Disclaimer: Naruto Punya Masashi Kishimoto
One Punch Man Punya Yusuke Murata
Genre: Fantasy, Adventure, Romance
Rate: M
Warning: Gaje, Cerita Ampas, dll.
.
.
--
Chapter 4: Perkenalan
Setelah ujian "menegangkan" dengan Erza Scarlet, Naruto kini resmi diterima di markas pahlawan. Meski masih dianggap sebagai pemula, semua orang sepakat bahwa semangat dan kemampuan uniknya patut dihormati—atau setidaknya dia membuat mereka cukup terhibur untuk tidak mengusirnya.
Namun, tak ada waktu untuk bersantai. Naruto, yang berpikir dia akan mendapat waktu untuk tidur siang atau makan ramen lagi, segera dipanggil ke ruang briefing.
.
--
Markas Pahlawan, Ruang Briefing
Ruangan itu penuh dengan pahlawan dari berbagai tingkatan. Ada yang terlihat gagah, seperti seseorang yang baru saja keluar dari komik superhero, dan ada juga yang... yah, terlihat seperti badut dengan kostum terlalu ketat.
Naruto, yang tidak bisa menahan komentarnya, berbisik pada Erza yang berdiri di sampingnya.
"Hei, apa dia itu pahlawan atau maskot taman hiburan?" bisiknya sambil menunjuk seseorang dengan helm berbentuk lobster.
Erza memutar mata. "Fokus, Naruto. Ini serius."
Di depan ruangan, seorang pria tua dengan janggut panjang berdiri. Dia adalah pemimpin markas ini, dan meskipun tubuhnya kecil, auranya sangat kuat. "Selamat datang di briefing hari ini. Kami telah menerima laporan tentang aktivitas aneh di Kota Z. Tim investigasi pertama gagal kembali, dan kami menduga ada ancaman besar yang terlibat."
Naruto mengangkat tangan dengan semangat. "Ooh! Aku ikut! Kota Z, kan? Pasti banyak ramen enak di sana!"
Erza langsung menjitak kepalanya. "Fokus! Ini misi berbahaya, bukan jalan-jalan!"
Pemimpin itu hanya tersenyum tipis. "Semangatmu bagus, anak muda. Tapi ini bukan misi biasa. Kami menghadapi sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Semua yang akan berangkat harus siap menghadapi kemungkinan terburuk."
Naruto, yang meskipun ceroboh, tahu kapan harus serius, langsung berdiri tegak. "Aku siap! Apapun itu, aku tidak akan mundur!"
.
--
Kota Z
Naruto berangkat bersama tim kecil yang terdiri dari Erza, Tatsumaki, dan dua pahlawan lain yang belum dikenalnya. Perjalanan mereka ke Kota Z dipenuhi dengan percakapan ringan, sebagian besar karena Naruto tidak bisa diam.
"Jadi, Tatsumaki," kata Naruto sambil melompat-lompat di sampingnya. "Kau ini terlihat kecil, tapi kekuatanmu gede banget, ya? Apa kau makan sesuatu yang spesial waktu kecil?"
Tatsumaki menatapnya tajam. "Kau ingin terbang? Aku bisa membantumu."
Naruto tertawa gugup. "Hahaha, nggak, nggak! Aku cuma penasaran!"
Erza, yang sedang membaca peta, tiba-tiba berhenti. "Kita sudah dekat. Bersiaplah."
Saat mereka masuk lebih jauh ke Kota Z, suasananya berubah drastis. Kota yang biasanya ramai kini tampak seperti kota mati. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada orang di jalanan—hanya angin dingin yang berhembus pelan.
Naruto menelan ludah. "Ini... agak menyeramkan. Biasanya kota kosong begini hanya ada di film horor!"
"Fokus," kata Tatsumaki, melayang sedikit di udara sambil mengamati sekeliling. "Ada sesuatu di sini. Aku bisa merasakannya."
Erza mengangguk. "Tetap dalam formasi. Jangan ceroboh."
Namun, Naruto, yang terkenal ceroboh, justru berlari lebih dulu ke depan. "Aku akan memeriksa ke sana!"
"Naruto! Tunggu!" Erza berteriak, tapi sudah terlambat.
