Disclaimer: Semua bukan punya saya

Genre: Adventure, Supranatural, Fantasy

Rate: M

Warning: Gaje, kacau, alur berantakan.

.


Ketegangan menggantung di udara di antara mereka. Akeno berdiri kaku, wajahnya dipenuhi keraguan dan rasa bersalah. Hatinya menolak untuk meninggalkan Naruto sendirian menghadapi para algojo klan Himejima, sementara Naruto sendiri tampak bersiap, meski ini adalah pertarungan hidup dan mati pertamanya.

Untuk sesaat, waktu terasa melambat. Akeno menatap Naruto, matanya penuh kekhawatiran, namun ada tekad di sana. Ia tahu apa yang harus dilakukan, meskipun itu berarti meninggalkan Naruto di tengah bahaya. Setelah jeda singkat, Akeno akhirnya mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ia mengerti. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan berlari menjauh, meninggalkan Naruto yang kini berdiri sendiri menghadapi ancaman di depannya.

"Jangan harap kau bisa kabur!" Salah satu algojo bergerak cepat, berusaha mencegat Akeno yang tengah melarikan diri ke dalam kegelapan hutan. Langkahnya penuh ancaman, hampir berhasil mengejar gadis itu. Namun, tepat sebelum ia bisa mendekat, sebuah rantai tiba-tiba melesat dan melilit kakinya. Rantai itu memanjang dari pergelangan tangan Naruto, yang kini berdiri kokoh di tempatnya.

WOOSH

BUGH

Tanpa ragu, Naruto menarik rantai itu dengan kekuatan penuh, membuat algojo tersebut terlempar ke udara. Tubuh pria itu menghantam sebuah pohon dengan keras, hingga batangnya retak. Naruto berdiri diam sejenak, matanya tajam memperhatikan sisa-sisa gerakan pria itu, memastikan tidak ada ancaman lagi yang mengejar Akeno.

Para algojo klan Himejima berdiri membeku, mata mereka membelalak tak percaya saat melihat rekan mereka tumbang hanya dalam hitungan detik. Namun, yang lebih membuat mereka terpaku adalah apa yang baru saja digunakan oleh anak lelaki berambut pirang itu. Salah satu dari mereka menyipitkan mata, memperhatikan rantai yang perlahan menghilang dari tangan Naruto.

"Itu..." bisik salah satu algojo dengan suara rendah, hampir bergetar. "Apa kau merasakannya? Energi spiritual itu..."

Algojo lain mengangguk, rahangnya mengeras. "Bukan seperti energi kita. Itu... berbeda."

"Tekanan energi terkutuk," gumam pria ketiga, matanya penuh kecurigaan. "Itu milik para penyihir Jujutsu."

Kata-kata itu membuat keheningan di antara mereka terasa semakin berat. Mereka saling bertukar pandang, ketegangan di udara semakin terasa. Salah satu algojo akhirnya memecah keheningan, suaranya penuh kekhawatiran. "Jadi, bocah ini bukan sekadar orang luar. Dia—"

"Dia ancaman," potong algojo yang lain dengan nada dingin. "Dan kita tidak bisa membiarkannya hidup."

Naruto memasang kuda-kuda, matanya tajam memperhatikan lima sosok bertopeng yang kini mengepungnya. Ia tahu situasinya tidak mudah, tapi ia tidak akan mundur.

WOOSH

Salah satu dari mereka memulai serangan dengan menembakkan sihir api yang menyala terang, diikuti oleh serangan serupa dari empat lainnya. Namun, Naruto dengan refleksnya yang gesit berhasil menghindari serangan itu, bergerak lincah di antara semburan api yang menghampirinya. Dengan cepat, ia menggunakan rantai di tangannya untuk menarik dirinya naik ke atas pohon, mencoba menciptakan jarak dari para pengepung.

"Kena kau!"

Namun, gerakannya itu sudah diantisipasi oleh salah satu algojo. Sosok bertopeng itu dengan cekatan meluncurkan bola api tepat ke arah Naruto yang masih berada di udara. Tidak punya cukup waktu untuk menghindar, Naruto hanya bisa menyilangkan kedua tangannya sebagai perisai. Bola api itu menghantamnya dengan keras, menyebabkan ia terjatuh ke tanah.

WOOFH

"Arrghh! Sial!"

Naruto mengerang pelan, merasakan perih di lengannya yang terkena luka bakar. Meski begitu, ia segera bangkit kembali, mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan berikutnya.

BRUAGH

"Aaarghh!"

Naruto mencoba bangkit, namun salah satu algojo bertopeng sudah bergerak lebih dulu. Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perutnya, membuatnya terpental dan menghantam pohon di belakangnya dengan bunyi yang cukup keras. Ia meringis, rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya.

