Everything I need
.
Desclaimer : Naruto by Masashi Khismoto
Pairing : Kiba/Ino
Chapter 7 : Problem
.
.
'Apa kau marah padaku?'
Ada pesan lain yang masuk ke instagramnya dua hari kemudian, dan Ino merasa agak konyol ketika membaca sebaris pertanyaan pendek itu. Perpisahan mereka atau entahlah jika bisa disebut begitu, memang tidak menimbulkan masalah besar, tapi tidakkah Sai tahu jika ia kehilangan selera makan ataupun melakukan sesuatu nyaris sebulan penuh setelah mereka tak lagi bersama. Sungguh tak punya malu saja jika dia muncul lagi untuk memperbaiki hubungan, yang Ino yakin tak akan kembali membaik seperti dulu.
Ia menghela napas panjang, meraih segelas jus jambu di atas meja dapur dan meneguknya perlahan ketika satu pesan lain muncul. Ino sudah akan mengabaikannya, namun notifikasi nama Yuki mendadak menarik perhatiannya.
'Hei Ino, foto-fotomu benar-benar menakjubkan. Tidakkah kau sadar kalau kau secantik itu?'
Tanpa sadar senyumnya terulas tipis, dan segala beban serta emosi tergantikan oleh rasa ingin tertawa karena pesan singkat tersebut.
'Kau nggak pernah berfoto dengan Kiba?'
'Dia memang payah ya, pasti nggak pernah mau diajak foto.'
Ino agak tertegun dengan pesan berikutnya, dan buru-buru membalas.
'Oh, thanks atas pujiannya, kau juga cantik sekali Yuki.'
'Aku pernah berfoto dengan Kiba, hanya saja kita sepakat untuk nggak mengunggahnya.'
Mereka memang pernah foto bersama, di acara manggung The Sky ketika Kiba diperkenalkan pertama kali. Ia dan cowok itu bersebelahan, meskipun kentara sekali jika hubungan tak akrab mereka lebih mendominasi.
'Coba kirim satu fotonya, aku yakin Kiba jelek sekali. Aku masih heran, kenapa kau mau dengan Kiba.'
Sembari mengernyitkan kening, ia mengetik cepat balasan beberapa teks pendek.
'Itu kejam Yuki, kenapa kau selalu mengejek Kiba untuk semua pencapaiannya LOL.'
'Kiba keren, dan dia baik sekali, cowok yang didambakan nyaris seluruh cewek di dunia ini.'
Barangkali ia juga mendambakan sosok yang seperti itu. Ino meregangkan tubuh, menatap langit-langit kamarnya sebelum beralih pada jam dinding. Sudah nyaris tengah malam, dan ia belum ngantuk sama sekali. Lalu satu pesan balasan dari Yuki, membuatnya kembali bersemangat melanjutkan percakapan itu.
'Omong kosong Ino.'
'Aku sebetulnya kasihan padanya, tapi dia sepupu paling menyebalkan.'
'Aku suka ngobrol denganmu, tapi aku harus tidur sekarang oke, ibuku akan mengecek sebentar lagi, dan kalau sampai dia tahu aku belum tidur, dia bakal marah sekali.'
Masa SMA yang tidak pernah Ino lupakan juga, bahwa tidur di bawah jam 12 adalah kewajiban yang entah siapa yang menganjurkan. Dan orang tuanya tidak menerima penolakan apapun untuk perintah itu, dengan alasan Ino butuh fokus yang baik untuk pelajaran esok hari, istirahat yang cukup sangat dibutuhkan. Kalau diingat-ingat lagi, ia justru sering melanggarnya. Sibuk berbalas chat dengan Sai, tidak lupa mengaktifkan mode silent supaya tak tertangkap basah. Oh, ngomong-ngomong soal Sai, apa dia bakal mengirim pesan lagi jika Ino tak membalas pesannya yang sekarang? Atau dia bakal menyerah dan pergi? Rasanya bukan Sai sekali jika harus memohon, apalagi pantang menyerah mengejar cinta. Sebab, seingatnya ia yang dulu begitu terobsesi dengan cowok itu.
