Hinata's POV
Aku tidak tahu tentang perasaanku yang sebenarnya, seperti yang dia katakan tentang dirinya, aku juga bodoh. Aku tidak mampu menafsirkan apa yang sedang aku rasakan.
Kami bertemu dan langsung menikah. Dalam sekejab, semua terasa berbeda. Aku tidak sendirian lagi di malam hari, aku tidak sendirian lagi saat pergi dan pulang kuliah, aku tidak sendirian lagi saat menonton TV, dan aku tidak sendirian lagi setiap kali aku membuka mata.
Kebersamaan itu membuatku selalu merasakan hal lain. Hal yang membuatku merasa nyaman saat bersamanya, senang jika berhasil menggoda dan mengerjainya, kesal saat melihatnya bersama perempuan lain, kecewa saat dia menuduhku selingkuh, berdebar saat dia menatap dan menyebut namaku.
Perlahan, aku selalu memikirkannya. Ingin tahu apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan di setiap kebersamaan kami. Selalu ingin tahu bagaimana perasaannya padaku.
"Aku mencintaimu."
Dan saat kalimat itu terucap, aku membeku. Semua hal yang ingin aku tahu tentang perasaannya seolah terjawab dalam satu kalimat saja. Kalimat yang membuat jantungku berdetak begitu berisik, kalimat yang membuatku tak mampu berkata-kata.
Jika bisa, sebenarnya aku ingin berteriak girang dan melompat senang. Tapi yang ada, tubuhku kaku, dan semakin dia mengungkapkan semua yang dia rasakan. Semakin aku merasa tubuhku jatuh dalam pelukannya.
Saat aku bangun dan tak mendapati dirinya di sampingku, rasa takut dan khawatir terlintas di benakku. Aku memanggilnya, mencarinya, dan lega saat menemukannya.
Aku sadar dia bukan seorang pria yang sempurna. Dia ceroboh, dia unik, dia sederhana, dia baik, dia juga selalu mampu membuatku tersenyum. Terkadang dia membuatku khawatir, tapi terkadang dia membuatku sangat nyaman.
Dan saat tangannya kembali merengkuh tubuhku, menuntut jawabanku atas perasaannya, berbicara tentang hubungan kami secara nyata, aku tak sanggup melarikan diri. Aku takut jika aku berlari, maka aku tidak menemukannya lagi saat aku kembali.
Aku meragukan hal yang sudah sangat jelas kupercayai. Dia mencintaiku. Dan saat wajahnya mendekat, aku tahu berapa penting desah napasnya dalam hidupku. Akhirnya, malam bersama benar-benar kami lewati.
Kembali aku penasaran. Aku penasaran apa yang dia rasakan saat menciumku. Aku penasaran betapa berisik detak jantungnya saat menatapku dan menyentuhku. Aku penasaran seberapa besar aliran listrik yang mengalir dalam darahnya setiap kali dia menyebut namaku penuh damba. Aku penasaran seberapa gila dia tentang sesuatu yang mampu menarik kewarasan itu terjadi.
Apa yang kurasakan, aku penasaran apa dia juga merasakan hal yang sama.
Saat pagi kembali tiba, aku membawa kesadaranku pada kenyataan jika dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Kalimat cinta dan terima kasih yang diucapkan, mampu membuatku begitu berharga di matanya.
Kuucapkan hal yang sama, terima kasih dan selamat ulang tahun. Syal yang dia inginkan belum bisa kuberikan, tapi aku senang karena bisa memberinya hal lain tepat di hari ulang tahunnya. Aku tersenyum karena dapat memberikan yang terbaik untuknya.
"Hinata."
Detak jantungku berdetak resah saat suara berat yang terdapat kekecewaan terucap darinya. Aku tahu apa yang ingin dia dengar. Dan untuk pertama kalinya, kuucapkan kalimat itu. Kalimat yang mewakili perasaan yang aku yakini.
"Aku mencintaimu."
Hinata's POV End
.
Ganti Status Kilat by Rameen
.
Naruto by Masasi Kishimoto
.
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
.
"Hah!" Sakura menaruh kasar penanya. Bibirnya mengerucut saat baris-baris soal di bukunya belum dia selesaikan. "Hinata ke mana, sih? Kenapa tidak masuk terus?"
Bruk
Dia menoleh saat Ino menaruh buku di mejanya. "Lihat saja tugasku."
"Huh, kalau menyontek punyamu, sama saja seperti mengerjakan sendiri. Otakmu 'kan tidak jauh beda denganku."
"Dasar,Forehead, setidaknya aku lebih pintar darimu."
"Apa kau bilang?"
"Sesama otak standar, dilarang saling menghina," ujar Tenten menengahi … atau memperparah. "Lagipula kalau kau terus menyontek dengan Hinata-chan, bagaimana kau bisa maju, Sakura?"
"Hah, diamlah jika kau tidak mau meminjamkan tugas."
"Sudah kubilang lihat saja punyaku. Itu aku kerjakan dengan bantuan Sai."
"Teman Hinata itu?" tanya Sakura, dan Ino mengangguk. Baiklah, mungkin pria itu tidak terlalu buruk dalam pelajaran, batin Sakura sambil meraih buku tugas Ino. "Kelihatannya kau semakin dekat dengan makhluk pucat itu,Pig."
"Begitulah. Kau tau, dia mengajakku kencan nanti malam.Kyaaa."
Tenten mendengkus. Raut kesal tampak di wajahnya.
"Kau kenapa?" Ino bersuara, "Kau seperti kesal dengan Sai."
"Habis dia tidak melukisku. Hei, dia melukis Sakura, Hinata, dan bahkan dia melukismu berlembar-lembar, tapi dia tidak melukisku."
Sakura dan Ino terkikik mendengar keluhan Tenten. "Yah mau bagaimana lagi?" Ino tersenyum, "awalnya dia memang melukis banyak gadis cantik hanya untuk apresiasi dari kegemarannya. Tapi saat dia melihat dan melukisku, dia jadi tidak ingin lagi melukis yang lain. Semua atensinya hanya mengarah pada Barbie yang cantik seperti aku."
Tenten dan Sakura mengernyit melihat betapa narsis sahabat mereka itu. Mengabaikan Ino yang masih sibuk narsis sendiri, Sakura menanyakan ke mana perginya Hinata, biasanya Tenten tahu.
"Dia sedang bulan madu ke Kota Ame."
"Apa?!"
Dua yang lain berteriak kaget mendengar perkataan Tenten.
"Dasar, Hinata. Mentang-mentang sudah menikah, dia bahkan tidak bilang kalau mau bulan madu."
"Dia takut kau akan ikut jika dia bilang."
"Diam kau,Pig."
"Hahaha … makanya cari pacar sana. Ups," Ino melirik Tenten, "Tenten juga harus cari pacar 'kan? Kalau aku sih sudah punya Sai."
"Sakura, boleh dia aku cekik?"
"Silakan!"
Ino semakin tertawa melihat raut sewot kedua sahabatnya.
"Diamlah, Ino. Aku sudah punya target, kok."
"Siapa?"
Tenten tidak menjawab pertanyaan Sakura, tapi Sakura tahu jika Tenten bukan orang yang suka berbohong. Dan … uh-oh … Sakura menyadari sesuatu.
