"Tetsuya?"
Demi apa, dia harus bertemu dengan Seijuurou secepat ini. Iya. Memang Midorima kemarin sempat mengatakan kalau saudaranya ini akan datang ke Tokyo. Entah dalam rangka apa, Tetsuya belum mau menduga. Otak dan mentalnya belum siap kalau harus beradu ideologi dengan makhluk merah si mata belang. Tapi seakan alam sedang mengerjainya. Keduanya bertemu bukan di tempat tak bernama. Kenapa dunia membiarkannya bertemu dengan Seijuurou, sedangkan dirinya sementara dalam keadaan memakai apron?
"Maaf, Anda salah orang," ujarnya mencoba melenggang pergi. Menjadi tukang masak untuk sementara sepertinya menjadi ide yang menarik. Setidaknya, untuk hari ini.
Namun kenapa juga tangan Seijuurou begitu aktif dan rajin untuk mencengkram pergelangan tangan kanannya agar tetap stay. Tolonglah, Tetsuya belum punya contekan apapun! Batinnya tidak siap, Ya Tuhan!
"Aku dengar dari Ryouta, katanya kau ditemukan di Tokyo. Ternyata benar."
Ditemukan? Memangnya dia anak hilang apa?
Dalam hati ingin merutuki Kise yang terlalu giat memberi informasi. Mana tangannya sudah cukup kesemutan karena ditarik paksa dari arah berlawanan. Namun akhirnya dia yang mengalah. Iris matanya disejajarkan dengan manik belang yang sedikit terasa asing baginya. Ingat? Mereka hampir sama pende― tinggi, maksudnya.
"Ah, aku pikir siapa. Akashi-kun rupanya. Doumo. Bisa kau lepaskan aku? Pergelanganku sudah mau putus."
Tangannya yang bebas spontan mengatup mulutnya yang terlalu lancang. Matanya terbelalak. Astaga! Candaannya terlalu suram! Dia bahkan lupa kalau perkataan seperti itu bisa saja menyinggung perasaan orang di depannya.
"M-maaf," gelagapnya salah tingkah.
Seijuurou hanya terdiam. Kedua iris belangnya hanya terkunci pada gerak-gerik Tetsuya yang sementara memperhatikan bekas lukanya yang masih membekas. Ada perubahan dari raut wajah terkejutnya. Sorot matanya terlihat sendu, hampir tak terbaca dari wajah datar Tetsuya.
Ia melepaskan genggamannya dari pergelangan kembarannya. Wajahnya dipalingkan agar tidak perlu melihat tatapan khawatir makhluk polos di depannya ini.
"Apa masih sakit?"
"Bukan urusanmu," ketusnya.
Tetsuya mendengus, "Aku pikir kau kemari untuk memamerkan tattoo asal jadimu. Tapi melihat sikap ketusmu bisa berarti bukan. Lantas ada apa Akashi-kun kemari?"
"Ayah memintaku menghadiri pertemuan dengan salah satu investor. Tidak jauh dari sini dan baru saja selesai. Karena lapar dan kebetulan lewat sini, jadinya aku singgah. Bukan berarti aku tahu kalau ternyata kau bekerja di sini, Tetsuya."
Lawannya mendesah berat. Tetsuya memperhatikan tampang Seijuurou yang bisa dibilang sudah mirip seperti pebisnis muda. Dengan setelan kemeja dark navy dan celana chinos berwarna cream. Coat panjang bewarna senada dengan celananya ditenteng rapi pada lengan. Stylish. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah lusuh dan sayangnya kembaran dengan beberapa orang di tempat itu.
Sudah berapa jam berlalu kalau mau dihitung-hitung perjalanan dari Akita ke Tokyo. Rapat pun tidak mungkin selesai hanya dengan memakan waktu 15 menit saja. Hari ini juga bukan hari libur sekolah. Dan Seijuurou bukan tipe orang tanpa kerjaan yang akan singgah di mana saja kalau tidak ada keperluan. Dengan kata lain, dia memang belum makan.
"Duduklah dulu. Akan kupesankan makanan untukmu."
