Chapter 23 (2): Rasa Sakit Paling Minimal
Bagaimana semua itu bisa terjadi?
Rapat hari itu ditutup setelah Nash Gold membagikan tugas-tugas kepada para anggota dan juga anggota dewan. Namun, ada satu berkas yang tidak kuserahkan kepada siapapun. Di depannya kertulis 'Kepada Kuroko-kun'. Hanya kalimat itu yang membuatku yakin bahwa itulah tugas penting yang harus aku selesaikan.
Setelah semua bubar, aku menghampiri Momoi Satsuki, salah satu anggota Dewan Harian baru.
"Ada apa, Tetsu-kun?" tanyanya dengan sedikit bersemangat. Semangat dan binar di matanya sedikit banyak mirip Kise. Mungkin, kalau Kise adalah anggota resmi, mereka bisa berteman baik.
"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang," kataku sambil memberikan sebuah kertas dengan nama orang tersebut, Suzuki Ken.
Momoi menerimanya tanpa banyak bertanya. "Kapan kau membutuhkannya?"
"Akhir minggu ini."
"Oke. Akhir minggu ini akan kuberitahu hasilnya. Sampai jumpa Tetsu-kun." Dia melambaikan tangannya dan pergi menjauh. Di belakangnya, Aomine Daiki mengekorinya. Melihat mereka berdua bersama-sama seperti itu, aku juga menginginkan Kise di sampingku. Tidak di dalam kegelapan dan rahasia, tapi di bawah sinar matahari.
Namun, kutepis pikiran itu jauh-jauh.
Keberadaan Kise sudah lebih dari cukup. Aku tidak membutuhkan apapun lagi. Jika ada sesuatu yang membuatku tidak puas, itu bersumber dari diriku sendiri yang kurang kuat. Aku ada di OSIS Belakang agar diriku bisa menjadi kuat.
.
"Suzuki Ken, guru SMA Teikou yang sudah berhenti mengajar. Dia keluar di tengah tahun ajaran dan kembali ke kampung halamannya. Alasannya karena orangtuanya sakit dan dia harus merawatnya. Namun, dari data Momoi-san, kedua orangtuanya sudah meninggal lebih dari 2 tahun yang lalu. Sudah jelas bukan karena itu dia pulang ke kampung halamannya." Aku membalik halaman profil yang dirapikan oleh Momoi.
Kise membalik halaman dari dokumen lainnya. "Yah, sepertinya dia diberhentikan secara tidak terhormat dari SMA Teikou. Dia terkena tuduhan jual-beli peringkat dan para orangtua membayarnya supaya nilai anak mereka naik."
Aku menghela napas. Hal tersebut memang sering terjadi di sekolah-sekolah swasta dan persiapan. Tujuannya agar anak-anak mereka bisa mendapatkan sebuah kursi di fakultas bergengsi di Universitas yang bergengsi pula. Memang sudah jadi rahasia umum 'pekerjaan sampingan' dari para guru yang merasa gaji di sekolah kurang. Namun, Ketua Dewan pasti tidak menyukai hal seperti itu. Mencoreng nama baik sekolah. Menurunkan harga diri sekolah. Mengingat dia begitu menyayangi sekolah ini seperti darah dagingnya sendiri, itu merupakan hal yang tidak termaafkan.
"Tapi, kenapa kita baru disuruh membereskan pekerjaan ini sekarang? Suzuki Ken sudah berhenti setahun lebih, ssu."
Aku tahu kenapa. Semakin dalam aku berada di OSIS Belakang, semakin aku berhasil memahami sedikit pemikiran dari Ketua Dewan. "Karena ini waktu yang tepat," ujarku.
Kise menatapku. "Jika ketika masalah itu muncul di permukaan dan OSIS Belakang bertindak, maka publik akan langsung menyorot bahwa SMA Teikou menutup-nutupi sesuatu. Apalagi jika tidak lama setelah masalah itu muncul, Suzuki Ken terkena musibah. Itu akan jadi skandal yang lebih besar lagi. Ketua Dewan pasti tidak menginginkan itu terjadi. Kita akan semakin repot dan reporter itu seperti burung bangkai yang akan mengorek informasi sampai mereka mendapatkannya. Ada kemungkinan sistem ini bocor ke dunia luar.
