"Tadaima." Ucapan dengan dua suara itu terdengar ke ruang keluarga. Keduanya melangkah dengan senyum saat adik dan kedua orangtua mereka datang menghampiri.
"Okaeri," jawab ketiganya.
Namun, satu wanita berambut merah dengan tersenyum riang langsung berteriak senang. "Kyaaa! Anak dan menantuku sudah pulang. Bagaimana, apa cucuku sudah jadi?"
Err … bolehkah Naruto dan Hinata berteriak?
Sementara Minato dan Menma hanya facepalm mendengar pertanyaan yang langsung tanpa basa basi itu keluar dari Nyonya Besar Namikaze. Apa mungkin selama seminggu hanya itu do'a Kushina kepada Kami-sama?
"Kushina, mereka bulan madu hanya seminggu, mana mungkin sudah jadi." Minato mengingatkan dengan nada canggung karena bahasan itu sungguh membuatnya tidak nyaman.
"Memangnya kenapa?" Kushina bersuara dengan tak acuh, "Kalau mereka berusaha siang dan malam, lalu bisa saja Hinata itu sangat subur hingga cucuku langsung jadi. Bisa 'kan? Lagipula mereka sudah menikah sebulan. Jadi pertanyaanku tidak salah, dong."
Naruto dan Hinata serasa ingin mengubur diri saja mendengar kalimat frontal ibunya. Ayolah, mereka bahkan belum duduk setelah pulang, tapi sang ibu langsung menagih 'oleh-oleh' yang susah didapatkan.
"Hoekk."
Mereka menoleh panik saat Hinata bersuara ingin muntah dan menutupi mulutnya.
Membuat senyum Kushina langsung mekar. "Lihat! Lihat! menantuku sudah hamil. Iya, 'kan, Hina-chan?"
Hinata tambah merona mendengar itu. Dia menggeleng pelan dengan senyum kikuk. "Aku mungkin hanya masuk angin saja, Bu. Cuaca di sana benar-benar dingin."
Kushina mendelik kepada Naruto. "Naru-chan, apa kau tidak pernah menghangatkan Istrimu sampai dia bisa masuk angin?"
Gubrak
Minato dan Naruto hampir terjungkal ke belakang. Kenapa dengan kalimat Kushina hari ini?—Mereka bertanya-tanya.
"Ibu, kenapa aku yang disalahkan? Aku sudah selalu menghangatkan dia, kok."
Astaga! Giliran Menma dan Minato yang menepuk jidat sambil menggeleng kepala.
Ibu dan anak sama saja ternyata.
Kushina tersenyum lebar mendengar itu, sementara Naruto langsung menutup mulut karena keceplosan. "Oh, jadi kalian sudah berusaha keras? Baguslah, aku tidak sabar menunggu hasilnya. Ah, seharusnya kalian lebih lama di sana, ne..?!"
Dan sebelum Hinata pingsan, Minato sudah menyarankan agar keduanya langsung masuk kamar untuk istirahat.
Mendengar itu, Kushina setuju dan akhirnya melepas keduanya. Membuat helaan nafas lega terdengar dari mulut Naruto dan Hinata.

.

Ganti Status Kilat by Rameen
Naruto by Masasi Kishimoto
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
.

Naruto menghentikan mobilnya di area kampus. Setelah seminggu mereka tidak ke sana, akhirnya kegiatan normal mereka kembali seperti semula. Walau tentu saja ada yang berbeda setelah pulang dari acara bulan madu itu.
"Terima kasih, Anata."
"Hm, tidak masalah. Bagaimana kalau kau menciumku sebagai ucapan terima kasih?"
Naruto jadi semakin berani menggoda istrinya yang selalu saja membuat Hinata menghela napas. Sejak kapan suaminya menjadi sering memanfaatkan keadaan? Itulah yang akhir-akhir ini ditanyakan hati kecil Hinata.
Tapi meskipun begitu, dia tetap menuruti keinginan Naruto yang terkadang tidak masuk akal.
Hinata melepas sealbeat-nya dan mendekat, membuat Naruto tersenyum menunggu. Dan saat Hinata mencium pipinya, giliran Naruto yang menghela napas.
"Kenapa di pipi?"
"Kau tidak bilang di mana."
Naruto menekuk wajahnya karena Hinata semakin pintar berkelit. "Baiklah, aku akan menunjuk tempatnya langsung dengan prakteknya."
Hinata tidak sempat menghindar saat Naruto sudah menariknya.
Setelah cukup, keduanya memisahkan diri. "Nah, untuk besok dan seterusnya, kau sudah tau tempatnya, bukan, Hi-na-ta-chan?" Naruto nyengir lebar saat Hinata menggembungkan pipinya dengan wajah merona.
"Dasar mesum," ucapnya lalu segera keluar dari mobil sebelum Naruto kembali menariknya.
Naruto hanya terkekeh melihat kepergian istrinya.
Tak lama, senyumnya menghilang dan ekspresinya serius. Dia melirik jam tangannya dan melihat ke arah gedung kampusnya yang terlihat dari tempatnya berada. "Saatnya sedikit marah-marah," ucapnya lalu melajukan mobilnya kembali.

