Tetsuya melangkahkan kakinya masuk di balik sebuah pintu. Ia melewati jalur khusus yang hanya boleh dilalui oleh karyawan di tempat itu saja. Naik ke lantai 3 menuju ke loker untuk menyimpan tas sekolahnya, lalu mengganti pakaiannya dengan seragam yang kompak dengan karyawan lain. Sebagai anak yang beretika dan tahu sopan santun, tak lupa pula Ia menyapa setiap orang yang ditemuinya, meskipun mereka tidak begitu akrab satu sama lain.
Setelah penampilannya sudah siap, ia langsung memasuki area dine in yang berada di lantai 2, mengambil nampan yang sudah berisikan secangkir teh Chamomile hangat, segelas soda, seporsi steak ayam, dan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai pelengkap. Nampan tersebut dibawanya pada meja sepasang kekasih yang sedang asik berbincang-bincang. Yah, apapun yang mereka perbincangkan, bukan urusan Tetsuya.
Ia beralih pada segerombol pelanggan yang memanggilnya untuk berfoto. Ah, maksudnya, untuk memfoto mereka. Sebenarnya bukan dia sih yang dipanggil. Toh dia tidak begitu diperhatikan oleh pelanggan-pelanggan di sana. Namun yang karyawan yang dipanggil tidak begitu mendengarkan. Jadi, sebagai pelayan yang baik, Tetsuyalah yang maju menawarkan dirinya untuk memotret mereka. Ia pun berusaha semaksimal mungkin agar foto yang dihasilkan tidak mengecewakan pelanggannya. Walau dia sendiri tidak begitu yakin sebenarnya.
Setelah berhasil mengambil foto pelanggannya, bergegaslah ia untuk kembali ke area counter, hanya untuk memperoleh tawa renyah dari teman sekerjanya di tempat itu. Tetsuya hanya memandangnya datar tanpa berkata apapun.
"Ahahaha, gomen gomen, Kuro-chan. Hanya saja posemu terlihat begitu lucu saat akan memotret mereka. Hahhahahah!"
"Mau diapa lagi, Takao-san. Aku tidak begitu paham cara memotret yang benar."
Sebuah jempol diacungkan di depan hidung Tetsuya. Satu-satunya karyawan di tempat ini yang cukup akrab dengan dirinya hanyalah Takao Kazunari seorang. Tidak. Bukan karena dia dibully hingga diasingkan seperti yang kalian pikirkan. Hanya saja keberadaan Tetsuya cukup sulit untuk dinotice oleh khalayak umum. Sedikit berbeda dengan Takao yang memiliki penglihatan diatas rata-rata. Juga karena mereka sama-sama masih menduduki bangku SMA. Shift kerja keduanya juga hampir selalu sama, kecuali jika Takao mengabsen karena kegiatan sekolah. Belum lagi sifat easy going dari Takao, membuat Tetsuya sedikit mudah untuk bergaul dengannya.
"Maa maa.. Mau sampai kapan kau memanggilku dengan embel-embel -san?"
"Kita baru berteman kurang lebih dua minggu, Takao-san."
Takao menepuk bahu Tetsuya, "'Takao' saja lebih bagus."
Yang ditanya menghela nafas.
"Kalau begitu, 'Takao-kun'."
Jempolnya kembali diacungkan.
Setelah keduanya akhirnya berhasil membuat kesepakatan, mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Tetsuya sebenarnya belum begitu mengenal Takao. Walaupun dibilang mereka sama-sama masih SMA, Tetsuya sendiri belum tahu SMA mana yang ditempati oleh si mata sipit, sedangkan dia sendiri sudah memberitahu Takao. Ia memberi catatan mental untuk dirinya sendiri agar menanyakan hal ini nantinya.
"Kuro-chan! Tolong bawakan ini ke meja 7!"
"Hai!"
"Tet…su-kun?" ucap seseorang tiba-tiba dari arah belakangnya.
Suaranya tidak begitu asing di pendengarannya. Dan benar saja, ketika ia berbalik, manik biru mudanya menangkap sosok gadis bersurai pink yang dulu pernah dekat dengannya. Jujur saja, dia tidak menyangka harus bertemu dengan Momoi di sini. Bukan. Malahan Ia tidak berharap bisa bertemu dengan siapapun yang mengingatkannya pada cerita masa lalu. Walaupun dia sendiri paham, gadis ini sama sekali tidak bersalah.
