Chapter 23: Kise Ryouta dan Kuroko Tetsuya (2)
"Selamat pagi Kurokocchi."
"Pagi Kise-kun."
Aku meletakkan tasku dan duduk di kursi sebelahnya. Sejak diskusi kami di restoran cepat saji, Kise dan aku tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Kami masih berbicara mengenai hal lain, dan kami mendapat seorang teman baru bernama Ogiwara. Orang ceria dan banyak bicara. Orang biasa saja yang tidak punya luka seperti kami. Berteman dengan Ogiwara membuatku sadar bahwa masa di SMA baru saja di mulai. Aku tidak harus memulainya dengan hal-hal aneh. Aku harus menutup mata. Namun, bersama dengan Kise selalu mengingatkanku apa arti kebersamaan kami.
"Kalian sudah mengerjakan tugas?" tanya Ogiwara.
"Aku sama sekali tidak mengerti tugasnya ssu," keluh Kise.
Ogiwara tertawa. "Kau pikir aku mengerti. Justru itu aku bertanya kepada kalian. Khususnya Kuroko," katanya.
Aku mendengus. "Kau datang hanya karena tugas saja, Ogiwara-kun."
"Jangan begitu! Aku benar-benar tidak paham. Ini terakhir kalinya." Ogiwara memelas.
Aku menyerah dan menyerahkan tugasku kepadanya. Ogiwara dan Kise menyalin tugasku sementara aku hanya melihat mereka berdua. Kehidupanku bisa baik-baik saja di sekolah ini, karena aku punya mereka berdua. Seharusnya itu sudah cukup. Siapa peduli kalau aku bukan kesayangan Ibuku? Siapa peduli jika aku hanyalah bayangan dari Seijuurou?
Namun, aku peduli. Aku tahu bahwa sebanyak apapun temanku di sekolah, sebanyak apapun kegiatanku, akan selalu ada kekosongan di dalam hatiku karena aku bukanlah siapa-siapa. Karena aku bukanlah pilihan. Jadi, di jam istirahat aku mengajak Kise bicara berdua di balkon.
"Apa kau ingin melakukannya, Kise-kun?" tanyaku.
"Aku akan mengikuti apapun pilihanmu, Kurokocchi. Semuanya tidak penting kecuali kau."
"Kau selalu romantis di saat-saat tidak tepat," ujarku sambil tertawa lemah. Namun, aku membutuhkan kata-kata itu.
Kise tertawa. "Kau pantas mendengarnya." Dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Sentuhan yang kusukai.
Aku menatap Kise. "Kita berhak untuk bahagia, kan? Dan kita harus menjadi kuat untuk itu, karena jika tidak maka tidak akan ada yang berubah." Aku mengeratkan genggamanku. "Kise-kun, ayo kita kerjakan tugas itu bersama."
.
Tugas pertama kami adalah mencuri soal try out untuk Ujian Persiapan Masuk Universitas. "Bagaimana cara kita mendapatkannya? Soal seperti itu tidak akan ditaruh sembarangan, bukan?" tanyaku.
"Aku akan coba cari tahu apa yang kubisa, ssu. Tapi, apa kau serius Kurokocchi? Jika kita melakukannya, kita tidak bisa kembali lagi."
Aku tahu bahwa ini adalah jalan satu arah. Tidak ada lagi jalan kembali. Aku akan memasuki dunia penuh bayangan dan aku menyeret Kise bersamaku. Aku mengangguk. "Aku tahu."
"Oke, itu baru semangat. Try out akan diadakan dua minggu lagi, jadi kurasa kita harus bisa mencuri soalnya sebelum dua minggu."
Pertanyaan selanjutnya, kapan kami akan melaksanakannya dan bagaimana caranya. Sampai sekarang aku masih tidak menemukan cara yang masuk akal.
"Oh aku tahu, ssu. Kita matikan saja CCTV dan ambil soalnya," kata Kise.
"Tapi Ruang Guru tidak pernah sepi. Bagaimana caranya kita masuk? Meskipun tidak ada CCTV, itu tetap hal yang sulit. Tidak mudah membuat satu Ruang Guru kosong."
