naruto © masashi kishimoto
tidak ada keuntungan apa pun yang saya ambil dari fanfiksi ini.
Suara lonceng berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Tenten terkejut dan menoleh dari tempatnya berdiri, melihat ke arah pintu masuk—jarang sekali ada pelanggan yang datang di saat larut malam begini. Tenten mengelap tangannya yang kotor dikarenakan debu di lap terdekat yang bisa diraihnya, merapihkan bajunya sedikit hanya untuk menemukan sosok yang dikenalnya berdiri di pintu masuk.
"Neji?" Tanyanya, lebih untuk dirinya sendiri.
Neji membawa kedua kakinya memasuki toko tanpa kata-kata, cahaya bulan yang samar itu menghiasi tubuhnya seiring berjalan mendekati Tenten. Di dalam genggaman tangannya ada sebuah kunai—kunai yang rusak, dengan sisi-sisinya yang bergerigi kasar, merefleksikan lampu remang-remang toko. Tangannya bergerak menaruh benda tersebut di atas meja konter di antara mereka berdua.
"Aku butuh ini untuk diperbaiki." Ujar Neji, suaranya tenang dan pelan, seperti permukaan danau yang menyembunyikan kedalaman tak terduga di bawahnya.
Tenten mengerjap, lalu mengambil kunai di atas meja. Menyentuh bagiannya yang bergerigi, lalu dahinya mengernyit. Kerusakan di kunai ini terlalu rapih, tidak natural. Seperti disengaja.
"Neji, ini yang ketiga kalinya di bulan ini," tanpa melepaskan kunai di tangannya, Tenten bersuara, nadanya menyelidik. "Menjalankan misi yang susah? Atau kau memang kebetulan sedang dalam kondisi tidak prima, Neji?"
Ditanyai begitu Neji tidak langsung menyahut. Kedua matanya bergerak memandang beberapa rak penuh senjata yang ada di dinding, beberapa pekerjaan Tenten yang belum selesai di meja kerjanya. Ketika Neji membuka mulutnya, kata-kata yang keluar di luar dugaan Tenten.
"Aku ceroboh."
Ha.
Rasanya Tenten ingin tertawa. Neji? Ceroboh? Perkataannya tadi sungguh di luar karakteristiknya, sampai-sampai Tenten menghentikan pengecekannya pada kunai rusak hanya untuk menatapnya lurus di mata. "Kamu? Ceroboh?" Tenten berusaha memberi nada bercanda pada kalimatnya, namun gagal. Hanya kebisuan Neji yang menyapanya. Keheningan memenuhi ruang, menjadi jawaban yang sangat jelas daripada apa pun yang Neji katakan.
Tenten menghela napas, diletakkannya kunai itu kembali di atas meja konter lalu melipat tangan di depan dada, "baiklah, Neji. Apa yang sebenarnya terjadi?" Tenten menatap Neji lekat-lekat; mencari jawaban di sana.
Neji tidak membalaskan pandangan Tenten, pemuda itu hanya menatap ke arah meja konter di antara mereka berdua, menyentuhnya, lalu berakhir dengan meremas ujung meja dengan kekuatan yang tidak seberapa. Ketika bibirnya terbuka untuk mengeluarkan kata-kata lagi, suaranya lebih lembut dari yang sebelumnya, lebih rapuh.
"Tenten, apakah kamu pernah berpikir kalau kamu seharusnya tidak berada di sini?"
Sebuah pertanyaan mengudara, tajam dan tidak masuk ke dalam perkiraan. Kedua tangannya turun, Tenten merasakan tenggorokannya tercekat, kembali menatap wajah Neji lekat-lekat. "Apa maksudmu?"
Pandangan Neji terangkat, bertemu dengan kedua mata coklat. Ekspresi di wajah pemuda itu membuat Tenten tersentak.
Neji, rekannya yang selalu tenang dan berwibawa, terlihat tersesat.
"Setelah perang kemarin—" ia mulai, kata-katanya tertinggal di tenggorokan, bergetar di akhir, "—aku terpikirkan oleh orang-orang yang tidak selamat. Orang-orang yang lebih berani, lebih kuat... lebih pantas." Tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. "Kadang, aku bertanya-tanya mengapa aku?"
Napas Tenten tertahan. Dadanya sesak. Dia selalu tahu jika Neji memikul beban lebih dari kapasitasnya, namun mendengarnya seperti itu membuat Tenten seperti menyaksikan sebuah retakan di sebuah dinding kokoh yang tidak mungkin bisa ditembus.
Tenten berjalan dari meja, menghapus jarak dan membuat tidak ada lagi penghalang di antara mereka. "Jangan bilang seperti itu," terlepas dari perkataannya, dada Tenten sesak dan suaranya bergetar. "Kamu di sini, Neji. Itu yang paling penting."
