Chapter 28: Si Kembar Akashi-Kuroko
10.30 PAGI
Menerjang gedung yang sedang kebakaran hebat bukanlah tindakan heroik. Sama sekali bukan, Aomine mencatat hal itu dalam hatinya. Namun, dia telah melampaui hal-hal bodoh dalam hidupnya dan dia menutup hidungnya karena asap kebakaran yang begitu besar. Suara retihan api ternyata sangat besar dan menggelegar, begitu superior dan melahap semuanya hingga habis.
"HALO! APA ADA ORANG?" teriak Aomine sambil berlari ke lantai dua.
Sebagai balasan, jilatan api berlomba-lomba menghanguskan semuanya. Aomine tidak menyerah. Dia menyusuri lantai 2 dan semua pintu yang tertutup telah dilahap api. Tidak ada tanda-tanda orang. Sampailah dia di ujung koridor, tempat Ruang Ketua Dewan.
Di dalamnya, ada sebuah siluet yang tidak bergerak. Aomine kira itu adalah manekin milik Ketua Dewan yang terbakar, tapi semakin diperhatikan, manekin tidak mungkin bisa bernapas naik turun. Itu adalah manusia.
"APA KAU BAIK-BAIK SAJA?" teriak Aomine mengalahkan gemuruh dari api di sekitarnya. Orang itu tidak bergerak, hanya dadanya yang naik turun dengan lemah. Kedua kakinya terjulur dan ada kabel ties yang mengikatnya. Kedua tangannya berada di belakang tubuhnya dengan posisi canggung.
"AKU AKAN MENOLONGMU!" seru Aomine. Namun, dia sadar bahwa kedua tangan orang itu diikat ke meja kayu. Dan, meja kayu itu sudah mulai dijilati api sebagian besarnya. Sialan!
Kise, apa dia benar-benar berniat membunuh orang dengan membakarnya hidup-hidup? Apa Kise itu manusia atau setan?
Bagaimana cara Aomine menolongnya? Kayunya terasa panas dan kulit Aomine bisa melepuh. Namun, kalau tidak dilepaskan dari meja, pemuda ini akan mati terbakar. Jadi, Aomine melakukan hal yang dia bisa, dia mengangkat meja kayu itu hingga terbalik. Tangannya panas luar biasa dan dia yakin pasti akan ada luka bakar yang tertinggal. Namun, kaki meja kayu itu berhasil dikeluarkan. Dia segera menggendong pemuda itu dan berlari tepat waktu ketika atap langit-langit roboh dan satu ruangan terbakar hebat.
Aomine tidak mau membayangkan jika dia terlambat datang atau terlambat menarik si pemuda untuk menjauh.
"Bertahanlah," gumamnya sambil menuruni tangga. Dia melompati dua anak tangga. Paru-parunya terasa mau meledak karena terlalu banyak menghirup asap hitam. Namun, selangkah lagi dia berhasil keluar dari gedung yang habis terbakar. Dengan buru-buru, dia menghirup napas dalam-dalam.
Dari luar, kebakaran tersebut terlihat sudah sangat mengerikan, bahkan hawanya begitu menyengat dan panas. Aomine terus berjalan hingga dia menemukan tempat yang agak lapang dan jauh dari kobaran api. Barulah dia menurunkan pemuda yang pingsan itu dari gendongannya.
Pemuda itu sudah tidak sadarkan diri. Gerakan dada yang tadi masih naik turun dengan lemah, kini tidak terlihat lagi. Sial, apakah pemuda ini mati? Dia berusaha mengingat caranya melakukan pertolongan pertama yang diajarkan di pelajaran biologi. Namun, dia melihat kabel ties yang mengikat kedua tangan si pemuda. Sudah setengah terbakar, sehingga dengan sedikit kekuatannya, kabel itu putus. Begitu pula dengan kabel ties di kakinya. Aomine merobeknya hanya dengan kekuatan tangannya, karena dia tidak membawa benda tajam.
