Chapter 1
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Angin musim semi bertiup pelan, menerbangkan kelopak bunga sakura yang berguguran. Udara yang segar bercampur dengan kicauan burung, menambah suasana hangat di hari itu. Perlahan, seorang gadis berambut merah muda membuka matanya. Senyum kecil tampak di wajahnya—hari ini hari yang spesial.
Ini adalah musim semi pertamanya di rumah baru. Tanpa menunda, gadis itu turun ke lantai bawah. Di dapur, seorang pria sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Yah~," sapa sang gadis sambil mengintip dari belakang punggung pria yang masih membalik panekuk di penggorengan. Melihat beberapa menu sudah tersaji di meja, ia langsung meraih potongan buah persik yang sudah dipotong rapi.
Pria itu menoleh, membawa hidangan hangat di tangannya. "Makan sambil duduk, Sakura!" tegurnya lembut.
Sakura hanya terkekeh dan menurut, lalu duduk di kursi. "Ayah ingat kan, ini hari apa?" tanyanya sambil menatap ayahnya dengan senyum penuh harap.
Ayahnya pura-pura sibuk menata meja makan, membuat Sakura mendengus kesal dan mengetuk-ngetuk piring di depannya. Tapi kemudian, ia tersenyum kecil dan mengeluarkan sebuah kotak besar dari bawah meja.
"Bagaimana bisa Ayah lupa hari besar ini," ujar sang ayah sambil menepuk pelan kepala Sakura. Mendengar itu, Sakura bersorak girang sampai hampir jatuh dari kursinya.
"Wah! Besar sekali!" Gadis itu ternganga melihat ukuran kotak di depannya. Dengan semangat, ia merobek kertas kado dan mengeluarkan isinya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan—Sakura terlihat mematung, masih memproses apa yang ia lihat.
'Saku Haruno.'
Sebuah nama tertera di seragam hitam dengan celana panjang yang serasi. Dahi Sakura berkerut, matanya menatap tajam ke arah ayahnya yang kini memasang senyum setengah canggung.
"APA-APAAN INI?!" pekiknya sambil menunjuk seragam itu. Tatapan matanya seolah bisa membakar siapa pun yang berdiri di hadapannya.
Ayahnya berusaha menenangkan, menurunkan perlahan tangan Sakura yang sudah mengepal. "Ayah sudah mempersiapkan semuanya. Kamu cuma perlu bersekolah di sana dan bergabung dengan tim inti voli."
Sakura menarik napas panjang, masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Ayahku sayang… ini kan seragam pria," ujarnya sambil menepuk pundak ayahnya pelan. "Bagaimana mungkin aku—seorang perempuan—memakainya?"
Sang ayah ikut menepuk pundak Sakura dengan lembut. "Seiryuu Academy adalah sekolah impian bagi para atlet besar, Sakura. Kamu kan tahu mimpi Ayah dulu, jadi atlet voli yang tak kesampaian. Sekarang saatnya kamu mewujudkannya." Ia menatap Sakura dengan sorot mata penuh harap.
Sakura menelan ludah. Ia tahu betul ambisi ayahnya. Kenangan masa kecil tentang mereka berdua bermain voli terus berputar di benaknya.
"Sakura! Ayo lempar bolanya, Nak!"
Bola melambung, diikuti tawa kecil gadis itu. Pria di depannya menangkap bola dengan bangga.
"Itu baru anak Ayah."
Sakura mengembuskan napas, tersenyum tipis. Ia tak ingin egois. Ia pun mengangguk pelan. "Baiklah, aku akan melakukannya," ucapnya, diiringi sorot mata bahagia dari ayahnya. Walau impiannya untuk hidup sebagai gadis normal terpaksa ia kubur, demi membalas segala pengorbanan ayahnya, ia rela.
Sore itu, suara pantulan bola, sorakan siswa, dan hembusan angin menjadi latar yang ramai di Seiyuu Academy. Sakura baru saja tiba dan langsung terpana oleh suasana sekolah yang terkenal dengan prestasi olahraganya. Sinar mentari senja menyorot setiap sudut lapangan, menampilkan bayang-bayang tinggi para pemain voli yang sedang berlatih.
Surai merah jambu Sakura yang biasa terurai panjang, kini telah dipotong pendek menyerupai gaya rambut pria. Pakaian seragam siswa Seiryuu Academy melekat di tubuhnya—perubahan total dalam waktu semalam.
Sebelum melangkah lebih jauh, Sakura berhenti sejenak untuk melihat latihan tim voli sekolah. Gerakan-gerakan atlet yang lincah dan koordinasi yang sempurna membuatnya terpesona, seperti yang sudah ia bayangkan sejak lama. Keterampilan mereka membuatnya semakin tidak sabar untuk memulai perjalanan barunya.
