Disclaimer: Naruto Punya Masashi Kishimoto
One Punch Man Punya Yusuke Murata
Genre: Fantasy, Adventure, Romance
Rate: M
Warning: Gaje, Cerita Ampas, dll.
.
.
Chapter 8: Kristal Penghancur dan Kejutan di Tengah Pertarungan
Ruang Altar
Pertarungan di ruang altar semakin memanas. Penjaga raksasa yang menghadang Erza adalah makhluk humanoid berkulit perak dengan tubuh yang seperti armor hidup. Dia mengayunkan senjata raksasa berbentuk gada yang hampir setinggi tubuhnya sendiri.
Naruto berdiri di samping Erza, memandang penjaga itu dengan mata berbinar. "Wah, itu gada atau tiang listrik? Beratnya pasti kayak membawa tiga ember ramen sekaligus!"
Erza mendesah, meskipun sedikit tersenyum. "Naruto, fokus. Kau siap?"
Naruto menyeringai. "Aku selalu siap!"
.
--
Penjaga raksasa itu mengayunkan gadanya dengan kekuatan luar biasa. Lantai ruangan bergetar saat gada menghantam, menciptakan lubang besar di tempat Naruto baru saja berdiri.
Naruto berhasil teleportasi ke atas gada dan menendang kepala penjaga itu. "Ha! Kalau ini video game, kau pasti bos besar di level ini!"
Sayangnya, tendangan Naruto hanya membuat penjaga itu sedikit bergeming. Makhluk itu langsung mencoba menangkap Naruto, tetapi dia berhasil teleportasi lagi ke tempat aman.
Erza, yang sudah bersiap dengan Flame Empress Armor, melompat dan menyerang dengan pedang yang menyala-nyala. "Kalau begitu, kita serang bersama!"
Namun, serangan itu hanya meninggalkan goresan kecil di tubuh penjaga.
Tatsumaki, yang sedang sibuk mengatasi penjaga lain, melayang di udara sambil melirik ke arah Naruto dan Erza. "Serius? Kalian belum mengalahkan dia? Aku tidak bisa terus babysitting kalian selamanya!"
Naruto mengangkat tangan. "Hei, dia besar banget, oke! Ini bukan tugas mudah!"
Tatsumaki mendengus. "Tentu, karena otakmu kecil."
.
--
Setelah beberapa kali teleportasi dan menghindari serangan, Naruto mendapatkan ide. Dia menciptakan tiga bayangan klon untuk mengalihkan perhatian penjaga, sementara dia mempersiapkan serangan besar.
"Erza, aku butuh waktu beberapa detik. Kau bisa mengalihkan perhatiannya?"
Erza tersenyum percaya diri. "Beri aku tiga detik."
Dengan kecepatan luar biasa, Erza menyerang penjaga dari berbagai sudut, membuatnya fokus sepenuhnya pada dirinya. Naruto memanfaatkan momen ini untuk menciptakan Rasengan Super Besar, ukurannya hampir sebesar tubuhnya sendiri.
Namun, tepat sebelum Naruto meluncurkan serangannya, Tatsumaki melayang mendekat. "Naruto, jangan sampai menghancurkan altar juga. Kalau kau merusak segalanya, kita mungkin tidak keluar hidup-hidup."
Naruto tersenyum lebar. "Santai saja, Tatsumaki! Aku ini jenius... kadang-kadang."
"Kadang-kadang tidak cukup!" Tatsumaki melindungi mereka dengan penghalang gravitasi sementara Naruto melompat ke arah penjaga dengan Rasengan-nya.
.
--
Ketika Rasengan Naruto menghantam penjaga raksasa itu, ledakan besar mengguncang ruangan. Penjaga itu terpental ke dinding, tubuhnya hancur menjadi pecahan logam seperti kaca.
Naruto berdiri dengan bangga, meskipun terengah-engah. "Hah! Lihat? Aku bilang aku bisa!"
Namun, getaran dari ledakan itu membuat kristal di altar mulai retak, memancarkan cahaya merah yang semakin terang.
Tatsumaki segera melayang ke altar. "Naruto! Kau benar-benar membuat masalah lagi! Kristalnya tidak stabil!"
Naruto menggaruk kepala. "Oh, itu... bukan salahku, kan?"
.
--
Saat mereka mendekati altar untuk memeriksa keretakan, suara langkah berat menggema dari balik kegelapan. Dari bayangan, muncul sosok ramping dengan jubah panjang dan topeng hitam yang menutupi wajahnya.
"Selamat, kalian berhasil mencapai sini," kata sosok itu dengan suara dingin. "Tapi kalian hanya membuka pintu untuk kehancuran yang lebih besar."
Naruto menatap sosok itu sambil menyipitkan mata. "Wow, kau ini siapa? Antagonis utama? Atau cuma cameo yang kebanyakan ngomong?"
Erza meletakkan tangannya di pedangnya, bersiap untuk bertarung lagi. Tatsumaki, yang jelas-jelas sudah muak, melayang lebih dekat. "Siapa pun kau, kalau kau ingin membuat masalah, ini saat yang salah."
Sosok itu hanya terkekeh. "Kalian tidak mengerti apa yang kalian hadapi."
Dia mengangkat tangannya, dan kristal di altar mulai bersinar lebih terang. Cahaya itu membentuk bayangan besar di belakangnya, yang perlahan-lahan berubah menjadi monster berbentuk naga dengan tubuh yang terbuat dari energi merah.
Naruto, alih-alih takut, hanya menatap monster itu dengan kagum. "Whoa, ini seperti bos akhir di game RPG yang tadi aku sebutkan! Keren banget!"
Tatsumaki memutar mata. "Naruto, aku benar-benar ingin tahu bagaimana otakmu bekerja."
Erza, meskipun terkejut, tersenyum tipis. "Kalau begitu, mari kita kalahkan bos akhir ini bersama."
Naruto mengepalkan tinjunya. "Betul! Ayo tunjukkan pada mereka siapa pahlawan sejati di sini!"
.
--
Monster naga itu mengaum, mengguncang seluruh ruangan. Sosok berjubah hanya berdiri di depan altar, tampaknya mengendalikan makhluk itu.
"Kalau kita tidak menghentikan dia, seluruh tempat ini bisa runtuh," kata Tatsumaki sambil melayang lebih tinggi.
Naruto menyeringai. "Baiklah, aku punya ide lagi!"
Erza memandang Naruto dengan skeptis. "Tolong, jangan rencana bodoh lagi."
"Percaya saja padaku kali ini!" kata Naruto dengan penuh semangat, meskipun dia jelas belum benar-benar memikirkan rencananya.
Tatsumaki hanya menghela napas panjang. "Kalau ini gagal, Naruto, aku yang akan menghajarmu lebih dulu sebelum musuh melakukannya."
"Deal!" jawab Naruto sambil menciptakan klon bayangan. "Ayo, tim! Saatnya unjuk gigi!"
--
To Be Continued...