Barulah dia meletakkan pemuda itu dalam kondisi tidur terlentang.
Apa yang diajarkan oleh guru biologinya tentang pijat jantung? Pertama, periksa kesadaran. Aomine menepuk-nepuk kedua pipinya, memberi rangsangan di dada tengahnya, tetapi pemuda itu tidak terbangun. Lalu, Aomine mengecek nadi di lehernya, nadi carotisnya. Seharusnya teraba dengan jelas, karena Aomine sering sekali iseng mengecek miliknya sendiri.
Tidak teraba.
Keringat dingin meluncur di seluruh tubuh Aomine. Dia tidak boleh panik. Tadi, pemuda itu masih bernapas lemah, artinya jantungnya baru saja berhenti beberapa menit. Kalau tidak salah, sebelum dua menit berlalu, tidak akan terjadi kerusakan otak permanen. Jadi, Aomine akan melakukan Resusitasi Jantung Paru pada pemuda ini.
Bagaimana caranya? Dia mencoba mengingat-ingat.
Di dada tengah, dekat diafragma. Tekanannya tidak boleh terlalu dalam karena bisa mematahkan tulang rusuk tapi tidak boleh terlalu dangkal karena kita akan memberikan rangsangan elektroda di bundle His. Jadi, kedalamannya harus pas, 5 cm.
Dengan hati-hati, Aomine meletakkan kedua tangannya dan mulai melakukan RJP. Berapa iramanya? 30: 2. 30 pijatan pada jantung dan 2 pernapasan buatan. Dengan menghitung secara hati-hati, Aomine terus memberikan RJP. Setelah 30 kali pijatan, dua kali pemberian napas buatan.
Tidak ada alat bantu pernapasan di sini, jadi mau tidak mau harus mouth to mouth. Tutup kedua lubang hidung agar tidak ada udara yang bocor, naikkan dagu pasien dengan head tilt chin lift. Lalu, buka mulutnya dan mulai tiup napas buatan sambil melihat pengembangan paru. Dua kali hal itu dilakukan. Setelah dua kali, lanjutkan memberikan RJP sebanyak 30 kali.
Sudah berapa kali Aomine melakukan RJP? Berapa siklus yang dibutuhkan? Aomine lupa. Tapi, di sekitarnya tidak ada yang bisa diminta tolong memanggil ambulans. Kalau dia berhenti melakukan RJP, aliran darah ke otak akan terhenti total dan terjadilah kerusakan permanen.
Sialan! Sialan!
Jangan mati di hadapanku, doa Aomine sambil terus melakukan RJP. 30 pijatan, dua kali napas buatan. Berjuanglah untuk hidup!
Lalu, setelah waktu berlalu terasa 1 abad, ketika Aomine sedang memijat jantungnya, si pemuda tersebut terbatuk-batuk. Batuk-batuk lagi, tapi bernapas. Aomine menghentikan RJP-nya dan mengecek nadinya di leher.
Terasa! Ada yang berdenyut. Pelan, tetapi stabil.
"Ha ha ha…" dia bernapas lega sekaligus meracau.
Namun, pemuda itu terus menerus batuk, sehingga Aomine ingin mendudukkannya. Tapi tunggu, benarkah harus didudukkan? Tidak, bukan seperti itu posisi mantap. Jadi, dia memiringkan pemuda itu ke kiri untuk mencegah aspirasi. Tidak berselang lama, ada cairan yang dimuntahkan si pemuda itu. Kondisinya masih sangat lemas.
Aomine baru bisa bernapas lega dan dia baru menyadari dia begitu lelah. Dari kejauhan, api masih menyambar seluruh gedung dan teringatlah dia bahwa dia belum menelepon pemadam kebakaran dan juga paramedis. Jadi, di mencari ponselnya dan kembali menelepon 110.
"Iya, kebakaran di SMA Teikou. Iya, alamatnya sudah benar. Iya, ada korban 1 orang. Tapi sudah kulakukan RJP. Dia muntah dan aku memiringkannya ke kiri. Iya, cepatlah."
