Summary

Setelah berhasil membantu Sasuke dan

yang lain dalam mengalahkan Ishiki

Outsutsuki, Naruto dan Kurama akhirnya

mati karena energi kehidupan mereka

terpakai untuk Bayron Mode, namun Naruto

malah mendapati jiwanya berpindah ke

dunia lain dan menempati tubuh seorang

iblis.

Naruto : Masasshi Kishimoto

Highschool Dxd : Ichiei Ishibumi

Rate: M

Pair: Naruto X Serafall

ARC 2 Perjalanan Memenuhi Tujuan

Chapter 7 Outsutsuki Hamura.

(Kuil Bulan)

Naruto dan Serafall tidak pernah menduga akan menemukan sebuah kuil di bulan buatan yang terletak di dunia bawah mitologi Nordik. Bulan itu memancarkan sinar kebiruan, seolah memiliki energi tersendiri.

Kuil tersebut memiliki desain serupa dengan kuil dari dunia shinobi, seluruhnya terbuat dari kayu, namun tetap terjaga kebersihannya dan kokoh. Saat memasuki kuil, Naruto merasa familiar dengan simbol yang terpahat di pintu: sebuah pohon besar tanpa dahan, dengan ujung-ujung seperti kuncup bunga yang belum mekar.

"Pohon Shinju? Apakah kuil ini milik klan Otsutsuki? Sera, pernahkah kau mendengar sesuatu seperti ini?" tanya Naruto, menyadari ukiran di pintu kuil. Ketika ia bertanya pada Serafall, dia hanya menggeleng, menunjukkan bahwa mantan Maou itu pun tidak tahu.

"Naruto-kun, aku tahu duniamu dulu diinvasi oleh klan Otsutsuki, tapi selama hidupku, di dunia kami tidak pernah ada hal semacam itu," jawab Serafall yang tampak terkejut dengan temuan mereka. Naruto awalnya ingin menyangkal dugaan itu, karena jujur saja, akan sangat sulit jika harus berurusan dengan Otsutsuki. Dengan tekad yang mantap, Naruto menyentuh pintu kuil, dan tiba-tiba cahaya muncul dari pintu, seolah-olah memeriksa Naruto.

Beeep….

"Analisis chakra: Naruto Uzumaki, reinkarnasi Ashura serta Hokage ketujuh. Hubungan dengan klan asli: Kaguya Otsutsuki. Hubungan dengan salah satu pendiri: Hagoromo Otsutsuki."

Cahaya yang memindai Naruto menghilang setelah suara mekanis terdengar, menjelaskan identitas Naruto.

"Cukup canggih untuk kuil kuno, Ayo masuk."

Ting….

Serafall tidak bisa masuk ke dalam kuil, seolah-olah dia tidak diizinkan masuk. Sadar bahwa kuil ini hanya untuk pengguna chakra, Naruto berusaha menyelimuti Serafall dengan chakra Kurama.

Ting….

"Sistem keamanan sialan! Sepertinya kau harus menunggu di sini, tidak apa-apa, kan?" Naruto menjelaskan apa yang terjadi, tapi ia mendapati Serafall tersenyum, senyum palsu yang Naruto kenali.

"Kau masuk saja; aku akan menunggu di luar, oke?" Serafall yang berkata baik-baik saja hanya terdiam saat Naruto memegang dagunya, memaksanya menatap dalam-dalam ke iris biru Naruto yang serius.

"Hei, aku tahu apa yang kau khawatirkan, dan aku tidak suka kalau kau tersenyum seperti itu."

Cup….

Naruto mengecup bibir Serafall dengan lembut, yang tentu membuatnya terkejut, karena ciuman pertamanya diambil oleh Naruto, yang baginya masih seperti adik laki-laki nya. Setelah selesai, Naruto tersenyum lebar sambil perlahan mengusap air mata Serafall.

