Disclaimer: Semua bukan punya saya.

Genre: Adventure, Supranatural, Fantasy.

Rate: M

Warning: cerita kacau, belum mateng, ya begitulah.


Phantom Parade


.

.

.

Kyoto adalah salah satu kota tertua dan paling bersejarah di Jepang. Terletak di wilayah Kansai di pulau Honshu, Kyoto pernah menjadi ibu kota Jepang selama lebih dari seribu tahun, dari tahun 794 hingga 1868, sebelum peran tersebut dipindahkan ke Tokyo. Kota ini dikenal sebagai pusat budaya, seni, dan spiritualitas Jepang, dengan warisan yang mencerminkan tradisi kuno negara tersebut.

Kyoto memiliki latar belakang yang erat dengan mitologi dan spiritualitas Jepang, menjadikannya salah satu kota paling sakral di negeri ini. Kota ini didirikan berdasarkan prinsip-prinsip geomansi, atau tata letak spiritual, yang diyakini membawa harmoni antara manusia dan alam. Pegunungan yang mengelilingi Kyoto dianggap sebagai pelindung alami, menciptakan lingkungan yang ideal untuk menjadi pusat religius. Dalam mitologi Jepang, Kyoto sering dikaitkan dengan keberadaan dewa-dewa (kami) yang menghuni alam sekitar, termasuk sungai, gunung, dan pepohonan. Desain kota ini juga dipengaruhi oleh konsep Shijin Sōō, yaitu kepercayaan bahwa Kyoto dilindungi oleh empat penjaga spiritual—naga biru, macan putih, burung merah, dan kura-kura hitam—yang melambangkan elemen-elemen penting alam semesta.

Sebagai pusat spiritual, Kyoto menjadi rumah bagi ribuan kuil Shinto dan Buddha, banyak di antaranya memiliki hubungan mendalam dengan mitologi Jepang. Fushimi Inari Taisha, misalnya, didedikasikan untuk Inari, dewa kesuburan dan kemakmuran, yang diyakini tinggal di gunung di belakang kuil ini. Gerbang torii merah yang tak terhitung jumlahnya di kuil ini dianggap sebagai jalan menuju dunia spiritual. Di sisi lain, kuil Buddha seperti Kiyomizu-dera dan Ryoan-ji mewakili kedalaman tradisi Buddhisme di Jepang, dengan ajaran-ajaran tentang belas kasih, meditasi, dan kesadaran. Kyoto juga menjadi pusat berkembangnya Zen, dengan taman batu seperti di Ryoan-ji yang merepresentasikan filosofi keheningan dan keharmonisan.

Kyoto juga dikenal sebagai tempat pelaksanaan berbagai ritual dan festival yang memiliki akar dalam spiritualitas. Salah satu yang paling terkenal adalah Gion Matsuri, yang dimulai pada abad ke-9 untuk menenangkan dewa wabah dan memastikan keselamatan kota. Festival ini hingga kini menjadi tradisi yang melibatkan seluruh masyarakat Kyoto, menandakan hubungan mendalam antara manusia, dewa, dan alam. Selain itu, Aoi Matsuri adalah ritual kuno dari periode Heian yang berdoa untuk keberkahan dan keseimbangan alam. Dengan perpaduan antara mitologi, spiritualitas, dan tradisi, Kyoto telah menjadi simbol harmonisasi dunia fisik dan spiritual, serta menjadi pusat kekayaan budaya Jepang selama lebih dari seribu tahun.

Kyoto, dalam dunia supranaturalnya, terbagi menjadi tiga kekuatan besar yang saling menguasai wilayah kota. Di kawasan barat dan timur, Fraksi Youkai memegang kendali, makhluk-makhluk gaib yang memancarkan aura misterius dan sering kali menjadi penguasa bayangan di balik hiruk-pikuk kehidupan manusia. Di selatan, kekuasaan jatuh ke tangan Lima Klan Utama, kelompok keluarga terpandang yang memiliki warisan panjang dan pengaruh besar dalam menjaga keseimbangan di dunia manusia dan supranatural. Sementara itu, kawasan utara Kyoto berada di bawah kendali para Penyihir Jujutsu, praktisi sihir yang melindungi rahasia besar serta batas-batas dunia gaib yang rapuh. Ketiga fraksi ini menciptakan dinamika yang rumit, di mana batas antara aliansi dan konflik selalu tipis.