Lalu, telepon ditutup.
Aomine melihat pemuda yang masih tidur dengan posisi miring ke kiri. Dadanya bergerak naik turun, tanda dia sudah kembali hidup. Aomine tidak mau mengusiknya. Memastikan dia hidup saja sudah cukup. Dia sendiri masih lemas. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ada orang yang baru saja dihidupkan lagi olehnya. Jika saja waktu itu Aomine tidak memutuskan untuk masuk ke Gedung Yayasan, mungkin di dalam berita akan ditemukan seorang mayat yang terbakar habis.
Membayangkannya membuat Aomine merinding.
Lalu, dia mendengar isakan kecil. Aomine pikir si pemuda itu masih batuk-batuk, tetapi bahunya bergetar. Sadarlah dia bahwa si pemuda itu menangis. Aomine tidak tahu apa yang ditangisinya. Mungkin dia bersyukur karena masih hidup, karena pastilah yang dialaminya begitu mengerikan dan traumatis. Punggungnya terlihat rapuh dan kecil. Jadi, Aomine menaruh tangannya dengan lembut tanpa mengusik posisi si pemuda.
"Semua sudah baik-baik saja," katanya berusaha menenangkan.
Aomine rasa, kata-kata itu tepat untuk si pemuda dan dirinya sendiri.
.
10.45 PAGI
"Kita harus memecahkan jendela," kata Nash Gold. Midorima kagum melihat Nash Gold masih tampak tenang di situasi yang kacau balau.
"Momoi, coba cari di ruang belakang apakah ada alat yang bisa kita gunakan untuk mendobrak pintu. Midorima, kau ikut Momoi. Murasakibara, ayo kita hancurkan jendela-jendela ini. Seharusnya petugas pemadam kebakaran sebentar lagi datang."
"Bagaimana dengan Kuro-chin dan Kise-chin?" tanya Murasakibara melihat keributan di tengah ruangan. Kuroko tertusuk oleh pisau Kise.
Jadi ini rencana Kise, pikir Nash Gold. Kise ingin menyeret semua orang untuk mati bersamanya. Namun, yang tidak dipikirkan oleh Kise adalah bahwa Kuroko akan maju paling depan untuk melindungi Ibunya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan dalam kondisi panik seperti ini. Kita harus memikirkan cara agar tidak mati terbakar saat ini," ujar Nash Gold. Momoi dan Midorima ke arah belakang gedung untuk melihat alat-alat yang berguna, sementara Murasakibara dan Nash Gold sendiri menghantam kaca-kaca hingga pecah dengan menggunakan kursi-kursi.
Hantaman yang kuat membuat kacanya pecah. Udara segar segera memasuki ruangan, tetapi itu tidak lama. Nash Gold terus memecahkan kaca sampai membuat lubang besar. Dia menghadap Murasakibara.
"Kita buka pintu-pintu ini dari luar," ujarnya. Murasakibara mengangguk. Dia memanjat untuk melewati jendela dan mendarat dengan mulus. Di luar, udara sejuk memasuki paru-parunya. Namun, dia tidak berhenti sampai situ.
"Aku akan menangani pintu ini, kau pintu satunya," perintahnya. Murasakibara hanya mengangguk tanpa mengeluh. Di luar, pintu dirantai dan dihalangi oleh balok kayu.
Persiapan Kise sungguh matang. Dia benar-benar bermaksud membunuh semuanya sebanyak mungkin. Balok kayu itu berat, tetapi Nash Gold masih kuat untuk mengangkatnya. Jadi, dia menggeser balok kayu hingga terjatuh dengan bunyi debaman kuat. Dengan gaya dorongan besar dari dalam, rantai yang mengikat pintu itu tidak bertahan lama karena terus menerus didobrak. Nash Gold menyingkir karena begitu pintu terbuka, semua orang berhamburan keluar seperti orang kesetanan.