Tetsuya terdiam membeku. Hingga pelukan dari si gadis pink kembali menyadarkannya. Ia bisa mendengar gumaman kecil dari Momoi yang berkata "syukurlah kau baik-baik saja" berulang kali dengan suara yang terasa sedikit gemetar. Hati kerasnya melunak.
"Maaf."
Hanya satu kata yang bisa keluar dari bibirnya. Tangannya terlihat ragu untuk membalas pelukan mantan kekas— EHEM! Mantan managernya. Dia hanya mengelus surai pink itu dengan lembut hingga akhirnya Momoi melepaskan pelukannya dari lelaki idamannya itu.
Kedua manik mereka saling bertemu.
"Maaf, Momoi-san. Aku tidak bisa menemanimu untuk sementara." Ia menunjuk tempat Takao berada, "Masih di jam kerja."
Yang satu hanya menggeleng.
"Aku akan menunggu, Tetsu-kun."
"Tapi akan la—"
"Itu lebih baik daripada harus kehilangan jejakmu lagi."
Tetsuya bungkam. Ia lupa kalau Momoi juga tipikal orang yang keras kepala dan harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekali lagi ia hanya bisa menghela nafas.
"Duduklah. Akan kupesankan minuman hangat dan cemilan."
Ia lalu mengambil nampan yang akan diantar ke meja 7, seperti yang diminta oleh Takao. Tak lupa juga menerima siulan menggoda dari si surai hitam karena menganggap bocah polos dihadapannya ini tidak benar-benar polos seperti dugaannya. Tetsuya hanya mengibaskan tangannya dan meminta Takao untuk membuatkan secangkir coklat hangat untuk Momoi.
Selang beberapa jam, akhirnya shift kerja Tetsuya pun berakhir. Dan benar saja, Momoi masih setia menunggu walaupun terlihat cukup mengantuk. Wajar saja, jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tetsuya jadi tidak enak hati.
Dihampirinyalah gadis itu dan mengisyaratkan dia untuk ikut pulang bersamanya. Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam, tidak begitu paham harus bercerita apa dan mulai dari mana. Kedua iris aquamarinenya hanya memandang ke segala arah. Barangkali ada hal yang menarik untuk diperbincangkan.
"Eh? Ada yang bermain basket di sana," ungkap Momoi tiba-tiba.
Telunjuknya mengarah pada makhluk yang sedang mendribble bola di taman. Tenang, manusia kok. Tetsuya sudah memastikan kalau orang itu punya bayangan di bawahnya. Kakinya juga masih sentuh tanah. Tapi aneh benar main basket sendirian jam segini.
Matanya memicing penuh selidik.
Ah, sepertinya orang itu adalah sosok yang dia kenal.
"Kagami Taiga. Anak yang datang dari Amerika dan sekelas denganku," Jelasnya. Dibalas dengan sebuah 'ooh' panjang dari si gadis.
'Ternyata dia memilih basket rupanya.'
"Tetsu-kun.."
Ia menoleh.
"Basket.. Apa kau sangat membencinya?"
Membencinya? Basket? Sudah lama benaknya menanyakan hal yang sama bahkan berulang kali hingga rasanya ingin muntah karena tiap waktu disuguhkan pertanyaan tersebut. Dan berapa kali pun ia memikirkannya, jawabannya tetap sama. Ia sangat mencintai basket.
Hanya saja dia seperti memiliki trauma yang mendalam pada basket yang dia cintai. Ia takut, semua kesenangan dalam olahraga tersebut, pada akhirnya harus kembali menjadi tragedi yang sama karena ketidakmampuannya. Takut, bahwa pada akhirnya hanya dia yang tertinggal. Memikirkannya saja sudah cukup membuatnya mual.
Pada awal masuk di SMA Seirin, banyak ekstrakulikuler yang ditawarkan di sepanjang halaman sekolah. Walaupun sebenarnya dia tidak ditawarkan apapun sih karena jurus menghilang andalannya. Namun hingga saat ini, dia masih belum bisa menentukan ekstrakulikuler mana yang harus dia ikuti.