Salah satu algojo mendekat, tertawa kecil dengan nada mengejek. "Kau memang cukup mengejutkan kami," katanya, suaranya terdengar sinis dari balik topeng. "Tapi pada akhirnya, kau hanyalah seorang bocah yang terlalu berani bermain di medan yang bukan tempatmu."

Tawa dari para algojo lainnya bergema di sekitar Naruto, membuat suasana semakin menekan. Meski begitu, di balik rasa sakit yang mendera, mata Naruto tetap memancarkan semangat pantang menyerah.

Naruto mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa sakit di lengan dan perutnya membuatnya tak mampu bangkit lagi. Napasnya tersengal, pandangannya mulai kabur, dan kesadarannya perlahan memudar. Ia hanya bisa mendengar samar-samar suara para algojo yang berdiri tak jauh darinya.

"Bagaimana dengan gadis itu? Dia kabur," ujar salah satu algojo dengan nada ragu.

"Biarkan saja," jawab yang lain, suaranya dingin tanpa emosi. "Target kita sejak awal bukan dia, tapi Shuri. Kita sudah menyelesaikan apa yang diperintahkan Suou-sama."

Naruto berusaha tetap sadar, tapi tubuhnya terasa semakin berat. Suara mereka mulai terdengar seperti dengungan yang jauh, dan akhirnya, semuanya menjadi gelap.

.

"Wah, sepertinya ada yang menarik di sini. Boleh aku bergabung?" Suara seorang pria terdengar riang, penuh dengan nada santai, seakan ia tak peduli dengan situasi yang terjadi.

Mereka sontak terdiam, lalu mulai berbalik ke arah sumber suara di belakang mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat melihat siapa pemilik suara itu, dua dari mereka tiba-tiba tersentak ke depan, seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menarik tubuh mereka.

WOOSH

"Apa—?!?" Salah satu algojo berteriak, tetapi suaranya terhenti ketika dua rekannya langsung terseret ke arah kobaran api yang masih menyala di sisa-sisa rumah Shuri. Sesuatu yang misterius sedang bermain, dan jelas mereka tidak siap menghadapinya.

"Aaarghh! Panas!" Mereka mencoba memadamkan api yang perlahan membakar tubuh mereka dengan cara berguling-guling di tanah.

Ketika mereka akhirnya menoleh, pemandangan yang mereka saksikan membuat darah mereka berdesir. Berdiri di hadapan mereka adalah seorang pria bertubuh tinggi dengan aura yang luar biasa menekan. Pakaian serba hitam yang dikenakannya berpadu kontras dengan rambut putih mencolok yang bersinar di bawah kilauan cahaya api. Sepasang kacamata hitam menutupi matanya, tetapi senyuman santainya tak dapat disembunyikan.

"Aku tadi sedang menuju konbini untuk menyusul anak didikku," pria itu berkata dengan nada ringan, seolah-olah sedang berbincang biasa. "Tapi tiba-tiba aku mencium bau gosong. Hmm, ternyata ada yang sedang bakar-bakar di sini. Seru sekali, ya?"

Para algojo Himejima yang tersisa langsung menegang, mata mereka membelalak di balik topeng burung yang mereka kenakan. Mereka tahu siapa yang berdiri di depan mereka. Sosok ini tak lain adalah Gojo Satou, salah satu dari Tiga Klan Besar Penyihir Jujutsu. Pria yang belum lama ini diakui sebagai penyihir Jujutsu terkuat, sebuah legenda yang tidak ingin mereka hadapi dalam kondisi apa pun.

Para algojo klan Himejima tampak seperti melihat hantu. Tubuh mereka menegang, napas tertahan, dan pikiran mereka berputar dengan cepat.

"G-Gojo Satoru...?!"

"Apa yang kau lakukan disini?!"

Namun Satoru, dengan senyum santainya, hanya mengangkat bahu. "Sudah kubilang, kan? Aku ingin menyusul anak didikku ke konbini. Dia lama sekali, sampai-sampai aku penasaran," katanya sambil melipat tangan di dada. "Dan lihatlah, ternyata dia menemukan sesuatu yang menarik di sini. Boleh kalian beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi?"

Salah satu algojo menggeram, langkahnya maju setengah, lalu bola api besar mulai terbentuk di tangannya. "Jangan ikut campur urusan klan Himejima!" teriaknya, diikuti oleh serangan serentak dari dua rekannya yang lain. Tiga bola api raksasa melesat ke arah Satoru dengan kecepatan yang mengerikan, menerangi kegelapan malam.