*NaruHina*

Pria Uzumaki itu berdiri angkuh di depan meja yang ditempati Sabaku Gaara. Membuat pemilik meja hanya memandangnya dengan datar, tapi penuh pertanyaan.
"Mulai sekarang, jangan dekati Hinata-chan lagi." Ucapan yang jelas, padat, singkat, dan mampu membuat Gaara tersenyum.
"Bahkan setelah pulang dari bulan madu kau masih tidak percaya padanya?"
"Bukan padanya, tapi aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya."
Gaara memasukkan buku yang sebelumnya dia baca ke dalam tas, lalu mengancingkannya dengan santai. Selanjutnya dia kembali mendongak, menatap sahabat pirangnya itu dengan senyum mengejek. "Aku tidak mau. Aku masih ingin mendekatinya."
"Gaara!" Pria Sabaku itu menyeringai saat Naruto berteriak padanya. "Berani kau mendekatinya lagi, kuhajar kau."
Gaara mengangkat bahu tak acuh. "Kenapa aku harus menuruti perintahmu?"
"Karena aku suaminya. Suami Uzumaki Hinata!" Seruan tegas itu membuat Gaara terdiam menatapnya.
"Apa itu penting?" Gaara berdiri dan menatap Naruto lebih tajam, "Kalian hanya dijodohkan. Dia bahkan mungkin tidak bahagia menikah dengan orang yang tidak dia cintai, dan seharusnya dia berhak dekat dengan siapa saja yang membuatnya nyaman."
"Sialan. Dia mencintaiku."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Tentu saja aku juga mencintainya dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Kau paham?"
Gaara terdiam dan tetap menatap Naruto yang berkacak pinggang dengan wajah garang. Lama dia menatap pria pirang di depannya tanpa ekspresi, membuat Naruto menjadi risih dan menurunkan tangannya. Dia mengalihkan tatapannya berulang kali dan menelan ludah saat rasa risih itu semakin menjadi.
"Ke-kenapa kau menatapku begitu, ttebayo?"
Gaara mengerjap dan menggeleng. "Tidak ada. Baiklah, aku tidak akan mendekatinya lagi kecuali dalam hubungan teman. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi."
Giliran Naruto yang terdiam. Apa-apaan itu? Tadi Gaara ngotot menantangnya, sekarang pria panda itu dengan mudah menuruti kata-katanya? "Kau serius, 'kan?"
"Kau ingin aku bercanda dan tetap mendekati istrimu?" Naruto langsung menggeleng cepat, membuat Gaara tersenyum tipis. "Pilihan yang bagus. Sekarang apa kau sudah selesai? Aku ada urusan."
Naruto berpikir untuk menanyakan sesuatu pada sahabatnya itu, dan setelah diam cukup lama, dia kembali membuka mulut. "Apa kau sudah punya pacar, Gaara?"
"Huh?" Gaara menaikan alisnya akan pertanyaan itu. Apa Naruto serius bertanya begitu padanya? "Kenapa kau tiba-tiba bertanya?"
"Hinata bilang kau memintanya untuk menemanimu menonton bioskop kemarin karena kau ingin berlatih untuk mengajak seseorang yang kau sukai."
"Oh, itu .…" Gaara menghela napas dan mengangkat bahu. "Itu hanya trik agar istrimu mau menonton denganku."
Naruto kembali ke wajah kesalnya. "Jadi kau serius mendekati istriku?" Sedetik kemudian wajahnya berubah lagi menjadi lebih serius. "Gaara, apa kau menyukai Hinata?"
Gaara tidak menjawab dan mengeluarkan dompetnya, mengambil sebuah foto yang selalu tersimpan di sana dan memberikannya pada Naruto. Membuat pria Uzumaki itu mengangkat alis melihat foto itu, "Ini … fotomu dan Shion? Kapan kalian berfoto? Kau mengenal Shion dari awal?"
"Itu bukan Shion."
"Hah?" Naruto kembali memperhatikan foto itu. Gadis bermata lavender dan berambut pirang yang tersenyum di samping Gaara dengan kostum kuda pony.
Seketika ingatannya memutar ulang percakapan dengan sang istri. Matanya melebar. "Ini Hinata-chan?" Gaara mengangguk, "Jadi kau … sudah kenal dengan Hinata sejak SMP?"
Kembali Gaara mengangguk.
"Tapi … kenapa Hinata tidak cerita apa pun tentangmu?"
"Karena dia tidak ingat padaku. Kami hanya pernah bertemu sekali, lalu tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Saat hari festival, aku dipaksa Kankurou untuk bisa berfoto bersama dengannya. Aku tidak membahas apa pun untuk mengingatkannya pada pertemuan pertama kami."
Hanya, Gaara tidak tau kalau Hinata menabrak tiang di sore hari yang sama dengan hari pertemuan pertama mereka sehingga membuatnya lupa dengan memori seharinya. Jika dia tau, mungkin Gaara akan merobohkan semua tiang yang membuat Hinata lupa padanya.
"Jadi," Naruto menunduk dan memandang foto di tangannya dengan lebih jelas, "kau memang menyukai Hinata-chan?" tanyanya lirih.
Dia tidak pernah menyangka jika dia akan menikah dengan gadis yang disukai sahabatnya sendiri. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak di hatinya. Gaara pasti sakit hati, batinnya.
"Tenanglah, aku hanya menyukainya." Tatapan mereka bertemu. "Aku hanya menyukai caranya bicara, caranya tersenyum, caranya menghibur orang-orang dan memberi semangat kepada orang lain. Perasaanku tidak sampai pada level cinta yang membuatku patah hati. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah."
Naruto tersenyum tipis padanya. Perasaannya sedikit tenang setelah Gaara bicara begitu, setidaknya dia tidak merebut siapapun dari siapa pun.
"Jadi, kau sudah selesai? Aku benar-benar ada urusan."
"Huh," Naruto mendengus, "kau ada urusan apa sih, sebentar lagi kita ada kelas."
"Aku harus mengantar seseorang untuk pulang ke Iwa," jawab Gaara dengan tersenyum lebar yang membuat alis Naruto naik.
"Apa dia perempuan?"
"Kau tahu darimana?"
Naruto mengangkat bahu. "Asal menebak. Kau hanya akan tersenyum seperti tadi jika sedang membicarakan Ibumu dan Temari. Tadi kau juga tersenyum saat kita membicarakan Hinata-chan. Mereka semua perempuan, jadi saat kau tersenyum waktu mengatakan tentang 'dia'—orang yang ingin kau antar—aku menyimpulkan jika dia perempuan."
"Menurutmu aku hanya bisa tersenyum pada perempuan?"
"Entahlah, tapi menurutku kau hanya bisa tersenyum seperti tadi kepada perempuan yang membuatmu nyaman. Aku selalu menganggapmu pria yang lembut, tapi dingin di luar. Tipe yang hanya mampu nyaman jika bersama seorang perempuan yang berarti bagimu."
"Kau jadi lebih pintar setelah menikah, atau … setelah bulan madu?" Gaara tersenyum jahil. "Aku jadi penasaran apa saja yang kau lakukan selama bulan madu."
Wajah Naruto memerah tanpa sebab yang jelas. "Oi oi, apa yang kau pikirkan,ttebayo?"
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau pikirkan sampai wajahmu memerah begitu."
"Apa?"
Gaara semakin tersenyum lebar dan berjalan pergi meninggalkan Naruto yang berdiri canggung di tempat.
"Dasar panda jelek," umpatnya kemudian.

