Chapter 6

Lift berdenting pelan saat pintunya terbuka. Itachi dan Sasuke melangkah keluar menuju mobil mereka di area parkir. Suasana hening, hanya diisi gema langkah kaki mereka di ruang beton. Begitu masuk ke dalam mobil, Itachi duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin dengan gerakan santai.

"Aku saja yang mengemudi," ujar Itachi, setengah bercanda. "Aku tidak mau kau merusak mobil lainnya."

Sasuke mendengus, mengingat insiden kecelakaan yang pernah terjadi beberapa bulan lalu. "Hmph, kau tidak perlu terus mengungkit itu."

"Jangan terlalu cepat," tambah Sasuke dengan nada malas saat Itachi mulai membawa mobil keluar dari parkiran. "Aku tidak ingin sakit kepala lagi."

Itachi tertawa kecil. "Ini pertama kalinya kau memintaku menyetir dengan pelan. Rupanya kecelakaanmu benar-benar memberi dampak besar, ya?"

Sasuke hanya menghela napas, tidak berniat membalas. Dia menatap keluar jendela, wajahnya suram. Pikiran tentang masa lalu—tentang apa yang ia lakukan bertahun-tahun lalu- tidak pernah luput di pikirannya lagi. Apalagi sejak bertemu Sakura lagi. Itachi meliriknya, menyadari perubahan di wajah adiknya.

"Tenang saja, kita akan menemukan Sakura, Sasuke." Itachi bertanya perlahan, suaranya tenang tapi penuh perhatian.

Sasuke menegang, memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab. "Aku memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu."

Itachi mengangguk mengerti. "Sasuke, aku tahu ini berat. Bukankah selama ini kau selalu menyimpan rasa bersalah tentang bagaimana kau memperlakukan dia dulu, sekarang.. Berhenti memendam itu semua.Waktunya berani untuk memperbaiki kesalahan itu. Aku akan bersamamu. Bukankah seorang kakak selalu setia menyokong adiknya di saat si adik bersiap menempuh jalan yang benar."

Itachi tersenyum mendukung. Sasuke masih terbayang-bayang masa lalu.

--

Kenangan itu menyeruak, menghantam pikiran Sasuke tanpa ampun. Masa-masa SMA yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi waktu penuh kebencian dan tekanan. Ia ingat bagaimana dirinya memimpin Suigetsu, Karin, dan Jugo untuk mem-bully Sakura.

Semua dimulai dengan rasa iri yang membakar. Sakura, gadis dengan kecerdasan dan kerja keras luar biasa, sering menempati peringkat pertama di sekolah. Sasuke, yang hidup di bawah bayang-bayang kakaknya, merasa tidak mampu menerima itu. Baginya, kalah dari Sakura hanya mempertegas bahwa dirinya tidak cukup baik—tidak untuk ayahnya, tidak untuk dirinya sendiri.

"Dia tidak pantas mendapatkan itu," Sasuke pernah berkata dingin di kantin, sambil memandangi Sakura yang makan sendirian. "Dia hanya tahu belajar. Apa gunanya kalau dia tidak punya apa-apa selain otak?"

Suigetsu mengangkat alis, agak ragu. "Sasuke, dia gadis yang baik. Mungkin kau terlalu keras padanya."

Karin menimpali dengan pelan, seolah takut menyinggung Sasuke. "Tapi aku mengerti, dia memang agak sok. Mungkin kalau kita buat dia mengerti posisinya…"

Jugo, yang paling pendiam, hanya menatap Sasuke dengan tatapan tidak setuju. Namun, dia tetap mengikuti Sasuke, merasa tidak bisa membiarkannya tersesat sendirian.

Sasuke memimpin semuanya. Dia yang mulai menyebar rumor, mencuri catatan milik Sakura, bahkan mengatur 'kecelakaan' yang membuat Sakura jatuh di tangga suatu hari. Itu bukan sekadar olokan. Sasuke ingin menghancurkan kepercayaan diri Sakura, membuktikan bahwa dia lebih baik darinya dalam segala hal.