'Oke, cepatlah istirahat, dan semoga mimpi indah.'
"Aku akan mengajak Kiba berfoto dengan pose yang lebih bagus lain kali, soalnya aku ragu kau bakal mau melihat yang sekarang tersimpan di ponselku.'
Sebelum percakapan mereka benar-benar berakhir, pesan terakhir Yuki membuat pipinya bersemu dan otaknya membeku. Dan meskipun itu tidak benar, tetap saja ia jadi membayangkan hal yang tidak-tidak.
'Oh, apa itu privasi yang agak rahasia? Coba ku tebak, apa kalian melakukannya?'
Apa sih maksudnya ini?
.
.
Yang bisa Ino simpulkan ketika pertama kali melihat Naruto mulai berbicara akrab dengan Hinata di bangku paling ujung, dimana cowok itu seolah menjauhkan Hinata dari jangkauan teman-temannya adalah, mereka pacaran. Tidak tahu sejak kapan, dan Hinata juga tidak memberi tahunya. Tapi itu tampak nyata, dan setelah bertahun-tahun diabaikan, sepertinya Naruto akhirnya berhasil mencapai apa yang diinginkannya.
"Aku nyaris nggak bisa bersikap biasa saja di dekat Gaara setelah semua cerita yang Karin paparkan kemarin." Sakura bersedekap, jaket merah muda yang membalut tubuhnya sepertinya masih belum cukup untuk menghangatkan tubuh.
Malam Minggu itu mereka sepakat pergi ke pantai, bukan pantai yang ramai, tapi cukup bagus untuk dijadikan tempat untuk mencari penghiburan. "Ingat, Karin tidak ingin kita mengatakan ini pada siapapun."
"Tetap saja Ino," Dia memutar bola mata, setengah jengah. "Apa menurutmu anak-anak yang lain tahu soal itu?"
Ino mengedarkan pandangan lagi, ke arah Gaara yang duduk di sebelah Kiba, bersama Sasuke. Mereka tertawa di tengah percakapan yang entah apa intinya. Melihat sikap Gaara yang tampak begitu biasa, ia ragu cowok itu pernah mengatakan hal rahasia tersebut pada teman-temannya. Apa mungkin anak cowok bisa menyikapi hal semacam itu secara santai? "Mungkin tidak." Terpaan dingin angin pantai menyentuh pori-pori di balik sweaternya, membuatnya agak menggigil. Padahal ia kira baju yang ia kenakan sudah cukup tebal, ternyata masih tak bisa membuatnya merasa hangat.
"Aku agak sedih, Karin benar-benar menghindari perkumpulan ini sekarang. Padahal dia yang paling bisa mencairkan suasana." Sakura mengikuti tatapan Ino, tak benar-benar tahu apa yang ia pikirkan selain, Gaara ternyata bajingan.
Tatapannya bertaut dengan tatapan Kiba, cowok itu mengangkat alis seolah mengutarakan tanya 'ada apa?' singkat, dan Ino justru malu karena tertangkap basah. Penampilan Kiba malam ini sanggup membuat jantungnya jumpalitan. Memang tidak ada yang spesial, cowok itu hanya menjadi dirinya biasanya dengan kaos putih dan jaket varsity yang pernah dipinjamkan padanya waktu itu. Tapi senyum itu, astaga, bikin otaknya meleleh. "Tahu tidak, Sai menghubungiku."
"Apa?" Sakura nyaris terlonjak mendengar pengakuan itu, yang benar saja. "Dan kau menanggapinya?"
Ino menggeleng, "harusnya aku bahagia kan? Tapi aku nggak bahagia dengan hal itu." Kali ini Kiba sudah kembali ngobrol dengan Sasuke, sementara Naruto dan Hinata tetap berada jauh dari jangkauan, seolah percakapan mereka adalah hal paling privasi yang tak boleh seorang pun tahu.