Alis Seijuurou terangkat, tak bersuara apapun. Ia mengambil tempat untuk dua orang dengan dudukan sofa. Setelah mantelnya digantung pada sandaran dan tas berisi laptop juga berkas-berkasnya ditaruh di dekat kaki meja, Ia menyamankan posisi duduknya. Tetsuya yang terlihat berbicara pada teman sekerjanya tidak begitu membosankan untuk diperhatikan. Bahkan setelahnya, Ia bisa melihat remaja kecil itu berkeliaran kesana kemari untuk menerima orderan ataupun sekedar panggilan pelanggan yang meminta ini itu. Seijuurou berkesimpulan, Tetsuya tidak berniat untuk meluangkan waktu walau hanya untuk sekedar berbasa basi dengannya.
Sudahlah. Lebih baik biarkan saja dia. Ia sendiri masih perlu mengedit dokumen hasil rapatnya tadi. Lebih baik menyelesaikannya baru berurusan dengan si anak keras kepala.
Laptopnya dirogoh dari dalam tasnya. Dinyalakan dan jemarinya langsung menggeser kursor untuk membuka dokumen yang sudah disimpannya pada saat rapat tadi. Balik ke mode fokus, Ia dengan lihai mengetikkan kata demi kata tanpa terbata-bata sedikit pun seakan dirinya adalah robot yang sudah diberikan contekan dan dirinya hanya tinggal menuangkannya dalam sebuah file. Saking tenggelamnya dia dalam menyelesaikan pekerjaannya, Ia bahkan tidak sadar kalau Tetsuya sudah berdiri di hadapannya dengan tangan yang megang nampan.
Tetsuya menaruh sepiring nasi kari dengan semangkok sop tofu dengan sedikit bersemangat. Cukup untuk membuat fokus pelanggan spesialnya yang satu ini buyar. Di nampannya masih ada secangkir teH hijau yang aromanya cukup menenangkan. Agak berbeda dengan wangi kari dan sop tofu yang saling bertentangan. Manik bulatnya menatap kedua iris heterochrome Seijuurou yang separuh meminta penjelasan.
"Kalau ada yang ingin Akashi-kun bicarakan, silahkan menunggu shift kerjaku selesai. Kalau tidak ada, Akashi-kun bisa langsung pulang saja."
Kakinya mulai beranjak pergi, "Tidak perlu membayar itu. Kali ini aku yang traktir."
Lalu sosoknya menghilang di balik pintu dapur tanpa mengizinkan Seijuurou berkata apapun. Beruntung orang yang dihadapi adalah Tetsuya. Kalau orang lain, bisa dipastikan gunting melayang, nyawa taruhan. Tidak ada yang boleh pergi tanpa membiarkan dirinya berkumandang. Malahan sudah jadi aturan umum tanpa perlu dibahas lebih lanjut. Sudah tidak memberinya waktu untuk bicara, berani pula memerintah dirinya untuk memilih. Padahal yang harusnya lebih dominan adalah dirinya seorang.
Terserahlah. Dia sedang tidak niat untuk berargumen apapun dan ingin bergegas pulang.
•••••••
Nyatanya tidak demikian. Hatinya tidak mengizinkannya pulang sekalipun logika dan fisiknya meronta ingin pulang. Pantatnya masih menempel nyaman di atas sofa, sekalipun lampu restauran sebagian besar sudah dimatikan. Kakinya ikhlas melangkah hanya ketika Tetsuya muncul dibalik kegelapan dengan tanpa suara dan hanya memberi gestur untuk mengikutinya keluar. Bahkan hingga berakhir dalam perjalanan pulang Tetsuya, Seijuurou hanya lebih memilih diam dan berjalan berdampingan dengannya.
"Jadi? Hal apa yang ingin Akashi-kun perbincangkan sampai-sampai rela menunggu hingga tengah malam begini?"
"Kau biasa pulang jam segini?"
"Tentu saja. Bukan masalah besar. Lagipula Tokyo itu area yang ramai, Akashi-kun. Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan."
Seijuurou mendengus.
Iya ramai. Tapi hanya bagian tengah kota. Kau itu tinggalnya di pelosok, Tetsuya.
"Kau tidak punya kendaraan?"
"Punya. Tuh," jawabnya santai seraya menunjuk kedua kakinya.
"Oh, syukurlah masih lengkap."
