Mohon maklum jika menemukan mistyping, bab ini dipublikasikan tanpa disunting terlebih dahulu.

24 Desember 2013

Sudah lewat tengah malam ketika Orochimaru kedatangan tamu yang cukup brutal menekan bel. Dia lumayan gugup, berpikir mungkin perampok, sebab dia yakin tak ada orang yang seharusnya datang bertamu hari ini atau besok. Dia melihat sebentar ke monitor cctv untuk memastikan apakah dia mengenal sang tamu.

Mereka adalah keluarga Hyuuga yang tinggal di komplek sebelah, Hiashi, Hikari dan Neji. Orochimaru mau tak mau semakin gugup, dia bukan hanya kenal, tapi memiliki histori yang sangat panjang dengan keluarga itu, dan sama sekali tidak ingin memutus ikatan begitu saja. Dia sudah menebak hari seperti ini akan datang, tapi tak menyangka akan secepat ini. Dia berlari ke pintu saat bel berbunyi diiringi gedoran membabi-buta. "Maaf, Tuan," dia berkata gugup setelah pintu terbuka lebar. "Silakan, ma—"

"Katakan yang perlu kau katakan, Orochimaru."

...

Chapter 14

Our December ©2016 Rosetta Halim

Naruto ©1997 Masashi Kishimoto

Based on Aelona Betsy's story January was My December (2013)

...

Pagi itu Sasuke merasa sedang berada di rumah. Aroma masakan yang khas dan bunyi-bunyian yang sering dia dengar saat tinggal di Konoha, membangunkannya dari tidur panjang yang begitu nyaman. Padahal dia tidur di sofa ruang tamu orang yang cukup asing. Entahlah, kenapa rasanya bisa begitu nyaman. Seluruh tubuhnya bahkan sangat pegal, butuh peregangan, tapi rasa puas itu tidak bisa disangkal.

Sambil menguap malas, Sasuke menyalakan ponselnya, belum sempat dia menyesuaikan lokasi dalam pengaturan waktu, Itachi menelepon. Dia mengangkatnya dan menjawab dengan malas, "Hn?" Itachi di seberang sana menanggapi dengan omelan yang membuat suasana hatinya berubah seketika. Sasuke tak begitu mendengarkan sampai Itachi mengatakan, "Kaa-san sudah tahu." Dia pun sontak terduduk di sofa itu.

Sasuke sedikit bingung. Tahu apa? Kalau selama ini setiap tahun dia selalu hampir pulang? "Kau yang bocor atau siapa?" Sasuke bertanya, meskipun sama sekali tak memahami konteks.

"Sasuke, sialan, Kaa-san tahu apa yang kau lakukan sebelum kau melarikan diri ke London, tak penting tahu dari mana. Dia menghubungimu sejak kemarin malam agar dia bisa membujukmu pulang. Kaa-san sangat cemas, dia menelepon pengelola apartemen untuk menanyakan keberadaanmu, tapi kau tidak ada di sana, dia berpikir mungkin kau bu—sial. Dia sedang bersiap pergi mencarimu ke London. Pulang ke rumah se—"

"Tunggu," Sasuke memotong Itachi, "Kaa-san tahu dan dia masih ingin melihat wajahku, bahkan mencemaskanku?" Tanpa menunggu jawaban Itachi, dia langsung mematikan sambungan dan memeriksa daftar panggilan yang tidak tersambung. Ibunya sungguh telah berulang kali mencoba menghubungi, begitupun ayah dan kakek. Sasuke lalu beralih ke pesan singkat. Di sana ada pesan dari ibunya, yang terasa begitu putus asa.

Sasuke, Sayang, pulanglah atau sekarang ada di mana, biar kaa-san jemput? Ah, kapan terakhir kali kaa-san menjemputmu? Saat SMP?