"Kenapa kau tidak melawan?" ejek Sasuke suatu hari ketika Sakura menangis di depan lokernya, menemukan buku-bukunya penuh coretan penghinaan.

Sakura hanya menunduk, menggigit bibir untuk menahan air mata. "Apa yang kau inginkan dariku, Sasuke?"

"Peringkat pertama," jawab Sasuke tajam. "Dan aku ingin kau pergi dari hidupku."

Pada akhirnya, tekanan itu terlalu berat bagi Sakura. Dia menyerah dan memutuskan untuk pindah sekolah, rumor yang dia dengar. Saat mendengar kabar itu, teman-teman Sasuke merasa bersalah, tapi tidak ada yang berani menentangnya. Hanya Jugo yang berbicara.

"Sasuke, apa yang kau lakukan salah," katanya dengan nada serius. "Aku tahu kau marah, tapi apa kau benar-benar ingin dia pergi? Apa ini membuatmu merasa lebih baik?"

Namun, Sasuke tidak menjawab. Dia bahkan tidak peduli dengan rumor itu benar apa salah, yang dia rasakan hanyalah kelegaan karena Sakura tiada di sekolah.

--

"Aku tidak pernah tahu bagaimana cara menghentikannya," gumam Sasuke pelan di dalam mobil, kembali ke masa sekarang. "Aku pikir jika aku membuat hidupnya sulit, aku akan merasa lebih baik. Sekarang aku sadar. Bahwa semua itu telah meninggalkan lubang penyesalan yang besar."

"Dan kau tidak tahu bagaimana menebusnya," tebak Itachi, melirik adiknya dengan pandangan penuh empati.

Sasuke mengangguk perlahan. "Aku bahkan tidak tahu apakah itu mungkin."

Itachi tersenyum tipis. "Semua orang layak diberi kesempatan kedua, Sasuke. Yang penting, kau harus jujur pada dirimu sendiri. Kalau tidak, bagaimana kau bisa berharap orang lain mempercayaimu?"

Sasuke hanya terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

--

Kenangan kecelakaan itu kembali muncul di benak Sasuke. Beberapa hari yang lalu, kecelakaan mobil itu. Dia terluka parah dan nyaris kehilangan nyawanya. Saat itu, seseorang menolongnya—Sakura.

Dia hampir tidak percaya saat melihat wajah yang pernah dia hancurkan muncul di tengah malam, menyelamatkan hidupnya. Sakura menceritakan bahwa dia memapahnya ke rumah Sakura dan mengaku-ngaku bahwa dia istrinya. Istri palsunya. Namun, rasa bersalah Sasuke begitu besar sehingga dia membuat kebohongan bahwa dia amnesia dan mempercayai Identitas Sakura.

Berpura-pura amnesia selama beberapa hari di rumah Sakura, Itu adalah cara pengecutnya untuk menghindari konfrontasi dengan korban dari dosa-dosanya di masa lalu. Namun, setiap hari yang berlalu sejak itu terasa seperti beban. Dia tahu tidak bisa terus bersembunyi.

Rasa bersalah membuatnya sesak.

--

Kembali ke masa kini, Tiba-tiba Sasuke berteriak, menghentikan mobil dengan cepat. "Berhenti! Cepat hentikan mobilnya!"

Itachi terkejut tapi segera menginjak rem. "Ada apa?"

Sasuke tidak menjawab. Dia membuka pintu dan berlari keluar, pandangannya tertuju ke arah pohon di pinggir jalan.

Di sana, berdiri seorang wanita dengan tali di tangannya. Sasuke membelalak saat mengenali wajah itu. "Sakura!"

Dia berlari secepat mungkin, jantungnya berdebar keras. Sakura berdiri di atas kursi, mencoba melingkarkan tali ke lehernya. Namun, Sasuke berhasil mencapainya tepat waktu.

"Sakura, hentikan!" Sasuke menariknya turun dengan kasar. Tubuh Sakura jatuh ke pelukannya, lemah dan tanpa perlawanan.

