UNDEFINED
Chapter 15: Itu Bukan Pembenaran
Sejauh yang aku ingat, aku seharusnya tidak pernah lahir di dunia ini.
"JANGAN MENGHALANGI JALAN! DASAR ANAK SIAL!"
Aku bergeser ke sudut ruangan, tempat dimana aku bisa bersatu dengan bayangan dan menghilang dari penglihatan kedua orangtuaku. Di sana, aku merasa nyaman dan kegelapan adalah teman yang setia.
"Urus dulu anakmu!"
"Anakku? ITU JUGA ANAKMU!" jerit Ibuku.
"KALAU TIDAK MAU MENGURUSNYA, JANGAN KAU LAHIRKAN!" Ayahku balas membentak.
"KAU PIKIR KESALAHAN SIAPA? TERUS SAJA MENYALAHKAN PEREMPUAN!"
"SUNDAL KAU!"
Kalau bisa, aku ingin sekali bersatu dengan tembok, sehingga aku benar-benar menghilang dari pandangan mereka. Sayangnya, bayangan tidak bisa memelukku lebih lama. Aku dilempari sepatu oleh Ayah karena duduk di ujung ruangan sambil berusaha tampak tidak terlihat. "Jangan malas-malasan kau! Dasar beban! Pergi dari sini!" usirnya.
Aku merangkak keluar dari bayang-bayang dan keluar rumah setelah. Lalu, pintu dibanting di depan mukaku. Aku tahu bahwa aku dilarang masuk ke rumah sampai waktunya mereka pulang kerja. Aku harus mencari kegiatan untuk menghabiskan waktuku, sementara kedua orangtuaku belum juga mendaftarkanku untuk masuk sekolah.
Apartment tempatku tinggal bersama kedua orangtuaku kecil dan mereka tidak mau repot-repot pindah ke tempat yang lebih besar atau setidaknya memiliki dua buah kamar. Aku adalah anak yang tidak seharusnya lahir ke dunia ini, tapi Ibuku melahirkanku karena kesalahannya di masa muda. Aku menghancurkan kedua Impian orangtuaku. Kini, mereka terpaksa tinggal di sebuah apartment kecil dan mengubur mimpi-mimpi mereka.
Aku berjalan tanpa arah. Kadang, aku bermain di taman dekat apartment. Di jam-jam sekolah, taman kosong, sehingga aku bisa menguasainya sendiri. Aku bermain pasir, menaiki jungkat-jungkit, bermain ayunan dan perosotan. Aku melakukannya terus hingga aku bosan. Aku tidak bisa pulang minta makan, karena apartment pasti dikunci oleh Ibu dan Ayah. Mereka tidak akan membiarkanku masuk ke rumah, lagipula tidak pernah ada makanan di rumah.
Ibu tidak pernah memasak di rumah, lalu Ayah akan mengamuk dan berteriak-teriak dan melempar barang. Mereka akan menghabiskan energi mereka untuk bertengkar, lalu setelah itu mencari makan sendiri-sendiri. Terkadang, aku dibelikan onigiri atau bento. Jika kelakuanku baik dan aku berhasil membuat mereka tidak memukulku selama seminggu, aku bisa makan daging. Kalau Ayah baru menang judi, Ibu biasa mencuri uangnya sedikit untuk makan dan membelikanku makanan. Jika ketahuan, Ayah akan mengamuk, tapi Ibu juga akan melempar botol kaca ke arah Ayah.
Hari itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang jalan menuju Sungai dan jembatan. Sungai itu memiliki aliran yang cukup deras dan sering dijadikan area untuk bunuh diri. Terkadang, aku menyaksikan seseorang meloncat untuk mengakhiri hidupnya. Aku tidak pernah berkesempatan bertanya kepada mereka mengapa ingin bunuh diri? Apakah bunuh diri menyakitkan? Jika aku meloncat, apakah tubuhku akan menghantam bebatuan atau kepalaku dulu?
Aku berjalan menuju jembatan. Di sana, aku bisa mendengar suara arus Sungai yang sangat deras dan terkadang pecah ketika menghantam bebatuan besar. Suara air yang keras memekakan kedua telingaku dan aku tergoda sekali untuk melompat. Kalau aku mati, Ayah dan Ibu tidak akan bertengkar lagi. Mereka tidak punya alasan untuk tetap tinggal bersama, melontarkan caci maki kepada satu sama lain dan tidak ada lagi kesedihan. Mereka mungkin tidak akan mencariku juga, karena pada dasarnya aku memang tidak seharusnya lahir dan hidup di dunia.