"Hei, orang asing, bersihkan dirimu dan segera menyusul ke meja makan," Hanabi berkata dengan ketus saat dia masih memikirkan apakah dia mau pulang sendiri atau minta dijemput. Apakah tidak berlebihan kalau dia betulan minta dijemput? "Oi, Bajingan, kau ini sedari tadi malam sangat menyusahkan. Apa kau tahu aku dimarahi karena tak mempersilakanmu tidur di kamar tamu? Saat kubilang akan membangunkanmu, aku dimarahi lagi, dan aku akan dimarahi lagi dan lagi jika kau tidak segera diberi sarapan. Tolong jangan menyusahkanku lebih dari ini."

"Neji di mana?"

"Kau ini punya otak tidah, sih?"

...

Dua keluarga dengan satu orang asing di meja makan rumah keluarga Hyuuga, menikmati sarapan—merangkap makan siang—dalam diam. Sasuke tak berhenti memperhatikan Hyuuga Hikari, yang duduk tepat di seberangnya. Hikari dan Hinata seperti pinang dibelah dua, hampir tidak berbeda, kecuali jejak usia yang tinggal di wajah Hikari menampilkan sedikit perbedaan. Sepertinya mereka memang ibu dan anak. Tetapi walau begitu, Sasuke hanya akan percaya jika mereka bisa membuktikan kalau Hinata memang putri keluarga itu. Keberadaan Orochimaru tidak cukup, foto-foto Hiroki bersama Hinata di panti asuhan pun tak membuktikan apa-apa. Mereka harus memiliki bukti yang tidak dapat dibantah siapa pun. Ya, bukti yang bahkan pengadilan pun tak bisa menolaknya.

Tadinya Sasuke hendak meninggalkan rumah itu, ingin segera menemui ibunya di Konoha. Tetapi, Hikari membujuknya agar tetap tinggal, sebab di musim liburan begini tiket pesawat sudah punya pemilik semua. Sasuke sendiri tidak sekaya itu sampai memiliki uang dingin yang bisa dia gunakan untuk menyewa jet pribadi. Sekalipun ada uang, kemungkinan yang punya jet pribadi juga enggan menyewakan, karena mereka pun butuh liburan. Ketika dia menceritakan situasinya pada Itachi, Mikoto tak sabaran, dan langsung saja mengajak Fugaku terbang ke Cina dengan jet pribadi keluarga Uchiha untuk menjemput Sasuke.

Hikari sedikit kecewa. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Sasuke. Semalam suntuk dia membaca jurnal yang dibuat Orochimaru tentang perkembangan Hinata dari lahir sampai berusia empat tahun. Namun, setelah usia empat tahun, jurnal Orchimaru jadi semakin sedikit, itu akibat keterbatasan akses. Tidak ada yang lebih paham tentang itu selain keluarga Uchiha, selaku keluarga adopsi Hinata, jadi dia benar-benar punya banyak pertanyaan.

Begitu sarapan selesai, sambil menunggu orangtuanya tiba di sana, Sasuke menjawab pertanyaan-pertanyaan Hikari. Awalnya itu pertanyaan tentang dirinya dan keluarga hingga akhirnya pertanyaan itu selalu tentang Hinata. Tak hanya Hikari, Neji, Hiashi, Hanabi dan keluarga Uzumaki pun ikut bertanya. Nagato sangat menyayangkan ketidaktahuannya, walaupun sang keponakan sering berkunjung dan selalu bercerita tentang anak adopsi Uchiha. "Padahal dunia terasa begitu sempit, Hinata selalu ada di dekat kita, tapi tak pernah ada yang menyadari keberadaannya. Sungguh ironis."

Sasuke merasa ada yang janggal dengan cara keluarga itu mengobrol. Meskipun mereka terkesan ramah dan terbuka, tapi dia yakin pion-pion mereka sedang bergerak mencari cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Perilaku mereka sedikit banyak mirip dengan perilaku Uchiha.

