Akhir pekan seharusnya menjadi ajang para siswa beristirahat dengan damai. Tak jarang ada juga yang hanya merebahkan diri di kasur seharian dan akan keluar jika lapar atau ingin mandi saja— Itupun kalau ingin. Namun tidak demikian bagi mereka yang kelewat aktif apalagi hyperactive. Tim basket SMA Seirin contohnya. Kelewat rajin ala pekerja-pekerja swasta tertentu yang sedang mencari muka. Waktu istirahat malah digunakan untuk latih tanding. Sekolah yang harusnya sepi karena tidak ada aktivitas malah terdengar seperti sedang mengadakan live konser. Suara riuh teriakan penonton, pantulan bola, decitan sepatu, semuanya tergabung jadi gado-gado dalam sebuah gedung.
Semuanya berawal dari kedatangan Kise secara tiba-tiba di SMA Seirin. Selain membuat keributan di sekolah mereka yang adem ayem, dia malah mencetuskan latih tanding antar sekolah. Alasannya? Karena cemburu Tetsuya lebih memilih Kagami daripada dirinya. Padahal selama ini dia mencarinya kemana-mana, tapi ternyata yang dicari tidak sejauh yang dia pikir. Tanpa komunikasi pula. Kise tidak terima. Diajak baik-baik juga malah ditolak mentah-mentah oleh mantannya, ―mantan mentor.
Patah hati, jadinya berani menantang pihak yang dianggap merugikan kesayangannya.
"Aku tidak menyangka akan secepat ini berhadapan dengan Kise-kun."
"Demi bisa merebut Kurokocchi kembali -ssu!"
Di balik kepala kuningnya, dia merasa perlu membuktikan kepada Tetsuya bahwa tim yang dia pilih itu sepenuhnya salah besar. Bahwa Tetsuya sudah menyia-nyiakan bakatnya dalam kumpulan makhluk-makhluk tidak ada harapan.
Pertandingan mereka masih memanas. Karena ini hanya latih tanding, mereka bermain dengan waktu 2 x 20 menit. Full court. Thanks to Kagami yang sudah berhasil menghancurkan ring basket half court SMA Kaijo, mereka bisa bermain sebagaimana harusnya, meskipun jadinya berhutang. Paham kan kalau di dunia ini tidak ada yang gratis?
Kini pertandingan sudah memasuki babak kedua. Pertarungan antara Kise dan Kagami masih belum surut. Kise dengan kelihaiannya meniru Kagami berhasil membuat si alis cabang berkedut kesal. Mau atau tidak, dia harus mampu melampaui kemampuan Kise. Tambah parah lagi karena si kuning sudah mulai masuk zone saking seriusnya ingin mengalahkan Kagami.
Yang sempat membuat Kise syok tak berkutik ialah ketika Kagami berhasil menghentikan tembakan bola yang sudah susah payah Ia bawa sekalipun harus melewati defense tebal dari pemain Seirin yang belum dia hafal namanya.
"REBOUND!" teriak Hyuuga menyadarkan pemain lainnya.
Kise tercengang. Bola oranye kebanggaan setiap umat pemain basket kini berhasil jatuh di tangan lawannya. Lebih jengkelnya lagi, di tangan Kagami. Ia bisa melihat dari sudut matanya sang tiger melesat dengan lincah menggiring bola tersebut menuju teman-temannya yang sudah bersiap dengan mode bertahan.
'Tidak! Kagami tidak boleh mendapatkan bolanya!'
―BUKK!
Matanya melebar. Terkejut setengah mati dengan rasa sengat yang menjalar dari siku tangannya disertai dengan adegan slow motion terlemparnya Tetsuya beberapa centi dari dirinya. Jantungnya serasa berhenti beroperasi. Bahkan seluruh tubuhnya pun seakan ikut mati rasa dan membeku.
Oh tidak..
PRIIIIITTTT! ―Pertandingan dihentikan sementara.
"KUROKO!"
Dengan sigap, Hyuuga berlari menghampiri Tetsuya yang masih belum sepenuhnya sadar bahwa dirinya habis terpental. Ia mulai memeriksa tubuh pemainnya yang mencoba berdiri seolah tidak terjadi apapun. Yang kemudian khawatir karena melihat lelehan darah yang mengalir dari kepala anggotanya. Mengalir cukup banyak hingga membuat sebelah matanya tidak bisa terbuka sebelah akibat linangan darah.