"Sejak pertama kali datang ke dunia ini, aku sudah merelakan dunia shinobi. Begitu pula dengan istriku, Hinata, dan kedua anakku. Aku sudah merelakan semuanya, karena aku memutuskan untuk tinggal di sini. Setelah ini, mari kita mulai hidup baru, bersama, lebih dari sekadar sepasang kakak-adik."

Serafall terdiam, menyadari bahwa secara tidak langsung Naruto meminangnya. Ia akhirnya mengerti bahwa pria di hadapannya ini bukanlah Naruto Sitri, adiknya, melainkan Naruto Uzumaki, sosok yang telah mengubah hidup dan pandangannya.

"Dasar, kau tampaknya tidak main-main dengan onee-chan. Baiklah! Cepat selesaikan urusanmu agar kita bisa segera pergi dari sini." Serafall yang kembali tenang, menyuruh Naruto untuk menyelesaikan urusannya. Semangat Naruto kembali menyala.

"Yoooosha!"

Naruto berlari masuk dengan penuh semangat. Menyusuri lorong kuil yang panjang, ia tiba di aula luas dengan singgasana yang diduduki seseorang.

"Toneri? Hei! Kau Toneri, kan?" seru Naruto.

Toneri bereaksi saat mendengar suara Naruto, dia berdiri dari duduknya, tersenyum kecil, dan berjalan ke arah Naruto dengan kedua tangan terangkat.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Uzumaki Naruto. Jujur, aku senang karena penantian panjang ini akhirnya berakhir," sapa Toneri.

"Jadi benar kau yang memutus ikatanku dengan dunia shinobi?" balas Naruto.

Toneri mengangguk, pertanda itu memang perbuatannya. Keduanya terdiam, dan Toneri tampak menunggu sesuatu yang tak kunjung terjadi.

"Kau tidak menyerangku?"

"Untuk apa aku menyerangmu? Aku tidak menyerang lawan yang tak mampu melawan."

"Setelah kau tahu bahwa aku pelaku semua ini?"

Naruto menghela napas kecil, lalu berjalan ke arah Toneri sambil memunculkan tongkat Rikudo miliknya. Toneri hanya diam, mengira Naruto akan murka padanya, tapi...

Tuk….

"Nah, sudah. Kau puas?"

"Kenapa kau tidak marah? Aku sudah membuatmu tak bisa kembali—"

"Aku sudah merelakan dunia shinobi. Apa pun yang terjadi di sana bukan lagi urusanku, kau mengerti?"

Setelah percakapan itu, wajah Toneri berubah. Ia tampak sangat tidak percaya bahwa pria di depannya ini adalah Naruto. Lalu Naruto berjalan ke arah sebuah lukisan yang menggambarkan pertempuran Hagoromo dan Hamura melawan ibu mereka.

"Toneri, apakah klanmu yang membangun kuil ini?"

"Tidak. Aku juga baru beberapa tahun di kuil ini. Orang yang menolongku dari alat Urashiki memindahkanku ke sini, dan orang itu adalah Hamura-sama."

Akhirnya jelas mengapa sejak awal perjalanan ke sini, Naruto dan Serafall menemukan pahatan berbentuk magatama serta lukisan pohon Shinju di pintu gerbang. Naruto pun mulai yakin bahwa makhluk dari dunia shinobi yang pertama kali ke sini memanglah Otsutsuki, atau lebih tepatnya, Hamura Otsutsuki.

"Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan pesan ini jika kau membunuhku. Tapi karena keadaannya begini, aku sendiri yang akan mengantarmu. Ikut aku." Toneri mengajak Naruto ke suatu tempat, tapi sebelum itu, dia menunjuk ke arah lukisan pertarungan di dekat Naruto, dan tiba-tiba lukisan itu terbuka, memperlihatkan lorong menuju ke bawah. Segera, Toneri berjalan masuk, diikuti oleh Naruto. Selama mereka berjalan, puluhan obor menyala dengan api biru sebagai penerang.

"Naruto, bagaimana keadaan Boruto sejak terakhir kali kau bertemu dengannya?"

