Disclaimer: Semua bukan punya saya

Rate: M

Genre: Adventure, Supranatural, Fantasy.


.

Dari hiruk pikuk lingkungan hotel yang ramai, suasana perlahan berubah ketika Naruto dan Satoru memasuki wilayah selatan Kyoto, tepatnya di distrik Minami. Perjalanan mereka dengan mobil taksi ditemani pemandangan pepohonan hijau yang rimbun serta bukit-bukit yang menjulang anggun di kejauhan. Udara di sini terasa lebih segar, seolah memberikan jeda dari kebisingan kota.

Tujuan mereka sudah jelas: kediaman keluarga besar klan Himejima. Undangan mendadak dari Suou Himejima, pemimpin klan itu, disampaikan langsung oleh utusan yang menemui Satoru di depan hotel tadi. Suasana di dalam taksi terasa sedikit canggung, terutama bagi Naruto yang masih memikirkan alasan di balik undangan itu. Namun, Satoru tetap santai seperti biasa, menatap ke luar jendela dengan senyuman kecil, seolah yakin bahwa perjalanan ini akan menjadi sesuatu yang menarik.

Satoru yang duduk santai di dalam taksi, mengetahui dengan jelas ketegangan yang melingkupi anak didiknya. Dengan gerakan ringan, ia menepuk pundak Naruto sambil menyunggingkan senyum yang khas.

"Ini adalah salah satu hal yang harus kau hadapi saat berurusan di dunia supranatural," katanya dengan nada santai. "Konflik politik. Dunia supranatural itu bukan melulu soal bertarung atau siapa yang terkuat. Kau harus belajar menghadapi orang-orang yang pikirannya lebih rumit daripada serangan fisik mana pun."

Naruto menoleh dengan wajah sedikit bingung, tapi ia tetap mendengarkan. Di balik nada ringan Satoru, ia bisa merasakan ada pelajaran penting yang ingin disampaikan.

Naruto menghela napas panjang, pandangannya menerawang keluar jendela taksi. Dengan nada lesu, ia akhirnya membuka mulut, "Aku hanya kepikiran... gara-gara aku ikut campur, malah menyebabkan aku ikut terseret dalam masalah ini."

Satoru, yang duduk santai dengan kaki bersilang, menoleh sekilas ke arah Naruto. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan tekanan, tetap tenang seperti biasa. Bahkan ia masih sempat tersenyum kecil.

"Ah, tidak apa-apa," balasnya ringan, seolah masalah yang mereka hadapi hanyalah hal sepele. "Anggap saja ini bagian dari pengembangan dirimu. Lagipula, pengalaman seperti ini tidak akan kau dapatkan setiap hari."

Naruto hanya bisa menatap mentornya dengan pasrah. Di satu sisi, ia merasa Satoru tidak memahami betapa rumit situasinya. Tapi di sisi lain, ketenangan pria itu justru memberikan sedikit rasa lega dalam kegelisahannya.

Satoru menambahkan dengan senyum lebarnya yang khas, kali ini dengan nada yang lebih bercanda, "Kau tahu, Naruto, kita akan mendatangi kediaman klan Himejima. Itu seperti berjalan ke kandang berisi sekumpulan harimau lapar."

Naruto menatap Satoru dengan pandangan cemas, tapi pria itu justru mengangkat bahu santai.

"Tapi jangan khawatir. Bukan berarti aku akan diam saja kalau terjadi sesuatu. Lagipula, Sensei-mu ini adalah orang yang kuat," lanjutnya sambil menyeringai. "Entah seluruh anggota klan Himejima mau mengeroyokku sekalipun, tetap akan kuladeni."

Naruto hanya bisa menahan napas, tidak yakin apakah harus merasa lega atau semakin khawatir dengan jawaban gurunya yang penuh percaya diri itu.

Naruto terkekeh sambil menghela napas panjang. "Aku memang belajar banyak darimu, Gojo-san. Tapi ada satu hal yang tak akan pernah bisa kupelajari darimu," ujarnya sambil menggeleng pelan.

Satoru menoleh dengan alis terangkat, tersenyum seperti biasa. "Oh ya? Dan apa itu?"

Naruto menatap gurunya dengan setengah serius. "Rasa percaya dirimu yang... terlampau batas. Atau, kalau boleh jujur, lebih cocok disebut kesombongan."