Namun, harmoni di antara tiga kekuatan besar itu sering kali terganggu oleh konflik internal yang mengguncang keseimbangan. Fraksi Youkai, misalnya, telah terpecah menjadi dua kubu—Fraksi Youkai Barat dan Fraksi Youkai Timur—akibat perbedaan ideologi yang tidak dapat didamaikan. Sementara itu, di dalam Lima Klan Utama yang mendominasi kawasan selatan, konflik muncul dari aturan ketat yang mengikat mereka. Klan Nakiri, Himejima, Kushihashi, Doumon, dan Shinra adalah keluarga yang menjunjung tinggi ajaran Shinto dan menggunakan kekuatan mereka untuk membasmi roh jahat dari generasi ke generasi. Namun, aturan keras yang mereka terapkan membuat posisi di dalam klan menjadi sangat rentan. Setiap pelanggaran, sekecil apa pun, dapat berujung pada hukuman berat berupa pengucilan dan pengusiran, menciptakan tekanan yang tak terelakkan di antara para anggotanya.

.

Sementara Fraksi Youkai dan Lima Klan Utama bergulat dengan konflik ideologi dan aturan ketat, lingkaran kehidupan para Penyihir Jujutsu menghadapi masalah yang berbeda: konflik ego. Tiga Klan Penyihir Besar Jujutsu—Klan Gojo, Klan Zen'in, dan Klan Kamo—selalu bersaing untuk membuktikan superioritas mereka. Setiap klan bersikeras bahwa mereka adalah yang terkuat dan paling layak memimpin dunia Jujutsu, menciptakan ketegangan yang mengakar dalam sejarah panjang mereka.

Namun, di era modern, konflik tersebut perlahan mulai mereda dengan berdirinya dua Institusi Jujutsu di Kyoto dan Tokyo. Institusi ini didirikan untuk menjadi wadah bagi para penyihir dari berbagai latar belakang—baik mereka yang berasal dari klan besar, klan kecil, maupun non-penyihir. Tujuan utamanya adalah mempererat hubungan di antara mereka dan menciptakan harmoni dalam dunia Jujutsu yang sering dilanda perpecahan. Meski persaingan tidak pernah benar-benar hilang, institusi ini menjadi simbol harapan bagi masa depan yang lebih damai.

.


Phantom Parade


.

Di pinggiran kota Kyoto pada siang hari, tiga anak kecil berjalan santai di sepanjang trotoar yang dinaungi deretan pohon sakura yang mulai menggugurkan kelopak. Dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki, semuanya berusia sekitar 12 tahun, tampak mengenakan seragam sekolah mereka yang rapi. Tawa mereka sesekali pecah, melengkapi suara langkah kecil di atas trotoar. Mereka baru saja selesai dengan hari sekolah dan sedang menuju pulang ke rumah, membawa tas kecil yang bergoyang ringan di bahu masing-masing.

Dua anak perempuan itu, keduanya berambut hitam sebahu yang tergerai rapi, berjalan berdampingan dengan seorang anak laki-laki berambut blonde yang sedikit lebih tinggi dari mereka. Anak laki-laki itu, yang berjalan di tengah, menoleh ke kedua temannya dan bertanya dengan nada penasaran, "Apa yang kalian akan lakukan di rumah nanti?"

Salah satu anak perempuan yang berambut hitam, mengangkat bahunya sedikit sambil memberikan senyum tipis. "Kami akan belajar bersama," jawabnya. "Bagaimana denganmu, Naruto?"

Naruto, anak laki-laki berambut blonde itu, menundukkan kepalanya, ekspresinya sedikit suram. "Mungkin aku akan berlatih sendirian," jawabnya pelan. "Naobito-jiichan sedang sibuk melatih Naoya."

Maki dan Mai mengangguk paham setelah mendengar penjelasan dari Naruto. Maki berkata, "Itu wajar, Naruto. Naoya adalah calon pewaris klan yang selanjutnya, jadi wajar jika Naobito-jiisan lebih banyak melatihnya."

Mai menambahkan dengan nada setuju, "Betul. Tentu saja Naoya harus dipersiapkan dengan baik untuk posisi itu." Kedua gadis itu saling bertukar pandang, menyadari betapa pentingnya peran yang harus diemban dalam kelangsungan klan mereka.

Ketika mereka melangkah lebih jauh, langkah mereka terhenti oleh pemandangan yang tak terduga. Di sebuah jalan kecil yang terlindung oleh deretan pohon, seorang anak perempuan tampak sendirian, mengenakan hakama putih-merah yang bersih, tampak kontras dengan sekumpulan bocah laki-laki yang mengenakan hakama hitam. Anak perempuan itu berambut ungu gelap yang tergerai rapi, namun ekspresinya tampak muram, seolah terperangkap dalam situasi yang tak bisa ia hindari.