"Jadi, apa yang akan kalian lakukan kalau Hinata memang benar anak kalian?" Ini pertanyaan pertama yang diajukan Sasuke sejak tiba di kediaman Hyuuga, karena dia memang tidak tertarik dengan keluarga itu, kecuali hal yang berkaitan dengan Hinata. "Tolong jangan berpikir tiba-tiba muncul di depannya dan mengatakan apa pun yang kalian mau. Dia tak cukup bijaksana untuk memahami kerumitan hubungan manusia."

Hyuuga paham, itulah kenapa mereka menahan diri. Kalau saja Hinata itu anak normal, sejak kemarin malam mereka sudah pergi menghampiri Hinata. Ah, tidak, kalau Hinata anak normal, situasi ini barang tentu tak pernah terjadi. Meski begitu, bukan berarti mereka diam saja. Hiashi selaku kepala keluarga sudah memutuskan langkah pertama yang akan mereka ambil sesuai saran pengacara dan orang-orang yang telah bekerja semalam suntuk untuk menyelidiki situasi di Konoha.

"Kami yakin Hinata dan keluargamu telah menjalin hubungan yang sangat dalam, sehingga tidak etis bila kami tiba-tiba merusaknya," Hiashi menyampaikan dengan tenang. "Kau tenang saja, apa pun yang akan kami lakukan ke depannya, itu tidak akan menyakiti siapa pun, kecuali bajingan Fuuma yang masih tersisa."

Oh, iya, Sasuke hampir melupakan betapa mengerikannya Hyuuga itu, jadi untuk berjaga-jaga, Sasuke menambahkan, "Agar ke depannya tidak berbelit-belit, kuberi tahu sekarang, aku mecintai Hinata, seperti kau mencintai istrimu. Kau tidak akan membunuhku karena itu, 'kan?"

Mereka semua tertawa lepas setelah mendengar pernyataan dan pertanyaan itu. "Tentu, Sasuke," kali ini Neji menanggapi, "Aku sudah memberi tahu hal itu kepada semua orang di sini. Kalau kami punya masalah dengan itu sejak awal kau sudah menjadi mayat." Neji kemudian meneruskan tawanya.

"Uchiha, kau berada di sini, di tengah orang-orang yang bisa membunuhmu kapan pun, sejak awal kau mengikuti Neji ke sini karena kau cemas pada apa yang akan kami lakukan tentang Hinata. Entah kau sadar atau tidak, Hinata menjadi dasar dari setiap tindakanmu. Setidaknya itulah yang kupahami. Bagaimana bisa aku membunuhmu?"

...

Fugaku dan Mikoto tiba pada sore hari di kediaman kenalan anak mereka, yang katanya mereka dan banyak orang di Konoha juga mengenal keluarga itu. Jujur saja, rekan bisnis klan Uchiha berasal dari berbagai negara, tapi tidak satu pun di antara mereka yang dikenal pula oleh banyak orang di Konoha. Hanya ada satu orang Konoha yang sudah bertahun-tahun merantau ke Cina, dan bahkan menikahi wanita setempat, pamannya Naruto. Dugaan mereka dibenarkan oleh kemunculan satu-satunya keturunan Uzumaki yang selalu terlihat tenang.

"Uchih-san, selamat datang," Nagato menyambut mereka dengan hangat, kemudian mengarahkan mereka ke ruang pertemuan. Tempat tinggal pria itu merupakan perpaduan rumah tradisional Cina dan Jepang, namun di dalamnya diisi oleh furnitur bergaya modern. Nagato mempersilakan pasangan suami-istri itu duduk di sofa minimalis berwarna coklat tua, kemudian menawari mereka pilihan minuman yang tersedia.

"Kami tidak lama," kata Fugaku langsung menolak. "Ada yang perlu kami bicarakan. Adik—tidak, seseorang sedang menunggu Sasuke. Jadi, tolong panggilkan saja Sasuke." Nagato segera memenuhi keinginan mereka.