*NaruHina*

Di kediaman Namikaze, suasana tampak sepi setelah jam makan malam berlalu sejak sejam yang lalu. Naruto keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya dan melihat Hinata yang duduk bersandar sambil membaca atau melihat sesuatu. Dia segera menghampiri sang istri dan wanita itu agar bersandar di bahunya.
"Kau sedang apa?"
Hinata menunjukkan buku yang ada di tangannya. Buku yang menunjukkan gambar-gambar pengantin dengan berbagai gaun.
"Buku apa itu?"
"Ibu menyuruhku memilih gaun untuk resepsi pernikahan kita."
"Huh, bukankah itu terlalu cepat? Acaranya akan dilakukan saat kita lulus kuliah,'kan?"
Hinata menggeleng sambil terus menatap buku di tangannya. "Ibu bilang kalau resepsinya akan dimajukan saat ulang tahunku. Pernikahan kita sudah dua bulan bahkan kita sudah bulan madu sebulan yang lalu, jadi akan terlalu lama jika menunggu sampai kelulusan."
"Mereka tidak bilang padaku," gumam Naruto pelan.
Membuat Hinata mendongak dan menatapnya dengan berkedip. "Apa kau tidak suka jika acaranya dimajukan?"
Naruto menatapnya dan mengecup keningnya. "Bukan begitu, aku suka. Hanya kaget saja." Dia tersenyum dan mengeratkan rangkulannya pada sang istri.
"Menurutmu bagus yang mana?" Hinata menunjukkan foto pengantin dengan dua gaun yang berbeda. Satu terlihat sederhana, tapi sangat cantik dengan pernak-pernik berbentuk bunga. Satunya lagi terlihat anggun dengan rangkaian mutiara di bagian pinggang hingga ke bahu. Gaun pengantin wanita. Sementara untuk pria hanya berupa jas yang mengikuti warna dari gaun wanita.
"Yang ini lebih cantik," jawab Naruto dengan menunjuk gaun berpernak-pernik berbentuk bunga, "akan sangat manis jika untukmu."
"Benarkah? Tapi aku suka yang ini." Hinata menunjuk gaun satunya. "Lebih anggun. Aku suka."
"Tidak, yang ini lebih bagus."
"Naruto-kun, aku yang memakainya jadi aku ingin yang ini."
"Lalu kenapa kau bertanya pendapatku, Hime."
"Hanya ingin saja."
Naruto berkedip tidak percaya akan jawaban itu. Perasaannya saja atau Hinata sedikit aneh? Setelah dua minggu mereka pulang dari bulan madu, istrinya menjadi berbeda. Hinata akan memaksakan kehendaknya dan tanpa ragu merajuk jika tidak mendapatkannya segera.
Lebih suka berdebat tentang hal sepele yang berakhir dia akan merajuk jika kalah, tapi akan marah-marah jika tidak diladeni, juga akan tersinggung jika lawannya sengaja mengalah.
"Dekorasi kamar pengantinya bagus warna merah atau hijau ya, Naru-kun?"
Naruto berhenti dengan pemikirannya dan kembali menatap buku yang juga menunjukkan contoh dekorasi kamar pengantin. Dekorasi warna merah yang romantis dan dekorasi warna hijau yang menenangkan. "Warna hijau lebih bagus, Hinata-chan."
"Tapi aku suka warna merah."
"Lagi-lagi kau bertanya tentang hal yang sudah kau pilih. Kalau kau bertanya padaku seharusnya kau juga mendengar pendapatku."
Hinata mendongak dan menatapnya dengan cemberut, matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis. "Apa Naruto-kun marah padaku?"
"Ap—tidak, tidak, ttebayo. Aku tidak marah." Naruto segera mengeratkan rangkulannya. "Sssshh, cup cup, jangan nangis, Sayang. Aku tidak marah, kok."
"Benar?"
"Iya."
"Kalau begitu aku mau warna merah." Ekspresi takut Naruto kembali menjadi wajah kesal. Dia tetap tidak berubah, batinnya pada Hinata. "Sepakat warna merah."
"Hinata-chan, hijau saja, ya? Kan tadi gaunnya sudah pilihanmu jadi kamarnya pilihanku." Sebenarnya tidak masalah bagi Naruto untuk mengalah, tapi tatapan Hinata masih seolah mengajaknya berdebat yang kalau tidak di ladeni, maka wanita itu akan merajuk.
"Merah, Anata. Lebih romantis. Kalau hijau itu seperti lumut, nanti kita berasa tidur di gedung tua yang berlumut."
Naruto sweatdrop mendengar alasan itu. "Err, merah itu seperti darah, Hinata-chan. Kita akan terasa seperti tidur di ruang operasi. Itu mengerikan, ttebayo."
"Ruang operasi itu putih, Anata."
"Hijau juga bukan berarti lumut, Sayang. Hijau, ya?"
"Merah."
"Hijau."
"Merah. Sudah sepakat."
Hinata melipat bagian foto dekorasi itu. Membuat Naruto menghela napas karena perdebatan itu selesai dengan kekalahan di pihaknya. Tidak masalah karena Hinata tersenyum senang karenanya.
"Selanjutnya, kau mau gaya pelaminan yang mana, Anata?"
Dan Naruto harus kembali menemani istrinya berdebat hingga istrinya lelah dan tertidur di dadanya.
Dia tersenyum dan menyingkarkan buku itu, lalu menarik selimut dan mematikan lampu tidur. Dia mengecup kening istrinya dengan penuh cinta lalu ikut terlelap bersama sang bidadari surganya.