"Namun, waktu satu tahun adalah waktu yang tepat. Skandal telah turun, kekacauan berakhir, dan orang akhirnya melupakan apa yang pernah terjadi. Tidak ada lagi yang akan mengungkit kasus ini. Tidak ada lagi yang akan mengingat kasus ini. Kalau terjadi sesuatu pada Suzuki Ken, maka nama SMA Teikou tidak akan terseret."
Kise mengangguk. "Revenge is best served cold."
"Benar. Ketua Dewan telah memikirkannya hingga sedetail ini. Dia tidak pernah melupakannya."
Kami sampai di pinggir kota. Entahlah, mungkin lebih tepat desa? Tapi masih lebih modern dibandingkan desa pada umumnya. Hari ini kami berencana menemui Suzuki Ken.
Suzuki Ken tinggal di sebuah rumah sederhana satu tingkat dengan model Jepang. Aku merasa bahwa itu adalah rumah warisan dari orangtuanya. Dia tinggal sendirian dan tampaknya dia tidak terlalu merawat halaman depannya. Jarak antar rumah agak jauh dan lebih banyak rumah-rumah yang ditinggalkan dan dibiarkan hancur dibandingkan yang ditinggali.
Kami sampai di depan pintu rumah.
"Mau mengetuk pintunya?" tawar Kise.
Demi sopan santun, aku mengetuk pintu tersebut dua kali. Tidak ada balasan. Dua kali lagi, tetap tidak ada balasan.
Kise mencoba membuka pintu tersebut dan bunyi derit pelan menandakan bahwa si pemilik rumah tidak mengunci pintunya. Mungkin dia sedang berada di rumah. Itu lebih baik, karena kami tidak punya waktu untuk menunggunya pulang atau mencarinya di lain hari. Datang ke tempat yang sama lebih dari sekali itu beresiko.
Aku memberi kode pada Kise dan kami berdua masuk ke dalam rumah tersebut. Aroma rokok yang bercampur dengan alkohol memenuhi seluruh koridor. Sepertinya, Suzuki Ken sering merokok dalam ruangan tertutup. Di langit-langit mulai ternodai dengan bercak-bercak kecoklatan.
Kami mendengar suara aktivitas dari dapur, satu-satunya ruangan yang lampunya menyala. Sepertinya pria itu sedang membuat sesuatu untuk dimakan. Entahlah. Aroma rokok begitu kuat di sepenjuru ruangan, jadi kupikir dia akan memasak asap rokok.
Seperti yang kukira, dia sedang ada di dapur.
"Suzuki Ken-san," panggilku.
Gerakannya terhenti. Dia berbalik dan wajahnya sedikit lebih tua dan lebih kacau dari foto yang pernah kulihat. Dia hanya memakai kaos rumahan dan sepertinya dia sedang memotong-motong sayur. Rokoknya masih menyala dan diletakkan sembarangan di atas meja dapur.
"Siapa…? APA-APAAN?" bentaknya.
"Kami ingin bicara," kata Kise.
"Siapa kalian, brengsek? Masuk ke rumah orang sembarangan!"
Seharusnya, saat itu aku tidak membuatnya kaget. Seharusnya aku melihat dan mempelajari situasi terlebih dahulu. Itulah yang harusnya aku lakukan. Aku tidak pernah membuat kesalahan seperti ini. Tidak sejak aku menjabat. Namun, aku melakukannya.
"SMA Teikou. Masih ingat tempat kerja Anda dulu?"
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban, karena ekspresinya berubah. Seolah dia ingin menyingkirkan borok yang sudah melekat padanya bertahun-tahun.
"HA! Jadi monster itu bergerak juga? Aku sudah menanti-nanti kapan dia akan menargetkanku. Satu tahun. Hebat juga penantiannya."
"Jadi Anda sudah tahu apa tujuan kami?" tanya Kise.
"Tentu saja! Aku bukan orang bodoh. Manusia seperti itu punya tujuan, sama sepertiku. Namun, tujuannya jauh lebih gila dariku." Dia menatap kami bergantian.
"Kalau begitu, kami tidak perlu panjang lebar lagi. Kau membuat semuanya menjadi lebih mudah."
Namun, dia tertawa. "Kalian pikir aku akan membiarkan dua bocah menghentikanku? Aku sudah mengantisipasi hal ini!"
Dan, dia berlari. Bukan berlari menjauhi kami berdua, tapi menerjang kami berdua. Pisau di tangannya, tatapan yang begitu penuh determinasi. Dia sudah siap. Dia kenal seperti apa Ketua Dewan dan apa yang sanggup dilakukannya. Selama setahun, dia mereka ulang semua ini.
