Secret Of Zirconia Tribe

(A Hunter X Hunter Fanfiction Story)

Season I : Revive Of Darkness Evil Organization


Illustration Art and Story By : @Pastella_Kitch

Disclaimer : Yoshihiro Togashi

Rated : Teen (aman kok, nggak ada adegan dewasa dan gore)

Genre : Adventure / Friendship / Action /Fantasy / Romance

Time setting :

- Lima tahun setelah pelelangan di Kota Yorkshin.

- Untuk menghindari kebingungan saat membaca fic ini, diharapkan Readers mengabaikan Arc setelah Genei Ryodan. Maaf ya semuanya, Teman-teman fans HxH.

Character :

1. Gon Freecss (17 tahun)

2. Killua Zoldyck (17 tahun)

3. Kurapika Kuruta (22 tahun)

4. Leorio Paradiknight (24 tahun)

5. Luna Zirconia (OC, 19 tahun)

6. Marilynn Claviere (OC, 22 tahun)

Noted : Chara Hunter X Hunter yang muncul di fic ini, semuanya punya Yoshihiro Togashi. Punya saya cuma story ini beserta OC-OCnya

Sinopsis :

Setelah insiden pelelangan di Kota Yorkshin. Gon, Killua, Kurapika, dan Leorio memutuskan untuk melanjutkan hidup mereka dan menempuh jalan masing-masing. Gon dan Killua bertualang ke tempat yang belum pernah mereka singgahi, sementara Kurapika masih dalam misi mengumpulkan Scarlet Eyes teman-temannya, dan Leorio menempuh pendidikan kedokteran.

Setelah lima tahun berpisah, Gon dan para sahabatnya dipertemukan kembali. Mereka berempat sepakat mengadakan acara reuni di Oxilorve City. Dan, di sinilah awal petualangan mereka yang baru dimulai.

Cek sama-sama ya.

*

Chapter 1 : Pertemuan X Aspirin X Tak Terduga

*

Oxilorve City, kota kecil yang sangat mempesona. Tempat yang dipenuhi dengan beberapa gedung bertingkat dan perumahan sederhana bergaya minimalis. Meskipun jalanan kota tersebut tampak sepi dari kendaraan bermotor, namun para warga tampak berlalu lalang menggunakan sepeda dan kereta kuda. Sisi-sisi jalan juga terasa asri karena dihiasi pepohonan hijau dan bunga beraneka warna yang tertata cantik di atas pot-pot mungil, tak lupa juga terdapat bangku kayu di antaranya.

Pagi itu, seorang remaja berusia 19 tahun berambut pendek berwarna coklat sedang menyusuri jalanan kota sambil membaca peta yang dipegangnya. Dia memakai kaos hitam lengan panjang yang ditutupi dengan kemeja jeans berlengan pendek berwarna biru. Ia juga mengenakan celana panjang longgar berbahan jeans berwarna biru gelap. Wajahnya tak terlihat jelas karena ia memakai topi berwarna hitam.

"Baiklah, sekarang ke mana aku harus pergi?" Remaja itu menghentikan langkahnya. Ia mengamati peta Kota Oxilorve di tangannya. "Mungkin aku harus pergi ke pusat kota lebih dulu," gumamnya pelan.

Remaja berambut coklat itu menghela nafas lalu kembali melipat petanya dan memasukannya ke dalam saku celananya. Di saat bersamaan, seorang pria muda berambut pirang berjalan melewatinya.

"Permisi," sahut pemuda itu sambil melenggang pergi.

Remaja bertopi itu menoleh dan melihat orang yang menyalipnya. "Ryon?!" Ia tersentak begitu melihat punggung pemuda itu. Sosok pemuda itu mirip sekali dengan orang yang dicarinya selama beberapa tahun terakhir. Dia pun berusaha mengejar pemuda berambut pirang tersebut. Namun terlambat, rupanya pemuda yang dikejarnya telah memasuki sebuah restoran megah.

Tanpa membuang waktu, remaja bertopi itu mencoba memasuki restoran yang sama, tetapi penjaga melarangnya masuk dengan alasan tempat itu sudah disewa untuk acara penting dan tanpa VIP Pass siapapun tidak diijinkan masuk. Dengan perasaan kecewa, anak muda itu pun berjalan keluar restoran sambil menghela nafas.