Satoru tertawa kecil, santai seperti biasa. "Hei, percaya diri dan sombong itu dua hal yang berbeda, tahu." Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. "Dan keduanya hanya dimiliki oleh orang-orang kuat saja. Kalau kau cukup kuat, Naruto, mungkin kau juga bisa merasakannya suatu saat nanti."

Naruto hanya menggeleng lagi, meskipun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Itu tetap terdengar seperti alasan untuk sombong, Sensei."

.


Mereka akhirnya tiba di kediaman klan Himejima, sebuah kompleks bergaya shinden-zukuri yang megah di tengah lembah distrik Minami. Bangunan itu dikelilingi oleh parit yang memisahkannya dari dunia luar, menambah kesan angkuh dan eksklusif.

Ketika mereka keluar dari taksi, sekumpulan pria berhakama hitam telah menunggu di gerbang masuk. Wajah mereka dingin, penuh kewaspadaan, dan sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Namun, baik Satoru maupun Naruto tidak tampak terpengaruh. Satoru, seperti biasa, terus tersenyum santai seolah-olah berada di tempat yang sama sekali tidak berbahaya, sementara Naruto, meski tampak sedikit canggung, tetap berusaha mengikuti langkah gurunya tanpa menunjukkan keraguan.

Salah satu pria berhakama hitam maju selangkah, tatapannya dingin menusuk. "Gojo Satoru, kami akan memandu Anda dan anak ini ke hadapan Suou-sama. Ikuti kami," ujarnya dengan nada tegas tanpa sedikit pun emosi.

Satoru tersenyum kecil sambil melangkah maju. "Wah, formal sekali. Rasanya seperti tamu kehormatan. Semoga saja ada teh dan kudapan kecil yang disiapkan," katanya dengan nada menggoda.

Pria itu tidak menanggapi, hanya berbalik dan mulai berjalan, sementara yang lain membentuk barisan di sekeliling Satoru dan Naruto, seolah memastikan mereka tidak punya kesempatan untuk bergerak bebas.

Naruto menoleh sedikit ke arah Satoru, berbisik pelan, "Aku merasa seperti tahanan yang sedang diantar ke ruang interogasi."

Satoru hanya tertawa kecil, "Santai saja, Naruto. Kalau ada yang mencoba berbuat aneh, aku yang akan jadi interogatornya."

Mereka dipandu melewati jalan setapak berlapis batu yang mengarah ke bangunan utama. Suasana hening, hanya suara langkah kaki yang terdengar. Di sisi kiri dan kanan jalan, pohon-pohon cemara dan bunga-bunga khas musim semi terlihat begitu rapi, tetapi kesan keindahan itu terasa dingin, seolah tidak menyambut kedatangan mereka.

Naruto menatap ke depan dengan gugup. "Sepertinya mereka tidak terlalu senang melihat kita di sini," gumamnya.

Satoru melirik sekilas ke arah anak didiknya, kemudian menepuk pundaknya dengan santai. "Tidak apa-apa. Mereka mungkin hanya gugup karena ada sosok kuat sepertiku di depan mereka. Biasa terjadi," ujarnya dengan nada penuh percaya diri.

Mereka dipandu menuju halaman belakang yang luas, dikelilingi oleh pohon-pohon tua yang menjulang tinggi. Di tengah halaman, api berkobar dengan intensitas yang tampak terkendali, membentuk pola lingkaran besar. Puluhan anggota klan Himejima sedang berlatih teknik manipulasi api spiritual, menciptakan berbagai serangan yang memukau dan mematikan.

Di antara mereka, tampak sosok seorang pria paruh baya dengan rambut panjang yang sebagian mulai memutih, mengenakan jubah putih bercorak api phoenix. Ia berdiri tegak di sebuah panggung kecil, memperhatikan dengan saksama setiap gerakan para anggota klannya. Tatapannya penuh wibawa, seperti seorang jenderal yang memimpin pasukan di medan perang.

Pria itu adalah Himejima Suou, kepala klan Himejima, dan manifestasi langsung dari kekuatan Sacred Beast mereka, Vermillion Phoenix, tampak nyata dalam aura membara yang mengelilinginya, memberikan kesan bahwa ia adalah perwujudan hidup dari dewa api itu sendiri.

"Suou-sama. Gojo Satoru sudah ada disini" Pria yang memandu mereka mendekati Suou dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Suou mengangguk perlahan, lalu mengarahkan pandangannya yang tajam ke arah Satoru dan Naruto.

