Keesokan harinya, Naruto asik bersenandung dengan headset yang terpasang dalam perjalanannya pulang ke rumah. Nampaknya dia habis berjogging pagi ini, terlihat dari baju training biru yang dia pakai.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Naruto sampai di rumah- ah bukan mansion miliknya yang cukup besar. Memang mansion ini sangat mencolok di bandingkan dengan komplek sekitar yang rata-rata rumah sederhana dua lantai.
Saat di depan pintu, ia bingung kenapa pintunya sudah tidak terkunci, padahal ia sangat yakin sudah menguncinya sebelum berangkat.
'Apa mungkin Yuuki yang datang kesini?' Naruto menduga-duga di dalam hatinya. Alasan itu masuk akal mengingat Yuuki memang punya kunci duplikat rumahnya karena terkadang ia meminta Yuuki untuk membangunkan dirinya.
Memang Absurd, tapi nyatanya dirinya selalu susah untuk bangun pagi. Tapi sekarang ia berusaha keras untuk mengurangi kebiasaan buruknya itu, soalnya Yuuki sudah bergabung dengan Korps Defense Iblis.
Yah, dirinya sudah tahu apa yang bisa membuat Yuuki masuk ke sana.
Balik lagi ke Naruto. Ia lantas membuka pintunya sembari menghela nafas.
"Yuuki, kalau kau berkunjung setidaknya-"
Wush
Tep
Bukan balasan yang ia terima, tapi sebuah serangan berbentuk besi lancip dengan cepat mengincar wajahnya, tapi Naruto sangat mudah menahannya dengan menjepit ujung besi itu diantara jari telunjuk dan tengahnya.
Dari bentuk senjatanya, sudah jelas kalau ini adalah sebuah tombak yang memanjang. Naruto melirik lurus sumber tombak itu di balik bayang-bayang lorong.
Tap
Tap
Tap
Naruto memfokuskan pendengarannya saat ada suara langkah kaki yang sepertinya tidak hanya satu, kemungkinan ada beberapa orang yang mendekat.
"Tampaknya kau tidak berubah sama sekali..."
Raut wajah Naruto berubah facepalm ketika mengetahui siapa yang berbicara demikian dari suaranya saja.
"Yo... Kuso-jiji. Hisashiburi..."
Akhirnya Naruto bisa melihat siapa-siapa saja yang asal menyelonong masuk ke dalam mansion tercintanya. Disana ada beberapa perempuan termasuk gadis yang kemarin, lalu wanita yang memegang pegangan tombak yang menyerangnya tadi dan terakhir yang menyapanya...
Serius, Naruto malas membicarakannya. Tapi kalau ini menurutnya salah satu orang yang bikin dirinya pusing karena tingkahnya 'dulu', walau tidak bisa dipungkiri bahwa dia adalah satu garis darah keturunan dari dirinya.
Seorang gadis atau wanita bertubuh loli yang tersenyum "menyeringai" kepadanya. Dia memiliki surai hitam pendek yang dipasang bando diatas kepala dengan beberapa helai rambut depannya di kepang kiri dan kanan serta iris mata emas yang mengikuti matanya.
Menghela nafas untuk kedua kalinya karena merasa kalau ini akan jadi hari yang melelahkan baginya, Naruto pun tak lupa membalas perkataan orang tersebut.
"Hisashiburi... Padahal di surat itu kalau aku yang akan ke sana, tapi malah keluarga Azuma sendiri yang akan mengunjungiku, terutama dirimu...
Seseorang yang tahu tentang dirinya di era ini.
..Tobera-chan."
.
.
Setelah memakan waktu agak lama karena Naruto harus membersihkan dirinya dahulu, mereka langsung berkumpul di ruangan tamu.
"Fuah... Teh buatan Jiji memang yang terbaik."
Alis Naruto berkedut-kedut bukan karena ucapan dari Tobera, tapi kelakukan seenak jidat dari cicitnya itu yang malah duduk di antara kedua pahanya, yah bukan berarti dia membencinya.
Setidaknya kasih pelukan rasa rindu gitu.
Ia tahu perempuan ini sikapnya agak di luar nalar seperti yang ia lihat sekarang. Kenapa dia memakai seragam sekolah ala-ala anak SMA? sedangkan dirinya sendiri memakai pakaian kaus polosan berwarna biru dengan celana pendek hitam selutut khas orang biasa.