"Astaga…"
Tidak enakan, Tetsuya mencoba berdiri tegak. "Tidak perlu khawatir, Hyuuga-senpai. Aku ba―"
Tubuhnya mulai limbung ke belakang. Pada akhirnya ia menyerah pada kesadarannya karena tidak mampu menahan rasa melayang dengan denyut di kepalanya yang semakin menjadi-jadi, seakan nyawanya sudah menyerah berada dalam tubuh lemahnya. Beruntung kaptennya sudah siap siaga menangkapnya sebelum benar-benar jatuh mulus pada lantai lapangan.
"Kuroko!"
Yang dipanggil tidak menyahut lagi. Teman setimnya hanya bisa memandangi tubuh ringkih teman setimnya yang diangkut keluar dari lapangan. Tanpa menyadari bahwa pelaku utama masih tidak berpindah dari tempatnya berdiri.
Batin Kise saling beradu. Terlalu takut jika harus mengingat bahwa kejadian yang lalu terulang kembali. Dengan dirinya yang juga berada di TKP, tapi kali ini pelaku utama ialah dirinya sendiri. Bagaimana jika Tetsuya harus meregang nyawa kembali seperti dulu? Dan lagi, akibat ulahnya?
PLAK!
"Sadarlah, Kise idiot! Jangan bertindak seolah-olah kau telah membunuh mantan temanmu itu. Aku yakin dia akan baik-baik saja," ujar Kasamatsu menyadarkan— sekalian jadi ajang penyalur dendam pribadi.
Namun tangan Kise masih tidak bisa berhenti gemetaran. Trauma.
"Se- senpai… A- Ak-… Aku… Ku-Kurocchi…"
"Tenanglah. Dia juga mantan Kiseki no Sedai, kan? Kalau begitu ingatlah kalau dia tidak selemah yang kau bayangkan!"
Benar. Semuanya akan baik-baik saja -ssu!
Ia memandang sejenak ke arah Tetsuya yang sedang dibantu oleh tim medis. Kemudian berulang kali merapalkan matra bahwa semua akan baik-baik saja. Meyakinkan dirinya untuk fokus berjuang memenangkan pertandingan.
Semua mata memandangi dirinya. Kagami sendiri terlihat sedikit kesal dengan tindakan Kise barusan, hanya saja logikanya masih ada. Mau dipikirkan bagaimana pun, Kise yang bersikeras untuk mengambil Tetsuya kembali tidak mungkin akan dengan sengaja menghajar orang yang dianggap penting. Diperhatikan dari berbagai sisi juga bisa langsung terjawab kalau batinnya sangat merasa bersalah sampai-sampai harus dicadangkan sementara. Yah, pokoknya dia akui ini hanya sebuah kecelakaan.
Latih tanding mereka tetap dilanjutkan sebagaimana mestinya. Dari Kise yang ditarik keluar dari lapangan, hingga dia diperbolehkan ikut bermain kembali. Bahkan akhirnya melihat Tetsuya sudah mulai sadar dan berbincang-bincang dengan pelatih wanitanya. Dalam hati bersyukur karena mentornya sudah bisa kembali bergabung di lapangan. Wajar saja sih, tim basket Seirin terlihat di ujung tanduk dengan skor yang sekarang. Kalau Tetsuya tidak ada, Seirin bisa jadi tidak semengerikan yang dia harapkan. Seperti katana yang dihunuskan tanpa akal.
Mulutnya sesekali membuka, kemudian terkatup kembali seperti ikan yang sedang meregang nyawa. Ingin rasanya dia sujud di hadapan Tetsuya dan meminta maaf atas perbuatan bodohnya. Namun untuk sementara ini dia urungkan hasratnya. Dan tampaknya Tetsuya pun setuju.
Kedua tim berjuang sekuat tenaga sekalipun ini hanyalah latihan. Hanya saja perlu digaris-bawahi, yang saling bertanding diibaratkan seperti monster lapangan basket. Tentu saja pertandingan tidak akan berjalan biasa saja seperti ind*mie tanpa telur dan daun bawang. Kedua tim jadi ikutan mengerahkan tenaga dan kewarasan di saat bersamaan. Yang kemudian berujung pada kemenangan tim basket SMA Seirin.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kise merasakan pedihnya suatu kekalahan sekalipun telah berjuang.
•••••••
"Ugh.. Sepertinya lukamu masih terbuka, Kuroko."
