[Pertemuan makan]

.

.

.

Di sore hari ketika matahari hampir sepenuhnya tenggelam, Sasuke yang menuju apartemennya terpaku akan sesuatu. Sebuah mobil sport berwarna black metal yang terparkir di depan gerbang gedung apartemennya terlihat sangat mencolok, pasalnya apartemen tempatnya tinggal tak sepadan dihiasi mobil mewah seperti itu. Belum lagi modelnya, ini mengingatnya akan masa lalu dimana ia pernah menginginkannya. Biarpun itu adalah produk keluaran lama, namun melihat harganya yang masih menyentuh angka 2 digit, itu artinya peminatnya masih ada.

Dalam hati Sasuke bertanya-tanya, siapakah gerangan pemiliknya?

Lalu tak lama, seseorang memanggil namanya. Dia adalah istrinya, dengan senyuman yang terpatri di bibirnya dan rona merah di pipinya, Sasuke sontak menaikkan ujung bibirnya.

"Mobil itu hadiah pernikahan dari kakakmu."

Sasuke mengerutkan keningnya, dan mereka mendekati mobil itu.

Jadi ini hadiah pernikahan yang dibicarakan Hinata semalam, pikir Sasuke.

"Kurasa ini terlalu berlebihan."

Sasuke tak pernah menyangka kalau kakaknya akan membelikannya mobil mewah.

"Gak suka ya? Bukannya dulu kau mau membelinya?"

"Kau tau darimana?" Sasuke cukup terkejut akan hal ini, padahal yang mengetahuinya hanya kakaknya dan Naruto.

"Dari Itachi-san."

Ah, Sasuke harusnya bisa menebak hal itu. Tapi, entah kenapa dia sedikit cemburu karena ia tak menyangka kakaknya bisa sedekat itu dengan Hinata. Padahal kakaknya tak pernah membicarakan kehidupan privasi mereka pada orang lain.

"Aku gak bisa menerimanya, biaya perawatannya tak cukup sedikit." Ujarnya seraya menggeleng pelan.

Yang diucapkan Sasuke ada benarnya, dan Hinata hanya menatap mobil dengan iba.

Sebenarnya Sasuke bisa saja merawatnya. Ia bahkan sudah mengumpulkan cukup banyak uang di tabungan, hasil dari pekerjaan bebasnya yang sebagai penerjemah sebelum ia pulang ke jepang. Tadinya uang itu akan ia pakai untuk masa depan keturunannya kalau suatu hari punya anak. Akan tetapi, sebelum menikahinya Hinata sudah memberitahunya bahwa ia ingin menunda memiliki anak sebelum impiannya tercapai. Dan hal itu seperti di awang-awang. Sasuke sendiri tidak tahu apa impian Hinata sebenarnya, juga ia tidak tahu kapan hal itu tercapai.

Lagipula kini, Sasuke tidak terlalu berharap mempunyai keturunan. Mengingat umur mereka yang sudah kepala tiga, akan sangat berbahaya bagi Hinata untuk mengandung anaknya. Bisa hidup di sisi Hinata saja Sasuke sudah sangat bersyukur. Justru tujuan utama hidupnya kini telah berubah, ia hidup hanya untuk istrinya sampai Tuhan membawa mereka ke sisi-Nya.

"Lalu mobil ini mau diapakan?"

Sasuke sejenak berpikir, lalu bayang Naruto terlintas dibenaknya. Ia ingat Naruto juga sangat menginginkan mobil itu dulu, namun karena produksi mobil itu terbatas maka untuk mendapatkannya menang dalam undian. Dan sayangnya baik Sasuke ataupun Naruto, tidak ada satu dari mereka yang dapat.

"Mobil ini terlalu mencolok, tapi aku punya ide lain..." Jawabnya seraya memberikan kue kering pesanan Hinata.

Sasuke merasa sayang menjualnya, lagipula ini pemberian kakaknya, tak mungkin ia akan menyiakannya. Dengan ide membuka jasa sewa mobil bisa menambah kantongnya. Jadi ide pertama terlintas oleh pria itu adalah menyewakan pada sahabatnya tersebut, dengan begitu ia bisa membuka peluang lainnya.

.

.

.

