Chapter 16: Sekutu Pertama
Kuroko Tetsuya adalah Ketua OSIS Belakang.
Itu fakta mengejutkan yang aku temukan dan kemajuan paling besar setelah selama ini aku berputar-putar sendirian. Aku menyenderkan punggungku dan menatap ke arah kejauhan dan tidak jelas apa yang aku lihat. Entahlah, aku tidak sanggup mendeskripsikan perasaanku. Namun, pikiran yang berceceran itu harus aku satukan supaya aku tidak gila. Aku masih punya tujuan di sini dan aku tidak akan pergi sebelum aku berhasil menemukan jawaban.
"Bukan… Bukankah Nash Gold itu Ketuanya?" tanyaku parau.
"Sebelum Nash Gold menjabat, Kuroko Tetsuya-lah yang memimpin seluruh OSIS Belakang, nanodayo."
"Oh." Hanya itu responku. Aku ingin tertawa miris dengan kebodohan sendiri. Selama ini aku berputar-putar, ternyata faktanya ada di depan mataku. Ternyata, Tetsuya adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Dia memimpin semua kekejaman dari OSIS Belakang. Pantas saja musuhnya begitu banyak. Pantas saja semuanya segan pada 'Kuroko' setiap aku menyinggung masalah OSIS Belakang.
"Jadi, kenapa dia diganti? Kenapa ada kertas bertuliskan 'Kuroko Tetsuya adalah pengkhianat'?"
Kenapa kau bunuh diri?
"Detailnya disembunyikan, bahkan Dewan Harian tidak tahu. Tapi, ada gossip mengatakan bahwa Kuroko mengalami konflik dengan Ketua Dewan dan dia digantikan begitu saja."
"Konflik? Konflik macam apa?" tanyaku semakin frustasi. Tetsuya bukanlah orang yang suka membuat keributan atau masalah, tapi aku juga tidak mengenal siapa Kuroko Tetsuya Si Ketua OSIS Belakang. Jadi, pertanyaan itu cukup adil.
"Itu masalah internal antara Kuroko dan Ketua Dewan, nanodayo. Aku tidak begitu paham pemikiran Kuroko. Dia bekerja dengan caranya sendiri. Mungkin itu awal mula kenapa Ketua Dewan mengangkatnya menjadi Ketua OSIS Belakang. Dan mungkin konflik yang sama juga yang menyebabkan dia digantikan."
Aku mengangguk-anggukan kepalaku pelan. "Dan akhirnya dia dicap pengkhianat dan bunuh diri didepanku." Aku mendengus. "Hebat sekali."
Midorima tidak mengatakan apapun. Aku masih belum bisa menerima fakta lainnya, karena aku masih memproses bahwa Tetsuya adalah kaki-tangan Ketua Dewan sebelum dia membuatnya marah. Aku masih diam saja dan pikiranku melantur kemana-mana, tapi kebanyakan aku memikirkan Tetsuya. Tetsuya di Kyoto dan di Tokyo. Tetsuya di telepon dan Tetsuya di SMA Teikou. Bisakah seseorang memiliki kehidupan lebih dari satu? Apakah Tetsuya tertekan dengan dualisme kehidupannya? Apakah kematian merupakan jalan keluar satu-satunya?
"Apa yang akan kau lakukan dari sekarang, Akashi?" tanya Midorima.
Aku meremas botol sodaku. "Aku akan mencari tahu konflik apa yang terjadi di antara Tetsuya dan Ketua Dewan."
Benar, itu adalah tindakan yang paling tepat. Aku harus tahu sejauh mana Tetsuya terlibat konflik dengan Ketua Dewan, dan aku harus menemukan bukti-bukti yang memberatkannya. Barulah aku bisa menang dalam melawan Ketua Dewan.
"Aku punya pertanyaan," kataku. "Apa kalian pernah bertemu Ketua Dewan? Bukan manekin atau pengubah suara. Namun, secara langsung melihat wajahnya seperti apa."
Midorima menggeleng. "Ketua Dewan sama sekali tidak pernah menampilkan wajahnya di publikS. Sejak SMA Teikou berdiri, tidak pernah satu kali pun. Bahkan, di situs resmi sekolah pun tidak. Tidak ada yang tahu namanya, jenis kelaminnya, usianya, semuanya tertutup rapat. Dia menjaga privasinya dengan ketat."