Tawa pahit keluar dari antara dua bibir Neji, ia menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Karena aku masih berguna? Karena aku masih bisa bertarung?" Ia berkata sembari menatap Tenten, alisnya sedikit menekuk dan Tenten menampilkan frustrasi dan kesedihan di kedua mata lavender itu. "Itu masih kurang, Tenten. Rasanya tidak akan pernah cukup."
Tenten terenyuh, dadanya terasa penuh. Baru kali ini ia mendengar suara Neji dihiasi dengan emosi seperti itu. Ingin rasanya Tenten meraih Neji, memberikan sedikit ketenangan, namun Tenten lebih memilih untuk tidak merealisasikan sugesti itu.
Neji dari dulu adalah orang apa-apa diselesaikan olehnya sendiri, seperti tidak bisa diraih. Tapi kali ini berbeda, dan sepertinya Tenten tahu jawabannya.
"Kamu salah, Neji." Jawabnya, nadanya lemah lembut namun penuh keyakinan "Kamu lebih dari petarung, Neji. Kamu selalu lebih dari itu—lebih dari apa yang kamu pikirkan." Tenten mendekat, jari-jarinya bersentuhan dengan lengan baju Neji. "Perang memang sudah berakhir, dan kamu berhasil bertahan. Itu bukan suatu alasan agar kamu merasa bersalah. Itu adalah sesuatu untuk dihargai."
Rahang Neji mengeras, dan untuk suatu momen, Tenten berpikir kalau Neji akan berpaling dari dirinya. Tapi sebaliknya, dua mata pemilik byakugan itu tertutup, lalu ia membuang napas secara pelan seakan-akan sedang melepaskan sesuatu yang ia tahan selama bertahun-tahun.
Kedua mata itu kembali terbuka. "Tidak sesederhana itu, Tenten," suaranya pelan, seperti bisikan.
"Aku tahu," jawabnya. "Tapi kamu tidak perlu melewati ini semua dengan sendirian. Kamu punya orang-orang yang peduli denganmu. Kamu punya aku." Tenten dengan ragu meletakkan tangannya di atas tangan Neji, jempolnya melakukan gerakan memutar dengan lembut.
Neji tidak menarik tangannya.
Mungkin, mungkin, kata-kata Tenten menembus suatu dinding dalam dada Neji. Pandangannya jatuh kepada tangan Tenten yang berada di atas miliknya sendiri. Ekspresinya pemuda tersebut sulit dibaca, di situ pula Tenten merasa jika mungkin saja ia sudah melewati batas.
Tapi yang terjadi adalah kedua bahu pemuda itu turun, dan walaupun hanya sekilas, tapi Tenten bisa merasakan jika Neji mendekatkan diri kepada sentuhannya.
"Tenten," bisik Neji, mengucapkan namanya seperti sudah menjadi napasnya sendiri.
Lengkungan tipis terbentuk di bibir Tenten, genggaman tangan ia eratkan, mencoba memberikan ketenangan. "Aku di sini, Neji. Aku tidak akan ke mana-mana. Kamu tidak perlu melakukan segalanya sendirian."
"Aku tahu," jawabnya, akhirnya.
Rasanya Tenten ingin berkata lebih, memberikan janji pada Neji bahwa ia akan selalu ada kapan pun dibutuhkan, bahwa Neji tidak perlu takut dengan masa depan yang akan datang. Akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar, maka Tenten hanya kembali menggenggam tangan Neji lebih erat lagi, seakan-akan Neji akan mati.
Kesunyian malam yang mengikuti mereka berdua terasa berat namun tidak membuat sesak. Seperti kesunyian yang mewakili pengertian, kata-kata yang tenggelam di tenggorokan dan penderitaan yang dibagi bersama.
omake
Neji meninggalkan tokonya tidak lama kemudian, dengan kunai yang sudah diperbaiki seperti sedia kala di genggaman. Tenten berdiri halaman depan, memandang punggungnya menghilang ditelan malam dengan harapan di kedua matanya.
Ketika ia hendak mengunci pintu, Tenten tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap langit di atas. Bintang-bintang tidak seterang sebelumnya, namun mereka tetap ada di sana—seperti dia.
Karena sejatinya setelah perang usai, di bawah rasa bersalah dan kehilangan, masih ada kehidupan. Di sana ada kehidupan, di situ pula ada harapan.
fin.
a/n:huhuhuhu iseng rewatch naruto shippuden, ga tahunya malah berlabuh ke kapal karam ini. huhuhu. dulu jaman smp sih mikirnya biasa aja ke nejiten, kalau sekarang kok malah terpincut ya... sama makin ga rela kalau neji mati huhuhu. btw hai hai, baru balik nulis fanfik lagi setelah 7 tahun :D. jadi maaf kalau semisalnya kaku dan aneh asjsdsad t_t.
terima kasih sudah membaca! 3
