Falling for You

Chapter 5

.

Desclimer : Naruto by Masashi Khismoto

Pairing : Kiba/Ino

.

.

Gerimis sepertinya bakal semakin lebat, dan semilir dingin awal musim gugur menelusup lewat jaket abu-abu yang ia kenakan. Beberapa kali Kiba menoleh ke arah pintu masuk sebuah tempat kursus, dan berharap seseorang yang ditunggunya segera keluar dari sana.

Ia mengerling arloji di tangan kiri, memang baru setengah jam ia menunggu, tapi rasanya sudah se-abad. Dan nyeri di kakinya terasa lebih nyata sekarang ketimbang sore tadi. Perbincangan orang sekitar, pasangan yang tengah berkencan, nenek-nenek yang tengah membawa sekantung besar buah jeruk, dan seorang anak yang dimarahi ibunya karena tak sengaja menelan permen tak membuatnya teralihkan dari sosok wanita yang tengah membawa celo. Alat musik itu tampak membebani punggungnya yang kecil, namun ekspresi tak keberatan tampak jelas di wajahnya.

Guru les celo itu tak melihat kanan kiri, tatapannya fokus ke depan, dan sedikit melamun. Jelas banyak yang dipikirkannya. Bahkan ia sudah lupa dengan Kiba, padahal beberapa minggu lalu mereka pernah berinteraksi.

"Nyonya."

Tak ada respon.

Kiba melangkah di sebelah wanita itu, membuat si wanita berhenti sejenak. Mengerutkan kening, takut, khawatir, dan nyaris mengira Kiba adalah lelaki jahat yang hendak mengganggunya. Lalu sedetik kemudian, kerut di keningnya mengendur ketika dirasa ia mengenali sosok Kiba.

"Maaf mengganggu, boleh minta waktunya sebentar. Ada yang mau saya bicarakan dengan anda."

.

.

Temaram lampu kafe menghadirkan suasana sendu namun nyaman, sementara hujan di luar makin deras tiap detiknya. Uap espresso dan cappucino beradu menghadirkan aroma menenangkan.

Kiba sudah melihat genangan air di mata si istri Yamato sejak tadi, namun ia juga harus menjelaskan dengan pasti maksud kedatangannya malam ini. "Ino sudah tak menemui suami anda lagi, dia tak ada hubungan dengan suami anda." Dia berdehem sejenak, mencari momen yang pas karena sejak tadi wanita itu hanya diam mendengarkannya. "Dan kami akan menikah."

Senyum miring meremehkan akhirnya sanggup ia torehkan di bibir. Rasa jengkel dan amarahnya masih melambung tinggi di hati. "Suamiku mau menceraikanku karena wanita itu, wanita murahan itu, si jalang yang selalu kau bela mati-matian itu." Bibirnya bergetar, ada gemeretuk gigi, tanda amarah yang coba ia tahan sekuat tenaga. "Suamiku sampai lupa dengan anak-anaknya, tak menghiraukan kami lagi. Itu semua salah wanita pirang sialan itu."

"Nyonya-"

"Bagaimana mungkin kau bisa seyakin itu untuk menikahi wanita murahan macam Ino? Apa kau juga yakin laki-laki yang dia goda cuma suamiku saja? Bagaimana jika ternyata dia menjual diri di luar sana. Mengangkang demi kepuasan para lelaki hidung belang demi mendapatkan uang?" Air matanya menetes, dan kendati senyum meremehkannya belum luntur, getaran bibirnya masih tampak nyata. "Apa yang coba kau cari dari wanita itu? Apa dia benar-benar memuaskan di ranjang? Kau membela nya sampai begini karena kau juga pernah tidur dengannya kan? Aku yakin begitu."

Inuzuka paham seratus persen apa yang dirasakan wanita di hadapannya. Ia pernah jadi korban karena keegoisan sang ayah, dan mendapati ibunya menangis sepanjang waktu sebelum bertemu dengan ayah tirinya. Dan itu menyakitkan. Tapi disisi lain, ia tak terima dengan olokan wanita itu pada Ino. Tapi apa mungkin Ino memang demikian? Apa bukan cuma Yamato yang dia goda?