'Hinata bersama Naruto, Ino bersama Sai, Tenten bersama targetnya. Jadi tinggal aku yang…'Sakura memajukan bibirnya merana. Sial, dia juga harus segera cari target.
*InoSakuraTenten*
Gaara sedang duduk dengan pandangan ke ponselnya saat Temari datang dan menyuruhnya untuk memberikan seloyang kue kepada tetangga baru.
Terkadang Gaara berpikir, apa Temari menganggapnya seorang perempuan yang cocok menjalani tugas seperti itu? Maksudnya, kenapa tidak Temari saja yang memberikannya langsung?
Dengan decakan kesal, Gaara berjalan menuju rumah di samping rumahnya. Dia sudah mendengar jika ada tetangga baru di sana. Temari bilang orang yang tinggal di sana adalah tetangga lama mereka yang sempat pindah ke Iwa, lalu sekarang kembali lagi karena anak mereka akan meneruskan kuliah di Konoha, universitas yang sama dengan Gaara.
Tapi Gaara tidak ingat jika dulu mereka punya tetangga, atau mungkin karena Gaara saja yang terlalu pendiam dan jarang bersosialisasi. Terserahlah!
Pintu terbuka setelah Gaara menekan bel sampai tiga kali. Di sana Gaara bisa melihat seorang gadis berambut coklat yang membuka pintu.
"Ini," Gaara menyodorkan bungkusan yang dia pegang, "Kakakku menyuruhku untuk memberikannya ke sini, kami tetangga sebelah rumah."
Gadis itu masih menatapnya sambil mengambil apa yang diberikan Gaara. Pandangannya yang terus tertuju pada Gaara sebenarnya membuat pria itu risih, tapi dia juga merasa perlu untuk memperhatikan gadis itu lebih lama.
"Gaara-nii?"
"Kau kenal aku?"
"Ya ampun," Gadis itu tersenyum lebar, "Benarkah kau Gaara-nii? Astaga, Niichan sudah besar dan … tampan," ucapnya penuh semangat. Membuat Gaara hanya mampu berkedip pelan.
"Kau siapa?" Pertanyaan itu tidak melunturkan senyum gadis itu.
"Niichan lupa? Ini aku, Matsuri. Kita teman kecil dulu dan kita sering main sama-sama."
Satu kerutan mulai muncul di kening Gaara.
"Niichan tidak ingat? Kita sering main bersama. Kita juga sering berkemah di taman rumah Niichan. Tidak ingatkah?"
Matsuri mulai memajukan bibirnya karena Gaara tak kunjung mengingatnya, padahal dia sangat senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Gaara, temannya dulu yang lebih tua tiga tahun darinya. Matsuri menundukkan wajahnya dan rasanya ingin menangis saja.
"Cengeng!" ejekan itu terdengar.
"Biarin." Gadis itu cepat menjawab. Memangnya kenapa kalau dia cengeng? Dari dulu, dia memang cengeng sampai-sampai Gaara selalu memanggilnya … "Eh?" Matsuri mendongak dan mendapati Gaara yang tersenyum tipis kepadanya. "Gaara-nii ingat?"
Gaara mengalihkan tatapannya ke halaman rumah tetangganya itu, melihat beberapa tumpukan batu yang memang dibuat sebagai tempat duduk di halaman itu. "Ayo!" ajaknya tanpa melihat dan lebih dulu berjalan ke arah batu-batu tadi. Pria itu yakin jika Matsuri mengikutinya.
Saat dia mendudukkan diri dan menoleh, dia tersenyum lagi saat Matsuri duduk di sampingnya.
"Gaara-nii sudah ingat, 'kan? Benarkan?"
"Hn."
"'Hn' itu artinya apa?"
"Iya, aku ingat."
Gadis itu tersenyum saat akhirnya Gaara mengaku. Awalnya Gaara memang lupa, tapi orang yang menjadi temannya waktu kecil bisa dihitung dengan jari. Dan temannya yang sering memaksanya berkemah hanya satu orang. Gaara tidak ingat namanya, tapi Gaara ingat jika selalu memanggil gadis kecil itu dengan sebutan 'cengeng'.
"Kau sudah besar, berapa umurmu sekarang?"
"Delapan belas tahun. Aku pindah ke sini karena ingin kuliah di sini."
"Memangnya SMA sudah kelulusan?"
"Belum sih, tapi aku di sini ikut dengan orang tuaku yang mengurus beberapa hal. Minggu depan aku kembali untuk ujian akhir dan setelah kelulusan baru aku benar-benar pindah ke sini."
Gaara mengangguk mendengarnya. Memang, Matsuri pindah ke Iwa saat gadis itu kelas empat SD. Sebenarnya mereka juga pernah bertemu enam tahun lalu saat Gaara dan keluarganya ke Iwa dan menghadiri pesta pernikahan sepupu Matsuri, tapi pertemuan itu hanya beberapa jam, jadi, tidak terlalu diingatnya.
"Niichan tidak kuliah?" Gaara menggeleng. "Lalu kenapa di rumah saja? Apa Nii-chan tidak kencan dengan pacar Nii-chan?"
Gaara menoleh dan menatapnya dengan sorot datar sebelum kembali menggeleng. "Aku tidak punya pacar."
"Eeehhh, bukankah waktu itu Nii-chan suka dengan seorang gadis? Itu loh, gadis kuda pony yang berfoto dengan Nii-chan. Yang fotonya pernah Niichan tunjukkan padaku enam tahun yang lalu?"
Gaara menghela napas ketika memasuki topik itu. Pria itu tidak sadar jika privasinya telah diketahui beberapa orang. "Dia bukan pacarku."
"Tapi Niichan suka 'kan? Cinta? Bahkan dulu Niichan menceritakannya dengan raut bahagia." Gadis itu menuntut. Pada dasarnya dia bukanlah gadis yang terlalu cerewet, tapi jika bersama Gaara yang irit kata, dia terbiasa untuk selalu berbicara.
"Bukan cinta," Gaara menatapnya dan tersenyum, "Aku hanya sekedar suka padanya. Aku suka melihat senyumnya. Melihat dia yang tertawa. Hanya sebatas itu kurasa."
"Jadi karena itu Niichan tidak sungguh-sungguh mengejarnya?"
Sebelah alis Gaara terangkat, bertanya darimana gadis itu tahu kalau Gaara sungguh-sungguh atau tidak dalam pengejaran gadis kuda pony itu.
"Jangan menatapku begitu, aku tahu kalau Niichan tidak bertindak banyak untuk mendapatkannya."
Gaara mendengkus. "Lalu kenapa?"
"Gaara-nii harus memperjuangkannya. Aku baru pertama kali melihat Nii-chan yang terlihat semangat jika membicarakan seseorang. Kurasa dia gadis baik yang cocok untuk Niichan, jadi kejar saja dan langsung tembak." Matsuri mengangkat tangannya dengan gaya menembak.
Pria berambut merah itu menggeleng. "Dia sudah menikah."
"Apa?" Gadis itu berekspresi kaget yag lucu.
"Dengan sahabatku."
"Nani?"
"Sebulan yang lalu."
"What?!"
"Dan sekarang mereka sedang berbulan madu."
"HAH?!
