Disclaimer: Naruto Punya Masashi Kishimoto
One Punch Man Punya Yusuke Murata
Genre: Fantasy, Adventure, Romance
Rate: M
Warning: Gaje, Cerita Ampas, dll.
.
.
--
Chapter 3: Ujian dari Erza Scarlet
Markas pahlawan itu tidak seperti yang dibayangkan Naruto. Tidak ada suasana ceria atau pemandangan indah—hanya sebuah ruangan besar yang penuh dengan pahlawan, beberapa tampak sangat kuat, sementara lainnya... ya, mungkin sedikit berlebihan dalam penampilan. Seorang pria besar dengan jubah hitam dan topeng bertopeng kelihatan lebih seperti bos penjahat daripada pahlawan.
Naruto mengikuti Erza Scarlet ke arena latihan. Erza yang penuh percaya diri melangkah dengan anggun, sementara Naruto sedikit canggung di belakang, terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Markas pahlawan ini terasa jauh lebih berat dan serius daripada Konoha, tapi tetap ada satu hal yang tidak bisa dihindari oleh Naruto: keinginan untuk menghibur diri.
"Jadi... apa yang akan kita lakukan? Latihan bersama, kan?" Naruto bertanya dengan senyum lebar.
Erza menatapnya sejenak, matanya tajam dan penuh pengertian. "Kau harus membuktikan dirimu dulu. Hanya karena kau bisa teleportasi, tidak berarti kau akan bertahan di sini begitu saja."
Naruto tertawa kikuk. "Hehe, aku bisa lebih dari itu! Aku juga jago masak ramen! Tapi, aku rasa kita mulai dengan latihan dulu, kan?"
"Ramen?" Erza terlihat sedikit bingung, meskipun tetap serius. "Kau lebih baik menunjukkan apa yang bisa kau lakukan di medan perang, bukan di dapur."
"Yah, kadang aku hanya ingin mempermanis suasana," jawab Naruto dengan ceria, meskipun tahu dirinya sedang memasuki ujian berat.
Erza menatapnya dengan penuh perhatian. "Baiklah, jika begitu. Aku akan memberimu ujian pertama." Dia mengeluarkan pedang raksasanya, yang tampaknya lebih besar dari tubuh Naruto. "Kau harus mengalahkan aku dalam pertarungan satu lawan satu."
Naruto langsung mengangkat tangan dengan penuh semangat. "Itu dia! Pertarungan yang kuinginkan!"
Namun, sebelum pertarungan dimulai, sebuah suara menggema dari kejauhan, menghentikan langkah mereka.
"Erza, tunggu!" Tiba-tiba, seorang gadis dengan rambut pendek berwarna hijau muncul dengan terburu-buru. Dia mengenakan pakaian tempur berwarna hijau dan tampaknya memiliki aura yang luar biasa. "Kau melibatkan bocah ini dalam pertarungan tanpa memberi peringatan?" wanita itu—yang ternyata adalah Tatsumaki—berkata dengan suara penuh amarah.
Erza melirik Tatsumaki dan mengangkat bahu. "Dia datang ke sini dengan penuh percaya diri. Apa salahnya memberinya ujian?"
"Tapi dia baru sampai! Kita nggak tahu seberapa kuat dia," Tatsumaki membalas, matanya menyipit tajam. "Aku rasa ini masih terlalu berisiko."
Naruto, yang sudah tidak sabar untuk bertarung, menepuk dadanya dengan bersemangat. "Wah, kalian berdua, jangan khawatir! Aku siap kok! Aku nggak takut!"
Tatsumaki meliriknya dengan skeptis, namun dia tahu bahwa sudah terlambat untuk menghentikan Naruto. "Kau lebih baik bertanggung jawab atas dirimu sendiri, bocah."
Erza yang sudah tidak sabar untuk bertarung langsung mengarahkan pedangnya ke arah Naruto. "Kau siap?"
Naruto tersenyum dengan semangat, meski ada sedikit kecemasan. "Tentu! Pertarungan, ayo!"
Tanpa peringatan, Erza langsung melancarkan serangan. Pedang besar yang ia bawa terayun dengan kecepatan luar biasa, angin dari ayunan pedang itu saja sudah cukup untuk membuat Naruto terhuyung. Namun, Naruto sudah siap. Dengan kekuatan teleportasinya, dia menghindar dengan cepat, muncul di belakang Erza.