Namun, Satoru tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya berdiri di tempat, tetap dengan senyum di wajahnya. Dengan satu gerakan ringan, ia mengangkat dua jarinya, dan serangan-serangan itu berhenti di udara, tak mampu menyentuhnya. Bola api itu bergetar hebat, seolah kehilangan kekuatan, sebelum akhirnya lenyap seperti tak pernah ada.

"Hmm, lumayan," ujar Satoru santai, sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku. "Tapi kalian harus coba lebih keras kalau mau membuatku terkesan."

"Cih! Jangan sombong kau!"

WOOSH

Dalam sekejap, Satoru menghilang dari pandangan, muncul kembali di belakang salah satu algojo tanpa suara. Sebelum algojo itu sempat bereaksi, Satoru sudah memelintir lengannya dengan kecepatan yang mustahil, membuatnya terperangkap tanpa bisa melawan.

"Lain kali, hati-hati dengan punggungmu," gumam Satoru ringan, lalu menendang punggung algojo itu dengan kuat. Tubuhnya terlempar jauh, menghantam pohon dengan suara keras, hingga daun-daun berguguran.

Dua algojo yang tersisa langsung bereaksi, membentuk bola api besar di tangan mereka dan melancarkan serangan dengan penuh amarah. Namun sebelum salah satu dari mereka sempat meluncurkan sihirnya, tubuhnya tiba-tiba tersentak ke samping, seolah-olah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.

"Apa?!" pekiknya, sebelum ia jatuh tercebur ke dalam sumur tua di dekat rumah yang masih terbakar, suara air yang memercik mengiringi kejatuhannya.

Satoru menoleh santai ke arah algojo terakhir, senyumnya tak pernah luntur. "Masih mau mencoba?" tanyanya, dengan nada yang terlalu tenang untuk situasi itu.

Algojo yang tersisa sendiri menggertakkan giginya dengan penuh amarah. Ia tidak percaya bagaimana rekan-rekannya yang merupakan pasukan elit klan Himejima, dilatih langsung oleh Himejima Suou, kepala klan mereka, dapat tumbang dengan begitu mudah. Mereka adalah prajurit yang diberkahi kekuatan pengendalian api spiritual langsung dari Dewa Api Shinto, Kagutsuchi—sebuah anugerah yang seharusnya membuat mereka tak tertandingi.

Namun, di hadapan Gojo Satoru, semua itu terasa tidak berarti. Sosok di hadapannya adalah pewaris Mukagen dan Rikugan, dua anugerah legendaris dari klan Gojo yang kekuatannya sering kali dianggap melampaui dewa itu sendiri. Dengan kombinasi kekuatan absolut dan kendali sempurna, Satoru berdiri seperti rintangan yang tak tergoyahkan, senyuman santainya menyembunyikan kekuatan mengerikan yang hanya sedikit orang di dunia ini mampu memahami.

Satoru menyunggingkan senyum manis, tetapi jelas mengandung nada meremehkan. "Apa cuma segini saja kekuatan klan Himejima?" sindirnya dengan nada santai. "Sejujurnya, ini seperti tidak ada bedanya dengan penyihir Jujutsu tingkat tiga."

Algojo yang tersisa mengepalkan tangan dengan gemetar, amarah menggelegak di dalam dirinya. Mendengar klannya direndahkan seperti itu membuat darahnya mendidih. Ia ingin sekali merobek senyum pria itu, tetapi logika menahannya. Lawannya bukan orang sembarangan—ini adalah Gojo Satoru, sosok yang kekuatan dan keahliannya berada di level yang jauh di atasnya.

Dengan emosi meluap, ia mulai membentuk bola api besar di tangannya, mencoba melancarkan serangan balasan. Namun, sebelum ia sempat menyelesaikannya, Satoru sudah bergerak lebih dulu. Dalam sekejap, pria itu muncul di hadapannya, dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, pergelangan tangannya sudah dipelintir dengan keras. Rasa sakit itu memaksanya jatuh berlutut di tanah.

Satoru menatapnya dengan senyum tipis yang mematikan. "Dengar," katanya dengan nada yang terdengar lembut namun penuh ancaman, "aku bukan tipe orang yang suka membunuh tanpa alasan. Tapi karena suasana hatiku sedang baik malam ini, aku akan membiarkanmu hidup. Tapi jika kau berani melawan sekali lagi..." ia memiringkan kepalanya sedikit, matanya bersinar di balik kacamata, "maka ceritanya akan berbeda. Kau paham?"

