© Anime Naruto, Mature, Romance, Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata, AU, OOC
Disclaimer
All characters belong to Masashi Kishimoto.
.
.
Bagi Sasuke, cinta adalah dimana kamu bahagia melihatnya bahagia dan ingin memeluknya ketika dia menangis, dan cinta tidak butuh status
Sedangkan,
Bagi Hinata, cinta adalah dimana perasaanmu menghantarkan getaran tidak biasa ketika berada di dekatnya.
Ini adalah kisah tentang sepasang manusia yang berkali-kali egois tentang perasaannya.
.
.
Sore itu matahari sudah siap menuruni singasananya. Sekolah sudah mulai sepi dan hanya tersisa beberapa murid yang berada di lingkungan sekolah untuk mengisi kegiatan ekskulikuler. Terlihat beberapa murid lainnya yang berkeliaran di sekitar sekolah untuk menyempatkan diri dengan aktifitas lain, termasuk gadis yang kini duduk di kelas sendirian seraya membuka lembaran bukunya dengan tenang.
Kelas yang dia tempati sudah kosong selama sepuluh menit terakhir dan gadis ini masih tidak ada niatan untuk beranjak dari tempatnya semula. Dia masih santai membaca lembaran buku yang tersaji di depannya, ada headset yang tersangkut di telinganya dan memutarkan beberapa lagu pop untuk mengusir sepinya kelas.
SMA Konoha merupakan salah satu sekolah menengah atas yang lumayan populer di tempatnya. Sekolah ini punya beragam prestasi yang membuatnya menonjol di antara sekolah menengah atas lainnya.
Suara pintu terbuka terdengar menggelitik telinga. Gadis berambut indigo panjang itu masih bergeming di tempat, sampai tangan besar terulur melepaskan sebelah headset di telinganya, barulah gadis itu mengadahkan kepala.
"Ngapain?" Baritone bernada datar memulai percakapan.
Merasa tidak ada respon, pemuda itu tanpa ragu mendudukan dirinya tepat di kursi kosong yang ada di sebelah si gadis. Namanya Sasuke. Uchiha Sasuke dan gadis yang sekarang sedang duduk di sampingnya adalah Hyuuga Hinata, teman masa kecil Sasuke sekaligus orang yang menyimpan rasa padanya.
Amethyst Hinata menatap lamat-lamat wajah pemuda yang ada di sampingnya. Terlihat beberapa luka yang ada di wajah pria itu, pipinya sedikit lebam, seragam putihnya lecek dan terlihat ada noda kecokelatan di bahunya yang mirip jejak sepatu.
"Berantem lagi?" Hinata meraba pipi Sasuke tepat di mana memar pemuda tersebut terlihat. Pemuda itu diam, dan Hinata menghela napas ketika lagi-lagi diamnya bertanda mengiyakan.
Pagi tadi, seperti biasa, Hinata akan pergi ke sekolah dengan di antar oleh Sasuk karena rumah mereka berdekatan juga satu sekolah. Namun, ketika istirahat tiba, Hinata tidak menemukan Sasuke dimanapun. Tidak di kelas, tidak di kantin, ataupun toilet. Teman-teman sekelompok Sasuke juga tidak terlihat batang hidungnya satupun.
Seperti dugaan Hinata, Sasuke kembali membolos atau tawuran antar pelajar seperti sebelum-sebelumnya.
Dan dengan ini, dugaannya telah seratus persen sempurna.
Hinata menghela napas.
Meski sudah sering kali Sasuke seperti ini sejak SMP, namun tetap saja melihatnya begini merupakan pemandangan yang membuat hatinya khawatir.
Hinata dengan segera membuka tasnya, dia mengambil wadah pensil mini di dalam tas. Isinya merupakan plester, betadine, alkohol kecil, kapas dan kasa.
"Gak usah." Sasuke menolak halus, sedikit menghindar ketika Hinata hendak mengompreskan kapas alkohol ke pipinya.
"Sini!"
Sasuke meringis kecil ketika rasa dingin terasa di pipinya. "Lo masih aja bawa-bawa begituan di tas, biar apa?"
"Ini kan khusus buat lo." Hinata membalas dengan nada kesal.
Sasuke hari ini memang tidak masuk sekolah, tetapi meskipun begitu Sasuke tidak akan lupa menjemput Hinata untuk pulang bersama. Langit mulai menampakan jingga semu gelap saat Sasuke kembali lagi ke sekolah dan menunggu Hinata di depan gerbang, tidak lupa mengiriminya pesan mengabari kalau sudah sampai, namun setelah hampir tiga puluh menit menunggu Hinata di depan gerbang sekolah, gadis itu masih tidak muncul. Pesannya juga hanya merupakan ceklis dua bertandadeliverydan belum dibaca. Biasanya, bila Hinata akan pergihangoutbersama teman-temannya, dia tidak akan lupa mengabari Sasuke terlebih dahulu agar pemuda itu tidak menunggunya pulang.