Tak sampai semenit, Sasuke muncul dengan barang bawaannya, bersama orang-orang yang selama ini dianggap sudah mati. Baik Fugaku dan Mikoto, keduanya tidak mempertanyakan hal itu. Mikoto langsung memeluk Sasuke dan mengatakan permohonan maaf, karena saat ini itulah yang paling penting.

"Sayang, maafkan ibumu yang membuatmu merasa kau harus berbohong, membuatmu merasa kau menyakitiku bila jujur. Seharusnya tidak seperti itu. Kalau bukan padaku kau bicara jujur, lalu pada siapa lagi?" Mikoto mengecupi wajah Sasuke yang bingung apakah dia harus menangis atau tertawa bahagia. "Pasti kau sangat kesepian, 'kan?"

"Tentu saja," Sasuke berkata dan akhirnya mulai terisak. "Setiap kali aku ingin pulang, aku bingung apa yang akan kulakukan. Semakin aku sering di rumah semakin besar kemungkinan kaa-san memergokiku seperti yang terjadi pada tou-san. Aku benar-benar takut."

"Tak perlu takut lagi, ya. Kita akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari situasi ini."

...

Sudah hampir tengah malam ketika Fugaku, Mikoto, Sasuke dan Nagato—yang ikut dengan mereka untuk membereskan masalah yang tersisa sebelum Hyuuga menyatakan diri telah kembali dari kematian—tiba di Konoha. Meski awalnya mereka ingin melakukan itu dengan santai, tapi informasi baru membuat mereka mau tak mau mempercepat rencana.

Bagi Fugaku sendiri asal usul Hinata bukan kejutan. Sebagai ayah angkat, dia jelas bertanggung jawab mencari tahu. Dia dan Madara sudah lama tahu Hinata itu satu-satunya keturunan Hyuuga yang tersisa. Tapi, mereka berdua pikir Hinata diasingkan ke panti asuhan untuk menyelamatkannya dari konflik Hyuuga dan Fuuma, jadi mereka menjaga rahasia itu. Yang membuatnya sulit percaya, masih ada Hyuuga yang hidup dalam persembunyian. Serangan kematian perlahan yang terjadi kepada klan Fuuma pun sekarang menjadi masuk akal.

Naruto sudah menunggu mereka di Bandara Komunitas—sebuah bandara yang dibangun bersama oleh para pemilik jet pribadi agar tidak perlu memakai bandara publik—untuk menjemput sang paman. Tetapi, Nagato harus segera menghadiri rapat dadakan dengan wakil Hyuuga di Konoha, jadi dia meminjam mobil Naruto dan menyetir sendiri ke tempat pertemuan. Naruto sendiri diminta untuk menyopiri keluarga Uchiha.

Mereka menuju parkiran mobil bersama. Nagato segera meninggalkan mereka setelah mengucapkan salam perpisahan dan berjanji akan datang usai ursannya selesai. Dia tersenyum hangat lalu berkata, "Naruto jangan banyak bertanya, ya," untuk memberi peringatan. Naruto mengangguk meskipun tak mengerti. Dia melirik Sasuke yang entah bagaimana ekspresi wajahnya jauh lebih baik dari terakhir kali dia lihat. Atau mungkin itu wajah terbaik yang dia lihat selama puluhan tahun mengenal Sasuke.

Sesuai permintaan pamannya, Naruto tak bertanya, pun tak mengatakan apa-apa, tapi tetap memperhatikan. Fugaku yang seharunya duduk dengan Mikoto di jok belakang, malah duduk di sebelahnya. Sementara Mikoto duduk dengan Sasuke di belakang. Tangan Sasuke tak pernah lepas dari genggaman Mikoto sejak Naruto melihat mereka, sesekali Mikoto menatap Sasuke penuh sayang, membelai wajahnya, kemudian mengecup tangannya sembari meneteskan air mata.