"Dia baik-baik saja. Mungkin Momoshiki menanamkan karma di tubuhnya, tapi aku percaya dia akan bertahan dan melindungi keluarganya."

"Begitu, ya. Aku senang mendengarnya. Kita sampai."

Walaupun sudah tidak memiliki mata lagi, Toneri tahu mereka sudah sampai, dan kini mereka berada di atas batu yang mirip dengan Chibaku Tensei.

"Ini... Chibaku Tensei. Jadi bulan yang ada di luar hanyalah lapisan untuk menyamarkan benda ini."

Toneri mengiyakan tebakan Naruto. Perlahan, cahaya biru muncul di segala sisi, membuat Naruto melihat bahwa tidak jauh dari mereka tertancap sebuah tongkat milik Hamura.

"Ngomong-ngomong, apa yang dia segel di dalam benda ini? Ukurannya hampir sama dengan Chibaku Tensei yang kami gunakan untuk menyegel Kaguya."

"Mahluk pembawa kiamat, Triexha."

(Alam bawah sadar)

"Apa? Bagaimana bisa dia disegel di sini?!"

Ophis, yang berada di dalam tubuh Naruto, terkejut dengan perkataan Toneri, karena yang ia tahu Triexha disegel di ujung dunia, yakni tempat terjauh di dunia manusia, terdekat dengan Mekai, dan dekat dengan Surga.

Saat Ophis tengah terkejut, ia merasakan tekanan kekuatan asing muncul, begitu pula Kurama, yang tiba-tiba membulatkan matanya dan langsung berdiri. Naas, akibatnya Ophis yang sedang berdiri di kepala Kurama akhirnya jatuh dengan kepala lebih dulu.

Tuuuuk….

"Oi, musang! Kenapa kau tiba-tiba berdiri?"

"Chakra ini... tidak salah lagi."

"Chakra? Tunggu… ini mirip kakek tua itu."

(Alam nyata)

Sama seperti Ophis dan Kurama yang merasakan tekanan chakra asing, Naruto terlihat bersiap untuk bertarung sesaat setelah sosok asing yang tak dikenal muncul di dekat tongkat yang tertancap.

"Akhirnya kau datang, reinkarnasi Ashura." Sambut sosok misterius itu dengan senyum ramah di wajahnya. Naruto masih waspada, tapi tidak dengan Toneri yang malah menundukkan tubuhnya.

"Hamura-sama."

"Hamura-sama! Jadi dia saudara kakek Rikudou? Pantas dia terlihat seperti alien."

"Hoi! Siapa yang kau panggil alien?!"

"Kan Otsutsuki datangnya dari luar angkasa, jadi wajar aku sebut alien."

Keringat dingin keluar di dahi Toneri saat Naruto dengan wajah tanpa dosa mengatai Hamura sebagai alien, apalagi sekarang Naruto kembali memanasi suasana, tapi untungnya Hamura masih bisa bersabar.

"Haaah… lupakan saja. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, dan tolong jawab ini dengan serius karena ini akan berdampak pada dunia ini." Hamura menyampaikan maksud kedatangannya. Naruto pun akhirnya memasang ekspresi serius.

(skip)

Naruto berjalan keluar dari kuil sambil diikuti Toneri di belakangnya. Tampak sekarang Toneri sudah dapat melihat dengan mata baru berupa Tenseigan. Di luar, mereka langsung disambut oleh Serafall yang telah menunggu.

"Keluar juga akhirnya. Kau membuat aku khawatir tahu, dan siapa dia?" tanya Serafall saat melihat Toneri yang berdiri di belakang Naruto.

"Ini Toneri, sepupu jauhku... sangat jauh malah. Dia yang menjaga tempat ini."

"Salam kenal, namaku Toneri Otsutsuki." Sapa ramah Toneri pada Serafall. Kemudian tampak Naruto merasakan sesuatu masuk ke dalam lubang dengan kecepatan penuh, apalagi dia mendapati kalau bunshin yang dia kirim telah hilang.