Ayolah jangan melihat isi dari sampulnya. Meski penampilan Tobera seperti anak remaja, sebenarnya umur bocah ini sudah nenek-nenek. Itu berkat Ability nya yang bernama Utakata, kemampuan untuk menyerap esensi kehidupan dari makhluk hidup seperti tumbuhan sehingga memungkinkan baginya untuk menyimpan esensi tersebut di dalam dirinya untuk mendapatkan atau mempertahankan masa mudanya.
Sungguh Ability yang mengerikan.
Meski begitu, apa yang di miliki oleh Tobera hanya sebagian kecil di banding apa yang ada dalam tubuhnya.
Buktinya umurnya sendiri jauh lebih tua dari Tobera, tapi tubuhnya seperti remaja umur 19 tahun. Naruto sendiri mengakui itu.
"Ngomong-ngomong, bisa kau kenalkan mereka padaku?" Naruto mengalihkan perhatiannya kepada empat perempuan yang duduk diam menonton dari seberang. Kalau di perhatikan ada setetes keringat dari pipi mereka.
Satu hal yang menarik bagi Naruto adalah pakaian yang di kenakan mereka.
'Semuanya bergabung dengan Korps Defense Iblis, huh?'
Tobera membuka sebelah matanya "Mereka adalah anak dan cucu-cucu ku. Bocah, perkenalkan diri kalian." titah Tobera kembali meminum tehnya. Pertanyaan itu wajar, sebab Jiji nya ini sudah lama tidak berhubungan dengan keluarga Azuma, makanya banyak hal yang sudah terlewat.
Yang pertama seorang wanita dewasa dengan poni menutupi mata kirinya berdiri tegap. "Hajimemashite. Saya Azuma Fubuki, anak dari Azuma Tobera. Kaa-san telah bercerita tentang anda. Senang bertemu dengan anda, Naruto-sama." ucapnya sopan sembari membunguk sedikit.
Naruto mengangguk pelan. Ia beralih ke gadis surai panjang berponi kiri serta memakai kacamata transparan membuat iris emasnya tak terhalangi.
"Saya Azuma Maia, anak pertama dari Azuma Fubuki. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan leluhur kami."
Naruto sedikit berkeringat ketika mendengar ucapan itu. Memang tidak salah sih, cuma entah kenapa hatinya seperti teriris.
Ketiga, gadis surai biru gelap yang di ikat Twintail membungkuk sopan. "Azuma Yachiho, desu. Anak kedua Azuma Fubuki. Sa-salam kenal, Naruto-sama." ucapnya yang agak terbata-bata.
'Mungkin gadis ini sangat gugup' pikir Naruto geli mendengar cara bicara dari Yachiho.
Dan terakhir seorang gadis surai biru gelap panjang yang sebagian surainya di ikat berbentuk pita. "Izinkan saya mengenalkan diri lagi. Namaku Azuma Himari, anak ketiga Azuma Fubuki. Mohon maaf atas ketidaksopanannya kemarin, Naruto-sama."
Kemarin? Ah saat di 'Mato'.
"Tidak perlu minta maaf. Lagipula aku sengaja melakukannya." Naruto mengibas-ibaskan tangannya. "Satu lagi. Kalian tidak perlu bersikap sopan. Aku lebih senang kalian memanggilku Jiji, Jii-sama, Jii-chan atau lainnya, sama seperti bocah ini." lanjutnya sambil menepuk-nepuk kepala Tobera yang ada di pangkuannya walau orang yang di maksud protes kecil.
"Hei, Jiji!"
Fubuki, Maya, Yachiho, Himari menangguk.
"Kami mengerti."
Satu-satunya laki-laki di sana tersenyum kecil. Di saat ia menepuk-nepuk kepala Tobera, ada beberapa informasi yang masuk ke otaknya menggunakan salah satu Ability nya.
"Nee Jiji. Ada hal-"
"Iya-iya. Kalian ingin bicara tentang 'Perjamuan makan Azuma' untuk menentukan kepala klan selanjutnya. Lalu dengan datangnya surat dariku, kalian bermaksud untuk mengundangku, kan?"
Ucapan Tobera langsung di potong cepat oleh Naruto membuat para perempuan Azuma tersentak karena Naruto langsung mengetahui tujuan kedatangan mereka ke sini, padahal mereka belum membicarakannya.