Algojo bertopeng burung itu hanya bisa mengangguk dengan ketakutan. Keringat dingin mengalir di balik topengnya, dan tubuhnya bergetar di bawah tekanan intimidasi yang begitu kuat. Satoru, yang tadinya terlihat riang dan santai, kini menunjukkan sisi yang mengerikan. Tanpa membuang waktu, algojo itu berlari secepat mungkin, meninggalkan rekan-rekannya yang terluka dan tak sadarkan diri, bahkan yang tercebur di sumur. Ketakutannya jauh lebih besar daripada rasa loyalitasnya.

Satoru mengalihkan pandangannya pada Naruto yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah. Ia menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot, menunjukkan kelegaan sekaligus kekhawatiran. "Kau benar-benar membuatku khawatir karena tidak kembali," gumamnya, meski nada bicaranya terdengar seperti teguran ringan.

Namun, sebelum ia sempat melangkah mendekati anak didiknya, sesuatu melesat cepat dari kegelapan hutan. Sebuah tombak cahaya yang tajam meluncur dengan kecepatan luar biasa, menargetkan punggung Satoru. Tapi serangan itu berhenti mendadak, hanya seinci dari tubuhnya, seolah-olah menabrak dinding tak terlihat. Perisai tak terbatas miliknya bekerja sempurna, menahan serangan itu tanpa membiarkan satu pun energi melewatinya.

Belum sempat suasana kembali tenang, kilatan petir tiba-tiba menerangi langit malam, bersiap menyambar langsung ke arah Satoru. Dengan refleks luar biasa, ia segera menggendong tubuh Naruto dan melompat menjauh dari lokasi. Petir itu akhirnya menghantam tanah kosong, menciptakan ledakan kecil yang mengguncang tanah di sekitar mereka. Meski ia tahu perisai tak terbatasnya mampu menahan apa pun, Satoru tidak mau mengambil risiko gelombang kejut petir itu mengenai Naruto, yang masih tak berdaya di dalam dekapannya.

Satoru menyunggingkan senyum tipis, matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya tampak berbinar penuh minat. Sosok yang melayangkan serangan mendadak itu kini terlihat jelas. Seorang pria dengan wajah kasar dan brewok hitam lebat yang hampir menutupi rahangnya. Matanya tertutup rapat, seolah-olah buta, namun auranya begitu mengintimidasi. Pakaian ketat yang dikenakannya dipadukan dengan jubah panjang yang berkibar-kibar di tengah angin malam. Namun yang paling mencolok dari pria itu adalah sepuluh pasang sayap gagak hitam pekat yang mencuat dari punggungnya, membuatnya tampak seperti sosok yang terlahir dari bayangan kelam. Ia melayang di udara, memandang Satoru dengan keheningan yang penuh ancaman.

Satoru, dengan nada riang dan penuh canda seperti biasanya, berseru, "Oh, kelihatannya ini semakin menarik." Ia menyilangkan tangan di dada, senyumnya melebar. "Seorang malaikat jatuh berani menginjakkan kakinya di Kyoto. Wah, aku jadi penasaran, apa yang kau lakukan di sini?"

Dengan penuh amarah, pria bersayap gagak itu menunjuk ke arah Satoru dengan jarinya yang bergetar. "Kau!" serunya lantang, suaranya bergema di tengah keheningan malam. "Apakah kau yang melakukan semua ini?"

Satoru memasang ekspresi pura-pura bingung, meski matanya yang tersembunyi di balik kacamata hitamnya menunjukkan rasa ingin tahu. Ia mengangkat bahu santai. "Kalau yang kau maksud adalah pembakaran rumah ini, maka jawabannya tidak," ujarnya dengan nada ringan. "Aku hanya kebetulan lewat. Tadi aku sedang mencari anak didikku yang tak kunjung kembali dari konbini. Ternyata, dia sedang sibuk bertarung melawan keroco-keroco dari klan Himejima."

Pria bersayap itu mengepalkan tangannya, amarah dan penyesalan bercampur dalam hatinya. Keterlambatannya telah menyebabkan ia kehilangan segalanya. Matanya, meskipun tertutup, seperti memancarkan rasa sakit yang dalam saat ia menatap jasad istrinya yang tergeletak tak bernyawa di tanah.

"Apa kau melihat seorang gadis kecil?" tanyanya dengan suara yang lebih tenang, namun masih dipenuhi tekanan. "Berambut ungu?"

Satoru menggelengkan kepala perlahan. "Tidak," jawabnya. "Saat aku tiba di sini, yang kulihat hanya keroco-keroco dari klan Himejima dan anak didikku. Tidak ada siapa pun lagi."