Dari luar jendela, remaja itu tetap memperhatikan punggung pria muda berambut pirang yang dikejarnya. Tampak pemuda itu duduk tenang di sebuah kursi lalu mengeluarkan sebuah buku dan membacanya.

"Dia mirip sekali dengan Ryon. Postur tubuhnya, cara dia berjalan bahkan suaranya sangat mirip. Yah, kecuali warna rambutnya, sih." Ia masih mengamati pemuda itu dari kejauhan.

"Seandainya aku bisa ke sana untuk melihat wajahnya dan memastikan apakah orang itu benar-benar Ryon..." Remaja itu tertunduk lesu, sebuah ide terlintas di pikirannya.

"Kalau begitu, aku akan menunggunya di sini. Jika urusannya sudah selesai, dia pasti keluar dari restoran itu. Di saat itulah aku harus menemuinya dan bicara dengannya," batin remaja itu sambil tersenyum. Ia berbalik dan duduk di sebuah bangku yang terletak di tepi jalan sambil mengamati pria berambut pirang tersebut dari kejauhan.

*

Sementara itu, di sudut jalan berbeda terlihat seorang gadis berusia 22 tahun sedang berjalan cepat sambil menenteng kotak obat miliknya. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tampaknya ia sedang mencari seseorang.

Meskipun wajahnya tampak kesal dan dipenuhi dengan luapan emosi, tetapi gadis itu masih terlihat cantik dengan bola mata birunya yang berbinar cerah. Rambut birunya yang panjang tampak diikat model ekor kuda. Geraian rambut tersebut melayang indah di udara setiap kali dara cantik itu bergerak. Kulitnya yang putih pucat tertutup oleh mini dress putih berlengan panjang. Sekilas penampilan wanita muda itu terlihat seperti seorang perawat berbaju putih.

"Dia belum lama pergi, harusnya masih ada di sekitar sini," ucapnya sambil memperhatikan sekeliling.

Gadis itu terus melangkah ketika tanpa sengaja seseorang menabraknya. Tubuhnya yang tinggi semampai seketika terpental ke trotoar Kota Oxilorve. Kotak obat yang dibawanya juga ikut terbanting, sehingga seluruh isinya berhamburan di sepanjang jalan.

"Aduh!" Gadis manis itu mengerang kesakitan. Ia berusaha menahan amarah dan menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah orang yang menabraknya.

Seorang pria bertubuh tegap berambut hitam dan mengenakan kacamata berlensa bening berdiri di hadapan gadis itu.

"Hei?! Apa kau tidak punya mata?" Sebuah bentakan dari mulut lelaki tersebut mengejutkan gadis yang sedang terduduk itu.

"Dasar kau-" Pria itu tercekat saat melihat gadis yang ditabraknya. Paras cantik wanita dari sang lawan bicara seketika membuat wajahnya tersipu.

Si gadis pun menatap tajam orang yang menabraknya. Tanpa pikir dua kali, ia pun segera membalas bentakan pria itu.

"Hei? Harusnya aku yang marah, tak bisakah kau berhati-hati saat berlari di jalan?!" Ia menghela nafas panjang lalu melanjutkan omelannya. "Kau menabrakku dan membuatku terjatuh. Dan sekarang, coba lihat barang-barangku yang berserakan di jalan. Bagaimana bisa kau seenaknya membentak dan menyalahkanku? Kau pikir kau siapa, hah?!" umpatnya penuh rasa jengkel.

"Ma... maaf." Pria yang mengenakan setelan jas hitam itu tertegun sejenak. Ia melihat kondisi gadis yang baru saja ditabraknya. Begitu menyadari barang-barang yang dibawa wanita itu bertebaran di jalan, lelaki tersebut berlutut. Ia memunguti benda-benda milik gadis tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak obat yang tergeletak di sampingnya.

"Ini, 'kan?"

Sambil memasukkan benda-benda itu ke kotak, pria tersebut memperhatikan barang- barang yang dipegangnya. Wajahnya tampak terkejut begitu menyadari bahwa semua benda yang diambilnya adalah beberapa tablet aspirin yang terbungkus dengan plastik berwarna biru.

"Untuk apa wanita ini membawa begitu banyak aspirin?" Laki-laki berambut hitam itu bertanya-tanya.

