Ganti Status Kilat by Rameen
Naruto by Masasi Kishimoto
Generasi Kedua – NaruHina, BoruSara, ShikadaiHima, InojinYuki, TsukiHanakiZouki
Boruto (17 tahun), Ryouji (16 tahun)
Sarada, Hima, Inojin, Chocho, Shikadai (14-15 tahun)
Tsuki, Zouki, Yuki (12 tahun), Hanaki (7 tahun)
.
.Happy Reading.
(*Note: Ini ditulis pada 2016 saat karakter2 generasi kedua belum terlalu jelas. Kalau sekarang jadi rada aneh, maapin yak. Aku juga mungkin nambahin komen-komen di dalam cerita, kalau terasa kurang nyaman, bilang aja, ntar aku pindahin ke bawah.)
_NH_
Bel akhir pulang sekolah baru saja berbunyi, membuat semua siswa SMP Nagashi bernapas lega. Tak hanya murid, sebagian guru pun terlihat lega karena selesai dengan tugas mengajar mereka.
"Sampai di sini pertemuan kita. Dan jangan lupa dengan tugas kalian. Kita bertemu minggu depan."
"Ha'i, Aburame-sensei!"
(Aku jadiin Shino sebagai guru gegara liat manga chap 700, loh. Entah saat itu udah ada BNG atau belum, aku jadi ragu. Lupa juga kapan BNG rilis )
Dengan jawaban itu, Aburame Shino melangkah keluar dari kelas yang dia ajar. Berjalan santai dengan penuh wibawa yang mampu membuat beberapa siswi remaja jatuh hati walau jarak usia mereka sangat jauh.
Shino melangkah mantap dan sempat berhenti di koridor saat melihat seorang wanita yang sudah dikenalnya dalam 20 tahun terakhir. Sesungging senyum tipis dia alamatkan kepada wanita itu walau belum pasti senyumnya terlihat.
Dia melangkah mendekat dan semakin senang karena wanita itu tersenyum padanya. Membuatnya akan tersenyum makin lebar—jika saja wanita itu tidak memanggilnya—"Paman sudah selesai?"
Senyum Shino memudar dan pandangannya dibalik kacamata hitamnya sedikit berubah.
"Sampai kapan kau akan memanggilku 'Paman'?" ucapnya pelan dan mampu membuat wanita itu tersenyum jahil tanpa mengindahkan protesan Shino. "Seharusnya kau memanggilku 'Sayang' atau 'Suamiku'. Kita bahkan sudah 14 tahun menikah. Kau ingat, 'kan, Mirai?"
Dan saat Shino kembali melangkah, wanita itu sukses tersenyum lebar. "Suamiku," panggilnya menggoda dan mampu membuat pipi Shino memerah tipis walau wajahnya tetap datar. Dia tetap berjalan—apalagi saat wanita itu menyamakan langkah mereka—walau godaan Mirai semakin gencar dia dengar.
Di sisi lain .…
"Kau lihat?"
"Wajah Aburame sensei memerah."
"Wah, dia ternyata manis juga kalau sedang bersama istrinya." Yang lain menoleh kepada Inojin yang baru saja berbicara. "Kenapa?"
"Kau yakin Aburame-sensei itu manis? Dia itu menyeramkan." Seorang anak perempuan gendut berkulit hitam mengoreksi perkataan Inojin.
"Ck, mengurusi urusan orang lain itu merepotkan. Tidak bisakah kita pulang sekarang?" Nara Shikadai berbicara dengan nada malas seperti biasa dan lebih dulu melangkah diikuti teman-temannya yang lain—Sarada, Himawari, Inojin, dan Chocho.
Mereka berlima adalah anak kelas tiga di SMP Nagashi. Persahabatan para orang tua mereka membuat mereka pun sudah saling mengenal sejak kecil. Ada lagi anak dari teman orang tua mereka yang lain tapi hanya mereka berlima yang seumuran sehingga berada di sekolah dan kelas yang sama.
"Hei, bagaimana kalau kita belajar bersama untuk menghadapi ulangan dari Eisuke-sensei minggu depan?"
"Ehm, itu ide yang bagus." Seorang anak perempuan berambut hitam menyetujui saran Inojin. "Tapi kita kumpul di mana?"
"Sarada benar, di mana kita kumpulnya? Apa di rumah Shikadai seperti biasanya?"
"Jangan, ibuku sedang cerewet sejak mengandung adikku. Di rumah yang lain saja."
"Ehm, di rumahku saja." Seorang anak berambut indigo menawarkan diri. "Kita bisa belajar di teras belakang rumahku. Bagaimana?"
Yang lain mengangguk setuju akan saran Himawari. Rumah kediaman Uzumaki memang cukup luas dan nyaman, apalagi teras belakang yang luas dan sekalian dapat melihat taman buatan yang lumayan indah di sana.
"Ekhem," Shikadai berhedam saat mereka sampai di depan gerbang. "Err … aku akan pulang duluan. Ayo Hima, rumah kita sejalan , 'kan?" ucapnya dengan mata yang teralih ke tempat lain.
"Alasan, bilang saja kau mau berduaan dengan pacarmu," sela Chocho cepat. "Hah, aku harus secepatnya mendapatkan pacar juga. Baiklah, aku juga pulang deh. Aku duluan ya. Jaa." Dia melambai dan melangkah pergi setelah yang lain mengangguk.
(Aku ternyata pernah ngeship ShikadaiHima kalau sekarang aku ship InojinHima )
"Hima!"
Mereka menoleh saat satu suara yang memanggil Hima dari kejauhan terdengar. Terlihat seorang pemuda berambut pirang menghampiri dengan motornya.
"Boruto-nii?"
"Hm, kau sudah selesai? Ayo, aku sengaja ke sini untuk menjemputmu." Boruto, siswa SMA Konoha itu berucap sambil tersenyum lebar pada sang adik.
Himawari melirik ke arah Shikadai yang membuang muka dengan raut kesal yang gagal disembunyikan. Dia ingin pulang dengan Shikadai, tapi jika Boruto sudah menjemput, bagaimana caranya?
"Hima?"
Gadis Uzumaki itu tersentak saat kakaknya kembali memanggil. "Eng, itu .…" Dia melirik mencari alasan, dan saat dia melihat Sarada yang berdiri di sampingnya dengan wajah memerah walau terlihat cuek, dia tersenyum dalam hati. "Nii-chan, bisakah kau mengantar Sarada saja?"
"Hah?" Boruto dan Sarada merespon kaget.