Si pria bersayap gagak itu memukul tanah dengan keras, membuat debu beterbangan di sekitarnya. Tubuhnya bergetar hebat, lalu ia jatuh berlutut sambil menggenggam tangan dingin istrinya yang penuh debu dan bercak darah. Isakannya pecah di tengah keheningan malam. "Maafkan aku, Shuri," bisiknya dengan suara penuh penyesalan. "Aku gagal… Aku gagal sebagai pelindung keluarga kecil kita karena kelalaianku."

Satoru berdiri tak jauh di belakangnya, hanya diam memandang pemandangan itu. Meski ia bukan orang yang suka terlibat secara emosional, hati kecilnya sedikit tergerak oleh tragedi yang menimpa pria itu. Namun, ia tahu batasnya. Ia tidak datang untuk terlibat dalam urusan keluarga ini, melainkan hanya untuk memastikan Naruto baik-baik saja.

"Aku tidak punya wewenang untuk ikut campur dalam urusan keluargamu," kata Satoru akhirnya, suaranya tenang, sedikit datar. "Tapi, bisakah kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Pria itu masih terisak, tubuhnya sedikit terguncang saat ia menatap tubuh istrinya yang tergeletak tanpa nyawa. "Biarkan aku… Biarkan aku menguburkan istriku terlebih dahulu," jawabnya lirih, penuh duka.

Satoru mengangguk kecil, menunjukkan bahwa ia memahami situasinya. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke bawah sebuah pohon besar, lalu duduk bersandar di batangnya. Dengan sabar, ia menunggu Naruto siuman, sambil memperhatikan pria bersayap itu dari kejauhan.

Baraqiel, nama pria itu, mulai menggali tanah dengan tangan kosong. Ia bekerja dalam keheningan, hanya ditemani suara gesekan tanah yang terdengar seperti ratapan. Setelah lubang cukup dalam, ia meletakkan jasad istrinya dengan hati-hati. Batu-batu kecil dirangkai menjadi penanda sederhana, disempurnakan dengan sebuah batu besar sebagai nisan. Ketika akhirnya selesai, ia berdiri sebentar, menatap hasil pekerjaannya sebelum berjalan pelan menuju Satoru.

"Namaku Baraqiel," katanya dengan nada tenang, duduk di samping Satoru. Wajahnya terlihat lebih damai, meski bekas air mata masih tampak di pipinya. "Aku adalah wakil gubernur jenderal fraksi Malaikat Jatuh. Posisiku berpangkat Cadre."

Satoru melirik sekilas, tetap mendengarkan dengan sikap santai seperti biasanya.

Baraqiel menarik napas panjang sebelum mulai berbicara lagi. "Keluarga istriku… klan Himejima… adalah penganut Shinto yang sangat taat," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik. "Bagi mereka, kesalahan sekecil apa pun adalah dosa yang tak termaafkan. Dan menurut mereka, Shuri telah melakukan kesalahan besar…" Ia berhenti sejenak, menelan emosinya sebelum melanjutkan. "Karena menikah denganku, seorang Malaikat Jatuh… dan melahirkan seorang anak berdarah campuran."

Satoru tetap diam, hanya menatap pria itu dengan ekspresi netral, membiarkan ceritanya mengalir tanpa gangguan.

"Akibatnya, Shuri diasingkan. Diusir dari keluarga besar atas perintah Himejima Suou, kepala klan Himejima," lanjut Baraqiel, suaranya getir. "Dia kehilangan segalanya hanya karena mencintai seseorang seperti aku."

Satoru tetap diam, mendengarkan cerita Baraqiel tanpa menyela. Kata-kata pria itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia temui di masa lalu. Seseorang yang juga diusir, dikucilkan, dan kehilangan segalanya. Karena suatu alasan yang tak ingin ia kenang, orang itu menitipkan putranya kepada Satoru. Agar anak itu bisa dididik dan dibesarkan menjadi seorang penyihir Jujutsu yang tangguh. Sama seperti apa yang kini ia lakukan untuk Naruto.

Setelah hening sejenak, Satoru akhirnya angkat bicara. Suaranya tetap tenang, tapi nadanya menyiratkan rasa ingin tahu yang tulus. "Kalau begitu, bagaimana dengan insiden ini?" tanyanya, menunjuk dengan dagunya ke arah rumah yang sudah menjadi abu.

Baraqiel menarik napas dalam, mencoba menahan rasa sakit di dadanya. "Semua ini… adalah kelalaianku," jawabnya dengan nada getir, menundukkan kepala. "Saat itu, aku mendapat panggilan dari gubernur jenderal kami untuk kembali ke Grigori." Ia berhenti sejenak, suaranya sedikit bergetar saat melanjutkan. "Tapi aku bimbang… Aku tak tahu apakah aku harus membawa istri dan anakku ke sana atau tidak."

Satoru memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan ketertarikan yang samar.