*NaruHina*

Setelah semua pemilihan yang mereka sepakati malam itu, besoknya Kushina langsung mengajak mereka ke WO yang akan mengurus pesta pernikahan keduanya. Mengurus tema pernikahan, dekorasi gedung, gaun pilihan mereka, kamar pengantin, dan lain-lain.
Setelah pulang kuliah, mereka akan langsung mengurus hal-halnya. Jika Naruto sibuk, maka Kushina yang akan menemani Hinata. Jika Hinata sibuk, maka Naruto mengurus semuanya sendiri. Tidak adil memang, tapi kata Kushina, sebagai laki-laki Naruto harus bisa mengerjakan segala sesuatu sendiri.
Dengan semua hal menyibukkan yang mengambil waktu mereka selama dua minggu, tidak heran jika Hinata sering kelelahan dan terlihat sedikit pucat. Terkadang dia tidak bernafsu untuk makan, atau bisa juga menghabiskan waktu seharian untuk tidur. Membuat Naruto khawatir padanya, tapi sang istri hanya menjawab tidak apa-apa sambil tersenyum.
Seperti kali ini ….
"Hhmpp." Hinata menutup mulutnya saat rasa mual di perutnya kembali terasa, membuat keluarga yang lain menatapnya cemas. Mereka semua sedang makan malam saat itu.
"Hina-chan, kau baik-baik saja?"
"Iya, Bu. Mungkin aku hanya kelelahan saja."
"Makanya, kau harus mendengar kata-kataku. Istirahatlah dan biarkan aku saja yang mengurus semuanya. Aku tidak ingin kau sakit di hari acaranya, Hime."
Hinata memajukan bibirnya atas ocehan Naruto. Suaminya jadi lebih cerewet akhir-akhir ini. "Aku 'kan juga ingin mengurus pernikahanku sendiri, Naru-kun."
"Kakak ipar tenang saja. Hanya tinggal dua minggu lagi, sisa persiapannya biar aku dan Hanabi yang mengurusnya. Jadi kakak ipar bisa istirahat." Menma menawarkan diri. "Dan kau juga harus menjaga istrimu dengan baik, Naruto."
"Kau menyebalkan. Aku sudah tahu tanpa harus kau bilang."
"Naruto-kun, jangan bicara begitu pada Menma-kun. Dia sudah baik mau membantu persiapan pesta pernikahan kita."
Naruto semakin menekuk wajah melihat senyum kemenangan Menma. Sepertinya Naruto mulai setuju dengan ayahnya yang bilang kalau harus berhati-hati dalam menjaga istri jika dekat dengan Menma. Entah kenapa bungsu Uzumaki itu sangat pintar mencari cara dan mencari perhatian.
'Dasar playboy,'umpat Naruto kesal dalam hati.