"Uhm, tadi Sarada sedikit tidak enak badan waktu pelajaran olahraga. Aku khawatir jika dia harus pulang sendirian. Jadi Nii-chan antarkan Sarada, ya?"
Sarada berkedip bingung, memang sih dia tadi sedikit pusing saat olahraga, tapi sudah baik-baik saja, kok. Lalu kenapa Hima berkata seperti itu?
"Benarkah Sarada? Kau sakit?" Sarada tersentak saat Boruto bertanya padanya, wajahnya kembali menimbulkan rona tipis yang manis. Akhirnya, dia hanya bisa mengangguk singkat. "Kalau begitu, ayo! Aku antar saja. Tapi …." Boruto menoleh kepada Hima dengan khawatir.
"Ah, Nii-chan tenang saja, aku akan pulang bersama Shikadai."
Ugh, Shikadai menahan diri untuk tidak mendengkus saat tatapan tajam Boruto mengarah padanya.
"Boruto-nii, apa yang Nii-chan lihat?"
Boruto menghela napas saat Hima sudah mulai merajuk karena ulahnya. "Aku hanya memastikan kalau kau aman."
"Aku akan aman-aman saja. Sudah sana antar Sarada."
"Iya iya. Hei bocah rusa," Shikadai melirik malas atas panggilan Boruto, "awas kalau kau berbuat yang aneh-aneh pada adikku."
"Hn."
"Ck," Boruto berdecak atas respon Shikadai yang ogah-ogahan. Dia mengalihkan tatapannya pada Sarada, dan wajahnya kembali tersenyum, "Ayo Sarada. Aku akan mengantarmu pulang." Boruto mengulurkan helm lain kepada Sarada.
"Baiklah." Sarada mengambil helm yang diberikan Boruto lalu menaiki motor. Dia tersenyum saat Himawari melambaikan tangan. Dan selanjutnya, Sarada langsung memeluk pinggang Boruto saat motor itu digas dengan cepat oleh bungsu Uzumaki itu.
Himawari tersenyum melihatnya. 'Huh, dasar Nii-chan. Bilang saja kalau kau suka mengantar Sarada.' Himawari berbisik dalam hati.
"Ayo, kita pulang!"
Hima tersentak saat suara Shikadai mengajaknya pulang. "Uhm," dia mengangguk dan menoleh pada Inojin, "Ne Inojin-kun, tidak apa 'kan kalau kami pulang duluan? Lagipula rumah kita tidak searah."
"Ya, tidak masalah. Pulanglah dan hati-hati di jalan. Biasanya rusa itu suka menyerang tiba-tiba loh." Shikadai mendelik mendengar perkataan Inojin, sementara Himawari hanya tersenyum melihatnya.
"Baiklah, Jaa nee."
Inojin masih tersenyum melihat kedua sahabatnya yang baru saja jadian seminggu yang lalu itu. Tentu saja hanya beberapa orang yang tahu, dan hubungan itu juga backstreet karena kalau ketiga pangeran berkuda putih Himawari tahu kalau Shikadai telah merebut tuan putri mereka, itu akan buruk untuk Shikadai.
Setelah bayangan kedua sahabatnya menghilang—atau lebih tepatnya keempat sahabatnya sudah pergi—Inojin memudarkan senyumnya dan menghela napas dengan berat. "Chocho benar, sepertinya aku juga harus cari pacar," ucapnya lesu.
Dia berjalan sendirian untuk pulang. Rumahnya memang berbeda arah dengan Shikadai dan Himawari. Biasanya dia akan pulang bersama Sarada dan Chocho, tapi karena tadi Sarada diantar Boruto, dan Chocho pergi mencari pengeran—yang Inojin yakin pasti berakhir di salah satu rumah makan—jadilah dia sendirian sekarang.
Tapi belum ada dua puluh langkah, dia kembali berhenti karena melihat seorang gadis yang terlihat ragu untuk memasuki wilayah sekolah itu. Dengan kebaikan hatinya yang dia warisi dari sang Ayah, Inojin berjalan menghampiri gadis itu untuk sekedar membantu, mungkin.
"Maaf," sapanya.
Gadis itu tersentak dan menoleh, sesaat pandangan mereka bertemu dalam diam sebelum akhirnya sang gadis mengerutkan keningnya karena bingung kenapa Inojin menegurnya.
Sadar akan ekspresi gadis itu, Inojin kembali ke tujuan awalnya setelah sempat terpana beberapa saat dengan mata hitam sang gadis. "Ah, itu … kenapa kau melihat ragu ke arah sekolahku?"
"Uhm, maaf. Itu ... aku mencari kedua orang tuaku."
"Orang tuamu?"
"Ah itu, maksudku ... apa Aburame-sensei sekiranya masih ada di sana?"
Inojin berkedip, jadi gadis ini adalah anak Aburame-sensei? Pantas saja gadis ini terlihat pendiam seperti Ayahnya dan ramah seperti Ibunya.
"Hei?"
Inojin tersentak saat gadis itu memanggilnya yang setengah melamun. "Maaf. Jadi kau mencari Aburame-sensei?" gadis itu mengangguk, "Kau masuk saja ke dalam, bilang saja pada satpam itu kalau kau mencari Aburame-sensei. Mungkin Sensei masih di kantor bersama istrinya."
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, ya." Gadis itu melangkah pergi setelah berterima kasih, tanpa sadar kalau senyum manisnya membuat Inojin kembali terpana.
*GantiStatusKilat*
Boruto menghentikan motornya di depan gerbang rumah Uchiha. Dia membuka helmnya dan mengernyit saat Sarada tidak juga turun dan masih memeluknya erat. Entah kenapa jantungnya berdebar dan wajahnya menimbulkan rona tipis.
"Sarada, kita sudah sampai."
"Hah?" Suara kaget dari gadis Uchiha itu membuat Boruto sedikit tersenyum. Lalu Sarada segera melepas pelukannya dan turun, lalu membuka helmnya. "Oh, terima kasih Boruto-nii."
"Hm," Boruto mengambil helm itu dan kembali mengaitkannya pada motornya sebelum menatap Sarada, "Kau harus istirahat supaya tidak semakin parah, oke?" Sarada mengangguk dan tersenyum senang. "Tapi kenapa tadi kau memelukku erat?"
Sarada tersentak dan melihat Boruto menahan senyumnya, saat itu juga Sarada sadar kalau tadi dia di kerjai. "Jadi Boruto-nii sengaja?"