"Pikirkan lagi kalau mau menikahinya, kau orang baik, kau bisa cari yang lebih baik dari wanita jalang itu--"

"Mohon maaf nyonya, saya kesini hanya untuk menyampaikan agar anda tak menganggu hidup Ino lagi. Setelah ini saya akan membawa Ino pergi dari kota ini, dan dia tak akan lagi menemui suami anda." Kiba mulai berdiri, mengabaikan tatapan terkejut dari si istri Yamato dan berjalan meninggalkan kafe. Sepertinya menerobos hujan masih lebih baik ketimbang mencari titik tengah dengan wanita barusan.

.

.

Baju yang dikenkannya basah, rambutnya meneteskan air dan Kiba tak mau repot-repot membeli payung atau sekedar berteduh menunggu hujan reda. Lagipula hujan setenang ini agak mustahil untuk berhenti dalam waktu dekat, sepertinya bakal terus turun hingga dini hari. Ia baru sampai di gedung apartemennya menjelang pukul sebelas malam, dan suasana disana lebih sepi dari biasanya. Tuan Asuma, si pecandu berat rokok yang biasanya nongkrong bersama satpam yang bertugas jaga di pagar depan juga tidak ada. Sementara si satpam tengah menonton berita malam di posnya, sendirian, dan setengah mengantuk. Kiba melewatinya, tak menyapa karena si satpam juga tak melihat kehadirannya.

Tangannya mengacak rambutnya yang basah, menimbulkan cipratan air ke udara sekitar sementara jejak kakinya meninggalkan bekas basah air hujan di sepanjang lantai dan tangga. Ah, besok juga pasti kering. Ia rasanya lelah sekali hari ini, ingin segera merebah.

Ketika sampai puncak tangga di lantai tiga, ia melihat Ino, dengan piyama berwarna kuning kalem tanpa motif tengah duduk di sofa depan apartemennya. Seolah menunggu seseorang, dia sesekali mengecek ponsel, sesekali menguap dan menyangga dagu dengan tangan kiri. Tampak mengantuk dan lelah. Mendadak segala ucapan istri Yamato menggema dalam benaknya. Mengangkang demi kepuasan pria hanya agar mendapat uang? Apa itu benar? Apa kejadian seperti malam lalu tak dilakukan Ino hanya padanya, tetapi laki-laki lain juga? Ia masih mematung dengan tetesan air yang makin banyak ke lantai ketika si wanita akhirnya menyadari kehadirannya.

"Kiba?" Ada binar bahagia di manik birunya, meski setengah dayanya seolah tak mampu terbuka. Ino kelihatannya mengantuk berat.

.

.

"Apa? Ada yang merusak pintu apartemenmu?" Kiba mengernyit, ia melepas jaketnya, serta kaos yang terasa berat di tubuhnya karena basah dan melemparnya ke bak cuci. Ino yang tengah berdiri di depan kompor, dan hendak membuatkannya ramen tampak terkejut sebentar sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain. Pipinya bersemu merah. "Sejak kapan?"

Ino menggeleng, tanda tidak tahu. Ada genangan air yang merebak dalam biru jernih iris matanya. "Orang-orang membenciku setelah insiden di toko bunga itu, aku--" Ia memunggungi Kiba, dan air matanya sudah meleleh di pipi. Tangannya berusaha cekatan membuka bungkus ramen, menata bumbunya, dan menyiapkan mangkuk. Namun suara isakannya tak bisa bohong, "--aku harus bagaimana, aku harus bagaimana Kiba?"

Kiba tertegun, teringat kejadian kemarin ketika ia berjalan bersama Ino menuju apartemen, beberapa orang wanita setengah baya berbisik-bisik. Entah bisa disebut bisikan atau tidak, sebab suara pelannya masih mampu tertangkap telinga Kiba, dan Ino pasti juga mendengarnya.

"Perebut suami orang."

"Pelacur."

"Jual diri."

"Sayang sekali, cantik tapi kelakuan seperti iblis."