Satu masalah selesai, pikirnya. Namun, tidak dengan masalah utama. Di tengah kepanikan masal, Ketua Dewan menghilang bagai ditelan angin. Hal ini menurut Nash Gold terlalu aneh. Tidak ada jalan keluar lain selain pintu darurat yang keduanya di blokir oleh Kise. Artinya, Ketua Dewan masih ada di dalam bangunan. Ada tempat persembunyian di suatu tempat di Gedung Aula atau jalan keluar lain.
Mengingat ini adalah kakek licik yang telah berkuasa lama, kemungkinan itu tidak bisa disingkirkan.
Satu per satu orang mulai menyelamatkan diri dan raungan sirine dari pemadam kebakaran memecah langit. Nash Gold masih harus menyelesaikan apa yang dimulai oleh Kuroko Tetsuya, yaitu memastikan OSIS Belakang hancur hingga ke akar-akarnya. Jadi, dia menerobos kerumunan manusia yang masih berusaha keluar. Kise, Kuroko dan Ibunya masih berada di tengah ruangan. Nash Gold membuka jaketnya. Dia berlutut dekat Kuroko yang kesadarannya berangsur-angur menghilang, dengan banyaknya genangan darah di lantai. Nyonya Kuroko berusaha sekuat tenaga menahan darah yang terus keluar hanya dengan kedua tangannya. Isakan tangisnya terdengar memilukan. Kise Ryouta terlihat linglung seperti boneka rusak dengan pisau berlumuran darah ditangannya. Kise bisa diurus belakangan.
"Tekan terus memakai jaket ini," kata Nash Gold sambil menyerahkan jaketnya pada Nyonya Kuroko. Tanpa banyak tanya, Nyonya Kuroko mengambilnya dan menekan luka besar di perut putranya.
"Nash Gold…" bisik Kuroko lemah. Rupanya dia masih sadar.
"Tidak apa," katanya menenangkan. "Polisi dan ambulans sudah sampai. Kau akan baik-baik saja," katanya.
"Sei…juurou… dimana….?"
"Akan kutemukan Akashi. Kau tenang saja. Kalian berdua akan baik-baik saja."
"Ketua… Dew…an…"
"Aku tahu. Akan kuselesaikan."
"Tetsuya, jangan bicara lagi. Tenang sayang, ini Okaa-sama." Nyonya Kuroko memeluk putranya dengan erat seraya menekan luka yang terus mengucurkan darah.
Nash Gold menatap Kise. Dia benar-benar seperti boneka rusak. Hanya menatap Kuroko dengan matanya yang terbelalak dan terus mengucurkan air mata. "Kurokocchi…? Kurokocchi…?" gumamnya berulang kali. Dia masih memegang pisau yang tajam dan berlumuran darah.
Pertama, Nash Gold harus memisahkan Kise dari pisau tersebut. Kondisinya tidak stabil dan dia bisa melakukan hal berbahaya lainnya. Namun, ada yang lebih penting. "Dimana Ketua Dewan bersembunyi?" tanya Nash Gold.
"Kurokocchi… maaf… Kurokocchi…?" gumam Kise tidak jelas.
Nash Gold menghela napas. Tidak, Kise tidak bisa diajak bekerja sama. Nash Gold harus menemukan Ketua Dewan dengan cepat sebelum ada intervensi dari polisi, supaya keadaan tidak bertambah runyam. Jadi, dengan pelan diambilnya pisau digenggaman Kise. Kise melepaskannya tanpa perlawanan.
Kalau tidak tahu dimana, cari saja sampai ketemu.
Nash Gold tidak takut pada apapun.
"Nash Gold!" seru Midorima. Dia dan Momoi baru kembali dari ruang belakang. "Pintunya berhasil terbuka!" seru Midorima.
"Kalian keluarlah dari sini. Jaga Kise agar tidak kabur. Ketika paramedis datang, katakan padanya ada satu korban dengan luka tusuk di perut yang butuh pertolongan."