*NaruHina*

Naruto menghela napas saat melihat istrinya masih sibuk mencatat sesuatu yang dia kira daftar para undangan untuk pernikahan mereka. Segera saja dia mendekat dan mengambil semua kertas dan pena yang berserak di ranjang lalu memasukkannya ke nakas samping ranjang. Membuat Hinata cemberut.
"Ini sudah malam, kau harus istirahat."
"Sedikit lagi."
Suara Hinata yang merengek hampir selalu berhasil pada Naruto, tapi untuk kali ini, dia tidak ingin kalah dan mengakibatkan istrinya semakin lelah.
Naruto menaiki ranjang dan membawa istrinya berbaring dalam dekapannya. "Kau yang bilang kalau kau tadi kelelahan. Jadi seharusnya kau istirahat, Sayang. Bukannya semakin bekerja."
"Tapi—"
"Besok boleh dilanjutkan."
Hinata tidak menjawab yang sudah bisa diduga Naruto jika sang istri merajuk. Dia menarik napas sejenak sebelum melonggarkan pelukannya, menatap sang istri yang wajahnya kusut, tapi tetap manis.
"Kau sangat manis, Hime."
Hinata semakin mendelik mendengarnya. Dia mendengkus dan membuang muka, membuat Naruto terkekeh karena lucu.
Dia mulai meraih pinggang sang istri kemudian mengecup pipi gembil Hinata. "Jangan marah. Aku hanya tidak ingin kau terlalu mengurusi pesta itu sampai melupakan aku."
Hinata tersentak dan menoleh, menatap suaminya dengan wajah bersalah.
Membuat Naruto tersenyum dalam hati karena rencananya agar Hinata tidak merajuk berhasil. "Aku cemburu, Hime."
Hinata segera memeluk Naruto erat saat suaminya merengek dengan nada manja. "Maaf, Naruto-kun. Aku janji tidak akan mengulanginya."
Senyum Naruto melebar tanpa Hinata ketahui.
Baiklah, setelah sampai sini, kenapa tidak dilanjut saja sampai akhir—batin Naruto menyeringai.
Dia mulai menenggelamkan wajahnya di leher Hinata dan memberikan kecupan lembut di sana. Mencoba memberitahu sang istri apa yang dia inginkan.
Hinata memejamkan matanya dan mengelus lembut punggung suaminya, mengerti akan apa yang coba disampaikan Naruto.
Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan masalah dalam pasangan. Jika cinta sudah berbicara, maka pengertian yang luar biasa akan tercipta hingga mampu menyelesaikan masalah apa pun jua. Yah, meski masalah besar sekali pun.
Apalagi jika masalahnya hanya sepele seperti membujuk istri yang merajuk. Itu hal gampang, bagi sulung Uzumaki itu.

*NaruHina*

Naruto segera melajukan mobilnya cepat membelah jalan raya menuju rumahnya. Dia sedang berada dalam kelas saat Ibunya menelpon dan mengatakan jika Hinata pingsan. Jadi, tanpa izin dan tanpa mengindahkan teriakan dosen yang kesal, dia terus berjalan untuk pulang.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah, dia segera turun dan berlari menuju kamarnya, membuka pintu dan terdiam melihat dokter yang sedang merapikan alat periksanya dan juga kehadiran kedua orang tuanya serta adiknya di sana.
"Apa yang terjadi? Hinata-chan kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir tingkat tinggi. Namun, kekhawatirannya disambut senyuman sang Ibu.
"Terima kasih, Dokter."
"Iya. Nyonya Uzumaki harus menjaga dirinya agar tidak kelelahan dan harus istirahat yang cukup."
Kushina dan Minato tersenyum dan mengangguk. Minato berjalan keluar untuk mengantar dokter itu, sementara Naruto masih berdiri di ambang pintu dengan wajah bodohnya. Saat dia sadar, dia langsung melangkah mendekati ranjang yang di atasnya ada Hinata yang tidak sadarkan diri. "Ibu?" Dia menatap Ibunya dengan penuh rasa penasaran.
Kushina tersenyum dan menepuk pundak Naruto dengan pelan. "Tidak apa, Hinata baik-baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan. Kau harus menjaganya agar tidak terlalu menyibukkan diri. Ne?"
Naruto menghela napas lega dan mengangguk. "Aku mengerti."
"Dan juga," dia kembali menatap Ibunya dengan wajah bingung, "Terima kasih atas oleh-olehnya. Ibu sangat senang."
"Hah?" Naruto hanya berkedip mendengar apa yang Ibunya katakan, "Maksudnya? Oleh-oleh apa?"
"Entahlah, memangnya apa yang Ibu minta sebagai oleh-oleh dari acara bulan madu kalian 6 minggu lalu?" Kushina berkedip jahil sambil tersenyum senang tanpa ditutupi. "Ahh, rasanya aku ingin berteriak dan melompat senang, tapi aku tidak ingin membangunkan Hina-chan. Jadi aku tunda nanti saja."
"I-ibu, tunggu dulu. Apa maksudmu?"
"Dasar bodoh!" Menma mengeluarkan suaranya dan berjalan mendekati Ibunya. "Oleh-oleh yang Ibu inginkan sudah ada dan kau harus menjaganya." Menma mengalihkan tatapannya kepada Kushina. "Ayo, kita keluar, Bu. Sepertinya dia butuh waktu lebih lama untuk berpikir."
Kushina terkikik dan mengangguk lalu melangkah keluar dari kamar itu. Meninggalkan Naruto yang semakin mengerutkan keningnya bingung.
Setelah menutup pintu, Menma mengeluarkan ponselnya dan mengirim sesuatu pada seorang gadis Hyuuga.
[Kita akan ganti status.]
[Huh?]
[Menjadi paman dan bibi.]
[Benarkah?]
[Hn, 8 bulan lagi.]
Dan semenit kemudian, bisa dipastikan kediaman Hyuuga heboh.

