Shinobi of Tempest

Bab 25 : Ajakan Damai.

Ketiga remaja itu mengangguk gemetar, merasa lega namun juga takut. Mereka menyadari bahwa kehidupan mereka kini berada di tangan Rimuru dan Naruto.

Naruto pun menurunkan auranya, naga ungu yang berbentuk dari energinya mulai menghilang. Namun, dia memperingatkan mereka dengan suara datar, "Jika kalian mengkhianati desa ini, tidak akan ada pengampunan lagi."

Rimuru memandangi Naruto dengan penuh rasa terima kasih, sementara Naruto hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa meskipun keputusannya berbeda, dia bersedia mendukung harapan Rimuru untuk perubahan.

Namun, sebelum pergi Naruto berhenti dan menatap Benimaru dan yang lain, "Benimaru, bawa pasukanmu bersama kami, Souei cari posisi untuk mengepung dari belakang jika peperangan tidak terhindarkan. Lalu Shion kau dan pasukanmu berjaga di posisi sayap kiri dan menghancurkan pertahanan musuh dari samping!"

"Na-Naruto, bukankah kita cuman ingin berdiskusi?" tanya Rimuru.

"Rimuru, jangan lembek dan berhentilah bersikap naif, aku tahu kau sendiri sadar, kalau mereka tidak ada niatan untuk mundur, diskusi hanya formalitas, aku punya pirasat kalau mereka akan mengepung kita jika kita hanya berdua, jadi membawa Benimaru dan pasukannya itu akan membuat mereka berpikir dua kali untuk melanjutkan invasi dan mungkin akan mendengarkan kita. Lalu untuk Souei dan Shion yang bersembunyi digunakan sebagai serangan kejutan jika mereka masih tidak mendengarkan dan ngotot," ucap Naruto dengan serius

"Aku setuju dengan apa yang Naruto katakan. Rimuru, jika saja Naruto tidak bertindak cepat, negri ini akan runtuh. Memang caranya agak brutal, tapi setidaknya berkat Naruto Tempest masih berdiri, kau memang bercita-cita untuk membua negri yang ramah pada semua orang. Namun, kamu juga harus ingat, kalau, selalu ada pengecualian di beberapa situasi," ucap Mjormiel yang sudah membangun cabang restorannya di Tempest.

"Baiklah aku mengerti," ucap Rimuru.

"Jangan khawatir Rimuru-sama, kita akan menahan diri untuk tidak membunuh mereka," ucap Shion dengan semangat.

"Untuk Shuna dan Hakurou, kalian berdua mengawasi tawanan kita, karena ada kemungkinan mereka diam-diam merencanakan sesuatu," ucap Naruto yang langsung berangkat bersama Rimuru, Benimaru, Shion dan Souei beserta pasukan yang berada di bawah komando mereka.

"Kami paham Naruto-sama," seru Hakurou

Setelahnya seperti yang direncanakan. Naruto dan Rimuru dikawal oleh Benimaru dan pasukan Hobogoblin yang berada dalam kesatuan Kurenai, lalu Shion dan pasukannya, bergerak ke posisi sayap kiri pasukan musuh dan bersembunyi dibalik jubah rumput yang membuat mereka menyatu dengan pemandangan sekitar. Sedangkan Souei ia dibantu oleh Souka dan bawahannya bersembunyi dibarisan belakang Kamp musuh, lalu menyamar dengan Henge no jutsu yang pernah Naruto ajarkan menjadi beberapa prajurit Falmuth agar bisa mengacaukan formasi musuh saat hal yang tak diinginkan terjadi.

"Hei orang-orang Falmuth!" seru Rimuru dengan suara keras dari skill kelelawar yang pernah ia makan sewaktu mencoba keluar dari go'a Veldora. "Apa yang membuat kalian berani membuat Kamp Militer di wilayah kami!" seru Rimuru dengan aura mengintimidasi.

"Suara ini sangat keras dan auranya sangat mengintimidasi."

"Sial apa yang terjadi?"

"Dimana Folgen?!" panik para Prajurit Falmuth.

"Ini peringatan terakhir. Jika kalian tidak punya alasan untuk terus berada di sini maka enyahlah!" seru Naruto dengan suara yang sangat-sangat keras hingga bergema di seluruh hutan dan memekakkan telinga para prajurit Falmuth.

Sementara itu di salah satu tenda Kamp Militer Falmuth. Terlihat seorang pria tua dengan pakaian mewah dan diduga Raja dari Falmuth kaget mendengar suara Naruto dan Rimuru yang menggema dan mengguncang mental para prajuritnya.