"Jadi kau mau apa, Akashi-kun? Aku tidak ingat berutang apapun padamu sampai-sampai kau harus mengikutiku seperti ini."
Langkah Seijuurou terhenti.
"Jangan terus menerus memanggilku dengan sebutan 'Akashi-kun', Tetsuya. Kau juga adalah seorang Akashi," Ujarnya penuh penekanan.
"Mau bagaimana lagi, Akashi-kun? Aku tidak cocok menggunakan marga itu. Bahkan tanpa persetujuan dan keinginanku pun, namaku diganti begitu saja."
Rahang Seijuurou mengeras. Mulai tidak menyukai pembicaraan saat ini.
Sadar Seijuurou tidak mengikutinya lagi, langkah Tetsuya pun terhenti. Ia menoleh ke arah Seijuurou.
"Tapi bukankah memang seperti itu, Akashi-kun? Lihatlah dirimu. Kau cocok menyandang nama Akashi. Hidupmu penuh dengan prestasi. Fisikmu kuat. Kau bahkan mampu memahami urusan perusahaan seperti ayah. Apa lagi? Kau memang berbakat dalam segala hal," —sekalipun mentalmu rapuh dan jiwamu terbelah menjadi dua.
"Tetsuya." ucap Seijuurou memperingatkan.
"Benar-benar tidak seperti diriku yang harus sesulit itu membuktikan kalau aku mampu. Aku tidak menyalahkanmu, Akashi-kun. Hanya saja aku hanya perlu berjuang untuk bisa lega dan berbangga diri jika aku ingin menjadi seorang Akashi."
Ia berjalan mendekati posisi Seijuurou yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Kedua tangannya meraih tangan si surai merah dengan hati-hati. Memperhatikan bekas luka yang ternyata hampir sepanjang jari kelingking. Padahal hanya tinggal bekas luka, tapi hatinya serasa teriris melihatnya.
Pandangannya disejajarkan dengan iris mata berbeda warna, "Apa masih sakit?"
Seijuurou menggeleng.
"Akashi-kun, tolong jangan bertindak seperti itu lagi. Kalau kau merasa lelah menopang marga Akashi, datanglah padaku, aku siap mendengarkanmu." —aku tahu batinmu sedang terluka, Sei-kun.
Kedua mata Seijuurou menyipit, sinis. "Maksudmu kau menganggapku tidak mampu mengatasi diriku sendiri?"
Tapi kedua manik Tetsuya tetap memeluk erat pandangan tidak suka dari Seijuurou. Seakan berusaha menenggelamkan harga diri entitas Akashi yang berusaha dijaga sekalipun kewarasan sudah diambang batas.
"Ne, Akashi Seijuurou-kun. Apa aku pernah meragukanmu? Bahkan sejak kecil, aku selalu menjadikanmu sebagai panutan hidup karena kau terlihat sangat hebat di mataku,"
Tidak ada hasrat ingin meledek. Semua yang diucapkan Tetsuya memang benar adanya. Bahkan sampai saat ini pun, keberhasilan Seijuurou yang menjadi patokan hidupnya.
"Hanya, kau perlu ingat kalau kau juga manusia. Merasa lelah itu wajar. Kalau kau tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain, setidaknya bersikap apa adanya saja padaku. Kita... Saudara, 'kan?"
Tangannya dikepalkan sekuat tenaga. Bahkan buku-buku jarinya pun mulai memutih menahan emosi yang mulai meluap.
"Kau sendiri? Kalau kau masih menganggapku saudaramu, kenapa sejak pertama kita bertemu di Teiko kau tidak langsung jujur padaku? Padahal kau sendiri tahu soal ini, Tetsuya! Kau benar-benar membuatku seperti orang bodoh yang kejam."
"Maafkan aku, Aka—" Ia menggeleng, "—Sei-kun. Murni dari pemikiranku, kupikir membiarkanmu tidak mengingatku adalah pilihan yang tepat saat itu. Kau mungkin malah menganggapku orang gila kalau tiba-tiba aku datang mengaku sebagai saudaramu."
"Dan pada akhirnya yang menjadi orang gilanya adalah aku, Tetsuya."