"Kecuali malam hari," kata Kise. Otaknya bekerja lebih encer dalam merancang ide untuk hal-hal di luar norma. Apakah itu adalah hal yang wajar?
"Malam hari, benar juga. Mungkin kita bisa mencurinya di malam hari…" kataku masih setengah tidak yakin.
"Bukan ide yang buruk. Para Guru piket sampai pukul 6 sore. Selanjutnya, Gedung sekolah akan dijaga oleh Satpam."
"Tapi pasti seluruh gedung akan dikunci kalau sudah di atas jam 6 sore. Kegiatan Klub berakhir di pukul 5.30 sore. Tetap saja tidak bisa masuk. Belum lagi CCTV yang harus kita matikan. Komputernya ada di Kantor Satpam," jelasku.
"Benar juga. Kita harus memikirkan masalah itu," ujarnya.
Kami terdiam lagi. "Atau kita pura-pura ada yang tertinggal saja? Minta dibukakan Gedung Sekolah?" usul Kise.
Aku menggeleng. Itu ide yang buruk. "Pertama, kita akan memperlihatkan wajah kita. Jika besoknya terjadi kehebohan karena soal try out hilang, maka kita pasti akan dicurigai pertama. Kedua, Satpam tidak akan begitu saja membiarkan kita berkeliaran di Gedung Sekolah. Dia pasti akan menemani kita mencari barang yang ketinggalan. Sulit menuju Ruang Guru dalam kondisi seperti itu."
"Kurokocchi, kau bicara banyak sekali. Ini pertama kalinya, ssu."
Aku berdecak. Kise terkadang bisa membuat komentar yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan. "Jangan bercanda, Kise-kun."
"Maaf, maaf. Aku hanya berusaha mencairkan suasana yang terlalu tegang." Dia menghela napas. "Dengan kata lain, kita berdua masih belum tahu situasi medan yang akan kita datangi. Kalau begitu, ada baiknya satu minggu ini kita amati saja dulu situasi di sekolah. Kalau kita sudah mengamati semuanya, baru kita bisa membuat rencana."
Usul Kise bagus juga. Terburu-buru juga tidak akan membuat rencana kami sukses. Jadi, kami memutuskan untuk memantau kondisi sekolah sampai aman.
.
Kami mengamati jalur pemantauan satpam dan jadwal shift jaga. Aku melihatnya di Kantor Satpam dengan berpura-pura menjatuhkan dompetku dan melaporkan kehilangan pada satpam. Aku juga melihat CCTV bekerja ketika satpam sibuk mencari dompet yang terjatuh di tempat penyimpanan barang, yang sudah jelas tidak ada. Aku berusaha mengingat semua titik buta kamera dan tombol-tombol untuk menyalakan dan mematikannya. Aku harus mengingatnya jika ingin rencana ini berhasil.
"Kau yakin terjatuh di sekitar sini?" tanya Satpam itu lagi.
Dia sudah mengobrak-abrik tempat penyimpanan tiga kali. Aku sudah menghapal semua kamera CCTV dan tombol-tombol yang berguna.
"Aku baru ingat. Kurasa aku tidak membawa dompetku hari ini," ujarku berbohong. "Maaf sudah menganggu." Aku membungkuk dan segera pergi dari Kantor Satpam.
Kise memiliki tugasnya sendiri. Dia bertugas untuk melihat kunci Ruang Guru yang selalu dibawa oleh Satpam yang bertugas dan kamera apa saja yang akan menyorot kami hingga ke Ruang Guru. Sebagai bonus, dia juga berkeliling Gedung Sekolah untuk mencari power listrik yang mengalir di seluruh Gedung Sekolah.
Selama satu minggu kami hanya saling mengamati keadaan, di awal minggu kedua, rencana itu siap dieksekusi.
Sekolah berakhir pada pukul 3 sore, tetapi sudah pasti tidak akan langsung kosong. Sampai pukul 5.30 sore, kegiatan Klub sudah berakhir dan para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun, masih ada Guru Piket. Guru piket bertugas untuk mengecek keadaan tiap kelas sudah benar-benar kosong dan tidak ada siswa-siswa nakal yang bersembunyi. Setelah semua aman, di pukul 6 sore mereka akan pulang.