Mungkin Bibi terlalu merindukan Sasuke. Hanya itu yang sanggup Naruto bayangkan untuk saat ini.

...

25 Desember 2013

Di salah satu ruang rawat Hyuuga Hospital, Itachi berbaring di atas sofa dengan kepala tepat berada di atas pangkuan kakeknya. Selagi ayah dan ibunya pergi menjemput Sasuke, mereka berdua bertahan di rumah sakit untuk menjaga Hinata yang masih belum sadar. Sakura bilang keadaan Hinata baik-baik saja, seharusnya tidak ada masalah serius yang membuatnya tak sadar sampai sekarang. Jadi diagnosis sementara Hinata mengalami lelah mental yang membuatnya enggan bangun.

Solusi sementara yang dianjurkan dokter jiwa adalah menciptakan suasana yang disukai pasien. Selain untuk membicarakan bagaimana ke depannya, Sasuke memang harus segera ada di sini, karena Hinata membutuhkannya lebih dari siapa pun.

Itachi kembali menengok jam tangan. Sudah lewat tengah malam, mereka masih belum kembali. Dia mulai cemas orang tua dan adiknya terjebak dalam badai musim dingin. Akhir tahun begini cuaca sering tak menentu. Saat dia mendengar langkah kaki yang cepat, dia langsung bangkit, lalu keluar ruang rawat meninggalkan sang kakek yang sedang pulas dalam posisi duduk. Di ujung lorong, terlihat keluarganya bersama Naruto.

"Sasuke," Itachi menyebut nama itu dengan pelan, kemudian memeluk adiknya ketika dia bisa meraihnya. "Kau sehat, 'kan?"

Sasuke hanya bergumam mengiyakan. Dia langsung masuk ke ruang rawat, duduk di sebelah ranjang Hinata, menggenggam tangan gadis itu, mengecupnya lalu berujar, "Hei, Kelinci Malas, apa yang membuatmu begitu malas, hn? Seingatku aku tak pernah mengajarimu tidur berhari-hari meskipun kau baik-baik saja. Apa yang begitu kau takuti? Aku sudah di sini untuk menyingkirkan siapa pun itu yang membuatmu takut." Sejenak Sasuke memperhatikan Hinata, mencari tanda-tanda kesadarannya. Beberapa menit berlangsung, keadaannya masih sama, jadi Sasuke melanjutkan, "Maaf, aku tak pernah datang menemuimu. Aku salah dan aku akan menebusnya, jadi kumohon bangunlah. Tidakkah kau ingin merayakan Natal dan ulang tahunmu? Atau apa yang kau inginkan? Bagaimana jika aku bersumpah, kalau kau bangun, aku tidak akan pergi ke mana pun sampai kau memperbolehkanku pergi?"

"Teme, sebaiknya berbaring saja dulu. Karena sudah terlalu larut, aku rasa dia akan bangun besok pagi," Naruto akhirnya buka suara. "Lagipula suasana suram seperti ini, mana mungkin Hinata menyukainya. Ah, iya, bagaimana kalau kita bawa pulang saja?" Kalau dipikir-pikir yang dikatakan Naruto cukup masuk akal. Hinata itu tidak dalam kondisi sekarat, dia hanya enggan bangun.

"Aku akan menanyakan hal ini pada Sakura," Itachi setuju untuk mempertimbangkan hal itu. Tetapi, sebaiknya mereka tidak mengambil keputusan tanpa berkonsultasi lebih dulu.

...

Suara-suara ribut yang sudah lama hilang dari rumah keluarga Uchiha, pagi itu kembali. Hinata samar-samar mendengar apa yang mereka ributkan. Senyum mengembang di wajahnya walau dia masih pulas.

"Sialan, Teme! Kau memang serakah!" Naruto berseru jengkel menyaksikan sebagian properti yang ada dalam papan monopoli telah berhasil dikuasai Sasuke.

"Salah sendiri kau idiot."