Satoru, dengan santainya, melipat tangan di depan dada sambil memandang sekeliling. "Wah, suasananya cukup intens di sini. Aku harus bilang, latihan kalian tampak mengesankan," katanya dengan nada santai, tapi jelas terdengar seperti basa-basi. "Tapi aku jadi penasaran. Kedatangan kami ini kebetulan atau tidak, kalian terlihat seperti sedang bersiap-siap untuk sesuatu. Ada apa ini? Apakah klan Himejima sedang berselisih dengan empat klan besar lainnya?"

Naruto melirik gugup ke arah Satoru, lalu kembali melihat ke arah Suou yang kini menuruni panggung latihan dengan langkah pelan tapi penuh wibawa. Setiap langkahnya seakan memancarkan tekanan, membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Namun, Satoru hanya berdiri tenang dengan senyumnya yang tipis, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura intimidasi itu.

Suou menatap tajam Satoru, matanya menyipit sedikit. Dengan suara bariton yang tegas, ia berkata, "Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Jadi, aku akan langsung ke intinya saja. Gojo Satoru, kenapa kau ikut campur dalam urusan klan Himejima? Memberi hukuman kepada anggota klan yang melanggar adalah urusan kami. Orang luar sepertimu tidak berhak untuk ikut campur."

Namun, bukannya merasa tertekan, Satoru malah terlihat semakin santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku, mengangkat bahu sedikit, dan tersenyum kecil. "Hmm... bagaimana mengatakannya ya? Bisa dibilang aku melakukannya secara tidak sengaja," jawabnya dengan nada ringan, seolah-olah apa yang sedang dibahas hanyalah percakapan biasa.

Naruto, yang awalnya gugup, akhirnya memberanikan dirinya untuk berbicara. Ia menatap Suou dengan penuh tekad, lalu berkata, "Saat itu aku tidak sengaja lewat dan merasakan tekanan energi spiritual di dalam hutan. Dan tepat di momen para algojo kalian ingin membunuh Akeno, instingku sebagai seorang manusia menggerakkan diriku untuk menolongnya."

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi, kecuali suara langkah para anggota klan Himejima yang berlatih di kejauhan. Suou menatap Naruto dengan mata yang seolah ingin menembus batinnya, sementara Satoru hanya berdiri santai, tampak menikmati situasi itu.

Suou menatap Naruto dalam diam, namun sorot matanya penuh selidik. Ia memang sudah mendengar laporan bahwa ada seorang anak kecil yang datang sebelum Gojo Satoru tiba di lokasi kejadian.

Naruto, yang awalnya ragu, kini mengambil langkah maju dan berbicara dengan suara yang tegas, "Aku tidak tahu dan tidak peduli seberapa ketat aturan keluarga kalian. Tapi pikirkanlah soal sisi kemanusiaan juga. Jika kalian memang tidak ingin melihat Akeno dan ibunya di lingkungan klan, bukankah mengusir dan mengasingkannya saja sudah cukup? Tidak harus sampai membunuh."

Satoru tersenyum tipis di belakang Naruto, tampak puas dengan keberanian anak didiknya itu. Sementara para anggota klan Himejima yang mengelilingi mereka terlihat terkejut mendengar pernyataan blak-blakan dari seorang anak kecil.

Suou tetap diam untuk beberapa saat, menatap Naruto dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan. Namun aura di sekitarnya terasa semakin berat, seperti menandakan bahwa kata-kata Naruto menyentuh suatu titik sensitif dalam dirinya.

Suou menatap Naruto dengan senyum tipis, namun dingin. "Aku berterima kasih karena sudah mengingatkan soal sisi kemanusiaan itu," katanya dengan nada datar. "Tapi perlu kau ketahui, klan Himejima—seperti halnya empat klan utama lainnya—sudah terikat sumpah dengan para dewa-dewi Shinto. Apa yang kau sebut sebagai tindakan kejam adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan kehormatan klan. Selain itu, ini adalah urusan internal kami."

Naruto menggertakkan giginya, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. "Terikat sumpah dengan dewa?" ia menyahut dengan nada penuh emosi. "Omong kosong! Yang ada hanyalah fanatisme dan kebutaan terhadap hati nurani!"

Sontak, suasana menjadi tegang. Beberapa anggota klan Himejima yang berlatih di halaman berhenti dan menoleh, menatap Naruto dengan tatapan terkejut sekaligus geram. Satoru tetap berdiri santai di tempatnya, menyilangkan tangan di dada, namun matanya mengawasi setiap gerakan dengan seksama.