Riko memperhatikan setiap detail pada perban yang mengelilingi kepala pemainnya. Perban yang diambil begitu saja dari kotak P3K agar darah setidaknya tidak mengucur keluar sesuka hati. Namun, tanpa perlu diperhatikan dengan teliti pun setiap orang bisa melihat perban tersebut sedikit kesulitan menampung cairan merah Tetsuya. Bagian depannya sudah mulai ternodai dengan darah.
"Aku tidak apa-apa, senpai."
"Bodoh! Biar bagaimanapun kita tetap perlu memeriksakan kepalamu. Kita perlu mendengar langsung apakah ada yang salah atau tidak," tegas Hyuuga.
"Soal itu, serahkan saja pada kami~"
Seluruh kepala langsung berbalik ke arah sumber suara.
"Takao-kun?" Yang disebutkan namanya malah nyengir kuda.
"Ossu! Doumo, Kuro-chan~. Tadi itu keren sekali loh!"
Tidak. Sebenarnya bukan hanya karena kemunculan teman kerjanya yang membuatnya seakan telah melihat seekor gajah terbang. Melainkan sosok berambut hijau yang bertengger di sebelah temannya itu loh! Lengkap dengan patung kodok hijau bertengger pada telapak tangan kirinya, sementara tangan kanannya terlihat menopang kacamatanya yang kedodoran. Wajah tsunderenya terpancar luar biasa. Membuatnya tampak sangat tidak asing.
Ah iya, saking kaget sekaligus heran, dia bahkan lupa menyapa.
Ia membungkuk, "Lama tak berjumpa… Midorima-kun."
Midorima mendengus.
"Ahaha.. Aku tidak tahu kalau kalian berdua berteman sebelum akhirnya Shin-chan yang mengajakku duluan untuk pergi menonton pertandingan kalian."
"BUKAN AKU, NANODAYO!"
"Aree~~ Padahal tadi malah Shin-chan yang memaksaku untuk cepat pergi. Kau takut ketinggalan pertandingan mereka, 'kan?" senggolnya separuh menggoda.
Biar bagaimanapun temannya yang satu ini sudah terkena penyakit tsundere akut. Susah disembuhkan dan tidak ada obatnya. Makanya Takao lebih memilih untuk menggodanya saja. Agar tersiksa dunia akhirat katanya.
"Diamlah, Bakao! Daripada itu, ikutlah denganku, Kuroko. Bukannya aku mengkhawatirkanmu, tapi ayahku lebih berpengalaman mengurus dirimu."
Tetsuya tampak berpikir sejenak. Mengikut Midorima atau teman-teman Seirin? Sebenarnya memang lebih baik dia mengikuti si kacamata karena ayahnya adalah dokter berbakat yang pernah mengobatinya. ―Bahkan tau kalau dia memiliki kondisi khusus, baik yang terlihat, maupun yang kasat mata. Namun sungguh, dia tidak begitu niat untuk berurusan lebih lama dengan anggota tim lamanya. Apalagi sampai harus bertemu dengan ayah Midorima yang seringkali banyak pertanyaan.
Tapi memilih bersama dengan teman-teman Seirinnya juga bukanlah pilihan yang tepat. Sebisa mungkin segala hal yang berhubungan dengan dirinya tidak perlu diketahui oleh mereka. Cukup teman-teman lamanya saja yang tahu. Tidak perlu menambah tatapan payah yang seakan mehakiminya sebagai manusia lemah. Dia tidak suka jika harus dipandang remeh.
"Ano.." Ia bersuara, meminta perhatian sekelilingnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku akan pergi dengan Midorima-kun dan Takao-kun saja. Ayah Midorima-kun adalah dokter pribadiku, jadi akan lebih nyaman jika beliau yang langsung memeriksaku. Nanti akan aku hubungi kalau sudah ada hasilnya."
"Kau yakin?"
"Iya, Hyuuga-senpai."
Tetsuya langsung berpamitan dengan teman-teman setimnya dan bergabung dengan dua sejoli. Para makhluk Seirin hanya memandang mereka dengan tatapan sedikit kebingungan. Terutama Kagami, yang kini alisnya terlihat saling bertaut.