"Mengapa?!" Sasuke berteriak, suaranya gemetar. "Mengapa kau melakukan ini?!"

Sakura hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku sudah lelah hidup," gumamnya. "Aku tidak punya alasan untuk hidup lagi. Aku tidak punya tujuan lagi. Aku.. Merindukan nenekku.. Ibu.. Ayah.."

Kata-kata itu menghantam Sasuke seperti palu. Dia ingin mengatakan sesuatu, menyadari Sakura dan segala problema gadis itu selain karena kesalahannya. Benar juga, dia hanya ingin minta maaf tanpa tau apa-apa tentang Sakura.

Itachi menyusul dan menepuk pundak Sasuke dengan lembut. "Ini waktunya kau berhenti bersembunyi, Sasuke. Berhenti berpura-pura. Dia pantas tahu kebenaran."

Sasuke menarik napas dalam-dalam, menatap Sakura dengan mata yang penuh tekad. "Sakura," katanya pelan, tapi tegas. "Aku telah menyakitimu di masa lalu. Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Tapi aku di sini untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti dirimu sendiri."

Sakura menatapnya, kebingungan dan kaget. "Kau? Memperbaiki? Kau.. Ingatanmu sudah kembali?"

Sasuke terdiam, ketakutan menjelaskan kejujurannya. Tapi dia akhirnya mengakui. Sasuke menatap Sakura dengan mata yang penuh penyesalan. Suasana seakan hening, hanya suara napas mereka yang terdengar.

"Sakura," suara Sasuke bergetar, "Aku... aku tahu ini mungkin tidak akan pernah cukup, tapi aku harus mengatakannya. Dulu, waktu SMA... aku, aku adalah orang yang menyakitimu. Aku membuli dan mengabaikan perasaanmu. Aku membuatmu merasa kecil, seolah-olah kamu tidak berarti. Dan aku tahu, itu membuatmu terjatuh... bahkan sampai membuatmu keluar dari sekolah. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati kamu saat itu."

Sasuke menghela napas, mata gelapnya mulai berkaca-kaca. "Aku... aku tahu kamu pasti benci aku, dan seharusnya memang begitu. Aku benci diriku sendiri karena itu. Tapi setelah kecelakaan itu, saat aku melihatmu lagi, aku merasa sangat bersalah... Aku takut menghadapi kenyataan bahwa aku adalah alasan kamu merasa terpuruk. Jadi aku berbohong. Aku bilang aku amnesia, karena aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi perasaan bersalah yang menyesakkan ini."

Sasuke menunduk, menyesali setiap kata yang dulu pernah ia ucapkan. "Aku tak pernah berpikir, saat itu, kalau kata-kata dan perbuatanku bisa menghancurkanmu seperti itu. Kamu begitu kuat, Sakura. Bahkan setelah semua yang aku lakukan padamu, kamu bisa berdiri dan melanjutkan hidup. Aku tidak pantas mendapatkan maafmu, tapi aku ingin kamu tahu... Aku menyesal. Sangat menyesal."

Dia mengangkat wajahnya, matanya kini penuh dengan air mata. "Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku ingin memperbaiki semuanya, jika kamu memberi kesempatan itu padaku."

Sakura diam, terdiam dalam perasaan yang begitu campur aduk.

Sakura lalu menatapnya, dengan amarah. "Kau? Lalu apa maumu? Kau sudah yang menghancurkan hidupku! Mimpiku! Kau tidak bisa mengubah masa lalu hanya dengan pengakuan maaf!"

Sasuke mengangguk, menerima setiap kata itu. "Aku tau. Aku sangat tau.. Dan aku akan menerima semua yang ingin kau lakukan padaku. Tapi aku mohon, jangan bunuh diri. Aku tidak sanggup kehilanganmu."

Itachi menatap mereka berdua, merasa lega bahwa Sasuke akhirnya berani menghadapi bayang-bayang masa lalunya. Akhirnya, meski penuh keraguan, Sakura akhirnya membiarkan dirinya menangis di pelukan Sasuke, sementara Sasuke bersumpah tidak akan lari lagi.

bersambung..