Boruto terkekeh setelah melihat raut kesal Sarada. "Ekspresimu lucu juga, ya."
Wajah Sarada merona, dia senang dan malu, tapi juga kesal. "Dasar jelek."
"Awww … ittai ..." Boruto mengangkat kakinya yang dipijak Sarada dengan kuat. "Kenapa menginjak kakiku?"
"Balasan karena sudah mengerjaiku. Padahal aku ketakutan karena terlalu ngebut."
Boruto menghela napas dan kembali memakai helmnya. Dasar, dia sama mengerikannya dengan bibi Sakura, batin Boruto meringis. "Baiklah, aku minta maaf. Aku pulang dulu, ya."
Sarada mengangguk dan berterima kasih sekali lagi sebelum Boruto kembali melaju. Setelah Boruto cukup jauh, senyum manis terukir di bibir gadis Uchiha itu. "Dasar!" gumamnya pelan sambil tersenyum sebelum berjalan masuk ke rumahnya.
*GantiStatusKilat*
Shikadai melirik ke sampingnya sesekali di perjalanan pulang. Melihat gadis Uzumaki di sampingnya, atau lebih tepatnya mencuri-curi pandang. Himawari yang merasakan tatapan itu menoleh dan hampir membuat Shikadai terjungkal saat dia tertangkap basah sedang melirik.
"Kau kenapa Shikadai-kun?"
"Hn, tidak." Shikadai menolehkan wajahnya dengan canggung. Malu karena kedapatan sedang mencuri-curi pandang.
Himawari hanya berkedip dan mengangkat bahu. Tidak biasanya Shikadai bersikap begitu, itulah yang di pikirkan Himawari. Sementara di sisi lain, Shikadai sedang berperang dengan dirinya sendiri untuk melakukan apa yang dia inginkan. Satu sisi dia sangat ingin melakukannya, tapi di sisi lain dia malu.
Kembali dia mencuri-curi pandang ke sampingnya sambil tetap berjalan santai. Himawari yang jengah karena daritadi mereka tidak berbicara, di tambah sikap aneh Shikadai, menghentikan langkahnya. Membuat Shikadai ikut berhenti dan menoleh.
"Ada apa?"
Hima menatapnya dengan kening berkerut. "Kau yang ada apa? Daritadi aneh sekali."
"Aku tidak apa-apa. Sudahlah, ayo." Himawari tetap diam di tempat tanpa bicara, dan matanya terus menatap Shikadai hingga bocah Nara itu semakin salah tingkah. "Ugh, baiklah," ucapnya menyerah.
Hima paling tahu kalau dia tidak tahan ditatap begitu oleh sepasang mata safir. Baik itu mata Hima yang indah, ataupun mata dua pengawal Hima yang terkesan menakutkan.
"Sebenarnya,"
Himawari mengangkat alisnya menunggu. Shikadai berdeham dan segera meraih tangan Hima sambil menatap ke arah lain. Membuat Hima tersentak kaget dan melihat tangannya yang digenggam oleh Shikadai. Beberapa detik selanjutnya, gadis itu tersenyum dan membalas genggaman itu.
Shikadai yang merasakan balasan di tangannya hanya tersenyum tipis sambil kembali melangkah. 'Dia manis juga ternyata,' batin Himawari tersenyum.
Siang itu, mereka berjalan bersama sambil bergandeng tangan dan wajah merona.
Tak lama, mereka sudah sampai di depan gerbang kediaman Uzumaki. Dan walau enggan, Shikadai melepas tangan pacarnya itu. "Kita sudah sampai," ucapnya pelan.
"Uhm," Himawari mengangguk.
Mereka terdiam dan itu membuat mereka semakin canggung. "Baiklah, aku pulang dulu." Shikadai melangkah pergi, tapi kembali lagi setelah tiga langkah. Membuat Hima berkedip bingung.
"Kenapa balik lagi?"
Shikadai diam dan dengan cepat dia mengecup kening Hima lalu berjalan pergi dengan langkah yang cepat. Membuat wajah Hima merona merah dan mengulum senyumnya karena senang. Tidak menyadari aura mengerikan yang datang dari arah pintu rumah.
Himawari berjalan memasuki gerbangnya dan terdiam saat menemukan Ayahnya sudah berdiri di depannya dengan mata menyipit. Ugh, tanpa dijelaskan pun, Himawari sudah tahu situasinya. Gadis 15 tahun itu hanya bisa menelan ludah sambil tersenyum canggung.
"Hai, Papa, aku pulang," sapanya ramah, walau tampaknya ekspresi sang Ayah sedang tidak ingin ramah.
"Pulang dengan siapa?"
"Shikadai."
Kaki Ayahnya mengetuk-ngetuk ubin taman yang berbentuk jalan di tempatnya berdiri. "Sejak kapan ada acara berpegangan tangan dan mencium kening?"
Himawari ingin masuk ke kolam ikan belakang rumah saja rasanya. Dia tidak akan selamat. Dan sebelum Himawari menjawab, Boruto sudah kembali. Bukannya membuat gadis itu lega, justru semakin membuat jantungnya berdebar takut.
"Ada apa, Ayah?"
"Kenapa kau tidak menjemput adikmu?"
"Tadi Sarada sakit jadi Hima menyuruhku mengantarnya."
Himawari semakin menundukkan kepalanya saat sang Ayah menatapnya tajam. "Jadi kau membuat kakakmu mengantar temanmu agar kau bisa pulang dengan bocah rusa itu?"
"Memang kenapa kalau dia pulang dengan Shikadai?" Boruto masih tidak mengerti kenapa Ayahnya terlihat sangat marah. Yah, walau dia juga tidak suka kalau ada laki-laki yang mendekati adiknya.
"Kenapa? Seharusnya kau mengantar adikmu dulu. Dia tadi dicium oleh rusa itu."
"APA?"
Dan benar saja dugaan Himawari, dua pengawal berkuda putihnya ini bukan tidak mungkin membuatnya ingin terjun saja dari lantai sepuluh suatu gedung. Sebelum dia habis diintrogasi, sebuah ide sudah melintas di pikirannya. Membuatnya tersenyum tipis.
"Benarkah itu Hima? Dia menciummu? Dia harus kuberi pelajaran," ucap Boruto.
"Jadi kenapa kau harus bergandeng tangan dengannya?"
"Apa? Mereka juga bergandeng tangan?"
Himawari menarik napas panjang mendengar kalimat-kalimat itu, dan di detik berikutnya .… "Mamaaaaa!"
"Eh?"