Momoi mengangguk.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Midorima. Dia melihat pisau yang berlumuran darah di tangan Nash Gold.
"Mengakhiri semuanya supaya tidak ada tragedi lainnya."
"Nash Gold," kata Momoi lemah.
"Pergilah, Momoi. Gedung ini akan habis dimakan api sebentar lagi."
Tanpa menunggu jawaban mereka berdua, Nash Gold berjalan menuju belakang panggung.
"Pintu kedua dari kiri!" seru Momoi. "Disitu ada ruang rahasia. Mungkin apa yang kau cari ada disitu."
Lalu, berlarilah dia bersama dengan Midorima ke luar ruangan.
"Terima kasih."
Nash Gold berjalan ke belakang panggung. Asap tebal dan udara panas begitu menyengat. Kobaran api begitu besar. Nash Gold tidak perlu mencari ruangan rahasia itu, karena pintu itu terbuka dari dalam. Dari dalam, keluarlah seorang lelaki tua renta yang memakai tongkat. Si Ketua Dewan.
Ekspresinya tidak berubah ketika melihat Nash Gold yang menggenggam pisau berlumuran darah. Dia tidak bereaksi atau meminta ampun. Retihan api meraung-raung di antara mereka.
"Begitu rupanya. Aku paham," katanya dengan suara tenang yang stabil.
Pria ini telah membuat semua orang menderita hanya untuk kepuasannya sendiri. Dia menatap Nash Gold. "Apa itu tujuanmu sedari dulu?" tanyanya. Dia berdiri tegar dengan topangan tongkatnya.
"Kau merenggut banyak hal dariku, dari para siswa." Nash Gold menemukan suaranya yang bergetar.
"Kalian yang menyerahkan diri kepadaku. Aku hanya memberikan jalan keluar. Cukup adil bukan?" ujarnya dengan berkelit. Ketua Dewan selalu berkelit, seperti ular saat menyerang. Melilit mangsanya hingga mati lemas karena kehabisan napas.
"Kalian datang padaku dengan putus asa dan dengan harapan-harapan naif. Aku hanya menawarkan bantuan. Kalian yang mengulurkan tangan padaku. Semudah itu dunia berjalan. Kalau kau sudah melewati banyak fase di kehidupan, kau pasti paham betapa pentingnya sistem yang kubangun. Inilah dunia yang sebenarnya."
"Yang aku tahu, kau hanya seorang narsistik manipulatif. Aku sudah muak mendengar semua omong kosongmu."
Tatapannya masih setenang permukaan laut tanpa angin. "Jadi, kau kemari hanya untuk membunuhku? Kau akan jadi pembunuh. Kau tidak akan bisa hidup dengan beban seberat itu. Kau akan hancur. Aku masih bisa menyelamatkanmu, Anak Muda. Aku bisa membimbingmu."
Nash Gold sudah muak dengan ucapan semanis madu beracun itu. Dia menggenggam pisau itu makin kuat hingga telapak tangannya sakit. Di malam-malam mengerikan, dia telah berulang kali membayangkan sebuah bilah pisau menusuk jantung Ketua Dewan. Dia ingin membawa sebagian dari beban Kuroko. Jadi, dia tidak boleh bimbang sekarang.
Jika Ketua Dewan dilepaskan saat ini, tidak akan ada lagi kesempatan untuk menjatuhkannya. Tidak ada yang bisa menghukumnya, kecuali kematian. Dan, itu setimpal dengan harga yang harus dibayar.
Jadi, jangan gentar! Nash Gold berbisik pada dirinya sendiri. Dia maju perlahan-lahan tanpa melepaskan tatapannya dari Ketua Dewan. Tatapan dingin tanpa perasaan yang berkilat. Tatapan yang telah memperhitungkan segalanya.