Tetsuya terkekeh ringan, "Lagipula aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan Ayah. Sepertinya kalian berdua sudah cukup bahagia. Aku tidak ingin kemunculanku malah membuatmu berpikir yang tidak-tidak terhadap Ayah dan pada akhirnya menghancurkan usahanya untuk berdamai dengan—."
"Kau salah, Tetsuya," potong Seijuurou. "Aku bahkan menyesal selalu mengikuti keinginannya padahal dia jelas membuangmu. Aku malah semakin membenci diriku sendiri yang sudah lupa dengan amarahku pada orang tua itu."
Tetsuya menghela napas panjang. Seperti yang ia takutkan, sejak Seijuurou mulai mengingatnya, hubungan ayah-anak mereka kembali diambang kehancuran. Sayangnya itu semua terjadi karena dirinya. Tidak secara langsung sih. Tapi kesalahpahaman antar keduanya jadi tambah ribet. Itulah mengapa sebisa mungkin ingatan Seijuurou tentang dirinya ditenggelamkan seperti tidak pernah ada. Sudah cukup keluarga mereka menderita secara batin sejak kepergian mendiang ibunya.
Ia menunduk, tidak mampu menampung amarah Sejuurou yang terpancar dari kedua iris merah emasnya. Tangannya kembali menggenggam erat kepalan tangan Seijuurou.
"Kau tahu? Sekalipun aku tidak pernah membenci Ayah ataupun dirimu, Sei-kun. Bisa melihat kalian berdua dalam keadaan sehat dan bahagia saja sudah bisa membuatku senang. Memang, aku pun berharap bisa berada di tengah-tengah kalian, tapi kalau memang harus seperti itu, aku tidak akan mengeluh. Ini bukan salah Sei-kun atau bahkan salah Ayah, jangan membencinya, Sei-kun."
"Tapi ayah macam apa yang tega membuang anaknya, Tetsuya? Mau dipikirkan berulang kali pun sangat tidak masuk akal."
"Ayah tidak membuangku. Beliau hanya tidak mampu menahanku agar tidak dibawa pergi oleh bibi Kaori. Aku rasa, melepaskan seorang anak juga bukanlah sesuatu hal yang mudah. Bahkan aku yakin, Ayah butuh keberanian dan ketegaran penuh agar mampu untuk kehilangan seorang anggota keluarga lagi. Padahal waktu itu sedang kacau, perusahaan ayah dan ibu sudah hampir tidak tertolong lagi. Aku bisa mengerti."
Tangan Seijuurou kembali ditarik oleh Tetsuya. Memaksanya untuk beranjak dari tempatnya dan mengikutinya. Seijuurou sendiri tidak protes. Kepalanya terlalu penat dengan luapan emosi yang menyerangnya. Hingga akhirnya mereka berdua tiba di sebuah rumah bertingkat. Tidak sekecil rumah Tetsuya sewaktu mereka masih di Teiko. Namun kali ini cukup memanjang sekalipun tetap minimalis.
Pagarnya didorong perlahan untuk meminimalisir suara bising. Tangan kirinya masih menggenggam milik Seijuurou tanpa mempedulikan apakah yang punya sudah merasa keram atau malah sampai nyeri. Tujuannya saat ini hanya satu. Dan itu harus tercapai.
Tangannya mengeser fushuma* rumahnya.
"Aku pulang."
"Apa kau gila, Tetsuya?!", bisiknya risih, separuh teriak. Tadinya dia anteng-anteng saja karena mengira kalau Tetsuya hanya tinggal seorang diri. Namun mendengar suara TV yang disertai dengan tawa kecil dari dalam rumah, Seijuurou berkuat untuk tidak melangkah masuk lebih jauh. Batinnya meronta ingin segera pergi.
"Okaerii!"
Keduanya mendengar seruan dari arah ruang tamu. Suara TV yang sejak tadi menggema, kini terdengar mengecil. Ada langkah kaki ringan mulai berjalan mendekati keduanya di genkan**.
"Tumben kau pulang agak la... ma."