"Tidak semua malaikat jatuh di Grigori itu baik," lanjut Baraqiel, suaranya semakin berat. "Aku khawatir jika membawa mereka ke sana, mereka akan berada dalam bahaya lain. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan mereka di Kyoto" Ia mengepalkan tangannya erat, wajahnya penuh rasa bersalah. "Aku berjanji pada mereka bahwa aku akan segera kembali."

Satoru menghela napas ringan, menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. "Tapi pada akhirnya, kau terlambat," ucapnya dengan nada datar, namun penuh sindiran halus.

Baraqiel mendesis pelan, menggertakkan giginya. Rasa kesal dan penyesalan tergurat jelas di wajahnya. "Aku tahu," balasnya dengan suara rendah, namun penuh emosi. "Tapi sebenarnya… aku kembali sesuai dengan rencana awal."

Satoru menoleh sedikit, mengangkat alis dengan ketertarikan.

"Tapi mereka," lanjut Baraqiel, menahan amarahnya, "klan Himejima mengirimkan pasukan elit mereka untuk menghalangiku di tengah perjalanan. Mereka tahu aku akan kembali. Mereka hanya ingin memastikan aku tak akan sampai tepat waktu." Ia mengepalkan tinjunya erat-erat, suaranya bergetar karena kemarahan yang tertahan. "Mereka sengaja melakukannya, agar mereka bisa mengeksekusi istri dan anakku sebelum aku punya kesempatan untuk menyelamatkan mereka."

Satoru bersandar santai di batang pohon, kedua tangannya bersilang di belakang kepala, sementara matanya memandang langit malam yang bertabur bintang. Dengan nada ringan, ia membuka suara, "Aku tahu kalau lima klan utama itu penganut Shinto yang kuat dan taat. Tapi, jujur saja, mereka terlalu fanatik." Ia memiringkan kepala sedikit, menyeringai tipis. "Mereka sepertinya lupa soal sisi kemanusiaan. Maksudku, kalau mereka memang tidak ingin istrimu menginjakkan kaki di lingkungan klan, bukankah pengusiran saja sudah cukup? Haruskah sampai mengambil nyawa seseorang juga?"

Baraqiel menundukkan kepalanya, rasa bersalah terpancar jelas dari raut wajahnya. "Aku setuju," balasnya pelan, suaranya penuh penyesalan. "Seharusnya aku segera membawa keluargaku pergi dari Kyoto setelah pengusiran itu. Tapi…" Ia menghela napas panjang, tangannya mengepal erat di atas pahanya. "Kelalaianku… justru menjadi bencana bagi mereka."

Baraqiel menatap Satoru dengan pandangan sedikit heran. "Ngomong-ngomong," katanya setelah menghela napas panjang. "Kita sudah lama mengobrol sejak tadi, tapi aku masih belum tahu siapa namamu."

Satoru tersenyum tipis, melirik pria malaikat jatuh itu dengan santai. "Namaku Gojo Satoru," jawabnya, nada suaranya ringan namun penuh percaya diri. "Aku cuma seorang penyihir biasa dari sebuah institusi di Tokyo. Aku datang ke sini untuk menjemput calon anak didikku yang, kalau semua berjalan sesuai rencana, kelak akan menjadi penyihir sepertiku."

Mendengar nama itu, Baraqiel mengangkat sebelah alisnya. "Gojo?" tanyanya penuh keraguan. "Maksudmu, klan Gojo yang itu?"

Satoru mengangguk santai, seolah pertanyaan itu bukan hal yang mengejutkan baginya. "Benar sekali," katanya sambil menatap api yang mulai meredup di bekas rumah. "Selain lima klan utama, ada beberapa klan besar lainnya yang juga berkuasa di Kyoto. Klan Gojo, salah satunya."

Satoru mengalihkan pandangannya pada bocah pirang yang masih tergeletak tak sadarkan diri di bawah pohon. Dengan senyum tipis di wajahnya, ia berkata, "Dan bocah yang sedang tidur manis ini berasal dari klan Zenin. Cukup menarik, bukan? Kau juga harus berterima kasih padanya, karena sebelum aku datang, dia sudah lebih dulu menumbangkan beberapa keroco Himejima."

Baraqiel menoleh ke arah Naruto, raut wajahnya berubah, kini lebih penuh rasa penasaran dan sedikit kagum.

"Oh, soal putrimu," lanjut Satoru sambil menyilangkan tangannya. "Kemungkinan besar dia berhasil melarikan diri saat Naruto datang. Bocah ini cukup membuat mereka kerepotan yang mungkin memberinya kesempatan. Hanya saja..." Satoru memiringkan kepala sedikit, tatapannya mengarah ke kegelapan hutan. "Aku tidak tahu pasti ke mana dia lari."

