Don't Like Don't Read!
.
Good Person
.
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
.
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takkan kecewa
Karena kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi
.
Sang Dewi ~ Titi Dj
.
.
Kunjungan singkat ke rumah orang tua Kiba sore itu rasanya memang bukan pilihan tepat, tapi ketika kau menikah dengan seseorang rasanya kau juga dipaksa untuk berdamai dengan seluruh anggota keluarganya demi kehidupan yang nyaman. Tapi nyaman bukan dalam artian yang sebenarnya. Ada banyak hal yang membuat Ino tak nyaman tiap kali berada di antara keluarga sang suami yang rata-rata memiliki watak lumayan keras dan kata-katanya lebih sering tak difilter. Dan berapa kali pun ia berusaha beradaptasi, ia masih tak mampu untuk tak sakit hati.
"Kapan nih nyusul punya anak, sudah empat tahun menikah kan?" Ayame, sepupu Kiba berujar ketika Ino dengan penuh senyum tengah menggendong sang keponakan.
Ada getaran pedih yang menjalar sepanjang urat nadi, Ino berusaha keras mempertahankan senyumnya, sementara bibirnya rasanya gemetar. Lengan Kiba melingkari bahunya, ada dengusan kesal yang ia hafal tiap kali pertanyaan semacam itu dilontarkan padanya.
"Tuhan belum memberikan amanat itu, mungkin kami harus mempersiapkan diri untuk jadi orang tua yang baik dulu." Penyesalan yang dalamnya tak bisa diperkirakan tengah menyebar dalam dadanya, ia sadar sepenuhnya perubahan ekspresi istrinya dan itu membuatnya tak nyaman. Andai semua orang tahu bagaimana Ino berusaha melakukan segala cara agar bisa hamil, mungkin sebagian orang akan tersentuh. Lama ia menatap Ayame, hanya agar sang sepupu sadar jika pertanyaan itu tak seharusnya dia tanyakan.
"Naruto sudah mau punya anak kedua, bukannya menikahnya lebih dulu kalian ya?" Hana yang kebetulan berada tak jauh dari mereka menimpali, ia tengah menyuapi putri tiga tahunnya. Dan anak itu beberapa kali nyaris melarikan diri dari jangkauan sang ibu. "Hikari, habiskan makananmu dulu baru main."
Ino mengerjap, menengadah menatap mata suaminya. Dan Kiba sepenuhnya melihat genangan air di kubangan biru jernih itu. Kali ini ia tak memiliki kalimat apapun untuk diucapkan. Ia paham, harga diri Ino pasti rasanya tercabik-cabik, dan sejujurnya ia ingin mengajak wanita itu segera pergi dari sana andai saja tak ingat jika ia baru sampai disini. Kesannya tidak menghormati keluarga jika langsung pergi.
"Kalian sudah melakukan program hamil kan? Coba periksa ke dokter yang berbeda. Barangkali dokter langganan kami kurang cocok dengan kalian, dan Ino kau coba tanya Hinata, kalian lumayan dekat kan?"
"Kalian nggak punya topik lain apa? Lagi pula ini urusan kami, mau punya anak mau nggak punya anak, itu bukan urusan kalian." Kiba mendecak, dan hampir membuat Yuki ketakutan karena aura kesalnya.
"Ya bukan begitu, tapi kan--"
"Ah sudah." Kiba mengibaskan tangan, menatap Hana dan Ayame dengan tatapan marah. "Honey, berikan Yuki pada Ayame."
"Tapi Kib--" Ino tak berani ketika melihat sorot amarah dimata pria itu. Sejujurnya ia suka berada di antara anak-anak, dan melepas Yuki yang imut itu bukan sesuatu yang dia harapkan bakal terjadi secepat ini.
.
.
Jujur saja berada di sekeliling keponakan yang masih balita membuat Kiba iri dengan sang kakak dan para sepupu. Andai ia punya satu saja makhluk kecil seperti ini, bakal ia sayang mati-matian. Tapi Tuhan masih belum berkehendak memberinya keturunan. Ia sudah melakukan banyak usaha, melakukan program hamil dengan beberapa dokter berbeda dan sampai hari ini masih nihil.
"Paman, bukakan permennya." Ichi, putra pertama Hana yang saat itu tengah bermain dengan keponakannya yang lain tiba-tiba mendekatinya. Menyodorkan sebungkus permen rasa kopi yang entah ia dapat dari mana.
