"So into you"
Genre : Drama school, romance
Pair : Narutoxkarin
Chapter 2
Kelas dipenuhi suara bising siswa yang sibuk membentuk kelompok kerja. Naruto dan Karin, entah bagaimana, dipasangkan bersama untuk tugas kelompok. Mereka duduk berdampingan, berbagi buku, catatan, dan ide. Hubungan kerja mereka yang mulanya canggung mulai terasa alami. Karin yang biasanya tegas dan sinis, kini terlihat lebih lembut ketika berbicara dengan Naruto. Mereka saling bercanda kecil, dan senyuman Naruto membuat Karin tidak dapat menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Naruto, kau benar-benar lambat, ya?" sindir Karin sambil mencoba menyembunyikan senyumnya.
"Hei, aku hanya ingin memastikan semuanya sempurna!" balas Naruto dengan cengiran khasnya.
Adegan ini menjadi pusat perhatian di kelas. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik, merasa iri dengan kedekatan mereka. Di pojok ruangan, Hinata memperhatikan mereka dengan ekspresi rumit. Tangannya memegang pena yang kini gemetar ringan, matanya tidak pernah lepas dari Naruto.
Flashback: Awal semester
Hinata, duduk di taman belakang rumah besar Hyuuga bersama Naruto. Mereka tertawa, menikmati waktu bersama, jauh dari mata publik. Naruto memandang Hinata dengan tulus, mengelus pipinya, dan berkata, "Hinata, aku akan selalu bersamamu, apa pun yang terjadi."
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Sakura dan Ino, yang mengetahui hubungan rahasia mereka, menghampiri Hinata di koridor sekolah.
"Hinata, kau serius pacaran dengan dia? Kau sadar ini akan menghancurkan reputasimu, kan? Pewaris Hyuuga tidak bisa bersama anak seperti Naruto," ucap Sakura tajam.
"Jika ini tersebar, keluarga Hyuuga akan menjadi bahan tertawaan. Kau ingin itu terjadi?" tambah Ino.
Hinata terdiam, merasa terjebak di antara cintanya pada Naruto dan tanggung jawabnya sebagai pewaris Hyuuga. Akhirnya, dengan berat hati, dia memutuskan untuk meninggalkan Naruto tanpa penjelasan apa pun, demi melindungi nama keluarganya.
Hujan turun deras, membasahi halaman sekolah yang kosong. Di balik gedung lama, Naruto berdiri sendirian, rambut dan bajunya basah kuyup, menunggu seseorang. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi rasa cemas.
Tak lama kemudian, Hinata muncul dari balik sudut gedung. Dia memayungi dirinya dengan payung kecil, tetapi raut wajahnya terlihat muram. Matanya tidak berani menatap Naruto secara langsung.
"Hinata, kau datang," kata Naruto, senyumnya muncul meskipun tubuhnya menggigil. "Aku khawatir kau tidak akan datang."
Hinata menahan napas, hatinya terasa berat. Dia tahu apa yang akan dia katakan, tetapi mulutnya terasa kelu. Hatinya menjerit, ingin memeluk Naruto, tetapi dia harus menahannya.
"Naruto-kun," suaranya bergetar, "kita... kita tidak bisa seperti ini lagi."
Naruto membeku, senyumnya perlahan memudar. "Apa maksudmu, Hinata? Aku... aku tidak mengerti."
Hinata menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai mengalir. "Aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku... aku harus pergi."
"Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Naruto bertanya, langkahnya maju mendekat. Tangannya terulur, tetapi Hinata mundur, melindungi dirinya dengan payung.
"Ini bukan tentang kau, Naruto-kun," jawabnya pelan, air matanya bercampur dengan hujan. "Ini tentang aku. Tentang keluarga... tentang... tentang semua hal yang tidak bisa kau mengerti."
Naruto menggenggam tangannya sendiri, menahan rasa sakit yang mulai menggerogoti dadanya. "Hinata, kau tahu aku tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya ingin kau tetap bersamaku. Kita bisa melewati semuanya bersama, seperti yang selalu kita lakukan!"