Empat pasang mata menyaksikan sebuah layar komputer keluaran terbaru. Tangan seorang pria paruh baya dengan lincah menekan tombol pada mouse dan memainkan tombol gulir layaknya pemain game PC yang sudah pro. Sesekali ia menjelaskan gambar tengkorak yang terpampang dari setiap sisi pada pasien yang tidak asing, namun tidak juga disangka-sangka. Anggukan berulang sebagai tanggapan dari ocehannya yang cukup detail, sebelum akhirnya layar tersebut kembali diabaikan. Terang benderang tanpa tujuan.
"Untunglah kepalamu baik-baik saja, Kuro-chan. Dan wah, kau ini masokis atau apa? Senang sekali menjahit kepala." Takao terkekeh.
"Ini kecelakaan, Takao-kun. Aku tidak berniat menambah beban hidupku asal kau tahu saja."
"Kalau begitu jaga kepalamu, Nak. Kau sudah mengorbankannya dua kali," Nasehat Takehiro yang sedikit gemas dengan kelakuan remaja satu ini.
Tangannya meraih pucuk kepala Tetsuya. Mengusapnya perlahan dan hati-hati. Kedua iris emerlandnya mengunci bola kristal milik pasiennya, memandanginya lekat. Nampak teringat akan sesuatu.
"Walau warna kalian bertolak belakang, keras kepala kalian memang bisa diadu."
Hanya Takao yang tidak begitu paham dengan pembahasan ayah teman tsunderenya. Ingin bertanya tapi dia sadar tidak punya hak. Mirip sepatu basketnya, sama-sama tidak ada hak. Diam dan menyaksikan saja juga adalah suatu pilihan, bukan?
Kedua maniknya mengikuti gerak-gerik Midorima junior. Mulut temannya itu mangap-mangap bagaikan ikan yang diangkut dari dunia air. Terlihat jelas kalau ia sangat gusar, ada hal yang membuatnya penasaran. Sesekali ia memperbaiki posisi kacamatanya. Sesekali juga memperbaiki perban ala-alanya. Takao sungguh ingin menertawakan.
Setelah semuanya dinyatakan tidak ada masalah, ketiganya keluar dari ruangan. Pasien lain sudah menunggu di ambang pintu. Sedikit geregetan karena mereka lama sekali di dalam. Ketiganya lalu menyusuri lorong rumah sakit. Melewati berbagai ruangan, hingga akhirnya mendekati jalan keluar.
Namun kali ini kaki Midorima terhenti. Nampaknya sepanjang perjalanan dia sudah bergulat dengan rasa penasaran ingin tahunya dan sikap tidak mau pedulinya. Tapi dia menyerah. Kali ini rasa ingin tahunya yang menang.
"Kuroko."
Yang dipanggil menoleh. Tidak sadar kalau temannya sudah tertinggal beberapa langkah di belakang.
"Sudah lama ingin kupastikan—"
Tetsuya hanya memandanginya penuh selidik.
"—apa benar kau dan Akashi….. saudara kembar?"
Oh. Sudah bisa ditebak.
"Tidak. Itu.. Anu.. Pertanyaanku mungkin aneh, nanodayo. Tapi waktu itu aku sem—"
"Iya, Midorima-kun. Kami bersaudara." Midorima bungkam.
Sungguh! Tetsuya tidak ada minat merahasiakan ini dari teman lamanya. Toh, pada akhirnya mereka akan tahu juga dengan sendirinya. Kalau Seirin beda lagi ceritanya. Ia belum sedekat itu dengan mereka untuk perlu menginformasikan hubungannya dengan si kapten iblis.
Masih banyak hal yang Midorima ingin dengar. Meski dia juga paham kalau di sini bukan tempat yang tepat. Apalagi ada orang di luar lingkaran Kiseki no Sedai.
Tapi tenang saja kawan!
Takao anaknya cukup peka, kok! Dia paham dan bisa baca situasi. Julukannya si mata elang bukan kaleng-kaleng. Terbukti dengan melangkahnya dia keluar lebih dahulu disertai dengan lambaian tangan sambil berkata "Aku pulang duluan saja. Ada yang ingin kusinggahi."
Cliche, tapi manly baginya.
Lain Takao, lain pula dengan Kise. Tidak ada yang menyangka kalau sejak tadi makhluk serba kuning itu mengekori mereka layaknya anak ayam. Penuh rasa bimbang dan takut. Malu bertemu dengan korbannya, tetapi juga khawatir dengan keadaannya. Apalagi pelaku utama kali ini adalah dia. Mendengar pernyataan Tetsuya benar-benar membuatnya lupa kalau dia sedang bersembunyi dibalik tembok.