Mereka bertiga menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka dan menampilkan seorang wanita berambut indigo yang masih cantik. Wanita itu berlari mendekat dengan wajah khawatir, "Hima, ada apa, Sayang?"
Set … Himawari menunjuk Ayah dan Kakaknya dengan wajah cemberut. Saat Ibunya menatap kedua laki-laki berambut pirang itu, giliran Boruto dan Ayahnya yang menelan ludah.
"Naruto-kun, Boruto-kun, kalian memarahi Hima lagi?" Kedua pria itu menggeleng cepat. Membuat Hinata menyipitkan matanya.
"B-boruto," gumam Naruto lirih yang di sambung langsung oleh sang anak.
"…lariiiii…"
Mereka berlari bersama menghindari tatapan maut sang Nyonya Uzumaki. "Naruto-kun! Boruto-kun! Jangan lari!" Teriakan itu tidak perlu didengar oleh Ayah dan anak itu.
Himawari hanya tersenyum melihat Ayah dan kakaknya yang lari ketakutan karena Ibunya. Entah kenapa saat marah dan mulai serius, Ibunya yang lembut itu bisa menjadi menakutkan.
"Hah," Hinata menoleh kepada putrinya yang tersenyum, "Memangnya mereka kenapa lagi?"
Himawari menoleh dan mengangkat bahu. "Biasalah. Mereka marah karena aku pulang diantar oleh Shikadai."
Hinata menghela napas mendengarnya lalu menatap ke arah gerbang tempat suami dan putranya berlari. 'Ya ampun, mereka terlalu overprotective,' ucap Hinata dalam hati. Dia memang sudah tahu jika Hima pacaran dengan Shikadai. Tidak ada yang bisa disembunyikan Himawari darinya, dan Hinata merasa itu wajar untuk anak remaja seumuran mereka.
Hinata percaya kalau putrinya tahu mana yang baik dan mana yang buruk dalam suatu hubungan. Jadi dia tidak perlu khawatir. Masalahnya, Naruto dan Boruto itu mengidap sikap over protective akut. Saking akutnya, Himawari baru bisa akrab dengan keempat sahabatnya saat sudah di bangku kelas tiga SMP sekarang ini.
Sebelumnya, Hinata hanya bisa menggeleng karena Himawari bahkan tidak pernah keluar rumah karena larangan Naruto dan Boruto. Belum lagi pengawasan yang tidak berhenti kalau Himawari keluar rumah. Hinata yang kasihan melihat hal itu, untuk pertama kalinya marah dengan aura mematikan setahun yang lalu. Mengatakan agar jangan ada yang menghalangi Himawari untuk berteman lagi.
Dan sejak itulah, Himawari mulai akrab dengan sahabat-sahabatnya. Bahkan suka dengan Shikadai. Dan sejak itu juga, Naruto dan Boruto lebih memilih pergi saat Hinata mulai menyipitkan matanya tidak suka jika mereka mulai kembali bersikap berlebihan.
Dalam hati, Hinata hanya bisa mendesah karena suaminya yang super over protective itu. Padahal teman-teman Himawari adalah anak dari teman-teman mereka juga. Tapi Naruto tetap tidak ingin mengerti. Hinata bisa melihat jika Naruto itu bukan tidak percaya dengan teman-teman Himawari, Naruto hanya terlalu berlebihan dalam melindungi Himawari.
Hah, Hinata menghela napas lagi. Mungkin kejadian sepuluh tahun yang lalu adalah penyebab yang pantas.
*GantiStatusKilat*
Naruto memasuki kamarnya setelah menonton TV di ruang tengah bersama Boruto. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, dan sudah waktunya untuk tidur. Dia tersenyum melihat sang istri yang duduk di ranjang mereka sambil membaca novel percintaan kesukaannya.
Naruto berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Hinata. Wanita itu hanya meliriknya sekilas dan kembali membaca buku. Membuat Naruto meringis karena kelihatannya Hinata masih marah atas kejadian tadi siang.
"Hime," panggilnya, tapi tidak ada jawaban. "Himeee." Dia mulai menoel-noel lengan Hinata dengan bibir yang maju—sikapnya beberapa tahun terakhir jika Hinata sudah sangat marah padanya.
Setelah beberapa saat, Hinata menutup bukunya. Menaruh buku itu di nakas lalu menoleh pada suaminya yang masih menampilkan wajah cemberut. "Kemarilah," ucapnya lalu menarik kepala Naruto agar berbaring di pangkuannya.
"Kau tidak marah lagi?"
"Tergantung." Hinata mulai membelai rambut pirang suaminya, dan Naruto menikmati itu. "Aku tidak akan marah lagi jika kau tidak melakukannya lagi."
"Aku 'kan hanya ingin melindungi Himawari."
Hinata mengembus napasnya karena tahu jika percakapan mereka tidak akan mudah. "Anata, Himawari hanya pulang dengan Shikadai. Kau tidak mungkin mencurigai anak sahabatmu itu, 'kan?"
"Aku percaya pada teman-temannya," wajah Naruto murung, "Aku hanya tetap selalu ingin melindunginya setiap waktu," lanjutnya dengan nada muram.
Hinata menunduk dan mengecup pelan bibir suaminya sehingga tatapan mereka bertemu. "Tapi sikapmu berlebihan."
Naruto mengerutkan keningnya tidak suka. "Aku tidak berlebihan, aku hanya tidak mau Hima lepas sedetik saja dari pengawasanku."
"Jangan menghukum dirimu, Naruto-kun. Itu bukan salahmu, dan juga semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau sesali sampai menghukum diri seperti ini."
"Aku tidak menghukum diri." Naruto membuang pandangannya ke samping.
Hinata menatap suaminya dengan sendu. Awalnya Naruto bukanlah seorang Ayah yang terlalu berlebihan dalam menjaga putrinya. Tapi Hinata yakin jika kejadian sepuluh tahun yang lalu telah merubah suaminya.
Himawari sempat diculik sepuluh tahun yang lalu. Naruto yang saat itu terlambat menjemputnya di sekolah menjadi lepas kendali saat tidak menemukan putrinya. Naruto panik dan berlari ke semua tempat untuk mencari Himawari berdasarkan hasil informasi yang didapatnya dari orang-orang sekeliling. Saat itu dia bertanya tentang seorang gadis lima tahun yang berambut indigo pendek. Dan jawaban yang dia terima mengarah pada salah satu rumah kosong di dekat sekolah Himawari.