Baraqiel perlahan bangkit dari duduknya, wajahnya menunjukkan tekad yang bulat. "Aku akan mencari putriku sekarang juga," katanya, suaranya tegas meski masih terasa getir. "Mungkin dia belum jauh dari sekitar sini."

Satoru ikut berdiri, mengangkat tubuh Naruto dengan mudah dan menggandengnya di punggungnya seperti barang bawaan ringan. Dengan senyum santai, ia berkata, "Semoga beruntung. Aku sendiri harus kembali ke hotel untuk mengistirahatkan bocah ini."

Baraqiel menoleh sejenak sebelum melangkah lebih jauh ke dalam kegelapan. "Sampaikan salam dan terima kasihku padanya," ucapnya, suaranya terdengar lebih hangat meski masih diselimuti duka.

Satoru mengangguk ringan, senyumnya tetap terjaga. "Akan kusampaikan," balasnya singkat.

Tanpa kata tambahan, keduanya pun berpaling, berjalan menuju arah masing-masing. Langkah Satoru mantap kembali ke hotel sambil membawa Naruto di punggungnya, sementara Baraqiel menghilang di antara bayangan pepohonan, terus mencari putrinya yang entah berada di mana.

.


Phantom Parade


.

Naruto membuka matanya perlahan, pandangannya kabur sebelum akhirnya fokus pada langit-langit putih di atasnya. Ia mengerjap beberapa kali, mendapati dirinya terbaring di atas ranjang empuk dengan selimut menutupi tubuhnya. Di luar jendela, sinar matahari pagi menerobos masuk, memberikan pemandangan indah Kyoto yang tenang.

Sebuah suara terdengar dari arah jendela. "Bagaimana perasaanmu, Putri Tidur?"

Naruto menoleh, mendapati Satoru duduk santai menghadap ke jendela. Di tangannya, sebuah pisau kecil memotong-motong apel dengan cekatan. Meski tak menoleh, pria itu tampak tahu persis bahwa Naruto baru saja siuman. Ekspresi Satoru seperti biasa: santai, tapi penuh canda.

Dengan alis berkerut, Naruto mencoba mengingat apa yang terjadi, lalu dengan suara serak ia bertanya, "Gojo-san, bagaimana aku bisa ada di sini?"

Satoru menoleh sedikit dengan senyum santainya. Alih-alih langsung menjawab, ia melemparkan sepotong apel yang sudah diiris rapi ke arah Naruto. Refleks, Naruto menangkapnya meski masih terasa lemah.

"Yang terjadi semalam itu," ujar Satoru sambil kembali memotong apel, "adalah urusan internal pihak lain. Kau sebenarnya tidak perlu ikut campur." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada bercanda, "Tapi karena kau keras kepala dan berlagak seperti seorang pahlawan, aku terpaksa turun tangan untuk menyelamatkanmu. Lagi."

Satoru mengambil sepotong apel lagi dan menggigitnya perlahan. Ia menoleh ke arah Naruto, yang sekarang sudah duduk bersandar di tempat tidur, matanya menatap penuh rasa ingin tahu. "Baiklah, bocah. Karena kau pasti penasaran, aku akan memberitahu apa yang terjadi setelah kau pingsan."

Naruto mengerutkan dahi. "Setelah aku pingsan? Jadi... ada sesuatu lagi yang terjadi?"

Satoru mengangguk santai. "Benar sekali. Setelah kau ambruk, aku datang da membereskan para algojo yang tersisa. Kemudian tanpa diduga, seorang malaikat jatuh tiba-tiba datang. Dia memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari gadis yang berusaha kau tolong."

"Malaikat jatuh?" Naruto membelalak. "Maksudmu, seperti yang ada di cerita-cerita itu?"

"Lebih dari sekadar cerita, Naruto." Satoru tersenyum tipis, memotong lagi apel dengan tenang. "Pria itu, namanya Baraqiel, datang untuk menyelamatkan istri dan putrinya. Tapi kau pasti sudah bisa menebak bagaimana akhir ceritanya. Klan Himejima, dengan segala aturan ketat mereka, menganggap istri dan anaknya sebagai aib dalam keluarga mereka karena menikah dengan seorang malaikat jatuh dan memiliki anak berdarah campuran.

Naruto menggertakkan gigi, matanya menyiratkan kemarahan. "Itu kejam. Jadi... mereka yang membakar rumah itu?"