Kendati Ino tampak biasa saja kemarin, tapi Kiba yakin dia pasti menangis hebat ketika sampai apartemennya. "Setiap orang memiliki masa lalu kelam, tapi bukan itu intinya. Keinginan untuk memperbaiki diri agar lebih baik di masa depan lebih patut untuk diperjuangkan." Dia mendekat ke arah Ino, ragu-ragu menepuk pundaknya pelan.

Ino mematikan kompor, dan tanpa aba-aba memeluk Kiba. Tak peduli dengan dada telanjang pria itu yang penuh bekas luka, tak peduli dengan guratan-guratan, atau bekas sayatan yang membuat dada itu tak semulus seharusnya. Otot liatnya yang tampak kuat membuatnya nyaman bersandar disana, dan entah ini membuat Kiba merasa terbebani atau tidak. Namun, ketika gerakan tangan lelaki itu terasa mengelus rambutnya, Ino tak lagi menutupi kesedihannya. Dia menangis, tak peduli dengan air mata yang membasahi kulit dada si pemuda.

.

.

Semua perabotan tidak ada yang hilang ataupun tergeser dari tempatnya, Kiba yakin begitu, sebab terakhir kali ia memasuki apartemen Ino segalanya masih sama seperti ini. Ia mencoba masuk ke kamar mandi, menyalakan kran airnya, mengamati semua sisi temboknya, barangkali saja seseorang memasang CCTV disana. Tidak ada juga. Jadi mungkin ini hanya teror sederhana untuk menakuti Ino.

Ino bilang dia sudah menelfon Nyonya Tsunade agar pintunya dibetulkan, tapi wanita itu hanya bilang 'iya nanti dibetulkan', namun belum ada aksi sampai detik ini. Kelihatannya, Nyonya Tsunade pun berharap Ino tak lagi tinggal di lingkungan apartemen ini. Menyedihkan sekali.

Kiba menghela napas, dan keluar dari kamar mandi.

"Akhirnya, kau selesai mandi juga cantik."

Kiba terkesiap, begitu juga Tuan Jiraiya. Keduanya saling mematung. Kiba yang merengut jijik, sementara Tuan Jiraiya shock parah.

"Tuan Jiraiya, kenapa anda disini?"

"Dimana Nona Yamanaka?"

"Jawab saya, kenapa anda bisa ada disini?" Intonasi suara Kiba agak meninggi, dia jelas tahu orang tua cabul ini bisa masuk kesini karena pintunya rusak, seolah seseorang telah membobolnya. Lalu mengira Ino lah yang berada di kamar mandi, lucu sekali. Apa yang mau dilakukan orang tua cabul malam-malam begini menyelinap ke apartemen seseorang yang cantik dan memiliki tubuh bagus selain mencari kesempatan untuk bisa--uhm. Yeah, melakukan hal yang tak senonoh. "Ini tengah malam loh."

"Dan apa yang kau lakukan disini, bocah?" Ekspresi Tuan Jiraiya yang awalnya takut kini justru menantang. "Kau masuk kesini karena ingin mencari kesempatan juga kan?"

Gigi Kiba bergemeretuk, kemarahannya sudah di ubun-ubun. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat. "Saya hanya mengecek apartemen ini setelah Nona Yamanaka bilang seseorang telah membobol pintu apartemennya." Manik matanya mengamati lekat-lekat ekspresi wajah orang tua itu, dan segala jawaban terpampang jelas. "Apa anda yang melakukan ini?"

"Apa? Bagaimana mungkin kau menuduhku bocah tengil." Pak tua itu berlalu pergi dengan segala omelan yang tak semuanya dipahami Kiba. Tapi lebih baik begitu, karena jika terus berada disini, amarahnya bisa lepas, dan Jiraiya tua itu bisa berakhir di rumah sakit.

.

.

Ino tidur meringkuk di sofa ruang tamunya ketika Kiba kembali. Matanya masih tampak sembap, tapi dia terlihat lebih damai ketimbang beberapa menit lalu.