Dan Gaara sukses tertawa.
*GaaraMatsuri*
Bruk … Klonteng … Prang
Hinata membuka matanya kaget dan segera berlari keluar kamarnya menuju dapur. Terhenti dan kaget melihat keadaan dapur yang kacau.
"Naruto-kun, kau sedang apa?"
"Hehehe … sedang me-masak?"
Kepala Hinata miring. "Masak apa?"
Pria itu hanya menelan ludah dan menggaruk kepalanya. Hinata menghela napas dan menggeleng. Dia berjalan dan mengambil beberapa alat dapur yang jatuh.
"Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Kau pasti masih lelah, aku tidak mau mengganggu."
Hinata mengalihkan tatapannya dan membereskan beberapa bagian dapur, sementara suaminya gesit membantu.
Hinata tidak menoleh dan tetap diam. Wajahnya memerah mendengar kata 'lelah' dari Naruto. Semenjak malam itu, beberapa hari ini Hinata memang sering tidur karena 'lelah'. Kata Naruto sih, mumpung mereka masih berlibur dan bulan madu. Jadi, ya begitu … pokoknya begitu.
"Kau tunggu saja di ruang tengah. Aku yang akan memasak," ucap wanita itu akhirnya.
Naruto yang merasa bersalah jadi cemberut. Padahal dia ingin menciptakan makan malam romantis untuk istrinya. Dia sengaja tidak membangunkan Hinata agar bisa memberi kejutan pada wanita itu. Tapi sepertinya, keadaan dapur yang berantakan sukses membuat Hinata benar-benar terkejut.
"Maaf," Gumamnya lirih.
Mendengar itu, Hinata menoleh dan tersentak saat suaminya tertunduk sedih.
"Tidak apa," Hinata menghampirinya dan menangkup wajah tertunduk itu lalu tersenyum, "Kau ingin makan malam yang romantis 'kan?" Naruto mengangguk. "Kalau begitu, aku yang memasak. Kau yang menyiapkan ruangannya. Bagaimana?"
Safir Naruto berbinar saat merasa masih ada yang bisa dia lakukan. Dengan cepat dia mengangguk. Membuat Hinata ikut tersenyum. Dia berjinjit dan mencium bibir suaminya cukup lama dengan lembut sebelum menarik diri dan langsung kembali menghadap konter dapur untuk memasak.
Naruto yang ditinggal masih terdiam dengan wajah memerah. Saat dia mulai sadar, dia tersenyum dan mendekati sang istri. Melingkarkan tangannya di perut rata Hinata dan membisikkan sesuatu dengan mesra membuat wajah Hinata semakin merah. Setelah itu dia tersenyum puas lalu berjalan pergi menuju ruang tengah.
"Ugh, dasar Naruto-kun!" Wajah itu semakin memerah.
Brukk …. Brak ... sraak ...
"Ittaaiii."
Hinata menoleh mendengar suara gaduh itu, lalu kembali menggeleng. Sepertinya, walau hanya menghias ruangan dan meja. Naruto tetap membutuhkan waktu lebih.
*NarutoHinata*
Di kompleks perumahan yang terlihat bersih dan menyenangkan itu, terlihat seorang pria yang sedang mengajak Anjingnya jalan-jalan. Terlihat jika Anjing itu jinak dan penurut, karena tanpa diikat pun, si Anjing tetap mengikuti langkah tuannya.
"Yosh, Akamaru! Sore ini kita jogging dan lomba siapa yang sampai rumah lebih dulu, setuju?"
"Woof!"
"Baiklah kit—"
"Woof woof…" Akamaru menarik-narik ujung jaket sang tuan saat tuannya baru mulai mengambil ancang-ancang.
"Ng? Ada apa, Akamaru?" Kiba–nama si tuan anjing itu menoleh saat Akamaru menunjukkan sesuatu padanya. Seorang gadis yang terduduk di pinggir jalan dengan wajah meringis. "Apa dia terluka?" Kiba bertanya pada Akamaru yang dijawab gelengan pelan, "Baiklah, kita ke sana saja untuk melihatnya."
Keduanya berjalan menghampiri seorang gadis berambut coklat yang masih terduduk di pinggir jalan. "Hei, kau kenapa?"
Gadis itu menoleh saat Kiba bertanya. Bukannya menjawab, gadis itu hanya memandangnya dengan raut yang tak dimengerti oleh Kiba.
Pria Inuzuka itu berjongkok di hadapan sang gadis lalu melihat lebih fokus, sepatu gadis itu patah di bagian hak sepatunya. "Kenapa kau duduk di sini? Apa kau terjatuh?" tanyanya lagi, tapi sang gadis tidak menjawab. Membuat kepala Kiba terasa gatal.
"Sepatumu lepas," ujar Kiba lagi sampai meraih sepatu itu, lalu dia menatap gadis tadi yang terlihat seperti ingin menangis. "Hei, jangan menangis, aku bisa memperbaiki sepatunya, kok."
"Hiks hiks … huuuwaaa .…"
"Eeehhh!" Kiba melotot saat gadis itu jadi menangis sungguhan. "Ke-ke-kenapa kau me-nangis? Cup cup … jangan menangis dong."
"Hiks hiks .…" Gadis itu masih menangis, membuat Kiba tambah bingung.
"Woof woof." Kiba menoleh saat Akamaru bersuara, Anjing itu mengendus-endus kaki sang gadis yang terlihat tanpa sepatu.
Melihat itu, Kiba memeriksanya. Dia sedikit menaikkan celana jeans ketat gadis itu dan terlihatlah bagian mata kaki gadis itu yang memar kebiruan. "Hei, kakimu memar." Ia menatap sang gadis dengan panik, "Kau terjatuh?"
Sang gadis akhirnya mengangguk
"Kakimu sakit?"
Lagi—gadis itu mengangguk.
"Kenapa kau malah menangis tadi? Seharusnya kau bilang saja."
"Hiks karena …," Kiba berkedip saat akhirnya gadis itu bersuara, "Karena … hiks … kau lebih peduli … hikss ... pada se-patunya daripada aku. Jadi aku me-nangis … hiks."
Kibasweatdropseketika. Hei, wajar kalau dia mengira gadis itu menangisi sepatunya yang patah. Gadis itu diam saja saat dia tanya. Bukan salah Kiba dong?—jerit batin Kiba membela diri.
Hah, dia berbalik, memberikan punggungnya pada gadis itu. "Baiklah, aku minta maaf karena sudah lebih peduli pada sepatumu. Sebagai gantinya, aku akan membawamu ke klinik terdekat. Naiklah!"
Saat gadis itu mengulurkan tangannya dan memeluk leher Kiba, pria itu tersenyum saat menyadari jika gadis itu penurut juga. Gadis penurut yang aneh dan … Kiba menoleh melihat wajah itu dari dekat … gadis itu cukup manis. Dia tersenyum dan mulai berjalan. "Ayo, Akamaru!"
Kiba berjalan santai dengan gadis di punggungnya dan kedua tangannya yang memegang sepatu. Di sampingnya, Akamaru berjalan mengiringi. Sesekali dia bertanya tentang gadis itu. Nama, rumah, umur, sekolah. Semua dia tanyakan, dan untung saja gadis itu bukan tipe Sakura atau Ino. Kalau iya, bisa dipastikan kepala Kiba sudah benjol karena terlalu banyak tanya.