"Toneri, aku rasa kau harus beri pelajaran pada anjing itu. Lagipula, sudah lama aku tidak lihat kekuatan Tenseigan."

Seketika itu juga, Toneri diselimuti jubah chakra yang sama seperti saat melawan Naruto di bulan. Segera Toneri melesat menuju jalan keluar dengan kecepatan penuh. Melihat itu, Naruto hanya tersenyum karena membayangkan wajah Odin saat tahu kalau dia sama sekali tidak menyelesaikan masalah, malah menambah masalah di mitologi Nordik.

"Heh, siapa juga yang suruh mempercayaiku. Ayo, Sera, kita susul Toneri karena aku ingin mengetes jutsu baru yang aku dapatkan."

(Bagian luar Helheim)

Di bagian luar Helheim tampak terjadi perseteruan antara Loki dengan Thor karena keinginan Loki untuk masuk ke dalam lubang karena kekkai yang menghalangi sudah menghilang. Sedangkan Thor sendiri diperintah oleh Odin untuk memastikan tidak ada satu pun makhluk yang masuk ke sana.

"Ayolah, Thor, kau lihat sendiri, iblis itu hancur saat terkena seranganku. Dia memang bisa membuka kekkai ini, tapi dia itu lemah. Mungkin di dalam sana ada kekuatan tersembunyi." Loki menyampaikan pikirannya, apalagi saat melihat Naruto atau lebih tepatnya bunshin Naruto menghilang terkena serangan darinya.

"Tidak, Loki. Atas perintah dari All Father, aku akan menjaga lubang ini. Dan kau sebaiknya panggil kembali Fenrir."

Kaaaaboom….

Suara ledakan keras terdengar dari dalam lubang dan itu membuat kedua dewa tersebut terkejut, dan tidak lama sebuah angin topan berwarna hijau keluar dari lubang sambil membawa Fenrir yang tampak terluka parah.

Wuuuuush…..

Toneri keluar dari lubang dengan masih memakai jubah chakra miliknya, menatap dua dewa yang ada di bawahnya. Segera pemuda itu menciptakan sebuah serangan dengan menggabungkan beberapa gudoudama yang ada di belakang tubuhnya.

(sementara itu)

"Sialan! Apa maksudnya ini?! Kenapa orang itu masih hidup?! Naruto… sial, apa dia memanfaatkan misi ini untuk membangkitkannya?" Odin menatap tak percaya pada cermin buatannya, apalagi sekarang terlihat kedua putranya tengah bertarung melawan Toneri yang telah mendapatkan kembali kekuatannya. Odin berniat mengumpulkan prajurit Valhalla, tapi sesaat setelah dia berdiri, terlihat Naruto tengah menatapnya dengan senyum mengejek.

"Oh hei, Pak Tua, kau mencariku?" sapa ramah Naruto dengan masih memasang senyum mengejeknya.

"Kau!"

Traaank….

Odin menyerang Naruto menggunakan Gungnir, tapi serangan itu dengan mudah ditahan menggunakan tongkat Rikudou. Suara tawa langsung terdengar dari Naruto yang masih menahan senjata Odin.

"Hahahahaha, serius kau baru sadar sekarang? Mana mungkin aku mau membantu rencanamu."

"Apa rencanamu yang sebenarnya?" Odin bertanya maksud Naruto yang sebenarnya, tapi dia malah harus dipaksa untuk menjauh saat tiga gudoudama melesat ke arahnya. Namun, itu hanya pengalihan karena terlihat Naruto membentuk satu handseal dengan dua tangan, lalu mengarahkannya pada Odin.

"Senpo, Inton Raiha!"

Blaaaast….

Sambaran petir ungu gelap keluar dari kedua tangan Naruto yang langsung menyerang Odin dengan sangat cepat. Berusaha menghindari serangan Naruto, Odin malah mendapati serangan Naruto semakin cepat sehingga memaksanya berteleportasi keluar ruangan.

Booooom….