"Hoaaaa, apa yang terjadi? S-Suara siapa itu?!"

"Bawa pemimpin kalian kemari! Ini perintah!" seru Naruto yang disertai aura intimidasi yang membuat banyak orang yang bermental lemah langsung lemas dan buang air kecil disaat masih mengenakan armor berat mereka.

"Oi-oi, bukankah ini berlebihan," gumam Rimuru yang melihat semua pasukan Falmuth bergetar ketakutan.

Mendengar suara Naruto yang bergema itu, Raja Falmuth pun datang bersama uskup pendampingnya dan berjalan menemui Naruto dan Rimuru dikawal oleh para prajurit.

"Bagaimana bisa pemimpin para monster ini di sini? Bukankah seharusnya dia sedang bertarung dengan Hinata Shakaguchi dan apa-apaan suara dan aura mengerikan ini? Apa benar pemimpin wilayah ini seonggok slime?" ucap tak percaya sang Raja.

"Entahlah, aku juga mempertanyakan kenapa Razen tidak hadir di sini," gumam pelan sang Uskup yang berbadan gemuk itu.

Setelah mereka hadir di hadapan Naruto dan Rimuru, terlihat tatapan tajam Naruto membuat mereka semua gemetar, selain Naruto, Benimaru juga sangat mengintimidasi.

"Aku Pemimpin mereka, Raja Falmuth! Sekarang mana pemimpin kalian?!" seru Raja Falmuth yang sudah terlihat tua dan rentan itu mencoba mempertahankan wibawanya.

Naruto langsung menenangkan auranya, "Aku adalah raja yang memimpin Tempest, Naruto Tempest bersama istriku, Rimuru Tempest, kami mempertanyakan soal kehadiran kalian yang memasang kamp militer di wilayah kami. Apakah kalian sedang bersiap memerangi kami?' tanya Naruto dengan nada tenang, ia mulai menciptakan meja kayu dan kursi kayu untuk dirinya, Rimuru dan Raja dari Falmuth itu, untuk berbicara dari hati ke hati di atas meja bundar.

"Aku dan istriku tidak menginginkan konflik dengan negara manapun. Namun, bukan berarti kami akan diam ketika di serang duluan. Kami memang tidak suka berperang. Namun, beda jika kami diperangi, kami hanya ingin wilayah yang damai, jadi jika kalian tidak ingin adanya pertumpahan darah antara rakyat kita, pergilah dengan damai," pinta lembut Naruto.

"Kalian monster sungguh percaya diri, ya, mengira bisa berdiskusi setara dengan manusia. Apakah kalian tahu kekuatan yang bisa kami panggil untuk mengalahkan kalian? Jika Tempest ingin bertahan, mungkin lebih baik kalian tunduk pada kami."

"Apa katamu!" seru Benimaru yang langsung ingin mencabut pedangnya.

"Tahan Benimaru, kita sedang berdiskusi!" seru Rimuru, "Kami memang hanyalah monster yang mencoba membuat pemukiman, desa dan kota yang damai dan juga bersaing dengan manusia. Namun, asal Anda tahu, Federasi Jura Tempest sudah diakui oleh Dwargon dan Eurazania. Jika kalian berani macam-macam dengan wilayah kami, kalian mungkin berhadapan dengan aliansi kami nantinya. Jadi bukankah akan lebih bijak untukmu mundur dan memikirkan hubungan yang lebih baik dan saling menguntungkan, ketimbang invasi seperti ini?" ucap Rimuru sambil mencoba menatap tajam ke arah Raja Falmuth.

Naruto kemudian memunculkan pohon anggur di dekat mereka dengan jutsu Mokuton milik Hashirama yang sudah ia kembangkan, lalu membuat cangkir kayu di atas meja bundar, dilanjutkan mencincang buah anggur itu dengan kekuatan angin dan menggerakan cairannya masuk ke dalam cangkir, serta di akhiri engan mendinginkannya menggunakan jutsu milik Haku.

"Minumlah, dan pikirkan baik-baik, apakah tindakan mengorbankan banyak pasukan dan aset negara untuk menaklukan kami itu sepadan. Selain itu tidak ada jaminan kalian bisa menang. Karena Folgen dan Razen sudah mati, lalu orang dunia lain yang jadi kartu as kalian sudah jadi tahanan di kota kami," tambah Naruto dengan dingin.

Raja Falmuth terdiam sesaat, menatap minuman anggur dingin yang disajikan oleh Naruto. Wajahnya menunjukkan keraguan, dan ada tanda-tanda kebingungan yang jelas. Para prajuritnya menatapnya, berharap keputusan yang bijak keluar dari pemimpinnya.