Jadi, aku mulai memanjat supaya aku bisa melihat aliran deras Sungai.
Kalau aku mati, semua akan baik-baik saja. Dunia masih berjalan, Ayah dan Ibu bisa menjalani hidup mereka masing-masing dan pada akhirnya semua orang akan bahagia.
"Bunuh diri di siang bolong adalah tindakan paling konyol, nanodayo."
Kalau aku mati, aku tidak akan pernah bertemu denganmu.
.
Seluruh kepalaku berdentum-dentum dan tubuhku lemas. Aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan aku ingin sekali berlari pergi dari sekolah detik itu juga. Di otakku berputar-putar adegan pot bunga yang jatuh hampir menghantam kepalaku dan informasi yang kudapatkan bahwa kemarin sore Takao mengalami tabrak lari oleh pengendara motor.
Aku membayangkan tubuh Takao yang tidak berdaya setelah tertabrak motor dan dia harus dibawa ke rumah sakit. Aku membayangkan darah yang mengucur keluar dari tubuhnya, mungkin ada beberapa tulang yang patah, aku membayangkan dia menghantam kepalaku dengan pot bunga, dia memukul kepalaku dengan tongkal baseball dan mendorongku jatuh dari tangga. Takao yang berusaha mengancamku karena dia sudah tahu identitas asliku.
Apakah itu karma? Apakah pada akhirnya dia dihukum oleh alam karena berusaha menyakiti bahkan mencoba membunuhku? Ketika aku memikirkan kemungkinan hal itu, sebuah rasa senang dan puas menjalar di hatiku. Aku merasa sangat puas karena akhirnya Takao mendapatkan ganjaran yang sesuai. Akhirnya, salah satu musuhku berkurang tanpa aku perlu repot-repot melakukannya.
Namun, benarkah karma datang segampang itu? Benarkah itu balasan dari alam? Apakah alam sepeduli itu padaku, sehingga Takao secara mendadak dan kebetulan tertabrak motor?
Aku punya banyak permainan untukmu, Akashi Seijuurou.
Aku bisa mendengar suara mekanik itu berbisik di telingaku. Ketua Dewan gila yang beroperasi seperti Tuhan di sekolah ini. Atau kecelakaan itu bukan campur tangan alam, melainkan sesuatu yang lebih kejam dan tidak berperasaan, misalnya Ketua Dewan. Dia selalu tahu apa yang terjadi di sekolah, termasuk percakapanku dengan Takao di toilet pria. Lebih aman mengasumsikan bahwa dia telah mengetahui segalanya.
Ketua Dewan adalah ular berbisa yang sangat licik. Dia pasti tahu bahwa ancaman dari Takao tidak berguna untukku dan setelah percobaan pembunuhan Takao gagal, Ketua Dewan memutuskan tidak ada gunanya lagi Takao. Kini, dialah yang akan disingkirkan. Pemikiran itu jauh lebih masuk akal dibandingkan karma dari alam. Ketua Dewan memiliki banyak pion dan boneka untuk dimainkan. Dia bisa dengan mudah menyingkirkan semua faktor-faktor yang merugikannya. Namun, aku di sisi lain, hanya punya diri sendiri dan tidak punya pion untuk digerakkan.
Aku adalah pion diriku sendiri dan permainan pikiran antaraku dan Ketua Dewan sangat melelahkan. Kadang aku merasa bahwa target Ketua Dewan bukanlah menghancurkanku secara fisik, tetapi secara mental. Dia ingin menggerogotiku perlahan-lahan dan menekankan bahwa dialah penguasanya. Bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan tidak ada gunanya mengorek kebenaran darinya. Karena pada akhirnya, dia akan selalu menang. Aku mual memikirkan kemungkinan itu.
Pelajaran selesai dan kedua temanku mengajakku makan siang seperti biasa. Aku setengah tidak sadar apa saja yang terjadi dan hanya mengikuti setengah percakapan mereka. Aku ingin pergi dari basa-basi ini dan berlari menjauh. Aku ingin sendirian. Namun, aku tidak mau sendirian juga di waktu bersamaan. Aku bisa tenggelam dalam berbagai pikiran dan hipotesis dan itu sudah cukup buruk untukku. Jika aku bersama orang lain, aku seperti memiliki jangkar bahwa aku belum gila dan bahwa aku masih siswa normal yang berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.
