"So into you"

Original cerita from "Ryujihan"

Genre : Romcom

Pair : NarutoxKarin

Chapter 1 : prologue

Sma Konoha, sebuah sekolah elite menengah ke atas yang berdiri megah di pusat kota, adalah tempat di mana para pewaris nama-nama besar berkumpul. Anak-anak keluarga terkaya, terpandang, dan paling berpengaruh di negeri ini mendominasi ruang-ruang kelasnya. Di sini, reputasi tidak dibangun oleh kecerdasan atau kerja keras, tetapi oleh silsilah dan kekayaan yang diwarisi.

Di antara mereka, ada seorang pemuda bernama Uzumaki Naruto. Dengan seragam yang terlihat selalu lusuh, sepatu yang mulai menua, dan sikap ceria yang tampak dipaksakan, dia menonjol di tempat yang dipenuhi kesempurnaan. Tidak banyak yang tahu bahwa nama Uzumaki hanyalah separuh dari identitas aslinya. Di balik senyum konyol itu, dia adalah pewaris keluarga Namikaze, keluarga terkaya nomor satu di negeri ini.

Namun, Naruto memilih hidup dengan nama Uzumaki, marga dari ibunya, Uzumaki Kushina. Alasan di balik keputusannya hanya dia yang tahu—sebuah alasan yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Yang pasti, hidup dengan menyembunyikan identitas sejatinya tidaklah mudah, terutama di tempat seperti Sma Konoha.

Setiap hari, Naruto menghadapi ejekan dan hinaan, terutama dari kelompok yang dipimpin oleh Uchiha Sasuke, anak dari keluarga Uchiha yang berada di peringkat kedua dalam daftar keluarga terkaya. Sasuke, dengan aura dingin dan kharismanya, memiliki sekelompok pengikut yang setia, termasuk Haruno Sakura dan Yamanaka Ino dua gadis yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memuja Sasuke. Bersama mereka, Sasuke kerap merendahkan Naruto, menganggapnya tidak lebih dari pecundang yang tak pantas berada di sekolah mereka.

"Uzumaki, apa kau yakin tidak salah masuk sekolah?" ejek Sasuke suatu hari, diiringi tawa kelompoknya. Sakura dan Ino tersenyum puas, sementara Naruto hanya bisa menggenggam erat buku di tangannya, menahan diri untuk tidak membalas.

Namun, tidak semua kenangan di Konoha High pahit bagi Naruto. Ada satu sosok yang dulu pernah membuatnya merasa dunia ini tidak sekejam itu Hyuuga Hinata.

Hinata, putri keluarga Hyuuga yang terpandang, pernah menjadi cahaya kecil di tengah kegelapan hidup Naruto. Di awal masuk SMA, ketika status sosial belum begitu berperan, mereka berdua menjalin hubungan yang sederhana namun indah. Hinata adalah satu-satunya orang yang melihat Naruto apa adanya, bukan dari pakaiannya yang sederhana atau reputasi keluarganya yang sengaja disembunyikan.

"Aku suka senyummu, Naruto," ucap Hinata dengan malu-malu saat mereka duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah. "Kau selalu membuatku merasa... aku bisa menjadi diriku sendiri."

Naruto tidak pernah melupakan kata-kata itu. Dia mencintai Hinata bukan karena latar belakangnya, tetapi karena ketulusan yang ia rasakan setiap kali mereka bersama.

Namun, semua berubah ketika Sakura dan Ino mulai mendominasi grup sosial sekolah. Mereka mendekati Hinata, mengingatkan betapa pentingnya menjaga reputasi, dan bagaimana bergaul dengan seseorang seperti Naruto hanya akan merusak statusnya. Hinata, yang lemah terhadap tekanan sosial, akhirnya menyerah.

"Aku... aku tidak bisa lagi, Naruto," ujar Hinata suatu hari, air mata mengalir di pipinya. Mereka berdiri di sudut taman sekolah, tempat mereka biasa bertemu. "Sakura benar... Jika aku terus bersamamu, aku akan kehilangan semuanya. Aku harus memikirkan keluargaku... masa depanku."

Naruto menatapnya dengan mata lebar, tidak percaya pada apa yang ia dengar. "Hinata... Kau serius? Aku pikir kita..."

"Kumohon, jangan membuat ini lebih sulit," potong Hinata, menggigit bibirnya. "Aku minta maaf, Naruto. Tapi aku tidak bisa."