Aku menggeleng tidak percaya. Benarkah ada orang seperti itu? "Tidakkah itu terlalu mencurigakan? Tidak ada satu pun orang yang pernah bertemu dengannya, melihat wajahnya, atau sekedar namanya. Kenapa dia bisa menjadi Ketua Dewan?"
"Entahlah. Politik internal seperti itu bukan urusan kami." Midorima menyesap ocha-nya. Jadi, ini semua jalan buntu. Aku tidak tahu harus mencari tahu mengenai Ketua Dewan dari mana, apalagi mengalahkannya.
"Tapi dia membuat OSIS Belakang. Kapan tepatnya organisasi ini muncul?" tanyaku.
Midorima menggeleng. "Yang pasti selama Ketua Dewan menjabat. Tugas awalnya hanyalah membereskan masalah-masalah kecil di sekolah. SMA ini adalah SMA yang terpandang, jadi wajar jika citranya harus bagus di depan masyarakat."
Aku mendengus. "Maksudmu berbuat curang seperti mematahkan kaki pemain basket SMA lawan?"
"Kesempurnaan menuntut sebuah bayaran. Kau tahu tidak ada yang bisa didapatkan secara gratis di dunia ini, nanodayo."
"Tapi apapun yang Ketua Dewan lakukan, aku tidak bisa menerimanya! Atas dasar apa dia berhak menyuruh para siswa bunuh diri?" tanyaku dengan suara yang meninggi.
Midorima menggeleng. "Mungkin dalam perkembangannya, tujuan awal OSIS Belakang ini sedikit bergeser. Namun, Ketua Dewan tidak pernah menyuruh secara harfiah. Ini sudah tradisi kami. Aku tidak tahu kapan dimulai, tapi sepertinya para Dewan Harian, selama bertahun-tahun, agaknya terlena dengan kekuasaan yang diberikan. Mereka yang memulai tradisi itu."
Lagi-lagi aku mendapatkan fakta yang menyedihkan dan tampaknya terlalu berat untuk dicerna otakku. Perundungan itu bukanlah campur tangan dari Ketua Dewan, perundungan itu murni dari para siswa superior terhadap siswa inferior. Aku mengepalkan kedua tanganku. Pada akhirnya, sekolah tetaplah sekolah. Sebuah hutan rimba dan miniatur dari lingkup kehidupan sosial di dunia ini. Pada akhirnya, perebutan dominansi akan terus ada.
"Rupanya kalian itu hanya tukang bully," kataku dingin.
Ekspresi Midorima tidak berubah. Dia tidak tampak tersinggung, tidak tampak marah, tidak tampak kaget juga. Ekspresinya datar, seolah dia sudah menduga aku akan mengatakan hal itu.
"Kalian semua sama bersalahnya dengan Ketua Dewan."
"Benar," katanya. "Tapi begitu pula dengan Kuroko." Dia membenarkan kacamatanya. "Jangan sok suci, Akashi. Adikmu adalah Ketua OSIS Belakang. Meskipun dia tampak manis di depanmu, dia tetaplah bagian dari kami. Kau harus mengakui itu."
Ada sebuah bilah pedang panjang yang menusuk dadaku, menembus jantung hingga menancap di punggungku. Bilah yang dingin, tajam, berbisa dan menyakitkan. Aku ingin menentangnya, mengatakan bahwa Kuroko Tetsuya bukanlah orang kejam seperti itu. Dia bahkan tidak tega membunuh semut. Namun, Midorima berbicara tanpa nada tertentu. Dia bicara seolah hanya membicarakan ramalan cuaca pagi ini. Itulah fakta yang diketahuinya. Bahwa, Kuroko Tetsuya hanyalah seorang perundung di sekolah ini. Dia menyaksikan semua kekejaman OSIS Belakang dan melampuhijaukan. Tetsuya pasti tahu mengenai tradisi di antara anggota dan akhirnya, dia termakan oleh lingkaran setannya sendiri. Akhirnya, Tetsuya tergelincir dan dia menjadi orang yang dirundung.
Apakah itu alasanmu bunuh diri, Tetsuya? Karena kau adalah perundung dan kau memaksa banyak orang untuk bunuh diri? Apakah itu caramu menebus dosa?
