*
Chapter 2 : Reuni X Misterius X Menyenangkan
*
- Pukul 11.30, Restoran Sunflakes, Oxilorve City -
Seorang pemuda berambut silver memperhatikan jam dinding yang tergantung di dinding restoran. Sambil mengaduk-aduk milkshake coklat di hadapannya dengan sebatang stik coklat, ia menghela nafas panjang. Tampaknya pemuda itu mulai merasa lelah dan bosan. Ia pun mengalihkan tatapannya pada seorang pria berambut pirang yang kini sedang duduk berhadapan dengannya.
"Kurapika, apa kau yakin sudah mengirim e-mail pada Leorio?" tanya pemuda berambut silver yang berwajah rupawan itu.
Lawan bicaranya mengalihkan tatapan yang semula terpaku pada buku yang dibacanya, ke arah remaja tersebut. Ia menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Killua. Bahkan, dia telah membalas e-mailku itu beberapa saat setelah aku mengirimnya," jawab Kurapika singkat.
"Lalu, kenapa dia belum tiba di sini? Dasar Leorio payah!" Killua, pemuda berambut silver itu kembali menggerutu sambil melirik jam dinding restoran.
"Jangan-jangan dia tersesat? Bukankah dia tak bisa membaca peta dengan benar? Dasar bodoh." Karena kesal, Killua terus mengatai salah satu kawan baiknya itu.
Begitu mendengar ucapan Killua, seorang pemuda berambut spikey berwarna hitam yang sejak tadi duduk diam di sebelah Kurapika tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Killua, jangan bicara seperti itu. Lagipula kalau ucapanmu benar, lebih baik kita pergi untuk mencari Leorio sekarang," ucapnya bersungguh-sungguh.
Killua bangkit dari tempat duduknya dan memegang kedua bahu pemuda berambut hitam itu. Ia mendekatkan wajahnya ke muka remaja laki-laki itu sambil menyeringai tajam.
"Gon, Sahabatku yang manis. Coba kau pikir lagi, memangnya ke mana kau mau pergi mencari Leorio?" tanya Killua dengan nada sindiran.
"Meskipun Oxilorve tidak sebesar Yorknew, tapi kalau kita mencari seseorang tanpa arah dan tujuan yang jelas, rencana awal kita bisa gagal. Tujuan kita kemari 'kan untuk mengadakan reuni bukannya bertamasya keliling kota," lanjut Killua.
Gon pun tertawa kecil sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Ah, itu... benar," jawabnya pelan.
Tepat saat Gon dan Killua berhenti berdebat, Kurapika menutup buku yang dipegangnya. Masih dengan pembawaannya yang tenang, pemuda berwajah cantik itu mengambil sebuah ponsel android dari dalam saku bajunya.
"Baiklah, biar kutelpon dia dulu." Kurapika membuka suara sambil mencari nomor telpon Leorio di alat komunikasi miliknya.
Tepat di saat Kurapika hendak menekan tombol 'call' di ponselnya, seorang pria berkacamata berambut hitam mendatangi meja mereka dengan nafas terengah-engah. Dengan posisi membungkuk, ia meminta maaf pada Gon, Killua dan Kurapika.
"Maafkan... aku... datang... terlambat," ucapnya terbata-bata. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah para sahabatnya. "Aku kedatangan gadis... Ah-maksudku, seorang pasien... yang membawa banyak aspirin," tambahnya lagi.
Kedatangan Leorio yang tiba-tiba itu membuat Gon, Killua dan Kurapika terdiam. Mereka semua terkejut hingga kehabisan kata-kata. Ketiga kawan Leorio itu memandangi pria berambut hitam tersebut dengan tatapan tak percaya.
Berselang beberapa detik, Kurapika yang tersadar lebih dahulu dibanding dua temannya yang lain mengunci layar handphonenya dan memasukkan benda itu kembali ke saku bajunya. Ia berdehem sambil membetulkan kerah bajunya.
"Yang penting kau sudah datang," jawab Kurapika singkat.
Killua menatap Leorio. "Tadinya kami kira kau tersesat, hampir saja Gon pergi ke kantor polisi terdekat untuk mencarimu," sindirnya.
Gon tertegun mendengar namanya disebut, ia menoleh ke arah temannya itu. "Killua, aku memang bilang akan mencari Leorio. Tapi aku tidak pernah bilang mau melapor ke kantor polisi." Remaja laki-laki itu menyanggah ucapan Killua.