Sejak hari itu, Hinata mulai menjauh, bergabung dengan kelompok Sakura dan Ino. Tidak lama kemudian, dia mulai berkencan dengan Inuzuka Kiba, seorang pewaris keluarga kaya lainnya, demi menjaga citranya.

Meski Naruto selalu tersenyum di hadapan orang lain, di dalam hatinya dia merasa hancur. Bukan karena Hinata meninggalkannya, tetapi karena dia tahu Hinata tidak melakukannya karena keinginannya sendiri.

"Hidup di sekolah ini seperti hidup di dunia yang palsu," pikir Naruto, menatap Hinata dari kejauhan saat dia tertawa bersama Kiba. "Tapi, tidak apa-apa. Aku tidak butuh mereka. Aku akan bertahan... dan suatu hari mereka semua akan tahu siapa aku sebenarnya."

Satu-satunya hal yang belum disadari oleh semua orang, termasuk Hinata, adalah bahwa Naruto, dengan identitasnya yang tersembunyi, memegang rahasia yang bisa mengguncang seluruh tatanan yang mereka banggakan. Dan ketika saatnya tiba, dia tidak akan lagi berdiri di bawah bayangan.

Hari itu, SMA Elite Konoha kedatangan murid baru. Seorang gadis dengan rambut merah terang, kacamata, dan aura yang sulit diabaikan masuk ke kelas Naruto. Guru memperkenalkannya dengan senyuman.

"Perkenalkan, ini Karin Uzumaki. Dia berasal dari luar desa dan akan bergabung dengan kelas kalian mulai hari ini."

Karin menatap seisi kelas dengan tatapan percaya diri. Dia berbicara dengan nada tegas, "Aku Uzumaki Karin. Aku berharap tidak ada yang mempermalukan nama besar klan Uzumaki di sini."

Semua mata beralih ke Naruto, termasuk mata Karin. Saat Karin menyadari Naruto memakai nama klan yang sama, ekspresinya berubah dingin. Sepanjang pelajaran, dia terus mencuri pandang ke arah Naruto dengan tatapan tak suka.

Ketika bel istirahat berbunyi, Karin langsung mendekati Naruto di kantin, tanpa ragu di depan siswa lain.

"Hei, kau!" serunya tajam.

Naruto yang sedang duduk dengan santai, menoleh sambil menggigit roti kare-nya. "Hmm? Kau memanggilku?"

"Apa kau pikir kau pantas memakai nama Uzumaki? Kau bahkan tidak terlihat seperti bagian dari klan kami!" ujar Karin, membuat siswa lain terdiam.

Naruto menghela napas, sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini. "Aku tidak tahu kenapa kau marah, tapi ini memang nama keluargaku. Aku tidak memilihnya."

Karin mendengus. "Dasar lemah! Kau mempermalukan nama klan Uzumaki di sekolah ini. Kau bahkan tidak terlihat seperti orang yang tahu arti nama itu!"

Naruto tidak membalas. Sebaliknya, dia mengambil rotinya dan berjalan pergi, meninggalkan Karin yang kesal. Namun, bagi Karin, ini hanya awal dari apa yang dia pikirkan sebagai "pelajaran" untuk Naruto.

Hari-hari berlalu, dan Karin terus menantang Naruto di berbagai kesempatan. Dari komentar sarkastik hingga ikut bergabung dalam kelompok siswa yang mengejeknya, Karin seolah menikmati perannya. Namun, perlahan-lahan dia mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Suatu hari, Karin menemukan Naruto sedang membantu petugas kebersihan membersihkan lapangan. Meski siswa lain memandang rendah pekerjaan itu, Naruto melakukannya dengan senyuman.

"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Karin tiba-tiba.

Naruto menoleh, sedikit terkejut Karin berbicara tanpa nada mengejek. "Karena aku ingin membantu. Lagipula, tidak ada yang rugi."

Karin tidak mengatakan apa-apa, tetapi dalam hatinya dia mulai merasa bahwa Naruto tidak seperti yang dia bayangkan.

Puncaknya terjadi ketika Karin terjebak dalam insiden kecil di laboratorium. Saat melakukan eksperimen, sebuah tabung kimia pecah dan melukai tangannya. Karena panik, dia tidak tahu harus berbuat apa. Naruto yang kebetulan berada di dekatnya langsung membantunya tanpa ragu.

"Diam di sini. Aku akan membawamu ke ruang medis," katanya, mengambil tangan Karin dengan hati-hati.