Tak lama, terlihatlah sebuah klinik dengan pintu bertuliskan 'open'. Dia tersenyum dan tanpa ragu melangkah ke sana. "Permisi!"
"Ya, ada yang bisa dibantu?" Salah satu petugas administrasi bertanya.
"Nona ini, kakinya memar dan mungkin terkilir. Bisakah dia mendapat perawatan?"
"Oh, bisa. Siapa namanya?"
Kiba menoleh, menyuruh gadis itu menyebut sendiri namanya walau Kiba sudah mengetahuinya.
"Aku … namaku Tamaki," ucapnya dengan suara pelan, tapi masih bisa didengar.
Perawat itu menuliskan namanya dan beberapa hal lainnya. Setelah itu mempersilakan mereka menuggu sebentar.
Klinik itu tidak terlalu besar, jadi tidak akan terlalu lama menunggu.
Mereka duduk bersebelahan di kursi tunggu. Sedangkan Akamaru, dia menunggu di depan klinik.
"Tamaki-chan?" Mereka menoleh saat seorang gadis berambut hitam menyapa Tamaki. "Kau di sini? Kenapa?"
"Ah, Mirai. Itu, kakiku mungkin keseleo karena aku jatuh tadi."
"Hm, itu karena kau suka sekali memakai sepatu tinggi."
Tamaki mengerucutkan bibirnya saat Mirai mulai ceramah. Tanpa sadar jika wajah lucunya itu sempat menarik atensi sang pria Inuzuka.
"Oh, itu siapa? Pacarmu?"
Tamaki merona dan menggeleng saat Mirai menyangka Kiba adalah pacarnya. "Bukan. Dia," Tamaki melirik ragu sebelum kembali menatap temannya, "Dia Niichan yang menolongku tadi."
Kiba ingin tertawa rasanya saat dipanggil 'kakak'. Seumur-umur, baru kali ini dia dipanggil kakak. Bahkan seorang anak kenalan Naruto yang bernama Konohamaru saja tidak memanggilnya kakak.
Mirai hanya ber-oh. "Lalu, kenapa kau di sini, Mirai?"
"Ibuku pindah kerja di sini."
"Bibi Kurenai pindah ke sini?"
Mirai tersenyum. Ibunya adalah seorang dokter yang awalnya bekerja di klinik pusat tengah kota. Tapi karena suatu alasan, Kurenai meminta pindah ke klinik sederhana di sana.
"Wah, jadi aku akan diobatin Bibi Kurenai, dong." Tamaki tersenyum, "Jadi kau di sini menemani ibumu?"
"Tadi sih iya, tapi sebentar lagi aku akan pergi."
"Ke mana?"
Mirai membuka mulutnya untuk menjawab, tapi lebih dulu pintu depan terbuka dan memperlihatkan seorang pria berjaket dan berkacamata berjalan masuk menghampiri mereka. Mirai tersenyum dan berdiri. "Paman," ujarnya menyapa orang itu.
Pria itu berhenti di depannya. "Hm, maaf aku terlambat."
"Tidak apa. Ayo, aku perkenalkan dengan temanku." Mirai menarik pria tadi mendekati Tamaki dan Kiba. "Nah, Tamaki-chan. Kenalkan, ini pacarku, Paman Shino."
"Paman?" Tamaki dan Kiba bertanya dengan dahi mengernyit.
"Hehehe." Mirai tersenyum lebar, "Itu … hanya panggilanku untuknya saja," ucapnya setengah berbisik ke Tamaki.
Tamaki mengangguk. Sedang Kiba melihat Shino dari atas ke bawah lalu kembali ke atas lagi. Heran dengan penampilan pria itu yang nyaris tiada cela yang terbuka. Semua tertutup dengan jaket, celana, dan kacamata.
Saat tengah memerhatikan, Shino menoleh menatapnya dari balik kacamata, membuat pria Inuzuka iti berjengit.
"Ada apa?" Pertanyaan itu terlontar dengan suara yang datar dan dingin dari Shino. Berbeda sekali dengan suara yang dia keluarkan saat tadi berbicara dengan Mirai.
Kiba menggeleng. "Eng … berapa usiamu?" tanyanya akhirnya.
"Apa itu penting?"
Kiba berkedip. "Tidak juga sih, tapi kau berpacaran dengan anak SMA?" tanyanya lagi. Kiba tahunya Tamaki itu gadis SMA kelas dua, dan Mirai yang merupakan teman Tamaki berarti gadis SMA yang sama.
Kacamata Shino berkilat. "Apa ada yang salah?"
"Itu…," Kiba mulai merasa dingin seketika, "Hanya … aku hanya bilang jika dia gadis SMA, dan kau mungkin 25?"
"Lalu?"
Kiba menelan ludah saat merasa jika tatapan Shino semakin menajam. Keringat mulai turun, dan akhirnya, dia menggeleng lalu diam.
Di sisi lain, Tamaki langsung menarik Mirai mendekat lalu berbisik, "Kau yakin dia baik padamu?" tanya Tamaki dengan nada ngeri karena juga merasakan aura Shino.
Mirai meringis dan tersenyum kikuk. "Paman Shino baik, kok. Percayalah. Dia memang begitu orangnya," jawab Mirai juga dengan nada berbisik.
Pintu ruang periksa terbuka dan terlihatlah seorang wanita cantik yang tersenyum kepada pasiennya yang telah selesai dengan pemeriksaan. Dia menoleh dan lebih tersenyum melihat kehadiran Shino. "Shino, kau datang?"
Shino mengangguk. "Aku ingin menjemput Mirai, Sensei."
Kiba menganga, jadi pria aneh itu memacari anak gurunya? Kiba jadi semakin bertanya berapa usia Shino sesungguhnya.
"Oh, kalian akan kencan?" goda Kurenai sambil tersenyum.
Membuat Mirai merona dan salah tingkah, sementara Shino? Ekspresinya tak terlihat.
"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu malam, oke? Jaga putriku, Shino."
"Aku mengerti."
Kibasweatdropmendengar betapa formalnya Shino kepada Kurenai.'Oi oi, kau yakin sedang berbicara dengan calon mertua?'teriak batinnya.
Setelah Shino dan Mirai pergi, perawat mengatakan jika Tamaki adalah pasien selanjutnya. Kiba menghela napas saat akhirnya dia menunggu sendirian. Dia telah berjanji akan mengantar gadis itu pulang, jadi dia harus menunggu sampai selesai, bukan?
*KibaTamaki ; ShinoMirai*
"Naruto-kun, aku sudah melihatnya 'kan?"
"Anggap saja kau belum lihat, Hinata-chan."
Hinata tersenyum akan kelakuan Naruto. Posisi mereka sekarang? Naruto sedang menutup mata Hinata dan menggiring wanita itu menuju ruang tengah villa yang menjadi tempat makan malam romantis mereka. Padahal, Hinata ikut dalam mengatur ruangan dan meja itu. Tapi Naruto tetap kukuh ingin semua berjalan seperti dia yang menyiapkan kejutan sendiri untuk Hinata.
Jadi, setelah mereka berpakaian rapi—walau hanya di dalam villa. Naruto langsung menutup matanya.