Saat Naruto melewati sebuah tikungan, tiba-tiba dia dihadang oleh makhluk besar berbentuk seperti laba-laba, dengan delapan mata menyala merah. Makhluk itu menggeram, menunjukkan gigi tajam yang mengerikan.
"ASTAGA! Itu bukan ramen!" Naruto berteriak, mencoba berteleportasi menjauh, tapi makhluk itu menyerangnya lebih cepat dari yang dia duga.
Dalam sekejap, Erza dan Tatsumaki muncul di belakangnya. Erza langsung menghunus pedangnya, melindungi Naruto dari serangan makhluk itu. "Naruto! Jangan bertindak gegabah!"
Tatsumaki, dengan kekuatan telekinesisnya, langsung mengangkat makhluk itu ke udara dan membantingnya ke tanah dengan keras. "Apa kau ini tidak tahu caranya berpikir sebelum bertindak?"
Naruto menggaruk kepala sambil tertawa gugup. "Hehe, maaf. Aku hanya terlalu semangat."
Namun, sebelum mereka bisa bernapas lega, suara geraman lain terdengar. Dari sudut-sudut gelap, lebih banyak makhluk serupa muncul, jumlahnya mencapai belasan.
"Wah, ini gawat!" Naruto berseru, segera bersiap dengan kunai di tangannya.
Erza melangkah maju, wajahnya serius namun penuh semangat. "Kalian ambil sisi kanan. Aku akan menangani bagian kiri!"
Pertarungan pun dimulai.
.
--
Naruto, meskipun ceroboh, menunjukkan kemampuan teleportasi yang luar biasa. Dia berpindah-pindah tempat dengan cepat, membuat makhluk-makhluk itu kebingungan. Namun, setiap kali dia menyerang, dia hanya bisa melukai sebagian kecil dari tubuh mereka.
"Ternyata kulit mereka keras banget!" teriak Naruto sambil melompat ke belakang, menghindari serangan cakar makhluk itu.
Tatsumaki, yang sedang mengangkat lima makhluk sekaligus dengan telekinesisnya, menoleh dengan wajah kesal. "Ya ampun, jangan hanya lompat-lompat! Lakukan sesuatu yang berguna!"
"Baik, baik! Aku punya ide!" Naruto melompat ke atas salah satu makhluk, menanamkan kunainya, lalu segera berteleportasi ke atas makhluk lain. Dengan trik ini, dia berhasil mengalihkan perhatian mereka, memberi waktu bagi Erza untuk menyerang.
Erza, dengan pedang raksasanya, menghancurkan makhluk-makhluk itu satu per satu dengan kekuatan yang luar biasa. Namun, jumlah mereka terus bertambah.
"Naruto! Fokus pada pemimpin mereka!" teriak Erza sambil melawan serangan makhluk lainnya.
Naruto memicingkan mata, mencoba mencari tahu siapa pemimpin makhluk-makhluk ini. Dan saat dia melihat salah satu dari mereka yang lebih besar dan tampak memimpin serangan, dia langsung tahu apa yang harus dilakukan.
"Baiklah! Ayo kita coba ini!" Naruto menggunakan teleportasinya untuk muncul di belakang makhluk pemimpin itu, langsung menghantamnya dengan Rasengan yang telah dia siapkan.
Ledakan besar mengguncang area itu, menghancurkan makhluk pemimpin tersebut dalam satu serangan. Melihat pemimpin mereka hancur, makhluk-makhluk lainnya mulai mundur, melarikan diri kembali ke kegelapan.
Tatsumaki menatap Naruto dengan sedikit kagum, meskipun dia berusaha menyembunyikannya. "Hmph. Ternyata kau punya otak juga."
Naruto tertawa kecil sambil menggaruk kepala. "Hehe, yah, aku hanya butuh waktu untuk memikirkan strategi."
Erza, yang masih memegang pedangnya, tersenyum tipis. "Kerja bagus, Naruto. Tapi lain kali, dengarkan instruksi."
Naruto mengangguk penuh semangat. "Aye aye, kapten! Eh, maksudku, Erza!"
Namun, jauh di dalam bayang-bayang Kota Z, seseorang sedang mengamati mereka dengan tatapan penuh minat. "Menarik. Sangat menarik."
To be continued...