Itulah kesalahan kecilku, tapi berdampak sangat besar.
Ketika bilah pisau itu mengarah padaku, aku tidak sanggup bergerak. Ini berbeda dari tugas-tugas kami sebelumnya. Ancaman yang terlalu nyata, kematian yang begitu dekat. Menggerakkan kakiku agar menghindar saja aku tidak mampu. Apa aku akan mati di sini?
Aku tidak mau!
Jadi, aku bergerak dan menghindar tepat waktu sebelum pisau itu memburai isi perutku. Aku tidak ingat posisi Kise, tapi aku bisa mendengarnya meneriakkan namaku. Ini di luar rencana kami. Situasi menjadi tidak terkontrol dengan cepat.
"KAU PIKIR AKU AKAN MENYERAHKAN DIRIKU BEGITU SAJA?" jeritnya smbil mengejar kami.
Yang jelas, kami harus menyingkirkan pisau itu dari tangannya. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana caranya. Menghindar selamanya tidak mungkin bisa, karena pada akhirnya, kami ada di wilayah kekuasaannya. Kamilah yang akan dibunuh jika aku tidak menemukan cara.
Punggungku membentur dinding dan sudah tidak ada jalan keluar. Pisau itu tinggal berjarak beberapa senti dari perutku, ketika Kise menyergapnya dan mereka terjatuh ke lantai. Bunyi debuman terdengar begitu keras.
"Ambil pisaunya!" seru Kise.
Kini, dia bergulat dengan Suzuki Ken. Aku berusaha mengendalikan diriku dan berusaha merebut pisaunya. Meskipun dia dikepung dua orang, tenaganya tetap luar biasa. Dia masih memegang gagang pisau itu dengan kuat. Aku tidak bisa merebutnya.
Dia menyikut Kise dan Kise menghindarinya. Namun, itu berarti membuat tubuhnya bebas. Aku masih berusaha merebut pisaunya. Kami saling berebut pisau dan sejenak aku lupa betapa dekat kami berdua dengan pintu kematian. Hingga dengan kekuatannya, bilah pisau itu mengarah ke dadaku. Kematian menghadapku.
Kise bangkit dan berusaha memisahkan kami berdua, tapi kekuatan yang dibakar oleh kebencian dan ketakutan adalah hal yang berbahaya, sehingga dia benar-benar ingin melenyapkan kami berdua.
Pisau itu hanya seujung jari dari jantungku yang terus-menerus berdetak dengan keras. Hingga akhirnya, mata pisau itu menghilang.
Kurasakan dengan baik apakah jantungku telah berhenti berdetak. Apakah akan terasa sakit ketika bilah pisau itu menancap di tubuhku. Namun, aku hanya melihat mata Suzuki Ken yang membelalak, dia begitu dekat denganku dan tidak lagi melawan.
Ada yang mengalir di antara kami berdua. Sesuatu yang kental, hangat, dan lengket. Akhirnya, Kise berhasil menariknya menjauh dariku dan pria itu roboh. Dia roboh begitu saja dan tidak lagi berusaha bangkit. Darah bergemuruh dengan keras di gendang telingaku dan apapun yang Kise katakan, aku tidak mampu mendengarnya.
Barulah aku melihatnya dengan jelas.
Darah mengotori kedua tanganku. Darah mengotori lantai dapur. Gagang pisau dapur tidak lagi berada di tangan Suzuki Ken. Bilahnya menancap di dadanya, tepat di jantungnya. Gelegak darah mengucur deras dari luka tusuk di tengah dadanya.
Kise mendekat ke arahnya dan mengecek napas dan nadinya. "Dia sudah tewas."
Kenyataan itu menghantamku seperti ada sebuah langit yang runtuh.
Tewas. Pisau.
Tewas. Pisau.
Rasanya tidak nyata dan tidak benar. Bukankah 30 detik yang lalu dia masih bernyawa? Bukankah dia masih membuka matanya yang menatapku penuh kebencian? Kenapa sekarang Kise mengatakan bahwa dia sudah tewas?
"Ambulans… Harus telepon 110…" Aku mendengar suaraku yang terlalu jauh.
Aku ingin mencari ponselku, tapi Kise menghentikanku. "Kurokocchi, tenanglah!"
"Kise-kun… apa yang… Apa yang sudah kulakukan…?"