Saat Naruto melabrak ke sana, dia melihat seorang pria yang membaringkan Himawari yang terlihat belum tersentuh ke atas meja sementara Himawari tidak sadarkan diri karena diberi obat tidur. Naruto murka dan menghajar orang itu hingga para penduduk sekitar memisahkan mereka dan memanggil polisi.
Dari hasil pemeriksaan, diketahui jika pria yang menculik Himawari adalah seorang pedofil gila yang sudah pernah menculik anak perempuan lainnya. Fakta itu membuat Naruto sangat ketakutan akan keselamatan Himawari. Membuat Naruto memeluk Himawari seharian dan tidak mau berpisah selama tiga hari dengan putrinya. Bahkan Naruto bolos dari kantornya untuk menunggui Himawari di sekolah.
Sejak itulah, Naruto tidak pernah melepaskan pengawasannya pada Hima yang berujung Himawari seolah dikekang dan tidak punya teman. Para sahabatnya yang sekarang pun sebenarnya sudah dia kenal sejak dari kecil, tapi mereka baru bisa akrab dalam setahun ini.
Mengingat hal itu, Hinata bisa mengerti ketakutan suaminya. Tapi dia juga ingin meyakinkan suaminya jika semua baik-baik saja. Apa pun yang akan terjadi ke depannya, pasti akan ada jalan keluar. Dia tidak ingin putrinya selalu dimarahi jika dekat dengan orang lain secara berlebih. Hinata ingin putrinya tumbuh dengan normal dan bahagia.
Hinata menggerakkan kepala Naruto agar berbaring dengan benar yang dituruti oleh suaminya, setelah itu dia langsung meringsut ke pelukan suaminya. Naruto yang melihat itu langsung mendekap istrinya dengan erat.
"Apa kau sayang pada Hima?" tanya Hinata setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Tentu saja."
"Kalau begitu berilah dia sedikit kebebasan tanpa pengawasan berlebih. Kau juga bisa mempercayakan dia pada para sahabatnya. Bukankah kita juga punya sahabat yang bisa dipercaya?" Hinata mendongak dan memegang pipi suaminya. "Himawari masih sering ketakutan jika kau marah. Lindungi dia, tapi jangan mengambil kebahagiaan dan kebebasannya. Kau mengerti maksudku, 'kan?"
Naruto hanya memandang Hinata dalam diam sebelum menenggelamkan kepala dengan surai indigo itu ke dadanya. Naruto tahu dia salah, tapi … ketakutan itu masih sering membebaninya.
*GantiStatusKilat*
Himawari tersenyum sembari menghampiri Ayahnya yang berdiri di balkon."Papa."
Sang Ayah menoleh dan menatapnya dari atas hingga bawah lalu tersenyum senang. "Kau cantik sekali, Hima. Kemarilah!" Dia menyuruh anaknya untuk mendekat dan langsung dituruti oleh putrinya. "Jadi, berapa usiamu hari ini?"
"15 tahun."
"Wah, putri Papa sudah besar." Naruto mengusap pelan kepala dengan rambut indigo indah itu. Teringat pembicaraannya dengan sang istri semalam, Naruto mulai sadar jika apa yang dikatakan istrinya memang benar. Putri kecilnya kini sudah beranjak dewasa, akan sangat tidak adil jika Naruto masih terlalu mengekang kebebasan gadis itu.
"Papa kenapa?" tanya Hima saat mendapati wajah sendu sang Ayah.
"Tidak apa."
"Papa, aku sudah 15 tahun dan sebentar lagi aku sudah menjadi siswi SMA. Apa Papa pikir masih bisa berbohong padaku?"
Naruto tertawa mendengar nada sindiran putrinya.
Yah, setelah dipikir-pikir lagi, rasanya dia memang tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Hinata dan Himawari. Sama seperti Himawari dan Boruto yang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Hinata. Juga sama seperti Hinata yang tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
Dalam keluarga kecilnya, dia bisa merasakan keterbukaan dan pengertian satu sama lain. Jadi akan buruk jika dia menutup mata tentang kebahagiaan dan kebebasan putra dan putrinya.
"Hima, apa kau merasa sikap Papa keterlaluan selama ini?" Gadis Uzumaki itu mengerutkan keningnya bingung. "Maksud Papa, apa kau merasa terkekang dengan sikap Papa yang terlalu berlebihan dalam melindungimu? Kau jadi tidak bisa bebas berteman, kau tidak bisa leluasa keluar rumah, kau juga tidak nyaman karena merasa akan diintrogasi jika sedang bersama seseorang. Yah, semacam itulah."
Himawari tersenyum dan mendekat, memeluk Ayahnya dengan erat. "Aku tidak merasa begitu. Aku tahu Papa hanya ingin melindungiku dan menjagaku. Papa tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku. Aku senang karena Papa selalu ada untukku."
"Benarkah?" tanya Naruto ragu, mungkin saja putrinya itu hanya berbicara begitu untuk menghiburnya dan membuatnya tidak merasa bersalah.
"Itu benar." Himawari mendongak. "Papa percaya padaku?" Naruto mengangguk, "Kalau begitu percayalah kalau aku memang tidak merasa seperti itu terhadap sikap protective Papa."
Naruto tersenyum dan kembali membelai rambut putrinya. Hatinya sedikit lega setelah mendengar ucapan putrinya.
"Tapi, Papa .…"
"Hm?"
"Bisakah Papa percaya padaku sepenuhnya?" Naruto terdiam. "Aku memang tidak masalah dengan sikap Papa, tapi aku juga ingin merasa memegang tanggung jawab atas kepercayaan Papa. Aku ingin menunjukkan sama Papa kalau aku akan jadi anak yang baik dan bisa mandiri. Jadi aku tidak akan membuat Papa khawatir lagi kedepannya."
Naruto tidak menjawab. Dia memang percaya pada putrinya, tapi untuk melepaskan pengawasan … itu membuatnya sedikit ragu. Dia jelas tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada putrinya di saat dia melemahkan pengawasannya. Dia ingin selalu ada untuk putrinya dan juga selalu siap menjaga putrinya dari segala hal.
Naruto melihat putrinya dan mendongakkan kepala Himawari. "Apa kau akan menjaga kepercayaan Papa dengan baik?" Himawari tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kau tidak boleh membuat Papa khawatir, kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik. Kau mengerti?"
"Aku mengerti." Himawari memeluk Ayahnya dengan erat. "Terima kasih, Papa. Hima sayang Papa."
"Hm, Papa juga sangat sayang padamu, Hima."