"Benar," jawab Satoru, nada suaranya lebih serius sekarang. "Mereka mengirim pasukan elit untuk menyingkirkan apa yang mereka anggap sebagai noda di klan mereka. Tapi Baraqiel terlambat untuk menyelamatkan keluarganya." Ia meletakkan pisau dan apel di atas piring, menatap Naruto dengan pandangan penuh makna. "Klan Himejima punya peraturan ketat dan fanatik. Tidak ada ruang untuk kesalahan, apalagi pengampunan."

Naruto mengepalkan tangannya. "Itu salah! Hanya karena berbeda, mereka harus kehilangan segalanya?"

Satoru mengangkat bahu, kembali ke ekspresi riangnya. "Itulah dunia, Naruto. Tidak adil, bukan? Tapi tugasmu bukan memperbaiki semua itu. Fokuslah pada apa yang ada di depanmu."

Satoru melipat kedua tangannya sambil bersandar di sofa tunggal, menatap Naruto yang masih tampak merenung di tempat tidur. "Dengar, Naruto. Dunia supranatural itu luas, lebih besar dari yang bisa kau bayangkan. Konflik yang terjadi di luar sana? Percayalah, ini baru secuil dari apa yang sebenarnya ada. Masalah seperti ini akan terasa kecil dibandingkan dengan apa yang mungkin kau hadapi nanti."

Naruto mendongak, sorot matanya penuh rasa penasaran bercampur serius. "Jadi aku harus terbiasa, ya?"

"Betul sekali." Satoru mengangguk sambil tersenyum tipis. "Jika kau benar-benar ingin menjadi penyihir Jujutsu yang hebat, kau harus belajar menerima bahwa dunia ini penuh dengan ketidakadilan dan konflik. Tapi kau juga harus belajar kapan harus bertindak dan kapan cukup diam."

Ia kemudian bangkit dari kursinya, merapikan jaketnya, dan berjalan menuju pintu. Sambil membuka pintu, ia menoleh ke belakang dengan senyum jahilnya. "Sekarang, lekas mandi dan sarapan. Kita akan keliling Kyoto sebentar, biar kau tahu sisi lain kota ini. Aku tunggu di lobi, jangan lama-lama."

Tanpa menunggu jawaban, Satoru keluar, meninggalkan Naruto yang masih termangu, mencoba mencerna semua yang baru saja ia dengar.

.


Menuruti apa yang dikatakan oleh sang mentor, Naruto segera mandi dengan shower, membiarkan air hangat membasuh tubuhnya yang masih terasa pegal. Setelah selesai, ia menikmati sarapan sederhana berupa beberapa potong roti, irisan buah alpukat, omelet lembut, dan segelas susu hangat. Setelah bersiap dengan pakaian kasual yang nyaman, ia bergegas turun menuju lobi hotel.

Namun, saat tiba di sana, Naruto tidak menemukan Satoru di mana pun. Dahinya berkerut bingung. Ia melangkah mendekati meja resepsionis, mencoba bertanya dengan nada sopan, "Permisi, apakah Anda melihat pria berambut putih dan berkacamata hitam?"

Resepsionis itu mengangguk ramah. "Oh, pria yang Anda maksud tadi keluar dari lobi beberapa saat yang lalu."

Naruto mendesah pelan, merasa sedikit jengkel. "Apakah dia mengatakan ke mana dia pergi?"

Resepsionis menggeleng. "Tidak, tapi dia terlihat seperti ingin menemui seseorang di luar."

"Terima kasih," jawab Naruto sambil berbalik, bergegas menuju pintu keluar untuk mencari sang mentor yang tampaknya tidak sabar menunggunya.

Begitu Naruto melangkah keluar dari lobi, matanya langsung tertuju pada sosok Satoru yang berdiri santai tak jauh dari pintu keluar. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat sekumpulan pria berhakama hitam dengan motif api berkumpul di hadapan mentornya. Tatapan dingin dan sikap kaku mereka jelas menunjukkan bahwa mereka datang bukan untuk bersahabat.

Sementara itu, Satoru tetap terlihat santai, bahkan menyunggingkan senyumnya yang lepas seperti biasanya. Dengan nada ringan, ia bertanya, "Wah wah, ada apa ramai-ramai pagi-pagi begini? Tidak biasanya aku mendapat sambutan spesial seperti ini."

Pria paling depan dari kumpulan itu, yang tampaknya adalah pemimpin kelompok tersebut, menahan raut wajahnya yang nyaris menunjukkan kekesalan. Meski begitu, ia tetap berbicara dengan nada yang penuh wibawa dan sedikit intimidasi. "Gojo Satoru..." ucapnya tegas. "Kami membawa pesan dari Pemimpin klan Himejima, Suou-sama. Beliau ingin bertemu denganmu."

.


Phantom Parade


.

To Be Continued

.