"Kurokocchi, ayo bantu aku. Kita pindahkan tubuhnya ke kamar mandi."
"Apa…?" Kesadaranku masih setengah menghilang.
"Tubuhnya. Bantu aku memindahkan tubuhnya ke kamar mandi. Sekarang."
Jadi, kami memindahkan tubuhnya yang masih berlumur darah dan mata terbelalak ke kamar mandi. Tubuhnya kami letakkan begitu saja di bak mandi. Kise mengendalikan situasi karena aku tidak sanggup berpikir.
Matanya terbelalak. Di dadanya masih tertancap pisau. Dia melihatku. Di saat-saat terakhir hidupnya, aku adalah orang yang dilihatnya.
"Kurokocchi!" Kise menyentakku. "Tolong bantu aku mengambil kain dan sikat. Kita harus bersihkan jejak darah di dapur. Jangan kau lihat tubuhnya."
Aku mengangguk, meskipun aku masih merasa ini semua tidak nyata.
Kami bekerja dengan cepat. Saling bantu membantu membersihkan seluruh dapur. Menuang cairan pel sampai bau amisnya hilang, menyikat cairan tersebut hingga tidak lagi lengket. Semuanya kami kerjakan tanpa banyak bicara. Tidak ada yang harus dibicarakan.
Setelah dapur bersih, kami masuk ke kamar mandi. Aku berusaha tidak melihat tubuh yang masih hangat dan mengeluarkan darah dari dadanya. Kise mencabut pisaunya.
"Apa… yang kau lakukan, Kise-kun?" bibirku kering ketika bertanya. Sejujurnya, aku tidak mau tahu.
"Kita biarkan darahnya habis dulu, supaya mudah membersihkan darahnya. Karena itu aku menaruhnya di kamar mandi. kalau dibiarkan di dapur, nanti membersihkannya lebih susah."
Kise menjelaskannya dengan begitu gamblang dan masuk akal.
Dia menatapku. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa membiarkannya di sini," ujarku. Setelah aku sudah mampu mengendalikan diri, rasa panik menjalar ke seluruh sumsum tulang belakangku. "Kita… Kita membu–"
"Itu pertahanan diri! Dia menyerangmu dan kau hanya mempertahankan diri. Kau tidak salah. Kita tidak salah."
Benarkah? Benarkah begitu?
Kise meraih tanganku. "Kau tidak perlu melakukan apapun, Kurokocchi. Aku ada di sini. Aku tidak kemana-mana."
Yang jelas, saat itu aku benar-benar mempercayainya. Kise tidak kemana-mana. Kami akan baik-baik saja. Jadi, aku mengangguk dan menutup mataku.
.
Apa yang telah kami lakukan?
Kise bilang kami akan baik-baik saja. Memang, yang tertulis di berita adalah bahwa Suzuki Ken tewas dalam kecelakaan mobil di jurang karena mengantuk dan dalam pengaruh alkohol. Mobilnya terperosok ke dalam jurang sedalam 50 meter dan hancur lebur. Semua tindak kejahatan kami tertutupi dengan sempurna karena mobilnya terbakar dan jasadnya hancur.
Kise menepati janjinya. Lagi-lagi, dia menanggung semua beban yang harusnya ada padaku. Dan itu membuatku sangat merasa bersalah. Seharusnya ini tidak terjadi. Kami hanya ingin menakutinya dan mengancamnya. Itu saja. Siapa yang akan menyangka bahwa dia merasa harus membela dirinya dari dua anak SMA biasa. Kenapa dia harus memegang pisau dapur? Kenapa aku harus mengonfrontasinya di dapur?
Apa aku sekarang adalah seorang pembunuh?
"Kurokocchi, hentikan! Kau tidak salah! Dia tewas karena kesalahannya sendiri," kata Kise berulang kali. Namun, berulang kali juga aku tidak mendengarnya. Alasan Kise seperti mengada-ada. Bagaimana dengan pisau dapur yang menancap di dada tengahnya? Bagaimana dengan darah kental dan amis yang menggelegak dan keluar perlahan-lahan dari luka di atas jantungnya? Bagaimana dengan mata terbelalaknya ketika kami memindahkan tubuhnya ke kamar mandi sementara kami membersihkan seluruh dapur dari warna merah darahnya sendiri?
Darah segar yang terciprat masih bisa kubayangkan dengan nyata, meskipun aku berada di dalam kamarku.