"Nah, kita sudah sampai. Saat kuhitung sampai tiga, kau baru boleh buka mata, oke?" Hinata tersenyum dan mengangguk saja. Tidak ingin membuat suaminya itu merajuk. "Satu … dua … tiga … tadaaaa."
Naruto merentangkan tangannya dan tersenyum lebar pada Hinata. Wanita itu tersenyum dan melirik ruangan itu. Dia terdiam saat melihat beberapa dekorasi tambahan yang belum dia lihat sebelumnya. Meja yang dihias lilin dan beberapa mawar di vas. Makanan yang sudah tersaji yang Hinata yakin masih hasil susunannya sendiri tadi.
Peralatan makanan juga masih sama. Hanya ada tambahan lilin dan mawar. Ah, jangan lupakan kelopak mawar yang bertabur di lantai membentuk jalan seolah menjadi karpet merah dari tempat mereka berdiri menuju meja makan itu. Lampu yang dimatikan tidak membuat ruangan itu gelap karena beberapa lilin lain juga diletakkan di beberapa sisi ruangan. Juga tambahan aroma lavender yang Hinata yakin dari aromaterapic yang ada di dekat lilin.
Hinata menoleh kepada Naruto yang masih tersenyum. "Kapan kau menyiapkan sisanya?"
"Saat kau sedang mandi dan berganti pakaian." Naruto menjawab, "Ayo, Tuan Putri, makan malam telah menunggu."
Hinata tersenyum dan menyambut uluran tangan Naruto lalu mereka berjalan pelan di atas kelopak mawar menuju meja. Dalam hati Hinata bertanya, drama apa yang sudah menjadi sumber inspirasi Naruto. Dia sering melihat kejutan yang seperti itu di drama TV, itu sudah hal yang biasa. Tapi dia tidak menyangka jika akan semenakjubkan ini saat dia merasakannya sendiri.
"Nah, silakan duduk."
Hinata hanya tersenyum dan duduk di kursi yang ditarik suaminya. Naruto mengelilingi meja dan duduk di kursi di hadapannya. Pria itu meraih remot dan menyalakan musik player yang mengalunkan irama romantis. "Nah, sempurna. Sekarang kita makan."
Ugh, bolehkah Hinata menangis dan mengucap seribu terima kasih kepada orangtuanya yang telah menjodohkannya dengan pria seperti Naruto? Dia tidak pernah menyangka akan sebahagia ini setelah menikah. Walau awalnya dia menolak.
Mereka makan dengan nikmat. Terkadang mereka mengobrol seperti biasa. Terkadang juga Naruto merayu dengan keahlian yang setara dengan anak SMP. Bukannya membuat Hinata merona, justru membuat Hinata tertawa. Alhasil, karena kesal ditertawakan Hinata, pria itu cemberut dengan wajah yang lucu. Sukses semakin membuat Hinata tertawa lepas.
Setelah makan, Hinata lagi-lagi tidak menyangka dengan rencana sang suami. Dia menolak awalnya, dia tidak terlalu bisa untuk itu, tapi Naruto memaksa dengan alasan kalau dia juga tidak bisa, jadi, mereka cukup melakukan gerakan biasa saja.
Dan di sinilah dia sekarang, jantungnya berdebar dua kali lipat saat jarak mereka sangat dekat dalam balutan musik indah yang mengalun. Mereka berdansa. Bukan dansa hebat dan mengagumkan. Hanya menggerakkan kaki maju mundur dengan posisi saling berpelukan.
Tangan Hinata di leher Naruto, sementara tangan pria itu di pinggang Hinata. Jarak yang dekat dan tatapan mata yang tak beralih membuat suasana yang entah sejak kapan menjadi mengalir romantis tanpa candaan. Mencoba mendalami waktu dan menikmati kebersamaan.
Perasaan mereka, semakin tumbuh dengan indah. Terlalu sempurna untuk melihatnya tanpa hambatan apa pun. Tapi siapa yang tahu jika tidak mudah bagi mereka untuk menyadari dan mengakui perasaan itu sebelumnya. Dan apa pun hambatan ke depannya, mereka ingin menjalaninya berdua.
"Hinata."
"Hm?"
Suara mereka yang nyaris berbisik tetap terdengar saking tenangnya suasana. Naruto menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri. "Aku bahagia. Terima kasih."
Hinata tersenyum. Naruto tidak terlalu sering mengucapkan cinta. Tapi pria itu selalu mengucapkan terima kasih setiap kali dia bahagia. Hinata tidak tahu seberapa bersyukurnya Naruto akan kebersamaan mereka.
Hinata mengagguk dan mempererat pelukannya di leher Naruto. "Aku mencintaimu, Anata."
Ucapan itu, sanggup membuat Naruto terpaku sesaat. Selanjutnya dia semakin menekan tubuh Hinata hingga tubuh sang istri melengkung ke belakang. Tangan Naruto tetap setia memegang pinggang sang istri. Dia melebarkan kakinya untuk menjaga keseimbangan mereka.
"Naru?"
Naruto mempertemukan tatapan mereka. Tersimpan segunung perasaan yang membuncah di sana. Wajahnya semakin mendekat, mengecup lembut bibir peach yang membuatnya candu.
Mata mereka terpejam menikmati waktu. Sampai akhirnya Hinata merasa tubuhnya terangkat ke dalam gendongan lengan kekar sang suami. Matanya terbuka begitu ciuman mereka terlepas, mempertemukannya dengan safir meneduhkan Naruto.
Pelan, Hinata mengeratkan pelukannya di leher sang suami yang melangkah mantap menuju kamar mereka. Menutup pintu dengan kaki dan memulai malam panjang bersama.
Siapa yang peduli seberapa sering mereka terbuai. Toh, waktu memang sedang menghanyutkan keduanya.
Dan Kushina … bersiaplah mengendong cucu.
*NarutoHinata*
"Iya, Bu."
Menma menghela napas setelah menutup telpon.
"Ada masalah?"
Menma melihat ke hadapannya. Menatap seorang gadis berambut coklat yang bertanya dengan raut penasaran. Dia menggeleng dan meraih minumannya sebelum bicara. "Biasa. Ibu jadi sering 'menasehatiku' sejak Naruto pergi ke Ame. Hah, dan pria kuning itu masih dua hari lagi di sana."
Hanabi terkekeh mendengar keluhan Menma. Sepertinya hobi Kushina dalam menasehati harus terus berlanjut. Jika tidak ada Naruto, maka Menma yang kena sasaran. Mungkin saat keduanya sudah mulai benar-benar dewasa, maka cucu merekalah yang mewarisi nasehat-nasehat 'penting' Kushina tentang pola makan, aturan pulang, pemahaman tanggung jawab, dan lain-lain.
"Bukankah menyenangkan jika ibumu peduli? Kau bisa menang dari ayahmu."
Menma menyeringai mendengarnya. Yah, setidaknya dia bisa menang dari sang ayah dalam merebut perhatian ibunya. "Benar!" ucapnya yang membuat keduanya tertawa bersama.
Mereka sudah terlihat sangat akrab meski baru mengenal beberapa minggu saja. Keduanya sering bertemu dan berbicara.