Bocah-bocah laki-laki itu mengelilinginya, tertawa sambil mengeluarkan ejekan. "Ainoko!" teriak salah seorang dari mereka, suaranya penuh hinaan. Kata itu bergema, meresap dalam udara, mengingatkan pada makna yang penuh stigma—Ainoko, sebutan bagi mereka yang memiliki darah campuran asing. Kata itu terdengar menusuk, seolah dimaksudkan untuk merendahkan dan mengasingkan.

Anak perempuan itu hanya menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia diam, membiarkan setiap kata yang dilemparkan menghujam jiwanya. Gumpalan kertas yang berisi tulisan Ainoko, orang asing, dan kata-kata hinaan lainnya, dilemparkan ke arah wajahnya, jatuh di tanah di sekelilingnya. Tak ada perlawanan, hanya keheningan yang menyakitkan, sementara bocah-bocah laki-laki itu terus tertawa, merasa menang atas penderitaannya.

Tak tahan melihat perilaku penindasan dan rasisme yang semakin menjadi-jadi, Naruto merasa darahnya mendidih. Dengan cepat, ia melangkah maju, berdiri tegap di hadapan sekumpulan bocah laki-laki itu, dan berteriak, "Berhenti kalian! Jika tidak, aku akan menghajar kalian satu per satu!"

Bocah-bocah laki-laki itu berhenti sejenak, namun bukannya merasa terancam, mereka malah memandang Naruto dengan pandangan meremehkan. Salah satu dari mereka, yang tampak lebih besar dan lebih percaya diri, menyeringai dan berkata, "Ha, kamu pikir kamu bisa melawan kami? Kami berasal dari klan Himejima, salah satu dari Lima Klan Utama. Tak ada yang bisa menghalangi kami."

Bocah lainnya menambah, "Kalau kamu berani, coba saja!" Mereka semua tertawa mengejek, seolah tak sedikit pun merasa terancam oleh keberanian Naruto.

Gadis berhakama putih-merah itu tertegun, matanya terfokus pada sosok bocah berambut blonde yang kini berdiri dengan tegap di hadapan sekumpulan bocah laki-laki yang mengancamnya. Tiba-tiba, perasaan yang tak bisa ia bendung muncul dalam hatinya. Ia merasa seperti melihat seorang pahlawan, selain ibunya, yang berdiri untuk melindunginya. Tanpa ragu, bocah blonde itu tampak bersedia bertarung demi dirinya, bahkan ketika ia sendiri hanyalah seorang anak berdarah setengah manusia—Ainoko, sebutan yang selalu membuatnya merasa terasing. Keberanian itu membuat gadis itu terdiam, merasa campuran antara terkejut dan terharu, seolah ada seseorang yang peduli terhadapnya, meskipun dunia di sekitarnya hanya memberikan hinaan.

Naruto mengepalkan tangannya erat, rasa muak menguasai dirinya mendengar arogansi yang keluar dari mulut bocah-bocah itu. Dia menatap mereka tajam, tatapannya seperti api yang siap membakar. "Mau kalian keturunan dewa sekalipun, aku tidak peduli! Tinggalkan gadis itu sekarang, atau kalian akan mengalami sesuatu yang buruk."

Nada suaranya tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Udara di sekitarnya seolah berubah, membawa tekanan yang membuat bocah-bocah Himejima itu terdiam sejenak. Namun, mereka segera saling pandang dan tertawa kecil, seolah tidak percaya ancaman itu. Tapi Naruto tidak bergeming.

Ketika ia bersiap melangkah maju, adu jotos tampaknya tak terelakkan. Namun, tiba-tiba suara nyaring dan tegas memecah ketegangan.

"Heh! Apa yang kalian lakukan di sana?!" seru seorang pria berseragam polisi dari arah pertigaan jalan. Langkahnya cepat menghampiri mereka, sementara ekspresinya menunjukkan ketegasan yang tak bisa diabaikan.

Bocah-bocah klan Himejima itu langsung membeku di tempat. Wajah mereka yang tadinya dipenuhi keberanian palsu kini berubah panik. Tanpa berkata apa-apa, mereka saling melirik sebelum satu di antara mereka berbisik, "Ayo pergi! Kita tidak bisa ketahuan membuat masalah seperti ini!"