Aku bisa merasakan soda di dalam lambungku bergolak dan berusaha naik ke kerongkongan bersama asam lambung. Perutku melilit. Topik ini terlalu berat untukku dan ternyata mengetahui kenyataan yang ada tidak membuatku semakin baik. Aku ingin berhenti membicarakan hal ini, tapi aku masih harus tahu banyak hal. Akhirnya, aku memaksakan diri untuk berdiri tetap tegar.
"Apa Tetsuya pernah bertemu dengan Ketua Dewan?" tanyaku, "Atau apa ada yang pernah bertemu dengannya?"
Midorima kembali menggeleng. "Aku tidak tahu detail hubungan antara Kuroko dan Ketua Dewan. Kalau pun pernah, dia tidak pernah mengatakan apapun. Ah tapi kalau tidak salah, Ulang Tahun SMA Teikou yang ke-100 nanti, Ketua Dewan akan datang."
"Apa?"
Midorima mengangguk. "Aku sempat mendengar pembicaraan Kuroko dan Nash Gold, sebelum konflik, mereka sepertinya berdiskusi mengenai Ulang Tahun SMA Teikou dan mengenai kedatangan Ketua Dewan."
"Kapan SMA ini ulangtahun?"
"Oktober nanti. Sekolah sudah mulai membentuk panitia untuk perayaan besar-besaran."
Ada harapan! Meskipun masih sedikit, tapi setidaknya aku bisa bertemu dengan Ketua Dewan dan akan aku hancurkan semua sistem busuk ini. Perasaanku meluap-luap karena rencana itu begitu nyata di dalam kepalaku. "Apa hubungan Tetsuya dengan Nash Gold? Kenapa dia yang ditunjuk untuk menggantikan Tetsuya?" tanyaku lagi.
Midorima membenarkan posisi kacamatanya. "Nash Gold wakilnya selama Kuroko menjabat. Lalu, karena Kuroko dicabut dari posisinya, otomatis Nash Gold naik menjabat sebagai Ketua OSIS Belakang."
Aku mengangguk. Setidaknya, aku bisa menunggu sampai Oktober sambil membuat rencana. Kini, sebuah titik terang seperti tampak di ujung jalan meskipun masih samar. Namun, aku akan percaya pada titik cahaya samar itu.
"Biarkan aku membantumu."
Aku menatapnya, berusaha mencari sebuah petunjuk atau celah kebohongan di wajah Midorima. Matanya berkilat, kacamatanya terpasang sempurna membingkai matanya, rahangnya terkatup rapat dan untuk sekilas aku ingin sekali percaya. Namun, satu hal yang aku pelajari dengan baik yaitu; jangan pernah mempercayai siapapun.
"Kenapa kau tiba-tiba mau membantuku? Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan Ketua Dewan sendiri. Kau butuh teman."
Aku mengeluarkan sebuah tawa sinis yang lemah. "Teman? Kau menganggapku teman? Kenapa aku merasa kau hanya berusaha menggali informasi dariku? Takao berkata dia menemui Ketua Dewan. Takao memang sedang di ICU, tapi kau mungkin saja kaki-tangan Ketua Dewan."
Midorima menghela napas. "Jadi, kau merasa aku menggantikan Takao untuk memata-mataimu? Menurutmu, jika aku memang seperti itu, apa aku akan langsung menawarkan diri untuk membantumu?"
Pertanyaan Midorima masuk akal, tapi aku harus mengeliminasi semua kemungkinan bahwa ini hanya salah satu trik dari Ketua Dewan, sampai terbukti tidak. "Cara menutupi kebohongan paling baik adalah dengan mengatakan kebenaran."
"Masuk akal. Aku hanya ingin membantumu. Tak ada alasan bagiku tetap setia pada OSIS Belakang atau pun Ketua Dewan. Mereka berusaha melukai Takao dan aku tidak bisa membiarkannya."
"Kau ingin menjadi pembelot. Pengkhianat," kataku.
"Katakan saja semaumu. Namun, aku juga akan memberitahumu bahwa kau tidak punya pilihan untuk menolakku. Kau butuh orang yang bisa menjawab pertanyaanmu dan orang yang tahu mengenai sistem OSIS Belakang. Kau tidak akan bisa menang seorang diri, kau tahu itu. Ketua Dewan punya banyak pion untuk dimanfaatkan. Takao adalah salah satunya. Ketahuilah Akashi, banyak orang yang lebih memiliki hasrat untuk menyingkirkan Kuroko di OSIS Belakang dan Ketua Dewan tahu cara memainkan mereka."