"Kise-kun, maaf. Seharusnya itu jadi tanggung jawabku. Seharusnya tanganku yang ternoda, bukan tanganmu," kataku lemas.
Apa lagi yang bisa kami lakukan untuk menebus dosa? Hanya menutupi kejahatan kami. Itulah bakat yang kami miliki.
Kise menangkupkan kedua pipiku dan antara tangannya. Aku menatap wajahnya yang tampak tenang, seolah dia telah memutuskan sesuatu. Aku tidak tahu perubahan Kise kala itu. Aku tidak tahu bahwa kejadian itu juga merusak Kise. Yang aku tahu, aku butuh ditenangkan oleh Kise agar aku tidak lagi merasa bersalah.
"Kurokocchi," panggilnya lembut. "Ini tanggung jawab kita berdua. Aku juga turut mengambil andil dalam kejadian itu. Kita berdua adalah Ketua OSIS Belakang, ingat? Kita berdua adalah satu. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak bersalah."
Lalu, dia mencium keningku dengan lembut.
.
Namun, aku tahu bahwa kami bersalah. Sangat-sangat bersalah. Bagaimana pun, kami punya andil dalam pembunuhan. Kami menghilangkan nyawa seseorang dan menutupi kematiannya. Betapa mengerikannya kami.
Mungkin disanalah aku merasa hatiku terbelah dengan nuraniku. Disanalah titik awal keretakan dan kehancuranku. Aku selalu mempertanyakan semua kejadian dan semua tugas-tugas Ketua Dewan. Aku jadi mempertanyakan batas tegas antara benar dan salah.
Nash Gold menyadari itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya suatu hari, hanya ada kami berdua di Lab Bahasa.
"Tidak ada," jawabku kaku.
"Kau aneh sejak tugas terakhir itu. Suzuki Ken kecelakaan, benar?"
Aku berjengit ketika dia mengucapkan nama itu. Nama yang menjadi duri dan dosa di dalam diriku. Namun, aku bertahan. Aku harus bisa bertahan tanpa Kise. Kise jadi mengotori tangannya karena aku lemah. Aku harus jadi kuat sehingga aku bisa melindunginya.
"Nash Gold, apa menurutmu tentang OSIS Belakang ini?" tanyaku dengan tidak menjawab pertanyaannya.
Dia menatapku dengan berbahaya. "Pertanyaanmu itu berbahaya, Kuroko."
Dia benar. Apa sih yang sudah kulakukan? Bisa-bisanya aku bertanya mengenai hal paling berbahaya di sekolah ini!
"Maaf, aku melantur."
"MajiBa," kata Nash Gold. "Sedang ada promo burger di sana. Bagaimana menurutmu?" ia menatapku.
Aku menahan napas. Nash Gold ingin menjawab pertanyaanku. Aku bisa berbagi pikiran dengan orang lain selain Kise. Aku mengangguk. "Boleh. Sepulang sekolah ini."
Dan aku menemui Nash Gold di MajiBa sepulang sekolah. Hanya ada satu burger di meja kami, dan tidak ada dari kami yang menyentuhnya.
"Jadi, kenapa tiba-tiba kau bimbang?" tanyanya, melanjutkan percakapan kami di Lab Bahasa.
Aku menggeleng. Ternyata, masih sulit untuk mengungkapkannya. Kurasa, aku tidak akan bisa mengungkapkannya. Rahasia ini akan kubawa hingga mati. "Apa kau merasa yang kita lakukan ini sudah benar?" tanyaku.
Jika aku bertanya pada Kise, maka dia akan membenarkan semuanya. Percuma bertanya padanya. Dia seolah tenggelam dalam dunianya sendiri, sampai kadang aku tidak mengenalnya.
"Tidak," jawabnya lugas.
Aku terpana dengan jawabannya. Rupanya Nash Gold bisa menjawab pertanyaanku dengan tegas. Dia tidak tampak kebingungan. Dia tidak seperti aku yang tidak punya pendirian.
"Tapi, kenapa kau berada di OSIS Belakang?" tanyaku tidak mengerti.
"Kukatakan padamu karena aku percaya padamu, Kuroko. Aku tahu kau bimbang saat ini dan aku berharap aku melakukan hal yang benar," ujar Nash Gold. Dia menarik napas dan memejamkan matanya, seolah mempersiapkan dirinya sendiri. Aku menanti dengan sabar. jantungku bertalu-talu dengan keras.
