Disclaimer: Naruto Punya Masashi Kishimoto

One Punch Man Punya Yusuke Murata

Genre: Fantasy, Adventure, Romance

Rate: M

Warning: Gaje, Cerita Ampas, dll.

.

.

Chapter 2: Pertempuran yang Tak Terlupakan

Naruto merasa seperti tubuhnya dipenuhi dengan semangat dan energi yang tak terbatas. Setelah bertemu dengan Tatsumaki dan melihat betapa kuatnya dia, rasa percaya dirinya meningkat. Namun, dia juga sadar bahwa dunia ini bukanlah tempat yang ramah. Begitu banyak ancaman yang mengintai, dan Naruto tahu bahwa kekuatan teleportasinya, meskipun sangat berguna, tidak cukup untuk menghadapinya sendiri.

"Jadi, kita ke mana sekarang?" Naruto bertanya, sambil berjalan di samping Tatsumaki yang terbang beberapa langkah di depannya. "Apa ada monster lagi yang harus dihajar?"

Tatsumaki menoleh, mata hijau neon menyipit dengan tatapan serius. "Ini bukan permainan, Naruto. Kau harus lebih berhati-hati. Kita sedang menuju ke markas utama para pahlawan. Ada ancaman besar yang sedang terjadi, dan aku tidak akan membiarkanmu bertindak ceroboh lagi."

Naruto menggaruk kepala, sedikit merasa diserang, namun senyumnya tetap lebar. "Hehe, ya, aku tahu. Tapi kan, aku tidak bisa duduk diam begitu saja! Aku harus ikut berjuang, ya kan?"

Tatsumaki mendengus, tapi entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang... menarik dari sifat Naruto. Ada kegigihan yang tidak bisa dia abaikan. "Kau memang anak yang keras kepala, tapi itu mungkin bisa berguna di dunia ini. Mungkin."

Saat mereka melaju melalui reruntuhan kota, tiba-tiba, gemuruh besar terdengar di depan mereka. Dari ujung jalan, muncul sebuah gerombolan monster—makhluk-makhluk besar dengan tubuh penuh otot dan cakar raksasa yang siap menghancurkan apapun di jalan mereka.

Naruto menyipitkan mata, merasakan dorongan untuk bertindak. Namun, sebelum dia bisa melangkah, Tatsumaki sudah lebih dulu bergerak. Dengan satu gerakan tangan, dia mengangkat beberapa monster sekaligus, mengguncangnya hingga mereka terhempas ke udara.

"Tunggu!" teriak Naruto. "Aku juga mau ikut!"

Namun, Tatsumaki hanya meliriknya dan berkata dengan sinis, "Kau hanya akan menghalangi."

"Kenapa sih selalu bilang begitu?" keluh Naruto, sedikit frustrasi. "Aku kan bisa bantu!"

Tatsumaki tidak menanggapi. Dia melanjutkan pertempuran, mengendalikan monster-monster itu dengan kekuatan psioniknya. Namun, tiba-tiba, sebuah monster yang lebih besar muncul dari balik reruntuhan. Monster itu jauh lebih kuat dan lebih cepat daripada yang mereka hadapi sebelumnya.

Dengan tubuh yang berotot dan tampak hampir tak terkalahkan, monster itu menyerang Tatsumaki dengan serangan yang begitu cepat, membuat dia terpaksa mundur beberapa langkah. "Tsk," keluh Tatsumaki, berusaha mengendalikan gerakannya.

Naruto tidak bisa tinggal diam. Matanya bersinar dengan tekad yang membara. "Aku akan bantu!" teriaknya, berlari menuju monster tersebut.

Tatsumaki meliriknya dengan penuh skeptisisme, tetapi tidak bisa mencegahnya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi, bodoh."

Naruto mengaktifkan kekuatan teleportasinya dan dalam sekejap, dia muncul tepat di depan monster itu, menggunakan kecepatan penuh untuk menghindari serangan cakar yang melesat. Dengan satu lompatan tinggi, Naruto memanfaatkan momentum dan mendarat di punggung monster raksasa tersebut.

"YEAH! Gimana, keren kan?" teriak Naruto dengan bangga, sambil mencoba menahan diri agar tidak terlempar dari punggung monster yang bergerak liar. Namun, monster itu tiba-tiba berbalik, mencoba melemparkan Naruto ke samping.

"Astaga, ini lebih sulit dari yang kupikirkan!" Naruto hampir terjatuh, namun, dia dengan cepat memanfaatkan teleportasi lagi untuk melompat ke posisi yang lebih aman. "Tapi, tidak ada kata menyerah!"

Melihat Naruto yang ceroboh tapi gigih, Tatsumaki akhirnya merasa sedikit tersentuh, meskipun dia tidak akan mengakuinya. Dia melayang lebih tinggi, mengangkat monster itu kembali, dan kali ini dengan lebih serius, mengirimkan gelombang psionik yang menghancurkan tubuh monster menjadi serpihan.

"Ini bukan pertarungan yang bisa dimenangkan hanya dengan semangat, Naruto," kata Tatsumaki sambil menatapnya dengan ekspresi datar. "Kau harus lebih bijaksana."

Naruto tertawa kecil, tidak merasa tersinggung. "Aku tahu! Tapi, kan, kalau tidak ikut bertarung, kan rasanya nggak enak!"

Tatsumaki hanya mendengus, tetapi ada senyum kecil di wajahnya yang sulit dia sembunyikan.

Setelah pertempuran selesai, mereka berjalan menuju markas pahlawan. Di sepanjang perjalanan, Naruto merasa ada sesuatu yang semakin jelas—bahwa dia tidak akan berjalan sendirian di dunia ini. Mungkin, meskipun dunia ini penuh dengan kekuatan luar biasa dan ancaman besar, dia akan menemukan tempat di dalamnya.

.

Sesampainya di markas, mereka bertemu dengan seorang pahlawan lain yang tampak sangat berbeda—seorang wanita dengan rambut merah panjang, mengenakan pakaian tempur yang megah. Saat dia melihat Naruto, matanya langsung berbinar, seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

"Ah, jadi ini si bocah ceroboh yang Tatsumaki bicarakan?" tanya wanita itu, sambil tersenyum. "Aku Erza Scarlet. Dan kalau kau ingin bertahan di dunia ini, aku rasa kita perlu menguji kemampuanmu dulu."

Naruto menatap Erza dengan penuh antusias. "Tentu saja! Aku siap untuk apapun!"

Erza tersenyum lebih lebar. "Bagus. Kalau begitu, bersiaplah untuk pertarungan yang tidak akan mudah."

To be continued...