*NaruHina*

Sepuluh menit kemudian. Setelah mengerahkan semua kekuatannya untuk berpikir, akhirnya senyum dan genangan air mata hadir di wajah Naruto. Dia mengeratkan pelukannya pada Hinata yang saat ini berbaring di sampingnya sambil mengelus sayang rambut indigo lembut sang istri.
"Aku bahagia. Sangat bahagia. Terima kasih, Hinata!"
Ucapan itu tak berhenti terucap dari bibirnya yang masih terus tersenyum. Dia benar-benar tidak menyangka hal ini akan dia dapatkan dengan cepat. Kebahagiaan yang tidak pernah dia bayangkan akan seluar biasa ini, kini dia rasakan tanpa tahu bagaimana lagi cara mengungkapkannya. Dia benar-benar bahagia. Hanya ucapan terima kasih yang mampu diucapkan.
Dia juga akhirnya menyadari kenapa sifat Hinata yang berubah akhir-akhir ini. Mungkin itu bawaan dari bayinya. Dan dia semakin senang karena selama ini dia selalu menuruti keinginan istrinya, termasuk keinginan sang istri yang ingin selalu berdebat.
Dia tertawa pelan saat membayangkan mungkin saja jika anaknya nanti adalah anak yang juga suka berdebat dengannya—dalam hal-hal sepele tentu saja. Dia tidak akan mengharapkan debat serius yang mengarah pada pertengkaran.
Pelukannya melonggar saat merasakan gerakan dari Hinata. Dia tersenyum menatap istrinya mulai membuka mata, bola mata lavender itu, entah sejak kapan menjadi sangat menakjubkan baginya. "Kau sudah bangun?"
"Ng?" Hinata mengerjap-ngerjap pelan dan mengucek matanya, hal yang membuatnya tampak sangat manis di mata Naruto. "Kapan aku tidur?"
Naruto tersenyum lalu merapikan rambut Hinata ke belakang. "Kau tadi pingsan. Kau tidak ingat?"
"Tidak. Kenapa aku pingsan?"
"Karena kita akan ganti status lagi."
Hinata tersentak dan menatap Naruto dengan pandangan kecewa dicampur sedih, membuat Naruto terperanjat.
"Hi-hinata-chan, kau kenapa?"
"Kita ganti status lagi?" Naruto mengangguk ragu. "Naruto-kun mau menceraikanku?"
Safir itu terbelalak seketika. Apa yang dikatakan istrinya? Cerai? Tidak, dia tidak pernah sekalipun berpikir seperti itu. "Apa yang kau katakan, Sayang? Siapa yang ingin bercerai?"
"Tapi tadi Naruto-kun bilang kita ganti status lagi. Bukankah suami istri adalah status final. Kalau kita ganti status lagi berarti jadi berganti dengan janda-duda yang berarti kita ber—"
"Hei hei! Tu-tunggu dulu, kau salah paham." Naruto langsung memotong perkataan Hinata saat dia mengerti ke mana pemahaman Hinata yang salah arah. "Bukan status hubungan kita yang berganti."
"Lalu?" Hinata memiringkan kepalanya bingung.
Naruto tersenyum dan menggerakkan tangannya untuk mengelus perut rata Hinata. "Di sini ada seseorang yang akan mengganti status kita menjadi orang tua," jawabnya dengan lembut dan tersenyum hangat.
Tangan Hinata bergerak, ikut mengelus perutnya dengan pandangan masih mengarah pada suaminya. "Be-benarkah?" Naruto mengangguk. "Benarkah?" Suaranya bercampur dengan nada bahagia yang membuat Naruto mengangguk lagi. "Benarkah?"
Kali itu Naruto tidak lagi mengangguk, dia langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Iya, Hime. Itu benar, kau hamil. Anak kita."
Hinata langsung membalas pelukannya sambil tertawa pelan. Mereka akhirnya tertawa bersama dengan saling memeluk erat.
Setelah beberapa lama, Hinata menarik diri dan menatap Naruto dengan pandangan berbinar. Membuat alis Naruto terangkat.
"Aku mau anak laki-laki."
Naruto tersenyum dan mengangguk tanpa menyadari senyum Hinata menghilang.
"Iya, tidak masalah mau laki-laki atau perem—" Naruto terdiam begitu menyadari tatapan tidak suka sang istri. Dalam hati dia facepalm saat menyadari arti tatapan itu. Tatapan ingin berdebat. "Ehm, anak perempuan akan lucu."
Senyum Hinata kembali dan dia menggeleng. "Tidak, anak laki-laki yang manis."
"Hei, laki-laki seharusnya tampan. Bagaimana kalau anak perempuan yang cantik dan manis, sepertimu."
Wajah Hinata merona dan tetap meneruskan pilihannya. "Tidak, anak laki-laki. Berambut pirang."
Naruto berkedip dan membayangkan anak laki-laki yang berambut pirang. Membuatnya tersenyum karena senang. 'Rambut pirang bagus juga,' ucapnya dalam hati.
"Tidak, rambut indigo akan lebih bagus." Jawaban yang berbeda sekali dengan hatinya, tapi dia harus tetap meneruskan perdebatan ini, bukan?
Senyum Hinata seolah mengatakan 'iya'.
"Rambut pirang, Naru-kun. Dan bola mata biru safir."
'Rambut pirang dan mata safir biru? Itu akan sangat mirip denganku." Batin Naruto tersenyum."Tidak, matanya akan lebih indah jika lavender sepertimu."
"Ehm, garis di pipi seperti tanda lahirmu."
Naruto rasanya ingin berteriak senang membayangkan anaknya seperti gambaran Hinata, tapi yang terucap .… "Pipi yang mulus dan gembil sepertimu akan membuatnya tambah lucu."
"Ahh." Hinata kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Naruto. "Anak laki-laki, rambut pirang, mata biru, garis di pipi. Uhm pasti sangat lucu."
Naruto hanya tersenyum dan tidak lagi menjawab. Perdebatan itu selesai begitu Hinata memutus kontak pandangan mereka. Tidak masalah jika berakhir dengan kemenangan yang selalu di tangan Hinata. Dia tetap senang.
"Hinata."
"Hm?"
"Aku sangat bahagia. Terima kasih, Sayang."
Hinata mendongak dan tersenyum. Tangannya bergerak, menarik wajah sang suami mendekat dan menyatukan bibir mereka. Saling melumat lembut dan tetap tersenyum di sela-selanya.
Ciuman yang syarat akan rasa bahagia, terima kasih, kasih sayang, cinta. Mereka bersyukur dan akan selalu bersyukur akan semua itu.
Merasa cukup, Hinata menarik dirinya dan tersenyum lagi. "Aku mencintaimu. Naruto-kun."
"Aku juga mencintaimu, Hinata."