"Aku mau beli air minum dingin," kataku, "apa kalian mau menitip?" tanyaku. Ogiwara mengangkat tangannya dan Kise menggeleng. Aku bangkit dari tempatku dan menuju Ibu Kantin untuk membeli 2 botol air mineral dingin.
Ketika aku menunggu uang kembalian, kepalaku ditepuk pelan.
"Yo Tetsu."
Aku mendongak. "Aomine," kataku. Aku menatap sekeliling. "Tidak bersama Momoi?"
"Satsuki masih ada urusan di perpustakaan," katanya. Dia melihat ke arah tempat dudukku. "Tumben kau belanja di kantin."
"Aku sedang ingin ganti suasana." Ibu kantin menyerahkan uang kembalian dan aku berterima kasih. "Kau mau bergabung dengan kami?" tawarku. Aku tidak tahu apa yang membuatku mengatakan hal itu pada Aomine. Aku hanya tahu bahwa saat ini otakku dan mulutku tidak sinkron. Begitu aku mengatakannya, Aomine tampak bingung dan aku ingin menarik kembali kata-kataku. Namun, karena hal itu tidak mungkin, akhirnya aku menambahkan, "kalau kau mau."
Aku mengantongi uang kembalian dan membawa dua air mineral dingin. Aomine tampak menimbang. Aku berharap dia mengiyakan, karena setidaknya akan ada orang lain di meja kami dan seseorang yang mungkin bisa kuajak bicara. Namun, aku juga sedikit berharap dia menolak. Kurasa aku sedikit kelewatan. Aku adalah 'Kuroko Tetsuya' dan apakah biasanya dia mengajak Aomine makan bersama? Entahlah.
"Tidak terima kasih," katanya. "Aku mau kembali ke lapangan basket saja." Lalu, dia berjalan menjauh. Aku tidak menghentikannya. Aku kembali ke meja kami dan memberikan satu botol kepada Ogiwara. Aku membuka botol minumku sendiri dan aku menyadari betapa hausnya diriku kerika air dingin membasuh seluruh kerongkonganku.
"Sejak kapan kau dekat dengan Aomine?" tanya Ogiwara.
Aku membuka mulutku, tapi tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya aku menutupnya lagi dan mengangkat bahu. "Tidak kok," ujarku.
"Yeah benar. Mana ada orang tidak dekat menepuk-nepuk kepalamu seperti itu."
Wajahku panas dingin ketika Ogiwara mengatakan hal itu. Apalagi ketika Ogiwara menyenggol Kise dan berkata, "apa kau cemburu?"
Namun, Kise hanya menampilkan wajah cengengesannya yang biasa. "Ogiwaracchi, kalau kau membatasi pertemanan Kurokocchi, nanti dia tidak punya teman ssu."
Aku menarik napas perlahan. Untunglah Kise tidak tampak terganggu dengan interaksi singkat antara 'Kuroko' dan Aomine.
"Cih, tidak seru," dengus Ogiwara.
"Jangan terlalu berharap dapat gossip, Ogiwara-kun," kataku.
Ogiwara menopang dagunya dan menatap kami berdua. "Kalian pasangan paling membosankan."
Aku menikmati sisa makan siang kali itu dengan obrolan ringan dari Ogiwara dan Kise. Kise mengeluhkan betapa sibuknya dia dengan jadwal modelling yang semakin padat dan mungkin bisa izin beberapa hari dari sekolah.
"Kau tahu, lebih mudah kalau kau home-schooling. Kenapa tidak memilih home-schooling?" tanya Ogiwara.
"Karena aku bisa bosan di rumah terus. Berinteraksi seperti ini lebih seru daripada di rumah ssu."
"Kau memang extrovert sejati."
Kise tertawa renyah. Kadang, aku iri sekali dengan Ogiwara dan Kise. Mereka bisa bercanda dan tertawa tanpa beban. Mereka tidak dipusingkan dengan percobaan bunuh diri, percobaan pembunuhan dan fakta bahwa SMA ini dikuasai oleh seorang Dewan gila yang suka memanipulasi siswa-siswa.
