[Cemooh]
.

.

.

"Ini..."

Di minggu kedua musim semi ini, Hinata menatap amplop yang sedikit tebal di tangannya. Matanya yang berkedip-kedip itu kemudian menatap penasaran pria yang telah memberinya amplop itu.

"Duit itu mungkin gak sebanyak yang kau punya. Tapi, sebagai suami, aku harus memberikanmu nafkah... Itu gaji minggu pertamaku. Jadi terimalah..."

Seutas senyuman kulum pun hadir di wajah Hinata, ia pun mengintip ke dalam amplop itu lalu menaruhnya ke dalam saku rok.

"Terimakasih atas kerja kerasmu. Tentu saja aku akan memanfaatkannya dengan baik."

Tak peduli berapa jumlahnya, tetap saja dengan ekonomi yang lesu dan membuat semua jadi serba mahal itu tak dapat menutupi lubang yang telah tergali di beberapa tempat. Dan untungnya mereka berdua bukan tipe yang boros meskipun dalam menikmati kekayaan orang tua dulu.

"Oh ya... Sasuke mau makan apa hari ini?" tanya Hinata antusias,

Namun, orang yang ditanya tampak tak yakin.

"Bagaimana kalo siang ini kita makan di luar? Hari ini ada kedai yakiniku yang baru dibuka di dekat stasiun... Bagaimana?"

Sejenak Sasuke tersenyum tipis. Padahal hampir setiap hari pulang kerja, jika berpaspasan bertemu, mereka selalu makan di luar. Mereka memang tidak makan di restoran mahal hanya kedai-kedai kecil langganan Hinata, namun jika jadwal memasak Hinata tiba, ia tampak selalu menghindar.

Itu juga bukan karena Hinata malas memasak. Menurut pengamatan Sasuke, Hinata sudah lama tinggal sendiri, kalau hari kerja seperti ini dia jarang sekali masak. Dan ketika hari minggu tiba, mood memasak Hinata terlihat begitu positif. Masakan yang dibuatnya pun sangat enak.

Namun, entah kenapa hari ini ingin sekali masakan buatan Hinata. Apalagi ini hari Sabtu, pastinya banyak orang yang makan di luar, sedangkan sisi intovert-nya tidak bisa bekerjasama hari ini. Memikirkan ia harus melihat banyak orang saja membuat lelah. Di tambah tubuhnya masih lemas dari bangun tidur tadi setelah kerja shift malam.

Melihat Sasuke yang sedari tadi terdiam, Hinata jadi tak enak hati. Padahal ia yang menawarkan Sasuke mau makan apa, tapi, dia sendiri yang menyarankan makan yakiniku.

"Apa Sasuke gak mau makan yakiniku... Atau gak mau makan di luar?"

"Bagaimana kalau aku yang masak siang ini?" tawar Sasuke yang beranjak ke kulkas, lalu menyadari tak ada bahan makan. Ia pun menengok ke arah Hinata.

"Pagi ini aku kesiangan karena baru pulang jam 2 pagi, sekarang aku juga baru selesai bebenah." jelas Hinata yang mendesah, "Kalau begitu aku belanja dulu."

"Tunggu dulu." Sasuke memegang pergelangan tangan Hinata, "Kita belanja bareng."

Dan di sinilah mereka, di sebuah pasar swalayan yang dikelola anak perusahaan Uchiha. Pasar itu sangat dekat dengan komplek apartemen, Awalnya Sasuke tak mau masuk ke sana, namun ia tak mau membiarkan Hinata masuk sendirian ke kandang singa. Dan hal yang tak diinginkan Sasuke pun malah terjadi. Baru selang beberapa menit mencari kebutuhan pokok, mereka bertemu ayah Sasuke yang tengah evaluasi.

"Sungguh menggelikan, kalian ternyata beneran nikah..."