"Uh! Kamu cepat juga!" kata Naruto, sambil mencoba menahan tawa. "Tapi aku bisa lebih cepat, lho!"
Namun, Erza tidak memberi ruang. Dalam sekejap, dia memutar tubuh dan mengayunkan pedangnya lagi. Naruto yang tidak sempat menghindar, kembali menggunakan teleportasi untuk menjauh.
"Astaga, dia benar-benar tidak bisa diam," kata Erza dalam hati, merasa sedikit terhibur oleh kegigihan Naruto.
"Ya, itu benar! Aku memang nggak bisa diam!" Naruto balas berteriak sambil terus bergerak cepat. "Tapi, aku rasa aku punya cara lain untuk menang!"
Naruto menggunakan teleportasi lebih sering, berpindah-pindah tempat dengan cepat, tetapi Erza, yang sangat terlatih, mulai menyesuaikan serangannya. Dia tak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, tetapi juga menggunakan intuisi untuk memprediksi gerakan Naruto. Setiap kali Naruto teleportasi, Erza sudah siap menyambutnya dengan serangan berikutnya.
"Ini nggak bisa jadi seperti ini terus," kata Naruto dalam hati, mulai merasa kesulitan. "Aku harus berpikir lebih cerdas."
Dia berhenti sejenak, melihat Erza yang masih dalam posisi siap menyerang. "Aha!" Naruto mendapat ide. "Kalau aku nggak bisa mengalahkanmu dengan kecepatan, aku akan pakai... trik! Hei, Erza! Lihat ini!"
Dengan sebuah lompatan, Naruto berpindah tempat dan menghilang ke balik batu besar. Erza terkejut. "Kau mencoba bersembunyi?"
Tidak lama setelah itu, Naruto muncul lagi di belakang Erza, tetapi kali ini dia membawa sebuah wadah kecil penuh ramen! "Ramen! Aku tahu kamu suka makanan enak, jadi... mari kita makan dulu, siapa tahu bisa jadi strategi!" katanya sambil tersenyum lebar.
Erza terkejut dan untuk sesaat tidak bisa menahan senyum kecil. "Kau ini... benar-benar ceroboh."
Tatsumaki, yang melihat kejadian itu, hanya mendengus dan terbang lebih dekat. "Kau masih belum serius, Naruto."
"Serius? Aku sudah serius, Tatsumaki!" jawab Naruto sambil mengacungkan sendok ramen. "Tapi kadang kita butuh sedikit... bumbu untuk mempermanis pertempuran, kan?"
Tatsumaki terdiam sejenak, tampaknya sedikit terhibur dengan tingkah laku Naruto yang ceroboh namun penuh semangat. "Tidak tahu lagi harus berkata apa."
Erza menghela napas panjang dan menurunkan pedangnya. "Baiklah, cukup untuk hari ini. Kau tidak kalah, Naruto. Hanya saja... jangan terlalu sering mengandalkan trik seperti itu."
Naruto tersenyum lebar, masih membawa ramen di tangan. "Aku janji, lain kali aku akan lebih serius, Erza! Tapi kan, aku nggak bisa lepas dari ramen!"
Erza tersenyum tipis, masih sedikit terhibur meskipun ada kesan bahwa dia ingin Naruto lebih serius. "Kau ini memang aneh, Naruto, tapi ada sesuatu yang menarik tentangmu."
Tatsumaki menoleh pada Naruto, dengan sedikit senyum. "Kau mungkin ceroboh, tapi... itu mungkin kekuatanmu yang sebenarnya. Keberanian, semangat, dan... sedikit keanehan."
Naruto, yang masih mengunyah ramen, merasa sedikit malu. "Hehe, ya, kalau gitu, aku akan berusaha jadi lebih baik! Tapi, ramen tetap juara!"
Erza, Tatsumaki, dan Naruto akhirnya duduk bersama untuk istirahat sejenak. Meskipun baru saja melalui ujian berat, mereka menyadari bahwa dalam perjalanan ini, Naruto mungkin membawa sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan tempur—dia membawa semangat yang tak tergoyahkan, dan mungkin itu yang akan menjadi kekuatan terbesar dalam perjalanan mereka.
To be continued...