Satu hal yang ditanamkan dalam diri, basket bukanlah sebuah pilihan.
"Aku… tidak tahu, Momoi-san."
Momoi menatap Tetsuya lekat-lekat. Iris aquamarine pujaan hatinya seakan menampakkan rasa sakit yang samar-samar terlihat. Ia mengambil tangan kanan Tetsuya dan menggenggamnya erat.
"Tetsu-kun, pasti bisa! Kau terlihat hebat dengan basket!" serunya positif menyilaukan.
Ia lalu menarik pujaan hatinya menuju ke taman tempat teman sekelasnya itu bermain. Dalam hati Tetsuya merutuki betapa lemahnya dia jika dibandingkan dengan tarikan kuat dari Momoi. Ayolah! Batinnya belum siap dengan segala urusan basket!
"Selamat malam, Kagami Taiga-kun!" Sapa Momoi yang langsung dibalas dengan seruan "Haaaahh?!" layaknya singa mengaum.
"Siapa?"
Yang disebut-sebut 'Kagami' sontak langsung was-was. Jangan sampai yang dilihatnya ini adalah hantu. Sejak tadi dia hanya bermain sendiri loh! Tiba-tiba malah muncul sosok perempuan aneh yang menyapanya dan menyebut namanya! Padahal dia sendiri tidak kenal. Siapa yang tidak merinding?!
"Kuroko Tetsuya. Salam kenal, Kagami-kun. Kita sekelas." Tambahnya datar.
Kagami sendiri langsung mundur seribu langkah dari tempatnya tadi. Demi apa dia harus bertemu dua sosok hantu sekaligus di tempat yang sama?! Tolonglah! Dia janji tidak akan bermain basket sendirian lagi di tengah malam.
Tapi tunggu. Apa? Mereka sekelas?
Kagami mengedipkan matanya berulangkali. Memastikan apakah dua makhluk di depannya ini lulus sensor atau tidak. Kalau tidak, dia sudah bersiap lari sebenarnya. Syukurnya ia pastikan kalau keduanya itu manusia.
"Sekelas darimananya?! Aku tidak pernah melihat kalian berdua tahu!"
"Ah, bukan aku. Tapi Tets— Kuroko Tetsuya-kun," jelas Momoi.
Tetsuya membungkuk, "Halo."
"Sudahlah! Katakan, apa maumu?!"
Keduanya terdiam. Astaga! Ingin rasanya Kagami melempari mereka dengan bola basket yang menganggur di tangannya. Sudah bikin kaget, tidak jelas pula!
Lama tidak ada jawaban, Kagami mendengus.
Mereka bisa melihat kalau si bocah Amerika itu sudah tak sabar menghadapi mereka. Ia kemudian mulai membereskan barangnya dan ingin bergegas pulang.
Tepat sebelum kakinya melangkah keluar dari taman, Tetsuya buka suara.
"Kagami-kun.. Kenapa memilih basket?"
Alis bercabangnya berkedut kesal.
"Karena basket mengasyikan, bodoh! Dan tentu saja, aku akan menjadi yang terbaik di Jepang! Camkan itu!" serunya sebelum kemudian menghilang dari pandangan keduanya.
"…"
"Impianmu bisa hancur karena mereka, Kagami-kun," Gumannya pelan dengan tatapan suram.
"Tetsu-kun sendiri bagaimana? Tidakkah kau mau mencobanya kembali?"
Pandangannya hanya menerawang lurus ke arah lantai semen yang dipijakinya.
Haruskah dia mencobanya lagi?
Tidak.
Sanggupkah dia mencobanya kembali?
Memilih basket kini merupakan suatu hal yang sulit. Dengan segala ketakutan yang masih membekas, untuk memulai kembali itu sangatlah susah dilakukan. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, dia benar-benar merindukan olahraga ini. Mengasyikkan? Betul apa yang diucapkan oleh Kagami. Basket itu sangat asyik! Fisik, perasaan dan otak harus selaras agar bisa menang. Namun, apakah endingnya akan berbeda jika dia mencobanya kembali? Kali ini.. Bersama dengan tim basket SMA Seirin? Dengan Kagami yang masih memiliki api yang membara untuk basket?