Karin mencoba menolak, tetapi rasa sakit membuatnya tak berdaya. Selama perjalanan ke ruang medis, dia menatap Naruto yang tetap tenang meski tangannya kotor oleh darah. Ada perasaan familiar yang muncul, seolah ini bukan pertama kalinya Naruto melindunginya.

Setelah kejadian itu, Karin mulai berubah. Dia berhenti membully Naruto dan bahkan sesekali berbicara dengannya. Hubungan mereka perlahan membaik, meski Karin masih mempertahankan sikap keras kepalanya.

Hingga suatu hari, saat keduanya sedang berbicara di perpustakaan, sebuah fakta besar terungkap. Naruto menunjukkan foto lama keluarganya kepada Karin, termasuk seorang wanita berambut merah.

"Itu ibuku, Kushina Uzumaki," ujar Naruto.

Karin membeku. Wanita di foto itu adalah kakak ibunya.

"Jadi… kita…" Karin tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Naruto mengangguk dengan ekspresi bingung. "Ya, kita sepupu. Tapi… kenapa aku tidak pernah tahu?"

Karin tersenyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Aku juga tidak tahu. Tapi, mungkin ada alasan kenapa kita baru bertemu sekarang.

Setelah kejadian di perpustakaan, Karin duduk sendiri di bawah pohon besar di halaman sekolah. Angin sepoi-sepoi meniup lembut rambut merahnya, tetapi pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan.

Dia memandangi langit yang cerah, mencoba mencerna kenyataan bahwa Naruto—orang yang selama ini dia anggap mencemarkan nama klan Uzumaki ternyata adalah sepupunya sendiri. Lebih dari itu, dia merasa bingung dengan perasaannya yang semakin rumit terhadap Naruto.

"Kenapa aku harus merasa seperti ini?" gumamnya pelan, menggenggam kalung kecil berbentuk spiral yang selalu dia kenakan, simbol kebanggaannya sebagai Uzumaki.

Langkah kaki yang mendekat membuatnya mendongak. Naruto berdiri di hadapannya dengan senyum khasnya, membawa dua kaleng minuman dingin.

"Ini untukmu," katanya santai, menyerahkan satu kaleng. "Kau terlihat seperti sedang berpikir keras. Jangan sampai terlalu serius, Karin."

Karin mengambil minuman itu tanpa banyak bicara. Tatapannya tertuju pada Naruto yang duduk di sebelahnya, menikmati minumannya dengan tenang.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu," kata Naruto tiba-tiba, memecah keheningan. "Tapi aku senang bisa tahu kalau kita adalah keluarga. Mungkin, ini awal yang baru untuk kita."

Karin menoleh, melihat senyum tulus Naruto. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, perasaan yang sulit dia jelaskan. Tapi dia menyembunyikannya dengan nada sedikit sarkastik.

"Hah, jangan salah paham. Aku belum benar-benar menerimamu sebagai bagian dari klan Uzumaki. Kau harus membuktikan dirimu dulu."

Naruto tertawa kecil. "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi jangan berharap aku menyerah begitu saja."

Mereka duduk dalam keheningan lagi, tetapi kali ini terasa lebih nyaman. Bagi Karin, ini adalah awal yang baru, bukan hanya untuk hubungannya dengan Naruto, tetapi juga untuk dirinya sendiri. Dia tidak tahu ke mana perjalanan ini akan membawa mereka, tetapi dia merasa ada sesuatu yang besar sedang menunggu di depan.

Di kejauhan, lonceng sekolah berbunyi, menandakan akhir dari hari yang panjang. Naruto dan Karin berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah, dengan dunia yang mulai terasa sedikit lebih hangat daripada sebelumnya.

To be countinue...

Yo apa kabar semuanya? Agak sepi ya dunia fanfict naruto sekarang haha, aku memutuskan kembali kesini setelah kangen banget dengan dunia per-fanfiction ini.

Banyak author yang hiatus padahal aku masih penasaran lanjutan fanfic nya huhu, aku tidak tahu sekarang mereka ada dimana, apakah disini ada yang tahu perkumpulan grup ffn sekarang dimana? Kalau ada beri tahu ya.

Untuk cerita ini sendiri aku terinspirasi dari beberapa karya dari para sepuh, seperti Ghost dari Karasumaru.666 dan My stupid boyfriend dari Icha-chan Ren, dan lebih banyak lagi.

Aku ingin membuat drama romcom dengan 2 harem mungkin, tapi masih mempertimbangkan antara Shion atau Hinata.

Terima kasih sudah membaca, adios.