Dari pukul 6 sore, para cleaning service akan membersihkan seluruh gedung dan mematikan lampu. Biasanya, kegiatan bersih-bersih itu selesai di pukul 7 malam. Barulah setelah itu, sekolah sepi. Satpam yang berjaga biasanya hanya akan duduk di Kantor Satpam sambil menatap CCTV jika tidak ada keanehan yang terjadi.
Disanalah rencana kami akan dimulai.
"Siap, Kurokocchi?" bisik Kise.
Aku tidak punya pilihan selain mengangguk. Jadi, aku mengangguk. "Ayo, Kise-kun."
Kise berjalan menuju gedung sekolah. Tugasnya yang pertama adalah membuat keributan agar satpam keluar dari Kantor Satpam. Aku menuju Kantor Satpam. Topi dan masker menutupi wajah dan rambutku.
Dari dalam, terdengar sayup-sayup suara tawa lelaki dan suara televisi. Aku berjongkok di dalam kegelapan, bersembunyi di balik tembok agar tidak terlihat jika sewaktu-waktu si satpam keluar dari ruangannya.
Tak berselang lama, terdengar bunyi yang keras, seperti besi yang dibanting dan berjatuhan. Itu pasti sinyal dari Kise. Benar saja, satpam tersebut mengalihkan pandangannya dan keluar dari ruangannya. Aku memundurkan tubuhku agar lebih menyatu dengan bayang-bayang.
Satpam itu keluar hanya membawa senter. Tidak ada gemerincing kunci di pinggangnya. Setelah dia menghilang di koridor, aku segera memasuki ruangan tersebut. Aroma keringat bercampur dengan aroma ramen instan. Namun, aku segera mencari seluruh kunci yang digantung di tembok ruangan. Kuambil kunci dengan label "Ruang Guru". Dari CCTV, aku bisa melihat satpam tersebut berjalan menjauh di koridor.
Aku mengingat tombol-tombol yang pernah kulihat dan mematikan seluruh layar di CCTV. Ke-8 layar dari dua komputer yang berbeda itu mati dan bayanganku terpantul di layar yang berwarna hitam. Seorang lelaki yang berpakaian mencurigakan. Menggunakan topi hitam dan masker. Persis seperti penguntit.
Namun, aku tidak punya waktu. Aku harus segera ke Ruang Guru dan membuka ruangan tersebut dan mengambil soal Try Out. Ruang Guru ada di lantai dua. Jadi, aku berjalan cepat ke lantai dua, berkejaran dengan waktu. Jantungku bertalu-talu dan darah bergemuruh kuat di telingaku. Aku setengah tidak sadar ketika melakukannya. Tanganku berkeringat dan aku menggenggam kunci itu terlalu kuat.
Sampai di Ruang Guru, aku berusaha membuka pintunya. Dengan gemetar, aku memutar kunci di lubangnya dan bunyi 'klik' pelan terasa seperti ledakan bom atom di telingaku.
Ruang Guru begitu gelap dan senyap. Tidak ada satu orang pun di sini.
Aku menuju meja panjang tempat para guru menaruh berkas-berkas. Di salah satu sisi meja, ada tumpukan soal try out. Aku mengambilnya. Lalu, aku mengambil ponselku dan mulai memotret lembar demi lembar soal tersebut. Aku harus mencoba beberapa kali karena tanganku gemetar dan foto-fotonya banyak yang buram. Namun, aku menegaskan diriku agar tidak terlalu gugup karena itu bisa merusak rencana.
Akhirnya, lembar soal terakhir berhasil kufoto.
Kutaruh lagi lembar soal itu sedemikan rapi agar tidak ada yang menyadari bahwa ada soal yang pernah di buka. Lalu, saat itulah aku mendengar langkah kaki.