"Kakakku adalah mantan anak SMA Teikou ini. Dia perempuan blasteran, sama sepertiku dan berusia 5 tahun lebih tua. Seharusnya saat ini dia sedang bahagia di masa-masa kuliah dan internship. Seperti teman-temannya yang lain. Namun, di kelas 3 SMA, dia bunuh diri. Menurut kepolisian, dia stress karena banyaknya tugas dan tidak sanggup menjalankan tanggung jawabnya. Tapi aku tidak percaya. Aku membongkar seluruh kamarnya dan kutemukan fakta bahwa dia adalah target dari OSIS Belakang. Kau mau tahu kenapa dia dijadikan target? Karena saat itu dia sedang dekat dengan salah satu guru SMA Teikou. Aku tahu bahwa tindakannya salah, dia seorang murid. Namun, Ketua Dewan memaksa OSIS Belakang untuk mengancamnya agar tidak terjadi skandal. Hanya saja, mereka mengancamnya terlalu berlebihan dan akhirnya dia bunuh diri."
Aku menatapnya, tidak mampu berkata apapun. Sungguh alasan menyedihkan untuk mati.
"Aku di sini, untuk menghancurkan sistem OSIS Belakang. Namun, aku tidak bisa melakukannya jika aku tidak terlibat di dalamnya. Karena itu aku harus menjadi bagian dari OSIS Belakang agar aku tahu dimana harus menyerang. Sistem seperti ini tidak pernah benar. Tindakan seperti itu bukanlah kebenaran. OSIS Belakang hanyalah kumpulan penjahat yang bersembunyi di balik kata melindungi."
Kata-katanya tajam dan pedas. Menusuk hingga ke dalam jantungku. Nash Gold menatapku seolah dia sedang menantangku untuk menyanggah kritikan pedasnya. Namun, aku tidak menemukan kata-kataku. Aku terdiam seribu bahasa karena perasaanku yang bercampur aduk.
"Jadi, apa itu menjawab pertanyaanmu, Kuroko?"
"Aku… minta maaf tentang kakakmu," kataku pelan.
"Tidak butuh maafmu. Dia tidak akan kembali hidup juga," dia berkata dengan santai. Namun, tatapannya tetap tajam. "Jadi, apa kau berubah pikiran sekarang? Kau telah terjebak bersama denganku. Dan sepengalamanku, sekali orang sudah terjebak di OSIS Belakang, mereka tidak akan pernah bisa keluar kecuali melalui kematian."
Kematian, kata yang begitu mengerikan dan misterius.
"Aku bingung," ujarku jujur. "Tentang apa yang kulakukan selama ini. Aku mulai bertanya-tanya."
"Kau bukan bingung, tapi kau bimbang. Kau takut, karena kau telah tahu apa jawabanmu sedari dulu. Kau tahu itu, di alam bawah sadarmu."
Lagi-lagi, kalimat yang menusuk jiwa. Bukan karena aku tersinggung, tapi karena apa yang diucapkannya memang benar apa adanya. Aku telah tahu hal itu sedari dulu. Aku hanya menutup mata dan memilih menulikan telinga. Semua karena aku merasa akan baik-baik saja. Ada Kise di sisiku. Itu sudah lebih dari cukup. Namun, tragedi terus menimpa kami sehingga aku mempertanyakan realitasku sendiri.
Kutatap Nash Gold. "Nash Gold, tetaplah jadi wakilku. Aku akan mencari cara untuk mencurangi sistem. Aku akan berusaha sekuat tenagaku."
.
Dan, kasus terakhir itu. Kasus yang benar-benar menjadi kehancuranku.
Aku tidak bisa melawan Ketua Dewan sendirian. Meskipun ada Nash Gold, tapi kami berdua tidak cukup kuat untuk menghancurkan sistem dan menyeret Ketua Dewan turun. Aku tidak bisa melawan Kise dan aku tidak mau bertolak sisi dengan Kise. Aku berada di seutas tali yang begitu tipis dan rapuh.
Kasus itu sederhana, tetapi aku mengambilnya karena aku tertarik dengan alasannya. Ketua Dewan ingin menyingkirkan anggota biasa yang ingin keluar. Aku tahu anggota itu, dia bukanlah Dewan Harian, bukan sebuah ancaman. Namun, kalau Ketua Dewan ingin menyingkirkannya, artinya dia cukup berbahaya.
Dan aku ingin tahu alasannya.