Dengan suara yang sedikit bergetar, Raja Falmuth berkata, "Kau mungkin benar, Naruto Tempest. Menyerang negeri kalian bukanlah keputusan yang dapat diambil begitu saja... Tapi perlu diingat, Falmuth tidak akan tunduk pada ancaman monster."

Naruto hanya tersenyum tipis, membalasnya dengan tenang, "Kami tidak butuh kalian tunduk. Kami hanya meminta agar kalian menghindari konflik yang sia-sia."

Raja Falmuth menghela napas dalam, tatapannya beralih ke Rimuru yang sejak tadi menatapnya dengan tajam namun tenang. Di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang membuat Raja merasa tak nyaman—perpaduan antara ketegasan dan tawaran damai yang tak biasa dari seorang pemimpin monster. Rimuru akhirnya angkat bicara, "Raja Falmuth, kita bisa membangun hubungan yang saling menguntungkan. Aku yakin kau memahami bahwa sebuah aliansi bisa lebih bermanfaat daripada perseteruan."

Sang Raja mengangguk pelan. "Baiklah," katanya dengan suara yang lebih lembut, "aku akan mempertimbangkan tawaran ini... Namun, aku perlu waktu untuk mendiskusikan dengan dewan kerajaanku."

Naruto dan Rimuru saling bertukar pandang sejenak. Naruto mengangguk, menyadari bahwa ini adalah langkah positif menuju perdamaian. "Kami akan memberikan waktu bagi kalian untuk berpikir," ujar Naruto sambil memandang tegas ke arah Raja Falmuth. "Namun, kami ingin jawaban yang jujur, dan ingatlah, Tempest akan selalu siap jika kalian memilih jalan kekerasan."

Raja Falmuth menundukkan kepalanya, lalu memberikan isyarat pada para prajuritnya untuk mundur. "Baiklah... Aku akan kembali dan memberikan jawaban secepatnya. Namun, ingatlah bahwa Falmuth tidak akan gentar," ucapnya, mencoba mempertahankan wibawa.

Rimuru tersenyum, menunjukkan sikapnya yang terbuka. "Kami harap keputusanmu bijak, Raja Falmuth. Demi perdamaian, kami selalu siap bekerja sama. Sampai jumpa."

Dengan langkah berat, Raja Falmuth beserta prajuritnya berbalik pergi, meninggalkan wilayah Tempest dengan ketidakpastian yang menggantung. Rimuru menarik napas lega, sementara Naruto menatap punggung sang Raja dengan tatapan yang waspada.

"Sepertinya kita sudah memberi peringatan yang cukup kuat," ucap Rimuru, melirik Naruto.

Naruto mengangguk. "Ya, tapi tetap bersiaplah. Tak ada jaminan mereka akan menepati janji," jawabnya dingin.

Rimuru hanya tersenyum. "Setidaknya kita mencoba. Lagipula, kita akan siap untuk menghadapi apa pun yang mereka putuskan."

Keduanya berdiri berdampingan, memperhatikan rombongan Raja Falmuth yang menjauh, dan menyadari bahwa meskipun langkah menuju perdamaian tidak selalu mudah, mereka siap menghadapi apa pun demi melindungi Tempest.

"Tapi sejujurnya, akan lebih aman jikakita membunuh mereka semua. Namun, ketika aku melihat tekatmu untuk tidak membunuh banyak manusia dengan berbagai cara, akhirnya aku mengalah," ucap Naruto yang menjelaskan kenapa ia memutuskan jalan Diplomatis, meskipun dalam benaknya ia akan lebih setuju jika mereka membantai mereka tanpa banyak bicara.

Rimuru menoleh kepada Naruto, terkejut mendengar kejujuran dari sahabatnya itu. Namun, bukannya merasa tersinggung, Rimuru hanya tersenyum kecil. "Aku tahu, Naruto. Aku tahu kamu mungkin lebih memilih cara yang lebih cepat dan efektif," jawab Rimuru sambil menatap lurus ke depan, melihat bayangan prajurit Falmuth yang semakin menjauh.

"Tapi, kau tetap mendukung pilihanku," lanjut Rimuru, nada suaranya penuh rasa terima kasih. "Aku percaya bahwa cara damai akan memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup berdampingan dengan lebih banyak orang. Dengan begitu, kita bisa membangun dunia yang lebih stabil dan aman."

Naruto mendengus pelan, masih mempertahankan ekspresi serius. "Aku menghargai caramu berpikir, Rimuru. Tapi ingat, tidak semua orang akan sebaik hati itu. Ada banyak manusia yang hanya akan melihat kebaikan kita sebagai kelemahan."