'Jaga kami dari jauh tanpa mengekang kebebasan dan kebahagiaan kami. Aku yakin kau mengerti dan kau paham maksudku, Naruto!'
Naruto tersenyum mengingat perkataan istrinya. 'Baiklah, akan kucoba menjaga kalian dalam batas normal. Kebahagiaan kalian adalah yang terpenting,' ucapnya dalam hati.
Di sisi lain, Hinata dan Boruto tersenyum melihat Ayah dan anak yang sedang berpelukan di sana. Mereka saling pandang dan mengangguk sebelum melangkah mendekat.
"Bolehkah kami bergabung?"
Naruto dan Himawari menoleh dan tersenyum. Dengan masih memeluk Ayahnya, Himawari mengulurkan tangan yang lain untuk memeluk Kakaknya yang tentu saja langsung disambut oleh Boruto. Selanjutnya giliran Naruto yang menarik Hinata ke dalam pelukannya hingga mereka berempat saling berpelukan dengan tersenyum di balkon itu.
*GantiStatusKilat*
Suara tepuk tangan terdengar begitu Himawari meniup lilin ulang tahunnya. Dia tersenyum lalu mengambil pisau untuk memotong kuenya menjadi beberapa potong dan mewadahinya ke dalam piring-piring kecil yang tersedia.
Teman-temannya yang hadir tersenyum dan menunggu untuk siapa potongan kue itu akan diberikan walau mereka sudah bisa menebaknya.
Himawari menoleh pada Ibunya yang berdiri di sampingnya. "Ini untuk Mamaku yang tercantik dan selalu menjadi Ibu yang terbaik untukku." Hinata tersenyum dan mengambil piring kue yang disodorkan Hima padanya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Hinata lalu mengecup pipi putri kecilnya itu. "Selamat ulang tahun, ya."
Himawari mengambil lagi piring lain dan kali ini dia menoleh ke arah Ayahnya. "Ini untuk Papaku yang selalu menjagaku dan selalu menjadi Ayah terhebat untukku."
Giliran Naruto yang tersenyum dan meraih kue itu. "Terima kasih, Hima." Kecupan kedua dia dapatkan dari Ayahnya di pipi yang satunya.
"Dan yang ini, untuk kakakku yang tampan dan selalu bersedia membantuku."
"Hm, setelah dipikir-pikir, aku tidak hanya tampan, Hima. Aku juga keren, baik, gentle, ramah—"
"Tidak jadi," sela Himawari dengan cepat.
"Ehhh." Boruto segera mengambil kue yang ingin kembali ditaruh Hima di meja. "Begitu saja merajuk." Boruto nyengir lebar, membuat Hima mendengkus kesal. "Baiklah, terima kasih, ya, adikku sayang. Selamat ulang tahun dan semoga kau menjadi gadis yang lebih cantik, pintar, sukses, dan tidak cerewet lagi."
"Nii-chaaann."
Boruto dan yang lain terkekeh saat Himawari memajukan bibirnya cemberut. Mengabaikan itu, Boruto mengecup kening adiknya dengan sayang dan cukup melenyapkan kekesalan bungsu Uzumaki itu.
"Hei Hima, selanjutnya untuk siapa?" Chocho menyeletuk karena sudah ingin mencoba makanan yang lainnya. Bukankah jika acara inti sudah selesai maka para tamu bisa langsung makan? Begitulah pikirnya.
"Chocho, diamlah!" desis Sarada sambil memijit pelipisnya. Tidak habis pikir dengan sahabatnya satu itu.
Himawari tersenyum dan meraih satu piring terakhir. "Baiklah, ini potongan yang terakhir. Aku berikan untuk …" ucapnya menggantung, membuat Hinata tersenyum. Naruto dan Boruto waspada. Sarada, Inojin dan Chocho menunggu, serta seorang bocah Nara salah tingkah.
"… untuk Shikadai," ucapnya kemudian yang mengundang riuh sorakan dari teman-teman sekelasnya yang memang sudah tahu bahwa mereka pacaran walau itu masih termasuk rahasia.
Shikadai mendelik ke arah Inojin yang mendorongnya maju ke depan. Dia segera merubah ekspresinya seperti biasa saat menatap Himawari. "Hn, terima kasih. Dan … selamat ulang tahun," ucapnya dengan sedikit gugup juga takut. Dalam hati Shikadai mengutuk dua pengawal Hinata yang memandangnya seolah ingin memenggalnya hidup-hidup sehingga dia bahkan tidak berani menatap pacarnya itu.
Himawari yang merasa aneh dengan sikap Shikadai hanya mengernyit, tak lama dia menoleh ke arah Ayah dan Kakaknya yang—langsung mengalihkan tatapannya ke yang lain—berpura-pura tidak ikut campur. Hima menyipitkan matanya beberapa saat sebelum kembali menatap Shikadai.
"Ini untukmu."
Shikadai sudah akan meraih piring kue itu jika saja seseorang tidak menarik kerah bajunya dari belakang. "Ck, apa-apaan sih?" Kata-kata kesal itu terhenti saat Shikadai menemukan pengawal lainnya yang memandanganya sinis. Membuat Naruto dan Boruto menahan senyum kemenangan mereka.
"Ryouji-niisan?" ucap Himawari sedikit kaget dengan kedatangan kakak sepupunya itu yang secara tiba-tiba.
Ryouji menatapnya dan tersenyum manis, dengan sengaja mendorong Shikadai ke belakangnya agar menjauh. "Maaf aku datang terlambat, selamat ulang tahun adikku." Hyuuga Ryouji memberikan kado kepada Hima setelah mencium kening adik sepupunya sekilas.
"Terima kasih, Ryouji-nii."
"Sama-sama. Ah, apakah kue ini untukku?" Hima sudah akan menjawab 'bukan' saat Ryouji langsung mengambilnya begitu saja. "Terima kasih, aku pasti memakannya sampai habis," kata Ryouji santai membuat Hima tidak bisa memprotes.
Kakak sepupunya dari pihak Ibu yang satu itu adalah kakaknya yang paling mengerti dia setelah Ibunya. Bahkan Ryouji masih lebih pengertian dibanding Boruto, dan karena mereka jarang bertemu, Himawari jadi tidak enak jika harus membuat Ryouji kecewa.
Jadi Hima hanya diam dan tersenyum miris saat melihat wajah Shikadai yang menekuk di belakang Ryouji. Sementara Ayah dan Kakaknya sebisa mungkin menahan tawa mereka karena hal itu.