*NaruHina*

"Kyaaa … Hina-chan, menantuku yang paling cantik, paling baik, paling hebat, paling imut. Ayo ke sini, Sayang. Ibu sudah memasakkan makan malam yang enak untukmu."
Hinata hanya tersenyum kikuk mendengar pujian mertuanya yang terlampau banyak. Tentu saja dia menantu yang 'paling', 'kan dia menantu satu-satunya.
Mereka duduk di meja makan yang sudah tersaji berbagai macam jenis buah yang kelihatannya … asam.
"Nah, lihat, Ibu sudah membelikanmu banyak buah yang asam. Kau sedang ingin makan buah yang asam 'kan?"
Hinata mengernyitkan keningnya dan menggeleng pelan, membuat Kushina terdiam aneh.
Sementara para pria hanya menghela napas karena sifat sok tahu Kushina. Walau biasanya sih Kushina selalu benar.
"Kau tidak mau makan yang asam?" Hinata menggeleng. "Lalu kau mau makan apa?"
"Ehm, sea food yang pedas."
Kushina tersenyum mendengar itu. "Benarkah? Kebetulan Ibu sudah memasaknya tadi. Nanti akan bibi sajikan, tapi .…" Kushina melirik buah-buahan yang ada di depannya dengan bingung, "bagaimana dengan buah-buah ini?"
"Ah, tenang saja." Hinata tersenyum dan mengambil buah-buahan itu dan membagikannya pada Menma, Naruto, dan Minato. "Nah, Menma-kun, Naru-kun, dan Ayah yang akan menghabiskan semuanya. Jadi tidak akan mubazir," jawabnya ceria tanpa menghiraukan tatapan nanar ketiga pria dan tawa tertahan Kushina.
"Err, kakak ipar?" Hinata menoleh. "Aku … sedang tidak berniat memakan buahan yang asam di malam hari."
Hinata cemberut dan matanya berkaca-kaca, membuat Menma menelan ludah sambil mengalihkan tatapannya.
"Ugh, baiklah. Kurasa buah asam di malam hari tidak buruk juga."
Naruto dan Minato terkekeh melihat Menma yang biasanya menang, kini tidak berkutik.
"Naruto-kun dan Ayah juga harus menghabiskan buahnya, ya."
Dan senyuman ayah-anak itu menghilang seketika.
"Sayang, buahnya disimpan saja, ya. Kan juga tidak akan mubazir?"
"Tidak, aku ingin kau memakannya, Sayang."
Kalau biasanya Naruto meladeni perdebatan itu, maka kali ini lebih baik jika dia diam. Pandangan mata istrinya bukanlah padangan berdebat, tapi pandangan memaksa.
Melihat Menma dan Naruto yang mati langkah, membuat rencana Minato untuk protes menjadi buyar. Dia lebih baik diam dari pada harus kalah dan mati langkah seperti kedua putranya. Huh, siapa mau kalah sama menantu?
Minato berkedip saat merasakan sebuah tatapan. Dia menoleh dan menghela napas saat mendapati pandangan dan senyuman mengejek sang istri yang seolah mengatakan 'kau kalah juga sama menantu', membuat Minato merasa kalah bahkan tanpa melakukan apa-apa.

*NaruHina*

Jam satu malam di kota Konoha.
Apa saja yang mungkin terjadi pada penduduknya? Banyak hal tentu saja. Ada yang masih menikmati musik di klub-klub malam. Ada yang masih stress dengan tugas atau pekerjaannya. Dan sebagian besar ada yang sudah terbang ke alam mimpi.
Namun, tidak untuk Uzumaki Naruto. Lihatlah, wajahnya menekuk dan beberapa menit sekali dia akan menguap, tapi dia tetap harus fokus menyetir untuk mengelilingi kota.
"Ya ampun, di mana kedai ramen yang buka di jam satu malam?"
Yah, begitulah kiranya yang terjadi. Sang istri yang tiba-tiba saja ingin makan ramen di malam hari membuatnya harus keluar rumah malam itu.
Hinata tidak ingin menunggu sampai besok, juga tidak mau dimasakan ramen instan yang ada di dapur. Hinata hanya ingin makan ramen hangat yang dijual para pedagang dan benar-benar ingin memakannya saat itu juga tanpa bisa ditunda.
Perdebatan yang memakan waktu sepuluh menit pun sudah bisa dipastikan dengan kekalahan di tangan Naruto.
"Hooaahmmm." Dia kembali menguap. "Baiklah. Aku harus tetap berusaha. Demi Hinata-chan dan demi anakku. Semangat, Naruto!"