"Kau masih muda. Kau tidak harus merusak masa depanmu sendiri," katanya dengan tenang. Dia tidak terlihat takut dengan fakta bahwa mereka berdua dikelilingi api yang berderik dan melahap semua benda di sekitarnya atau fakta bahwa Nash Gold memegang senjata saat ini. Ketua Dewan sangat yakin Nash Gold akan mundur di detik-detik terakhir. Beban membunuh seseorang terlalu besar, bahkan meksipun hati telah menyiapkan dirinya.
Namun, beban dari kebencian jauh lebih besar dari membunuh. Kebencian adalah kebusukan yang menggerogoti jiwa seseorang dari dalam, hingga tersisa cangkang kosong. Kebencian menggerogoti Kuroko dan Kise, membuat mereka berdua hancur dan Kise membunuh orang yang paling dicintainya. Kebencian membuat semua orang gelap mata dan rantai itu tidak akan pernah putus, meskipun ada orang-orang yang berjuang untuk memutuskannya.
Selama manusia hidup, kebencian akan hidup berdampingan dengan manusia. Manusia terlahir dengan emosi kebencian yang melekat. Itulah fakta yang tidak terbantahkan.
Jadi, yang bisa Nash Gold lakukan hanya memutus sebuah rantai yang bisa diputuskannya.
Dengan kesadaran penuh, ditusukkannya bilah pisau itu ke dada Ketua Dewan. Ekspresi syok dan kesakitannya begitu memberikan Nash Gold kepuasan.
"Aku…" Dia berusaha bicara. Namun, pisau tersebut didorong Nash Gold semakin dalam ke jantung Ketua Dewan.
"Benar. Itulah ekspresi yang tepat ketika kau berhadapan dengan seseorang yang memegang pisau," bisik Nash Gold. Lalu, lelaki tua itu roboh. Darah menggenang dan mengucur cepat dari jantungnya yang terluka. Nash Gold mencabut pisaunya dan melemparnya sembarang. Setelah itu, dia keluar dari ruangan belakang panggung, bertepatan dengan atapnya yang runtuh, menimpa sebuah sosok tidak bernyawa yang selamanya akan menjadi sosok anonim.
Selama ini Ketua Dewan berusaha menyamarkan dirinya, menjadikan dirinya bukan siapa-siapa. Maka, biarlah Nash Gold mengabulkan keinginannya. Dia akan mati sebagai anonim. Tidak akan ditemukan dalam riuhnya pesta pora api.
Nash Gold keluar tepat waktu ketika pemadam kebakaran mengevakuasi sisa-sisa orang yang masih terjebak. Sirine dari mobil pemadam kebakaran meraung-raung, beserta mobil para medis dan petugas polisi. Semua korban yang tidak parah diberikan air putih dan duduk lesehan di pinggir jalan. Bagi para korban yang batuk-batuk, diberikan masker oksigen.
"Apa kau baik-baik saja?" seorang petugas pemadam kebakaran menghampirinya. "Kau terluka?" tanyanya.
Nash Gold menggeleng. "Tidak, ini darah temanku. Ada yang tertusuk pisau. Dimana dia?" tanya Nash Gold sambil melihat sekeliling.
"Sudah dibawa paramedis ke rumah sakit untuk penangangan lebih lanjut. Kau tidak sesak napas atau batuk? Boleh tolong duduk supaya aku bisa memeriksamu?" pintanya.
Nash Gold menurutinya. Dia duduk di trotoar dan si petugas damkar memeriksa semuanya. Dari matanya yang disinari oleh senter, hingga tekanan darahnya.
"Apa pelakunya sudah ditangkap polisi?" tanya Nash Gold, dia tidak melihat sosok Kise dimana pun.
"Iya, ketika polisi datang dia langsung menyerahkan diri begitu saja. Kejadian yang gila ya," komentar si petugas damkar.
Nash Gold mengangguk sopan. "Tidak banyak kejadian seperti ini di sekolah lain," ujarnya mencoba bercanda.