Baik Sasuke dan Hinata hanya bisa mengunci mulutnya. Membeku, ini mereka berada di keramaian. Di tambah para rekan serta karyawan tengah menatap mereka penuh dengan ragam tatapan.

"Dan kau Nona Hyuuga... aku gak habis pikir, bagaimana kau bisa menerima bocah brengsek ini setelah apa yang telah dia lakukan pada keluarga kalian?"

"Bocah brengsek ini bahkan membawa kabur uang ayahnya sendiri demi seorang wanita yang gak jelas statusnya."

"Apa ayahmu sungguh merelakan putrinya dengan mudah? Bukankah kau anak emas dalam keluargamu, hm?"

"..."

"Apa nilai standar pasangan hidupmu kini menurun, Nona Hinata? Pemuda di sampingmu adalah seorang penipu, maling, gelandangan, bahkan dia menjadi seorang mantan kriminal di Amerika."

Di bombardir berbagai cemooh seperti itu baik Sasuke ataupun Hinata tetap tidak bersuara. Sedari tadi Hinata hanya bisa menyelimuti kepalan tangan Sasuke yang penuh amarah, lalu mengusap pelan seolah ingin memberitahu kalau membalas akan memercikan api semakin besar.

Dan sebelum Fugaku berucap untuk menyambung cemoohannya, di belakang Itachi membisik sesuatu ke telinga ayahnya. Tepat itulah kedua mata oniks kedua kakak-adik itu bersirobok. Sasuke sempat menahan napasnya saat mata kakaknya menyoroti dingin. Sontak rasa getir itu tumbuh sendirinya.

"Kita pergi dari sini!" Seru Fugaku yang meninggalkan pasangan itu tanpa sedikitpun menatap balik, "Sungguh membuang waktu!"

Setelah rombongan Fugaku, baik Hinata dan Sasuke menghembuskan napas berat. Keduanya saling menatap canggung sekaligus malu ke sekeliling yang menatap mereka, dan suasana hati pun berubah jelek sehingga mereka tidak melanjutkan belanja.

"Seharusnya aku gak memintamu belanja di sana," ujar Hinata yang menatap punggung tangannya.

Kini mereka sudah berada di mobil. Lalu sejenak Hinata menilik Sasuke yang terdiam di tempat kemudinya. Tatapan kosong Sasuke seakan tenang menerawang ke suatu tempat. Hinata lantas memilin tangannya, ia seperti melakukan kesalahan besar. Namun, mengingat perkataan Fugaku tadi ia tetap tersinggung.

Sementara itu Sasuke masih teringat akan tatapan kakaknya. Kakak yang selalu dikaguminya sejak kecil itu nyatanya tak pernah ada sejak ia kabur ke Amerika. Saat itu ia hanya berprasangka baik bahwa kakaknya sangat sibuk sehingga tidak punya waktu menilik ke arahnya. Sasuke juga memaklumi kalau kakak marah besar akan kelakuannya di masa lalu. Akan tetapi, melihat tatapan dinginnya hari ini Sasuke seperti anak yang kehilangan genggaman nya. Kini yang hanya ia miliki Hinata dan Naruto di sisinya.

"Tidak! Kita tidak perlu belanja di sana lagi!" Lanjut Hinata yang kini mendapat atensi dari Sasuke, "Gomen."

Kini mereka berdua saling melirik. Rasa penasaran itu timbul lagi. Alasan tak logis Hinata yang menikahi pria kriminal seperti dirinya masih tetap tak ditemui jawabannya. Sejenak Sasuke memijit keningnya, haruskah ia menyuarakan pikirannya?

"Kau gak perlu minta maaf Hinata. Meskipun kita gak belanja di sana, di suatu tempat kita mungkin akan bertemu oyaji lagi."

Suara sumbang yang terdengar frustasi itu menyentil hati Hinata. Pria itu pasti kesal, dan Hinata entah kenapa merasakan hal yang sama.