Leorio tertawa saat melihat tingkah kedua sahabatnya itu. "Ternyata selama tiga tahun, kalian belum banyak berubah, ya."
Killua menoleh ke arah Leorio. "Kau pun sama saja. Bisa-bisanya datang terlambat hanya karena didatangi seorang wanita," sahutnya ketus.
"Bukankah sudah kubilang, kalau dia itu pasienku." jawab Leorio kesal.
Sementara itu, Kurapika yang mulai jengah, kembali menghela nafas saat mendengar jawaban Leorio.
Killua memandang Kurapika dan Leorio secara bergantian lalu berbisik pada Gon yang duduk di hadapannya. "Sepertinya Kurapika cemburu pada 'Pasien Aspirinnya' Leorio," candanya sambil tertawa kecil. Gon ikut tersenyum saat mendengar perkataan Killua.
Dan, saat itu juga dua jitakan yang dilayangkan Kurapika dan Leorio pun sukses mendarat di atas kepala Killua. Gon yang terkejut melihat kekompakan kedua sahabat baiknya itu hanya bisa terdiam.
*
Sementara itu, dari seberang jalan Restoran Sunflakes. Seorang remaja berambut coklat masih memperhatikan Gon, Killua, Kurapika dan Leorio sambil tersenyum.
"Sepertinya mereka bersenang-senang." Ia berkata pelan lalu menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit biru. "Seandainya saja, teman-temanku juga berada di sini. Pasti kami juga akan bersenda gurau seperti mereka," batinnya.
*
Kembali ke tempat Gon, Killua, Kurapika dan Leorio berada. Saat ini terlihat mereka berempat sedang menikmati acara reuni hari itu dengan mengobrol dan makan siang bersama. Tak jarang mereka berempat saling melempar senyum dan tertawa saat salah satu di antaranya bertingkah atau membicarakan hal yang lucu.
Setelah memindahkan sepotong steak dari hotplate besar di tengah meja makan ke piringnya, Gon menoleh ke arah Leorio. "Kalau begitu sekarang Leorio sudah resmi menjadi seorang Hunter Medis, ya?" tanyanya.
Leorio menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya, meskipun aku sudah lulus kuliah dan telah resmi diangkat sebagai seorang dokter. Aku masih belum memenuhi syarat untuk bisa diangkat menjadi seorang Hunter Medis." Ia menjelaskan sementara Gon masih memperhatikan.
Pemuda polos berambut hitam itu tersenyum. "Tapi bisa menyelesaikan pendidikan kedokteran dan menyandang gelar dokter hanya dalam waktu lima tahun. Leorio sungguh luar biasa," pikir Gon.
"Jadi, untuk bisa diakui sebagai Hunter dengan spesialisasi tertentu kita harus bisa lulus dalam Ujian Rahasia Spesialisasi." Leorio kembali melanjutkan.
Gon menganggukkan kepalanya, "Aku juga pernah mendengar soal itu Leorio."
Kurapika bergabung dalam obrolan mereka. "Dan, hal yang paling merepotkan adalah kita membutuhkan pengakuan dari Dewan Asosiasi Hunter Spesialisasi dari masing-masing bidang. Atau dengan kata lain, kita harus membuat Dewan Asosiasi tersebut terkesan dengan prestasi yang kita capai."
"Tepat sekali." Leorio menjawab dengan cepat. "Tadinya aku mengira bahwa dengan membuat penemuan baru dalam bidang kedokteran, aku bisa mendapatkan pengakuan dari mereka. Tapi ternyata aku salah perhitungan."
Killua menatap Leorio. "Memangnya kau sudah melakukannya?" candanya. Sudah menjadi kebiasaan bagi anak laki-laki keluarga Zaoldyeck itu menggoda teman-temannya.
"Kau pikir aku bisa menjadi dokter jika belum melakukannya?" Leorio membalikkan pertanyaan Killua.
Killua tertawa geli, "Iya, iya. Aku tahu itu. Aku sudah mendengar penemuanmu yang hebat itu. Menggunakan ekstrak Lemoria sebagai antitoksin sengatan Brezzle saat Kota Shirine diserang wabah. Ya, harus aku akui, itu memang mengesankan."
Leorio menghela nafas. "Sayangnya, penemuanku itu masih belum bisa membuatku diakui sebagai seorang Hunter Medis."