Naruto berdiri dari duduknya setelah Tobera menyingkir darinya. "Tidak perlu terkejut. Aku mengambil informasi dari pikiran Tobera-chan barusan melalui [Mind Reader] milikku. Tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu."
Dengan itu, Naruto pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Selepas kepergiannya, Fubuki menatap serius Tobera.
"Kaa-san, siapa sebenarnya Naruto-sama? Beliau bisa menahan seranganku hanya dengan dua jari saja. Di tambah lagi Ability nya tidak masuk akal."
Menurut yang di katakan Himari, pemuda itu bisa menciptakan es dalam skala luas dalam beberapa detik saja untuk menghabisi ratusan Shuuki. Selain itu, dia bisa meniru Ame no Mitori yang nyatanya itu adalah Ability milik Izumo Tenka, ketua squad nomor 6.
Dan ini baru saja dia membaca pikiran dari Tobera tanpa di ketahui olehnya.
Tobera menatap diam pantulan dirinya di dalam teh. "Sejujurnya, aku tidak tahu banyak tentang leluhur kita. Bahkan mungkin aku tak akan pernah tahu jika saja dulu aku tidak sering kabur dari kediaman Azuma dan kebetulan bertemu dengannya. Awalnya aku tidak percaya, tapi setelah Haruka Baa-chan yang nyatanya adalah cicit dari Naruto-jiji bercerita tentangnya, akhirnya aku percaya."
"Dia menceritakannya huh? Biarlah. Kalian tahu, masih ada banyak rahasia di dunia ini yang belum kalian ketahui."
Sontak kelima perempuan langsung berjengit kaget dan secara tidak sadar memasang posisi siaga saat tiba-tiba Naruto berada di belakang mereka.
Di dalam hati Fubuki bertanya-tanya bagaimana cara leluhurnya sudah ada di sana tanpa mereka sadari. Ia ragu kalau bisa menirukan apa yang di lakukan Naruto.
'Bagaimana bisa?'
"Apa maksudnya, Jiji?"
Naruto menyeringai saat Tobera bertanya dengan penasaran. "Contohnya... 'Kenapa dunia Mato ada di dunia ini?', lalu mereka yang di sebut 'Dewa Petir', dan terakhir..."
Distorsi portal merah muda dengan hiasan kupu-kupu muncul di belakang Naruto membuat Yachiho terkejut...
'Ternyata benar.'
Sebuah ucapan dari Naruto sebelum ia masuk kedalam portal membuat mereka yang menyusulnya di penuhi rasa penasaran yang memuncak.
"... Rahasia kekuatan sesungguhnya dari Klan Azuma."
.
"Whoho, jadi nostalgia rasanya. Tidak banyak berubah."
Hal yang pertama setelah keluar dari portal distorsi adalah Naruto memandang mansion besar yang dulu ia tinggalkan untuk anak-anaknya. Terlihat modern karena mungkin ada renovasi yang ia tak tahu tapi masih terasa aura tradisionalnya.
Tobera berada di samping Naruto tersenyum sombong. "Tentu saja. Aku bahkan seluruh klan Azuma berusaha merawat mansion ini agar tetap terjaga." ucapnya membusungkan dadanya seolah bangga apa yang ia lakukan selama ini. Raut mukanya berubah kesal saat Naruto menepuk-nepuk kepalanya.
"Hentikan! Aku bukan anak kecil lagi!"
"Oh iya?" Senyum mencurigakan yang di buat Naruto membuat Tobera merasakan firasat buruk. Pemuda itu melirik ke suatu arah atau lebih tepatnya...
"Lalu kenapa dadamu masih tetap papan seperti dulu?" tanya Naruto menyindir.
Jleb
"Ugh.."
Tobera langsung berlutut di tempat dengan aura-aura ungu di kepalanya. Ucapan sindiran leluhurnya ini bagaikan panah yang langsung menusuk hatinya. Begitu pedih dan menyakitkan.
Fubuki, Maya dan Yachiho hanya bisa melongo melihat apa yang terjadi di antara kedua orang itu. Selama ini, mereka mengenal Tobera sebagai orang yang keras kepala, kejam, egois, dan tegas. Tapi kalau melihat yang sekarang ini, semua sifatnya itu menghilang begitu saja di depan laki-laki Azuma itu, ditambah kalau Naruto sangat blak-blakan sekali sehinga mereka tak tahu harus bilang apa.