Naruto menghela napas panjang, menurunkan sedikit nada suaranya, tetapi tatapannya tetap tajam ke arah Suou.

Suou kembali menatap Naruto, kali ini dengan sorot mata yang lebih tajam. "Kau masih muda, bocah. Dan terlalu naif untuk memahami beban dan tanggung jawab yang kami pikul sebagai penjaga tradisi dan warisan."

Keributan pun pecah di halaman belakang. Para anggota klan Himejima mulai menyahut satu per satu, mencaci Naruto dengan suara lantang.

"Orang luar seperti kau tidak tahu apa-apa tentang tradisi kami, jadi jangan sok tahu dan ikut campur!" teriak salah satu dari mereka.

"Fanatisme? Apa yang kau sebut fanatisme adalah bukti ketaatan kami kepada dewa!" seru yang lain, wajahnya memerah karena emosi.

"Kau sudah berani menghina kehormatan klan kami!" teriak seorang pria berperawakan besar dengan nada mengancam. "Jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini, bocah!"

Naruto menatap mereka dengan tatapan tajam, giginya terkatup rapat menahan emosi. Namun sebelum ia sempat membalas, Satoru melangkah maju.

"Hei, hei, hei," ucap Satoru dengan nada santai, melambaikan tangan seolah mencoba menenangkan suasana. "Kenapa jadi ribut begini? Aku rasa klan yang mengaku hebat dan mulia seperti kalian harusnya tahu bagaimana caranya menjaga kehormatan, bukan? Mengintimidasi seorang anak kecil di hadapan pemimpin kalian sendiri? Itu kelihatannya malah memperburuk citra kalian."

Para anggota klan Himejima mendadak terdiam. Beberapa dari mereka terlihat menahan amarah, sementara yang lain tampak canggung.

Satoru melanjutkan, kali ini dengan senyuman kecil yang menyimpan ancaman halus. "Lagipula, aku belum mengatakan bahwa aku akan membiarkan kalian menyentuh anak didikku. Kalau kalian ingin bermain kekerasan, aku siap kapan saja."

Senyumnya yang biasanya riang kini berubah menjadi lebih dingin, membuat hawa di sekitarnya terasa mencekam. Para anggota klan Himejima tanpa sadar mundur setengah langkah.

Suou yang sejak tadi hanya diam, mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang tenang. "Cukup," ucapnya dengan suara tegas yang mengakhiri keributan. "Kita tidak akan mempermalukan diri sendiri dengan bertindak gegabah di hadapan tamu, bagaimanapun pendapat mereka."

Satoru kembali tersenyum santai, menyilangkan tangan di dada. "Nah, itu dia. Pemimpin klan Himejima yang bijak sudah berbicara. Jadi, mari lanjutkan pembicaraan kita dengan lebih tenang, bukan?"

Suou kembali mengarahkan tatapannya pada Naruto. Ada kilatan rasa ingin tahu di balik pandangan tajamnya. Berdasarkan laporan yang ia terima, bocah blonde di hadapannya ini mampu mengalahkan tiga orang pasukan elitnya dengan mudah. Hal itu membuat Suou penasaran akan kekuatan sebenarnya.

Sambil mengelus janggut putihnya, Suou berkata dengan nada dalam dan penuh wibawa, "Jadi, kau bocah yang sudah membuat pasukan elitku kerepotan. Sebelum kita melangkah lebih jauh, katakan padaku bocah, siapa namamu?"

Naruto berdiri tegak, tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gentar meski dikelilingi oleh tatapan penuh tekanan. Dengan nada datar, ia menjawab, "Zenin Naruto."

Mendengar nama itu, sejenak wajah Suou berubah. Tidak hanya dia, beberapa anggota klan Himejima di sekitar pun tampak saling pandang dengan ekspresi terkejut.

"Zenin?" ulang Suou, suaranya penuh penekanan. "Jadi kau berasal dari klan Zenin, salah satu dari 3 Klan Penyihir Besar Jujutsu?"

Naruto hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apapun.

Satoru yang berdiri di sampingnya tersenyum kecil, menyilangkan tangan sambil berkata santai, "Ya, dia memang dari klan Zenin. Tapi jangan harap kau bisa menilai dia hanya dari namanya saja. Anak ini penuh kejutan."

Suou mengalihkan pandangannya dari Naruto ke Satoru. Dengan nada tegas, ia bertanya, "Gojo Satoru, aku membutuhkan penjelasan. Bagaimana mungkin seseorang dari klan Zenin menjadi murid klan Gojo? Bukankah hubungan antara klan kalian memiliki sejarah yang kurang harmonis?"