Kedua manik Kaori melebar. Tidak menyangka bahwa malam itu dia kembali melihat sosok remaja yang begitu mirip dengan orang yang dibencinya. Terakhir kali ia melihatnya hanya pada saat ia menginjakkan kaki untuk yang terakhir kalinya di kediaman Akashi. Yang pada waktu itu tidak tahan lagi ingin merebut Tetsuya yang lemah dari tangan diktator Masaomi. Ia hanya melihat Seijuurou yang menangis tak karuan dengan sekilas saja. Agar diri tidak merasa begitu berdosa harus memisahkan mereka berdua. Tapi nyatanya sosok itu kembali berdiri di hadapannya, seakan datang meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya yang lalu.
Tanpa sadar air matanya mulai menggenangi kedua maniknya. Teriakan dan isak tangis Seijuurou sewaktu masih kecil kembali terputar dalam memorinya. Melihat keponakannya yang paling dia banggakan sudah tumbuh seperti Tetsuya, membuat hatinya sedikit lega. Tapi di satu sisi hatinya serasa terkoyak karena anak sekecil itu harus mampu menghadapi tekanan pada saat itu dan kini masih bisa bertahan. Karena kesalahan dan keegoisan mereka, orang dewasa
Sungguh, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan apapun. Air matanya diseka begitu saja sebelum berkepanjangan dan berkelanjutan.
"Kaori-baachan.. Sei-kun mengantarku pulang. Kami tanpa sengaja bertemu kembali di café."
'Aku berusaha menjauhinya, baa-chan, tapi nampaknya kami memang harus kembali bertemu,' batinnya tanpa suara.
Seijuurou mendengus, "Yang benar itu kau yang menyeretku kemari, Tetsuya."
Kedua manik beda warnanya lebih memilih memperhatikan rak sepatu yang menempel di sudut. Sedikit asing dengan situasi sekarang ini. Mereka adalah keluarga, namun tidak bisa dipungkiri kenyataan bahwa semuanya sudah terasa berbeda. Layaknya orang asing, walaupun sayup-sayup ada rasa nostalgia yang menyusup dalam batinnya. Ibaratnya, otak Seijuurou seperti sebuah browser yang gagal menemukan website yang dituju. 404 not found. Untuk kali ini dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi. Salahkan Tetsuya yang bertindak sesukanya saja.
Hingga akhirnya tubuhnya kembali dibawa dalam dekapan yang sudah lama tidak ia rasakan. Dalam hati rasanya seperti ingin menangis saja. Mirip seperti kekangan dalam diri yang mulai terlepas. Kalau boleh, dia ingin kembali ke masa lalu di mana dia tidak perlu memikirkan terlalu banyak hal secara berlebihan. Masih ada orang yang membela dan meyakinkannya untuk rehat sejenak kemudian bisa mencobanya di lain waktu. Disertai pelukan hangat atau alunan lagu yang dimainkan dengan lembut oleh sang ibu. Jiwanya meronta ingin bermanja.
Sudah lama dia merindukan hal seperti ini.
"Sei-chan, cucuku tersayang. Ba-chan senang bisa bertemu denganmu kembali."
Kalau senang, lantas mengapa tidak mencariku?
Pelukannya terasa semakin mengerat. Benar-benar mengikatnya agar tidak pergi kemanapun. Seijuurou sendiri membiarkannya seperti itu. Baik jiwa dan raganya sama-sama perlu dicharge dan diberikan kehangatan. Setidaknya cukup untuk meruntuhkan bongkahan es yang terpancar dari tatapannya.
Cukup lama, sebelum akhirnya sang nenek melepaskan pelukannya karena sudah merasa pegal. Mohon dimaklumi, umur 60-an itu sudah riskan untuk terkena masalah sendi dan tulang. Sebagai gantinya, kedua tangannya membekap pipi kiri dan kanan Seijuurou. Membawanya untuk bisa fokus dipandang oleh sang nenek.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua iris mata Seijuurou yang tidak lagi sama. Seingatnya, terakhir kali ia melihat anak ini sewaktu masih kecil, Seijuurou masih memiliki dua iris mata crimson yang senada.
"Matamu? Apa yang terjadi, nak?"
Seijuurou refleks mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh selidik sang nenek. Mau dijawab apa juga dia tidak tahu lagi.
"Ba-chan, jangan terlalu banyak bertanya pada Sei-kun. Otaknya tidak sanggup."
Alisnya berkedut, "Maksudmu?"
"Tuh, hal simple saja tidak mengerti. Kepalaku yang cidera, tapi otak Sei-kun yang rusak."