Apa yang dikatakan Midorima adalah kebenaran. Takao hanyalah satu dari sekian banyak pion-pion yang digunakan oleh Ketua Dewan untuk menyingkirkanku. Kami semua tak ubahnya berada di dalam sebuah papan catur super besar milik Ketua Dewan, sementara dia tertawa-tawa dari singgasananya yang tidak bisa dijangkau olehku sementara aku babak belur dan berusaha bangkit terus-menerus. Lagipula, Tetsuya juga kalah dari Ketua Dewan.
Jika aku bekerja sama dengan Midorima, maka setidaknya aku tidak lagi berada di dalam kegelapan. Midorima adalah salah satu anggota Dewan Harian, sehingga informasi darinya pasti akan sangat berguna dan membantuku. Aku bisa menyusun rencana dengan sedikit lebih matang dan menghindari berbagai kejadian yang berujung menjadi percobaan pembunuhan. Lagipula, aku yakin bahwa dia mengkhianati OSIS Belakang karena dia tidak bisa menerima apa yang terjadi pada Takao.
Dalam satu dua hal, kami berdua serupa. Kami berdua hanya berusaha melindungi orang yang penting dalam hidup kami dengan segala cara yang bisa kami lakukan. Salah satunya dengan mengungkapkan kebenaran.
Aku menatapnya. Namun, aku harus memastikan dia tidak akan mengkhianatiku di tengah jalan. "Bagaimana jika kau ternyata mengkhianatiku di tengah jalan? Aku tidak bisa begitu saja percaya padamu hanya karena Takao dan Tetsuya sedang sama-sama di ICU."
"Tidak ada yang lebih kubenci dibandingkan dari Ketua Dewan dan OSIS Belakang saat ini," kata Midorima.
Aku menyeringai, untuk pertama kalinya. Semangat dari kebencian Midorima bisa aku rasakan. Kebencian itu menjalar di seluruh tubuhnya, seperti perasaanku setiap melihat Tetsuya tidak berdaya di ICU. Aku bangkit berdiri. "Aku menerima tawaranmu," kataku.
Midorima ikut berdiri dan kami berhadap-hadapan. Dia mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Aku menyambutnya dan kami bersalaman secara resmi. Tidak perlu ada kata-kata di antara kami, karena kami bertindak untuk kepentingan masing-masing.
Setelah kami bersalaman, Midorima meminta nomor ponselku. Aku memberikannya dan kami juga bertukar alamat e-mail. "Untuk jaga-jaga, jangan berkomunikasi lewat ponsel Kuroko. Dia sedang jadi sorotan, pasti ada satu atau dua orang yang bisa meretas ponselnya. Namun, kau tak kasat mata," ujar Midorima.
Aku mengangguk. Benar, Akashi Seijuurou tidak kasat mata. Dia menghilang bagai di telan bumi. Peran itu cocok untukku saat ini jika ingin mengungkapkan kebenaran. Rasanya sedikit miris, karena peran tak kasat mata sedari dulu lebih cocok untuk Tetsuya. Namun, aku juga adalah 'Kuroko Tetsuya' saat ini. Aku memegang dua peran penting saat ini.
Midorima memutuskan untuk pulang. Takao sudah berada di ICU sampai kondisinya stabil dan sadar sebelum dokter bedah tulang akan mengoperasi patah tulangnya. Midorima sudah menunggunya sejak kemarin, jadi wajar jika dia pulang setelah salah satu operasinya lancar. Namun, aku berjalan ke arah ICU yang sudah sangat kuhapal. ICU tempat Takao dirawat berbeda dengan ICU Tetsuya, namun tetap searah.
"Midorima," panggilku sebelum dia berjalan menjauh. "Kalau kau mengkhianatiku, aku sendiri yang akan menghancurkamu."
Midorima hanya tersenyum miring sebelum dia pergi.