Di saat yang sama, tiba-tiba tangan gadis yang ditabraknya menyambar plastik kecil di tangan pria tersebut. Dengan raut wajah kesal, gadis itu kembali berkata sinis.

"Benda ini sangat penting untukku, kuharap kau tidak merusaknya. Sudah kau pergi saja, aku bisa membereskan semua kekacauan ini sendiri. Semakin lama aku melihatmu, aku semakin muak. Sana pergi!" usirnya lagi sambil memasukkan obat-obat itu ke dalam kotak miliknya lalu menutupnya.

"Hei?!" bentak pria berambut hitam itu. "Asal kau tahu ya, Nona. Aku bukanlah tipe orang tak bertanggung jawab yang akan meninggalkan seorang gadis duduk di trotoar seperti ini."

Ketika itu, wajah si pria mulai memerah karena menahan amarah. Namun, ia masih berusaha bersabar. Setelah menarik nafas panjang, pria itu kembali menatap gadis di hadapannya dan melanjutkan perkataannya, "Nona, sikapmu itu buruk sekali. Aku membantu karena merasa bersalah sudah menabrakmu hingga kau terjatuh."

Pria itu berdiri lalu mengulurkan tangannya, sementara gadis di hadapannya hanya terbengong memandangnya. "Ayo, kubantu kau berdiri," sahutnya lagi.

Gadis berpakaian putih itu tersadar, dengan gugup ia menyambut uluran tangan pria yang menabraknya. Dia berusaha berdiri, namun kembali menjatuhkan badannya ke atas aspal. Wanita muda itu memegangi pergelangan kakinya sambil merintih kesakitan, "Akh.. Kakiku sakit sekali!"

"Sial sekali diriku hari ini! Kenapa ini semua harus terjadi? Sahabatku hilang. Kemudian ditabrak oleh seorang pria tempramental dan berakhir dengan kakiku yang cedera seperti ini. Kenapa aku harus mengalami bencana mengerikan ini?" Gadis itu merutuki dirinya sendiri. Ia kesal lalu memukuli trotoar yang sedang didudukinya.

"Pria tempramental? Gadis ini benar-benar..." Pria berkacamata itu tampak geram atas perlakuan teman barunya tersebut. Ia mengepalkan kedua tangannya, namun beberapa saat kemudian ia kembali menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dan berusaha mengendalikan emosinya.

"Bersabarlah, Leorio," batinnya sambil mengelus dada.

Pria berjas hitam itu berlutut dan memegang pergelangan kaki gadis yang ditabraknya. "Sepertinya kakimu terkilir."

Setelah mengobservasi cedera lawan bicaranya, Leorio menengadahkan kepalanya. Ia menatap wajah gadis di hadapannya sambil tersenyum. "Cuma luka kecil, aku bisa mengobatinya. Tapi aku tak mungkin melakukannya di sini. Jadi, kurasa kita harus mencari tempat dulu."

Sang wanita tersipu saat Leorio menatapnya. Ia memalingkan wajahnya, "Ti... tidak perlu. Pergilah, aku baik-baik saja!" sahutnya tegas.

Sementara itu seolah tidak mendengar ucapan lawan bicaranya, Leorio berdiri dan memandang tempat di sekeliling mereka berdua. "Kita pergi ke sana saja." Leorio menunjuk Taman Kota Oxilorve yang ada di depan mereka.

"Aku bilang tidak perlu, ya tidak perlu. Aku akan baik-baik saja!" bentak sang gadis sekali lagi. Ia kembali menggelengkan kepalanya. Namun, tak lama kemudian ia terkejut sebab secara tiba-tiba tubuhnya terasa terangkat dari aspal jalan.

Leorio menggendong gadis itu dengan gaya bridal style. Dan, tentu saja setelah sang wanita menyadari apa yang terjadi padanya, ia meronta-ronta.

"He... Hey?! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" serunya sambil menggoyangkan kakinya dan memukul dada Leorio beberapa kali.

"Aduh! Jangan banyak bergerak. Apa kau tidak tahu kalau kau itu sangat berat? Jika kau terus meronta seperti itu, aku akan menjatuhkanmu!" jawab Leorio sambil mengerang kesakitan karena pukulan wanita yang digendongnya.

Gadis itu pun diam. Ia berhenti meronta dan tak lagi memukuli orang yang menggendongnya. Ia menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah.