Malamnya Hinata dan Sasuke mengadakan makan malam di sebuah restoran. Bahkan tak hanya rekan kerja Hinata saja yang diundang, Sasuke pun juga mengajak beberapa rekan kerja yang jumlahnya tak banyak. Sebagian adalah pekerjaan paruh baya, dan yang seumuran dengannya bahkan bisa dihitung dengan tangan. Meskipun di tempat kerjanya, ia tak banyak bergaul dan belum lama mengenal, namun mereka sangat baik. Sasuke juga merasakan kekeluargaan dari mereka.

Sementara itu, Hinata memang telah memesan tempat jauh hari sebelum gosip itu tersebar. Restoran yang ia pesan memang bukan restoran mahal seperti memiliki bintang Michelin, tapi ini terbilang cukup mewah bagi para rekan kerja. Dan sebelum ke pertemuan makan malam, Hinata bersama Sasuke telah melakukan persiapan apa saja yang mereka katakan pada orang-orang.

Lalu saat Hinata memberikan sambutan kepada rekan kantornya, Sasuke berdiri memperkenalkan dirinya sebagai 'Hyuuga Sasuke'. Di Jepang, itu bukanlah hal yang aneh bagi seorang pria mengubah marga keluarganya sendiri dengan marga sang wanita setelah mereka menikah, namun hal itu memiliki persentase begitu kecil mengingat selama ini yang banyak melakukan perubahan nama marga hanya dari pihak wanitanya saja.

Hal ini sontak memberikan reaksi yang mayoritas dari mereka yang tak terlalu terkejut akan tradisi tersebut. Namun tak menutup kemungkinan mereka cukup kagum, bahwa Ibu Manager yang terkenal dari klan tua terpandang akan menikahi pria biasa macam Sasuke. Terlebih lagi ia bahkan tidak malu dengan status suaminya yang hanyalah pekerja kasar.

"Jadi kalian bisa memesan makanan yang kalian mau sepuasnya, aku yang traktir malam ini!" Seru Hinata yang mengakhiri sambutannya dan mendapatkan sahutan yang begitu riuh.

Dan sebelum makanan yang mereka pesan tiba, beberapa dari mereka pun mulai mengajukan pertanyaan umum. Mulai bagaimana Sasuke dan Hinata bertemu hingga bagaimana mereka berakhir di pelaminan. Semua pertanyaan umum itu tentu butuh jawaban bagi yang penasaran pada kedua pasangan itu.

"Sejak kecil kami berdua sudah saling kenal, itu karena orang tua kami memang sudah kenal dari dulu."

"Tapi kami baru benar-benar mengenal pas dewasa."

"Hn, itu benar."

"Sebelum nikah kami memang pernah menjalin hubungan."

"Jadi pak suami adalah mantannya Hinata-san."

"Ya, bisa dibilang seperti itu."

"Jadi Ibu Manajer kembali pada mantan."

"Tapi, ini mantan yang ke berapa Hinata-san?"

Hinata sontak membeku, sedangkan Sasuke cukup terkejut mendengar hal itu hanya terdiam.

"Hei, masa' menyamakan hubungan resmi dengan biro jodoh!?"

'Biro jodoh?' Kini Sasuke mulai sedikit terusik. Ternyata selama ini dia tak tahu banyak soal kehidupan Hinata.

"Kau mau aku tambahin tugas, Hiro-san?" Hinata berkelakar seraya berkacak pinggang pada karyawannya yang sudah lama kerja dengannya.

Pria bernama Hiro lantas tertawa canggung, dan langsung mengatup kedua telapak tangannya seolah minta ampun.

"Saya kira Hinata-san bertemunya lewat biro jodoh... Jadi saya berniat mencarinya lewat sana, siapa tau saya bisa bertemu pria yang mirip Jung kook, ya kan?"

"Kau kebanyakan menghayal, Arisa-chan!"

"Aku serius lho..." Ujar dengan wajah serius yang dibuat-buat.

Semua orang lantas tertawa pada karyawati yang sering memberikan gurauan jenaka tersebut.

"Tapi melihat wajah Sasuke-san yang tegang, sepertinya anda gak tau soal ini?"

"Hn, aku sungguh terkejut." Sahut Sasuke yang membuat Hinata kembali duduk dengan dada yang berdebar-debar.