Tetsuya tidak tahu. Namun Ia sangat penasaran. Dan kalimat terakhir yang ia dengar dari Seijuurou seakan terputar kembali dalam benaknya.
"Pada akhirnya kau akan ikut terseret dalam kenyataan yang harus diselesaikan oleh kita, seorang Akashi, Tetsuya. Camkan itu."
Membuatnya menyembunyikan iris aquamarinenya dan mengepalkan tangannya sekuat tenaga hingga tangannya itu terlihat sangat pucat.
Momoi yang melihatnya tidak segan-segan langsung menelungkup kedua kepalan tangan Tetsuya. Menaruh sebuah ciuman ringan bagaikan mantra untuk memberinya kekuatan. Sedangkan yang satu langsung terbelalak.
"Tetsu-kun, jangan terlalu keras pada dirimu. Aku yakin Tetsu-kun pasti bisa kembali bermain basket tanpa adanya rasa takut. Mungkin tidak langsung dan membutuhkan proses, tapi itu lebih baik daripada tidak bermain permainan yang kau cintai sama sekali!"
Benar. Mungkin ia bisa mencobanya kembali. Dengan tujuan yang baru. Yakni membuktikan bahwa gaya bermain yang lainnya adalah salah. Menang namun menganggap remeh lawan bermain mereka dan merasa mampu meski sendirian adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh setiap anggota Kiseki no Sedai.
Tetsuya membulatkan tekadnya.
"Terima kasih, Momoi-san."
Senyuman Tetsuya saat itu benar-benar membuat Momoi meleleh. Batinnya seperti sedang ber-fangirling bak pemuja idol bertemu dengan biasnya.
"Ah.. Rumah Momoi-san di mana? Mari, aku antar pulang."
Setelah memberitahu Tetsuya letak tempat tinggalnya, ia mengikutinya dengan langkah gontai. Berat rasanya gadis tersebut melepaskan sang pujaan hati. Apalagi setelah sekian lama barulah keduanya dipertemukan kembali. Tapi rasanya benar-benar singkat. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Tetsuya. Namun harus berakhir di sini.
DRRT.. DRRT..
Ia merongoh sakunya. Ada nomor tidak dikenal yang sedang menghubunginya di tengah malam. Wajahnya semakin cemberut, dahinya mengernyit tak suka.
"Itu nomorku, Momoi-san. Maaf aku tidak memberitahumu kalau aku sudah mengganti nomor. Ternyata nomor ponselmu masih sama, ya?" ucap Tetsuya.
Dari wajah cemberut, kini berubah drastis menjadi wajah yang berseri-seri. Aih, pujaan hatinya memang tidak pernah gagal membuatnya semakin jatuh cinta! Tanpa sadar senyumannya pun semakin merekah. Dengan langkah semangat, ia menghampiri Tetsuya yang ternyata sudah beberapa meter di depannya, lalu merangkul lengannya hingga sampai ke rumahnya sambil bersenandung gembira.
"Maaf aku terlambat bergabung. Perkenalkan, namaku Kuroko Tetsuya, kelas 1. Mohon bantuannya."
Perkenalan singkat, padat, dan jelas dari seorang Tetsuya. Setelah perbincangan semalam, ia tidak menyia-nyiakan waktu sedetik pun. Tekadnya sudah bulat, tidak kotak atau segitiga. Walaupun harus melewati berbagai tes agar bisa mengetahui potensi dasar yang dimiliki oleh setiap pemain, Tetsuya yakin ia pasti mampu melewatinya. Termasuk melewati pandangan tidak terima dari para senior dan juga pemain lain yang menemukan bahwa dirinya ternyata memiliki stamina dan skor tubuh yang dibawah rata-rata.
Namun sebagian besar dari mereka pada akhirnya bungkam saat mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu pemain regular dari SMP Teiko yang terkenal sebagai tempat penangkaran monster-monster berkedok pemain basket.
••••••
Doumo, minna-san~~
Gomen sempat ngilang begitu lama,, Juli kemarin sibuk nikah soalnya :v
Chapter kali ini tak begitu panjang, but hope u enjoy~
Kalau dipikir-pikir, ini sepertinya masuk dalam Book 2/ Season 2 kalik ya? xD
Anyway, RnR please?