Kurapika kembali menanggapi. "Itu sudah pasti, 'kan. Jika hanya dengan penemuan semacam itu bisa lulus Ujian Spesialisasi, pasti posisi Hunter Medis sudah terisi penuh oleh dokter-dokter muda dan profesor medis."
Leorio kembali tertawa. "Ya, meskipun terdengar menyakitkan saat kau memperjelasnya, harus kuakui bahwa perkataanmu itu benar, Kurapika. Ternyata aku yang dulu memang terlalu naif dan menganggap remeh Ujian Spesialisasi ini. Dulu aku berpikir dengan membuat penemuan itu aku bisa lulus kuliah sekaligus mendapat pengakuan sebagai Hunter Medis. Tapi ternyata standart kelulusan untuk menjadi seorang dokter dan Hunter Medis itu memang berbeda. Hahaha..."
Kurapika, Gon dan Killua sempat tertegun saat melihat reaksi Leorio. Tadinya mereka berpikir pasti Leorio akan marah saat mendengar pernyataan Kurapika, namun justru sebaliknya Leorio malah terkikik geli saat mengingat kenaifannya yang dulu.
"Yah, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu selama lima tahun terakhir ini Leorio. Tapi aku senang, kau sudah banyak berubah," batin Kurapika sambil tersenyum hangat.
Leorio kembali menoleh ke arah Gon. "Lalu, bagaimana denganmu Gon? Sudah kau temukan informasi mengenai ayahmu?"
"Benar juga, kalau tidak salah semua benda yang dijual di pelelangan itu sudah ditukar dengan barang palsu oleh anggota Ryodan, 'kan?" Kurapika ikut menanggapi. "Itu artinya Game Greed Island yang kalian peroleh itu juga palsu. Lalu, bagaimana kelanjutannya?"
Gon menjawab pertanyaan Kurapika dan Leorio. "Sejujurnya saat mengetahui bahwa game itu palsu, aku dan Killua juga sempat kebingungan," ucapnya seraya tertawa.
Killua menyambung perkataan sahabatnya. "Tapi syukurlah, beberapa minggu kemudian kami mendapatkan informasi bahwa ada seorang konglomerat yang sedang mencari orang untuk memainkan game itu. Jadi, kami masuk lewat sana dan mencari informasi soal Ging."
"Lalu?" tanya Leorio penasaran, sementara Kurapika masih menyimak penjelasan dari Gon dan Killua.
"Dari situ kami menemukan petunjuk berantai mengenai keberadaan Ging." jawab Killua lagi.
"Petunjuk berantai, ya?" Kali ini Kurapika yang menanggapi ucapan Killua.
Gon mengangguk. "Petunjuk yang menyuruh kami untuk mencari dan menemukan beberapa benda langka. Berkatnya, kami pergi ke banyak tempat yang misterius."
Gon menghela nafas sebelum melanjutkan kaimatnya. " Hingga pada akhirnya melalui petunjuk terakhir yang kami temukan di Kota bawah laut Atlansia, tiga minggu yang lalu. Kami bertemu dengan Kite-san. Kite-san menyampaikan pesan bahwa saat ini Ging sedang menyelidiki hal yang berhubungan dengan Dark Evil Knight Organization atau yang lebih dikenal dengan DEKO."
"Dasar, benar-benar menyusahkan," ujar Killua menambahkan.
Gon menepuk pundak Killua. "Tapi dengan itu, kita bisa menjelajahi tempat-tempat baru yang menarik 'kan, Killua?"
Meski sempat merasa kesal, pada akhirnya Killua tersenyum menanggapi ucapan Gon.
Leorio mengelus dagunya. "Hmm... DEKO, ya? Kudengar organisasi rahasia yang sangat berbahaya itu berhubungan erat dengan isu Dark Blood yang menjadi pembicaraan hangat di kalangan para Hunter akhir-akhir ini."
Leorio pun mengarahkan tatapannya pada Gon. "Kebetulan sekali, aku juga sedang mencari informasi mengenai Dark Blood. Kurasa kita bisa mengumpulkan informasi itu bersama-sama," ucap pria berkacamata tersebut.
"Benarkah? Itu bagus sekali." Gon tampak senang saat mendengar jawaban Leorio.
Killua menatap Leorio lalu kembali bertanya, "Hei, Leorio. Tadi kau bilang, kau sedang mencari informasi soal Dark Blood? Apa yang menarik tentangnya?"