Mana mungkin Kiba sanggup membiarkan wanita itu tidur disana, sementara ia bisa berguling leluasa di atas ranjang. Jadi ia mendekati Ino, menggoyangkan sedikit bahunya. Berharap wanita itu segera bangun. Tapi, ketika itu tak berhasil Kiba tak memiliki ide apapun. Bagaimana jika Ino tak bisa kembali tidur setelah terbangun kembali?

Barangkali, cara seperti yang dilakukannya dua kali belakangan bisa dicoba lagi. Menggendong Ino, lagipula tubuhnya yang kurus tidak terlalu membebani. Kiba sudah hendak mengangkat tubuh wanita itu, ketika mendadak mata sewarna birunya perlahan terbuka, tatapan mereka saling mengunci selama beberapa saat.

"Kiba?"

Inuzuka muda terpaku, dia tetap dalam posisinya terdiam dengan tangan yang sudah berada dibawah bobot tubuh Ino, sementara jarak antara wajah mereka tidak sampai sepuluh senti. "Tadi, maksudku, aku tadinya mau membangunkanmu. Tidur lah di ranjangku, biar aku yg tidur di sofa ini."

Gelombang panas yang merebak dalam dadanya menjalar sampai kelopak mata, mendadak matanya terasa perih. "Kenapa? Kenapa kau begitu baik padaku?"

Kiba menghela napas, melepaskan tangannya yang semula setengah merangkul tubuh Ino. "Kalau ku bilang aku mencintaimu, apa kau akan percaya?"

.

.

"Jangan lakukan ini, oke, aku tak sepolos itu Ino." Ada kejut singkat ketika Ino mendekatkan wajah padanya, tatapan mata mereka hanya berjarak sekitar lima senti, dan dalam jarak sedekat ini, Kiba seolah tenggelam dalam kubangan biru jernih mata wanita itu. Ia jadi ingin tertawa ketika Ino justru makin mundur saat Kiba juga memajukan wajahnya, mata itu terbelalak seolah tak menyangka si lelaki bakal melakukan hal yang sama. "Kalau sampai aku tak bisa menahan diri, tidak ada ampun buatmu." Senyumnya tersungging miring di bibir, berharap Ino bakal gentar.

"Jujur padaku Kiba, Nona Hinata bilang malam itu kau nyaris meniduriku. Apa itu benar?"

Kiba tertegun mendengar pertanyaan itu, dan demi menghalau sedikit gelisah di dadanya ia menelan ludah. Namun ia berusaha tak mengalihkan tatapan dari wajah si lawan bicara. Tak menyangka saja, jika Nona Hinata ternyata bisa menebak hal itu. "Memang." Ini rasanya seperti perlombaan tahan tawa, atau lebih tepatnya tahan malu, dan siapa yang bakal tetap bertahan untuk tak malu sampai akhir sepertinya bakal jadi pemenang. "Kau tidak ingat sama sekali?"

Ino menggeleng, tapi bekas ciuman di dekat payudaranya jelas ulah Kiba. Tapi ya Tuhan, apa yang kira-kira lebih buruk dari itu?

"Disini saja, temani aku tidur, itu yang kau katakan." Kiba menirukan ucapan Ino waktu itu, dan membuat semu merah di pipi wanita itu merambat cepat ke telinga. "Kau juga menggigit leherku, bekasnya tidak hilang sampai pagi." Rentetan kalimat itu sudah berhasil membuat si wanita kalang kabut. "Oh, Ino aku juga tidak tahan. Serius. Aku lelaki baik-baik loh, tapi kalau--"

Ino membungkamnya dalam ciuman, entah atas dasar apa ia melakukan ini. Dalam posisi ia duduk di sofa, sedikit menunduk untuk bisa mencium Kiba yang setengah berjongkok di lantai. Ini memang bukan ciuman pertama mereka, bagi Ino ini mungkin yang kedua, tapi bagi Kiba ini yang keempat.

"Baiklah," Kiba sedikit mendorong Ino ke arah sofa sembari memperdalam ciuman mereka. Tarian lidah mereka, gigi bertemu gigi, lumatan pada bibir bawah, cecapan yang menimbulkan suara di ruang tamu yang hening beradu dengan gema detik jam dinding. "Kau yang minta, akan jadi lebih menantang saat kau tak mabuk."