Satu capitan mendarat pada hidungnya yang berukuran standar nasional. Seijuurou cukup kesal dengan ejekan Tetsuya yang kurang bagus timingnya. Ingin menyentil dahi kembarannya yang cukup lebar tapi takutnya tiba-tiba bolong karena sudah banyak sobek sana-sini. Sekesal apapun, dia masih penuh dengan pertimbangan kok.
"AW!"
"Siapa suruh menyebalkan."
Bukannya lanjut marah karena perbuatan Seijuurou, Tetsuya malah terkekeh kecil. Membawa kembarannya bertemu dengan nenek dan bibi sepertinya adalah pilihan yang tepat. Seijuurou sudah terlalu banyak membebani diri. Salah satu cara agar dia bisa sedikit relaks bisa jadi adalah dengan bertemu mereka berdua. Ditambah lagi sifat neneknya sangat mirip dengan mendiang ibu mereka. Tetsuya bersyukur sudah diberikan kesempatan untuk mempertemukan mereka.
Dan tidak bisa dipungkiri lagi, hatinya sangat bahagia untuk saat ini. Walau mungkin hanya sekejab, tapi rasanya sudah pantas dirayakan. Saking bahagianya dia tidak sadar kalau buliran bening sudah mulai melintasi kedua pipi semoknya.
Bolehkah semuanya kembali seperti dulu?
Terlalu emosional, perlahan tubuhnya serasa tidak mampu menopang dirinya. Teriakan dari orang sekitarnya sudah tidak lagi mampu ia cerna, apalagi kalau harus mengategorikan siapa pemilik suara A dan suara B. Setidaknya dia sudah diizinkan untuk merasa bahagia, itu sudah cukup kalau memang kesadarannya harus pergi untuk sementara waktu. Walau rasanya sedikit tidak adil, tidak bisakah dirinya merasa senang dan sedih berlebih?
Dan semuanya kembali sirna, terhisap dalam alam mimpi.
•••••••
Seijuurou memandangi tubuh Tetsuya yang sedang terbaring tak berdaya. Tidak begitu paham apakah dia sementara tertidur ataukah masih dalam kondisi pingsan. Padahal matahari sudah cukup tinggi, tapi Tetsuya masih tidak sadarkan diri. Apa mungkin perlu dibawa ke rumah sakit?
Tok tok tok..
Sebuah ketukan singkat mengawali, sebelum akhirnya pintu kamar Tetsuya dibuka. Menampakkan sosok nenek yang raut wajahnya tetap terlihat tenang. Seijuurou sendiri tidak bergeming, hanya matanya saja yang memperhatikan kedatangan sang nenek.
"Makanlah dahulu. Sedikit lagi kau sudah harus pergi, kan?"
Yang ditanya tidak menjawab apapun. Sementara sang nenek mulai menghampiri Tetsuya dan mengusap keningnya dengan lembut.
"Tidak perlu mengkhawatirkan Chuya. Terkadang dia seperti ini kalau terlalu banyak menguras emosinya. Dan juga sepertinya kemarin dia cukup kelelahan, makanya tumbang."
Seijuurou hanya mendengarkan.
"Anak ini benar-benar merindukanmu, Sei-chan. Waktu itu malah dia yang memintaku untuk menyekolahkannya di sekolah yang sama denganmu. Nenek sempat khawatir karena ternyata kau tidak mengingatnya, tapi melihat Chuya yang mulai sering tersenyum semenjak bertemu kembali denganmu, nenek tidak berpikir macam-macam lagi."
"Tapi di hari kelulusan kalian itu benar-benar membuat jantung nenek seakan mau berhenti. Nenek tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu, dengan Chuya yang pulang dari Tokyo dengan kondisi terisak-isak, noda darah di bajunya dan sampai harus diopname di rumah sakit selama hampir sebulan, sungg—"
Dahinya mengerut, "Apa? Diopname sebulan?"
Sang nenek mengangguk, "Kau tidak tahu? Chuya sempat tidak sadarkan diri sampai hampir 3 minggu saat itu. Saat dia bangun pun masih harus berulangkali ditenangkan, seperti ada hal yang membuatnya ketakutan dan stress."