Pertama, aku mendatangi Takao. Dia masih diintubasi dan segala jenis monitor terpasang di tubuhnya. Ada selang drainase dari kepalanya yang diperban dan selang kateter. Seluruh kepalanya di pasang perban putih dengan sedikit bercak merah darah. Aku jadi teringat ketika Tetsuya pertama kali di operasi dan di ICU. Kondisinya lemah dan wajahnya pucat.
Perasaanku sedikit melemah melihat kondisi Takao yang sedang koma di ICU. Namun, aku juga mengingat semua perlakuannya padaku dan aku ingin mengatakan "Rasakan!" tepat di depan mukanya. Namun, aku mengingat wajah Midorima, gestur tubuhnya, ceritanya, dan perasaannya.
"Kau harus lihat kondisi Midorima," kataku pelan supaya tidak mengganggu pasien lain maupun para perawat di ICU. "Kalau kau melihatnya, kau tidak akan punya alasan untuk takut kehilangannya. Dia juga takut kehilanganmu."
Takao tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah dia mendengarnya atau tidak. Dia masih berada di bawah sedasi obat anestesi. Jadi, aku kelaur dari ruang ICU-nya dan menuju sebuah ruang ICU lain, tempat Tetsuya dirawat. Ruangan Tetsuya sudah lebih familiar bagiku. Namun, ketika aku mau melangkah lebih dalam, aku terhenti. Sebuah kecemasan menggerogotiku dan aku mengingat Ketua Dewan pernah menunjukkan video rekaman kondisi Tetsuya dan setiap kunjunganku. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk mengamati kamera CCTV.
Ada beberapa kamera CCTV resmi dari rumah sakit yang terpasang di ruangan ICU tersebut. Aku menelan ludah, merasa seperti ada mata yang tidak terlihat sedang mengamati gerak-gerikku. Mungkin saja Ketua Dewan sedang minum anggur merah sambil melihat via laptopnya tentang kunjunganku lagi. Mungkin dia telah menantikan aku mengunjungi Tetsuya. Aku membayangkan dia tertawa dengan suara mekaniknya, karena dia bisa mengungguliku. Aku menggertakkan gigiku.
Dengan punggung tegak, aku berjalan ke ranjang Tetsuya, yang masih tidur dengan damai. Aku mengamati Tetsuya lebih lama dari biasanya. Percakapanku dengan Midorima kembali berputar-putar di kepalaku.
"Kau Ketua OSIS Belakang?" tanyaku lirih. "Hei Tetsuya," panggilku. Tetsuya tidak menjawab. Dia tidak menjelaskan apapun. Dia tetap terlelap. Namun, meskipun Tetsuya bangun, aku yakin dia tidak akan tetap bungkam. Dia tidak akan pernah menunjukkan sisi lain hidupnya padaku. Dia hanya menunjukkan apa yang ingin aku lihat darinya.
Dan, yang ingin aku lihat adalah adik kembarku yang baik, penurut, dan penuh dengan kebaikan. Itu yang aku percayai dan Tetsuya hanya menunjukkan itu. Dia menyembunyikan sisanya dalam kegelapan hingga akhirnya kegelapan itu menelannya.
"Kenapa kau menyembunyikan semuanya? Apa kau tidak percaya padaku?" Lagi-lagi, Tetsuya terdiam. "Apa kau berpikir bahwa aku tidak bisa menerima seluruh hidupmu? Bukankah kita ini setengah dari satu?"
Hanya bunyi monitor EKG yang menjawabku.
"Meskipun kau menceritakannya, aku tetap tidak akan berubah. Aku tetap akan di sisimu, tidak peduli apa saja yang telah kau lakukan. Kau harus tahu itu."
Aku menggenggam tangannya. Aku merendahkan tubuhku. "Aku sudah memutuskan. Aku akan mengungkapkan kebenaran dan akan kuhancurkan OSIS Belakang serta Ketua Dewan. Aku akan melakukan itu."
.
Memiliki Midorima sebagai sekutu membuatku bernapas sedikit lega. Aku merasakan sedikit rasa semangat menjalari tubuhku karena aku tidak lagi sendirian. Dan yang lebih penting, aku bisa memulai rencanaku dan aku tidak bingung harus memulai dari mana.