Dalam sekejap, mereka lari terbirit-birit, meninggalkan Naruto dan gadis berhakama putih-merah itu. Naruto berdiri diam, memandangi punggung mereka yang menjauh, sebelum menghela napas panjang. Ia tahu persis alasan mereka melarikan diri. Bocah-bocah itu, meski angkuh, sangat paham satu hal: melanggar peraturan klan hingga berurusan dengan aparat keamanan adalah pelanggaran besar yang bisa membawa konsekuensi serius bagi keluarga mereka.

Polisi itu menghentikan langkahnya, memutuskan untuk tidak mengejar para bocah yang melarikan diri. Ia mendekati Naruto dan gadis berhakama putih-merah yang masih berdiri di tempat. Dengan nada tenang namun penuh perhatian, ia bertanya, "Apa yang terjadi di sini, Nak?"

Naruto menatap polisi itu dengan sikap tenang meskipun dadanya masih berdebar. "Mereka tadi mengganggu gadis ini," jawabnya, menunjuk pada gadis yang berdiri di sampingnya. "Mereka mengejeknya dengan sebutan yang tidak baik... 'Ainoko'. Saya tidak tahan melihat mereka memperlakukannya seperti itu, jadi saya mencoba membela dia."

Polisi itu mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama. Naruto melanjutkan, suaranya sedikit lebih pelan, "Saya berniat untuk menghentikan mereka, tapi sebelum sempat melakukan apa pun, mereka kabur saat melihat Anda datang."

Polisi itu tertegun mendengar penjelasan Naruto. Sesaat, ia hanya memandang anak laki-laki itu dengan rasa kagum yang tulus. Akhirnya, ia merunduk sedikit, meletakkan kedua tangannya di pundak Naruto, dan berkata dengan suara penuh penghargaan, "Nak, kau telah melakukan hal yang benar. Tidak semua orang punya keberanian seperti ini. Kau benar-benar anak yang luar biasa."

Naruto menatap polisi itu, wajahnya tetap tenang meskipun kata-kata pujian itu membuat hatinya sedikit hangat. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan," katanya dengan sederhana. "Kalau seseorang dalam kesusahan, sudah tugas kita untuk membantu mereka, bukan?"

Polisi itu tersenyum, merasa harapan tentang masa depan ada di depan matanya. "Kau benar, Nak. Negara ini butuh lebih banyak orang seperti dirimu."

Polisi itu lalu menatap gadis berhakama putih-merah yang masih berdiri ragu di tempat. "Baiklah, aku akan mengantar gadis ini pulang ke rumahnya," katanya kepada Naruto sambil menepuk pundaknya perlahan. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Biar sekarang aku yang mengambil alih."

Naruto mengangguk tanpa berkata apa-apa, menyaksikan polisi itu mulai melangkah bersama gadis tersebut. Namun, belum jauh berjalan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Dengan langkah cepat, ia kembali ke arah Naruto, wajahnya tampak malu-malu tapi penuh rasa terima kasih.

"Ano...T-terima kasih banyak atas apa yang telah kau lakukan untukku tadi. Kalau tidak ada kau, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku" katanya dengan suara lembut, membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat. "Namaku Himejima Akeno."

Naruto menatap gadis itu, lalu memberikan senyum lebar yang hangat. "Zenin Naruto," balasnya dengan nada bangga. "Senang bertemu denganmu, Akeno."

Akeno membalas senyuman Naruto dengan keramahan yang sama, seolah mengucapkan rasa terima kasihnya sekali lagi melalui ekspresi itu. "Sampai jumpa, Naruto," ucapnya pelan sebelum berbalik. Mereka saling melambaikan tangan, membiarkan jarak perlahan memisahkan mereka.

Begitu Akeno dan polisi itu pergi, Maki dan Mai segera datang menghampiri. Maki menyilangkan tangan di dadanya, wajahnya tampak sedikit kecewa. "Yah, sayang sekali. Tidak ada baku hantam sama sekali. Padahal itu bagian yang paling menarik," keluhnya dengan nada tidak puas.

Naruto mendesah sambil menyeka dahinya, mencoba meredakan ketegangan yang masih tersisa. "Yang tadi itu cuma keberanian spontan saja. Aku tidak sempat berpikir panjang."

Mai, yang berdiri di samping Maki, terkekeh kecil. "Keberanian spontan atau tidak, kau tetap melakukan sesuatu yang hebat, Naruto. Itu tidak mudah."

Naruto hanya tersenyum kecil, lalu melangkah pelan bersama mereka, membiarkan percakapan beralih ke topik lain.

Mai melirik Naruto sambil menyilangkan tangan di dadanya. Dengan nada serius, ia bertanya, "Ngomong-ngomong, apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada gadis bernama Akeno itu?"