Sekitar lima menit kemudian, sepasang muda mudi itu tiba di Taman Kota Oxilorve. Taman itu sungguh indah dan terasa sejuk. Dipenuhi pepohonan hijau dan rindang juga terdapat bunga-bunga beraneka warna menghiasi sisi-sisinya, sungguh pemandangan yang menyejukkan mata.

Leorio melihat sebuah bangku di taman tersebut dan memutuskan untuk membawa wanita yang digendongnya ke sana. Pelan-pelan, ia menurunkan gadis tersebut lalu mendudukkannya di atas bangku. Kemudian, si pria berkacamata berlutut dan kembali memeriksa kaki gadis yang berada di hadapannya. "Hmm... Sepertinya tidak terlalu parah," gumamnya pelan.

Tepat saat Leorio membuka tas kopernya yang berwarna hitam, sang wanita muda membuka suara. "Sejujurnya kau tak perlu melakukan hal itu," ucapnya.

"Aku ini seorang dokter. Aku tahu apa yang kulakukan. Sudah, kau diam saja." Leorio menjawab tanpa mempedulikan perkataan gadis yang ada di hadapannya. Ia mengambil perban dan salep dari kopernya. "Seperti kataku tadi, aku melakukan hal ini untuk menebus kesalahanku, "tambahnya lagi.

Gadis itu tertegun. Mendadak, ia mulai kehilangan kesabarannya. "Dasar kau, Dokter sok tahu! Kenapa kau begitu keras kepala? Dengarkan aku, ya. Aku bisa mengobati diriku sendiri! Bukankah kau sedang terburu-buru? Jadi, lebih baik kau pergi dan segera menyelesaikan urusanmu," balasnya.

Leorio tertawa kecil saat mendengar pengakuan gadis muda di depannya. "Jadi, sejak tadi kau menyuruhku pergi karena kau khawatir dan takut merepotkanku, ya?" ucapnya. "Soal itu, kau tidak perlu cemas, Nona. Teman-temanku akan memakluminya saat tahu alasanku terlambat menemui mereka," lanjutnya lagi.

Sang gadis tertegun, wajahnya memerah. "Si... siapa bilang aku mengkhawatirkanmu?"

"Nona, kau ini anak yang baik. Tapi sepertinya kau mengalami masalah saat mengungkapkan isi hati melalui ucapanmu," canda Leorio sambil tersenyum. "Baiklah, sekarang ijinkan aku mengobati kakimu, ya?" Ia mengulurkan tangannya untuk memeriksa pergelangan kaki gadis itu.

Antara merasa senang karena Leorio dapat memahami dirinya dengan baik dan merasa malu karena isi hatinya telah terbaca, wajah gadis itu semakin memerah. Jantungnya berdebar kencang. Untuk menutupi perasaannya sendiri, dengan gugup ia kembali berteriak.

"A.. aku sudah bilang, 'kan! Aku itu bisa mengobati diriku sendiri! Jadi, pergilah dan urusi hidupmu." Ia berseru sambil menepis tangan Leorio.

Leorio terkejut, ia menengadahkan kepalanya ke atas dan menatap wajah wanita muda yang duduk di hadapannya. "Kau ini sungguh keras kepala, Nona," ucapnya.

"Kalau kau tidak percaya, berdirilah di sana dan perhatikan ini baik-baik." Si gadis menjawab sambil menunjuk ke arah depan.

Melihat sikap wanita yang duduk di hadapannya, Leorio memutuskan untuk mengalah. Pria itu berdiri dari tempat ia berlutut sambil menghela nafas. "Baik, baik. Kau menang, Nona. Silahkan lakukan hal yang kau anggap benar," kata Leorio seraya berjalan sejauh dua meter sebelum akhirnya ia menghentikan langkahnya dan mengamati gadis tersebut dari tempatnya berdiri.

"Entah apa yang akan dilakukan olehnya. Ya, semoga saja dia tidak melakukan hal yang akan membuat cedera kakinya bertambah parah," batin Leorio.

Gadis berambut biru itu tampak lega saat melihat Leorio menuruti perkataannya. Ia tersenyum lalu memejamkan matanya agar bisa lebih berkonsentrasi.

Berselang beberapa detik, sebuah pendaran aura berwarna ungu terlihat mengelilingi tubuh wanita muda itu.