Jantungku berhenti berdetak. Pasti itu si satpam yang sedang berkeliling. Seluruh tubuhku membeku dan aku tahu bahwa aku harus bersembunyi. Aku harus segera pergi dari sini. Namun, suara langkah kaki yang semakin dekat membuatku terpaksa sembunyi di sebuah kolong meja.
Satu waktu yang terasa begitu lama, dimana aku hanya mampu mendengar suara napasku sendiri dan detak jantungku yang semakin menggila. Aku takut bahwa tiba-tiba jantungku akan langsung merobek dadaku dan keluar dari tubuhku. Pasti kekacauannya luar biasa.
Namun, mendadak seluruh gedung menjadi lebih gelap dari biasanya. Lampu-lampu di sudut lorong yang biasanya dinyalakan agar suasana tidak terlalu gelap, kini mati. Kegelapan total menyelimuti lantai dua. Langkah kaki terhenti.
"Ah sial. Pasti sekring-nya turun lagi." Bisa kudengar sayup-sayup suara satpam yang menggerutu. Langkah kaki tersebut menjauh. Semakin jauh dan jauh hingga akhirnya menghilang. Aku merangkak keluar dari kolong meja.
Mataku belum terbiasa dengan kegelapan total seperti ini. Namun, karena reaksi lari-atau-melawan milikku masih deras beredar di pembuluh darah, aku belum pingsan. Aku ingin menyalakan senter di ponsel, tetapi nanti satpam bisa mencurigaiku dan dia tahu ada orang lain di gedung ini. Akhirnya, aku meraba-raba sekitarku sampai di pintu Ruang Guru.
Kubuka pelan dan kututup lagi. Tidak lupa pula aku menguncinya dan aku berjalan keluar dari lantai dua. Aku kembali berjalan dengan tegang ke arah kantor satpam. Kondisi masih gelap gulita. Pintu ruangan tersebut masih setengah terbuka. Seluruh monitor komputer dalam kondisi mati. Kutaruh lagi kunci di bawah label "Ruang Guru" dan aku keluar dari ruangan tersebut.
Aku terus berjalan dengan langkah berat dan perasaan was-was sampai aku mencapai gerbang sekolah. Aku belum berani menyalakan senter dari ponselku. Gerbang depan sekolah terasa begitu panjang dan aku merasa terjebak dalam jalanan yang tidak berkesudahan. Namun, perlahan tapi pasti, aku mencapai gerbang depan sekolah.
Dengan segera aku merapatkan diri ke tembok samping dan detak jantungku melemas.
Aku berhasil. Tidak ada yang tahu soal-soal dicuri. Tidak ada yang melihat kami berdua.
Barulah, setelah mengetahui fakta itu, tubuhku terasa begitu lelah. Aku menyeret langkah kakiku agar menjauh dari gerbang sekolah. Aku berniat menghubungi Kise, tetapi jika masih berada di dekat sekolah, aku takut terlihat mencurigakan.
Akhirnya, aku berjalan sekitar 500 meter dari sekolah, barulah aku mengetik pesan pada Kise. Tak berselang lama, Kise muncul di depanku. Dia melambaikan tangannya. Meskipun kami sama-sama memakai topi dan masker, tapi penampilan Kise tidak seperti penguntit. Dia lebih mirip seorang idol yang sedang bersembunyi dari para penggemarnya.
"Ayo," katanya lembut sambil menggandeng tanganku.
Aku menurutinya. Soalnya, seluruh energiku sudah habis.
.
Tanganku masih gemetar. Sejujurnya, seluruh tubuhku masih bergetar karena adrenalin. Barulah ketika aku duduk di kasurku sendiri, adrenalin itu terkuras. Detak jantungku melambat dan seluruh energi terkuras habis. Aku menatap Kise yang sedang menatap foto-foto per lembar soal try out. Kise belum mengatakan apapun sejak pencurian itu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Aku bisa mendengar suaraku bergetar.
Kise tidak memandangku. Dia hanya terus menatap meja belajarku. "Kita selesaikan tugas ini. Tidak ada jalan kembali, ingat?"
Aku ingat, karena aku yang mengatakannya. Aku menarik napas yang terasa tersendat. Rasanya agak sulit bernapas di kamar sendiri, akhirnya kubuka jendela kamar dan kubiarkan angin sepoi-sepoi masuk.