Yang lucu, si petugas damkar tertawa. "Yah, terima kasih kepada kalian bocah-bocah yang mengacaukan Sabtu kami yang tenang."
"Sama-sama," balas Nash Gold.
Setelah selesai memeriksa, Nash Gold diberikan air putih. Diteguknya air putih itu hingga habis. Dia baru menyadari betapa haus dirinya. Setelah memastikan Nash Gold baik-baik saja, petugas damkar meninggalkannya. Dia beralih pada korban lainnya yang butuh pertolongan. Akhirnya, Nash Gold dibiarkan sendirian.
Namun, Momoi dan Midorima menghampirinya. Murasakibara tidak terlihat. Yah, selama semuanya baik-baik saja Nash Gold tidak perlu menanyakan kabarnya.
"Kau oke?" tanya Midorima.
Nash Gold bangun dari duduknya. "Iya."
"Ketua Dewan…?" tanya Momoi ragu.
"Tidak ada yang harus dibahas. Semua sudah selesai."
Jawaban mutlak yang tidak perlu ditanyakan lagi. Momoi dan Midorima bungkam.
"Apa Kuroko baik-baik saja?" tanya Nash Gold.
Momoi mengangguk. Kedua matanya merah. Mungkin, gadis itu baru bisa menangis sekarang, setelah adrenalinnya berkurang. "Kata paramedis Tetsu-kun kehilangan banyak darah, jadi harus segera di operasi. Ambulansnya langsung berangkat bersama Ibu Tetsu-kun." Sebuah isakan keluar dari mulutnya. "Aku khawatir sekali."
Midorima menepuk pundak Momoi dengan penuh keprihatian.
"Kita bisa menjenguknya setelah operasi selesai. Kuroko akan baik-baik saja," kata Midorima mencoba menghiburnya.
"Darahnya… banyak sekali…" isak Momoi. "Tetsu-kun…"
Midorima melirik Nash Gold, meminta bantuan untuk menenangkan Momoi. Namun, Nash Gold lebih ahli untuk mencabut nyawa orang dibandingkan menghibur gadis yang menangis. Akhirnya, Midorima memeluk Momoi dengan canggung. Setidaknya, itu lebih baik daripada bersikap apatis.
Nash Gold melihat kekacauan yang tidak pernah disangkanya. Empat mobil pemadam kebakaran, tiga mobil paramedis, dan dua mobil polisi. Kalau sudah seperti ini, tidak akan bisa ditutupi lagi oleh SMA Teikou. Ini pasti akan masuk ke dalam NHK News dan menjadi topik berita utama.
Memikirkannya saja sudah membuat Nash Gold lelah. Namun, itu sudah bukan tanggung jawabnya lagi. Dia sudah selesai dengan semua ini. Dia ingin hidup tenang setelah ini sambil menunggu hari penghukuman dosa karena membunuh seseorang yang layak untuk dibunuh.
Ternyata, ada pemadam kebakaran lain di gedung belakang. Dia menoleh ke arah kebakaran yang lebih besar. Ada 3 mobil pemadam kebakaran dan satu mobil paramedis. Rupanya, Kise benar-benar ingin menghancurleburkan SMA ini. Satu Gedung Yayasan telah berubah menjadi abu. Sebesar itu kebenciannya terhadap Ketua Dewan dan sekolah ini.
Nash Gold melihat lebih dekat dan melihat Aomine sedang bicara dengan seorang petugas paramedis. Dia sedang menilai kedua pupil Aomine dan ditangan kirinya ada alat pengukur tekanan darah.
"Aomine," panggil Nash Gold.
"Oh Nash Gold!" sapanya. Lalu dia berpaling pada petugas paramedis. "Sudah kubilang, aku tidak kenapa-napa. Yang harus kau periksa adalah pemuda itu. Dia sempat pingsan di dalam!"
"Aomine, biarkan petugas paramedis memeriksamu dulu," tegur Nash Gold. Aomine mendengus dan dia diam hingga selesai diperiksa. Barulah, petugas paramedis meninggalkannya sendiri setelah memeriksanya.