Satoru menahan tawa, mengangkat satu alis dengan ekspresi santai yang khas. "Ya ampun," balasnya ringan. "Kau pikir sekarang ini tahun berapa? Hubungan klan Gojo dan Zenin sudah jauh lebih baik sejak berdirinya Institusi Jujutsu di Tokyo dan Kyoto."

Ia melipat kedua tangannya di dada sambil melanjutkan, "Di sana, kami melupakan urusan klan, dendam lama, atau politik konyol lainnya. Fokus kami hanya satu, mengembangkan kemampuan para penyihir Jujutsu. Dan Naruto di sini adalah salah satu calon yang paling menjanjikan."

Suou menyipitkan matanya, tatapan curiganya belum sepenuhnya sirna. "Tapi seorang Zenin di bawah bimbingan klan Gojo? Itu tetap sesuatu yang sulit dipercaya."

Satoru menghela napas pendek, lalu tersenyum lebih lebar. "Kalau kau pikir itu aneh, kau harus tahu, aku ini tipe orang yang tidak peduli dengan tembok bernama 'tradisi' atau 'aturan kuno.' Naruto ada di bawah bimbinganku bukan hanya karena permintaan keluarganya, tapi karena bakatnya. Dan kau akan segera melihat kenapa aku memilih dia."

Suou mengangguk kecil, seakan menerima jawaban tersebut, meski pikirannya masih dipenuhi pertanyaan lain. Tatapannya kembali pada Naruto, seolah mencoba memahami lebih dalam bocah muda di depannya. "Baiklah," ucapnya akhirnya. "Tapi aku ingin melihat sendiri kemampuan yang membuatmu begitu percaya diri memilihnya, Gojo Satoru."

Naruto menatap sekeliling dengan pandangan tajam, lalu mengajukan pertanyaan dengan nada datar, "Jadi, siapa yang akan kuhadapi? Apakah aku harus melawan pasukan elitmu lagi?"

Suou menggeleng perlahan, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Bukan mereka," jawabnya dengan suara bariton yang tegas. "Tapi seseorang yang telah kulatih secara khusus. Dia adalah salah satu calon pemimpin klan Himejima di masa depan."

Naruto mengangkat satu alis, sedikit terkejut. "Calon pemimpin klan?" gumamnya, setengah pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Satoru yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum lebar, seolah menikmati situasi yang akan terjadi. "Wah, wah," ucapnya santai. "Ternyata kau cukup serius, Suou-sama. Kalau begitu, Naruto, pastikan kau tidak mengecewakanku. Anggap saja ini sebagai ujian resmi dari sang tuan rumah."

Naruto mendengus kecil, namun ia segera mengubah sikapnya menjadi serius. "Kalau itu yang kau inginkan," katanya tegas, menatap langsung ke arah Suou. "Aku tidak akan mundur."

Suou memanggil nama seseorang dengan suara lantang. "Himejima Suzaku, maju ke depan."

Dari deretan anggota klan yang berdiri di sisi halaman, seorang gadis melangkah maju dengan tenang. Ia mengenakan hakama hitam dengan motif api yang serupa dengan yang lain, namun dengan tambahan hiasan di bahu yang menunjukkan statusnya. Rambutnya hitam panjang, terikat rapi, dan mata merahnya menyala seperti bara api, memberikan kesan tajam sekaligus anggun.

Naruto memandang gadis itu dengan ekspresi terkejut. Ia menatapnya lekat-lekat, sulit untuk tidak memperhatikan betapa miripnya Suzaku dengan Akeno. Wajahnya, bentuk tubuhnya, bahkan cara ia melangkah, semua hampir identik. Satu-satunya perbedaan yang jelas adalah warna matanya. Akeno memiliki mata ungu yang lembut, sementara Suzaku memiliki mata merah menyala yang tampak penuh determinasi.

'Apakah mereka saudara?' gumam Naruto dalam hati, meskipun ia tahu itu tidak mungkin mengingat apa yang telah ia dengar sebelumnya.

Suzaku berdiri di depan Suou, membungkuk hormat kepada pemimpin klan sebelum menatap lurus ke arah Naruto. Matanya memancarkan kepercayaan diri yang luar biasa, seolah-olah ia sudah tahu hasil dari pertempuran ini.

.


To Be Continued