"Kau sudah boleh makan permen? Nanti mamamu marah loh." Kiba menerima uluran permennya, tapi tak segera melakukan apa yang diinginkan anak itu.
"Boleh kok, tanya saja pada Mama."
Gemas sekali, rasanya ingin mencubit pipinya. Sembari menahan senyum, ia berujar. "Nanti gigimu sakit. Kau rajin sikat gigi kan?"
"Kalau Paman nggak mau bukakan, aku minta bukakan nenek saja."
Tsume, ibu Kiba yang duduk di dekatnya tergelak. "Kalau nanti Mamamu marah, itu bukan urusan nenek ya."
Bocah itu mengangguk, tampak gembira ketika sang nenek merebut permen dari pamannya dan membukakan permen itu untuknya. Dia berteriak 'yeay' setelah mendapat permen itu, dan berlalu pergi. Kembali bermain bersama yang lain.
"Nggak ingin punya yang seperti itu?"
Kiba melirik sang ibu, dan tahu betul apa yang dimaksud wanita itu. "Yeah, kami sedang berusaha Bu."
Wanita setengah baya itu menghela napas panjang. "Ini sudah empat tahun kan?"
"Belum genap empat tahun kok."
"Tapi sudah mau empat tahun kan?" Ia mendecak pelan. "Ini sudah agak mengkhawatirkan loh, teman-teman ibu banyak yang bertanya kenapa kau masih belum punya anak. Ibu terpaksa menjawab kalau kalian masih ingin mengurusi pekerjaan, belum ingin terburu-buru. Ibu bukannya bermaksud apa-apa, tapi teman-temanmu yang bahkan baru menikah lima bulan lalu sudah banyak yang hamil."
Semilir angin malam menelusup dalam pori-pori, Kiba benar-benar tak nyaman dengan seluruh kalimat yang dilontarkan sang ibu. Ia ingin menyanggah, tapi tak mampu. Bagaimana pun juga dia adalah wanita yang begitu ia hormati.
"Ibu takut Ino--"
"Bu, faktornya mungkin bukan di Ino saja. Bisa jadi aku yang bermasalah."
"Kau bermasalah? Mana mungkin, keluarga kita semuanya subur." Penekanan kata 'subur' membuat jantung Kiba seolah terlecut.
"Bu, tolong jangan membahas hal semacam ini di hadapan Ino. Hargai perasaannya." Kiba setengah bersyukur karena Ino tak ada disana bersamanya, terakhir yang ia tahu, istrinya tengah membantu membereskan meja makan usai makan bersama.
Namun, tanpa keduanya tahu. Wanita pirang itu berdiri di balik pintu, mendengar semua percakapan mereka. Mati-matian menahan air mata supaya tak tumpah. Berkali-kali ia melatih bibirnya untuk tetap menunjukkan senyum, meski rasa panas dan kebas menjalar dalam dadanya. Paling tidak untuk beberapa menit lagi, ia bisa menahan keinginan untuk menangis ini.
.
.
Ada debar halus yang menenangkan tiap kali ia menatap paras sang suami, campuran tegas dan tatapan sayang selalu mampu ia artikan dengan detail. Definisi ekspresi kejam namun berhati lembut benar-benar cocok disematkan untuk Kiba. Dan untuk tahun-tahun pernikahan yang telah mereka lalui, rasa cintanya untuk lelaki itu kian besar tiap harinya.
"Kenapa menatapku begitu?" Kiba menghentikan aksinya merapikan semak mawar, demi membalas tatapan kagum yang terpancar pada biru jernih manik sang istri. "Ada yang aneh?"
Ino menggeleng, ada senyum yang tak mampu ia tahan. "Terima kasih."
"Untuk apa?" Kiba mengernyit, "untuk merapikan semak mawar?" Ia tahu, wanita itu adalah penggemar bunga nomor satu di dunia. Nyaris seluruh macam bunga ada di halaman belakang atau halaman depan. Ia tak masalah, lagi pula bunga membuat halaman makin indah ketika mekar. Asalkan Ino bahagia, ia akan lakukan.
Wanita pirang itu menggeleng. "Terima kasih sudah mencintaiku selama ini."
Kiba tergelak, apa-apaan itu? "Itu sudah jadi tugasku kan? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?"
Ia menundukkan kepala, mengamati bunga cosmos orange di hadapannya. "Aku nyaris berpikir kau mungkin menyesal telah menikahiku."