"Pokoknya, besok kita harus menghadap lagi orang aneh yang mengaku dirinya Ketua Dewan. Kita serahkan soalnya dan selesai sudah." Aku menghempaskan diriku di kasur. Tubuhku bergoyang ketika Kise ikut merebahkan diri di sebelahku. Sejak kapan dia naik ke tempat tidurku? Entahlah, dia bebas melakukan apapun dan aku tidak akan bisa menghalanginya.
"Kita lupakan tugas konyol itu," kata Kise.
Aku mendengus. "Konyol?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Dan, sedikit bersantai. Bagaimana?"
Kalau Kise melihatku dengan tatapannya yang berbinar, aku tidak akan bisa menolaknya. Tatapannya begitu hidup, begitu memukau. Dia berbeda denganku. Dia selalu bisa melihat segala sesuatu dengan sangat positif. Bersama dengan Kise menenangkan. Aku bisa terus-menerus bersamanya tanpa merasa bosan.
"Oke. Terserah kau."
.
Sulit menjaga detak jantungku agar tetap stabil. Rasanya, setiap langkah yang kuambil semakin dekat dengan sekolah, jantungku menjerit dan meronta untuk keluar dari rongga dadaku. Apa yang sudah terjadi, sudah terjadi. Hari ini kami akan menantikan hasil kerja kami.
Aku bertemu Kise di kelas dan kami tidak membahas apapun mengenai apa yang kami lakukan kemarin. Aku terlalu takut jika membuka mulut, akan ada yang mendengarnya dan menghukum kami. Rencana kami akan berantakan. Jadi, kututup mulutku rapat-rapat.
Namun, Kise mencolekku dan dia terseyum seperti orang yang tidak punya beban. Aku menatapnya tidak mengerti.
"Apa?" tanyaku.
"Santai saja Kurokocchi. Kau terlalu tegang," bisiknya.
Aku bernapas dengan gemetar. "Yah, aku bisa apa memangnya?" bisikku.
Sepulang sekolah, setelah memastikan para siswa sudah pulang dan sekolah tidak lagi seramai sebelumnya, aku dan Kise pergi ke Gedung Yayasan. Tidak ada yang mengikuti kami, tapi aku merasa ada bayang-bayang mata di kegelapan yang terus mengikuti punggungku. Bayangan yang tidak akan membiarkanku sendirian.
Kami masih hapal jalan menuju Ruang Ketua Dewan. Jalan itu akan terus terpatri di dalam otakku untuk seterusnya. Jalan menuju Ruang Ketua Dewan adalah mimpi burukku di sepanjang waktu. Ralat, mimpi buruk kami berdua.
Kise-lah yang membuka pintu ruangan tersebut. Di dalamnya, orang yang kemarin duduk dengan tenang dan bersahaja. "Kise-kun dan Kuroko-kun. Aku menduga kalian akan datang sepulang sekolah. Yah, memang kalau pulang sekolah kita bisa bicara banyak hal. Jadi, apa kabar kalian berdua?" dia bertanya ramah.
Basa basi seperti ini membuatku tidak nyaman. Aku berdiri seolah tidak ada tanah tempat berpijak. Di saat seperti ini, aku iri dengan kepercayaan diri Kise untuk tetap tenang. Aku butuh sebagian bakat itu.
"Duduklah kalian berdua."
Kami menurut bagai anjing.
"Jadi, apa kabar?" tanyanya dengan suara yang begitu lembut dan ramah. Dia terlihat seperti orang yang tidak punya musuh. Profil yang terlalu sempurna. Orang yang mengerikan, itulah instingku.
"Kami sudah melakukan tugas yang Anda berikan," kataku dalam satu tarikan napas. Jika dia meminta kami untuk meladeni basa-basinya lebih dari ini aku bisa membakar diriku sendiri.
"Kuroko-kun, santai sedikit. Aku tahu kalian berdua akan berhasil. Kalian memang sudah sempurna," katanya.