Jika sudah begini, Sasuke akan memeriksa kelas Hinata dan perpus untuk memastikan bahwa teman masa kecilnya itu tidak ketiduran, tapi yang didapatkannya adalah sosok Hinata yang sedang tenang membaca buku meski kelas sudah sepenuhnya kosong. Sasuke sadar, ini merupakan suatu teguran dari Hinata secara tidak langsung karena kelakuannya hari ini.
Hinata bukanlah tipe gadis yang akan terang-terangan mengomel seperti Sakura pada Naruto, atau Ino pada Sai. Hinata hanya akan mendiamkan Sasuke seharian dengan raut wajah dingin dan tidak mau diganggu sampai Sasuke sadar sendiri dengan kesalahannya. Justru itulah yang membuat Sasuke gusar tidak karuan, lebih baik Hinata memarahinya dengan kasar daripada mendiamkannya.
Sasuke menghentikan lamunannya ketika Hinata menekan sedikit kasar lukanya, membuatnya meringis.
Pemuda itu kembali memperhatikan Hinata dalam diam. Gadis itu dengan telaten mengompres pipinya dengan kapas di beberapa bagian. Wajahnya kecil, hidungnya bangir, dan bibirnya tipis kemerahan natural. Iris matanya berwarna amethyst, begitu cantik seperti batu permata bulan dan Sasuke seringkali melihat bola matanya begitu bercahaya tertimpa sinar matahari. Sasuke begitu menyukainya karena Hinata akan terlihat berkali-kali lebih cantik.
Rambutnya panjang berwarna indigo, begitu halus dan tebal seperti warisan Hyuuga pada umumnya. Tubuhnya tinggi, ramping, namun berisi sesuai porsinya. Tidak bisa dihitung jari Sasuke sering kali memergoki berpasang-pasang mata yang menatap sahabat kecilnya ini dengan tatapan kagum.
Hinata pintar. Cantik. Kesayangan guru. Orang tuanya juga merupakan orang kaya. Kurang apa dia?
"Lo nggak capek ya terus-terusan berantem nggak guna kayak gitu?"
Lamunan Sasuke buyar.
Fokus mata hitam pemuda itu menatap langsung iris amethyst Hinata yang berkilat di depannya.
"Mereka yang ngajakin duluan."
"Jangan diladenin bisa kan?"
"Harga diri. Lagian kenapasih?"
"Gue khawatir."
"Jangan khawatir.
"Susah kalo udah sayang."
Sasuke diam ketika tangan Hinata memerangkap tubuhnya dalam pelukan. Pemuda itu tersenyum. Dia balas memeluk Hinata. Gadis itu masih saja kecil dalam dekapannya. Dalam waktu ke waktu, Sasuke semakin paham bagaimana sifat Hinata. Dia akan mudah khawatir terhadap hal-hal kecil yang berkaitan dengan dirinya.
Hinata takut Sasuke terluka. Hinata takut Sasuke sakit. Hinata akan marah ketika Sasuke telat makan. Hinata akan menangis ketika demam Sasuke tidak kunjung reda. Hinata akan berlari kalang kabut menebus obat ketika Sasuke flu. Hinata akan memasakan sarapan, makan siang dan makan malam ketika orang tua Sasuke tidak ada di rumah.
Hinata melakukan segalanya untuk Sasuke karena dasar perasaan gadis itu yang begitu tulus dan Sasuke merasa begitu bersyukur diberikan seorang gadis bernama Hyuuga Hinata yang begitu menyayanginya.
Matahari semakin condong ke arah peraduan dan Sasuke masih menikmati keluh kesah Hinata yang mengkhawatirkan dirinya.
.
.
"Balik kemaleman kan." Sasuke tersunggut ketika warna gelap sepenuhnya mulai menghiasi langit. Saat ini mereka sedang berada di parkiran sekolah dan beberapa murid lain menyapa Sasuke atau Hinata ketika melewati mereka. Gerbang sekolah akan ditutup lima belas menit lagi tanda berakhirnya kegiatan di sekolah hari ini.
"Ya udah sana balik aja, nggak usah segala nganterin gue." Hinata melirik Sasuke dengan sinis. Kakinya berjingkat, bersiap untuk mendahului Sasuke yang sedang duduk di motor gedenya sebelum Sasuke menahan tangannya.
"Anak cewek balik sendirian magrib-magrib gini, pamali." Ujarnya seraya menyerahkan helm yang diambil Hinata dengan ogah-ogahan.
"Gue bisa naek buselah."
"Berisik banget sih lo. Duduk diem ajadeh." Sasuke berujar dengan menarik kedua tangan Hinata untuk berada di kedua sisi pinggangnya. "Tangannya ke siniin, entar kalo gue ngebut lo ngejengkang."
"Ih apa banget sih." Hinata merasakan panas di wajahnya. Sasuke tertawa pelan ketika melihat reaksi malu Hinata yang terpampang di spion motor.
Motor dinyalakan, deru halus mesin motor terdengar. Setelah itu, Sasuke melajukan motornya keluar gerbang sekolah.