Ketika istirahat telah berakhir, kami kembali ke kelas dan aku kembali tenggelam dalam pikiranku sendiri. Takao sedang ada di rumah sakit. Kemungkinan kecelakaan itu diatur oleh Ketua Dewan nyaris 100% dan lebih baik mengasumsikan bahwa semua yang terjadi akibat campur tangan Ketua Dewan sampai terbukti tidak.
Aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit pulang sekolah ini untuk melihat kondisi Takao. Mungkin aku bisa bertanya satu dua hal, misalnya mengenai si pengendara motor yang menabraknya di siang bolong. Ya, tidak ada salahnya melihat Takao di rumah sakit. Dia tidak akan bisa melakukan apapun padaku.
.
Bertemu denganmu adalah takdir yang telah tertulis di antara kita. Aku meyakini itu sepenuh hati. Kau dengan kacamata besarmu, dengan potongan rambut anehmu dan pakaianmu yang terlalu rapi, datang bicara padaku seolah aku ini penting. Kau adalah orang pertama yang memperlakukanku selayaknya manusia, bukan hama atau sampah yang tidak bisa didaur ulang.
"Aksenmu aneh." Itu adalah kata-kata pertamaku padamu. Kau terlihat salah tingkah dan memalingkan wajah. Namun, aku mengurungkan niat untuk meloncat dari jembatan dan bunuh diri.
"Bunuh diri di siang bolong lebih aneh lagi… nanodayo."
Aksenmu memang aneh, tapi aku menyukainya. Itu adalah aksen yang kau pakai saat kau menyelamatkanku.
Aku menggeleng. "Aku tidak mau bunuh diri."
"Lalu untuk apa memanjat pagar jembatan? Sudah jelas-jelas tertulis bahwa arus Sungai bahaya."
"Aku hanya penasaran saja. Kau sendiri kenapa membawa celengan babi?"
"I-Ini luckyitem, nanodayo!"
Kau memang orang aneh, itulah yang aku yakini. Namun, aku pun sama anehnya. Tidak ada anak berusia 7 tahun berusaha bunuh diri di siang bolong. Sudah kuduga, kita berdua memang ditakdirkan untuk menemukan satu sama lain.
"Aku Takao Kazunari," kataku sambil mengulurkan tangan.
"Shintarou Midorima."
.
Kakiku berat ketika melangkah ke arah resepsionis untuk menanyakan pasien atas nama Takao Kazunari. Sejak aku datang ke Tokyo, hidupku selalu terikat dengan rumah sakit, entah itu Tetsuya, Ogiwara, bahkan Takao. Aku sudah sangat muak dengan rumah sakit, tapi aku tetap berjalan menuju ruang tunggu operasi.
Kakiku berhenti bergerak ketika aku melihat sesosok orang yang sangat familiar sedang duduk sendiri. Bahunya membungkuk dan dia menautkan ke-10 jari-jarinya, persis seperti orang yang sedang berdoa. Midorima telah datang. Rambutnya yang sewarna rumput laut tua jatuh lemas menutupi setengah wajahnya. Dia tampak sangat serius berdoa dan juga sangat khawatir. Aku teringat pada kejadian Tetsuya, betapa aku berharap aku bisa mendampinginya di dalam ruang operasi. Aku pun sama seperti Midorima saat ini, hanya bisa berdoa dan menunggu dengan cemas.
"Midorima," panggilku pelan. Dia tidak bergeming, hanya bahunya saja tampak bergerak sedikit. Aku duduk di sampingnya.
"Dia sudah 2 jam di dalam ruang operasi," kata Midorima. "Kata dokter ada perdarahan di otak dan patah tulang. Baru bisa dioperasi karena kondisinya baru stabil."
Aku diam mendengarkannya. Aku tahu, tidak ada satu pun kata penghiburan yang mampu mencapainya saat ini. Saat ini pikirannya sedang berada jauh di awang-awang, di antara berbagai kemungkinan dan aku tahu bahwa itu adalah waktu-waktu yang paling menyiksa. Aku tahu karena aku pernah mengalaminya. Aku tidak ingin mendengar penghiburan apapun karena aku tahu itu semua omong kosong. Hanya orang yang pahamlah yang tidak akan menghiburku.