"Ya, tentu saja dia gak tau. Setelah putus dia pergi ke Amerika." Kali ini Kiba yang berceletuk dengan wajah bosan.

Hinata dan Sasuke lantas menatap Kiba yang duduk dipojokan di meja kedua. Dengan hoodie yang menutup kepala serta memakai masker tiada yang menyangka kalau itu adalah Kiba. Mereka tak menyangka Kiba ikut serta dalam makan malam ini. Hinata sebelumnya memang mengundang Kiba dan Shino lewat pesan. Namun, ia ragu mereka akan mengindahkan undangannya. Tetapi melihat hanya Kiba yang datang, Hinata bisa menyimpulkan bahwa Kiba telah menghormati keputusannya. Sedangkan Shino, ia tak pernah bertemu muka lagi semenjak malam itu.

"Tapi tenang saja, dari semua mantan Hinata, hanya Sasuke yang sedikit waras..."

Saat mereka yang mendengar hal ini lantas langsung mempercayainya, mengingat siapa sosok Kiba bagi Hinata selama ini, pria itu tak mungkin asal bunyi. Sementara itu Hinata yang membisu dalam menanggapinya merupakan sebuah bukti. Kisah cinta sang Ibu manajer memang begitu jarang terdengar, karena pasalnya Hinata tak pernah terlihat dekat dengan seseorang. Di belakang, mereka bahkan menjuluki Hinata dengan wanita tahan banting serta begitu mandiri sehingga tak memerlukan seorang pria dalam hidupnya. Dan sekalinya Hinata menjalin hubungan, hal itu langsung menjadi bahan omongan yang bagi mereka.

Sedari tadi Hinata tak berani melirik Sasuke. Entah kenapa ia merasa malu dan bersalah, padahal mempunyai masa lalu seperti itu bukan salahnya. Ia memang tak punya banyak pengalaman soal menjalin hubungan cinta, tapi ia mengakui kedua pria yang pernah menjalin hubungan dengannya dulu adalah orang gila, termasuk pria yang menjadi suaminya kini.

Tak lama kemudian makanan yang dipesan akhirnya datang. Seraya menyantap makanan, mereka pun sibuk berbincang masing-masing. Malam pun semakin larut, para tamu pulang satu-persatu, lalu kini tinggallah mereka bertiga saja.

"Aku sudah mendengar yang sebenarnya dari Kurenai-san! Itu bukan kecelakaan biasa, kan?"

Hinata memegang dadanya cemas. Tapi Kiba yang berdiri menjulang di depan mereka tidak sedikit pun menunjukkan sikap seperti mengintimidasi.

"Tenang saja aku gak memaksanya, Kurenai-san hanya keceplosan kalau si brengsek itu telah tewas, dan akhirnya menceritakan hari itu."

Kiba menggaruk pipinya dengan canggung, sekilas dia melirik Sasuke yang tak menunjukkan apapun selain wajah stoic-nya. Pria sedikit ragu, apakah keputusannya membicarakan mantan Hinata di depan suaminya itu benar atau tidak. Akan tetapi, dalam peristiwa itu Sasuke juga berada di sana, dan tidak menutup kemungkinan ia tahu sebagian kisah mantan Hinata dulu.

"Kau gak seharusnya murung, Hinata..."

Hinata lantas menggeleng, "Bukan soal itu... Aku gak mau bercerita karena gak mau kalian khawatir, itu saja."

Sontak Kiba mendesah, "Sejujurnya, aku malah lega Hinata. Seenggaknya si brengsek itu gak akan mengganggumu lagi."

Kiba sekilas melirik Sasuke. Kalau tidak ada pria itu mungkin ia telah mengelus kepala sahabatnya. Tidak, seharusnya ia menjaga jarak, sahabatnya kini bukanlah seorang gadis lagi melainkan istri dari orang lain.

"Aku juga bersyukur kalau kau udah menikah, jadi sekarang ada seseorang yang selalu menjagamu setiap waktu."

"Kau bisa melakukannya kan Uchiha!?" Seru Kiba yang menggebrak meja dengan satu kepalan tangannya.

"Hn, kau bisa pegang sumpahku."