Hinata menggeleng, matanya penuh luka. "Aku ingin percaya itu. Tapi... Sakura dan Ino benar. Reputasi keluargaku penting. Aku tidak bisa bersama seseorang seperti kau..."
Kata-kata itu seperti belati yang menusuk hati Naruto. Dia terdiam, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Jadi, ini semua tentang status? Tentang reputasi?"
Hinata tidak menjawab, hanya menundukkan kepala. Dalam hati, dia berteriak, ingin mengatakan bahwa dia masih mencintai Naruto lebih dari apa pun. Tetapi tekanan dari keluarga dan teman-temannya terlalu besar.
Naruto tertawa kecil, suara yang dipenuhi kegetiran. "Aku mengerti... Jadi, aku hanya menjadi beban bagimu, ya?"
"Naruto-kun..." Hinata mencoba mendekati Naruto, tetapi dia mengangkat tangannya, menghentikannya.
"Jangan. Aku mengerti sekarang," katanya dengan senyum yang dipaksakan. "Jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan menghalangimu."
Hujan terus turun, suara gemuruh petir menggema di kejauhan. Hinata ingin mengatakan sesuatu, tetapi Naruto telah berbalik, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
Dia berdiri di sana, tubuhnya gemetar antara dingin dan rasa bersalah. Payungnya jatuh ke tanah, air mata bercampur dengan hujan yang membasahi wajahnya.
"Maafkan aku, Naruto-kun... Maafkan aku," bisiknya, tetapi suara itu tertelan oleh hujan.
Di kejauhan, Naruto berjalan tanpa arah, tatapan kosongnya mengarah ke depan. Hatinya patah, tetapi dia tidak membiarkan air mata jatuh. "Aku akan baik-baik saja," gumamnya kepada dirinya sendiri, meskipun hatinya tahu itu adalah kebohongan.
Kembali ke masa kini
Hinata mengepalkan tangan di bawah meja. Melihat Naruto begitu dekat dengan Karin membuat dadanya terasa sesak. Ingatannya akan masa lalu dan keputusan yang ia ambil menghantui pikirannya.
Karin, yang menyadari Hinata terus memperhatikan mereka, melirik Naruto dan berbisik pelan, "Naruto, kurasa ada seseorang yang tidak bisa melepas pandangan darimu."
Naruto menoleh ke arah Hinata sekilas, lalu mengangkat bahu. "Biar saja. Aku sudah bilang aku tidak peduli lagi."
Namun, Karin punya ide lain. Senyumnya berubah licik, dan dia mulai bertingkah lebih manis kepada Naruto.
"Naruto-kun~ bisa kau bantu aku menulis ini? Pena ini berat sekali," godanya dengan nada manja yang jelas-jelas dibuat-buat.
Naruto mendesah, "Karin, kau bisa menulis sendiri..." tetapi tetap membantu, meskipun terlihat bingung dengan perubahan sikap Karin.
Hinata yang melihat interaksi itu tidak tahan. Karin bahkan menyenderkan kepala di bahu Naruto sambil tertawa kecil, sesuatu yang terlalu ekstrem untuk dilihat Hinata. Dengan cepat, Hinata berdiri dari tempat duduknya, wajahnya merah padam. Semua orang di kelas menoleh ke arahnya.
Hinata tidak mengatakan apa-apa, hanya mengambil bukunya dan berjalan keluar kelas dengan langkah tergesa. Naruto memperhatikan sekilas, tetapi Karin menyenggol lengannya.
"Jangan terlalu memikirkannya. Fokus saja ke tugas kita," ucap Karin dengan nada setengah bercanda, tetapi matanya menyiratkan sesuatu yang lebih serius.
Hinata berdiri di koridor, menggenggam buku di dadanya, mencoba menahan perasaan yang menggebu-gebu. "Naruto... kenapa aku merasa kau semakin jauh dariku?" gumamnya pelan, air matanya hampir jatuh.
Beberapa hari kemudian kelas dimulai seperti biasa, tetapi ada suasana yang berbeda di dalamnya. Hubungan Naruto dan Karin semakin terlihat erat, membuat suasana di kelas menjadi lebih damai bagi Naruto. Tidak ada lagi yang berani mengolok-olok atau memandang rendah dirinya karena Karin selalu berada di sisinya, memberikan dukungan tanpa ragu.