Rupanya, dia memiliki segudang bukti tentang kejahatan Ketua Dewan dan bukti tentang aktivitas illegal lainnya di OSIS Belakang. Alasan yang cukup untuk menyingkirkannya. Inilah jalan keluarku. Jalan untuk menyeret Ketua Dewan turun dan menghancurkan sistem.
"Berikan dokumen itu padaku," kataku.
"Kenapa aku harus melakukannya? Kau ada di sini untuk menghancurkanku, bukan?"
"Karena aku bisa menghancurkan Ketua Dewan. Kau pergilah sejauh mungkin dari SMA ini. Kalau bisa, pergi dari kota ini dan jangan terlihat lagi. Itu bisa menyelamatkan nyawamu. Jika kau tetap di sini, maka kau hanya akan berakhir dengan melompat dari lantai 4. Kau tahu tradisi OSIS Belakang. Tidak akan ada ampun bagimu."
Dia terdiam. Aku tahu dia paham apa yang menantinya jika terus berada di SMA ini. Jadi, keesokan harinya, dia telah keluar dari sekolah secara mendadak dengan alasan orangtuanya dimutasi, sementara aku menerima kemarahan dari Ketua Dewan.
Kali ini, tidak ada kata mundur lagi. Aku berdiri bersama Kise menghadap laptop yang mengeluarkan suara buatan menjijikan itu. Ketua Dewan tidak pernah lagi menampilkan batang hidungnya.
"Kau pikir kau siapa, Kuroko Tetsuya? Kau mengecewakanku. Benar-benar mengecewakanku."
"Aku menyelesaikan tugas dengan baik. Kurasa Anda seharusnya mengapresiasiku."
"Kurokocchi, bicara apa kau?" tanya Kise bingung.
Kise, maaf.
Aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Aku begitu bingung dan aku tidak bisa menceritakannya padamu.
"Kau ingin menentangku, Kuroko Tetsuya? Kau pikir kau bisa meruntuhkan aku? Itu keinginanmu?" tanyanya dalam nada suara dalam yang janggal. Semua tentang Ketua Dewan sedari awal janggal. Seharusnya, aku lakukan ini sedari dulu. "Kau jadi besar kepala sekarang."
"Tidak, aku hanya melihat dengan lebih jelas sekarang."
"Coba saja Kuroko Tetsuya. Lakukan apa yang bisa kau lakukan. Aku akan melihatnya. Aku menantikan semuanya. Aku orang yang sabar, aku bisa menunggu."
Lalu, laptop itu mati.
Kise menatapku. "Kurokocchi, jelaskan ada apa ini? Apa yang terjadi?"
Aku balas menatap Kise. Setiap kulihat bola matanya, setiap kutatap wajahnya, aku selalu merasa bersalah karena tidak jujur dengannya. Namun, bolehkah aku percaya pada Kise sekarang? "Kise-kun, aku memutuskan untuk keluar dari OSIS Belakang."
Reaksi Kise tidak langsung datang. Dia menatapku seolah aku baru berubah menjadi wanita. "Apa yang kau bicarakan?" tanyanya tidak mengerti.
Aku mengangguk. "Visiku dan Ketua Dewan sudah tidak sejalan lagi. Aku tidak bisa meneruskan pekerjaan ini. Maafkan aku."
"Kurokocchi, kenapa? Bukankah kita akan menjadi kuat bersama? Kalau kau keluar, aku bagaimana?"
Kugenggam tangannya. "Ikutlah denganku. Kita bisa tinggalkan ini semua dan hidup normal sebagai anak SMA. Kita tidak perlu ini semua."
Namun, Kise melepaskan genggamanku seolah tanganku sepanas api. Hatiku mencelus. "Aku tidak mengerti. Kenapa kau berubah pikiran seperti itu?"
Mungkin itulah pertanda pertama keretakanku dengan Kise. Mungkin itulah detik dimana Kise berubah menjadi orang yang tidak kukenal. Karena aku meninggalkannya sendirian di dalam kebingungan.
"Maaf Kise-kun."
.
Kuroko Tetsuya adalah seorang pengkhianat.
Ah, sudah dimulai rupanya. Tradisi perundungan di OSIS Belakang. Namun, aku pasti bisa menghadapinya. Aku pernah tidak sengaja membunuh orang, aku pernah menutupi kejahatanku, jadi aku pasti bisa menghadapi sehari dan dua hari perundungan.