"Kenapa kau di sini?" tanya Midorima. Untuk pertama kalinya, dia mengangkat kepalanya dan menatapku. Meskipun tatapan matanya tajam, tapi aku bisa melihat dengan jelas kilat-kilat kekhawatiran itu dan sudut-sudut matanya yang memerah dan bengkak. Tampaknya Midorima kurang tidur dan juga menangis.
"Aku mendengar kabar dari teman sekelas kalian," jawabku. "Dan aku ingin memastikan Takao dan kau baik-baik saja."
Midorima mengernyit. "Kenapa kau ke kelas kami?"
"Aku mau bertemu dengan Takao."
Midorima menghela napas. Dia melepaskan kacamatanya dan mengusap wajahnya. Lalu, dia memakai lagi kacamatanya. "Apa aku boleh mengajukan sebuah permintaan?" tanyanya. Aku diam mendengarkan. "Jangan libatkan Takao." Midorima menggeleng. "Dia tidak cocok dengan semua pekerjaan ini. Dia hanya senang mengikutiku saja, tapi aku tahu bahwa dia tidak tertarik dengan kegiatan kita. Tolong, jangan melibatkannya."
Aku kehilangan kata-kata. Takao Kazunari harus melihat bagaimana kondisi Midorima saat ini. Kacau, awut-awutan, berantakan, penuh dengan kecemasan, serta berusaha melindungi Takao dengan cara yang dia bisa. Aku meralat kata-kataku. Rupanya semua kecemasan Takao itu tidak berdasar. Perasaan Midorima sama besarnya dengan perasaan Takao. Seandainya Takao bisa melihat itu semua, tragedi ini mungkin tidak akan terjadi. Mungkin mereka masih akan baik-baik saja.
Lampu di atas ruang operasi mati dan tak berselang lama, seorang dokter bedah saraf keluar dari dalam ruangan tersebut. Kami berdua bangun.
"Keluarga Kazunari-kun?" tanyanya bingung. Karena yang menunggu hanya dua anak SMA.
"Takao tinggal bersama paman dan bibinya. Mereka sedang ada di luar negeri. Saya tetangga dan sahabatnya," kata Midorima.
Si dokter bedah mengangguk. "Operasi perdarahan di otaknya berhasil. Kami tinggal menunggu pasien bangun. Untuk sementara pasien akan ditaruh di ICU sampai kondisinya stabil. Supaya bisa operasi kakinya."
Aku dan Midorima membungkuk. "Terima kasih banyak sensei."
Barulah, Midorima terduduk lemas dan semua raut rentannya terlihat jelas. Dia tampak lebih manusiawi jika menyangkut Takao.
"Syukurlah operasinya berjalan lancar," kataku. Midorima mengangguk. Setelah menarik napas dan membuangnya beberapa kali, Midorima tampaknya sudah mengumpulkan energinya dan dia duduk tegak.
"Kuroko, maukah kau menemaniku membeli minuman?" tanyanya.
Aku mengangguk. Meskipun aku datang untuk melihat kondisi Takao dan bertanya padanya, kalau kondisinya baru selesai operasi otak dan berada di ICU itu percuma. Aku tidak akan mendapatkan hasil apapun. Ada baiknya aku menemani Midorima. Akhirnya kami menuju kantin RS dan membeli minuman dingin dari vending machine. Aku mengambil soda dan Midorima mengambil ocha hangat (pilihan yang aneh, tapi aku tidak mengatakan apapun).
Lalu, kami duduk bersisian di bangku taman rumah sakit. Aku membuka sodaku dan meneguknya. Rasa soda dan manis membasahi kerongkonganku dan aku menikmati angin sepoi-sepoi di akhir musim panas.
"Kau tahu, sebelum Takao kecelakaan, dia sempat mengirimiku pesan. Aku mau kau membaca pesannya," kata Midorima.
Aku tidak berpikir aneh-aneh ketika Midorima mengatakan hal itu. Mungkin aku terlalu lega dan lelah, hingga akhirnya ketika Midorima menyerahkan ponselnya dan aku membaca pesan itu. Ponsel Midorima hampir meluncur dari tanganku.
[Kuroko Tetsuya bukan Kuroko! Nama aslinya Akashi Seijuurou! Dia penipu!]
Tanganku lemas dan aku memejamkan mata berkali-kali, berharap kalau semua ini mimpi. Rupanya, Takao masih sempat melaporkanku pada Midorima mengenai identitasku. Aku kembali teringat seringainya yang kejam di toilet dan untuk sesaat aku berharap dia mati di ICU.