Namun, tidak semua orang di kelas merasa nyaman dengan perubahan ini. Sasuke, meskipun tidak ikut membully seperti sebelumnya, masih terang-terangan mencari celah untuk membuat Naruto kesal. Sesekali tatapan dinginnya tertuju pada Naruto, tetapi Naruto yang sudah lebih percaya diri tidak terlalu mempedulikan sikap itu.
Ketika guru mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas kerja sama, Naruto terkejut ketika namanya disebutkan bersama Karin dan... Hinata. Perasaan campur aduk langsung muncul di wajah Naruto.
"Aku tidak mau!" ujar Naruto spontan, mencoba mengangkat tangan untuk protes.
"Peraturan tetap peraturan, Naruto. Kalian bertiga harus bekerja sama," jawab guru dengan nada tegas, mengabaikan keluhan Naruto.
Hinata yang mendengar protes itu hanya diam, tetapi jelas terlihat raut kecewa di wajahnya. Karin, di sisi lain, tersenyum puas dan menepuk pundak Naruto dengan santai. "Santai saja, Naruto. Kita pasti bisa menyelesaikan tugas ini dengan cepat."
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di meja yang sama. Naruto dan Karin dengan cepat mulai berdiskusi tentang tugas mereka, mencari ide-ide untuk menyelesaikannya. Dalam waktu singkat, mereka sudah menemukan solusi dan membagi tugas dengan efisien.
Namun, Hinata merasa seperti bayangan di antara mereka. Naruto bahkan tidak memandangnya, sementara Karin terus berbicara dengan penuh semangat, membuat Hinata semakin terpinggirkan.
"Naruto, aku pikir kita harus menambahkan ini..." Hinata mencoba menyela, menunjuk pada catatan di tengah meja.
Namun, Naruto tidak merespons. Dia terlalu sibuk berdiskusi dengan Karin, bahkan terkadang tertawa kecil karena lelucon yang mereka buat. Hinata merasa terlupakan, seperti dirinya tidak ada.
Setelah beberapa saat, Hinata akhirnya kehilangan kesabaran. "Naruto, bisakah kau mendengarkanku sebentar?" suaranya terdengar lebih keras dari biasanya, membuat beberapa teman sekelas menoleh.
Naruto berhenti sejenak, tetapi hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus ke Karin. "Karin sudah mengurusnya. Kau tidak perlu khawatir," jawabnya dengan nada datar.
Jawaban itu membuat Hinata semakin terluka. Rasanya seperti jarak di antara mereka semakin jauh, dan dia tidak tahu bagaimana menjembatani kesenjangan itu lagi.
Merasa tidak dihargai, Hinata bangkit dari tempat duduknya. "Aku pergi dulu," katanya pelan, suaranya terdengar gemetar. Tanpa menunggu tanggapan, dia berjalan keluar kelas, meninggalkan Naruto dan Karin yang hanya saling memandang tanpa bicara.
"Dia terlihat kesal," kata Karin dengan nada datar.
Naruto mengangkat bahu, tidak ingin memikirkan Hinata lebih jauh. "Dia akan baik-baik saja," ujarnya singkat, kembali pada tugas yang sedang mereka kerjakan.
Namun, di dalam dirinya, Naruto tidak bisa sepenuhnya mengabaikan rasa bersalah yang muncul.
Setelah bel istirahat berbunyi, Naruto dan Karin memutuskan untuk pergi ke rooftop sekolah, tempat yang biasanya sepi dan nyaman untuk bersantai. Karin membawa dua kotak bento yang ia buat sendiri, sementara Naruto tampak enggan, meskipun ia tahu Karin selalu memastikan dia makan dengan baik.
Saat mereka duduk di sana, angin sepoi-sepoi meniup rambut mereka. Karin menyuapkan sepotong sushi ke mulut Naruto sambil tersenyum puas.
"Hei, Naruto, kau tahu kan? Dengan aku di sini, kau tidak perlu khawatir lagi soal makan siang. Orang-orang sekarang bahkan tidak berani mengganggumu," ucap Karin sambil menyeringai kecil.