"Kenapa? Karena kau suka orang lain?" Ekspresi tertarik yang muncul dalam manik Sakura sungguh mengganggu, tapi dia jelas tahu kebenarannya. Sejak kapan Ino mampu berbohong di depan Sakura? Jawabannya tidak pernah sama sekali.
Hanya kedikan bahu yang mampu Ino lakukan. "Aku hanya tak yakin, dan belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun."
.
.
Kiba duduk sendirian di salah satu bangku yang agak jauh dari riak ombak pantai, sedang memegang gitar dan menggumamkan lirik Drunk Text milik Henry Moodie. Terdengar santai, tapi lagu itu agak mengganggunya dengan liriknya yang lumayan bikin hati galau. Jadi, ia memutuskan mendekatinya ketika Sakura akhirnya pergi bersama Sasuke untuk membeli minuman dan snack.
Kiba menghentikan lagunya ketika melihat Ino mendekat, masih dengan gitar di pangkuan dia bertanya, "kau oke?"
Ino menyelipkan rambut di belakang telinga, yang langsung berhamburan lagi tertiup angin. "Yeah, apa aku nggak kelihatan baik-baik saja?"
"Kau agak pucat."
Jelas begitu, ia tak mengenakan riasan yang berarti kecuali lipgloss pink tipis yang ia oles dengan buru-buru. Dan mendadak ia menyesal parah karena begitu percaya diri tampil di hadapan Kiba tanpa make up begini. "Aku nggak apa-apa, serius." Ketika duduk di dekat Kiba, ia merasa agak berdebar sekaligus nyaman disaat bersamaan. "Mau berfoto bersama?"
Kiba mengerjap, sejenak menimbang ajakan Ino dengan kening berkerut. Mereka belum pernah berfoto bersama, tentu saja, maksudnya berfoto hanya berdua.
"Aku hanya mau menggoda Yuki, dia terus-terusan tanya kenapa aku nggak pernah mengunggah foto denganmu." Ia tidak bisa mendeskripsikan ekspresi Kiba sebagai respon senang atau justru terbebani, tapi setelah senyum tipisnya terulas, kelegaan membanjirinya.
"Kau serius menanggapi ocehan anak itu?" Sejujurnya sejak tadi ia nyaris tak mampu mengalihkan tatapan dari mata jernih gadis itu, dan ya Tuhan semoga ia tak terlihat mesum tiap kali tak mampu menjaga tatapan dari sweater yang melekat ketat di tubuh Ino dan jeans birunya yang menawarkan pemandangan kaki jenjang luar biasa.
Ino berusaha tampak sedekat mungkin dengan Kiba, dia bersandar di bahu cowok itu dan mengedipkan sebelah matanya ketika satu gambar berhasil terekam. Dan meskipun Kiba sepertinya tak ingin menanggapi Yuki, pose dalam foto itu juga lumayan bisa diajak kompromi. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah menghabiskan malam minggu dengan santai di pinggir pantai. Sempurna.
"Sorry," Kiba menatap ke arah Gaara yang tengah berjalan sendirian menyisir bibir pantai sebelum kembali menatap Ino. "Yuki harusnya tahu yang sebenarnya, kalau tidak ada hubungan apapun diantara kita selain sebagai teman."
Ino yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya berhenti sejenak, harusnya pernyataan Kiba membuatnya lega. Waktu itu mereka tidak menyangkal karena ekspresi antusias para sepupu Kiba agak menghibur, setidaknya kematian sang nenek tidak membuat mereka terpuruk parah. "Apa itu nggak akan menyakitinya?"
"Kenapa kau harus khawatir soal itu?" Kiba memetik gitarnya, namun tak menggumamkan lagu apapun.
Tatapan cowok itu membuat Ino menahan napas untuk sesaat sebelum menjawab, "karena Yuki teman ngobrol yang asyik, aku nggak tega kalau dia tahu ternyata ekspektasinya salah."
Bibir Kiba menahan senyum, ia tak yakin alasan Ino cukup masuk akal. Sejauh ingatannya, Yuki adalah sepupu paling sinting yang tak akan ia rekomendasikan pada siapapun untuk dijadikan teman. "Begitu?"