Sifat ceria Hanabi dan gaya santainya serasa pas dengan sikap sederhana Menma yang tidak terlalu suka hal merepotkan. Bagi Menma, seorang gadis akan lebih asik dan seru jika tidak terlalu memaksakan diri untuk bersikap anggun, dan Hanabi menjadi dirinya sendiri sejak kejadian di taman waktu itu. Hanabi mengerti jika tidak ada gunanya menjadi orang lain hanya untuk mengejar sesuatu.
Jati diri itu penting. Akan sangat menyenangkan jika kita tahu dan bebas mengapresiasikan apa yang kita inginkan dan apa yang kita rasakan. Menjadi orang lain untuk meraih sesuatu bagaikan menulis perjanjian tak kasat mata. Apalagi jika dalam cinta. Padahal, tidak ada perjanjian dalam cinta. Jika seseorang mencintai orang lainnya, maka dia juga harus menerima apa adanya orang itu.
Benar?
"Hei, apa kau dengar pertandingan sepak bola antar SMA lusa nanti?"
Hanabi mengangguk. "Iya. Aku berniat pergi dengan teman-temanku."
"Oh." Menma hanya ber-oh dan melanjutkan makannya. Sekarang mereka sedang berada di café. Biasalah, kebiasaan mereka jika pulang sekolah.
Hanabi mengernyit saat merasa ada hal lain dari tanggapan Menma. Seperti … kecewa? Oh tidak! Hanabi hampir menepuk jidatnya. Mungkinkah Menma ingin mengajaknya nonton berdua? Kalau dia pergi dengan teman-temannya, tidak mungkin Menma akan mengajaknya lagi.
"Tapi," Hanabi memainkan sedotan minumannya sambil menunggu lirikan Menma, "sepertinya tidak akan seru jika pergi dengan teman-temanku. Mereka tidak terlalu suka bola. Mereka pergi hanya untuk melihat para pemainnya yang mereka sebut tampan."
Hanabi menyandarkan punggungnya sambil mengembus napas. "Pasti akan lebih seru kalau pergi dengan orang yang memang suka bola."
Menma menatapnya dengan raut datar. Sedikit aneh saat Hanabi langsung merubah pendapatnya dan mengeluh. Biasanya gadis itu akan tetap pada pilihan pertamanya. Dan saat tatapan mereka bertemu di kala Hanabi sesekali melirik, Menma tersenyum tipis. Menangkap maksud tersembunyi sang bungsu Hyuuga.
"Benar! Akan membosankan jika pergi dengan orang yang tidak suka bola. Bagaimana kalau kau pergi denganku saja?"
Hanabi tersenyum dalam hati. Rencananya berhasil! Innernya berteriak. "Kau suka bola?" tanyanya ragu, dan Menma mengangguk pasti. "Baiklah, kau bisa menjemputku jam dua sore besok lusa."
Menma mengangguk dan kembali menikmati makannya. Ah, mereka hanya berpura-pura memakai trik. Padahal keduanya sama-sama tahu apa yang diinginkan dari trik tersembunyi tersebut.
"Aku biasanya sering nonton dengan Naruto jika ada pertandingan begitu."
"Kalian cukup dekat ya." Menma mengangguk akan perkataan Hanabi. "kira-kira, seberapa lama mereka di sana? Oh ya, kudengar kota Ame disebut kota hujan."
"Benar."
"Huh, apa serunya ke sana kalau hanya bisa terkurung di villa tanpa bisa jalan-jalan?"
"Memangnya menurutmu pergi ke mana biar seru."
Hanabi tersenyum dan mulai memikirkan tempat-tempat yang ingin dia datangi. Terkadang, gadis itu terlalu panjang berbicara walau Menma tidak pernah keberatan mendengarnya. Saling berbagi pengalaman dan keinginan membuat mereka dekat dan tidak sungkan untuk saling berbagi cerita.
"Tapi, aku tidak sabar menunggu Hinata-nee pulang. Kira-kira dia bawa apa ya sebagai oleh-oleh?" Hanabi menopang dagunya dengan sebelah tangan.
Membuat Menma tersenyum. Bukan karena wajah manis Hanabi, tapi oleh-oleh yang disebut Hanabi mengingatkannya kembali pada nasehat panjang Kushina kepada sepasang pengantin baru itu.
"Yang pasti mereka harus membawa oleh-oleh wajib untuk ibuku," ucapnya setengah tersenyum.
Hanabi berkedip bingung. "Untuk ibumu? Memang apa yang ibumu inginkan?"
Menma mengangkat alisnya dan tersenyum semakin lebar. "Cucu. Ibuku ingin cucu. Yah, dengan kata lain, aku mungkin akan punya keponakan. Entah seberapa stressnya mereka saat mendengar permintaan ibu yang itu."
Hanabi ikut terkikik geli. "Untuk itu, mereka harus bekerja keras."
"Benar. Harus mencoba setiap mal—"
Kata-kata Menma terpotong saat mereka sadari ke mana arah pembicaraan itu. Keduanya memalingkan wajah yang merona karena topik tabu yang tanpa sadar mereka bicarakan.
Menma berdeham untuk membasahi tenggorokkannya, tapi itu tetap membuat mereka canggung. Sesekali mereka saling lirik dan kembali mengalihkan pandangan.
Uh-oh, sepertinya topik itu terlalu dini untuk remaja polos delapan belas tahun seperti mereka.
*MenmaHanabi*
Camilan, parfum, BB cream, sabun cuci, pengharum ruangan, sabun mandi.
Tenten berjalan sambil melirik barang-barang dalam keranjang belanjanya. "Ah, shampoo." Dia berjalan menuju tempat shampoo di supermarket itu.
Dia memang terbiasa berbelanja sebulan sekali jika persediaan di rumahnya habis. Dan saat dia berbelanja, dia akan menghabiskan banyak waktu. Tapi Tenten selalu menikmatinya. Dia berjalan santai sambil melihat-lihat sambil menuju ke arah tempat shampoo.
Bagai mendapat keberuntungan, dia melihat seseorang yang dikenalnya berdiri di depan bagian shampoo, jadi dia tersenyum dan langsung menghampiri. "Neji-san?" sapanya ramah dan semakin melebarkan senyum saat Neji menoleh.
"Tenten."
Gadis itu mengangguk. "Kau di sini?" Tenten melirik, susunan shampoo wanita. "Apa kau sedang membeli shampoo untuk Hanabi?"
Neji menatapnya dan menggeleng.
"Untuk bibi Hikari?"
Lagi—Neji menggeleng.
"Lalu kau berdiri di sini dan melihat shampoo wanita untuk siapa?"
Neji kembali menatap susunan shampoo itu sembari menjawab santai, "Untukku."
Tenten terdiam. Neji memakai shampoo wanita? "Kau … pakai shampoo wanita?"
"Ada masalah?" Neji berucap sambil mengambil satu merk shampoo. "Shampo wanita lebih mengandung banyak pelembab dan formulanya lebih bagus."
Tenten mengerjap. Dia tidak pernah tahu perbedaan shampoo laki-laki dan wanita, tapi sekarang dia tahu. "Oh, lalu kau memakai merk itu?" tanyanya sambil menunjuk botol yang dipegang Neji. Pria Hyuuga itu mengangguk. "Kau hanya pakai shampoo?"