"Maksudnya?" Kiba makin menundukkan wajah agar bisa melihat ekspresi wanita itu, dan ketika mendapati air yang tergenang di matanya, ia jadi paham ke arah mana pembicaraan mereka ini. "Hei, kamu bicara apa sih? Aku sudah berpikir matang-matang waktu menikahimu. Tak ada penyesalan apapun. Yeah, kita cocok satu sama lain."
Kali ini ia tak mampu menahan isakannya, bagaimana pun juga, ia telah menahan gelombang kesedihan ini lumayan lama. "Sejujurnya, Kiba, aku nggak berani datang ke rumah orang tuamu. Aku nggak berani dengan semua pertanyaan mereka soal anak."
Hatinya seolah jatuh ke dasar perutnya. Ia tahu, sejak pulang dari rumah orang tuanya kemarin ekspresi Ino agak lain. Ada perasaan tak nyaman yang berusaha ditutupi dengan senyuman. Itu pasti menyakitkan sekali, maka ia meletakkan gunting tanaman yang dibawanya. Dan perlahan ia mendekap wanita itu. "Maafkan keluargaku, aku benar-benar minta maaf. Kalau misal kamu nggak suka pergi kesana, kita nggak usah kesana."
"Tapi mereka benar, aku nggak mengartikan itu sesuatu yang merendahkan. Apa yang mereka sampaikan memang realita." Dada Kiba adalah tempat ternyaman untuk bersandar, aroma maskulin yang bercampur dengan parfum selalu ia ingat sebagai rumah untuk pulang sejak empat tahun terakhir. "Kamu nggak akan menikah sama yang lain kan?"
"Ha? Kenapa kamu mikirnya sampai kesana. Astaga." Ia sedih, jujur, sedih sekali, tapi pemikiran Ino kadang-kadang membuatnya ingin tertawa. "Ngapain aku menikah lagi? Belum tentu aku dapat yang seperti kamu." Dan ia tergelak sesudahnya. Ino memang tidak ada duanya.
.
.
"Bagaimana? Masih mau lanjut?" Kiba memutus keheningan diantara mereka ketika mobil mulai melaju di jalanan malam Tokyo. Malam itu arus lalu lintas tak terlalu padat, sesuatu yang membuat Ino bersyukur karena bisa menikmati pemandangan gedung-gedung indah tanpa terusik.
Wanita itu hanya mengangguk, sembap matanya masih terlihat jelas. Mau bagaimana pun, semua keputusan tergantung pada Ino meski jika boleh jujur ia tak tega melihat istrinya kesakitan dengan semua prosedur yang dijalaninya demi terapi kemandulan ini.
Ino bilang rasanya begitu sakit, dan tes pengambilan darah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alat yang disebut probe dimasukkan lewat vaginanya untuk mengetahui kondisi rahimnya.
"Bagaimana jika ini tidak berhasil?" Air matanya sudah mulai tumpah lagi mengingat penjelasan sang dokter tadi soal tuba fallopinya yang kanan maupun yang kiri terlalu sempit, ini akan sangat sulit untuknya bisa hamil. Jika ovulasi tidak terjadi, tak ada yang bisa dilakukan.
Dengan tangan kiri yang bebas, ia menggenggam tangan istrinya yang gemetaran. Berusaha menenangkannya. "Kita nggak perlu punya anak jika memang nggak bisa."
Kalimat Kiba membuat tenggorokannya kering, meski hatinya terasa begitu sakit namun kelegaan yang tak mampu dijelaskan menyebar dalam dada. "Tapi aku ingin punya anak."
Kadang ia tak tahu cara menenangkan Ino. Namun, sekesal apapun ia pada tingkah wanita itu, Kiba tak pernah mampu menunjukkan kemarahannya. Maka ia menghela napas panjang, dan semakin mengeratkan pegangan tangannya. "Kita bisa mengadopsi dari panti asuhan kalau kau mau."
Ino diam, tak ingin merespon usulan itu. Sebab ia ingin punya anak yang lahir dari rahimnya sendiri, bukan dari rahim orang lain. Tapi diam-diam ia bersyukur karena Kiba tak menuntut banyak hal, pria itu selalu mampu memahaminya bahkan jika itu begitu merepotkan.
.
.
UGD ramai sore itu, bukan karena ada korban kecelakaan parah atau pasien mabuk yang tiba-tiba datang kesana. Melainkan seorang siswi SMA dengan keluhan sakit perut yang tiba-tiba melahirkan. Orang tua siswi itu tentu saja terkejut, selama ini mereka tak tahu jika anaknya tengah hamil. Mereka datang kesana karena mengira anaknya hanya mengalami sakit perut biasa karena terlalu sering makan makanan pedas.