"Yeah," Ada sorot ragu dari ekspresi mata Kiba, tapi Ino memilih mengabaikannya sebab selain menatapnya, cowok itu beberapa kali juga mengarahkan tatapan pada Gaara. Seolah ada kekhawatiran disana yang tak ingin diungkapkannya. "Ada apa?"
"Apa?"
"Ada apa dengan Gaara? Kau dari tadi seperti nggak tenang melihatnya." Apa Kiba tahu soal itu? Atau ini hal lain yang tak Ino tahu?
"Oh," Dia mempertimbangkan sesuatu sebelum kembali berucap, "aku takut dia bunuh diri."
"Hah?" Itu pernyataan paling lucu yang pernah Ino dengar, Gaara tak terlihat sedang depresi atas apapun, yang agak mengganggunya karena ayolah kesalahannya pada Karin sungguh tak bisa dimaafkan. "Dia cukup baik-baik saja, dan percaya padaku, dia nggak akan melompat ke laut."
"Yeah, kita nggak pernah tahu soal itu kan?"
"Memangnya kenapa?" Ino mengerutkan kening, menyelidik.
"Ini soal Gaara yang nggak mendapat restu dari orang tua pacarnya." Kelihatan sekali Kiba agak enggan menjawab, lagipula ini bukan urusannya meskipun tetap saja ia takut jika Gaara ternyata cukup pintar menyembunyikan depresinya.
Kisah cinta Gaara memang sudah jadi hal yang umum diantara mereka, entah kenapa Gaara begitu menyukai Matsuri hingga pernah menolak Karin. Ino mengernyit, betul juga, Gaara pernah menolak Karin.
"Kita nggak seharusnya membicarakan ini kan?" Kiba tertawa pelan, yang membuat Ino mengangguk setuju dan tertawa bersamanya.
.
.
"Kita pulang jam berapa?" Gaara bertanya ketika mereka tengah menikmati ramen hangat di kedai terdekat, duduk saling berhadapan dan ngobrol tentang banyak hal soal kuliah.
"Dua atau tiga jam lagi, ini baru pukul sebelas, masih terlalu dini untuk pulang." Sasuke menyahut, dan Sakura di sebelahnya ikut mengangguk.
Gaara memutar bola mata, mengingat dia yang tak memiliki pasangan disini membuatnya jengah parah.
"Hei, Sakura, kau nggak coba tanya Karin, kenapa dia sering absen tiap kali kita ngajak nongkrong?" Naruto kembali menyeruput ramennya, tak peduli jika kuah panasnya terasa membakar lidah. Sementara Hinata disebelahnya makan dengan tenang. Entah penjelasan panjang lebar macam apa yang diutarakan Hyuuga muda itu pada orang tuanya hingga mengizinkannya berada di luar rumah hingga nyaris tengah malam.
Sakura dan Ino berpandangan sekilas sebelum kembali menurunkan pandangan. Respon Naruto sudah menjelaskan segalanya, tak ada siapapun yang tahu kecuali ia, Sakura dan Hinata.
"Pertanyaanmu aneh, dia kan pacarnya banyak. Bisa saja sedang tidur dengan pacar ke 49 nya." Kalimat itu sarat akan rasa benci yang tak terdefisini, dan Naruto nyaris melontarkan tawa andai saja Sakura tak membentak duluan.
"Dasar sialan, apa menurutmu itu lucu?" Suaranya terlalu keras, dan bukan keenam temannya saja yang kaget, dirinya sendiri juga.
"Ada apa denganmu Haruno? Ini kenyataan kok." Dengusan Gaara seolah menantang, tatapan jengkel bercampur malas mengarah tepat pada Sakura yang tampak tak lagi ingin memakan ramennya.