Walau masih canggung, Sakura mencoba melangkah penuh percaya diri. Fasilitas di sekolah ini sungguh luar biasa, persis seperti yang diceritakan ayahnya. Ia terus menelusuri koridor menuju gedung asrama yang menjadi tujuannya.
Ketika tiba di depan gedung asrama, suasana makin riuh. Para siswa berlalu-lalang, kebanyakan berpostur tinggi dan atletis. "Kenapa ramai sekali?" batin Sakura, sambil bersusah payah membawa barang bawaan yang menggunung.
Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang. "BUGG!" Hampir saja kardusnya jatuh ke lantai, namun sebuah tangan besar menahannya tepat waktu.
"Kau baik-baik saja?" tanya seorang pria berambut panjang gelap.
"Huh… hampir saja," balas Sakura lega. Ia mengintip ke belakang kardusnya, mencari sosok penolong itu.
"Oh, anu… aku Sakura—eh, maksudku Saku Haruno. Siswa pindahan," ujar Sakura dengan sedikit gugup. Pikirannya sempat buyar melihat wajah pria di depannya yang sangat tenang.
"Jadi kau murid baru itu, ya? Kebetulan, kunci kamarmu dititipkan Pak Kento padaku." Pria itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kunci. "Aku Hyuuga Neji. Salam kenal, Saku."
Neji mengambil alih kardus di tangan Sakura. "Biar kuantar ke kamarmu. Tempatnya dekat kamarku kok."
Sakura mengangguk dan mengikutinya dari belakang. "Wah, ramai sekali jam segini," gumamnya memecah suasana.
"Ini jam pulang latihan. Wajar kalau padat," jawab Neji singkat. Mereka melalui beberapa persimpangan di lorong asrama, sebelum akhirnya tiba di sebuah pintu bertuliskan angka 303.
"Cklek," Neji membuka pintu, memperlihatkan sebuah kamar asrama dengan dua ranjang. Ukurannya cukup luas.
"Silakan masuk," ujar Neji sambil menyingkir ke samping, memberi jalan. Sakura melangkah masuk dengan antusias, menatap sekeliling.
"Terima kasih, ya, maaf merepotkan," ujar Sakura sebelum Neji pergi. Neji mengulurkan kunci kamar ke tangan Sakura.
"Kalau butuh apa-apa, kamarku di seberang, nomor 301," kata Neji, lalu pergi setelah melihat Sakura mengangguk dan memberi senyum lebar.
Sakura menghela napas lega. "Baiklah, Sakura. Jangan ceroboh," gumamnya sambil memotivasi diri sendiri.
Setelah beberapa saat, barang-barangnya nyaris tertata rapi. Ia melirik ke ranjang Seberang. Sakura terperangah melihat penataan dinding yang dipenuhi gambar atlet voli, jadwal latihan, kalimat motivasi, dan piagam penghargaan. Semua tampak rapi, terorganisir dengan baik, bersih dan beraroma kopi. "Wah, kamar orang ini sempurna. Sepertinya aku beruntung," gumamnya.
Tanpa sadar, pintu kamar terbuka. Seorang pria berambut raven masuk. Dia bertelanjang dada, otot dadanya terlihat jelas.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" suaranya dingin, mengejutkan Sakura hingga ia hampir melompat.
"Astaga naga!" seru Sakura spontan. Tapi begitu melihat pria itu tanpa baju, refleks Sakura menutup wajah. "KYAA! PAKAI BAJUMU, DASAR MESUM!"
Pria itu mengernyit. "Ini kamarku. Kau siapa?" balasnya dengan tatapan tajam.
Jantung Sakura berdegup kencang. Dia baru ingat, dirinya sedang pura-pura menjadi pria. "Ah, a-aku… Saku Haruno. Teman sekamarmu yang baru," sahutnya terbata.
Pria itu menurunkan tangan Sakura yang menutupi wajahnya. "Kau ini pria aneh macam apa?"
Sadar jati diri aslinya, Sakura buru-buru berubah nada menjadi sedikit lebih berat. "He-he-hem. Maaf, tadi aku kaget. Kenalkan, aku Saku Haruno. Semoga kita bisa akrab," katanya dengan canggung, lalu berdiri.
"Dasar aneh," balas pria itu singkat.
Tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka, menampakkan seorang pria pirang. "Teme! Kenapa kau lama sekali?" serunya. Kemudian ia menoleh pada Sakura. "Oh! Ini murid baru itu, ya?"