"Jika suatu hari badai menghadang, tetaplah ditempat, dan ikat erat layar perahu kita bersama... Jangan sampai berkecil hati karena jiwa kita berdua besar!" Seru Hinata yang mengingatkan tentang ucapan Sasuke setelah Hinata menerima lamarannya.

"Aku adalah kamu, kamu adalah aku, kita adalah satu tubuh!" Tambah Sasuke yang sedikit menerima ketenangan.

.

.

.

Betapa terkejutnya Hinata ketika ada seorang yang sangat sibuk aka Uchiha Itachi —kakak ipar- mengundangnya secara pribadi, melalui sekretaris pribadinya tepat jam makan siang Hinata dijemput. Dan kini Hinata duduk dengan pria yang seharusnya menjadi tunangannya dulu, akan tetapi, ayahnya yang 'tercinta' tidak menyetujui perjodohan dirinya yang gadis ini dengan seorang pria duda. Dalam hati yang berdebar-debar, ia penasaran apa yang ingin dikatakan pria yang hampir berkepala empat tersebut.

"Gomen mengganggu waktu sibukmu, Hinata-san..." Sapanya yang sedikit menghirup teh oolong.

Melihat lirikan pria itu kini, Hinata seperti melihat suaminya. Mereka berdua sangat mirip pikirnya.

"Jangan sungkan!" Hinata turut menyicip minumannya yang baru disuguhi, "Sebenarnya ada urusan apa ya?" Tanya Hinata to the point.

Jika ini mengenai Sasuke, maka Hinata akan senang mendengar. Namun, jika ini masalah yang di swalayan, Hinata juga perlu menjelaskan sesuatu.

Akan tetapi, pandangan Itachi beralih pada jendela di luar, tatapan yang begitu dalam itu seakan menyelam ke suatu tempat yang tak diketahui oleh Hinata.

Lalu ia menyodorkan sebuah amplop tebal dari saku jasnya. Kelopak mata Hinata lantas berkedip-kedip. Firasatnya pun berubah kelabu.

"Aku titip Sasuke padamu..." Ujarnya menatap lurus.

Hinata lantas tersenyum kecut, "Aku bukan babysitter, Itachi-san... Sasuke bahkan bisa mendapatkan kerjaan meskipun statusnya mantan narapidana."

Bagaikan petir yang menyambar di siang hari, tubuh Itachi seolah membeku.

"Aku gak tau harus berkata apa tentang Sasuke..."

Kini Itachi tak dapat menatap lawan bicaranya. Sorot matanya lantas mengarung biru.

"Aku bahkan gak pernah mencoba merangkulnya selama di Amerika."

Lalu helaan napas berat keluar dari mulutnya, "Sasuke pasti kecewa padaku."

"Apa Itachi-san udah bicara lagi dengan Sasuke?"

Pria itu menggeleng, "Jadwalku terlalu padat,"

'Tapi kenapa sekarang dia bisa menemuiku kalau gak punya waktu?' Hinata membatin heran.

"Dan aku harap, kalian bisa memaafkan ucapan Oyaji tempo hari."

Melihat Hinata yang mendesah berat sambil menundukkan kepalanya, Itachi menyadari bahwa makian ayahnya sungguh menggoreskan luka yang cukup dalam.

"Jika kalian tak bisa memaafkannya, aku hanya bisa memohon kepada kalian agar gak menyimpan dendam padanya."

"Tentu," sahut Hinata yang mengulum senyuman tipis,

"Syukurlah..."

Kemudian Itachi menyodorkan lagi amplop yang dikeluarkannya tadi kepada Hinata,

"Tapi setidaknya terimalah ini..."

"Emangnya ini apa?" Tanya Hinata ragu, "Bukan sogokan atau apapun itu, kan?"

"Tidak, buka saja dulu!"