Mendadak saja tak ada yang berani bersuara, pertengkaran kecil itu menimbulkan keheningan canggung dan rasa tak nyaman yang menyebar begitu cepat. Ino mendecak, dan meskipun seluruh ucapan Gaara tak bisa disangkal, ia tetap merasa marah pada cowok itu. Marah untuk semua hal, tiba-tiba saja ia ingin menceramahi Gaara soal hubungannya dengan Karin atau seluruh kesalahan yang dia perbuat. Tapi Ino masih punya hati nurani. Jadi ia diam saja, serasa ingin mendepak Gaara dengan tatapan matanya.
"Dan apa-apaan tatapanmu itu, Ino?"
"Aku? Aku kenapa? Aku cuma melihatmu, itu saja." Ia sudah berusaha sekuat tenaga tampak biasa hari ini, mencoba tak berperilaku aneh karena telah tahu banyak hal. Tapi ditanya seperti itu jelas membuatnya dongkol parah.
Lagi-lagi Gaara mendengus, "tatapanmu itu seperti mengatakan kalau kau punya masalah denganku."
"Jangan dengarkan si berengsek itu Ino," Sakura membanting sumpitnya, menimbulkan riak kecil di mangkuk, dan kuah ramen sedikit menciprati meja. "Aku sudah berhasrat menonjokmu sejak tadi."
"Hei sudah Sakura, kalian ini apa-apaan sih?" Sasuke menengahi, memegang pergelangan Sakura dan hendak membawa gadis itu pergi dari sana. Namun Sakura menghentakkan tangan Sasuke, seolah mengatakan jika dia belum selesai dengan urusannya.
Hinata hanya ternganga dengan segala drama diantara mereka saat Gaara meletakkan sumpitnya dan berdiri.
"Mau kemana Man?" Diantara tiga cowok yang bingung itu, hanya Naruto yang berani melayangkan pertanyaan.
"Pulang." Cowok Sabaku itu tak lagi menoleh ke belakang ketika mulai berjalan menjauh, dan sementara para cowok saling pandang sambil mengangkat bahu tanda tak tahu, Sakura bergumam pelan.
"Sudah seharusnya begitu."
Kalimat yang tak dipahami sebagian dari mereka.
"Gaara, Hei, jangan pulang duluan."
Tapi bahkan teriakan Kiba pun diabaikan, atau barangkali dia tak lagi dengar ketika posisinya sudah terlalu jauh dari tempat nongkrong mereka.
"Dia sensitif akhir-akhir ini." Naruto memberi penjelasan
"Dia sialan akhir-akhir ini." Jawaban Sakura membuat meja mereka kembali hening.
.
.
Latihan sore itu terasa payah tanpa Gaara, dan meskipun dia masih tetap membalas pesan mereka, cowok itu terus-terusan menghindar untuk diajak latihan atau hanya sekedar nongkrong bersama. Kekosongan Gaara mengingatkan Kiba akan hubungan renggangnya dengan The Sky beberapa hari yang lalu, apakah salah satu atau justru seluruh dari mereka juga merasa sehampa ini?
"Ada masalah dengan Gaara ya? Apa masalahnya besar sekali?" Kiba berhenti memetik gitar saat Sasuke sudah mulai meletakkan stik drumnya, cowok itu berjalan ke arah sofa lalu merebah disana. Gurat-gurat kelelahan parah akibat kuliah tampak jelas dalam ekspresinya.
"Entah ya, aku nggak tahu. Soalnya dia nyaris tak pernah seperti ini sebelumnya." Naruto menatap Kiba dengan tatapan tak pasti, seolah dia ingin mengatakan sesuatu tapi urung.
"Dia memang agak sensitif sih kalau soal Karin." Sasuke menyahut, memutar ponsel di tangan dan membuka obrolan dengan Sakura. "Tenang saja Kiba, dia nggak akan bunuh diri seperti dugaanmu."
"Yeah, aku tahu," Aneh saja rasanya ketika Sasuke setengah menertawakannya karena kekhawatiran itu. Kita kan tidak pernah tahu tindakan seperti apa yang bakal dilakukan orang depresi yang tidak kelihatan depresi. "Apa dia sebenci itu dengan Karin?"