Leorio tersentak. "Gadis ini, dia tahu cara menggunakan nen." Secara reflek, dokter muda itu menggunakan Gyo di kedua matanya dan melihat gadis yang tengah duduk di hadapannya memakai kemampuan Nen.

Gadis itu mengangkat dan mengatupkan kedua tangannya. Perlahan, ia menjauhkan kedua telapak tangannya lalu di saat bersamaan terbentuklah aura yang menyerupai selembar kain perban yang tak bisa terlihat oleh mata orang biasa.

Sang perawat cantik pun memegang kain Nen kepunyaannya. Ia membalutkan benda tak kasat mata itu ke pergelangan kakinya. Secara mengejutkan luka memar dan bengkak di pergelangan kaki gadis tersebut kembali seperti sediakala. Wanita muda itu tersenyum ke arah Leorio.

"Lihat, 'kan? Aku bisa menyembuhkan diriku sendiri, persis seperti yang aku katakan sebelumnya."

Gadis berambut biru itu berdiri dan menghentakkan kakinya yang sudah sembuh sebanyak beberapa kali. "Lain kali, jangan melihat seseorang hanya dari penampilannya saja ya, Tuan Dokter Pemarah."

"Ada apa sih dengan gadis itu?" Leorio hanya bisa terbengong melihat lawan bicaranya berbalik dan beranjak pergi.

"Baiklah, aku pergi dulu. Aku harus mencari temanku. Sampai jumpa dan..." Wanita cantik itu menoleh ke arah lawan bicaranya. "...jangan menabrak orang lain lagi," tambahnya seraya melambaikan tangannya.

Dari tempatnya berdiri, Leorio hanya bisa tertegun saat sang gadis meliriknya dengan tatapan tsunderenya yang khas. Leorio tersenyum saat gadis itu berjalan menjauh.

"Gadis Aspirin. Menarik sekali. Jika aku bertemu lagi dengannya, mungkin aku bisa belajar teknik Nen itu. Sepertinya sangat berguna untuk mengobati orang lain," gumam Leorio.

"Hmm... Dia bilang sedang mencari temannya, ya? Semoga saja dia berhasil." Leorio tertawa kecil. "Tunggu sebentar... 'teman'?!" Leorio menepuk keningnya.

"Celaka! Gon, Killua dan Kurapika pasti sudah menungguku di Restoran Sunflakes."

Dan, Leorio pun kembali berlari dengan tergesa-gesa ke tempat teman-temannya berada.

-- Next Chapter, Chapter 2 : Reuni x Misterius x Menyenangkan --


A/N :

Halo, Readers.

Ketemu lagi dengan aku (bagi yang udah kenal lewat 2 akun lamaku xD) dan salam kenal buat Reader baru yang ketemu aku di akun ini.

Fanfic ini dulu sudah pernah publish dengan OC yang sama dan cerita yang sama tapi discontinue karena lupa email password sekaligus aku yang memang mager lanjutinnya. Kenapa mager? Karena WB (writer's blocked). Wkwk.

Yah, lagu lama emang ya. XD

Sama, dulu itu memang aku kalo nulis ya asal nulis aja. Konsep belum mateng, udah keburu publish. Akhirnya yah gitu deh. Di tengah jalan, ceritanya buntu dan macet.

Nah, kayak yang aku bilang tadi. Untuk fic ini dulu sempat publish dengan judul Dark Blood Rises (kalo nggak salah inget) dan Our New Life (After Storynya).

Jadi kalo ada Readers lama yang dulu pernah kecewa karena fic ini sempat discontinue, sebagai Author, aku minta maaf banget ya, Semuanya. Sekarang aku lagi kangen banget sama cerita ini, dan berkat support beberapa Reader di platform sebelah... aku bertekad nulis fic ini lagi dari awal sampe akhir.

Tentu, karena fic yang dulu konsepnya masih berantakan ceritanya akan dirombak total di sini.

Fic ini juga publish di Wattpad dengan judul yang sama. Buat Readers yang mau baca updatenya lebih cepet, bisa langsung ke Wattpad aja ya. Disana lebih oke juga karena bisa selipin art ilustrasi link song cover.

Okey, sekian dulu A/N dari aku.

Akhir kata, selamat membaca ya, Semuanya.

Salam sayang,

Pastella Kitch