Leorio menoleh ke arah Killua lalu mengangguk. "Menurut informasi yang aku peroleh, Dark Blood bisa mempercepat regenerasi sel-sel tubuh dan meningkatkan kemampuan fisik pemakainya. Bukankah akan sangat menarik jika kelebihan utama Dark Blood itu dapat digunakan untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit? Aku bermaksud melakukan riset untuk itu. Siapa tahu, dengan riset itu aku bisa membuat Dewan Asosiasi Hunter Medis terkesan."
"Oh, jadi itu alasannya. Aku mengerti," jawab Killua sambil menganggukkan kepalanya. "Lalu, bagaimana denganmu, Kurapika?" Tiba-tiba Killua melemparkan pertanyaan pada Kurapika yang diam saja sejak tadi.
Gon ikut menoleh ke arah Kurapika. "Iya, Kurapika. Ayo ceritakan pada kami, apa yang terjadi padamu dalam kurun waktu lima tahun ini."
Kurapika menatap Gon dan Killua dengan ekspresi serius. "Setelah insiden pelelangan itu, aku memutuskan untuk berhenti menjadi bodyguard keluarga Nostrade."
Leorio meregangkan badannya di tempat ia duduk. "Keluarga yang malang, kudengar mereka bangkrut setelah putri keluarga Nostrade kehilangan kemampuan meramalnya."
"Begitulah. Kalian juga pasti tahu bahwa kemampuan Nen Neon Nostrade telah dicuri oleh Kuroro." Kurapika mengambil cangkir tehnya dan menyeruput isinya.
Tiba-tiba Gon menepukkan kedua tangannya. "Oh, iya. Bicara soal Kuroro dan Laba-laba, aku sempat mendengar beberapa anggota Ryodan juga memasuki Game Greed Island."
Killua menanbahkan. "Iya, sepertinya anggota Ryodan yang tersisa berusaha mencari kartu khusus untuk membebaskan Kuroro dari rantai Nenmu, Kurapika."
Leorio menganggapi Gon dan Killua. "Jika mereka berhasil membebaskan Kuroro dari belenggu Kurapika, aku berani bertaruh mereka akan memulai pergerakannya kembali."
Kurapika meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. "Itu bukan hal yang aneh. Kemungkinan besar anak buah Kuroro memang sedang mencari Jyonen. Belenggu yang aku gunakan pada Kuroro bisa dilepaskan oleh pengguna Jyonen. Tapi untuk saat ini aku tidak begitu peduli dengan Laba-laba karena aku mempunyai fokus tujuan yang jauh lebih penting."
Gon dan Killua mengangguk bersamaan, "Hmm... jadi begitu."
Kurapika menatap Gon dan Killua. "Namun, tidak peduli itu bukan berarti aku akan melepaskan mereka begitu saja. Jika suatu saat nanti aku bertemu lagi dengan mereka, aku akan membuat mereka membayar semuanya." Nada suara pria itu meninggi, pertanda bahwa ia masih menyimpan dendam pada kelompok penjahat tersebut.
Mendengar jawaban Kurapika, ketiga orang sahabatnya terdiam. "Yah, padahal kasus Ryodan di pelelangan waktu itu termasuk kasus besar. Sayang sekali, Kuroro berhasil melarikan diri. Seandainya waktu itu, kau menyerahkannya ke Dewan Asosiasi Blacklist Hunter, pasti kau sudah mendapat Kartu Lisensi Hunter bintang dua" Killua memecah keheningan di antara mereka.
"Ternyata memang untuk membuat Anggota Dewan terkesan itu tidak mudah ya." Gon menggaruk kepalanya lalu melanjutkan, "Bahkan dengan pencapaian seperti itu, Kurapika masih belum bisa diakui sebagai Hunter bintang dua."
Kurapika tersenyum. "Memang masih belum membuat mereka terkesan, tapi setidaknya aku bisa membuktikan pada diriku sendiri kalau aku bisa melakukannya. Itu membuatku semakin bersemangat dan yakin bahwa aku bisa menemukan teman-temanku setelah ini."
Killua terkejut mendengar perkataan Kurapika. "Menemukan teman-temanmu? Itu artinya mereka masih hidup?"
Gon ikut menyambung pertanyaan Killua, "Jadi fokus tujuan yang lebih penting dari Laba-laba adalah hal itu?"
