak gembala-anak gembala)

Penekno blimbing kuwi (Panjatlah pohon belimbing itu)

Lunyu-lunyu penekno (Walaupun licin, tetap panjatlah)

Kanggo mbasuh dodotiro (Untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro-dodotiro (Pakaian-pakaianmu)

Kumitir bedhah ing pinggir (Terkoyak pada bagian pinggir)

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (Jahitlah dan benahilah untuk waktu sore nanti)

Mumpung padhang rembulane (Selagi bulan masih bersinar terang)

Mumpung jembar kalangane (Selagi masih banyak waktu luang)

Yo surako, Surak iyo …. (Ayo bersoraklah, sorakan iya ….)

.

Taufan masih tersenyum, menatap Yaya dengan mata berbinar. Dia juga tampak menikmati lagu yang menjadi permulaan. Bagian berikutnya adalah yang menjadi penentu, penggabungan komposisi dua lagu menjadi satu.

.

Yo prakanca dolanan ing njaba (Mari, kawan-kawan, bermain di luar)

Padhang bulan, padhange kaya rina (Terang bulan, terangnya seperti fajar)

Rembulane sing ngawe-awe (Rembulannya yang memanggil-manggil)

Ngelingake aja padha turu sore …. (mengingatkan agar jangan tidur sore)

.

Petuah untuk tidak tidur di sore hari, bukan semata karena ada rembulan indah yang merupakan ciptaan Tuhan. Sore hari dalam kepercayaan mereka adalah salah satu waktu untuk beribadah. Taufan dan Yaya telah diajarkan untuk taat beribadah sejak kecil oleh keluarga terdekat mereka, dengan cara yang akrab bagi mereka di masa kanak-kanak.

Mereka sama-sama pernah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, namun di sinilah keduanya kini, menyatu dalam seni untuk bersama-sama mengenang mereka yang telah pergi.

Sambil terus mengingat bahwa hidup dan mati selalu di tangan sang Ilahi.

.

.

.

.

.

Catatan Penulis:

Ilustrasi indah oleh fauziapaw! Bisa dilihat di Wattpad dan AO3 Roux Marlet.

Lagu utama yang digabung komposisinya yaitu Padhang Bulan dan Lir-ilir (lagu daerah begini termasuk public domain, 'kan? Maka liriknya Roux cantumkan di sini.) Jumlah kata = 925 tanpa lirik lagu dan terjemahannya.

Istilah modern dari penggabungan komposisi lebih dari satu lagu adalah medley :D

Tentang cerita, sedikit referensi dari lagunya Andrew Lloyd Webber untuk "The Phantom of the Opera" yaitu "Wishing you were somehow here again" di mana tokoh utama wanita belum bisa melepas kepergian ayahnya ke alam baka :")

Terima kasih sudah membaca!

[25 Oktober 2024]