Naruto mengangguk pelan, tatapannya menerawang ke kejadian tadi. "Iya, aku juga merasakan hal yang sama," jawabnya. "Ada sesuatu yang tak biasa pada dirinya. Itu terasa dari jenis aura spiritualnya."

Maki, yang berjalan di sisi lain Naruto, mengernyit penasaran. "Aura spiritual? Maksudmu apa?"

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit, pikirannya dipenuhi oleh sesuatu yang mengganggunya sejak tadi.

'Apa yang dimiliki Akeno terasa berbeda dengan aura bocah-bocah pembully tadi, yang jelas-jelas manusia biasa. Apakah ini ada hubungannya dengan ejekan 'Ainoko' yang mereka lontarkan?'

Setelah beberapa saat, Naruto mengangkat wajahnya lagi. "Aku tidak yakin," katanya akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi ada sesuatu yang tidak biasa tentang dia. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan begitu saja."

Mai dan Maki saling bertukar pandang, keheningan sementara menyelimuti mereka sebelum akhirnya mereka melanjutkan langkah dengan pikiran masing-masing.

.


Phantom Parade


.

Di tengah lebatnya pepohonan hijau yang menghiasi sebuah lembah di utara Kyoto, berdiri sebuah rumah tradisional khas Jepang. Bangunan itu megah namun tetap memancarkan kesederhanaan, dengan atap genting gelap yang melengkung anggun dan pintu geser dari kayu yang dihiasi kertas shoji. Kediaman ini adalah rumah keluarga besar klan Zenin, salah satu klan penyihir Jujutsu yang paling berpengaruh. Tempat ini bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat tradisi dan latihan para penyihir Jujutsu yang menjaga keseimbangan dunia Jujutsu. Dari sini, keputusan penting diambil, strategi dirancang, dan generasi baru dipersiapkan untuk melanjutkan tanggung jawab besar yang diwariskan oleh leluhur mereka. Suasana di sekitar rumah itu terasa tenang namun penuh dengan aura kewibawaan, seolah setiap sudutnya menyimpan jejak sejarah yang tak ternilai.

"Yo! Naruto!"

Seru seorang pria misterius dengan suara penuh semangat, melambaikan tangan ke arahnya. "Astaga, kau sudah makin tinggi dan tampan sekarang! Dengan penampilan seperti ini, aku yakin gadis-gadis di luar sana pasti akan tergila-gila padamu!"

Naruto baru saja melangkah melewati gerbang kayu kediaman klan Zenin ketika ia dikejutkan oleh sosok yang tak terduga. Seorang pria berusia 20-an berdiri di tengah halaman, mengenakan seragam hitam khas sekolah Jujutsu. Rambut putihnya mencolok di bawah cahaya senja, dan kacamata hitam yang melengkapi penampilannya membuatnya terlihat lebih santai. Tapi yang paling menonjol adalah senyum lebarnya yang hampir seperti tanda tangan pribadinya.

Naruto berhenti di tempat, menatap pria itu dengan tatapan kosong sebelum menghela napas panjang. "Astaga, aku baru saja sampai," gumamnya pelan. "Dan kau sudah membuatku merasa tertekan."

Pria itu hanya tertawa keras, seolah tak peduli dengan reaksi Naruto. "Ayolah, jangan terlalu serius! Hidup ini harus dinikmati, Naruto!" katanya, berjalan mendekat sambil tetap mempertahankan senyum lebarnya.

Pria nyentrik dan penuh semangat itu bukanlah orang biasa. Dia adalah Gojo Satoru, sosok yang begitu penting dan prestisius dalam dunia Jujutsu di era modern. Sebagai pewaris tunggal klan Gojo, Satoru membawa nama besar keluarganya dengan penuh kebanggaan. Ia adalah penyihir Jujutsu yang luar biasa, diberkahi dengan dua warisan langka dari klan Gojo. Kemampuan ini begitu berharga hingga hanya muncul sekali setiap 400 tahun, menjadikannya penerus kedua setelah leluhur pertama klan Gojo. Dengan bakat dan kekuatannya yang luar biasa, Satoru dianggap sebagai pilar utama dunia Jujutsu, sekaligus simbol kekuatan tak tergoyahkan.

Naruto melangkah mendekat, menatap pria berambut putih itu dengan alis sedikit terangkat. "Apa yang kau lakukan di sini, Gojo-san? Tumben kau datang, biasanya cuma sebulan sekali" tanyanya dengan nada datar namun penuh rasa ingin tahu.