"Mungkin, atau tidak bisa dibilang benci juga. Dia hanya nggak suka pada Karin gara-gara Karin pernah bilang tertarik pada Gaara." Tangan Naruto meraih remote AC dekat meja TV, dan mengecilkan suhunya ketika dirasa ruangan terasa lebih panas ketimbang tadi.
Sasuke mendesah, dan meletakkan ponselnya di meja. "Itu sudah lama sekali Bung, dan ku pikir kita semua sudah melupakan itu. Maksudku, Gaara dan Karin juga sudah normal seperti biasanya kan?"
"Itu kan menurutmu," Setelah ikut duduk di sofa, Naruto melanjutkan. "Lihat saja pacarmu, dia marah sekali ketika Gaara mencoba mengatai Karin."
"Cewek-cewek kan suka begitu." Komentar Sasuke membuat Kiba ingin tertawa, namun tidak lucu saja tertawa disaat seperti ini. "Suasana hati Gaara sedang tak baik, dan kau ingat ekspresi Ino? Dia murka parah saat dituduh punya dendam pribadi." Tawa Sasuke terlalu keras, dan agak memelan saat Kiba berujar.
"Bukannya lebih parah Sakura ya?"
"Kau benar Kiba, Sakura memang paling bar-bar diantara semuanya." Tepuk tangan Naruto menggema di langit-langit, dan itu terlalu berlebihan. Seolah dinding apartemen ikut bersorak disana. "Oh tunggu dulu, kalian ingat waktu Gaara mabuk berat saat Kiba pertama kali diperkenalkan sebagai anggota The Sky? Karin menawarkan mengantarnya pulang kan?" Binar biru cerah mata Naruto tampak berkilat di bawah kilau lampu, itu tidak biasa bagi Sasuke.
"Dan kau mau bilang mereka melakukan sesuatu?" Kiba yang mulai meletakkan gitarnya, kini ikut duduk di sofa. Kerut keningnya berusaha memahami sekaligus tak mempercayai dugaannya.
"Itu bisa saja terjadi kan? Mengingat Gaara jauh dari pacarnya dan Karin naksir berat padanya." Notifikasi pesan muncul di layar ponsel Sasuke, dan cowok itu cuma menatapnya. Tampaknya dia ragu, namun juga yakin.
Sementara Naruto mengetukkan jemarinya pada pegangan sofa, desahan pelannya menyatakan banyak hal yang sejujurnya tak ingin ia tahu. "Yeah, apapun bisa terjadi."
"Gaara nggak akan pernah cerita soal ini pada kita, tapi apa kalian yakin Karin nggak cerita ke para cewek? Ku rasa ekspresi Ino tadi malam menggambarkan banyak hal, dan emosi Sakura menjelaskannya." Kiba cuma menebak, lagipula sorot mata Ino yang biasanya ia kenali dengan baik, kemarin malam seolah lenyap tak berbekas. Caranya menatap Gaara seolah bukan Ino yang biasanya. Tapi dia cukup loyal untuk tak mengatakan hal buruk dan membuat suasana makin parah. Bukan salah Gaara juga kalau dia tidak suka Karin, tapi apa Gaara bakal melakukan 'itu' dengan Karin kalau dia tidak suka? Gaara mabuk, dan pernyataan Naruto benar, apapun bisa terjadi.
"Ku rasa ini privasi Gaara, biarkan saja." Sasuke melambaikan tangan di depan wajah. Tak lagi berminat dengan topik yang mereka bicarakan.
"Kau benar Kiba, dia menyembunyikan sesuatu." Naruto berucap pelan. Tapi sejujurnya masalah Gaara tak terlalu mengganggunya, tidak ada ruginya untuk Gaara jika memang dia pernah meniduri Karin, lagipula itu bukan sesuatu yang spesial kan buat Karin? Atau justru itu momen yang paling ditunggunya? Entahlah. Satu notifikasi pesan dari Hinata muncul di layar ponselnya, dan itu sudah cukup baginya untuk melupakan apapun yang tengah mereka bahas barusan.
tbc
.
~Lin
25 Oktober 2025