Kurapika kembali mengangguk lalu menjawab pertanyaan teman-temannya. "Benar, kemungkinan besar masih ada anggota Suku Kuruta yang masih hidup. Sebenarnya, setelah aku keluar dari Keluarga Nostrade. Aku kembali ke Provinsi Lukso untuk mengunjungi makam teman-temanku. Dan disana, aku menemukan beberapa fakta yang membuatku yakin bahwa ada beberapa anggota Suku Kuruta yang berhasil melarikan diri saat penyerangan Genei Ryodan itu."
Gon, Killua dan Leorio terkejut. "Benarkah itu, Kurapika? Tapi, bagaimana mungkin setelah sekian lama kau baru mengetahuinya sekarang?" tanya Leorio penasaran.
"Nen," ucap Kurapika singkat. Ia melanjutkan, "Sebelumnya, aku tidak bisa menggunakan Nen. Maka dari itu, fakta-fakta mengejutkan ini baru kutemukan sekarang." Kurapika menjelaskan secara singkat.
"Waktu itu, saat aku pulang dan memeriksa puing-puing Suku Kuruta, aku menemukan sebuah pintu ruangan bawah tanah yang hanya bisa dilihat menggunakan Gyo. Saat aku masuk kedalamnya, ternyata ruangan itu memiliki jalan rahasia yang terhubung dengan gua di dekat pesisir pantai Provinsi Lukso," cerita pemuda berambut pirang tersebut.
Killua tampak menyadari sesuatu. "Hmm... Pantas saja saat Ujian Hunter tahap keempat dulu, kita menemukan kapal karam milik Suku Kuruta. Rupanya mereka kabur melalui jalan rahasia itu."
Gon menganggukkan kepalanya. "Tapi Kurapika bukankah waktu itu, semua penumpang kapal tewas? Lalu, bagaimana kau begitu yakin masih ada teman-temanmu yang selamat setelah kejadian itu?"
"Mereka yang tewas adalah mereka yang melarikan diri melalui jalur laut, Gon. Setelah aku selidiki lebih lanjut, ternyata di dekat gua itu ada jalan rahasia lain yang lagi-lagi hanya bisa dilihat menggunakan Gyo. Dan jalan rahasia itu terhubung dengan Pegunungan Amber yang terletak di belakang hutan Suku Kuruta. Jika perkiraanku benar, maka pasti masih ada beberapa anggota Suku Kuruta yang berhasil selamat dari tragedi pembantaian itu," jawab Kurapika lagi.
Leorio menatap Kurapika, "Jadi, apa rencanamu setelah ini, Kurapika?"
Kurapika menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali membuka matanya dan menjawab pertanyaan Leorio. "Karena saat menulusuri jalan rahasia, aku menemukan sebuah peta tua yang menunjuk pada lokasi dimana Zirconia Tribe berada. Pertama-tama, aku akan pergi menuju Green Marine Coast atau GMC untuk menemui Pemimpin Zirconia Tribe. "
"Yaah, sepertinya kali ini kita akan berpisah lagi ya, Kurapika." Gon menunduk lesu. "Padahal kupikir tadinya kita bisa pergi berempat untuk mengumpulkan informasi setelah ini," lanjutnya.
Kurapika yang mendengar ungkapan kecewa dari Gon pun langsung menepuk pundak sahabatnya itu sambil tersenyum. "Kita masih bisa saling berbagi informasi dan tetap berkomunikasi kok. Jangan khawatir," hibur Kurapika.
Saat tengah menghibur Gon, tiba-tiba Kurapika terdiam dan mengubah ekspresi wajahnya. Sontak saja, hal itu membuat ketiga temannya yang lain memperhatikannya. "Sejak memasuki restoran ini aku terus merasa seperti sedang diawasi," ucap Kurapika pelan.
"Orang bertopi yang duduk di bangku seberang jalan sana ya?" sahut Killua cepat.
"Tapi, sepertinya dia tidak berbahaya." Gon ikut menanggapi.
Leorio membalas, "Meskipun begitu kita tidak boleh lengah, kita harus tetap waspada." Perkataan pria berkacamata itu disambut dengan anggukan oleh teman-temannya.
--
A/N :
Kira-kira, siapa ya identitas asli dari orang misterius yang mengikuti Kurapika? Bongkar jawabannya di chapter selanjutnya!
Next Chapter : Nerd X Kawan Baru X Sudah Tidak Sabar Lagi!