Satoru, seperti biasa, membalas dengan senyum nyentrik yang seolah tidak pernah pudar dari wajahnya. "Aku datang ke sini untuk menunaikan kesepakatan antara aku, Naobito, dan mendiang ibumu," katanya santai. "Kau tidak lupa akan hal itu, kan?"

Naruto sontak tersentak mendengar jawaban itu. Meskipun sosok Satoru bukanlah orang asing baginya, mendengar nama ibunya disebut selalu membawa perasaan campur aduk. Kushina, ibunya, adalah keponakan kesayangan Naobito, kepala klan Zenin saat ini. Namun, Kushina meninggal dunia tak lama setelah melahirkan Naruto. Sebelum kepergiannya, Kushina membuat sebuah permintaan khusus kepada pamannya. Ia ingin menitipkan Naruto kepada Gojo Satoru ketika anak itu menginjak usia 12 tahun. Bukan karena ia membenci klannya sendiri, tetapi karena ia memahami situasi internal klan Zenin yang penuh intrik dan tidak stabil. Naobito, meski dengan berat hati, mengakui kebenaran ucapan keponakannya itu dan menyetujui permintaannya.

Selama bertahun-tahun, Naruto menjalani latihan yang ketat di bawah bimbingan berbagai anggota klan Zenin. Setiap orang yang melatihnya memiliki gaya dan pendekatan yang berbeda, memastikan bahwa ia menerima pendidikan menyeluruh sebagai seorang penyihir Jujutsu muda. Di tengah rutinitas itu, Satoru selalu menyempatkan diri untuk datang sekali dalam sebulan. Kunjungannya bukan hanya untuk memantau perkembangan Naruto, tetapi juga untuk memastikan bahwa anak itu tetap berada di jalur yang tepat.

Namun, Satoru tidak bisa selalu hadir karena tanggung jawabnya yang besar di Tokyo. Selain membasmi roh terkutuk dan menjalankan perannya sebagai kepala klan Gojo, Satoru juga harus mendidik dan melatih seorang Zenin lainnya, tugas yang membutuhkan fokus dan dedikasi penuh darinya.

Satoru menghela napas santai, tetap dengan senyum lebarnya. "Kau tak perlu khawatir, Naruto," katanya dengan nada penuh percaya diri. "Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Di Tokyo, ada seseorang yang juga berada di bawah naunganku. Kau tidak akan merasa kesepian."

Naruto menatap pria itu dengan tatapan tenang, tapi suaranya terdengar tegas. "Aku tidak keberatan jika harus berlatih dan belajar sendiri, atau bahkan bersama orang lain," jawabnya. "Tapi bagaimana dengan keluargaku di sini? Bagaimanapun juga, Kyoto adalah kampung halamanku."

Satoru tersenyum kecil, kali ini dengan sedikit lebih lembut. "Aku tahu, Naruto," katanya pelan, menepuk bahu bocah itu. "Tapi ada hal-hal yang harus kau pelajari di luar kampung halamanmu, hal-hal yang tidak bisa diajarkan di sini. Percayalah, ini untuk kebaikanmu."

"Naruto," panggil seseorang.Tiba-tiba terdengar suara yang tegas namun ramah dari arah pintu rumah. Suara itu milik pria paruh baya berambut abu-abu dengan kumis yang tegak lurus seperti antena. Ia mengenakan yukata berwarna hijau zaitun dan menenteng sebotol sake di tangan. Wibawanya tidak bisa disangkal, namun ada kehangatan dalam cara dia berbicara. Pria itu adalah Naobito Zenin, kepala klan Zenin saat ini.

Naobito melangkah mendekat, menatap Naruto dengan senyum tipis. "Dengarkan aku, bocah," katanya sambil mengangguk ke arah Satoru. "Ikutlah bersama bocah Gojo ini. Dia mungkin terlalu nyentrik untuk sebagian orang, tapi dia benar. Kau akan mendapatkan sesuatu yang tak bisa kau temukan di sini."

Naruto menatap Naobito, tampak ingin menjawab, tetapi pria tua itu melanjutkan sambil mengangkat botol sake di tangannya. "Aku juga ingin kau belajar bergaul dengan sesama penyihir Jujutsu. Dunia di luar sana luas, dan jika kau terus terjebak bersama kami di sini, kurasa kau akan bosan," katanya sambil tertawa ringan, suara tawanya bergema di halaman.

Satoru menoleh ke Naobito dengan senyum lebarnya. "Lihat? Bahkan kepala klan sendiri setuju," ujarnya, menepuk pundak Naruto. "Aku ini pilihan terbaikmu."