Midorima mengambil ponselnya dari tanganku yang tidak bergerak. Aku mengepalkan tanganku supaya dia tidak melihat aku sedang bergetar. Semua yang kutakutkan akhirnya terjadi. Aku sudah berkali-kali melakukan simulasi di dalam otakku mengenai apa yang akan aku katakan jika Midorima akhirnya tahu bahwa aku bukanlah Tetsuya. Namun, semua simulai itu menguap tanpa sisa.
Aku mengumpulkan keberanianku untuk menatapnya. Tidak ada lagi yang harus ditutupi. Tekadku sudah bulat dan apapun yang terjadi, aku akan tetap bertahan di SMA Teikou untuk mengetahui apa yang terjadi pada Tetsuya.
"Aku melakukan pencarian dan ternyata Kuroko memang memiliki saudara kembar. Hanya saja, saudara kembarnya tinggal di Kyoto dan bersekolah di Rakuzan. Jadi, aku mencoba menelepon SMA Rakuzan dan menanyakan tentang Akashi Seijuurou. Yang mengejutkan adalah bahwa Akashi Seijuurou telah pindah sekolah mendadak di pertengahan semester. Ketika aku mencari nama Akashi Seijuurou di semua sekolah di Tokyo, anehnya dia tidak terdaftar dimanapun. Seolah dia menghilang begitu saja."
Aku memejamkan mata. Semuanya sudah tidak bisa disangkal lagi, karena Midorima mencari bukti konkretnya. Aku hanya mendengarkan suaranya yang kadang hilang timbul di pendengaranku. "Kemarin sore, setelah Takao tertabrak lari, kondisinya tidak bisa langsung di operasi. Akhirnya dokter memindahkannya ke ICU sampai perbaikan keadaan umum dan layak di operasi. Kau tahu siapa yang aku lihat di ICU?"
"Kau melihat Tetsuya," kataku pelan. Kenapa aku bisa lupa kalau Tetsuya pun masih berada di rumah sakit ini, tergeletak tidak berdaya.
Midorima mengangguk. "Kuroko Tetsuya, kata perawat. Aku kaget karena kalian berdua memang sangat mirip."
Aku meneguk sodaku karena hanya itu yang bisa kulakukan. "Aku Akashi Seijuurou, kakak Tetsuya. Aku tahu bahwa penyamaran seperti ini suatu saat pasti akan ketahuan, tapi aku tidak melakukannya hanya demi keisengan semata."
"Kau mau tahu apa yang terjadi pada Kuroko," kata Midorima.
"Iya. Aku mau tahu apa yang menyebabkan adikku nekad bunuh diri. Aku sudah bertanya-tanya sendiri dan berusaha menyelidiki sendiri tapi aku tidak menemukan apapun. Jadi, aku tidak peduli kalau kau mau menyebarkan identitasku kepada satu sekolah, aku pasti akan tetap menemukan kebenarannya!"
Midorima menghela napas. "Aku tidak ada bilang bahwa aku akan menyebarkannya ke sekolah," katanya.
"Tapi Takao mengatakannya padamu."
Midorima meminum ocha-nya. "Dia kadang bertindak bodoh, tapi dia bukan orang jahat."
Aku hampir tertawa sinis. Benar sekali! Dia hanya berusaha membunuhku beberapa kali. Sama sekali bukan orang jahat!
Midorima melirikku dan menyadari bahwa ekspresiku sama sekali tidak bersahabat. "Takao dan keluarganya… dia rumit. Ayah dan Ibunya berada dalam pernikahan yang tidak bahagia dan itu mempengaruhi fisik serta mentalnya. Ketika aku bertemu dengannya pertama kali, dia berusaha bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan. Ayah dan Ibunya tidak berusaha menyekolahkannya dan menelantarkannya, sampai dinas sosial datang. Dia membawa Takao untuk diurus oleh kerabat jauh Ibunya. Mereka tidak sempurna, tapi setidaknya mereka memperlakukan Takao dengan cara lebih baik dari kedua orang tuanya. Karena itu, Takao sedikit sensitif mengenai hubungan antar-manusia."
"Dan kau terus bersama Takao sepanjang waktu?" tanyaku.