Aku benar-benar ingin menyiram diriku dengan bensin dan membiarkanku terbakar.
Kise menyelamatkan keadaan. "Apa boleh buat, kami masih sedikit kaget dan bingung dengan situasi di sini. Tapi, kami membawa soal tersebut."
Kise mengeluarkan soal try out yang tidak ingin kulihat sedari kemarin. Kemarin malam, foto-foto itu kami print. Karena tidak kuat melihatnya, Kise yang akhirnya membawa soal itu. Dia menanggung hal yang tidak sanggup aku tanggung.
Ketua Dewan bertepuk tangan dua kali. Bukan tepukan apresiasi, tapi untuk mengurangi ketegangan di ruangan tersebut. Aku menarik napas dan menghembuskannya. "Sempurna, kalian sempurna. Penyelesaian masalah yang hebat dan bahkan tidak disadari oleh siapapun. Mengagumkan."
Aku tidak bergetar mendengar pujiannya. Aku tidak merasa senang mendengarnya. Seluruh instingku masih menjeritkan diriku agar aku kabur dari ruangan itu. Meninggalkan segalanya. Namun, aku mematikan seluruh akal sehatku. Seperti kataku kemarin, kami sudah tidak bisa kembali lagi.
"Selama ini, OSIS-ku telah berkembang dengan pesat. Namun, selama ini pula aku merasa kesulitan mendapatkan pemimpin yang mumpuni. Aku terus berusaha mencari dan meyakini para siswa, tapi kurasa tanggung jawab itu terlalu berat, sehingga tidak ada yang sanggup. Ketua OSIS yang terakhir, cukup berguna, meskipun masih banyak kekurangan. Inilah yang ingin aku diskusikan dengan kalian berdua."
Seluruh instingku meneriakkan bahaya. Namun, Kise tidak bergeming. Jadi, aku tetap di tempatku dan pura-pura tuli.
Kedua bola matanya bergulir dengan stabil antara aku dan Kise. Aku melirik Kise dan tatapan kami bertemu. Tatapan Kise meneduhkan, membuatku yakin kami akan baik-baik saja selama berdua.
"Aku akan menawari kalian posisi sebagai Ketua OSIS. Bagaimana? Aku tahu profilku tidak pernah salah."
Apa katanya? Apa dia sudah gila?
"Anda pasti bercanda," kataku tanpa bisa dikontrol.
"Kenapa aku harus bercanda?" dia menatapku. Pandangannya teduh, tetapi berbilah setajam es. Tatapannya menusuk jantungku.
"Karena apa yang Anda katakan tampak tidak masuk akal. Mana mungkin menyerahkan posisi sepenting itu pada anak baru masuk," ujarku.
"Aku paham poinmu, Kuroko-kun. Kalau begitu, bagaimana kalau kalian mencoba bergabung dan kau akan bisa menentukan. Aku tidak akan memaksamu jika kau ingin mundur sekarang atau jika kau merasa tidak cocok. Semua bebas, tergantung keinginanmu."
Hal yang paling aku benci. Seolah kami diberi pilihan, tetapi sebenarnya kami dibimbing menuju keinginannya.
"Oke. Kurasa itu tidak buruk." Kise yang menjawab itu.
"Kau setuju? Begitu saja?" tanyaku tidak percaya.
Kise menatapku. "Pria ini sendiri yang bilang kita bisa keluar kapan saja. Jadi, ini sama seperti free trial Youtube. Tidak ada salahnya dicoba. Iya kan, Kurokocchi?" retoriknya.
Aku tidak menjawabnya. Tidak ada gunanya berdebat dengan Kise saat ini. Kami hanya akan jadi tontonan konyol di Ketua Dewan. Akhirnya, aku mengangguk.
Dia bertepuk tangan lagi. "Bagus. Bagus sekali. Aku menghargai keputusan kalian berdua. Jadi, kalau kalian berkenan, besok sepulang sekolah, datanglah ke Lab Bahasa di lantai 4. Di sana, kalian akan bertemu dengan seseorang. Nah, semoga kita bisa bekerja sama ya."
.