Naobito menarik napas dalam sebelum melanjutkan, suaranya sedikit lebih serius kali ini. "Selain itu, aku juga masih harus menyelesaikan beberapa urusan internal klan," katanya sambil menatap Naruto dengan tatapan lembut namun tegas. "Kau tidak perlu tahu apa itu, tapi percayalah, lebih baik kau memang tidak mengetahuinya."

Naruto menundukkan kepala sedikit sebagai tanda penghormatan. "Aku mengerti, Ojii-chan," jawabnya dengan suara mantap, meskipun matanya menunjukkan sedikit kekhawatiran.

Naobito tersenyum tipis, mengangkat botol sakenya seolah menyampaikan pesan bahwa semua akan baik-baik saja. "Itu baru cucu laki-lakiku," katanya dengan nada lebih santai, lalu meneguk sedikit dari botol sake di tangannya.

Satoru menepuk pundak Naruto dengan ringan, senyum lebarnya kembali menghiasi wajahnya. "Baiklah, persiapkan barang-barangmu," ujarnya santai. "Kita akan berangkat besok pagi. Tapi untuk malam ini, kau akan menginap bersamaku di hotel. Bagaimana? Kedengarannya menyenangkan, kan?"

Naruto mengangguk patuh. "Baik, aku akan segera bersiap," jawabnya singkat. Ia berbalik dan mulai melangkah menuju kamarnya, tapi baru beberapa langkah, suara yang sangat ia kenali menghentikan langkahnya.

"Narutooo!" teriak dua suara bersamaan.

Naruto menoleh, melihat Maki dan Mai berlari dari arah halaman belakang dengan wajah penuh antusias. Rambut mereka yang sama-sama hitam tergerai mengikuti langkah mereka. "Apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau pergi tanpa berpamitan!" seru Maki, tangannya sudah siap mencengkeram kerah Naruto jika perlu.

Mai menambahkan dengan nada lebih santai namun tetap tajam, "Kami dengar kau akan pergi bersama si pria nyentrik itu. Kau tidak berniat kabur tanpa mengucapkan selamat tinggal, kan?"

Naruto hanya menghela napas sambil menunggu mereka tiba di dekatnya. "Aku bahkan belum sempat naik ke kamar," ujarnya dengan suara datar, meskipun sudut bibirnya terangkat sedikit.

.


Phantom Parade


.

Di selatan Kyoto, di kawasan yang dikelilingi bukit dan pepohonan asri, berdiri sebuah hotel kecil yang elegan. Udara malam yang dingin menggigit, tetapi itu tak menghentikan hiruk-pikuk kehidupan di distrik Minami. Orang-orang masih berlalu lalang, sibuk dengan aktivitas mereka, sementara kendaraan terus melintas, membawa alur kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Di lobi hotel itu, Naruto berdiri diam sejenak, mengamati kesibukan di luar melalui pintu kaca. Ada sesuatu tentang suasana ini yang membuatnya merasa tenang, meski malam semakin larut. Ia menoleh ke arah Satoru yang sedang duduk santai di sofa, lalu berkata sambil tersenyum tipis, "Aku mau ke konbini sebentar. Butuh sesuatu?"

Satoru hanya mengangkat bahu, ekspresinya tetap santai. "Terserah. Kalau ketemu es kopi, bawa saja." Naruto mengangguk dan melangkah keluar, merasakan dinginnya udara malam yang menyambutnya. Sesekali ia memandang ke atas, ke langit Kyoto yang gelap, seakan mencari sesuatu di antara bintang-bintang.

Hanya butuh sekitar sepuluh menit bagi Naruto untuk mencapai konbini terdekat. Begitu masuk, ia segera mengambil keranjang belanja dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi barang kebutuhan sehari-hari. Ia mengambil sikat gigi baru, pasta gigi, shampo, sabun cair, dan obat kumur, melengkapi daftar barang yang sudah lama perlu diganti. Tidak lupa, ia juga memasukkan beberapa celana dalam ke dalam keranjang, merasa lega bisa menemukan ukuran yang pas.

Saat tiba di bagian makanan, Naruto memilih beberapa ramen instan, makanan cepat saji yang sudah menjadi penyelamat di tengah malam-malam sibuk. Namun, ketika ia mencari es kopi untuk Satoru, rak yang biasanya penuh dengan minuman itu kosong. Habis. Ia menghela napas pelan, sedikit kecewa, lalu membawa barang-barangnya ke kasir. Mungkin Satoru tidak akan terlalu mempermasalahkannya, pikirnya, meski ia tahu lelaki itu sangat suka kopi dingin.