Neji menggeleng dan menaruh botol shampoo itu di keranjang belanjanya. Dia meraih botol lainnya.
"Conditioner?" ucap Tenten pelan.
Neji mengambil lagi yang lain.
"Pelembab?" tanya Tenten lagi mulai menganga.
Neji mengambil lagi.
"Krim masker?"
Neji mengambil lagi.
"Tonic?"
Neji mengambil lagi.
"Serum?"
Neji menoleh dan menatapnya datar lalu berjalan meninggalkan Tenten yang masih terdiam di tempat.
"Astaga!" gumamnya lirih. "Dia memakai rangkaian shampoo lengkap? Aku saja hanya memakai shampoo dan conditioner. Terkadang juga hanya shampoo, tapi dia…?" Tenten menoleh dan sadar jika Neji sudah berlalu.
"Hei!"
Dia melangkah untuk mengejar Neji, tapi setelah tiga langkah, dia kembali. Melihat susunan botol sampo di sana dan mengambil botol-botol yang sama dengan yang diambil Neji tadi. Mungkin dia akan mulai memakai perawatan lengkap juga.
Oh, andai Tenten tahu jika Neji hanya akan memberitahu orang-orang tertentu tentang perawatan rambutnya. Tenten pasti berteriak senang kalau tahu dia masuk dalam daftar orang-orang tertentu tersebut.
Sementara Neji yang terlihat berdiri menunggu urutan di kasir, terdiam berpikir. 'Kenapa aku begitu saja memberitahunya?'batin Neji bingung.
Rahasia perawatan itu hanya diketahui keluarga Neji. Pria itu tidak ingin orang lain tahu karena malas dengan tatapan aneh orang-orang saat mengetahui tentang itu. Tapi dia begitu saja mengatakan itu kepada Tenten.
Batinnya mengatakan jika dia merasa nyaman dengan gadis itu hingga tanpa sungkan bercerita hal privasi.
Di sisi lain, Neji tidak ingin mengakui dan lebih memilih bingung akan apa yang terjadi. Namun, tatapan gadis itu tadi hanya berupa keterkejutan, bukan ejekan, dan itu sudah cukup untuk membuat Neji tidak terlalu resah.
*NejiTenten*
"Aku pergi duluan."
Shikamaru berdiri sambil mengembuskan asap rokoknya. Sasuke mengangkat alis dan ikut berdiri. Mereka keluar dari area kampus bersama. Hari itu hanya mereka berdua yang ada kelas tambahan. Hm, biasalah orang jenius yang mendapat SKS berlebih, sedangkan Gaara mengambil kelas lainnya.
"Kau mau ke suatu tempat, atau tidur?"
Shikamaru membuang rokoknya dan memasukkan tangan ke saku. "Ada seorang gadis merepotkan yang harus kutemui."
"Khe," Sasuke mendengkus, "Sepertinya kau memang suka padanya. Sulung Sabaku itu."
"Ck, mendokusai." Shika mengeluarkan kunci motornya dan naik segera. "Aku duluan," ucapnya lagi, lalu melaju dengan motornya.
Meninggalkan Sasuke sendirian.
Bungsu Uchiha itu melangkah menuju mobilnya, dan baru akan membuka kunci saat seseorang memanggilnya.
"Hei, kau."
Sasuke mengangkat alis saat gadis yang mengejarnya terlihat cemberut saat dia berbalik.
"Huh, ternyata kau lagi."
Sasuke memandang aneh. "Ada apa kau memanggilku?"
"Ini," gadis itu memberikan sebuah dompet, "tadi jatuh."
Bungsu Uchiha itu mengambil dan memasukkan kembali dompetnya ke saku. Dia tidak perlu memeriksa isinya, bukan? Setidaknya dia tahu kalau gadis itu bukan tipe pencuri. "Kau mau ke mana?"
Sang gadis berkedip saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Sasuke kepadanya. Tumben sekali pria itu akan lebih dulu memulai percakapan. "Kenapa?" tanyanya angkuh.
"Tidak ada, hanya ingin mengantar ke tujuanmu sebagai ucapan terima kasih. Tapi kalau kau tidak mau, ya sudah." Sasuke berbalik, meneruskan langkahnya. Dia membuka pintu mobil dan duduk dengan santai. Saat akan menutup pintu …
Blam blam
… dia menoleh ke samping dan sudah mendapati gadis tadi duduk di sampingnya. "Aku mau pulang," ucap gadis itu tanpa melihat.
Sasuke hanya memandangnya datar lalu melajukan mobilnya.
"Kau kelihatan kesal."
"Hah?"
"Kau selalu kelihatan kesal jika bertemu denganku. Apa aku ada salah?" Sebenarnya tidak penting bagi Sasuke untuk bertanya. Toh, dia tidak peduli jika memang berbuat salah pada orang lain, tapi untuk saat itu, mungkin tidak buruk membunuh kesunyian.
"Memangnya kau ingat berapa kali kita bertemu?"
"Tidak."
Twich
Satu perempatan muncul di kening gadis itu. Kalau Sasuke tidak mengingat pertemuan mereka, kenapa Sasuke tahu kalau dia selalu memasang tampang kesal setiap kali mereka bertemu? Apa bungsu Uchiha itu sedang mempermainkannya?
"Jadi, di mana kita pernah bertemu? Dan apa alasanmu hingga marah padaku?" tanya Sasuke lagi sambil masih memokuskan pandangan.
"Huh," gadis itu mendengkus sebelum menjawab, "Pertama, kita bertemu setelah bertabrakan tidak sengaja. Kau mengambil ponselmu dan pergi begitu saja. Padahal saat itu ponselku yang jatuh jadi rusak, dan aku harus memungutinya sendiri. Kau bersikap seolah itu memang kesalahanku."
Sasuke mengangkat alisnya mengingat kejadian itu. Apa dia memang pernah mengalami itu?
"Kedua, kau membentakku saat kita ada di café sebelum akhirnya rombongan kita berkumpul bersama."
Ah, Sasuke ingat. Gadis itu adalah gadis yang menabraknya, dan menelpon dengan suara keras di sampingnya saat mereka di café. "Itu karena kau sengaja membesarkan suaramu di samping telingaku."
Gadis itu tersentak dan membuang muka. "Itu pembalasan karena kau sudah meninggalkanku setelah menabrakku."
Sasuke menggeleng. Bukankah tabrakan itu juga salah gadis itu. "Lalu?"
"Ketiga. Kau menyuruhku duduk dan makan di mejamu dengan nada perintah yang menyebalkan. Lalu kau menyuruhku berbicara sendiri selama kita makan."
"Huh, bukankah kau malah senang disuruh berbicara? Bahkan kau memanfaatkan itu untuk membicarakan gossip yang tidak penting tanpa peduli bahwa aku sudah memasang tampang membunuh."
Gadis itu menggigit bibirnya saat perkataan Sasuke benar adanya. Yah, dia memang sengaja melakukan itu untuk balas dendam agar pria pantat ayam itu juga kesal. "Itu pembalasan karena kau sudah menyuruhku seenaknya saja."
"Baiklah. Bukankah itu berarti kita sudah impas?" gadis itu berkedip, "Jadi kenapa sekarang kau masih memasang wajah kesal itu?"