Aku menunggu Midorima sepulang sekolah di sebuah restoran cepat saji. Terlalu beresiko jika membicarakan hal-hal mengenai OSIS Belakang di sekolah. Ketua Dewan bisa dimana saja dan bisa mendengarkan apa saja. Aku tidak tahu siapa pion lain yang akan digunakannya. Jadi, bertemu di luar jauh lebih aman.
Midorima duduk didepanku. Dia memesan burger dan cola, sementara aku memesan kentang goreng dan soda. Ada sebuah helm hitam di sisinya yang aku yakini sebagai lucky item, karena Midorima tidak mengendarai motor.
"Jadi, apa yang mau kau bahas?" tanya Midorima.
"Aku mau membahas mengenai konflik antara Tetsuya dan Ketua Dewan. Kurasa aku akan mulai dari sana. Jika aku mau mencari bukti, sebaiknya dari sana. Kau bilang bahwa konflik itu tidak diketahui dan tidak tercatat."
"Aku bilang bahwa desas-desusnya mereka memiliki konflik, meskipun tidak ada yang bisa mengonfirmasi kebenarannya. Kuroko lebih sering bekerja sendiri. Ketika dia bertugas dengan orang lain, dia juga membatasi dirinya untuk tidak terlalu mencolok. Begitulah cara kerjanya."
Aku sudah mengulang-ulang strategi ini semalaman di kamarku. Di antara semua strategi, menurutku ini adalah strategi yang paling memungkinkan untuk dijalani dan tidak menaruh curiga. Memang tingkat keberhasilannya kecil, tapi jika strategi ini berhasil, maka aku bisa maju ke langkah berikutnya.
"Bagaimana caraku mendapatkan semua laporan tentang Tetsuya?" tanyaku.
"Maksudmu laporan tugasnya?"
Aku mengangguk.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya dia mengirimkan semua laporan ke Ketua Dewan, karena itu semua pekerjaannya. Kami hanya menyerahkan laporan dan dia yang akan menindaklanjuti. Aku tidak tahu caranya mereka berkomunikasi juga. Mungkin yang paling bisa mendeskripsikan cara kerja Kuroko hanya Nash Gold. Dia adalah Wakil Ketua OSIS Belakang sebelum naik jabatan."
"Tapi mustahil meminta bantuan Nash Gold," kataku. Midorima setuju. Itu sama saja seperti masuk ke kandang serigala. Entah apa yang bisa dilakukan oleh Nash Gold.
"Setiap Organisasi pasti memiliki arsip-arsip laporan. Meskipun OSIS Belakang didirikan secara illegal, tapi aku yakin bahwa ada tempat untuk menyimpan semua arsip itu. Mungkin tidak secara elektronik."
"Masuk akal. Ketua Dewan sangat hati-hati dengan semua perangkat elektronik. Dia hanya memakai laptop jika dibutuhkan. Dan lagi, kami tidak pernah diinstruksikan mengirim e-mail. Internet gampang diretas dan file gampang di curi. Satu-satunya cara adalah memiliki dokumen fisik. Tidak bisa dilacak dan gampang dihancurkan." Midorima menatapku. "Tapi tempat itu pasti tidak akan gampang ditemukan. Kalaupun Kuroko tahu, dia tidak bisa bicara dan kita tidak bisa bertanya pada Nash Gold."
Aku menghembuskan napas. "Aku sudah memikirkan kemungkinan itu. Satu-satunya cara adalah menyisir daerah sekolah dan mencari tempat-tempat tersembunyi."
"Itu akan memakan waktu lama dan akan sangat mencurigakan."
Satu-satunya yang memiliki kontak terdekat dengan Ketua Dewan hanyalah Nash Gold. Dia pemegang kekuasaan tertinggi. Kalau aku bisa memegang Nash Gold, maka rencanaku akan berjalan lancar. Masalahnya, bagaimana cara aku meyakinkan Nash Gold? Dan lagi, itu rencana yang sangat berisiko.
"Kalau kita tidak bisa meminta tolong orang untuk menunjukkan tempatnya, maka mau tidak mau kita sendiri yang harus mencarinya."
Midorima menyipitkan matanya. "Apa rencanamu, Akashi?"
"Kita kerjakan tugas sebanyak-banyaknya. Setiap tugas yang selesai, pasti akan ada laporan yang diserahkan kepada Nash Gold. Aku akan coba mendekati Nash Gold," kataku.