"Aku tidak tahu apa agenda tersembunyimu, tapi apa yang kau lakukan bisa membahayakan diri sendiri. Kau tahu bahwa organisasi ini harus dilenyapkan. Apa yang kita lakukan, tidak bisa dibenarkan." Nash Gold bicara padaku setelah dua hari berturut-turut aku menjadi sasaran kemarahan dan target empuk.
"Kejatuhan Kuroko Tetsuya, begitu mereka menyebutnya."
Aku menghela napas.
"Aku bisa bertahan. Ini adalah rasa sakit paling minimal. Harus ada yang memulai revolusi." Aku mencoba tersenyum, tetapi gagal.
Aku bisa bertahan karena Seijuurou selalu meneleponku. Dia selalu terlihat bahagia ketika kami bertukar cerita. Aku rindu Seijuurou, apalagi sudah 1 tahun berlalu sejak kami bertemu. Banyak yang terjadi padaku dan aku ingin menceritakannya. Namun, jika aku menceritakannya, Seijuurou pasti tidak akan mengenaliku. Dia tidak akan mau mengakuiku.
Aku bisa bertahan. Pulang ke rumah yang selalu kosong, dengan tubuh lelah akibat terkena perundungan seharian, dan tidak ada siapapun yang bisa kujadikan bahu untuk bersandar. Kise tidak memperlakukanku sama lagi. Sejak kejatuhanku, dia pun ikut menghilang dari OSIS Belakang. Sejak awal, dia memang tidak pernah menjadi anggota OSIS Belakang. Akulah wajah dari OSIS Belakang.
Aku bisa bertahan meskipun aku tidak punya siapa-siapa di sisiku. Aku harus bertahan. Liburan musim panas nanti Seijuurou akan datang dan berkunjung. Aku harus memang wajah ceria. Aku harus terlihat bahagia.
Aku harus bertahan, karena ini adalah pilihanku dan aku tidak lagi bingung. Jalanku terlihat jelas di depan, tetapi aku hanya melihat penderitaan di depan.
Bisakah aku bertahan?
Satu minggu sebelum Seijuurou datang, Okaa-sama tampak begitu bahagia. Dia pulang cepat dan memasak ini itu untuk menyajikan Seijuurou berbagai hidangan favoritnya. Okaa-sama tidak pernah memasak untukku. Okaa-sama selalu sibuk jika aku meminta waktunya barang 5 menit. Namun, itu bukan salah Okaa-sama. Itu semua salahku yang terlalu mirip dengan Otou-sama. Ini semua salahku yang tidak terlahir sempurna seperti Seijuurou.
"Aku tidak punya agenda tersembunyi. Dan lagi, bagaimana cara melenyapkannya. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak sekuatmu, Nash Gold. Namun, aku tahu bahwa kau akan melakukan hal yang benar. Aku tahu kau pantas."
Kata-kata itu keluar juga dari mulutku, satu hari sebelum kedatangan Seijuurou. Aku tidak membiarkan Nash Gold menjawab apapun, karena aku sudah mematikan teleponnya. Biar saja, aku sudah tidak sanggup bertahan lagi.
Aku tidak kuat.
Aku begitu lelah.
Rupanya hidupku memang sangat menyedihkan. Aku tidak berhasil mengubah apapun. Aku hanya sesumbar. Mengesalkan, tetapi Ketua Dewan menang. Dia adalah lawan yang terlalu kuat untukku. Aku bahkan tidak bisa menggoyahkannya, tetapi dia telah menghancurkan hidupku.
Di hari kedatanganmu, aku sebenarnya telah merasa bersalah. Aku tidak pantas menyebut diriku saudara kembarmu. Karena aku iri setengah mati terhadapmu. Kau mengambil semua bagian yang seharusnya jatahku, dan itu bukan salahmu. Itu adalah salahku yang terlalu lemah.
Semua ini salahku. Salahku yang lahir sebagai kembaranmu, salahku yang mendapat hak asuh anak bersama Okaa-sama, dan salahku yang tidak bisa menjadi dirimu untuk Okaa-sama. Tidak apa, jika aku menghilang dari dunia ini pun, tidak akan ada yang berduka. Dunia masih tetap berjalan. Okaa-sama tidak akan jenuh lagi, karena dia akan mendapatkan anak kesayangannya kembali.
Maaf Seijuurou. Aku minta maaf.
Itulah pikiranku sebelum kuhempaskan diriku dan menatap langit biru untuk yang terakhir kalinya.
.
To Be Continued