Wajah gadis itu langsung berubah seketika. Dia melihat ke luar dari jendela mobil dan enggan kembali menatap.
"Di mana rumahmu?"
"Jalan Byoukogu, blok 2. Rumah kediaman keluarga Haruno," jawabnya singkat masih tidak menatap.
Dan tanpa dia sadari, dia yang kehilangan kata-kata membuat senyum tipis muncul di bibir Sasuke.
*SasukeSakura*
Hinata menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, tangannya melingkar memeluk, matanya terpejam, tapi dia masih mendengar alunan suara sang suami yang sedang menceritakan dongeng dari buku cerita yang mereka beli tadi siang.
Sesekali dia tersenyum saat suaminya mengubah suara lucu mirip di cerita, membuat suasana itu begitu menyenangkan.
"Dan setelah berhasil keluar dari goa, Kuda Pony itu berlari menuju arah timur, tempat di mana belahan jiwanya menunggu, tapi … dia berhenti saat langkahnya menghadapi jembatan panjang yang harus dia lewati. Dengan hati-hati dia melewati itu dan kembali berlari menuju sang belahan jiwa."
Hinata membuka matanya dan melihat gambar seekor kuda yang berlari dalam buku cerita itu. Dia semakin menyamankan kepalanya. Ah, rasanya sudah sangat lama dari saat ibunya membacakan cerita sebelum tidur. Dan sekarang, dia meminta suaminya untuk bercerita yang tentu tidak ditolak oleh sang suami.
"Lucu," satu tanggapan yang keluar dari mulutnya menghentikan suara suaminya, "Kudo Pony itu cantik dan lucu."
"Hinata-chan, kudanya laki-laki. Kenapa cantik?"
"Tidak apa 'kan? Toh namanya hewan, pasti dibilang cantik jika memang cantik." Dia tidak mau mengalah. "Oh," Dia tersentak dan mendongak. Menatap suaminya yang juga menatapnya. "Aku pernah menjadi kuda pony loh, Naruto-kun?"
"Benarkah?" Hinata mengangguk."Kapan?"
Hinata berkedip dan berpikir sejenak. "Ehm, saat aku kelas tiga SMP. Kelas kami mendapat tema fauna saat ada festival sekolah. Jadi aku memakai kostum kuda pony saat itu."
Naruto mengangguk-angguk sambil membelai rambut lembut istrinya.
"Kuda pony dengan bulu kepala indigo?"
Hinata menggeleng. "Saat itu rambutku di cat."
"Cat?"
"Cat semprot yang akan hilang jika di cuci." Hinata tersenyum lebar. "Aku juga cantik dengan rambut pirang. Rambutnya aku ikat pony tail dan memakai kostum kuda pony. Jadilah aku dibilang benar-benar mirip kuda pony. Bahkan saat itu kelas kami yang paling banyak menerima tamu yang ingin berfoto denganku."
"Wah, mungkin aku akan membeli kostum itu juga agar bisa melihatmu memakainya."
Hinata mengangguk, dan mereka tertawa bersama. Hinata kembali menyandarkan kepalanya dan menutup buku yang dipegang Naruto.
"Kau mau tidur?"
Hinata mengangguk.
"Ceritanya?"
Hinata menggeleng, membuat Naruto menghela napas dan menaruh buku itu di nakas samping ranjang lalu mematikan lampu dengan remot.
Dia mengeratkan pelukannya kepada sang istri lalu ikut memejamkan mata.
"Besok kita pulang jam berapa, Naru-kun?"
"Jadwalnya jam sepuluh pagi."
Mereka kembali diam.
"Hinata?"
"Hm?"
Naruto membuka matanya dan menatap langit-langit. "Sebenarnya … aku masih penasaran. Kenapa kau mau pergi nonton berdua dengan Gaara waktu itu? Juga ke mana kalian pergi hari itu?"
Hinata mendongak, menatap Naruto yang melihatnya penasaran. Mungkin tidak apa jika menceritakannya kepada Naruto. Dia yakin Naruto tidak akan membocorkan rahasia. Lagipula, dia tidak ingin ada rahasia di tengah-tengah mereka. Hinata setuju dengan pemikirannya saat Naruto kembali menuntut dia menjawab.
"Gaara-kun minta tolong untuk mendekati seorang gadis."
"Gadis?"
Hinata mengangguk. "Dia tidak pernah mengajak seorang gadis menonton. Jadi dia meminta bantuanku untuk sekedar latihan. Dan kalau hari itu., kami pergi mencari hadiah karena Gaara bilang ingin memberikan hadiah untuk kakak perempuannya. Dia menyuruhku untuk merahasiakannya karena dia malu jika ada orang lain yang tahu."
Naruto berkedip setelah Hinata diam. Gaara mengajak seorang gadis nonton dan memberikan hadiah pada Temari? Hah, omong kosong apa itu? Naruto membatin aneh. Itu bukanlah tipe Gaara.'Itu pasti hanya alasan panda merah itu agar bisa pergi dengan Hinata,' batinnya cemberut. Kesal akan sikap sahabatnya.
Tapi dia bisa cukup lega sekarang, karena Gaara sudah tahu kalau mereka menikah. Jika Gaara masih nekat mendekati istrinya, oh, jangan salahkan Naruto jika pasien rumah sakit bertambah.
"Naruto-kun?"
Naruto memutuskan pikirannya dan menoleh kepada sang 'istri tercinta'—ah, Naruto tersenyum sendiri menyebut kata itu. "Ya?"
"Kita jadi tidur?"
Naruto megangkat alis dan tersenyum menggoda. "Memangnya kau ada rencana lain? Seperti melakukan sesuatu, misalnya?" Tatapan jahil itu membuat wajah Hinata merona dan menunduk.
"Mesum."
"Hahahaha." Tawa itu lepas walau hanya sebentar. "Kita tidur saja," ucapnya kemudian.
"Kenapa begitu?" Hinata mendongak dengan wajah bingung. Jangan bilang jika suaminya merajuk karena dikatai mesum dan tidak jadi melakukan apa yang dia inginkan. Bukannya Hinata ngebet, Hinata hanya menurut saja kemauan suami.
"Kau benar-benar ingin melakukannya, ya?" Kembali cengiran Naruto melebar.
"Aku serius. Apa kau marah?"
Pria Uzumaki itu menggeleng melihat kelakuan sang istri yang lucu di matanya. "Tidak. Aku tidak marah." Naruto menenggelamkan wajah sang istri ke dadanya. "Hanya saja kita memang harus istirahat karena akan kembali besok. Lagipula kau pasti masih lelah karena tadi sore kita sud—aww!"
Naruto terkekeh saat Hinata mencubitnya karena malu. Bisa dilihat betapa merah wajah istrinya itu. Oh, ini menyenangkan.
Meninggalkan percakapan mereka, Naruto kembali mengeratkan pelukannya.
Dan malam, membawa mereka larut dalam dunia mimpi.
.
.
To be continued
.
.
Sebelumnya aku minta maaf. Ini sudah lama tamat di Wattpad. Saat itu ffn sedang error dan susah untuk upload. Jadinya kelupaan sampai sekarang.
Maaf sekali lagi.
Ini aku langsung update full ya.