Dan ketika Hinata dengan hati-hati membuka amplop itu, mata sedikit membelalak. Sesuai firasatnya, isinya adalah enam tumpuk uang selembaran 1000 yen serta sebuah kunci yang tak ada dipikirannya.

"Itu adalah hadiah pernikahan kalian dariku. Lalu mobilnya akan sampai pada kalian besok atau lusa. Hadiah itu memang tak banyak, tapi aku berharap kalian menerimanya."

Sejenak Hinata menahan napas setelah mendengar kata-kata selanjutnya.

"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia selalu sampai maut memisahkan kalian."

Hinata kira Itachi menemuinya hanya untuk mengorek tentang alasannya menikahi Sasuke.

"Aku permisi dulu, sampai jumpa!"

.

.

.

Setelah menemui kakak ipar, Hinata kembali ke kantor tepat jam makan siang hampir berakhir. Sejenak ia memeluk perutnya yang keroncongan, dan merutuki pria yang hanya menawarkannya minuman serta kudapan. Ia berpikir seharusnya pergi ke family mart untuk beli beberapa onigiri, namun ia punya rapat penting.

Sambil menunggu lift turun, Hinata membuka ponsel pintarnya. Ia juga tersenyum kepada beberapa karyawannya yang menyapa. Dan ketika pintu lift terbuka, tanpa sengaja tatapan Hinata bertemu dengan Sasuke. Mereka berdua sejenak membeku, lalu beberapa orang yang ikut menunggu lift juga kebingungan melihat Sasuke terdiam dengan troli menghalangi orang masuk ke lift.

"Hey, kau mau keluar atau tidak?! Kami di sini semua sibuk!" Tegur seseorang dengan ketus.

"Hn, Gomen." Sasuke sontak menurunkan topinya, memutus kontak mata dengan Hinata, seakan tak saling mengenal.

Dalam seketika itu, ada perasaan sedikit kecewa timbul langsung membelenggu hati Hinata. Jika Sasuke malu dan ingin menyembunyikan hubungan mereka, ia tidak bisa memaksa. Padahal Hinata tidak masalah dengan status suaminya sekarang ini.

Ketika pintu lift hampir tertutup, seseorang berteriak-mencoba menahan pintu, orang di dalam lift pun juga sontak menekan tombol. Lalu wajah Sasuke muncul, cukup mengagetkan orang-orang di dalam.

"Gomenasai, tunggu sebentar. Aku harus memberikan sesuatu ke istriku."

Sasuke lantas menunjukkan sebuah flashdisk. Hinata sontak memekik kecil, menutup mulutnya.

Itu flashdisk yang Hinata cari tadi pagi.

"Kau melupakan ini, Anata. Bukankah benda ini penting untuk rapat nanti?" Ujar Sasuke yang menyerahkan benda itu pada istrinya.

Pria Uchiha itu bahkan melepaskan topinya, tak khawatir menunjukkan jati dirinya, sehingga membuat beberapa orang di dalam lift terhipnotis oleh ketampanannnya.

"Terus ini... Aku membelikan beberapa makanan, jangan lupa dimakan!" Tambahnya yang juga menyerahkan sebuah kantong kresek.

Hinata yang masih kaget dengan tindakan Sasuke yang tiba-tiba itu mengangguk pelan. Pria itu kemudian dengan cepat keluar dari lift dan langsung menunduk pada orang-orang seraya mengucapkan terimakasih.

Sejenak Hinata melihat isi kantongnya; ada sebotol minuman isotonik, beberapa roti isi, dan onigiri. Bibirnya lantas menyungging sebuah senyuman merona. Ia bahkan tak peduli beberapa tatapan karyawannya yang penasaran. Seraya mengirimkan pesan ucapan terimakasih untuk Sasuke, di sanalah sangat bersyukur bahwa suaminya adalah Uchiha Sasuke.

Di keesokan harinya, Hinata dan suami misteriusnya jadi bahan gosip satu kantor.