"Himawari-neechaaannn."
"Eh?"
Semua orang kini melihat dua bocah laki-laki 12 tahun yang datang setengah berlari menghampirinya dengan kado di tangan mereka.
"Tsuki-kun, Zouki-kun, kalian datang?"
"Tentu saja, ini kado untuk Nee-chan." Inuzuka Zouki menyodorkan kado yang dia bawa dengan tersenyum lebar.
"Yang ini kado dariku, Nee-chan." Sabaku Tsuki menyodorkan kado kepada Hima dengan menggeser kado Zouki. Dua bocah 12 tahun yang berteman sekaligus menjadi rival di sekolahnya itu saling melempar delikan kesal dan berebut memberikan kado lebih dulu kepada Hima.
Himawari menghela napas dan mengambil kedua kado itu secara bersamaan, membuat keduanya terdiam. "Terima kasih atas kadonya. Nee-chan senang sekali. Akan lebih senang kalau kalian tidak bertengkar."
"Aku tidak mengajaknya bertengkar." Tsuki menyela cepat dengan ekspresi datarnya yang manis.
"Eeehhh, kau yang memulainya. Kau menggeser kadoku," jawab Zouki tidak terima dengan ekspresi cemberutnya yang lucu.
Helaan napas kembali terdengar saat dua bocah itu kembali bertengkar.
"Nee-chaaannn." Kembali lagi sebuah suara mengambil alih perhatian orang-orang di acara itu. Himawari dan yang lain tersenyum melihat seorang gadis 7 tahun yang berlari riang dengan tersenyum lebar. Di belakang gadis kecil itu, Menma dan Hanabi berjalan santai sambil menggeleng melihat kelakuan putri kecil mereka.
"Hanaki-chan juga datang, ya."
Hanaki mengangguk antusias dan memeluk Himawari dengan erat. "Nee-chan, omedetou."
Himawari mengusap pelan surai hitam Hanaki sambil tersenyum. "Terima kasih, Hanaki-chan. Kau cantik sekali dengan gaun itu."
"Ini Ayah yang membelikannya. Apakah bagus?"
Himawari mengangguk. "Gaun itu benar-benar cocok untukmu."
"Tentu saja, 'kan? Ayahnya adalah orang yang paling memanjakan Hanaki dengan baik." Hanabi berkomentar sembari menyindir sang suami yang terlalu memanjakan putri mereka. Membuat Menma hanya meliriknya tanpa komentar. "Ah, selamat ulang tahun, ya, Hima-chan."
"Terima kasih, Bibi, Paman."
Menma memberikan sebuah bingkisan untuk keponakannya tersayang itu. "Ini kado dari Paman, Bibi Hanabi dan Hanaki. Semoga kau suka." Himawari mengambil bingkisan itu dengan senang lalu Menma mencium keningnya hangat. "Selamat ulang tahun, keponakan Paman yang cantik."
"Terima kasih, Paman."
Di tengah senyuman itu, siapa yang akan mengira jika dua bocah yang tadi selalu bertengkar kini terdiam menatap Hanaki yang masih tersenyum cerah. Wajah kedua bocah itu memerah saat Hanaki tanpa sengaja menatap mereka dan tersenyum manis. Apalagi ekspresi lucu Hanaki saat memeperhatikan kue ulang tahun Himawari yang dihias dengan patung putri cantik yang sedang menari.
Tsuki dan Zouki tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa mengalihkan tatapan mereka dan merasa senang hanya karena melihat Hanaki tersenyum riang.
(Keturunan Bapaknya, sama-sama suka dengan yang lebih muda )
.
Setelah itu, teman-teman Himawari tampak mulai menikmati makanan yang ada. Sementara para orang tua duduk di satu sisi ruangan. Terlihat Himawari yang sedang mengobrol dengan Shikadai sementara Boruto dan Ryouji mengawasi mereka dari jauh. Membuat Shikadai jengah.
Shikadai melirik Sarada dan kemudian mendekati gadis Uchiha itu sebelum membisikkan sesuatu. Wajah Sarada terlihat sangat cerah setelahnya dan dia segera berjalan menuju taman samping kediaman Uzumaki. Hal yang tertangkap oleh Boruto, dengan rasa penasaran, dia mengikuti langkah Sarada dan meninggalkan Ryouji sendirian mengawasi Himawari.
Tak sampai di sana, Shikadai mengalihkan perhatian Ryouji sejenak lalu dengan cepat menarik Hima ke tempat aman untuk mereka. Sebenarnya tidak masalah di mana saja, tapi Shikadai hanya tidak tahan dengan pandangan mengintimidasi dari dua ksatria berkuda putih pacarnya itu. Dia kan hanya ingin mengobrol berdua dengan sang kekasih tanpa rasa risih yang menyebalkan.
Jangan salahkan Shikadai kalau Ryouji jadi kesal karena kehilangan mereka.
Di sisi lain ada Chocho yang sedang asik makan dan di sampingnya ada Inojin yang menghela napas melihatnya.
Ada juga Tsuki dan Zouki yang mulai kembali bertengkar karena berebut ingin berkenalan dan bermain dengan Hanaki.
.
.
Kushina muncul dari pintu depan dengan tiga orang lainnya. "Hai semuanya, maaf karena aku terlambat." Nada bicaranya ceria seperti biasa. Dia mengalihkan pandangannya ke Himawari dan berjalan menghampiri. "Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf Nenek datangnya terlambat."
"Tidak apa, Nek. Terima kasih karena sudah datang. Di mana Kakek Minato?"
"Oh, dia sedang ada urusan dengan teman-temannya, tapi dia berjanji akan datang sore nanti."
Himawari mengangguk. Dan melirik orang-orang yang datang bersama Kushina. Matanya sedikit melebar melihat salah satu orang di sana, bukan hanya dia, tapi teman-teman sekelasnya juga mengeluarkan ekspresi yang sama.
Naruto dan Hinata menghampiri tiga orang di sana. "Kalian?" tanya Naruto dengan bingung.
"Aku Aburame Mirai dan ini suamiku, Aburame Shino. Kami tetangga sebelah rumah yang baru pindah kemarin. Hinata-san mengundang kami dalam acara ulang tahun ini, jadi kami datang sekaligus menemani putri kami."
"Maaf, kami datang terlambat."
"Ah, i-iya." Naruto sedikit merinding dengan nada dingin yang keluar dari Shino, tapi dia tidak ambil pusing. "Hm, duduklah."
"Terima kasih sudah datang, Mirai-chan."