*NaruHina*

Walau bilangnya semangat sih, tapi .… "Tetap saja tidak mungkin ada kedai yang buka malam-malam begini."
Naruto berjalan lesu memasuki rumahnya. Dia sibuk memikirkan hal apa yang harus dia katakan pada Hinata agar istrinya itu tidak merajuk, tidak marah-marah, dan tidak menangis.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara dari dapur. Dia menoleh dan mengerutkan kening saat lampu dapur menyala. Dengan rasa penasaran, dia melangkah menuju dapur. Terdiam saat mendapati sang istri yang makan ramen dengan lahap di meja makan.
"Hinata-chan?"
Hinata menoleh dan tersenyum dengan mulut yang penuh. "Hai, Sayang."
"Kau sedang apa?"
"Makan ramen?"
Naruto menghela napas dan mendudukkan diri di samping sang istri. "Bukankah tadi kau bilang tidak mau makan ramen instan? Kalau kau mau, aku bisa memasakkannya untukmu."
"Habisnya Naruto-kun lama sekali beli ramennya. Aku sudah lapar, jadi aku masak yang ada saja."
Naruto menghela napas saat Hinata nyengir dengan polosnya. Perjuangannya selama sejam di jalanan kota malam serasa sia-sia karena sang istri sama sekali tidak merasa kecewa atau bahkan memuji perjuangannya. Membuatnya jadi murung.
Selanjutnya mereka hanya diam. Naruto tidak lagi bicara dan menunggu istrinya selesai makan agar mereka bisa kembali ke kamar bersama. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Hinata selesai makan dan menatapnya aneh.
"Naruto-kun kenapa?"
Pria itu menggeleng lemah. "Tidak apa. Apa kau sudah selesai?" Hinata mengangguk. "Kita kembali ke kamar ya, aku sudah mengantuk."
Lagi—Hinata mengangguk dan mereka berjalan beriringan menuju kamar.
Naruto mengunci pintu dan mematikan lampu, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, di samping Hinata yang masih terduduk memandanganya heran. Punggung Naruto yang ditunjukkan padanya semakin membuatnya merasa aneh.
"Naru-kun?"
"Sudah malam, tidurlah."
Hinata ingin menangis rasanya saat suara dingin Naruto menjawab singkat. Dia tidak tahu apa kesalahannya. Apa mungkin Naruto marah karena dia memaksa suaminya untuk membeli ramen tadi? Tapi bukankah suaminya bilang tidak masalah? Lalu kenapa sekarang Naruto seperti marah padanya?
"Hiks."
Safir Naruto yang terpejam langsung terbuka dan terduduk saat mendapati istrinya menangis dengan tangan yang menutupi wajah. "Sayang, kau kenapa?"
"Naruto-kun yang kenapa?" Naruto mengernyit tidak mengerti. "Kenapa Naruto-kun bicara dingin begitu, apa Naru-kun marah? Apa aku berbuat salah? Hiks."
Naruto memejamkan matanya. Dia tidak sadar jika sudah membuat istrinya bersedih. Tadi dia hanya merasa lelah dan mengantuk. Karena tidak mendapat ramen, dia juga takut dan khawatir kalau Hinata sampai marah atau merajuk. Tapi saat dia melihat Hinata sudah makan ramen di rumah tanpa menunggu hasil yang dia dapatkan, Naruto merasa apa yang dia lakukan sia-sia.
Dia hanya merasa … kurang berharga. Yah, mungkin hanya perasaannya saja hingga dia jadi bersikap seperti tadi. Dia menyesal sekarang dan tidak akan mengulanginya lagi lain kali.
"Hinata, aku tidak marah kok."
"Lalu kenapa Naruto-kun bicaranya dingin sekali. Naruto-kun juga berbaring membelakangi aku. Aku pasti ada salah sampai Naru-kun marah."
Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya dan mengelus rambut indigo lembut terurai itu. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti tadi. Maaf ya." Naruto mendongakkan wajah Hinata hingga tatapan mereka bertemu. Hatinya serasa dicubit saat melihat wajah istrinya basah oleh air mata. Hinata menjadi sangat sensitif sejak sebulan yang lalu, atau sejak dia hamil.
"Hei, jangan menangis. Aku tidak marah. Aku hanya kelelahan. Maaf."
Hinata menggeleng. "Aku yang minta maaf. Naruto-kun pasti kelelahan karena aku memaksa untuk membeli ramen di malam hari begini. Aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan memaksa lagi. Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh lagi."
Cuph
Hinata terdiam saat Naruto mengecup sekilas bibirnya. Suaminya tersenyum sambil menghapus air matanya. "Aku tidak keberatan. Apa pun yang kau inginkan, katakan saja. Aku justru tidak suka jika kau menyimpan apa yang kau inginkan karena takut. Jadi katakan saja apa yang kau inginkan. Aku akan melakukannya dan tidak akan marah, oke?"
Hinata mengangguk dan langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Naruto, membuat pria itu tersenyum. "Sudah, lebih baik kita tidur sekarang. Kau harus istirahat. Besok aku akan belikan ramen yang enak untukmu. Kau mau?"
Hinata mengangguk lagi, membuat Naruto tersenyum dan kembali berbaring, membawa Hinata ikut berbaring dalam pelukannya yang hangat. Tak lama, Hinata sudah tertidur dengan lelap, membuat Naruto kembali tersenyum senang.
"Aku tidak akan membuatmu menangis lagi, Sayang. Maaf karena aku masih egois. Aku janji akan jadi lebih dewasa agar aku bisa memahamimu dan membuatmu bahagia. Aku akan berusaha jadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecil kita nanti." Naruto mengecup kening Hinata lembut dan lama. "Selamat tidur, Hime. Aku mencintaimu."

.To be continued