"YANG BENAR ~SSU?!" suara cemprengnya memekakkan telinga.
"Kise? Sejak kapan kau—?!"
Tetsuya hanya mendesah lelah, "Maaf, tapi bisakah kita membicarakannya di tempat lain? Kalian bisa ikut denganku kalau mau. Ke Majiba. Setidaknya di sana lebih nyaman kalau banyak yang kalian ingin tahu."
Tidak ada anggukan setuju. Tidak ada juga penolakan. Tetsuya lebih memilih mengartikannya sebagai jawaban setuju saja. Mereka lalu melangkahkan kakinya keluar dari gedung rumah sakit. Menyusuri trotoar hingga akhirnya berhenti pada suatu restauran cepat saji bernama "Majiba".
Setelah mereka memilih-milih makanan untuk dipesan, Ia mempersilahkan keduanya untuk duduk selagi dia menuntaskan pembayaran. Hey jangan menghina! Tetsuya juga punya uang tahu! Dia rajin menabung dan tidak begitu suka jajan, apalagi sekarang dia kerja sambilan. Tentu saja dia punya dana untuk sesekali mentraktir temannya.
Lagipula pesanan mereka tidak seberapa. MIdorima dan Kise bukan tipikal manusia rakus seperti orang yang dia kenal. Tiga paket burger berukuran medium dengan segelas vanilla milkshake andalannya dibawa dengan enteng dan kini siap disantap.
"Wh-whoaa.. Arigatou … -ssu.."
"Bu-bukan berarti aku tidak bersyukur nanodayo. Tapi apa ini tidak merepotkan? Kami hanya ingin berbicara denganmu."
"Tidak masalah, Midorima-kun. Anggap saja jamuan setelah lama tidak berjumpa."
Tetsuya memperhatikan tingkah laku Kise yang terlihat seperti sedang ingin BAB. Ia hanya menunduk sambil sesekali menatap kosong makanan yang sudah tersaji di depannya. Masih tidak menunjukkan niat untuk memakan makanan tersebut.
"Ada apa, Kise-kun? Tidak suka dengan makanannya?"
Sontak Kise mendongak, "Ti-tidak ssu! Cuma itu… A-ano.. Bagaimana dengan kepalamu?"
Tangannya refleks menyentuh perban yang menghiasi jidatnya, "Ah, tidak apa-apa. Kita tadi sedang bertanding, Kise-kun. Hal yang seperti ini sangat wajar terjadi. Lagipula Kise-kun 'kan tidak benar-benar ingin menghantamku. Jadi tidak perlu dipikirkan berlebihan. Midorima-san juga bilang tadi kalau lukaku tidak apa-apa."
"Ta-Tapi.. Lagi-lagi kau cidera karena aku -ssu.."
Tangan kanannya meraih pucuk kepala si surai kuning. Menepuknya dengan lembut. Kise tersentak. "Tadi itu permainan yang hebat Kise-kun."
Linangan air mata kembali menghiasi manik citrinenya. Ia sungguh menyesal sudah ceroboh dan melukai mentornya. Sekaligus bersyukur karena Tetsuya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Maaf -ssu."
Ia mengangguk.
"Jadi, apa hal yang ingin kalian tanyakan? Akan kujawab semampuku."
"Tadi kau mengakui kalau kau dan Akashi bersaudara. Tapi kenapa sebelum-sebelumnya kalian bertindak seperti tidak saling mengenal?"
Tetsuya tampak berpikir sambil menyedot milkshake kesukaannya. Cukup bingung juga bagaimana menjelaskan yang baik dan benar pada mereka.
"Bagaimana ya… Tapi yang mengingat kami bersaudara hanya aku sendiri. Akashi-kun sama sekali tidak mengingatnya, bahkan sejak awal kami bertemu kembali saat kalian menemukanku sedang berbincang dengan Aomine-kun di gedung third string. "
"Tapi… entah apakah Akashi-kun sudah mengingatnya kembali atau bagaimana ―aku sendiri tidak begitu paham― tapi sewaktu kejadian itu, dia benar-benar mengingatku―
―mungkin."
Kise ternganga, "Mana bisa pakai kata mungkin ssu!"
Bibir tipisnya dilepaskan dari sedotan.