Mikoto masuk ke kamar Hinata membawa sarapan karena Sasuke tidak mau beranjak dari sana walau untuk makan. Katanya dia harus di sana ketika Hinata bangun. Makanya Naruto dan yang lain secara bergantian menemani Sasuke sejak dini hari tadi sekaligus menciptakan suasana yang kemungkinan sangat disukai Hinata.

"Kesayangan kaa-san masih belum bangun juga?" Mikoto menghampiri Hinata usai dia mengamburkan papan monopoli dan menggantinya dengan nampan. Dia berbaring di sebelah Hinata mengabaikan Sasuke yang mengeluh lantaran momen kejayaanys dirusak, membelai wajah dan mengusap-usap kepala gadis itu dengan gemas. "Kau tidak akan bangun dan main de—" sebelum Mikoto menyelesaikan pertanyaannya, Hinata bergumam, memanggil Sasuke. "Sasu-chan, dengar ke mari."

Sasuke yang hendak sarapan langsung menghampiri tempat tidur, berjalan dengan kedua lututnya lantaran tak sempat berpikir untuk berdiri, sementara Naruto pergi dari sana untuk mengabari yang lain. "Aku di sini!" kata Sasuke, lalu meraih tangan gadis itu. "Aku di sini." Dia terus mengulang kalimat yang sama sampai Hinata benar-benar bangun.

"Aku tidak bisa menjaga rahasia kita." Hal terakhir yang Hinata ingat sebelum tak sadarkan diri adalah teriakan ibunya. Dia sekarang mengerti kenapa itu harus dirahasiakan karena bisa membuat ibunya marah dan lebih kacau lagi, ayah dan ibu bertengkar. "Aku salah, tapi tolong jangan hukum aku." Masih dalam posisi berbaring, Hinata terisak merasa bersalah.

"Aku tidak marah," Sasuke membalas dengan mantap. "Kaa-san juga tidak marah, cuma merasa terkejut saja. Ya, 'kan, Kaa-san? " Mikoto mengangguk semangat. "Aku juga akan menghabiskan Natal dan Tahun Baru di sini, makanya kau tak boleh bermalas-malasan begini, biar kita bisa keliling kota."

"Sungguh?" Hinata mendudukkan tubuhnya, mulai bersemangat, "Nii-san tidak akan melarangku menemuimu?" tanyanya menyelidik. "Apa sekarang aku bisa main ke London kalau Sasuke-nii di sana?"

"Kau boleh melakukan apa saja. Tapi, kita tunggu Sakura datang untuk melepas ini, oke?" Sasuke menunjuk selang infus yang masih terpasang di tangan kiri Hinata dan dijawab dengan anggukan kecil.

Mikoto meninggalkan kamar untuk memberi ruang bagi Sasuke dan Hinata yang terdengar antusias menceritakan apa pun pada Sasuke. Sebagian besar cerita itu dia sudah tahu, tapi mungkin ada rahasia yang ingin dibagi Hinata hanya dengan Sasuke.

...

To be continued ...

...

Sudah hampir tiga tahun dari terakhir saya publis, ya. Sejak saat itu banyak yang terjadi, suka dan duka saya lalui, dan untungnya saya masih bertahan.

Seperti sebelumnya, saya tidak bisa menjanjikan kapan fiksi penggemar ini akan dilanjut, tapi saya tidak akan pernah melupakannya. Jadi, saya harap kalian semua mengerti.

Tetap jaga kesehatan, ya. Kalau butuh teman cerita boleh kirim pesan, persetan mau laki-laki atau perempuan, semua orang berhak bercerita.

Btw, awal September lalu saya ke Surabaya, main ke Bromo, kalau ada orang sana atau pergi ke sana tepat tanggal 5 September, mungkin tanpa kita sadari, kita saling berpapasan. Hahaha.

Oke, sekian dulu, salam sayang dan terima kasih.

27 November 2024