Rimuru mengangguk, sepenuhnya menyadari kekhawatiran Naruto. "Itulah mengapa aku butuh kau di sisiku. Kau adalah pengingat bahwa dunia ini membutuhkan kekuatan dan perlindungan. Aku mungkin mencari cara damai, tapi aku tahu kau selalu siap menghadapi sisi yang lebih gelap jika memang diperlukan."

Naruto akhirnya tersenyum tipis, dan mengangguk. "Aku akan selalu mendukungmu, Rimuru. Meskipun aku tidak selalu setuju dengan caramu, aku akan tetap berada di sini untuk memastikan Tempest tetap berdiri—baik dengan cara damai maupun dengan kekuatan penuh jika keadaan memaksa."

Rimuru tersenyum hangat. "Itu sudah lebih dari cukup, Naruto. Bersama, kita bisa menjaga Tempest dan mewujudkan impian yang kita inginkan."

Dengan kesepahaman baru yang semakin kuat, mereka kembali ke Tempest bersama Benimaru, Shion, dan Souei yang mengikuti mereka di belakang. Meskipun jalan perdamaian yang dipilih mungkin lebih rumit dan penuh risiko, Naruto dan Rimuru tetap siap menjalani apa pun yang diperlukan demi keamanan dan masa depan Tempest.

"Naruto-sama! haruskah kami kembali sekarang?" tanya Souei melalui telepati.

"Kembalilah, tapi tinggalkan bunshinmu bersama mereka, untuk mengetahui apa keputusan dan strategi mereka, akan lebih bagus lagi jka kau bisa mensabotase atau mengacaukan strategi mereka, jika mereka kembali mencoba menyerang Tempest" ungkap Naruto melalu telepatinya.

Tak lama setelahnya, Souei langsung muncul di samping Naruto dan berkata, "Aku dan Souka sudah meninggalkan bayangan kami untuk menggali Informasi, jika ada berita dari para bayanganku, aku akan langsung mengabarkannya pada kalian," ucap Souei dengan tegas.

"Baguslah," gumam pelan Naruto.

"Naruto-sama, Rimuru-sama, apa tidak masalah jika membiarkan mereka pergi? Meskipun sudah meninggalkan bayangan Souei, bisa saja mereka mengadakan rapat di ruangan yang bisa mengisolasi sihir telepati, jika hal ini terjadi kita tidaka akan mendapatkan informasi dengan cepat," ungkap Shion yang mengungkapkan rasa Khawatirnya.

"Aku mengerti kekhawatiranmu Shion. Namun, percayalah pada rekanmu, selain itu, aku pasti akan melindungi Tempest, apapun yang terjadi," ucap Naruto sambil melirik ke arah atas dan tatapannya terlihat sangat tajam dan mengancam, seolah-olah ada sesuatu yang mengawasi dari udara.

"Ada apa Naruto? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?' tanya Rimuru yang menyadari tatapan tajam Naruto.

"Aku hanya memikirkan kata-kata Gazell saja, dia bilang sebaiknya aku harus mencari cara untuk bisa punya anak, karena seorang Raja tanpa penerus hanya akan membawa kehancuran bagi negaranya. Aku tau dia bercanda dan juga kalaupun aku mati, kau masih bisa menggantikanku dengan baik, jadi aku rasa hal semacam ini, harusnya tidak masalah. Namun, entah kenapa aku selalu kepikiran tanpa bisa melupakannya," ucap Naruto sedikit berdalih, karena ia tidak ingn Rimuru tahu apa yang sebenarnya ia lihat.

Namun, tentu saja, karena resonansi yang terjadi, Rimuru bisa tahu yang terjadi dan apa yang sebenarnya Naruto pikirkan ketika menatap langit, "Keh, kenapa kau menyembunyikannya, bilang saja kalau kau melihat mata-mata yang mengawasi kita," ucap Rimuru.

"Ahahahaha, sepertinya resonansi itu benar-benar membuatmu terhubung denganku, bukan hanya ingatan, dan kekuatan yang saling terhubung. Namun, kau juga bisa melihat apa yang aku lihat rupanya," gumam pelan Naruto.

"Yah, aku juga bisa mendengarkan semua isi pikiranmu, dan sayangnya itu juga berlaku sebaliknya, sekarang entah kenapa rasanya komunikasi kita jadi agak canggung, karena tanpa bicarapun, kita sudah saling tahu satu sama lain," ucap Rimuru yang menggaruk kepalanya.

"Apakah itu akan menjadi masalah Rimuru-sama?" tanya Benimaru tiba-tiba.