Baru beberapa langkah keluar dari pintu masuk konbini, Naruto tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit, dan ia menoleh ke arah hutan yang gelap di seberang jalan. Ada sesuatu yang aneh, sebuah tekanan halus tapi familiar yang menusuk batinnya.

"Ini lagi," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Energi spiritual itu—tekanannya begitu mirip dengan yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Naruto menghela napas, menatap kantong plastik di tangannya. "Seharusnya aku langsung pulang," ujarnya lirih, tapi matanya tetap terpaku pada arah hutan. Ada rasa penasaran yang tak bisa ia abaikan. Ia melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya, lalu mendesah panjang. "Yah, cuma sebentar," katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Dengan satu gerakan ringan, ia melompati pagar pembatas di sisi jalan dan mulai melangkah masuk ke dalam hutan. Pepohonan yang rapat menyambutnya dengan bayangan gelap, namun Naruto tidak gentar. Semakin ia masuk, semakin jelas tekanan itu terasa, seolah memanggilnya untuk mendekat. Pikirannya bergejolak, setengah khawatir, setengah bersemangat. Apa pun yang ada di sana, ia harus mengetahuinya.

.

.

.

Di dalam hutan yang semakin lebat, Naruto akhirnya tiba di sebuah tempat yang jauh dari jalan utama. Di sana, sebuah rumah tradisional tampak porak-poranda, dindingnya terbakar habis, hanya tinggal sisa-sisa abu dan reruntuhan. Udara masih terasa panas, bau asap menguar di sekitarnya, menciptakan atmosfer yang berat. Namun, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang berada di dekat puing-puing itu—seorang gadis kecil, mengenakan hakama putih merah, rambut ungu panjangnya tergerai.

Gadis itu terduduk di tanah, tangannya gemetar saat ia mencoba membangunkan sosok yang tergeletak tak bernyawa di depannya. Wajahnya penuh dengan air mata, dan suara lirihnya hanya terdengar samar di tengah kesunyian yang menyesakkan. "Kaa-san...Kaa-san, bangun... tolong...," suaranya hampir tak terdengar, penuh dengan kepanikan yang tak terungkapkan.

Naruto melangkah maju, tetapi tiba-tiba ia merasakan keberadaan beberapa sosok yang mengintai di sekitarnya. Sekelompok orang berpakaian hakama hitam dengan topeng putih bermotif burung berdiri diam di sekitar gadis itu, menyaksikan dengan tatapan kosong. Mereka jelas bukan orang biasa, dan suasana mencekam ini memberi tahu Naruto bahwa mereka adalah pelaku yang menyebabkan kehancuran ini.

"Apa yang terjadi di sini?" Naruto bergumam, langkahnya terhenti, tak ingin mengganggu ketegangan yang menggantung di udara. "Huh? Akeno?!"

Naruto terkejut begitu menyadari gadis yang tergeletak di depan mata adalah Akeno, gadis yang ia temui pagi tadi. Akeno, yang sekarang terlihat sangat berbeda—dengan pakaian hakama putih merah yang kotor dan penuh luka—tampak sangat rapuh di hadapan Naruto. Kejadian ini jelas jauh dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Sementara itu, salah satu dari kelompok misterius itu mengangkat tangan, sebuah energi api mulai terbangun di telapak tangannya. "Tidak ada toleransi bagi mereka yang melanggar aturan klan Himejima," ucapnya dengan tegas, matanya penuh dengan keteguhan. "Apalagi bagi seseorang berdarah campuran malaikat jatuh seperti dirimu." Energi api itu mulai menyala lebih besar, membayangi Akeno yang tak bisa bergerak.

WOOSHH

BUGGHH

Tanpa ragu, Naruto melompat dan dengan cepat menendang kepala pria bertopeng yang hendak menyerang Akeno. Pria itu terhuyung mundur dan jatuh ke tanah, membuat sekelilingnya terkejut.

"Siapa kau?!" Para pria bertopeng lainnya tampak kebingungan, tidak menyangka ada yang tiba-tiba menyerang mereka.

Naruto segera berteriak, "Akeno, cepat lari!" wajahnya penuh dengan urgensi.

Akeno terkejut dan tampak bingung, tidak tahu harus berbuat apa. "Na-Naruto-san...T-Tapi... aku..." suaranya terhenti, bingung dengan situasi yang terjadi begitu cepat.

"Tak ada waktu lagi. Cepat, pergi sekarang! Aku akan mengurus ini." Ia memberikan pandangan penuh percaya diri kepada Akeno, meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja jika mengikuti petunjuknya.

.

.

.


Phantom Parade


.

To Be Continued