Ino tahu, Kiba menginginkannya sejak lama. Barangkali sejak ia menumpang mandi di apartemennya, atau ketika ia harus pura-pura mencium lelaki itu agar Yamato yakin dengan hubungan mereka, yang mana pun bagi Ino itu bukan hal penting, sebab, ia juga menginginkan Kiba. Keinginannya barangkali nyaris sama besarnya dengan lelaki itu.

"Engh.. Kiba." Ciuman lelaki itu turun ke lehernya, sementara tangannya entah sejak kapan sudah berada di antara payudara. Menggenggamnya, meremasnya, dan sesekali mengelus puncaknya. Entah siapa yang mulai melucuti siapa, tahu-tahu kain yang semula menutupi tubuh masing-masing sudah tergeletak di lantai.

"Kau yakin, kau tak akan menyesali ini kan?" Iris biru di hadapannya mengerjap, kerjap genit yang membuatnya makin bergairah, dan gelengan singkatnya membuat Kiba tak lagi memusingkan apa yang terjadi nantinya. Sebab, apapun konsekuensi akhirnya ia akan bertanggung jawab.

.

.

Ino sudah berkali-kali melihat dada telanjang Kiba, seharusnya sudah cukup untuk tak terkejut dengan banyaknya luka disana. Tapi ketika tiap luka tertangkap netranya, ia selalu merenungkannya, bagaimana luka itu bisa terbentuk? Selalu ada cerita di balik tanda atau bekas luka yang tak bisa hilang kan?

"Apa ini mengganggumu?" Kiba menunggu jawaban yang tak segera terucap, "kalau ini menganggumu, lihat aku saja." Jelas kontras keadaan kulit Ino yang putih mulus tanpa bekas luka apapun, dengan kulit tannya yang sebagian besar di penuhi luka.

Ino masih tak menjawab ketika jemari lentiknya menari-nari di atas dada Kiba. Menyentuh tiap bekas luka timbul yang tertoreh disana. Sayatan panjang di dada, agak miring hingga mendekati perut pasti pernah jadi luka yang menyakitkan. Ada lagi di dekat bahu, dan lainnya sayatan kecil dan bekas jahitan lebih banyak lagi.

"Mengerikan ya?" Kiba tak pernah malu dengan segala luka yang dimilikinya, kadang ia justru bangga. Hal-hal luar biasa pernah ia lakukan, menolong orang contohnya, dan bekas luka itu adalah buktinya. Tapi di hadapan Ino yang sempurna bak dewi segalanya jadi berbeda.

"Ini fantastis," Ia meletakkan tangan di pipi Kiba dan bergerak untuk menciumnya duluan. Ini bakal jadi malam yang panjang dan penuh gairah.

.

.

Kulit Ino begitu lembut, dan rasanya seperti mimpi ketika ia menyentuhnya dengan telapak tangannya yang tebal dan mungkin saja kasar. Elusan jemarinya di dadanya lebih terasa menggelitik, dan demi Tuhan semerbak aroma bunga yang tercium dari kulit putih itu membuat ereksinya makin menjadi.

"Kib... " Ino mengerang ketika Kiba mulai menciumi lehernya, hembusan napasnya membuatnya geli. Dan gerakan lelaki itu yang makin menjadi membuatnya sulit untuk mengimbangi, stamina Kiba di luar ekspektasinya. "Kiba... " Dua kali ia meledakkan diri, gemetar dan merasa nikmat di saat bersamaan. Namun belum ada tanda-tanda lelaki itu bakal menyudahi acara bercinta mereka.

"Sebentar lagi, aku bakal selesai." Bisiknya serak, dia berhenti sejenak untuk membiarkan wanitanya menikmati acara klimaksnya sebelum mengubah posisi dan kembali bergerak, kecepatannya teratur, namun semakin menjadi tiap detiknya.

"Akh... Kiba... "

Inuzuka tak tahan mendengar erangan erotis wanita itu ketika memutuskan membungkamnya dalam ciuman yang sedikit kasar, dan sementara itu ia akhirnya mencapai kepuasannya.