Pria pirang itu meraih tangan Sakura dengan ramah. "Aku Uzumaki Naruto. Teman baik si Uchiha Sasuke ini. Salam kenal!"
Ia meraih tangan Sakura dengan senyum lebar. "Aku Uzumaki Naruto, teman baik Uchiha Sasuke. Salam kenal!"
"Saku Haruno, salam kenal," balas Sakura sambil tersenyum kikuk.
Sasuke—pria bertelanjang dada itu—memutar bola matanya, lalu berjalan keluar dengan malas. "Ayo, Dobe."
"Hehe, Sasuke emang begitu, Saku. Mau ikut mandi bareng?" tawar Naruto.
Sakura menolak halus. "Aku mau beres-beres dulu. Kalian saja duluan."
"Oke! Sampai nanti, ya!" Naruto pun mengejar Sasuke sambil berseru, "Tunggu aku, Teme!"
Sakura memandangi pintu yang tertutup, lalu menghela napas panjang. "Apa-apaan tadi?" gerutunya sambil memukul keningnya pelan. Sakura terduduk lemas, hampir saja dia ketahuan akibat reaksi paniknya.
Beberapa jam berlalu, hingga larut malam. Sakura merasa bosan dan sedikit lapar, ia mencoba mencari cemilan di tasnya tapi tidak menemukannya. Melihat sekeliling, ia mendapati Sasuke yang masih bangun di atas ranjangnya, sibuk memainkan membaca buku. Perasaan jengkel terlintas di benaknya. Ia memberanikan diri mendekat.
"Oi, Sasuke!" panggil Sakura pelan. "Kau tidak tidur?"
Sasuke menatapnya dingin. "Ada apa?"
Sakura menarik napas. "Kau tahu toko terdekat? Aku mau cari camilan, tapi belum hafal area sini."
Sasuke berdecak. "Pergi saja sendiri. Aku bukan pemandu."
Mendengar respons itu, Sakura mendengus kesal. "Memangnya nggak bisa sekali saja bantu teman sekamar?"
"Teman?" Sasuke menatapnya sinis. "Batas daerah kita," ujarnya sambil menunjuk lantai, "sampai sini. Jangan ganggu aku."
Sakura mengernyit. "Sifatmu memang seburuk ini, ya?"
Bukannya menanggapi, Sasuke malah kembali ke kegiatannya. Sakura hanya mendesis kesal.
"Sial, sekamar sama orang dingin begini. Bagaimana aku bisa bertahan?" keluhnya dalam hati.
Koridor asrama kini sunyi senyap. Sakura sengaja menunggu hingga larut agar bisa mandi tanpa khawatir ketahuan. Ia melirik Sasuke yang tampak sudah terlelap. Menjelang pukul 12 malam, koridor asrama sunyi. Sakura membawa handuk dan perlengkapan mandi, melangkah hati-hati agar tak ada yang melihatnya.
Setelah memastikan ruang mandi umum kosong, Sakura menyalakan lampu. Satu per satu pakaiannya dilepas, memperlihatkan balutan kain yang menekan dadanya agar terlihat seperti pria. "Akhirnya…" desahnya lega. "Baru hari pertama, tapi sudah begini. Ayah, semoga aku kuat."
Ia menyalakan shower, membiarkan air hangat mengalir dan membantu meredakan ketegangan tubuhnya. Namun, tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Seseorang masuk ke kamar mandi umum.
'Deg, mati aku!'batinnya.
Sakura mengambil handuknya dan berjalan mendekat ke tembok yang tersembunyi. Benar saja ada seseorang yang datang. Orang itu tidak terlihat terlalu jelas. Dia masuk ke kamar kecil, tampaknya terbangun karena kebelet buang air.
Berusaha berpikir cepat, Sakura menemukan ide. Melihat sabun batang di alat mandinya, ide jahat muncul di kepalanya. Sakura berjalan perlahan ke depan pintu kamar kecil itu, lalu menunggu orang itu keluar.
"Gedubak!"
Tepat sasaran! Orang itu pingsan terpeleset. Sakura mendekat untuk memastikan siapa orang yang hampir membongkar identitasnya.
'SASUKE?!' teriaknya dalam hati.
Sakura menutup mulutnya berharap tidak menimbulkan suara apapun. "Maaf, Sasuke~" ucapnya kecil sambil bergegas mengambil sabunnya dan langsung kabur kembali ke kamarnya. Di pikirannya saat ini, dia harus kembali ke kamar dan bersikap seolah tidak mengetahui apapun. Semoga Sasuke tidak mengenalinya. Besok pagi pasti bencana~~