"Huh? Lah, kabur dia. Sebaiknya aku memeriksa keadaan mereka." Naruto yang melihat kepergian Odin langsung ikut pergi untuk memastikan kondisi Toneri dan Serafall.

(Helheim)

Sedangkan di Helheim sendiri terlihat sebuah kubah es raksasa tercipta dari sihir Serafall. Jika kita lihat ke dalamnya, tampak Thor dan Loki yang tengah bertarung melawan Toneri. Kondisi kedua dewa itu tampak tidak baik-baik saja.

"Ginrin Tensei Baku!" Toneri yang masih dalam mode chakra miliknya mengumpulkan beberapa gudoudama di tangan kanannya, dan dari sana tercipta sebuah pusaran angin berwarna hitam yang langsung menyerang Thor. Berusaha menghindari serangan Toneri dengan terbang mengelilingi kubah es, Thor dikejutkan oleh ratusan tombak es yang muncul dari atas dan langsung ikut menyerangnya.

Di luar kubah, terlihat Serafall yang tengah menjaga kubah es miliknya tersenyum kecil, karena baru kali ini dirinya membuat masalah dengan fraksi besar seperti Nordic.

"Yah aku harap ini akan membantu." Serafall berucap pelan sambil kembali melancarkan serangan kearah Thor dan Loki lewat kubah es miliknya, tapi tidak lama sebuah lesatan energy sihir dengan intensitas besar menghantam kubah es, dan ternyata pelaku penyerangan tidak lain adalah para dewa Aesir yang telah datang bersama ribuan prajurit.

"Sial!" Melihat mereka semua dengan wajah panik, Serafall segera menciptakan sihir pelindung dengan satu tangan, karena tangan yang lain sibuk menahan kubah es. Saat menahan serangan itu, sihir pelindung milik Serafall tampak mulai retak.

Dhuuuuuar...

Ledakan besar terjadi ketika sihir pelindung Serafall tak mampu menahan serangan tersebut. Saking kuatnya, kubah es Serafall hancur seketika. Namun, tampaknya Serafall masih selamat, karena kini terlihat Naruto melindungi Serafall menggunakan gudoudama yang dibentuk menjadi perisai.

"Untung sempat." Naruto menarik napas lega sambil mengembalikan bentuk gudoudama miliknya. Menatap ke belakang, ia mendapati Toneri juga baik-baik saja dan masih menggunakan mode chakra Tenseigan. Sementara itu, dua dewa yang dilawan Toneri tampak terkapar, kehilangan kesadaran dengan beberapa tombak es tertancap di tubuh mereka.

"Naruto Uzumaki! Beraninya kau mencari masalah dengan kami!" Odin berteriak dengan wajah penuh amarah, dan terlihat ia serta para dewa lainnya bersiap menyerang. Melihat itu, bukannya panik, Naruto justru mengeluarkan tekanan chakra dan sihir besar-besaran hingga membuat seisi Hellheim berguncang.

Kraak… Kraak…

Tanah di tempat Naruto berpijak mulai hancur, dan terlihat Naruto memasuki mode chakra Kurama. Kali ini berbeda, karena aksen hitam pada mode chakra Naruto berubah menjadi ungu gelap, serta sepasang sayap naga astral berwarna ungu yang tercipta dari sihir muncul di belakang tubuhnya.

"Hoi, Pak Tua… aku rasa kau harus tahu satu hal." Naruto berbicara sambil tetap mengeluarkan tekanan chakra miliknya. Untung saja ia segera menyelimuti Serafall dengan chakra Kurama agar dapat bertahan. Sedangkan Toneri, ia terkejut karena kekuatan yang Naruto miliki sekarang puluhan kali lipat lebih besar dibandingkan terakhir kali mereka bertarung.

"Aku bebas melakukan apa yang aku mau, kapan pun dan di mana pun aku berada, baik Surga, dunia manusia, atau neraka sekalipun, tidak ada yang bisa menghentikan aku."