Naruto hanya mengangguk ringan, tapi tatapannya terlihat jauh, seperti sedang memikirkan sesuatu. Karin memperhatikan ekspresi itu. Biasanya, Naruto selalu mengeluh dengan ceria atau setidaknya berterima kasih dengan senyum khasnya.
"Kau kenapa? Aku tahu sesuatu mengganggumu," tanya Karin dengan nada serius, suaranya lembut tetapi penuh perhatian.
Naruto terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mendesah. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap langit biru di atas mereka. "Karin, apa menurutmu aku orang yang terlalu bodoh untuk memaafkan sesuatu yang tidak bisa dilupakan?"
Karin mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Kau biasanya tidak menyimpan dendam, kan?"
Naruto mengangguk. "Ya, tapi... itu tentang Hinata."
Karin langsung merasa tertarik. Dia tahu Hinata sering memperhatikan Naruto akhir-akhir ini, dan dia juga bisa merasakan ketegangan aneh di antara mereka. Dengan penuh penasaran, dia meletakkan sumpitnya. "Lanjutkan."
Naruto menarik napas dalam-dalam. "Dulu... Hinata dan aku punya hubungan yang baik. Dia adalah orang pertama yang benar-benar percaya padaku, atau setidaknya itu yang kupikirkan. Kami diam-diam berpacaran... meskipun itu tidak lama."
Karin menatapnya, kaget tetapi berusaha tidak memotong.
"Semua berubah saat Sakura dan Ino tahu tentang hubungan kami," lanjut Naruto dengan nada pahit. "Hinata... dia memilih meninggalkanku. Katanya, itu demi keluarganya, demi statusnya. Aku mengerti, mungkin dia terpaksa. Tapi rasanya seperti... semua kepercayaanku dihancurkan begitu saja."
Naruto berhenti sejenak, menelan ludah, lalu tersenyum kecil, meskipun senyumnya terlihat penuh luka. "Aku tidak pernah membencinya. Bahkan sekarang, aku masih memaafkannya. Tapi aku tidak bisa kembali seperti dulu. Aku tidak bisa memercayainya dengan cara yang sama."
Karin mengangguk pelan, mencoba mencerna semua itu. Dia meletakkan kotak bentonya dan menatap Naruto dengan tatapan serius. "Jadi, kau masih peduli padanya, ya?"
Naruto tersenyum kecil dan menggeleng. "Mungkin. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku sudah melewati itu semua. Aku hanya ingin fokus pada hidupku sekarang."
Karin memiringkan kepala, mencoba menyembunyikan senyumnya yang sedikit puas. "Hidupmu sekarang, ya? Apakah itu termasuk aku juga?"
Naruto menggaruk kepalanya dengan canggung. "Yah, kau sudah seperti bayangan bagiku akhir-akhir ini. Jadi, kurasa iya."
Karin tertawa kecil, merasa senang dengan pengakuan itu meskipun tidak sepenuhnya romantis. Namun, jauh di dalam dirinya, dia merasa sedikit bersalah karena Hinata terlihat begitu hancur hari ini.
"Kau tahu, Naruto," kata Karin pelan, "mungkin dia meninggalkanmu dulu karena tekanan, tapi melihatmu sekarang... aku rasa dia benar-benar menyesal. Itu jelas terlihat dari caranya memandangmu."
Naruto mengangkat bahu, tidak terlalu memikirkannya. "Itu masa lalu, Karin. Dan aku tidak mau tinggal di sana."
Karin mengangguk, tetapi dalam hati dia tahu cerita ini belum selesai. Hinata mungkin tidak akan menyerah begitu saja, dan dia harus bersiap menghadapi apa pun yang datang.
Di kejauhan, Hinata berdiri di belakang pintu menuju rooftop, tangannya gemetar setelah mendengar percakapan mereka. Air mata mengalir di pipinya, tapi kali ini bukan hanya karena rasa sakit. Itu adalah tekad baru. Dia tidak akan membiarkan Karin mengambil Naruto begitu saja.
To be continued...