Sedangkan Himari berbeda, gadis ini tak terpaku dengan itu. Ia memandang kediaman klan Azuma dengan diam, entah apa yang ada di pikirannya.
Wung
Sebuah portal merah muda muncul tak jauh dari sana. Kemudian, keluarlah beberapa orang yang di lihat dari seragam mereka jelas berasal dari kesatuan yang sama.
"Uzumi Naruto... bukan. Azuma Naruto."
Naruto seolah menelan pil pahit melihat ada beberapa orang di sana atau lebih tepatnya ia tak ingin bertemu dengan satu diantaranya.
"Siapa ya? Gak kenal."
Alis sang gadis berkedut-kedut kesal. Pria itu malah berpura-pura tidak mengenalnya. Padahal ada suatu hal yang belum di selesaikan di antara mereka.
"Aku ingin kau menepati janjimu!" ucap gadis surai hitam panjang itu.
"Hah? Bukannya kau sendiri yang seenak jidat membuat pertaruhan? Dan aku tidak pernah bilang setuju!" Naruto langsung menghentikan pura-puranya dan protes keras terhadap perkataan gadis itu. Dia sendiri yang memulai duluan, malah dirinya yang ikutan kena getahnya. Dia bersikeras untuk menolaknya karena... pertaruhannya sama-sama menyebalkan baginya.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kau harus tepati!"
"Dengar ya wahai komandan Korps Defense Iblis yang terhomat, Yamashiro Ren-chan. Permintaanmu itu benar-benar gila. Aku tidak mau melakukannya!"
"Ma... Ma... Hentikan pertengkaran kalian. Kita sedang berada di jalan." Seorang gadis bersurai kuning yang di bagian pucuk kepala berwarna putih berada di tengah-tengah Naruto dan Ren mencoba untuk melerai mereka berdua.
"Tuh, dengerin kata Tenka-chan. Lagian kenapa sih kau ke sini? Pulang sana! Aku sedang sibuk sekarang."
Naruto mengibaskan tangan berulang kali seolah-olah ia mengusir Ren.
"Tidak! Aku tidak akan pulang sebelum aku dapat yang kuinginkan!"
"Balik sana ke markasmu!"
"Hah~"
Pada akhirnya dua sejoli itu ribut kembali membuat Tenka menghela nafas pasrah, sudah menyerah menghentikan mereka. Ia lantas ke tempat dimana keluarga Azuma berserta Kyouka dan Yuuki berkumpul.
"Um, Tenka-san. Sebenarnya apa yang terjadi?" Yuuki dengan ragu-ragu bertanya. Jujur saya, pemuda yang bagian dari Squad 7 itu tidak mengerti dengan apa yang di lihatnya. Kyouka dan keluarga Azuma selain Himari memilih diam, tapi juga penasaran dengan hubungan mereka bertiga.
Tenka pun menjawab dengan senyuman manisnya. "Sebenarnya ada sedikit masalah diantara Komandan dan 'Sensei'. Makanya mereka begitu."
Jawaban itu tentu saja membuat keluarga Azuma serta Kyouka dan Yuuki terkejut. Naruto adalah guru dari Tenka?
"Kau bilang Jiji itu Sensei mu? Sejak kapan?" Tobera langsung memegang kedua lengan atas Tenka lalu menggoyang-goyangkan badan sang gadis. Ia tak pernah tahu soal ini!
"Beberapa tahun yang lalu sebelum aku masuk ke Korps dan bisakah Tobera-sama hentikan ini? Aku mulai pusing."
"Tidak, bocah. Masih ada banyak hal yang harus kau jelaskan."
Tobera akan mengintrogasi dan mendapat penjelasan dari Tenka setelah ini tentang kehidupan Naruto selama bertahun-tahun tanpa berhubungan dengan Azuma.
Fubuki memijat kepalanya pusing melihat pemandangan ini. Terlalu banyak informasi yang masuk kepalanya yang membuat dirinya pusing.
"Naruto-sama memang misterius bagi kita." ucap Fubuki pelan yang di setujui anggukkan oleh Maya dan Yachiho.
Lain halnya dengan Himari yang menatap terus-menerus ke arah Naruto. Entah kenapa, hatinya merasa kalau Naruto 'berbeda', tapi ia tidak tahu apa itu .
'Naruto... Jii-sama.'