(Skip)

Di daerah Yokohama, terlihat trio pembuat kekacauan di mitologi Nordik sebelumnya tengah bersantai di sebuah kedai ramen kecil. Baik Naruto, Serafall, maupun Toneri tampak menikmati makanan sambil sesekali membahas apa yang terjadi.

"Haaaah… Naruto-kun, kau membuatku hampir terkena serangan jantung, tahu! Untung saja lancar, kalau tidak… mungkin kita akan melawan seluruh Nordik."

Sluuurp… "Hehehe, ya, maaf. Lagipula aku tak bisa membiarkan mereka tahu kalau di sana ada tubuh Triexha. Jika tidak, mungkin mereka akan memanfaatkannya sebagai senjata."

Sluuurp... "Kau benar. Tapi selama aku ada, wasiat Hamura-sama akan a... ohok, ohok, ohok…."

Duuugh…

Segera sepotong daging meluncur keluar dari mulut Toneri saat Naruto memukul punggungnya untuk membantunya berhenti tersedak. Setelah itu, bukannya minum air, Toneri malah lanjut makan.

'Ini albino sudah tidak makan berapa tahun sih?' Naruto hanya bisa berkata dalam hati melihat tingkah Toneri yang sangat di luar karakter saat makan ramen.

"Jadi, setelah ini kalian akan ke mana? Apa akan langsung menikah?" Pertanyaan spontan dari Toneri membuat Naruto ikut tersedak. Bahkan Serafall sempat batuk saat minum airnya. Dengan wajah memerah, Serafall tertawa kecil sambil kakinya menyenggol kaki Naruto, maksudnya agar pria pirang itu memberi jawaban.

"Y-yah… untuk itu mungkin nanti. Kami juga masih ingin pergi ke berbagai tempat, iya kan, Sera-chan?" Naruto dengan wajah memerah malu tampak memberi alasan seadanya.

"Iya, benar. Oh ya, Toneri-san, karena kata Naruto kau tidak punya tempat tinggal, apa kau mau tinggal di mansion kami yang ada di Inggris? Kami berencana pergi cukup lama, jadi tidak ada yang akan menjaga mansion selama kami pergi."

"Benarkah?" Toneri tentu senang mendengarnya. Serafall lalu melemparkan kunci mansion kepada Toneri, sementara Naruto tampak memandang sebuah poster yang menunjukkan gambar sebuah kuil.

Setelah selesai makan, ketiganya langsung berpisah. Toneri pergi ke Inggris, sedangkan Naruto dan Serafall melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi dunia.

Beberapa hari kemudian...

Di sebuah pantai yang sangat sepi, terlihat Naruto dan Serafall tengah berbaring di kursi pantai di bawah naungan pohon kelapa. Naruto yang hanya mengenakan celana pendek oranye dan kacamata hitam, menatap langit cerah di depan mereka. Serafall yang juga memakai kacamata hitam dan baju renang putih, tampak menikmati pemandangan yang sama.

"Hah, memang benar bahwa menikmati hari-hari tanpa masalah adalah hal yang menyenangkan. Tidak sia-sia kita ke Yunani."

"Kau bicara santai setelah apa yang kau lakukan. Mungkin Poseidon dan para dewa Olimpus akan ke sini setelah tahu kita mengusir Triton dari pantai pribadinya dua hari lalu."

Naruto tertawa lepas mendengar keluhan Serafall tentang aksinya yang membuat mereka bisa bersantai di sini. Namun, tak lama kemudian, Naruto memasang wajah serius karena di dalam hatinya ia tengah dilanda kebingungan.

'Kapan aku harus mengajaknya menikah? Apa setelah perjalanan ini? Aku memang sudah punya cincin, tapi...'

.

Hari demi hari, minggu demi minggu, hingga bulan demi bulan, Naruto dan Serafall menghabiskan waktu mereka untuk berkeliling dunia, mengunjungi berbagai wilayah dan bertemu berbagai makhluk dari mitologi yang berbeda. Meski mereka sering terlibat masalah, mereka tetap menjalani hari-hari bersama dengan penuh kebahagiaan.