Midorima mengangguk. "Aku tahu sifatnya. Selama aku bersamanya, dia beberapa kali mencoba menyakiti beberapa teman sekelasku di SMP karena Takao merasa dia merebutku darinya. Dan, aku tahu Takao sudah melakukan beberapa hal padamu."
Aku tidak percaya ini. Aku kehilangan kata-kata setelah Midorima bercerita panjang lebar. Aku tidak bisa merasa simpati pada Takao, karena semua yang dikatakan oleh Midorima hanyalah pembenaran dari semua tindakan Takao.
"Aku bisa mati saat itu," bisikku. Aku yakin Midorima mendengarku. "Bagaimana kau masih bisa membela orang seperti itu!" bentakku. Aku bangkit dari bangku. Kepalaku semakin berdentum-dentum. Aku ingin berteriak frustasi dan aku ingin berlari menuju ICU untuk mencekik Takao dengan tanganku sendiri.
"Aku tahu," kata Midorima sambil ikut bangkit. Aku masih tidak sanggup menatapnya. Rasanya menyakitkan, karena selama ini aku percaya pada Midorima. Selama ini aku merasa Midorima adalah orang yang paling baik dan paling menjunjung tinggi kebenaran. Namun, rupanya dia sama gilanya dengan Takao.
"Bukan kau yang dipukul dengan tongkat baseball, didorong jatuh dari tangga dan hampir tertimpa pot bunga!" Aku berusaha keras untuk tidak berteriak di sini. Ada beberapa pasien dan perawat yang sedang berjalan-jalan. "Jadi hidupnya sudah, lalu dia bisa seenaknya menyakiti orang seperti itu? Kau pikir hidup orang lain tidak susah?" Aku meradang.
"Maaf," kata Midorima.
Aku mendengus. "Kau juru bicara Takao sekarang?" tukasku dingin.
"Kuroko dengar–"
"Aku bukan Kuroko!" bentakku.
"Akashi, maaf."
Rasanya sedikit menyenangkan nama asliku dipanggil lagi oleh orang lain. Seolah aku bukan lagi orang palsu atau penipu. Benar, aku adalah Akashi Seijuurou. Namun, aku menekan perasaan itu. Masih banyak yang harus diselesaikan.
Aku menatap Midorima dengan nyalang. "Kenapa Takao berusaha membunuhku? Apa perjanjiannya dengan Ketua Dewan, dan Demi Tuhan, jelaskan semuanya padaku!" seruku tidak tahan lagi. Aku tidak sanggup lagi dengan semua teka-teki ini. Aku bisa gila jika terlalu lama berputar-putar sendirian dalam labirin pikiranku.
Midorima menghembuskan napas, seolah dia akan menghadapi seorang anak TK yang sedang tantrum karena Ibunya lupa membawakan mainan favoritnya. "Oke, aku akan menjelaskan semuanya. Pertama-tama, kau harus tenang dulu, Akashi."
Aku ingin tertawa. Sudah sedari dulu aku berusaha menjaga ketenanganku. Namun, semua orang tampaknya senang mengujiku. Aku kembali duduk di bangku dan meneguk sodaku hingga habis. Bahkan, sekarang aku harus membeli satu botol soda lagi untuk menenangkan diri sendiri. Midorima duduk di sampingku. "Seperti yang aku katakan tadi, dia tidak suka kau dekat denganku atau orang lain dekat denganku. Namun, dia juga tahu bahwa kita–maksudku aku dan Kuroko, sering mendapatkan tugas bersama."
"Jadi dia sudah selalu menyakiti Kuroko dari dulu?"
Midorima menggeleng. "Dia tidak bisa menyentuh Kuroko selama dia menjabat sebagai Ketua OSIS Belakang. Jadi, kurasa dia mengambil kesempatan setelah kasus waktu itu."
Sebuah kalimat membuatku tersentak. "Tunggu, apa?" tanyaku.
"Takao tidak bisa menyakiti Kuroko. Dia menunggu–"
"Bukan, bukan. Tadi kau bilang apa? Kuroko sebagai Ketua OSIS Belakang?"
.
To Be Continued
A/N: Mumpung lagi banyak waktu kosong and mood menulis lagi meningkat, saya akan update sebanyak yang saya bisa. Komentar, kritik, saran semua terbuka tanpa syarat dan ketentuan.
Salam,
Sigung-chan