Hinata dapat merasakan semilir angin membelai rambutnya. Motor Sasuke membelah keramaian para pekerja yang bersiap pulang ke rumahnya masing-masing. Cekalan tangan Hinata berubah melingkar di perut Sasuke ketika Sasuke semakin membawa motornya melaju kencang. Kepala gadis itu menyandar pada bahu kokoh Sasuke yang terbalutsweaterhitam.
"Gue cuma nyuruh pegangan kesweater, kenapa jadi segala meluk dah?"
Tawa Sasuke kembali terdengar, Hinata semakin memendamkan wajahnya ke bahu Sasuke. Pipi dan wajahnya terasa panas, dia merasa malu namun pelukannya di pinggang Sasuke malah semakin erat.
"Bodo."
Jantungnya berdebar-debar, merasa bahagia dan senang.
Meski setiap hari Hinata seperti ini dengan Sasuke, namun ada rasa tersendiri yang tidak bisa dikatakan. Hinata selalu merasa senang. Jantungnya selalu terpompa lebih cepat. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, Hinata merasakan kebahagiaannya meluap begitu saja ketika bersama Sasuke.
"Kok berhenti?" Hinata menolehkan kepalanya ketika Sasuke memberhentikan motornya di depan warung nasi goreng pinggir jalan.
"Perut lo dari tadi bunyi tuh, gak malu emang kedengeran sama gue?"
"Ih!" Hinata mencubit sebal perut Sasuke, yang dibalas dengan tawa renyah oleh lelaki itu. Memang dari tadi siang dia sudah merasa lapar, hanya saja kadang Hinata terlalu malas untuk pergi ke kantin sekolah apalagi dengan tidak adanya kehadiran Sasuke.
Hinata turun dari motor diikuti Sasuke di belakangnya. Dia memilih kursi secararandom. Warungnya sepi, dan di sini hanya diisi oleh mereka dua. Hinata menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang sedang memesan makanan.
Tubuhnya tegap, kulitnya bersih, wajahnya tampan, hidungnya macung dan alisnya menukik hitam tebal seperti ulat bulu. Secara kategori, Sasuke memang termasuk cogan di sekolahnya. Dia populer dengan keramahannya ke semua orang. Namun ya itu, dia juga merupakan salah satu berandalan di sekolah yang membuat para guru kewalahan.
Sasuke mendudukan dirinya tepat di samping Hinata. Tempat mereka makan memang tidak mendukung posisi berhadapan karena letaknya kursinya yang semua menyamping, sedangkan mejanya berdempet dengan tembok.
"Nat?" Suara Sasuke memecah keheningan. Hinata menolehkan kepalanya.
"Hmm?"
"Maaf ya." Suaranya penuh penyesalan. Wajah pemuda itu tertunduk, sebagian rambutnya berjatuhan menutupi dahi.
Hinata menaikan sebelah alisnya dengan nada heran. "Buat apa?"
"Gue cuma bisa ngajak lo makan di sini. Gak bisa ngajak ke tempat mewah tempat biasa lo makan."
"Kalem aja." Suara Hinata menyahut ringan, tidak berapa lama dia tertawa kecil atas perlakuan Sasuke malam ini. "Gue gak masalah kok. Uangnya juga mending ditabung, katanya lo pengen beli kamera sendiri."
"Makasih udah ngertiin."
"Hmm."
"Nat?"
"Apa lagi?"
"Makasih juga udah sayang sama gue."
Hinata terperangah. Senyum manis Sasuke dengan kedua matanya yang menyipit merupakan pemandangan langka. Iris hitamnya begitu teduh, wajahnya juga terlihat lembut. Bibir gadis itu ikut merekah. Hinata mengangguk pelan, dalam hati menahan diri agar tidak memeluk Sasuke erat-erat.
Selama ini Sasuke memang selalu membuat Hinata merasa jadi seorang gadis paling spesial di muka bumi. Bagaimana perlakuannya selama ini membuat Hinata enggan memalingkan hati meski berkali-kali Sasuke selalu menghempaskan hatinya.
Sasuke selalu melakukan apapun untuk Hinata. Meski ketika dini hari telepon pemuda itu berdering karena Hinata merasakan lambungnya kembali kambuh, Sasuke akan berlari dari rumahnya ke rumah Hinata untuk sekedar membawakan makanan dan obat asam lambung. Sasuke juga akan rela waktu tidur di hari liburnya terganggu karena membelikan Hinata sarapan. Sasuke rela baju-baju dan jaket keluaran terbarunya hanya mampir sebentar di lemarinya sebelum dibawa oleh Hinata karena gadis itu suka.
Bagi Hinata, Sasuke selalu menempati posisi spesial di hatinya.
Bagi Sasuke, Hinata tidak akan terganti oleh yang tidak akan tergantikan oleh siapapun di semesta ini.
.
.
"I will never leave you first. And I won't stop loving you until you find the right man to love and treat you better than me. But I promise you if that man even dare to break your heart, I'll break theirs into pieces. I keep my eyes on you." -Sasuke to Hinata
"When I saw you, I fell in love and you smiled, because you knew." -Hinata to Sasuke