Ia sama sekali tidak tahu kalau ternyata seperti itu yang terjadi waktu Tetsuya menghilang dari radar mereka. Dan semuanya terjadi karena kebodohannya. Tapi, hey! Dia juga terlalu penat saat itu. Ingin mati saja rasanya.
"Akhirnya nenek dan bibimu ambil kesimpulan, kalau ini ada kaitannya dengan dirimu, Sei-chan. Selama ini Chuya tidak pernah tidak sadarkan diri berminggu-minggu selain yang waktu itu. Apa.. ini ada kaitannya dengan yang terjadi pada matamu?"
Tidak ada jawaban. Sang nenek hanya bisa menghela napas. Beranjak dari kasur, kemudian menghampiri Seijuurou yang lebih memilih memandangi jendela kamar Tetsuya.
"Pulanglah saja dulu. Kau juga butuh istirahat. Perjalanan dari sini ke Kyoto itu cukup lama. Lagipula Ayahmu bisa panik kalau kau menghilang tanpa kabar. Kau pasti belum mengabarinya, bukan?"
"Sejak kapan Ayah khawatir? 'Khawatir' itu tidak ada dalam kamusnya," jawabnya ketus.
Sang nenek hanya mengelus surai merahnya. Seijuurou yang sekarang lebih terasa dingin dibandingkan dengan sosoknya yang lembut dan murah senyum sewaktu masih kecil. Sedikit menyesal meninggalkannya sendirian menghadapi hidup sebagai seorang Akashi.
"Nanti kalau Sei-chan jalan-jalan ke Tokyo lagi, mampirlah ke sini. Pintu akan terbuka lebar untukmu, nak. Nenek yakin, Chuya pasti senang. Kau naik apa pulang dari sini?"
"Takeda yang menemaniku. Aku ke sini naik mobil pribadi."
"Oh ya? Artinya semalaman dia tidur di mana?"
"Paling di mobil."
Rambutnya diacak pelan, "Lain kali kalau kemari, jangan membuat orang lain kesusahan, Sei. Seharusnya kau ajak dia tidur di sini semalam."
Seijuurou tidak berkomentar. Ia berdiri dan menghampiri Tetsuya yang masih belum bangun. Deru nafasnya naik turun beraturan sudah cukup meyakinkannya kalau kembarannya ini baik-baik saja sekalipun wajahnya terlihat pucat. Meski demikian, tidak menghentikan tangan Seijuurou untuk mencapit lembut hidung Tetsuya. Cukup lembut sampai tidak meninggalkan jejak kemerahan pada kulit hidungnya yang mirip seperti tissue. Tak lupa juga bergumam 'cepatlah membaik' sebelum akhirnya meninggalkan kamar Tetsuya, lalu pamit pulang pada sang nenek.
•••••••
Hari sudah petang. Langit sudah menampakkan lukisan indah dengan nuansa oranye kemerahan. Sinar mentari menembus awan membuatnya terlihat berkilau seperti emas. Seijuurou masih dalam perjalanan pulang, meski sudah tidak jauh lagi dari kediaman Akashi. Tangannya menopang dagu, memberikan support pada kedua maniknya yang sedang menikmati keindahan alam.
Yang kemudian teralihkan oleh sebuah pesan menarik dari nomor asing. Teramat menarik, sampai-sampai bisa membuatnya tersenyum tipis dan merasa lega.
Seharusnya kau tidak perlu memberikanku sepeda, Sei-kun. Aku tidak tahu cara menggunakannya. Kau membuatku terlihat bodoh. Dasar Akashi-kun menyebalkan!
~Kuroko Tetsuya.
•••••••
* fushuma : Pintu dorong / pembatas ruangan yang terbuat dari kayu. Biasanya ditemukan di rumah-rumah Jepang
** Genkan : Area depan rumah yang biasa dijadikan pembatas antara area luar dan dalam rumah. Biasanya di sini tempat orang melepas sepatu / sendal sebelum masuk dalam rumah.
•••••••
Doumo minna-san~
Chapter kali ini akhirnya kupertemukanlah Seijuurou dan keluarga sang ibunda :D
Mohon maap kalau ternyata rada OOC :v
Seijuurou sudah hilang kewarasan soalnya xD
RnR Please ?