"Tentu ini adalah masalah, kita jadi tidak bisa menjaga rahasia apapun, dan kami jadi tidak tahu harus berbicara apa, karena tanpa bicara kami berdua sudah saling mengerti keinginan masing-masing bahkan hal terpendam yang aku tidak ingin Naruto tahu bisa diketahui Naruto dan begitu juga sebaliknya!" seru Rimuru.

"Memangnya Resonansi itu tidak bisa dihentikan?' tanya Shion.

"Jika saja memang bisa sudah dari tadi aku membatalkan resonansi konyol ini," tanggap Naruto.

"Jadi bagaimana soal yang mengintip itu, haruskah aku membakarnya?" tanya Benimaru.

"Tak apa, dia sudah pergi," ucap Naruto dengn nada tenang.

"Ya Naruto sudah mengusirnya dan menghapus ingatan orang itu, yang akhirnya membuatnya pulang karena lupa akan apa tujuannya dikirim ke sini," ucap Rimuru.

"Kalau tidak bisa dihentikan, kenapa tidak coba membatasinya saja," tanya Benimaru.

"Mungkin kau bisa meminta Daikenja untuk membuat penundaan aktivasi Skill tertentu," ucap Naruto yang langsung menyontohkan dengan melempar batu, dan dalam 5 detik batu itu disambar petir.

Rimuru tanpa harus mendengar penjelasan apapun dari Naruto langsung paham begitu saja, karena pemahaman mereka saling terhubung tiap detiknya. Karena memahami maksud Naruto, Daikenja dari Rimuru langsung bekerja mencoba merancang skill tersebut dan langsung diaktifkan dan mendelay aktivasi resonansi selama 1 tahun sekali. Yang artinya, segala ingatan dan pengalaman dari Naruto dan Rimuru serta pikiran dan skillnya akan dikumpulkan selama setahun dan dibagikan secara langsung di tahun itu juga.

"Rimuru, berapa lama kau mendelaynya?" tanya Naruto.

"Satu tahun," jawab Rimuru.

seketika wajah Naruto membiru, karena ini sama saja dengan menerima ingatan dan pengalaman dari Kagebunsin yang dibiarkan ada di dunia selama 1 tahun, dan tentu saat itu terjadi beban mental Naruto akan sangat besar.

Naruto langsung menyadari dampak dari keputusan ini dan mengeluh sambil menatap Rimuru dengan ekspresi lelah. "Rimuru… ini seperti menampung ingatan 1 tahun penuh sekaligus. Ini bukanlah hal yang mudah!"

Rimuru menyeringai, sedikit merasa geli melihat reaksi Naruto. "Yah, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin itu sedikit berlebihan. Tapi kita juga tidak punya pilihan lain untuk menjaga privasi tanpa memutuskan resonansi sepenuhnya."

Benimaru dan Shion saling pandang, lalu Benimaru berkata, "Naruto-sama, Rimuru-sama, apakah perlu bantuan kami untuk menangani efek sampingnya nanti? Mungkin kami bisa membantu mempersiapkan lingkungan yang tenang ketika waktunya tiba."

Naruto tersenyum dan mengangguk. "Itu ide bagus, Benimaru. Mungkin setahun sekali aku akan butuh beberapa hari untuk menenangkan pikiran setelah menerima semua ingatan itu. Setidaknya, aku tahu kalian ada di sini untuk membantu kalau ada hal-hal di luar kendaliku."

Rimuru mengangguk setuju, merasa sedikit bersalah karena solusi yang mereka pilih masih meninggalkan risiko bagi Naruto. "Kalau begitu, mari kita persiapkan segalanya dengan baik. Kita bisa mendirikan tempat meditasi khusus di Tempest untuk momen-momen ini, agar kau bisa menjalani sinkronisasi ingatan dengan lebih nyaman."

Shion menimpali dengan semangat, "Aku akan memastikan semua kebutuhanmu tersedia, Naruto-sama, dan menjaga agar tempat itu tetap tenang."

Naruto tersenyum, mengakui rasa perhatian dari teman-temannya. "Terima kasih, semuanya. Dengan dukungan kalian, aku rasa ini akan lebih mudah ditangani. Kalau begitu, mari kita buat Tempest menjadi tempat yang benar-benar aman untuk semua."

Percakapan pun berlanjut dengan suasana yang lebih ringan. Mereka semua memahami bahwa resonansi ini adalah berkah sekaligus tantangan, tetapi dengan kerja sama dan rasa percaya di antara mereka, Tempest akan tetap menjadi tempat yang penuh kedamaian dan perlindungan.

Bersambung