Di Lab Bahasa ada satu orang lelaki yang telah menunggu kami. Dia sepertinya blasteran, karena wajahnya begitu khas dari Ras Kaukasian. Rambutnya pirang dan dia tinggi besar. Matanya sedingin es batu. Dia tidak tersenyum ketika menatap kami berdua.
"Kuroko Tetsuya dan Kise Ryouta," katanya sambil menyebut nama kami perlahan-lahan. Di luar dugaan, dia fasih berbahasa Jepang. "Dua orang. Ini pertama kalinya."
"Kau bisa menganggap kami satu orang," kata Kise. Lagi-lagi, dia bisa dengan cepat beradaptasi. Sementara aku masih luar biasa bimbang dan terdisorientasi. Lagi-lagi, Kise menyelamatkan keadaan. "Kami selalu bekerja berdua."
"Oh, itu menarik sekali. Orang itu selalu membuat gebrakan baru, tetapi aku menantikan hasil kerja kalian."
"Kau siapa?" tanyaku akhirnya.
Kedua bola matanya bergulir untuk menatapku. "Aku Nash Gold Jr. Ketua OSIS Belakang sementara hingga ada yang cukup gila untuk mengisi kursi terkutuk itu."
Bukan sambutan yang menyenangkan.
"Terima kasih atas sambutannya," kata Kise. "Jadi, apa yang harus kami lakukan? Mencuri soal lagi?" tanyanya santai.
"Mungkin kau cukup gila untuk duduk di kursi ini. Tapi yah, kita lihat saja nanti."
Mungkin memang benar, aku sudah cukup gila.
.
Dan begitulah, aku dinaikkan sebagai Ketua OSIS Belakang. Begitu saja. Aku duduk di kursi terkutuk itu, sementara Nash Gold di sampingku sebagai wakil, dan Kise selalu menjadi bagian dari bayanganku, melengkapi aku. Kami berdua adalah Ketua OSIS Belakang, hal yang tidak pernah terjadi. Hanya kami bertiga dan Ketua Dewan yang tahu kenyataan ini. Namun, masalah tidak selesai sampai di situ.
Menjadi Ketua OSIS Belakang berarti menanggung semua tanggung jawab dari para anggota serta pertanggung jawaban kepada Ketua Dewan. Itu adalah pekerjaan yang berat. Belum lagi, aku harus menerima berbagai jenis permintaan aneh dan tidak masuk akal dari Ketua Dewan. Jika aku sedang kewalahan dengan berkas, biasanya Kise mengerjakannya sendiri.
Dia tidak keberatan, meskipun aku selalu tidak enak hati padanya. Dia bilang, dia senang bekerja denganku, meskipun belakangan ini aku memerintahnya seperti memerintah sapi perah. Hanya saja, semua orang tahu bahwa aku yang selalu mengerjakan tugas-tugas itu sendirian. Aku ingin menyangkal mereka, bahwa sebenarnya Kise-lah yang pantas duduk di sini. Bukan aku. Namun, Kise selalu bilang dia sudah puas melihatku berada di depannya, memimpin banyak orang.
Jika itu soal Kise, aku tidak bisa mendebatnya.
Satu semester berlalu begitu saja. Lambat laun, kami berdua mulai terbiasa dengan dinamika ini. Aku mulai terbiasa duduk di Kursi Ketua OSIS Belakang. Para anggota mulai terbiasa denganku. Meskipun Dewan Pengurus Harian masih merupakan kakak kelas, tapi mereka tetap menghormatiku, sehingga aku tidak terlalu repot mengatur mereka. Kupikir semua baik-baik saja. Kupikir hidupku akan baik-baik saja. Namun, semesta selalu melarangku untuk berbahagia.
Semuanya hancur berantakan karena kejadian itu.
Kejadian terkutuk itu!
.
To Be Continued
A/N: Ahaha! Maafkan saya yang lama update, nyaris satu tahun. Yah, banyak hal di dunia nyata yang terjadi dan saya menjadi sibuk. Tapi, things cooling down now, jadi saya punya waktu lagi untuk menulis.
Regards,
Sigung-chan