Sore itu jelas menjadi sore yang cukup sibuk, dan meskipun siswi itu hanya menjadi salah satu pasien yang cukup menyita perhatian, beberapa perawat masih tak habis pikir dengan kejadian tersebut.
"Kayaknya kau perlu tanya resepnya, Ino, bagaimana caranya cepat bisa hamil." Karin terkikik pelan, tak peka dengan ekspresi tak nyaman si lawan bicara yang tengah merapikan rambutnya di depan cermin.
"Pergaulan jaman sekarang memang bikin miris ya." Sepertinya Sakura sempat menangkap ekspresi sedih Ino dan memilih untuk mengalihkan perhatian. Dia menepuk pelan pundak Ino lalu keluar dari toilet, sore masih panjang dan sepertinya shift mereka tak akan dilalui dengan banyak istirahat.
.
.
Air matanya sudah nyaris lolos ketika menemukan Kiba tengah berdiri di gerbang rumah sakit, masih lengkap dengan kemeja kantornya. Ino tak habis pikir, kenapa lelaki itu berada disana sementara rintik gerimis sudah mulai berjatuhan dan hembusan angin malam sedikit tak bersahabat.
"Mobilnya mogok, tapi aku sudah telfon bengkel langgananku." Belum sempat ia bertanya, Kiba lebih dulu menjawab.
"Kesini naik apa?" Ino mengernyit, air mata yang menggantung di pelupuk mata tak jadi turun. Tapi tetap saja, suasana hatinya masih tak begitu baik.
"Naik taksi, aku kan sudah janji bakal jemput kamu."
Padahal Kiba bisa saja langsung pulang dan tak perlu menjemputnya. Berbeda dari shift kerjanya yang hanya sekitar tujuh jam, pria itu jelas menghabiskan waktu sekitar empat belas jam untuk bekerja. Jadi lelahnya pasti luar biasa. "Aku kan bisa pesan taksi daring, biar kamu nggak perlu menjemput kemari."
Sembari mengukir senyum tipis, ia memakaikan jas--yang sedari tadi ia pegang-- pada Ino, kemudian menggenggam erat tangan hangat wanita itu. "Masih ingat kencan pertama kita?"
Bagaimana mungkin bisa lupa, itu adalah momen paling luar biasa payah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Pasalnya, ketika mereka berjalan berdampingan menuju restoran china yang menjadi tujuan utama kencan malah harus berakhir di rumah sakit akibat menolong seorang wanita melahirkan. Tak bisa didefinisikan perasaan mereka waktu itu. Canggung, gugup, takut, heran, tapi juga tak tega. "Aku tidak mungkin lupa." Tawa pelannya mengalun, mengabaikan ramainya jalanan Tokyo malam itu.
"Dan ingat kan ini hari apa?"
Ia menengadah demi bisa melihat ekspresi sang suami yang kini juga tengah menatapnya. "Sebentar... "
"Yeah benar, ulang tahun pernikahan keempat kita."
Jantungnya seolah berdentam lebih kencang ketika melihat senyum lebar Kiba, lelaki itu bahkan ingat sementara ia melupakannya. "Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku lupa." Ia agak panik, dan berpikir bahwa mereka perlu membuat sebuah perayaan kecil seperti makan bersama di rumah dengan hiasan lilin romantis, atau memasak makanan kesukaan Kiba seperti yang mereka lakukan tahun kemarin.
"Tidak perlu khawatir, untuk perayaan kali ini mari kita makan di luar. Bagaimana kalau restoran klasik di dekat perempatan itu? Teman-temanku banyak yang merekomendasikan tempat itu sebagai tempat kencan."
"Ah, kedengarannya bagus." Segala beban yang seolah nyaris meruntuhkan pundaknya kini menguap tuntas. Untuk malam ini ia harus menyediakan tempat bagi kebahagiaan dalam hatinya. Kiba sudah meluangkan waktu istirahat untuk membawanya ke restoran mewah ini dan membuatnya seolah menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Dari segala nikmat Tuhan yang diberikan padanya, barangkali Kiba adalah anugerah terindahnya. Dimana lagi ia dapat lelaki yang dapat mencintainya setulus ini? Yang membelanya di hadapan keluarganya? Yang rela melakukan apapun demi bisa membuatnya bahagia. Dan Ino bersyukur untuk itu.
.
end
Lin
25 Oktober 2024
.
.