"Kami juga senang karena kau mengundang, Hinata-san. Di mana putrimu?"
"Itu, dia sedang bersama teman-temannya di sana." Hinata menunjuk segerombolan yang terdapat putrinya.
Saat Shino menoleh, semua teman sekelas Himawari hanya menunduk hormat dan tersenyum kaku. Bagaimana lagi, Shino terkenal dengan sebutan 'guru es yang aneh' di sekolah. Selain sifatnya yang dingin, Shino juga tidak pernah bercanda. Membuat sebagian murid di sekolah merasa takut.
"Yuki-chan, ayo berikan kadonya kepada Hima-neechan di sana." Mirai berkata lembut kepada putrinya dan dituruti oleh gadis Aburame itu.
Dia berjalan mendekat ke beberapa orang di sana, tanpa menyadari Inojin yang menatapnya terpaku. 'Dia gadis yang kutemui kemarin,' batin Inojin tersenyum.
"Anoo, ini kado dariku. Selamat ulang tahun, Nee-chan."
Himawari tersenyum dan meraih kadonya, "Terima kasih. Siapa namamu?"
"Aku Yuki."
"Hm, umurmu?"
"12 tahun."
"Wah, kau manis sekali. Terima kasih kadonya ya, terima kasih juga sudah datang. Panggil saja aku Hima-nee kalau kau mau. Ah, ini teman-temanku. Sarada, Chocho, Shikadai, dan Inojin."
"Salam kenal." Yuki tersenyum senang, ternyata dia punya tetangga yang baik. Saat matanya menatap Inojin, dia mengerutkan keningnya. "Nii-chan, yang kemarin?"
Yang lain menatap Inojin heran karena Yuki bertanya begitu padanya. Inojin tersenyum dan melangkah mendekat. Dia mengulurkan tangannya yang disambut ragu oleh Yuki. "Iya, kemarin kita bertemu. Panggil saja aku Inojin dan aku akan memanggilmu Yuki-chan. Bagaimana?"
Wajah Yuki tiba-tiba merona dan dia mengangguk pelan. Membuat Inojin tersenyum, tapi tak lama senyumnya memudar saat dia merasa bulu kuduknya berdiri. Dia menoleh dan menelan ludah saat merasakan tatapan tajam Shino yang mengarah padanya dari balik kacamata.
Uh-oh, sepertinya Inojin mengerti perasaan Shikadai sekarang.
..
*Pergantian status akan terus terjadi pada setiap generasi nantinya. Entah itu secara kilat ataupun melalui proses yang panjang. Yang jelas, pergantian status untuk lebih mengenal dan dekat akan lebih memperindah hidup dan silahturahmi.*
.TAMAT.
Dan, inilah akhirnya.
Di atas, aku sengaja memasukkan sedikit cerita sedih tentang masa lalu Himawari. Yah, bagaimanapun tidak ada kehidupan yang berjalan sempurna dan tanpa masalah yang serius. Karena kehidupan NaruHina udah terlalu mulus. Jadi aku buat sedikit masalah keluarga yang berasal dari rasa ketakutan dan bersalah Naruto terhadap Hima, hingga membuat Hima jadi sulit berteman sebelumnya. Tapi karena masalah di sini tetap aku buat santai, jadi langsung aku selesaikan dengan santai pula.
Bagaimana menurut kalian? Apa unsur kekeluargaan dan pengertian antara mereka terasa?
Untuk anak-anak mereka, udah pada tahukan itu anak siapa aja? Karena Boruto sudah lahir sebelum yang lain menikah, jadi aku buat Himawari-lah yang seumuran dengan yang lain (15 tahun). Anak Gaara dan Kiba yang masih 12 tahun, karena Gaara dan Kiba masih menunggu Tamaki dan Matsuri yang butuh waktu lebih lama dalam menyelesaikan sekolah mereka.
Sedangkan Shino, anaknya juga 12 tahun. Tapi mereka menikah tiga tahun lebih cepat dari Gaara dan Kiba. Anggaplah kalau Shino lebih tua dari mereka sehingga tidak sempat menunggu Mirai sampai benar-benar selesai pendidikkannya.
Anak MenmaHanabi berusia 7 tahun karena mereka memang menikah tujuh tahun setelah Boruto lahir dan punya anak di tahun ketiga pernikahan mereka.
Ryouji sendiri umurnya cuma setahun di bawah Boruto karena Neji dan Tenten menikah tak lama setelah kelahiran Boruto.
Di sini ada beberapa pairing baru. Yaitu ShikadaiHima, BorutoSarada, InojinYuki, dan kalau untuk Tsuki dan Zouki, aku buat mereka terlibat cinta monyet segitiga dengan Hanaki.. hahahaha…
Okelah, aku ucapin terima kasih lagi untuk semua readers sekalian. Sampai jumpa di fic-ku yang lain.
Salam, Rameen.
.
.
Bonus extra
Boruto mengernyit melihat Sarada yang berdiri tersenyum menatap bunga mawar putih yang dia tanam sebulan lalu. Dia menghampiri Sarada masih dengan rasa penasaran.
"Sarada?"
Gadis Uchiha itu menoleh dan tersenyum. "Boruto-nii."
"Kenapa kau di sini? Dan kenapa kau tersenyum melihat bunga itu?"
Sarada menggeleng. "Aku hanya suka dengan mawar putih. Tadi Shikadai bilang kalau di taman ini ada tanaman mawar putih, jadi aku langsung ke sini."
"Oh." Boruto merepon singkat dengan senyum tipis di bibirnya. Sesungguhnya, dia memang menanam bunga itu karena Sarada menyukai bunga itu. Dia membeli bibit mawar itu lalu menanamnya dengan hati-hati, membuat dia harus menerima tatapan menggoda dan jahil dari Himawari setiap hari. Boruto hanya bisa berharap jika Himawari tidak memberitahu pada Sarada jika bunga itu sengaja dia tanam untuk gadis Uchiha itu.
Walau sebenarnya harapan Boruto tidak terkabul. Nyatanya yang membuat Sarada semakin terlihat sangat senang dengan tanaman itu adalah fakta yang dikatakan Shikadai padanya tadi. Shikadai bilang kalau Boruto sengaja menanam bunga itu untuknya, makanya dia langsung berlari ke taman itu.
Selanjutnya mereka hanya terdiam dan sesekali mencuri pandang lalu tersenyum.
Ahh, kelopak mawar yang baru tumbuh pun serasa ikut tersenyum.
.
.
Fin