"Apa kau gila? Kita membicarakan Nash Gold di sini. Jika dia melihat tindakanmu sedikit mencurigakan, dia akan langsung bertindak. Kita tidak bisa menebak isi pikirnya."
Aku menggeleng. "Memang tidak, tapi kita tidak punya cara. Rencana bisa berhasil jika kita sedikit nekat. Lagipula, dipihak kita ada sedikit keuntungan."
"Keuntungan apa maksudmu?"
Aku menepuk dadaku sendiri. "Aku adalah 'Kuroko Tetsuya'. Meksipun Nash Gold sekarang menjabat, tapi dia pasti tetap akan memperhitungkan 'Kuroko Tetsuya'."
"Jadi kau mau memakai kartu 'Kuroko'-mu? Peluang keberhasilannya kurang dari 50%," ujar Midorima.
"Aku tahu, tapi itu masih lebih baik dari pada nol. Yang jelas, sekarang yang bisa kita lakukan hanya menyelesaikan tugas sebanyak-banyaknya. Dan Midorima, aku ingin tahu semua tentang Nash Gold. Apa kau bisa mencarikannya untukku?"
Midorima mengangguk, "Aku akan mencarinya dan memberikannya padamu akhir minggu ini. Dan untuk tugas-tugas… aku tidak tahu apakah aku sanggup melakukannya."
Bahu Midorima merosot. Aku paham karena aku pun sebenarnya tidak ingin melakukannya. Namun, untuk mencapai kemenangan mutlak diperlukan pengorbanan, termasuk mengorbankan perasaan. Itu adalah strategi perang paling efektif. Mungkin, Ketua Dewan selalu menang karena dia melakukan banyak pengorbanan dalam hidupnya. Aku pun harus bisa begitu. Jika aku tidak sanggup berkorban, tidak akan ada yang berubah.
"Kau tidak perlu melakukannya. Aku yang akan mengambil tugas-tugas itu. Lagipula, aku harus mendapatkan lagi kepercayaan Nash Gold. Yang jelas, kita tidak boleh terlihat terlalu dekat. Itu akan menimbulkan kecurigaan. Dan lagi, kita harus terus beranggapan bahwa Ketua Dewan telah mengetahui semuanya. Lebih aman seperti itu."
"Kau benar," ujar Midorima.
Aku menatapnya. "Kau akan pergi menemui Takao?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Tadi pagi dia sadar."
"Apa dia ingat siapa yang menabraknya dengan motor?" tanyaku.
Midorima menggeleng. "Tadi saat kujenguk sebelum berangkat sekolah, dia bilang tidak ingat apa-apa mengenai kecelakaan itu. Mereka akan mempersiapkannya untuk operasi tulangnya."
"Apa kau memberitahunya mengenai kita?" tanyaku.
Midorima menggeleng lagi. "Aku tidak mau melibatkannya. Dia sudah cukup menderita. Ini perang kita melawan Ketua Dewan."
Bibirku menyunggingkan senyum. "Perang ya. Kau benar, ini memang perang."
Midorima bangkit dari kursinya. "Rapat mingguan selalu di hari Rabu. Di tempat biasa." Lalu, dia pergi duluan. Aku menghabiskan kentang gorengku dan soda sendirian. Saat aku mengambil sebuah kentang goreng, barulah aku sadar bahwa tanganku gemetar.
Rencanaku telah dimulai dan aku tidak bisa memungkiri bahwa aku takut. Aku takut mengenai apa yang akan terjadi kedepannya. Tentang apa yang bisa terjadi padaku, tentang keberhasilan rencanaku dan tentang masa depan. Sedikit banyak, aku bersyukur bahwa aku punya Midorima sekarang. Berdua masih lebih baik dibandingkan berjuang sendiri.
Aku mengamati lagi tanganku yang gemetar dan mengepalkannya. Rasa takut itu bagus, artinya aku masih punya hati Nurani. Rasa takut membuatku yakin bahwa ini adalah jalan yang tepat menuju kebenaran. Rasa takut memberikanku alasan untuk bertahan.
Aku akan menikmati rasa takut itu sebelum aku tidak bisa memikirkan apapun lagi.
.
To Be Continued
A/N: Komentar, kritik, dan saran terbuka tanpa syarat dan ketentuan.
Salam,
Sigung-chan