"Hari yang gila ya," kata Aomine. "Kau luka?" tanyanya melihat darah di tangan Nash Gold.
Nash Gold menarik napas dan menghembuskannya. "Bukan darahku. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di Gedung Yayasan?" tanya Nash Gold.
Aomine menengok ke sekitarnya dan menarik Nash Gold menjauh. Setelah dia yakin tidak ada yang mencuri dengar, Aomine membuka mulutnya. "Kau tidak akan percaya ini. Kise berusaha membunuh seseorang dengan cara membakarnya hidup-hidup. Dia membakar Gedung Yayasan," kata Aomine.
Namun, Nash Gold tidak terkejut. Dia mengangguk. Kise telah melakukan tindakan lebih gila lagi, tapi… "Siapa yang hendak dibakarnya hidup-hidup?" tanya Nash Gold. Jantungnya berdentum-dentum.
Aomine menaikkan bahunya. "Aku tidak kenal, sepertinya bukan anak SMA ini."
"Rambutnya biru muda?" tanya Nash Gold.
Aomine mengernyit sebelum menggeleng. "Tidak. Sepertinya merah. Entahlah. Memangnya kenapa?" tanya Aomine.
Nash Gold sudah berbalik dan meninggalkan Aomine yang kebingungan. Dia menghampiri petugas paramedis yang sedang memasukkan infus ke dalam pembunuh darah seorang lelaki. Lelaki yang beberapa waktu belakangan ini mampu memporakporandakan keseimbangan sistem di SMA Teikou. Pemuda yang menjadi pemicu dan pelopor kehancuran dari OSIS Belakang.
Akashi Seijuurou dalam kondisi mengenaskan. Dia setengah sadar dan masker oksigen diberikan agar dia bisa bernapas. Di kedua pergelangan tangannya lecet-lecet dan terdapat luka bakar. Namun, dia hidup dan berusaha membuka matanya.
"Akashi…" panggil Nash Gold.
"Kau kenal pemuda ini?" tanya Aomine yang ternyata sudah di belakang Nash Gold.
"Dia Akashi Seijuurou, saudara Kuroko."
"HAH? TETSU PUNYA SAUDARA?" seru Aomine.
"Tolong jangan berteriak di sini!" tegur seorang petugas paramedis dengan galak. Aomine meringis dan meminta maaf.
"Nash Gold…" suara serak Akashi mengalihkan perhatian Nash Gold. "Tet…suya…" katanya lemah.
"Baik-baik saja," jawab Nash Gold cepat. "Kise juga sudah berhasil diamankan. Kita telah berhasil. Kita telah menang, Akashi."
Akashi mengangguk lemah. Wajahnya penuh jelaga, tetapi ekspresinya begitu rileks. "Syukurlah…" bisiknya.
"Sembuhkanlah dulu dirimu, setelah itu baru kita bicara."
Akashi mengangguk lagi. Petugas paramedis mendorong brakar Akashi dan memasukkannya ke dalam mobil ambulans. "Aku ikut," kata Nash Gold.
"Aku juga," kata Aomine.
"Hanya satu yang boleh mendampingi," ujar petugas paramedis. Aomine menatapnya keras kepala. Nash Gold menghela napas.
"Aomine, kau pergilah ke Momoi. Dia khawatir padamu," kata Nash Gold setengah berbohong. Aomine mengangguk dengan setengah enggan. Nash Gold tahu bahwa banyak sekali yang ingin ditanyakan oleh Aomine, tapi Nash Gold harus memprioritaskan apa yang terpenting dulu. Si kembar Akashi-Kuroko lah yang saat ini penting. Mereka adalah korban dengan kerugian paling parah.
Nash Gold ikut masuk ke dalam mobil ambulans, dia duduk di sisi Akashi. Lalu, pintu ambulans tertutup dan sirine ambulans terdengar begitu nyaring dari dalam.
.
To Be Continued