"Eh tidak.. Aku tidak begitu paham Kise-kun. Tapi saat itu… Akashi-kun memanggilku bukan lagi menggunakan marga "Kuroko",, tapi langsung menyebutkan "Akashi Tetsuya". Padahal aku sendiri tidak pernah menyinggung hal ini sebelumnya."
Tatapannya berubah menjadi sendu. Mengingat kejadian waktu itu sungguh menguras emosinya. Saat Seijuurou meneriakkan nama aslinya, detik-detik kembarannya merobek pergelangan tangannya sebagai bukti nyata dari ketegangan saat itu. Memikirkannya saja sudah membuatnya kembali ingin muntah. Beruntung pada saat itu dia masih belum pergi jauh dari tempat kejadian. Setidaknya dia bisa membantu memberikan darahnya pada Seijuurou yang sedikit lagi pindah alam.
"Kejadian itu… sebenarnya apa yang terjadi, Kuroko? Kenapa Akashi sampai harus melakukan aksi gila seperti itu? Maksudku, aku paham dia memang sedikit tidak waras. Tapi seharusnya masih cukup waras untuk tidak mencoba bunuh diri di tempat umum. Bahkan ayahnya― maksudku… ayah kalian pun terlihat cukup terkejut."
Sungguh! Tidak ada yang paham dengan kejadian aneh yang langsung menenggelamkan insiden Kise dan Haizaki dengan Tetsuya sebagai korbannya. Kali ini tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Seijuurou sudah berada di UGD dan dalam kondisi kritis. Bahkan Tetsuya sendiri menghilang begitu saja tanpa kabar.
"A-ano.. Kurokocchi," Kise angkat bicara. "Kenapa waktu itu Kurokocchi menghilang -ssu?"
Jeda sejenak.
"Kise-kun ingin jawaban jujur atau ada bumbunya?"
Pertanyaan Midorima terabaikan begitu saja.
"Jujur lebih baik."
"Maaf kalau kata-kataku menyakitkan, tapi aku serius membenci kalian semua. Bahkan basket sekalipun," ungkapnya serius. "Sejak pertandingan terakhir kita melawan tim Meiko, melihat Ogiwara-kun begitu hancur…"
Genggamannya dipererat. Seperti tidak sanggup melanjutkan pembahasan, namun dia sudah bertekad untuk jujur. Beruntung gelas yang dipakai terbuat dari kaca. Kalau tidak, milkshake kesayangannya sudah bisa dipastikan akan tumpah kemana-mana. Mungkin memang butuh usaha agar mampu mengendalikan emosinya yang mulai muncul di permukaan. Tidak lucu kalau sesaknya kambuh hanya karena cerita masa lalu.
"Hatiku benar-benar terasa sakit, Kise-kun, Midorima-kun. Bukan permainan yang seperti ini yang kuinginkan. Kesenangan yang kudapat selama ini hanyalah dari basket, tapi permainan apa yang terjadi waktu itu?"
Volumenya sedikit meninggi. Tangannya mencengkram kuat dadanya yang mulai bergejolak.
Celaka..
Sepertinya dia sudah tidak bisa melanjutkan pembahasan ini.
"Tidak perlu kau lanjutkan," ujar Midorima seraya mengucel bekas pembungkus burgernya. Mulutnya dibersihkan sedemikian rupa dengan menggunakan tissue gratisan dari Majiba. Jangan sampai ada noda yang bisa membuatnya terlihat memalukan.
Tidak ada lagi burger, tidak ada lagi kentang goreng. Yang tersisa di hadapannya hanyalah segelas cola yang masih terisi setengah. Selebihnya hilang bagai disulap. Ia lalu mengambil tasnya, bersiap-siap untuk keluar sebelum dirinya tergoda untuk menambah.
"Maaf untuk yang waktu itu. Aku memang menyukai kemenangan. Tapi jika itu dilakukan dengan cara yang ternyata tidak pantas, seharusnya pilihanku adalah mundur."
Ia mengambil beberapa langkah, lalu kembali mundur sejenak.
"Kuroko, Aku lupa mengatakan sesuatu. Akashi akan ke Tokyo dalam beberapa hari kedepan. Kalau ada hal yang perlu kalian selesaikan, nomor seluler dan emailnya masih sama."
Setelah itu ia melenggang pergi, meninggalkan Tetsuya yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Doumo, Reader-tachi~!
Stay tuned untuk Chapter berikutnya yaa ! :D
See ya!