.

.

Ketika Ino terbangun pagi itu, dalam keadaan telanjang, dan hanya tertutupi selimut tebal, tubuhnya rasanya lelah luar biasa. Ia masih setengah sadar ketika segala kegiatannya bersama Kiba kemarin malam terputar acak dalam ingatannya, bercumbu, bercinta dan oh, dimana lelaki itu?

Jantungnya berdebar, dan rasa malu disertai kepuasan bercampur aduk hingga tak bisa ia deskripsikan satu-persatu. Ya Tuhan, apa yang mungkin dipikirkan Kiba tentangnya usai ini?

Jam dinding menunjuk pukul sembilan lebih lima belas ketika Ino mengambil ponselnya di atas nakas, dan menemukan pesan dari Kiba.

'Aku berangkat kerja, masak apapun yang kau inginkan. Sepertinya aku punya persediaan daging dan sayur di kulkas.'

Dan ada satu pesan lagi di bawahnya.

'Dan terima kasih, malam kemarin benar-benar menggairahkan.'

Ino tersipu, menelungkupkan wajah di bantal dan mulai memukuli kasur beberapa kali. Ini memalukan sekali.

.

.

Ino menghirup udara sore itu dalam-dalam, menyaksikan segerombolan burung terbang ke arah utara, dan awan-awan tipis mengapung terbawa angin. Dia melukiskan senyum tipis ketika sang ayah menjabarkan keadaan taman bunganya lewat telepon, sekarang taman bunga itu sudah lebih rimbun, semak mawar dan azalea tumbuh subur, dan cantik. Bunga yang beberapa bulan lalu ia tanam, lalu sekarang belum mampu ia nikmati keindahannya.

"Cantik seperti putri ayah." Ada batuk pelan yang mengiringi suara ayahnya, "ayah akan mengirimimu fotonya nanti."

"Apa ayah sakit?" Kalimat terakhir sang ayah tak terlalu membuatnya tertarik, sebab suara batuknya lebih menyita perhatian.

"Ayah tidak apa-apa, tenang saja." Mengabaikan kekhawatiran putrinya, dia seolah lebih tertarik pada hal lain. "Bagaimana toko bunganya?"

Jantungnya mendadak berdebar, debar berantakan yang nyaris membuat kepala pusing. Ia takut jika mengatakan yang sejujurnya sang ayah bakal kecewa padanya, atau lebih mengerikan lagi dia akan marah dan menanyakan segala alasan yang tak ingin Ino ungkapkan. "Ayah, sebenarnya, maksudku," Ia diam lagi, berusaha menenangkan diri untuk merangkai kalimat yang lebih mudah untuk dipahami. "Tempat yang ku sewa sekarang terlalu mahal, aku berniat mencari tempat lain. Menurut ayah bagaimana?"

"Oh, ku pikir waktu itu kau mengatakan uang sewanya tak terlalu mahal, dan kau sudah memiliki banyak pembeli disana."

Itu benar, tapi sekarang segalanya berubah jadi mengerikan. "Pemiliknya menaikkan uang sewanya, Yah." Ketika tatapannya teralihkan dari semburat sinar orange matahari disisi barat ke arah sumber suara dari arah pintu, ada letupan tak tertahankan yang membuat bibirnya tak bisa menahan senyuman.

"Aku pulang."

Tak butuh sampai dua detik ketika pertanyaan ayahnya menggema di telinga, "itu suara siapa?"

Ino tersenyum, dan Kiba yang baru pulang dengan kantong belanjaannya mengangkat alis, bertanya tanpa ucapan. "Ayah, ada seseorang yang ingin ku kenalkan padamu. Lelaki baik seperti yang selalu ayah harapkan bisa ku dapatkan."

"Benarkah? Siapa dia? Ayah ingin tahu." Tawa pelan Tuan Yamanaka mengalun, ada lelah yang terselip dalam nada suara itu tapi tersamarkan dengan gema bahagia.

"Aku janji akan mengenalkan pada ayah, tapi mungkin tidak sekarang."

tbc

.

~Lin

25 Oktober 2024