Sesekali, Naruto mengajak Serafall berkencan. Meski terdengar tidak seperti Naruto, tapi itulah yang terjadi. Mereka menghabiskan waktu bersama di kota-kota besar di berbagai belahan dunia. Hingga akhirnya, mereka berdua sampai di tujuan akhir mereka: sebuah air terjun di kawasan Amerika Selatan yang sering disebut sebagai "Air Terjun Surga." Di sana, Naruto dan Serafall duduk di tepi tebing curam, memandang derasnya air terjun yang jatuh, dengan langit senja yang berwarna oranye.

"Nee, Sera-chan, menurutmu... apa perjalanan ini sudah berakhir?" Naruto bertanya sambil menatap ke bawah. Mendengar itu, Serafall hanya tersenyum simpul karena memang benar, mereka telah menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk perjalanan ini.

"Aku rasa iya. Sekarang, baik kau maupun aku, tak ada lagi tempat yang harus kita tuju. Jadi, mungkin... kita bisa melakukannya."

"Melakukannya? Melakukan apa maksudmu?"

Ctaaak...

Seketika kerutan muncul di dahi Serafall karena perkataan Naruto, dan tanpa pikir panjang, wanita iblis itu melepaskan sebuah pukulan ke wajah Naruto.

Plaaak…

"Kau menculikku dari Mekai, lalu mencuri ciuman pertamaku! Kemudian kau bilang akan mengajakku menikah! Dan sekarang kau malah lupa!!!" Serafall berteriak marah setelah membuat Naruto terlempar ke belakang hingga menghantam batu. Seketika suasana romantis berubah menjadi tegang, apalagi sekarang Serafall terlihat mengeluarkan aura hitam dan menatap Naruto dengan kilatan mata tajam. Naruto yang tak menyangka akan kemarahan Serafall, hanya bisa terdiam ketakutan.

"Tunggu, Sera-ch-" Naruto terhenti saat sebuah bola demonic power meluncur ke arahnya.

Boooom…

Untung saja Naruto masih sempat menghindar. Tampak Serafall dengan sebuah bola demonic power di tangannya, tersenyum manis namun siap meluncurkan serangan yang sama lagi.

"Jadi, Naruto-kun, kau mau bilang apa? A-re…" Kali ini perkataan Serafall terhenti sesaat setelah mendapati Naruto bergerak sangat cepat ke arahnya dan meraih tangan kanannya. Terlihat Naruto melepaskan tangan Serafall setelah meninggalkan sebuah cincin hitam di sana.

"A-aku… aku sedang ragu, kau tahu. T-tapi baiklah! Serafall, a-aku m-mau k kau... jangan tertawa!" Naruto entah kenapa tampak sangat grogi. Wajahnya memerah seperti tomat, dan kini ia melihat Serafall menahan tawa karena wajahnya yang terlihat lucu.

"Fssst... hahaha! Maaf, maaf, wajahmu sungguh lucu. Tapi, kau tak perlu menyelesaikannya. Aku juga sudah mencintaimu sejak kau mencuri ciuman pertamaku. Sejak itu, aku sudah menerima dirimu bukan sebagai adikku, Naruto Sitri, tapi sebagai Naruto Uzumaki. Jadi, terimalah aku, Naruto-kun."

(Alam bawah sadar)

"Well, aku kira live streaming kali ini tidak terlalu buruk." Kurama yang melihat Naruto dan Serafall berciuman dengan latar matahari terbenam, tampak puas dengan tontonan kali ini. Namun tidak demikian dengan Ophis, yang tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi antara Naruto dan Serafall.

"Aku tidak mengerti sama sekali."

.

.

.

TBC

Untuk alur yang terasa cepat, penulis sungguh minta maaf. Dalam pengerjaan arc kedua ini, terdapat hambatan pada layar ponsel penulis yang mengalami masalah, terutama di bagian bawah tempat tombol spasi dan tanda koma berada, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaikinya.

Penulis pamit.

Chapter 8: Reuni.